Hari ini untuk yang lebih baik

Pulang sekolah, ayahku telah menunggu di gerbang sekolah untuk menjemputku. Aku pun langsung menghampiri ayahku.

"Lit, cepat ayah mau mengambil uang di bank," kata ayah. Akupun langsung masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju bank itu hanya diam tanpa sepatah katapun yang kami lontarkan. Kejadian tadi malam membuatku malas untuk berbicara kepada ayah. Orang tuaku bertengkar lagi dan lagi, aku sama sekali tidak memahami apa permasalahan mereka itu. Aku berusaha tidak memikirkan hal itu sebenarnya. Tapi sayang, pertengkaran orang tuaku tidak bisa lepas dari orang tuaku.\\

Sesampainya di bank, aku langsung duduk di bangku antrian, dan ayahku pergi melakukan urusan yang dia perlukan. Beberapa jam kemudian ayahku menghampiriku dan kamipun pulang. Di rumah yang biasanya ramai, tiba-tiba menjadi sepi, tidak ada orang di rumah. Tidak ada suara Ibuku sedang memasak, membersihkan rumah, atau menyetel TV mendengarkan berita. Adikku yang masih SD belum pulang,  mungkin sedang bermain seperti biasa. Kakakku juga sepertinya belum pulang. Hanya saja, memang hanya satu hal yang mengganggu pikiranku. Kemana ibuku? Meskipun pertengkaran seperti semalam sering terjadi, tapi ibu tidak pernah tidak ada di rumah. Ibuku tidak bisa berkendara sebenarnya, itulah kenapa ibuku selalu di rumah.

"Yah, rumah sepi. Ibu kemana?" tanyaku dengan nada yang terdengar cuek.

"Ayah juga nggak tau, Lit," jawabnya sambil mengetik sebuah pesan di handphonenya. Karena perutku lapar, aku langsung meninggalkan ayah di ruang tamu dan menuju kulkas untuk mengambil camilan, dan kembali lagi. Tiba-tiba hpku berbunyi, ya tanda sms masuk.

Dengan dahi mengernyit aku membuka pesan tersebut.

Pesan yang tertera nama ibuku sebagai pengirimnya, kemudian akupun membacanya.

Lita, Rina, Rafa, maafkan ibu karena telah meninggalkanmu tanpa memberi kabar sebelumnya, Ibu sekarang ada di Bandung, dan mulai sekarang Ibu tidak bisa tinggal bersama kalian. Jaga diri baik-baik dan jangan khawatirkan ibu disini.

 

Kalimat itu sederhana, tapi memuku-mukul hatiku. Selama tujuh belas tahun kami hidup bersama, dan ia hanya pergi dengan pesan seperti ini. Tetesan air mata perlahan jatuh tanpa terkendali, dan akupun menyerahkan hanphoneku pada ayah.

 

Tangisan air mataku semakin deras seiring berjalannya waktu. Aku tidak punya kontrol emosi yang kuat sehingga bisa begitu saja mengabaikan rasa sakit yang berdentam di dadaku. Setelah ini, tidak lagi aku akan merasakan makanan ibuku, tidak lagi aku bercanda bersama ibuku, tidak lagi kami akan pergi bersama membeli baju. Aku melihat ayahku terus mencoba menghubungi ibuku, tapi selalu gagal menghubungi. Hp ibuku mati, dan hanya Tuhan yang tahu apa alasannya menolak dihubungi. Tak lama kemudian, aku mendengar adikku datang. Adikku yang masih kecil, yang hanya memandang kami dengan dahi berkerut sepulangnya ia dari bermain. Ia tidak benar-benar memahami keadaan, tapi aku tahu apa yang akan terjadi pada adik kecilku di hari-harinya yang akan datang. Ia tidak menangis, hanya menepuk pundakku dan mengambilkan air minum. Hanya aku yang menangis, hanya aku.

Dan kakakku menyusul pulang tak lama setelahnya.

"Kenapa, Lit? Kok nangis?" tanyanya, dan aku tidak menjawab. Kakakku langsung bertanya pada ayah tentang apa yang terjadi dan membaca pesan ibuku. Tapi setelah itu aku tidak melihat ekspresi apapun terlintas di wajahnya. Dan untuk kakakku, itu pasti caranya mengendalikan emosinya, karena ia adalah seorang kakak yang penuh ekspresi, yang seringnya meramaikan keadaan rumah ini. Ia tidak menangis, ia hanya diam sambil membantu adikku yang tidak mengerti situasi itu untuk membuatkannya makan. Dan aku tidak akan tahu apa yang sedang dipikirkannya.

"Sudah lit, nggak usah nangis. Nanti ayah yang mengurus ibumu itu. Kamu sekarng mandi dan ganti pakaian dulu, keburu malam." Ayahku mencoba menenangkanku. Aku mengikuti sarannya, tapi dalam hati aku tahu bahwa mulai hari ini, keluargaku tidak akan seperti dulu.

 

Beberapa bulan kemudian, ibuku akhirnya kembali. Setmentara aku hanya berusaha menahan amarahku padanya dan meminta penjelasan, kakakku justru mengabaikannya dengan dingin, sedangkan adikku yang merasa ketidakhadiran janggal pada rumah ini menangis dengan polos di pelukan ibuku. Tapi hanya itu. Ia kembali untuk mengurus surat perceraian bersama ayahku, kemudian ia pergi tanpa mengatakan sepatah katapun pada kami. Ia hanya bertemu kami sebelum mengurus perceraiannya, dan hanya pergi tanpa pesan pada kami.

 

Anehnya, ketidakberadaan ibuku membuat kakakku terlihat lebih tenang dan ekspresinya kembali perlahan. Katanya, apa yang terjadi pada kami adalah yang terbaik, karena kami tidak perlu menangis melihat orang tua kami bertengkar. Saat itu aku sadar, ternyata kakakku yang terlihat tenangpun pernah diam-diam menangis di dalam kamarnya.

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer The Smoker
The Smoker at Hari ini untuk yang lebih baik (7 years 22 weeks ago)
80

berhubung ini cerita lama, yah saia nggak bisa komen banyak.
eh tapi yang lain juga udah banyak komennya... hehe
naisnais lah

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Hari ini untuk yang lebih baik (7 years 22 weeks ago)
2550

datar, heuheu.
saya kira itu karena penulis sekadar menampilkan apa yang ada di permukaan saja. sebagai contoh, di permulaan cerita pola kalimatnya hampir selalu sama. si aku melakukan apa, setelahnya melakukan ini, selanjutnya melakukan itu, berikutnya melakukan anu, dsb. terlalu objektif mungkin, sehingga terasa dingin.
konfliknya bisa lebih dihidupkan lagi padahal, sehingga lebih terasa ke-riil-annya, melalui cara penceritaan itu.
itu aja. maafkan atas segala kesoktahuan saya, hahaha. ini juga untuk diterapkan pada diri saya sendiri :-9
o ya, mengenai sikap ibunya itu, walau rasanya mengherankan kenapa "bisa2nya" seorang ibu meninggalkan anak2nya bersama bapak mereka, maksudnya rasa keibuan mestinya lebih kuat kan, kok "tega" melepaskan anak2, tapi ternyata lumayan banyak juga cerita yang menampilkan seperti itu, hhu.

Writer adlinaraput
adlinaraput at Hari ini untuk yang lebih baik (7 years 22 weeks ago)

hahaha. terimakasih kritiknya. saya juga merasa demikian jujur saja. tapi karena ini tulisan lama yang asal saya posting jadi saya memang sengaja berniat untuk tidak memperbaharui apapun.

sekali lagi, makasih ya :D

90

Pesan ceritanya udah dapat, juga mudah memahami jalan ceritanya, yah mungkn serti kata mas kemal krng terhubung ke pembaca,
nice mbak, ...

Writer kemalbarca
kemalbarca at Hari ini untuk yang lebih baik (7 years 22 weeks ago)
70

walaupun konfliknya terlihat jelas, tapi aku merasa cerita ini masih datar
entah kenapa perasaannya kurang terasa
pemilihan kata pun rasanya datar2 aja, jadi aku gak bisa ngerasa sedih
cerita ini gak jelek kok, tapi semoga dirimu bisa lebih banyak nulis lagi agar lebih baik :D

Writer adlinaraput
adlinaraput at Hari ini untuk yang lebih baik (7 years 22 weeks ago)

cerita ini memang datar, tapi karena ini hanya cerita yang sudah lama menjamur di laptop jadi saya tidak tertarik untuk menambahkan twist apapun dan asal posting aja. Setidaknya saya tahu seberapa besar kekurangan untuk cerita ini. Makasih banyak kritiknya :D

Writer Gechil
Gechil at Hari ini untuk yang lebih baik (7 years 22 weeks ago)
70

saya pernah seperti 'kakak'-nya :')