Menolong Arwah Penasaran

  Tidak seperti biasanya, aku terbangun dengan segar dan tanpa jam alarm sama sekali. Samar-samar terdengar bunyi kicauan burung di luar, menandakan hari ini cerah. Aku bahkan sudah tersenyum duluan sebelum bangkit dari tempat tidur karena merasa hari ini akan menyenangkan.

Paling tidak sampai aku berbalik badan dan melihat muka temanku, Ali.

“AAAHHH!!!” teriakku kaget.

“Hai Kem.”

“Ke...kenapa kau ada di kamarku? Dan kenapa kau....transparan?”

Aku tidak bohong, dia terlihat tembus pandang! Dan aku lalu menyadari kalau dia juga melayang! Ada apa ini?

“Yah seperti yang kau lihat, aku hantu,” katanya.

“Kau apa??”

“Aku hantu. Aku sudah mati, dan yah, kau tahulah...”

Aku masih memproses apa yang dia katakan, “Tunggu, kapan kau mati?”

“Aku mati kecelakaan kemarin. Bukannya kau melihat mayatku?”

“Hah? Oh ya, aku memang melihatmu sedang terbaring di jalan. Tapi kukira kau sedang tidur.”

“Kau mengira aku tidur di jalan?”

“Hei, itu bukan pertama kalinya.”

“Oh, benar juga sih,” Ali mengangguk-angguk, “Tapi ini beda. Aku ditabrak mati oleh angkot!!”

Aku sedikit menahan tawa, “Kau mati ditabrak angkot? Wow, bahkan cara matimu sangat tidak keren.”

“Jangan tertawa!! Ini serius,” kata Ali tersinggung. “Sekarang aku perlu bantuanmu.”

“Bantuan apa?” Tiba-tiba perasaanku tidak enak.

“Kau lihat sendiri, walaupun aku sudah mati, aku masih gentayangan di dunia. Ini karena aku harus menyelesaikan masalah-masalahku di dunia.”

“Kalau begitu, selamat menjadi arwah gentayangan. Masalahmu terlalu banyak untuk diselesaikan satu-satu. Kau bahkan belum membayar hutangmu padaku.”

Ali terus berbicara seakan-akan aku tidak mendengar kata hutang itu, “Masalah yang harus kuselesaikan hanya tiga, masalah yang paling utama untukku. Aku ingin kau membantuku menyelesaikannya.”

“Apa? Selesaikan saja sendiri. Udah mati kok nyusahin yang hidup?” protesku.

Dia mendekatkan mukanya ke mukaku, “Kem, kau harus bantu aku!! Cuma kau yang bisa melihatku, dan aku tidak tahu lagi harus bagaimana!!”

“Oke oke,” kataku sambil memundurkan badan sedikit, “tapi kenapa cuma aku yang bisa melihatmu?”

“Aku juga tidak tahu. Tapi tentu saja karena kita sahabat sejati kan! Ingat, best friend forever. Bahkan di kehidupan setelah mati!”

“Aku akan mencari teman lain sesudah aku dibangkitkan lagi nanti,” janjiku dalam hati, lalu aku berkata, “Ya sudah, jadi apa yang harus kulakukan?”

Hantu Ali tersenyum, “Nah gitu dong. Yang pertama, aku ingin kau mewakiliku untuk meminta maaf pada ibuku.”

“Itu saja?”

“Ya, gampang kan?”

Maka pergilah kami berdua ke rumah Ali. Aku naik motor, dia melayang-layang di sampingku.

Rumah Ali sedikit ramai walaupun masih pagi, kurasa karena banyak orang yang datang melayat. Kulihat ibu Ali sedang duduk dihibur tetangga-tetangganya. Seandainya dia tahu kalau Ali ada di sini.

Ali sendiri terlihat seperti tidak peduli dan dengan bodohnya mencoba mengambil kue yang disuguhkan untuk tamu. Tentu saja tidak bisa karena yah, dia sudah jadi hantu.

“Woi, kau niat minta maaf gak sih?” tanyaku kesal.

“Ya, ya, panggil ibuku dong.”

Karena aku tidak mau beramai-ramai, jadi aku mengajak ibu Ali ke luar dengan alasan ingin mengatakan sesuatu yang penting tentang Ali.

“Ada apa ya memangnya? Kamu siapanya Ali?”

“Saya Kemal, temannnya Ali,” kataku mengabaikan bisikan ‘best friend forever’ dari si Ali, “dan saya ingin mengatakan kalau saya turut berduka cita.”

“Oh, terima kasih Nak.”

“Lalu ada lagi, saya ingin Tante tahu kalau Ali ingin meminta maaf pada Tante.” Di sebelahku, Ali mengangguk-angguk.

“Hah? Maksudnya bagaimana? Memangnya Ali mengatakan sesuatu padamu sebelum dia meninggal?”

Oh ya, aku belum memikirkan ini. Rasanya tidak mungkin aku mengatakan kalau hantu anaknya datang menggangguku pagi-pagi. Bisa-bisa dia histeris dan membuat masalah makin rumit. Aku memutuskan untuk berbohong.

“Ali datang di mimpi saya. Dia mengatakan kalau dia ingin meminta maaf pada Tante.”

“Datang di mimpi? Jangan-jangan kamu ini...punya semacam indera keenam ya?” Ibu Ali terlihat kaget.

“Ya begitulah Tante. Saya seperti Deddy Corbuzier, hanya saja berambut.” Setelah mengatakan itu, aku jadi merasa bodoh sendiri. “Intinya, Ali minta maaf.”

“Tapi dia salah apa? Kenapa dia minta maaf?”

Kalau kuingat-ingat, Ali belum pernah mengatakan alasannya. Aku melirik pada Ali, tapi dia hanya bengong kayak orang bego.

Maka dengan putus asa, aku meletakkan tangan di kepalaku dan berteriak, “AAGGHH, SESUATU MUNCUL DI KEPALAKU!! INDERA KEENAMKU BERGETAR! ALI MENCOBA BERKOMUNIKASI DENGANKU DARI ALAM SANA!! ALI INGIN MENGATAKAN ALASANNYA MEMINTA MAAF!”

Ibu Ali shock. Aku sengaja melakukan itu untuk memberi tanda pada Ali untuk membisikkan alasannya. Dia sepertinya mengerti.

“ALASANNYA ADALAH...KARENA DIA PERNAH...MENGAMBIL...UGH..AMBIL UANG TANTE TANPA BILANG-BILANG!!”

“Apa? Tapi kenapa? Untuk apa?” tanya ibu Ali. Ali membisikkan sesuatu lagi.

“AAGGH, KATAKAN UNTUK APA ALI!!” Aku melanjutkan dramaku, “UNTUK...MAIN JUDI BOLA....SAMA KEMAL!”

Setelah beberapa saat, aku baru sadar yang kuucapkan. “Kau judi bola denganku dengan uang curian??” tanyaku tak percaya pada hantu Ali.

“Maaf, soalnya kau yakin banget menang sih.” Ali memprotes.

“Kau...jadi uang yang kau kasih itu uang haram??”

“Kem, judi aja udah haram kali...”

Aku tak sempat memprotes lagi karena ibu Ali dengan anehnya bergetar di depanku.

“Tante tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.

Dia melihatku dengan tatapan mengerikan, “Kamu....judi bola sama anak saya? Ternyata kamu ya yang bawa pengaruh buruk ke Ali. Terus kamu ngomong sendiri gitu.....kamu abnormal....”

“Anu Tante, ini bisa saya jelaskan. Sebenarnya di sini ada hantu Ali dan dia....”

“Pergi kamu dari rumah ini!!”

“Boleh kuenya satu dulu ga....”

“PERGI!!”

Aku langsung ngacir karena para tamu sudah keluar untuk melihat ada keributan apa. Setelah agak jauh, aku langsung menyalahkan Ali.

“Paling tidak bilang dulu kalau masalahmu ada hubungannya denganku!”

“Ya ya maaf, tidak akan kuulangi. Nah masalah berikutnya...”

“Lupain aja!” Aku berdecak kesal, “Aku gak mau ikut-ikutan lagi.”

“Tapi Kem, masalah kali ini berkaitan dengan cewek!!”

Aku terdiam, “Cantik?”

“Aku ini sedang membicarakan Clarissa.”

Clarissa adalah cewek tercantik di kampus. Hanya dengan kedipan matanya, cowok-cowok bisa mabuk kepayang. Bahkan sampai beredar mitos kalau Clarissa kentut, yang keluar adalah pelangi. Aku jadi tertarik.

“Kau ada masalah apa dengan Clarissa?” tanyaku curiga.

“Aku ingin minta maaf juga dengan dia karena pernah mengintipnya di ruang ganti.”

“Apa? Kau mesum sialan!!”

“Aku tahu aku tahu, karena itu aku ingin minta maaf. Kau mau membantuku kan?”

Aku memikirkan lebih dalam permintaan ini. Sisi positifnya, aku akan sangat senang untuk berbincang-bincang dengan Clarissa. Sisi negatifnya, aku harus membicarakan perbuatan mesum Ali.

Tapi kudengar Clarissa adalah orang yang lembut, jadi kurasa dia akan memaafkan Ali.

“Oke oke, ayo kita ke kampus. Kurasa dia ada di sana,” kataku akhirnya.

Kami menemukannya sedang asyik mengobrol bersama teman-temannya. Untuk ukuran mahasiswa, Clarissa memakai baju yang agak kelewat mewah. Bahkan dia memakai sepatu hak tinggi. Tidak perlu, tapi aku tak protes juga karena dia tetap terlihat cantik.

Teman-teman Clarissa melihatku dengan tatapan menilai saat aku mengajak Clarissa untuk pergi sebentar. Seakan-akan mereka mengatakan “Lihatlah kau dengan baju jaman dinosaurusmu itu, dan ditambah muka seperti itu, ugh.”

“Kenapa ya?” tanya Clarissa sambil tersenyum. Ya ampun, suaranya lembut banget!

“Kem, sadar kem!” teriak Ali di kupingku, membuyarkan imajinasiku hidup bahagia selama-lamanya dengan Clarissa. “Ingat tujuan kita ke sini.”

“Ya ya...” bisikku pada Ali, lalu aku kembali ke Clarissa, “Mungkin kau tidak kenal aku sebelumnya...”

Clarissa memotong, “Apa kau populer di kampus ini?”

“Ngg, tidak terlalu sih...”

“Oh, berarti aku tidak mengenalmu,” kata Clarissa sambil tersenyum. Wow, ini cewek mulutnya tajam juga.

“Yah, seperti yang kubilang, kau tidak mengenalku sebelumnya, tapi aku ke sini untuk menyampaikan permintaan maaf dari temanku yang meninggal kemarin.”

“Oohh...” Mukanya terlihat sedikit melunak, “aku turut berduka cita. Apa dia populer di kampus ini?”

“Mmh, mungkin tidak...”

Muka Clarissa menjadi datar lagi. Aku jadi tidak tahu harus bagaimana menanggapi respon cewek ini.

“Jadi, dia minta maaf soal apa?”

Oke, ini dia moment of truth, “Ali pernah mengintipmu di ruang ganti.”

Tidak ada jawaban. Muka Clarissa masih datar. Kurasa aku ngomong terlalu pelan. Jadi kukatakan lagi dengan suara sedikit dikeraskan.

“Ali pernah mengintip....”

Belum kuselesaikan kalimatku, sebuah sepatu hak tinggi menamparku dengan keras. Aku sampai terjungkal.

Clarissa melihatku dengan pandangan super jijik. Tangannya bergetar memegang sepatu hak tinggi yang dia pakai untuk menyerangku. Kapan dia melepas sepatunya??

“Dasar kau cowok mesum!!”

“Tunggu, bukan aku yang mengintipmu, tapi temanku Ali...”

“TOLONG! TOLONG!! ADA ORANG MESUM DI SINI!!” Clarissa mulai berteriak. Aku langsung menyelamatkan diriku dengan lari secepat-cepatnya dari sana dan bersembunyi di semak-semak sampai keadaan aman.

Yang lebih menyebalkan, si Ali justru tertawa-tawa di sampingku.

“Berikan satu alasan aku tidak meninju mukamu,” ancamku.

“Aku hantu dan kau tidak bisa menyentuhku.”

Sial, itu alasan yang bagus. Aku berpikir apakah di sekitar rumahku ada semacam pemburu hantu yang bisa kusewa untuk memberi pelajaran pada anak ini.

“Sudah, aku mau pulang!!”

“Eh tunggu Kem, aku masih punya satu masalah lagi.”

“Bodo amat sama masalahmu. Tiap aku coba bantu kau, selalu saja berujung dengan aku yang kena masalah. Dan itu bukan ketika kau mati saja.”

Aku langsung beranjak pergi, tapi Ali melayang ke depanku.

“Tolong Kem, kalau satu masalah ini selesai, aku bisa mati dengan tenang. Kau tidak ingin aku mati dengan tenang?”

“Aku ingin hidup dengan tenang. Dan jangan gunakan ekspresi itu!”

Ali sedang memperagakan ekspresi memohon dengan mata unyu, seperti yang dilakukan oleh anjing kecil yang ingin meminta makanan. Bedanya, yang ini membuatku jijik.

“Tolooong Keeeem, pliiiiissss!!”

“Ja...jangan gunakan....huek, ya ya!! Ini terakhir ya!”

Ali tersenyum girang, “Hehe, tentu saja.”

“Apa masalahmu yang terakhir? Aku tidak mau kalau ini menyusahkan.”

“Tenang saja, ini gampang kok. Kita hanya perlu menemukan pengemudi angkot yang menabrakku. Lalu kau tinggal membunuhnya.”

“Oke, eh tunggu, apa?? Kau gila ya?”

“Kem, jika dendamku tak terbalaskan, aku tak akan bisa mati dengan damai.”

“Tapi ini aku yang harus membunuhnya, kau tidak memikirkan depanku ya?” protesku, “Tidak, aku tidak mau terlibat dengan ini.”

“Keeeemmm.....” Ali mulai menggunakan ekspresi hina itu lagi. Melihatnya benar-benar membuatku mual.

“Berhenti berwajah seperti itu!!”

“Aku akan begini terus sampai kau menolongku.”

“Kau....oke oke, begini saja, kita temui orangnya, lalu minta penjelasan dari dia. Mungkin pada akhirnya kau akan memaafkannya dan mati dengan damai,” usulku.

Ali tampak memikirkannya, tapi akhirnya dia berkata, “Oke, tapi bawa pisau ya, buat jaga-jaga.”

“Kita tidak akan membunuhnya!! Jadi, dimana kita bisa menemukan dia?”

“Tenang saja, aku sudah mencari rumahnya sebelum minta tolong denganmu. Ayo ikut aku.”

Maka pergilah aku dengan motor, mengikuti hantu Ali ke rumah supir angkot pembunuh.

Sampai di depan rumahnya, kulihat si supir yang dikatakan Ali sedang bersiap-siap akan pergi dengan angkotnya untuk mencari setoran.

“Sekarang saatnya Kem, cekik dia!!”

“Bisakah kau diam? Atau mau kupanggil guru ngaji?”

Ali memilih diam. Aku mencegat si supir sebelum dia pergi.

“Hai Pak, anu bisa minta waktunya sebentar?”

“Eh ya, ada apa ya?”

Supir ini terlihat seperti supir yang baik-baik. Kau tahu kan, kalau kita naik angkot ke tempat yang sebenarnya dekat tapi lupa bawa uang kecil, lalu supirnya kasih gratis aja. Dia terlihat seperti supir yang seperti itu. Memang sih tidak boleh hanya menilai dari muka (Clarissa adalah bukti paling bagus), tapi biasanya instingku kuat kok.

“Nama saya Kemal, mungkin anda ingat teman saya, Ali?”

Mukanya berubah muram. “Oh ya, anak itu.”

Ali berteriak di telingaku, “Bunuh dia!! Dia sudah mengakui semuanya!!”

“Diam!! Dia belum bilang apa-apa sialan!”

“Eh, maaf?” Si supir bingung lihat aku teriak-teriak sendiri.

“Ah maksudku, anda belum menyebutkan nama anda.”

“Oh maaf. Nama saya Eduardo.”

Nama yang agak aneh untuk orang Indonesia, tapi ya sudahlah.

“Jadi pak Eduardo, apa benar anda menabrak teman saya hingga tewas?” tanyaku dengan cara sesopan mungkin.

“Tidak, dengar dulu, semua orang menganggap aku bersalah, padahal bukan begitu kejadiannya.”

“Dia bohong!! Bunuh dia!!” teriak Ali lagi, tapi kuhiraukan.

“Maaf, bisa anda jelaskan kejadiannya kalau begitu?”

“Ya,” kata Eduardo. “Semua bermula saat aku akan keluar dari tempat parkir...”

Lalu dia diam dengan pandangan ke atas seperti sedang membayangkan sesuatu.

“Eh, bagaimana Pak?”

Dia tetap diam.

“Kurasa dia sedang mengalami flashback...” bisik Ali.

“Tapi bagaimana kita bisa melihat flashback itu?” tanyaku heran, “Ini kan bukan film. Kita tidak bisa melihat apa yang ada di pikirannya...”

Lalu semuanya memutih.

 

 

Ali terlihat sedang berjalan dengan santainya. Lalu tiba-tiba ekspresinya berubah ketika melihat sesuatu di kejauhan. Awalnya aku tak bisa melihatnya, tapi setelah memfokuskan mata, aku melihat ada kilauan di jalan. Uang koin 500 rupiah.

Ali (yang selalu bokek) langsung berlari dengan cepat. Dari samping, terlihat sebuah angkot sedang mundur dengan perlahan dari salah satu pertokoan. Angkot itu mundur tepat ke arah uang koin itu tergeletak.

Tapi Ali sedang tak melihat angkot itu. Dia justru melihat jauh ke depan, ke seseorang yang sedang berjalan ke arah uang koin itu juga. Dia menambah kecepatannya agar bisa mengambil koin itu duluan.

Lalu secara tiba-tiba, uang koin itu tertutup oleh angkot. Ali terkejut, tapi tak bisa menghentikan larinya. Dia menabrak angkot itu dengan keras. Dia pun mati di tempat.

 

 

Aku kembali ke masa kini.

“Jadi begitulah...” kata Eduardo.

“Bagaimana kau bisa memperlihatkan flashback seperti itu?” tanyaku kagum.

“Semua supir angkot bisa melakukannya. Jadi kau sudah mengerti kan situasinya?”

Aku melihat ke hantu Ali, “Bukan angkot yang menabrakmu, tapi kau yang menabrak angkot!!

Ali tampak malu sendiri, “Yah, dari flashback tadi sih, sepertinya memang begitu.”

“Dan kau mati hanya karena demi uang 500 rupiah. Jelek banget sih matimu.”

Ali diam saja, muka dia memerah karena malu. Ya, muka hantu bisa juga merah karena malu. Kau belajar sesuatu setiap hari.

Eduardo yang bingung melihat aku bicara sendiri akhirnya minta izin untuk pergi. Aku dan Ali ditinggalkan berdua.

“Nah, kau sudah tahu kenapa kau mati kan?” kataku, “Kalau begitu, pergi sana. Jangan ganggu aku lagi.”

“Yaaa, aku sudah damai sekarang. Terima kasih Kem, akhirnya aku bisa bertemu ibuku,” kata Ali sambil menitikkan air mata.

“Ngg, ibumu masih hidup. Dan kau baru saja bertemu dengannya.”

“Jangan mengganggu masa-masa mengharukan ini!”

Lalu perlahan-lahan dia melayang, menuju langit penuh cahaya. “Selamat tinggal Kemal. Akan kutunggu kau di surga.”

Melihat perilakunya di dunia, aku ragu dia masuk surga. Tapi aku lambaikan juga tanganku padanya. Bagaimanapun juga, dia temanku.

Ali akhirnya menghilang di balik awan. Aku tersenyum dan berjalan ke rumah. Akhirnya aku bisa bebas.

“Wah, ada uang koin 500 tuh,” kataku setelah melihat sesuatu yang berkilauan di depan. Lalu aku berlari ke sana secepatnya. Tidak melihat adanya truk yang ugal-ugalan.

 

 

 

“Nah, jadi begitulah kejadiannya,” kata Eduardo sambil tersenyum.

Ali tertawa-tawa melihat flashback itu, sementara aku hanya manyun. Tak kusangka aku mati dengan cara yang sama oleh si sialan ini.

“Lalu bagaimana kau mati Eduardo?” tanyaku.

Eduardo tersenyum, “Aku mati ditabrak angkot lain saat sedang memperlihatkan flashback ke salah seorang penumpang.”

“Wow keren,” kata Ali, “boleh aku lihat flashback-nya?”

Dan Eduardo pun memperlihatkannya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ahli Wirit
Ahli Wirit at Menolong Arwah Penasaran (6 years 32 weeks ago)
50

wih keren gw ngefen deh ama maskemal :D

Writer Febilions
Febilions at Menolong Arwah Penasaran (7 years 12 weeks ago)
90

Izin save kak buat tugas bhasa indonesia>..< tenang aja, nama kaka aku cantumkan sebagai pengarangnya kok;;)

Writer sebelumpagi
sebelumpagi at Menolong Arwah Penasaran (7 years 16 weeks ago)

hahaha saya sampe mondar mandir dari tengah cerita ke akhir cerita buat baca lagi... ternyata udh mati semua hehehe

Writer SR_2127
SR_2127 at Menolong Arwah Penasaran (7 years 19 weeks ago)
80

bikin ketawa banget www udah mati semua, cara matinya konyol pula wwww

aku suka sama adegan “Kurasa dia sedang mengalami flashback...”

Writer agniaryan
agniaryan at Menolong Arwah Penasaran (7 years 22 weeks ago)

Wahaha, gokil ya =D saya pendatang baru, nih. Dan suka. Ceritanya mengalir.

Writer alcyon
alcyon at Menolong Arwah Penasaran (7 years 22 weeks ago)
100

Ah... Konyol maksa khas kemal

Writer bayonet
bayonet at Menolong Arwah Penasaran (7 years 22 weeks ago)
80

Mati semua gan? Haha..

Writer citapraaa
citapraaa at Menolong Arwah Penasaran (7 years 22 weeks ago)
70

stress. agak cape juga baca banyak dialog :0 supir angkot yg keren :)

Writer rian
rian at Menolong Arwah Penasaran (7 years 22 weeks ago)
90

Ini bener-bener seru dan lucu banget! Saya nggak tahu lagi apa yang mesti dikomentarin (kecuali mungkin beberapa typo--sangat sedikit--yang bertebaran di dalam cerita). Narasinya bagus, sederhana dan to the point. Ini keren deh pokoknya

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Menolong Arwah Penasaran (7 years 22 weeks ago)
90

kamu emang jagonya bikin orang keketawaan tengah malam, kemal X-D
udah ah ga usah dikomenin lagi.
doyan nonton BBC Knowledge ya? hoho.

Writer kemalbarca
kemalbarca at Menolong Arwah Penasaran (7 years 22 weeks ago)

wah, senangnya ada yang tahu acara itu juga :D