My Love G - Chapter 1

Cerita lengkap dapat dibaca di link ini atau ini

 

Chapter 1 - Dear Galih,

I have butterflies flying around inside my tummy when I’m with you
I hear bell chimes ringing blown by wind of spring when I’m with you
(Butterflies in My Tummy – Mocca)

---------------------------------



Untuk kesekian kali, Yindi memandangi charm bracelet silver yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Pantulan sinar matahari pagi mempercantik lekuk perhiasan tersebut, memperjelas beberapa titik berlian yang berkilau dengan semburat warna pelangi.

“Suka gak sama kadonya?” tanya Galih seraya tetap memfokuskan pandangan pada jalan di hadapannya. Pemuda itu melirik spion, kemudian mengarahkan CRV abu-abu metalik yang dia kendarai untuk berpindah ke baris antrian pintu tol yang terlihat lebih lengang.

Yindi tersenyum simpul di samping Galih, “Banget. Makasih ya.”

“You’re welcome.” Balas Galih kalem. Pria itu menautkan jari-jarinya pada Yindi, hanya menggunakan satu tangannya yang lain untuk bergantian mengganti gigi persneling dan mengendalikan setir. Jantung Yindi berpacu sedikit lebih cepat, membuatnya salah tingkah, tapi gadis itu sama sekali tak berniat untuk mengakhiri genggaman tangan mereka.

Diam-diam, Yindi meneliti wajah Galih. Hidungnya mancung, kulitnya putih halus, rahangnya selalu bersih tercukur – hanya menyisakan sedikit area abu-abu samar yang membuatnya terlihat maskulin. Dengan tubuh yang tinggi dan dada bidang, penampilan pria itu hampir tak ada cela, bahkan sifatnya pun begitu lembut dan pengertian. Tapi, yang paling membuat Yindi tergila-gila adalah perhatian seorang Galih. Seperti pagi ini, tanggal 25 Juni, hari ulang tahun Yindi. Gadis itu begitu terkejut saat menemukan mobil Galih terparkir tepat di depan pagarnya, siap mengantar Yindi berangkat ke kantor, lengkap dengan sekotak cupcake di kursi belakang dan hadiah berupa gelang yang sekarang dia kenakan.

Gadis itu sekali lagi menggerakkan aksesori barunya, menikmati gemerincing yang terdengar begitu merdu. Ada tiga bandul yang tergantung di sana – masing-masing melambangkan mimpi dan harapan seorang Yindi Anggraini : Es krim, pulau New Zealand dan buku. Yindi memang pernah bercerita tentang cita-citanya, tapi gadis itu tak menyangka bahwa Galih akan mengingat semuanya dengan baik.

Sesuai dengan pekerjaannya sebagai editor, Yindi memang selalu ingin dekat dengan dunia tulis-menulis. Selain itu, dia selalu mengagumi New Zealand beserta kota Hobbiton-nya, juga berharap suatu hari bisa membuka kedai es krim – makanan kesukaannya. Charm bracelet ini adalah satu dari sekian cara Galih dalam mengungkapkan dukungan, tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat Yindi terharu.

Galih menekan sebuah tombol pada dasbor mobil. Sebentar kemudian, intro musik pop jazz milik Maliq and D’essentials mengalun, diiringi suara Angga si vokalis yang mulai menyanyikan bait awal dari lagu berjudul “Dia”. Pemuda itu mengetuk-ngetukkan jari pada setir, kepala dan tubuhnya bergoyang sesuai irama.

Temukan apa arti di balik cerita

Hati ini terasa berbunga-bunga

Membuat seakan – aku melayang

Terbuai asmara

Sambil tetap menikmati entakan nada, Galih menghentikan mobil tepat di sisi loket penjaga tol dan membuka kaca jendela. Seorang wanita berseragam biru menyapa mereka, ekspresi maklum tergambar di wajahnya saat melihat tangan Galih dan Yindi yang saling berpaut.

Yindi tersipu, dia menikmati setiap detik yang mereka lewati saat ini. Lalu lintas yang begitu padat masih akan memperpanjang waktu tempuh mereka sampai ke Senopati – tempat kantor Yindi berada. Namun Yindi tahu bahwa kebersamaan mereka akan terasa begitu singkat, membuat gadis itu berharap tambahan menit, bahkan sekedar detik, untuk bisa bersama lebih lama dengan Galih.

Ah Galih, apa sih kurangnya kamu? Batin Yindi sambil menghela nafas perlahan.

“Ndi, aku nyesel, deh.” Tutur Galih memelas seraya menambah kecepatan dalam jalur bebas hambatan.

“Kenapa?”

“Aku harusnya minta nomor telfon mbak yang jaga pintu tol tadi.”

Yindi membelalakkan mata, merasa bingung dengan apa yang baru saja diucapkan Galih. Sebuah perasaan tidak senang menghinggapi hatinya. Baru saja dia menyanjung-nyanjung Galih dalam hati dan sekarang pria itu mengatakan hal yang tidak dia suka.

“Ngapain? Naksir?” tuduh Yindi dengan intonasi yang sebisa mungkin dibuatnya datar.

“Enggak. Tadi aku liat nama mbaknya ‘Putri Angkasa’, dia pasti alien. Aku tinggal jual info ini ke stasiun televisi dan aku bisa dapet duit banyak!”

Raut sinis di wajah Yindi luntur, tergantikan oleh ekpresi sayang yang tumpah ruah untuk seorang pemuda yang terlihat sangat bangga dengan leluconnya barusan.

Yindi mencintai semua tentang Galih, termasuk selera humornya yang ‘unik’. Biarlah orang lain berkata apa, hati Yindi tetap tertambat pada Galih.

Ponsel milik Yindi berbunyi. Dengan satu tangan, Yindi merogoh hobo bag berwarna coklat tua miliknya, kemudian membuka aplikasi pengirim pesan berlogo telepon hijau.

Ternyata pesan dari sahabat sekaligus koleganya, Mita.

>> nyet, lo masih di jalan?

>> gue nitip beli risol dong di belokan Senopati

Yindi memutar mata. Sahabatnya itu memang sangat menggemari kudapan yang penuh minyak tidak sehat itu.
ya ampun gak takut kanker? <<

ngemil gorengan melulu lo <<

ada lagi yang bisa dibantu nyonyah? <<

 >> biar ah, orang gue belon sarapan,

>> oke sekalian titip pesen sama Galih,

>> bilang ke si kunyuk itu, sahabat gue si Yindi Anggraini mau digantungin sampe kapan?

Tanpa membaca lebih lanjut, Yindi langsung menekan tombol lock pada ponsel miliknya. Seketika, layar handphone tersebut menjadi gelap.

Gadis itu berdecak kesal, sahabatnya yang usil itu telah mengacaukan suasana hatinya yang barusan bagaikan ditumbuhi bunga berbagai rupa.

Yindi melirik Galih dari sudut matanya, khawatir kalau-kalau pria itu turut membaca pesan dari Mita barusan, tapi pemuda itu terlihat tetap santai, memperhatikan jalan sambil bersenandung kecil mengikuti musik. Bahkan jari-jemari mereka masih bertaut. Yindi menggigit bibir, hatinya gundah. Perlahan, lagu ‘Dia’ yang dinyanyikan Maliq and D’essentials mulai memasuki bagian reff akhir.

Dia… seperti apa yang selalu kunantikan,

Aku inginkan.

Dia… melihatku apa adanya,

Seakan ku sempurna.

Galih memang sempurna baginya. Tapi, apa Galih juga berpikir sama tentang Yindi? Kurang pantaskah dia menjadi kekasih Galih, hingga pria itu tak kunjung meresmikan hubungan mereka?

—–

Read previous post:  
Read next post:  
Writer sunil
sunil at My Love G - Chapter 1 (7 years 12 weeks ago)
2550

8Da .... wahh... ada penggemar cerita yg sama rupanya

\^_^/ bagus bagus.... apapun theme LGBT bagus dah \^_^? horee horee #tiup-tiup trampolin

Writer mandhut
mandhut at My Love G - Chapter 1 (7 years 12 weeks ago)

:D semoga suka yaaaa ;)