Dia Kirana, Gadisku (9)

 

11

            Orang-orang di kampungku banyak yang menanyakan tentang pekerjaan yang kugeluti di kota. Kubilang saja aku jadi kuli tinta dan juga jadi pelayan di sebuah warung kopi. Aku jujur mengatakan itu semua, meski banyak diantara mereka yang mencibir, ‘masa sarjana jadi kuli tinta?’ ‘masa iya lulusan perguruan tinggi malah jadi pelayan warung?’. Bermacam-macam komentar kuterima, tapi aku senyum saja, sebab tak ada yang salah.

            Siang ini kubantu Bapak di kebun, kebunnya sedang digarap untuk ditanami kacang hijau. Kebun itu terletak di samping rumah, hanya lima meter saja jaraknya. Mamak tidak ikut, ia kuminta di rumah saja dan memasak masakan paling enak untuk aku dan bapak saat pulang nanti. Mamak sangat pandai memasak, tangannya seperti ada sulapnya, jika ia memasak maka semua akan memuji. Tangan mamak memang luar biasa, karena itulah aku menyebutnya ‘wonder woman’. Hehe.

            Bapak lincah sekali mengayunkan celuritnya, tetumbuhan liar yang mengakar sembarangan sudah ditebasnya hingga bersih. Dibandingkan denganku, Bapak tentu jauh lebih hebat. Aku belum seberapa luas yang bersih, Bapak malah sudah setengahnya. Bapakku seorang petani, mamak juga sama, rangkap jadi ibu rumah tangga juga. Kehidupan seperti inilah yang dijalani kedua orang tuaku tapi aku senang, karena mereka selalu berbahagia meski dalam kesulitan apapun. Kata Mamak bersabarlah dalam hidup, meski sabar itu mahal. Tapi yakin suatu saat sabar yang mahal itu akan berujung indah.

            Tak lama, kudengar panggilan Mamak dari arah rumah. Panggilan makan tentunya, aku yang paling bersemangat. Kadang bila berada di tengah keluarga, aku menjadi sangat kekanak-kanakan. Kucuci tangan di pancuran, disusul bapak di belakangku. Pelindung kepalanya yang terbuat dari anyaman daun lontar dilepas dan kulihat keringat berkilat-kilat di rambut dan lehernya. Bapakku terlihat gagah jika dalam keadaan seperti ini, aku senyum getir melihat uban kini sudah menghuni hampir setengah kepalanya.

            “Menu apa hari ini Mak?” Tanyaku bersemangat.

            “Sayur lodeh kesukaanmu, tempe, ikan goreng dan sambel super pedas yang akan menggoyang lidahmu Jan.” Jawab mamak berseloroh, membuat aku bertambah semangat.

            “Intan biasanya pulang sekolah jam berapa Mak?”

            “Ya siang, jam dua biasanya. Kenapa?”

            “Tidak apa-apa Mak, aku mau ajak ia jalan-jalan sore nanti.”

            “Pak makan!” seru mamak.

            Seperti yang sudah diduga, aku pasti makan banyak, nasi tak satupun tersisa di piring, bapak juga begitu. Perut kenyang hatipun senang.

***

            Sore ini mendung, aku dan adikku bersepeda keliling kampung. Menikmati udara sore dengan cuaca yang sedikit mendung, beberapa orang kampung yang mengenalku dan kukenal mengajak mampir sebentar dan aku setuju. Dapat kopi gratis lagi, ah aku ingat Bu Jamilah kalau sudah membicarakan kopi. Kira-kira Bu Jamilah mencariku atau tidak ya?

            Aku ketemu Salim teman SMP-ku, ia jadi pedagang yang sukses. Ia berdagang beras, membeli beras di kampung kami dan menjualnya ke kota. Ia sudah berkeluarga dan punya anak satu. Selain Salim aku juga ketemu Jubaedah, teman sepermainanku waktu kecil. Seperti Salim, Jubaedah juga sudah menikah, tapi kehidupannya tak sebaik kehidupan Salim. Kulihat tubuhnya semakin kurus dan anak yang digendongnya pun sama.

            Banyak orang yang kutemui sore ini, banyak cerita dan banyak tawa pula. Menertawai pengalaman yang sudah-sudah semasa kecil, aku ketinggalan banyak hal seputar mereka. Tapi aku bersyukur, hari ini masih bisa bertemu dengan mereka satu persatu. Kawan lama yang baik hatinya.

            Oh iya, aku juga ketemu dengan salah satu musuh bebuyutanku semasa kecil. Ia seringkali mendorongku sampai tersungkur jatuh ke tanah, aku pernah bilang kalau nanti ketemu dengannya ingin sekali kutonjok meski tak membuat ia sampai jatuh sepertiku. Banyak hal yang berubah darinya, kini ia tak sesangar dan seseram dulu. Malah terkesan berubah seratus delapan puluh derajat, kau tahu ia jadi apa sekarang? Ia jadi pengurus masjid di kampung kami, orang-orang biasa memanggilnya ustadz Jarot.

            Di manapun, tak akan kalian temukan ustad bernama Jarot, dari namanya tak akan menyangka kalau orangnya adalah ustadz. Jika kau ketemu ustadz dan namanya Jarot maka akan kuhadiahkan seluruh honor tulisanku di koran. Karena aku yakin sekali, satu-satunya ustad yang punya nama Jarot hanya dirinya.

            Teringat janjiku, aku malah jadi tidak punya nyali sedikitpun untuk menonjoknya. Malah bersalaman dengannya dan berpelukan seakan itu adalah ucapan permintaan maaf atas kejadian di masa lampau. Kau tahu, aku bahagia melihat Jarot yang sekarang, bahkan sedikit menaruh rasa iri karena kini Jarot benar-benar jauh berubah jadi lebih baik. Selamat kawan! Kataku padanya.

            Menjelang magrib baru aku dan adikku pulang, aku berterima kasih atas hari yang indah ini. Tidak menyangka setelah tiga tahun tak pulang, ada banyak sekali perubahan yang terjadi. Meski pada tiga tahun sebelumnya aku pernah pulang tapi aku hanya sebentar, tak sempat berkeliling kampung seperti ini. Jadi tidak tahu kalau ada banyak kawanku yang kini sudah berubah ke arah yang lebih baik. Semoga saja selalu demikian.

            ***

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Dia Kirana, Gadisku (9) (2 years 39 weeks ago)
70

AKU BERTERIMAKASIH ATAS HARI YANG NDAH INI...
itu kalimat yang menggugah.
berapa banyak orang yang mengalami hari yang indah dalam hidupnya?
disitulah letak kebahagiaan itu dan biasanya tak lama, kadang sebentar bahkan terlalu sebentar sampai ada beberapa anak manusia yang merindu hari yang indah yang pernah dilalui dan ingin merasakannya kembali.

Writer nurul_fajriyah
nurul_fajriyah at Dia Kirana, Gadisku (9) (7 years 23 weeks ago)
30

bagus ceritanya, hanya sedikit ditambahi konflik maka akan semakin menambah rasa penasaran pembaca

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (9) (7 years 23 weeks ago)

alhandulillah hehe mkasih sudah mampir dan baca. kebetulan naskahnya sudah kelar dan siap kirim ke penerbit semoga ada jodohnya hehhe :)

Writer terong_ungu
terong_ungu at Dia Kirana, Gadisku (9) (7 years 24 weeks ago)
90

Aku gak ngeliat ada konflik, tapi asik bacanya. Seperti sedang mengobrol dengan teman lama. :)

Maaf, ternyata ini cerbung. Hahaha

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (9) (7 years 24 weeks ago)

hehe iyah ini novel, cerita sebelumnya bisa dibaca jg kok kalau mau :D