My Love G - Chapter 4

Cerita lengkap dapat dibaca di link ini atau ini

 

Chapter 4 - Imbalance

 

Right from the start, you were a thief, you stole my heart

And I, your willing victim

(Just Give Me a Reason - P!nk feat. Nate Ruess)

---------------------------------

Aku memandang tubuh kurus yang tergolek lemas di atas dipan perawatan. Rio Indrajaya yang seharusnya berumur 20 tahun terlihat seperti remaja yang baru duduk di bangku SMP. Tulang pipi dan matanya menonjol, bibirnya kering dan berwarna pucat. Tubuhnya ringkih dan nafasnya terdengar seperti derik pintu tua yang engselnya sudah berkarat. Pemuda itu masih dalam pengaruh obat tidur, terlihat dari dadanya yang bergerak naik turun teratur. Barusan, suster Ingrid memberikan informasi bahwa Rio baru saja dibawa ke UGD dua hari yang lalu akibat dehidrasi dan malnutrisi.

Tenggorokanku tercekat, iba dengan kondisi yang dialami pemuda ini. Tiba-tiba tangan Rio bergerak perlahan, kelopak matanya membuka, pupilnya bergerak cepat ke kiri dan kanan, panik. Tatapan pemuda itu berhenti padaku, dan tanpa kuduga, air mata mengaliri tulang pipi di kedua sisi wajahnya.“Keluar.” ucapnya lirih, lebih terdengar seperti permohonan.

Kudekati dia, naluri memerintahkanku untuk mencoba menenangkannya. Tapi Rio menepis tanganku dengan kasar, dia menegaskan kata-katanya barusan,“Pergi! Lo jelek!".

 

Yindi memiringkan kepala, mengulang tiga paragraf pertama dari naskah yang berada dalam genggamannya. Didorong rasa penasaran, gadis itu membaca novel Julien Kim, yang berjudul “Cinta Kurang Gizi”. Berdasar lembar sinopsis, ini adalah kisah komedi romantis antara seorang dokter wanita dan pria penderita Anorexia Nervosa.  Awalnya gadis itu sedikit meremehkan, tapi ternyata setelah dibaca, plotnya cukup menarik.

Baru halaman pertama dan pembaca sudah dibuat bertanya-tanya. Yindi bisa melihat mengapa Lovebird Publishing tertarik untuk menerbitkannya. Ibu Inge memang tidak mempermasalahkan Julien Kim yang tidak jelas rimbanya, tapi Yindi merasa sedikit menyayangkan, mengingat keunikan yang menjadi daya tarik naskah tersebut.

Sepintas, pikirannya kembali pada Galih. Sudah beberapa hari berlalu sejak acara makan malam mereka di Resoluté. Dia menduga, kejadian hari itu akan membawa reaksi yang berbeda; mungkin Galih yang menjauh, atau malah semakin dekat karena menyadari perasaan Yindi. Tapi tanpa disangka, pria itu bersikap seperti biasa. Dia tetap mengirim pesan dan menelfon Yindi setiap hari. Beberapa hari yang lalu mereka bahkan menyantap shabu-shabu bersama, lengkap dengan lelucon tawar khas pria itu.

Tidak ada yang berubah. Yindi tak tahu harus merasa senang atau justru sedih. Gadis itu memandang pergelangan tangan kirinya, charm bracelet hadiah dari Galih masih melingkar di sana, membuatnya semakin bingung. Apakah Galih pernah menganggapnya lebih dari sekedar teman? Ataukah selama ini dia hanya besar kepala?

Yindi menghela nafas, ditutupnya naskah Julien Kim dengan lesu. Dia melirik ke meja sebelah, sahabatnya Mita sedang sibuk berkutat dengan setumpuk naskah baru. Membaca, bagian yang digadang-gadang sebagai bagian paling seru dalam karir seorang editor, tapi pada kenyataannya sangat menyita energi.

Jangan salah, untuk seorang pecinta buku, bisa ikut andil dalam dunia penerbitan adalah kesempatan emas. Tapi sayang, editor hanya dibekali dua mata dan satu otak.

Tahu bahwa dirinya sedang diperhatikan, Mita melirik pada Yindi. “Kenapa lo? Kalau lagi nganggur, mending pikirin tuh gimana bisa move on dari Galih.” Perintahnya  dengan nada mengejek, lalu menutup naskah di hadapannya tanpa membaca lebih jauh dan membuka jilid yang baru, kali ini sebuah novel berjudul “Aliansi Pangeran Kodok”. Sepertinya cukup menarik.

Yindi tersenyum pasrah, menyadari bahwa ada beberapa kolega yang menengok karena suara Mita. Gadis itu membuka laptop dan mengecek e-mail, berpura-pura tak peduli.

Sahabatnya itu memang sudah memberi kartu merah pada hubungan Galih dan Yindi. Setelah tahu bahwa Galih memperkenalkan Yindi sebagai teman, Mita langsung menyarankan Yindi untuk melupakan Galih. Logika Mita berkata bahwa, kalau dia memang berniat untuk serius, dia tidak akan semudah itu menyebut Yindi “sahabat”.

Tapi hati yang sedang dimabuk cinta tak mengenal logika. Gadis itu masih butuh waktu untuk benar-benar memupuskan harapan yang sudah menyala begitu lama. Lagipula, dia masih belum menemukan alasan kenapa Galih dengan meminta waktu.

Meminta waktu untuk apa? Rasanya Yindi ingin sekali bertanya, tapi gadis itu tak ingin membuat konflik di antara mereka menjadi semakin rumit.

Ping.

Sebuah pesan masuk. Dari Galih. Dengan terburu-buru, Yindi membuka halaman chat pada layar ponsel yang sedari tadi berada dalam genggamannya.

>> Ndi, aku mau ke Jogja sehari,

>> yang aku omongin waktu itu, ada baksos

>> berangkat sore ini naik pesawat,

>> mau oleh – oleh apa?

:( kok kasitaunya dadakan sih <<

Yaudah <<

oleh-olehnya apa aja boleh deh <<

yang penting kamu hati-hati <<

>> beneran?

>> konde tujuh warna? blangkon yang bisa bicara?

>> okesip nanti dicariin

Yindi tertawa dalam hati. Lelucon khas Galih yang lagi-lagi kurang lucu, tapi tetap saja membuat Yindi sedikit terhibut. Mungkin inilah kekuatan cinta yang selalu digadang-gadang dapat membuat semua yang berwarna coklat terasa manis.

:D :D :D <<

blangkonnya bisa ngomong, <<

biar bisa kasitau masuk gryfindor atau slytherin <<

geje ah kamu <<

Oh, mau bagaimana lagi? Cinta pulalah yang sanggung membuat semua orang rela menjadi sama tidak lucunya dengan objek yang dicintai. Yindi meringis sendiri melihat kata-kata yang barusan dia kirimkan pada Galih

>> Geje tapi diladenin juga kan :D

>> artinya kita sesama geje

>> tidak boleh saling mendahului

>> :D :D :D

>> yaudah,

>> kutelfon begitu sampai di sana ya

Gadis itu menutup window chat, lalu meletakkan ponsel miliknya ke dalam tas. Dia kembali memerhatikan layar laptop di hadapannya, berkonsentrasi pada inbox berisi email terbaru. Pikirannya bercabang. Sebagian sel otak berpikir tentang pesan dari seorang penulis yang mengalami writer's block. Sebagian lagi mengutuk diri sendiri yang terlena dengan cinta, lupa dengan semua peringatan Mita untuk mulai melupakan Galih. Kenyataannya, Yindi masih sangat menikmati saat-saat bersama pria pujaannya itu.

-----

 

Read previous post:  
10
points
(2437 words) posted by mandhut 7 years 10 weeks ago
50
Tags: Cerita | Novel | cinta | LGBT | pemberi harapan palsu | persahabatan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at My Love G - Chapter 4 (2 years 13 weeks ago)
70

saya baca atasnya saja, lalu ingat lagunya armada,
kaulah pencuri
pencuri hatiku
hehehehe,
maaf tidak dibaca semua..

Writer bluntz
bluntz at My Love G - Chapter 4 (7 years 4 weeks ago)
80

Bagus!