Mawar di Padang Tandus

“Hanya satu pintaku, jangan kau hapuskan ketiga bintang itu.” Hilang dalam gelap malam, bisik samar masa lalu tergali kembali dalam lamunan singkat. Seakan kertas di atas air, sedikit demi sedikit tenggelam karena air yang merasuki setiap celah kecil dalam tubuhnya. Ingatan itu kembali ke dalam kelamnya lautan ingatan dan tergeletak di atas karang-karang tempat bersandarnya ingatan-ingatan yang telah terbuang.

 

“Hanya satu pintaku, jangan kau hapuskan ketiga bintang itu.” Sekali lagi bisikan itu timbul, memanggil kapal-kapal kesadaranku untuk memungutnya dari dalam keruh air lautan ingatan.

 

Namun langit terbelah, awan-awan badai membuka sebuah cakrawala baru di atas sana. Cahaya, itulah yang ada di balik awan itu. Cahaya itu membawaku pergi, menuju tempat yang aku tak ingin kunjungi untuk waktu yang lama.

 

Itu adalah dunia nyata, dunia sadarku.

 

Sedikit demi sedikit, tubuh lemasku terisi energi. Kepala, mata, mulut, lengan, perut, kaki… dalam urutan itu aku menggerakkan bagian tubuhku untuk memastikan semuanya masih berfungsi sebagaimana mestinya.

 

-------------=================---------------------

 

Hanya sekedar lamunan kecil, mengalihkan dari rutinitas pagi. Frame foto yang tergantung di ujung ruangan menghentikan langkahku sejenak.

 

“Selamat pagi, Rose.” Bisikku sambil menyeruput  kopi panas yang baru saja aku seduh. Bukan espresso atau kopi mahal lain, hanya kopi seduh yang dijual di pasar-pasar.

 

Jendela kamar yang tertutup segera kubuka, membiarkan udara pagi masuk untuk menyambut satu lagi hari yang terlewati tanpa apapun yang terjadi dalam kamar seorang yang mungkin tak ada satupun yang mengingat.

 

Tanpa menyelesaikan kopi, segera kutaruh kopiku di atas meja kerja yang tak jauh dari tempat tidur, membiarkannya menjadi kopi dingin yang kuanggap paling nikmat dinikmati di siang hari ketika panas sudah meraba lantai kayu ruangan ini.

 

“Sekali lagi, temani aku, kawan…” Bisikku pada piano hitam dari kayu oak yang diperbaharui enam tahun lalu.

 

---------------==================-------------------------

 

Simfoni mengalir dari getaran-getaran senar, mengikuti gerak tuts-tuts yang aku tekan. Seakan menjadi sungai melodi yang tak berarus, semua nada yang keluar tidak sedikitpun berriak, tanpa kesalahan sedikitpun.

 

“Piano Sonata”, salah satu lagu yang aku pelajari ketika masih kecil dulu.

 

Namun simfoni itu tidak membuatku puas. Semua nada yang mengalir itu seakan menjadi detak jantungku sendiri, tidak ada keindahan di dalamnya. Seakan mendengar darahku sendiri yang mengalir, seakan mendengar tulangku sendiri yang bergemeretak, sekaan mendengar otot-ototku sendiri yang saling tarik menarik.

 

Kucoba memainkan lagu-lagu lain yang kuhapal, dari ciptaan maestro masa lalu hingga yang mungkin masih menciptakan lagu saat ini.

 

Namun semuanya hampa, tak memberiku kepuasan apa-apa.

 

Tanpa aku sadari, aku banting tuts-tuts yang ada di hadapanku. Menciptakan suara nyaring yang tak indah sama sekali. Aku tak tahu apa yang membuatku marah, tapi darah tak berhenti mengalir ke atas kepalaku.

 

Dalam kebingunganku, pandangaku kembali ke arah pojok ruangan.

 

“Saat ini, apa yang ingin kau dengarkan, Rose?”

 

Tak ada jawaban dari potret itu, hanya senyum seseorang yang dahulu aku kenal yang memberikan petunjuk.

 

Tanpa sadar, jemariku meraba tuts-tuts piano itu. Kubiarkan mereka terus meraba apa yang ingin mereka raba hingga akhirnya mereka menekan satu per satu nada. Kubiarkan mereka menekan nada-nada itu hingga akhirnya aku temukan kombinasi nada yang indah.

 

Namun nada-nada itu tidaklah acak, bukan pula sebuah simfoni yang belum tertulis.

 

Aku tahu lagu ini,

Aku juga tahu kau tahu lagu ini, Rose.

 

----------==================--------------

 

Intro lembut dengan kombinasi nada-nada rendah dan sesekali di nada tinggi dengan tempo yang lambat.

 

Aku tutup mataku, membiarkanku tertelan dalam imajinasi. Menciptakan tempat bagi ingatan di dunia, menjadikannya sesuatu yang nyata walau dalam waktu sejenak. Menjadikan dunia di sekitarku putih dan memutar ulang sebuah kejadian.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Nada-nada lembut terngiang dalam ingatan itu. Bukan dari tanganku, melainkan dari suatu tempat yang tidak jauh dan tidak dekat. Di hadapanku berdiri sebuah pintu berwarna coklat dan jendela ungu tembus pandang berbentuk bulat oval. Dari dalam jendela itu terlihat seorang anak perempuan berumur sekitar 8 tahun sedang bermain piano.

 

Aku berusaha membuka pintu itu, namun pintu itu terbuka duluan. Seorang wanita yang jauh lebih tinggi dariku menyuruhku masuk. Setelah kusadari, tubuhku kecil, tidak jauh dari anak perempuan yang bermain piano itu. Wanita itu menunjuk si perempuan kecil. Aku mendekatinya dan menatap caranya bermain piano. Namun bukan itu yang membuatku terpesona, namun parasnya yang begitu indah. Membangkitkan perasaan yang berbeda dari segala apa yang pernah aku rasakan sebelumnya. Jantungku berdebar tanpa henti, tanganku berkeringat dan aku tidak bisa berpikir apapun.

 

Rasanya seperti ketika pertama kali Ibu memainkan lagu Moonlight Sonata untukku, hal yang membuatku tertarik dengan piano dulu.

 

“Hai, kau mau main juga? Siapa namamu ? Namaku Rose.”

 

Dari mulut mungilnya, itulah yang ia katakan pertama kali padaku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Tanganku melanjutkan dengan sebuah Canon dari nada-nada rendah dan membosankan, diulang sedikit demi sedikit dan terus menambah tempo setiap pengulangannya.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Enam tahun sejak terakhir Rose menyapaku. Walau dalam satu institusi, sekolah musik yang sama, seakan dia tidak mengenalku. Berbeda dari saat SD dulu, hampir setiap hari dia akan mengajakku ke toko musik untuk bermain dengan piano di sana. Entah kenapa setelah aku dan dia berhasil masuk ke sebuah sekolah musik yang mendidik muridnya sejak SMP, dia menjauh.

 

Aku merindukan hari-hari itu. Kadang kuharap ini semua adalah sebuah mimpi. Bunga tidur yang aku dapatkan ketika terlalu lelah latihan, atau terlalu lelah bermain dengan piano bersama Rose.

 

Kupejamkan mata, berharap sekeras mungkin ini adalah mimpi. Namun itu tak berhasil.

 

Rose menghilang ketika kelulusan. Dia tidak hadir di pesta kelulusan ataupun wisuda.

 

Sejak saat itulah aku tak bisa menemukannya. Seakan sebuah balon yang dilepaskan di ruangan terbuka, aku tak bisa mengejarnya hingga pada akhirnya Tak ada jejak darinya,

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Canon yang kumainkan terlalu cepat, membuat jemariku tak sanggup mengikuti perintah dari kepalaku untuk mengulangi nada-nada yang sama. Jadi aku putuskan untuk beristirahat sejenak. Kulihat matahari menyinari jendela, namun panas tak kunjung tiba. Tiupan angin musim dingin mulai memasuki ruangan ini. Kututup jendela dan pintu, berharap tak ada panas yang melarikan diri lagi.

 

-----------------=======================-----------------

Setelah itu kuulang lagu itu dimulai dari intro hingga mencapai canon dan pause sejenak setelah mencapai tempo yang tepat. Dilanjutkan dengan baris paling indah dari lagu ini. Lembut namun berani dan enerjetik, dengan sentuhan-sentuhan momen melankolis yang muncul dari waktu ke waktu.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dunia tidak seindah apa yang dijanjikan oleh orang-orang. Dalam perjuangan untuk mencapai sebuah target, terlalu banyak yang dikorbankan. Bagi siapapun yang dapat mengorbankannya, kesuksesanlah yang dapat ia raih.

 

Namun, apakah itu kesuksesan? Mungkin bagiku atau orang-orang dengan profesi sepertiku, menjadi terkenal atau menciptakan simfoni terindah di masa itu adalah sebuah kesukesan yang tidak bisa tergantikan.

 

Namun bagiku kekayaan, popularitas atau penghargaan bukanlah hal yang kuanggap sebuah kesuksesan.

 

Obsesiku terhadap Rose kulampiaskan dalam setiap nada yang kumainkan, menjadikan setiap lagu yang kuciptakan adalah untuknya. Berharap di suatu tempat, seseorang di luar sana mendengarku dan berkata “lagu ini mengingatkan padamu, Rose” hingga suatu saat Rose tahu bahwa aku ada di sini.

 

Hingga suatu hari dalam sebuah rangkaian pertunjukan, aku melihat seseorang yang menyerupai Rose di balkoni VIP memperhatikanku yang memainkan sebuah lagu untuk pertunjukan itu.

 

Kukira itu adalah orang lain, namun di setiap konserku, orang itu selalu ada. Itulah yang membuatku terus bermain piano, mendapatkan popularitas yang tidak kuinginkan.

 

Hanya satu popularitas yang benar-benar aku ingin tetap miliki. Seorang di balkoni VIP itu. Walaupun dia bukan Rose, namun itu sudah cukup bagiku. Sebuah kepuasan palsu, namun itulah yang membuatku tetap hidup.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Tanganku tak henti-hentinya mengulangi bagian yang indah itu. Tanpa terasa, kedua tanganku menggigil dan gigiku bergemeretak.

 

Panas ruangan ini tidak cukup. Seperti spons yang menyerap air, udara di luar menyerap setiap panas yang ada di ruangan ini. Segera kunyalakan penghangat berbahan bakar briket. Kumasukkan beberapa genggam batu bara agar perapiannya tetap menyala sampai beberapa jam.

 

-------------==================----------------------

 

Kuulang sekali lagi lagu itu, hingga mencapai akhir dari bagian indah itu. Kuteruskan dengan rangkaian nada-nada tinggi dengan pause di tengahnya yang cukup panjang dengan tempo yang sangat lambat. Menciptakan atmosfer yang sedikit mencekam.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dalam satu malam setelah konserku, aku beranikan untuk menemui wanita di balkoni itu. Kupanggil “Rose” padanya saat dia keluar dari gedung pertunjukan. Dia berbalik, namun ragu untuk berjalan mendekatiku. Awalnya kukira aku salah orang, namun setelah wanita itu berteriak “persetan dengan semua ini!”, dia berlari dan memelukku di depan pintu besar gedung pertunjukan.

 

“Lama tak bertemu”

 

“Aku…” Sebelum kuselesaikan kata-kataku, Rose menutup mulutku dengan bibir mungilnya.

 

“Sudah lama rasanya tidak bermain piano denganmu.” Ajaknya untuk berduet dengannya setelah dua puluh tahun tak melakukannya.

 

Dia bercerita bermacam-macam hal, seperti alasan kenapa dia berhenti bicara denganku saat SMP, serta mengapa dia menghilang setelah lulus SMA.

 

Semuanya karena orang tuanya yang terlibat bisnis gelap dan harus mengembalikan uang dengan jumlah yang sangat besar. Namun seorang bangsawan membantu mereka, dengan bayaran Rose harus menikahinya ketika umurnya cukup nanti.

 

Sejak saat itu, setiap kali konserku selesai, di malam hari Rose selalu ada, menunggu di pintu belakang. Setelah itu aku mengajaknya ke dalam dan bermain dengan piano yang tersimpan di panggung kosong. Kami tidak peduli ada yang memperhatikan, hanya rasa rindu ini harus tersalurkan. Kerinduan yang tak henti sejak dua puluh tahun kami tak bertemu.

 

Di malam-malam itu, kami memainkan sebuah lagu yang tak seorang pun pernah mendengarnya. Sebuah lagu hanya aku dan Rose yang tahu. Limpahan emosi itu selalu kami mainkan dari malam ke malam. Itulah nada-nada terindah yang tak ingin kuhapus dari ingatanku.

 

Suatu hari, Rose datang dengan sebuah luka lebam di tangan dan mukanya. Dia bercerita tentang kekasaran suaminya. Dia kini sudah berumur 60 tahun, oleh karena itu pikirannya mulai tidak normal, apalagi karena dia berkecimpung di dunia yang tidak sehat dan kebiasaannya meminum minuman keras membuatnya seorang yang agresif.

 

“Rose, ini adalah malammu, aku yakin malam itu akan berakhir. Suatu hari pasti matahari akan terbit, membawa kebahagiaan dalam hidupmu ini, Rose. Aku yakin itu, dan aku akan berusaha dengan segala yang aku punya untuk membuat matahari itu terbit.” Kataku untuk menenangkannya.

 

“Malamku ini gelap, bulan tak muncul dalam malamku ini. Bintang terhalang oleh awan pekat. Awan itulah dosa-dosaku. Namun di balik awan itu, ada tiga bintang yang menyinariku. Memberikanku arah untuk berjalan maju. Ketiganya adalah ;senyummu yang membuatku selalu tahu bahwa ada seseorang yang akan menerimaku dalam keadaan apapun; keberadaanmu, yang membuatku selalu sadar, bahwa aku tak sendiri di dunia ini; serta nada-nada yang kau mainkan yang membuktikan bahwa di suatu tempat sana aku bisa kembali. Aku mungkin tidak pantas untuk meminta apapun darimu. Namun aku mohon, berikanlah satu hal saja untukku. Hanya satu pintaku, jangan kau hapuskan ketiga bintang itu.” Rose berhenti memainkan piano dan menatapku.

 

Sekali lagi, bibirnya mendekatiku. Mengecup bibirku yang tak siap untuk menerima kehangatan yang tak lagi menyentuh fisikku, melainkan langsung tersalur ke dalam jiwaku juga.

 

Setelah itu Rose bergegas pergi.

 

“Dua puluh tahun, waktu yang kubutuhkan untuk memutuskan melakukan sesuatu yang benar.” Katanya sambil menunggu taksi.

 

Namun itulah yang terakhir aku dengar dari Rose. Di televisi keesokan harinya, ditayangkan sebuah berita tentang sepasang suami istri yang meninggal karena sebuah kebakaran. Foto yang ditunjukkan pembawa berita adalah foto seorang kakek dengan hidung yang rusak karena penyakit dan seorang perempuan yang jauh lebih muda dari pria itu. Seorang saksi diwawancara dan bersaksi bahwa dia melihat si wanita membawa sebuah botol berisi minyak tanah sebelum kebakaran terjadi.

 

Wanita itu adalah Rose.

 

Rasa marah bercampur sedih menyelimutiku. Ingin rasanya kubanting semua benda yang ada di ruangan ini. Tapi kupikir, seseorang yang seharusnya membayar ini semua adalah aku. Akulah yang membuat Rose melakukan itu. Kalau aku tidak memanggilnya saat itu, Rose tidak akan berpikir untuk melakukan apa-apa.

 

Penyesalan, itulah yang kurasakan sekarang. Seakan nyawaku ditarik oleh sesuatu yang tak dapat terlihat, perasaanku benar-benar campur aduk. Dalam kocokan emosi itu, terlintas di pikiranku untuk membayar segalanya dengan nyawaku juga.

 

Namun pikiran itu hanya sebentar, langkah kaki dan suara bel yang keras membuyarkan pikiranku itu. Mencegahku untuk melakukan hal yang tidak berguna.

 

Kubuka pintu dan kudapati seseorang dengan pakaian serba hitam-putih, seragam pembantu bangsawan Eropa.

 

“Nyonya Rose menitipkan ini untuk anda.” Katanya dan menyerahkan bungkusan berbentuk kotak.

 

“Ada dua pesan dari Nyoya, pertama yaitu ‘ini adalah hadiah untukmu, satu-satunya potret ketika aku masih bisa tersenyum’ ”

 

Kubuka bungkusan itu, sebuah foto yang sudah diframe dengan kayu yang harum.

 

“Pesan satu lagi adalah, ‘Hanya satu pintaku, jangan kau hapuskan ketiga bintang itu.’ ” 

 

Seakan jantungku berhenti berdetak dan ingatanku terulang kembali. Semua tentang Rose yang kusingkirkan dengan rasa geram tentang kematiannya kembali kuingat. Semuanya terlulang dalam memori, kehangatan yang kurasa ketika dia berada di sampingku, euphoria saat menekan tuts-tuts dan menciptakan gelombang suara dengan keindahan yang dapat menggetarkan setiap laju darahku. Semuanya terulang ketika aku mendengar kata-kata itu.

 

“Menurutmu, apa yang terjadi sebenarnya? Aku masih tak percaya Rose melakukan itu.” Tanyaku pada pelayan itu.

 

“Tuan pantas mendapatkannya dan nyonya Rose pantas membunuhnya, namun tak pantas untuknya meninggalkan anda dengan cara seperti ini.” Jawabnya dilanjutkan dengan dia menunduk dan segera pergi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Lenganku semakin lelah, napasku semakin terengah-engah. Sedikit demi sedikit tenaga yang kudapat pagi ini mulai menghilang dengan cepat. Sebagai akhir, kuulangi intro dan menjadikannya sebuah outro yang sangat lambat.

 

Kutulis beberapa not balok di atas kertas teratas dalam tumpukan kertas yang tergeletak di samping kopi. Kususun tumpukan kertas itu dan akhirnya di halaman paling depan kutulis di bagian paling atas “Mawar di Padang Tandus” 

 

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang setelah meminum kopi sekarang yang tidak terlalu panas. Seraya kesadaranku melenyap sedikit demi sedikit, aku berdoa agar setidaknya dalam tidurku kali ini aku dapat bertemu dengan Rose.

 

“Maaf Rose, ketiga bintang itu kini tak lagi menyinari apapun. Oleh karena itu, biarkan ketiga bintang itu menghilang sejenak.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Mawar di Padang Tandus (6 years 6 weeks ago)
50

ga nangkep yang "tiga bintang" itu, waha. maap....
lebih kena sama kisah sedih Rose. dan mungkin patah hati si "aku" yang tampaknya berlarut2. sekiranya seting cerita ini dibikin lebih riil, detail, misalkan bangsawannya bangsawan negara mana, bisnis gelap orangtuanya Rose itu yang seperti apa, semacam itulah, mungkin bakal lebih ngena. tapi mungkin yang gitu butuh riset, yang saya sendiri malas melakukannya :-D
kalo paragrafnya dirapetin, tampilannya lebih cakep dah.

Writer Kakampretos
Kakampretos at Mawar di Padang Tandus (6 years 6 weeks ago)
80

Baru aja aku baca ini di idws... ternyata om ega posting di sini juga. :D

aku komenin dikit ya om... secara keseluruhan bagus. aku suka tata bahasanya yang halus. cuma ada satu yang ngganjel om. sama kata-kata "membanting tuts". Umm.. gimana ya, apa nggak ada istilah yg lebih klop gitu om? misalnya memukul tuts atau gimana gitu?

itu aja sih om... sebenernya cuma masalah sepele. maafkan daku om.. hehe

Writer om3gakais3r
om3gakais3r at Mawar di Padang Tandus (6 years 6 weeks ago)

dipukul gitu si tuts-tusnya pakai jari.. hehe.
iya, aku juga bingung ngejelasinnya gimana... soalnya baca cerita2 tentang pemain piano aja nggak pernah, apalagi main piano juga.. huhuhu.. XD

Writer Kakampretos
Kakampretos at Mawar di Padang Tandus (6 years 6 weeks ago)

Ooh.. rupanya si Oom lagi bereksperimen ternyata.. XD
Tapi aku suka sama gaya bahasanya loh. Umm.. gimana ya, rasanya nyaman aja sih di baca kalimat per kalimat gitu. :D
Okelah, kip nulis ya Om. :D