Sebutir Debu Di Kotak Berlian

Aku mulai suka senyum-senyum sendiri setelah aku gagal masuk PNS satu tahun yang lalu. Tahap wawancara terakhir yang diikuti sepuluh orang untuk perekrutan sembilan orang membuat aku berharap besar, tetapi akulah yang gagal waktu itu. Cita-citaku hangus, entah kenapa aku ingin sekali menjadi PNS, mungkin pikiranku terlalu dangkal mengenai kehidupan.

Alhasil, Putus asa sekirannya telah memutuskan satu urat sarafku yang membuatku suka senyum-senyum sendiri dan kadang tertawa sendiri. Aku menyadarinya, dan juga paham kalau itu terlihat aneh, tetapi seperti rasa lapar yang datang tiba-tiba, begitulah kegilaan itu awalnya datang kepadaku.

 

Aku yang walaupun sudah dikatagorikan-orang gila- tetapi aku masih memiliki kemauan untuk sembuh. Dan untuk itu, aku telah melakukan berbagai cara, mulai download video-video motivasi dari youtube sampai menambah frekuensi berdoaku yang awalnya hanya satu kali sebulan tiba-tiba menjadi 30 kali sehari. 

 

Menonton bioskop adalah salah satu caraku menyegarkan pikiran, aku melakukannya hampir tiga kali seminggu. Duduk menunggu plaza satu, dua, tiga untuk dibuka adalah hal yang paling membosankan. Aku merasa terganggu dengan orang-orang yang berlalu lalang, mereka terlihat begitu modis, berpakaian mahal, berkulit keju, sangat jarang terlihat orang-orang sejenis orang di gang tempatku tinggal di sini.

Kadang aku berpikir, kalau aku adalah sebutir debu di kotak berlian.

 

**

"Pak Herton terlalu sensitive, jangan terlalu dipikirkan apa kata orang," Kata Pak Iwan, Psikiater langananku.

 

"Tetapi, tetangga-tetanggaku selalu tertawa kalau aku lewat dari depan mereka pak, Bagaimana aku tidak tersinggung?," Bantahku sambil mengarut kepala.

 

"Apakah Pak Herton yakin kalau bapaklah yang ditertawakan? siapa tahu mereka sedang menertawakan tikus yang kebetulan sedang bercinta di depan mereka," Tambah sang dokter.

 

"Aku begitu yakin Pak, Karena mereka hanya tertawa saat aku lewat saja, Bapak Tahu bagaimana mereka tertawa, begini, kakakakakak," Bantahku kembali.

 

"Ha.ha, Pak Herton lucu sekali," Dokter itu malah tertawa.

 

"Pak Iwan menertawakanku juga?" Tanyaku sedikit kecewa.

 

"Oh..Maaf Pak Herton. Kalau Boleh Tahu, apakah orang-orang yang menertawakan bapak adalah orang-orang yang terlihat bahagia?" Tanya Dokter

 

"Ialah Pak, Orang mereka selalu tertawa dengan begitu kerasnya. Aku tersinggung dokter," Jawabku

 

"Bukan, Maksudku apakah orang-orang itu benar-benar terlihat hidup tanpa masalah?"

 

"Mereka... mereka juga punya banyak masalah, ada yang baru di PHK, ada yang baru keluar dari penjara, ada yang baru diceraikan istrinnya, ada yang baru kehilangan anaknnya, pokoknya mereka itu orang-orang bermasalah, biasa pak, aku tinggal di gang dimana banyak terjadi masalah" Jawabku

 

"Kalau begitu anggaplah bapak manusia terhina yang dihinakan untuk memberikan orang susah kebahagiaan, bukankah saat bapak lewat mereka tertawa?"

 

"Janganlah pak. Aku ini hanya sebutir debu di kotak berlian, Bukan sebutir berlian di kotak debu," Jawabku dan aku langsung pergi meninggalkan sang dokter psikiater yang menurutku, kalau dia juga sebaiknya harus menemui psikiater juga. Aku bahkan pergi tanpa resep obat, Aku muak dengan carannya berbicara, seolah-olah hidup ini semuda mencuci kolor kalau dimatanya.

 

***

 

Saat pulang dari rumah sakit, hujan turun begitu derasnnya. Saat berjalan di gang menuju kontrakankku, beberapa orang yang biasannya tertawa saat aku lewat terlihat begitu murung, sebagian terisak bahkan dari dalam rumah terdengar ada yang menanggis. Beberapa Orang menangis sambil berpelukan di depan rumah si Anang. Ternyata si Anang, Pemuda penganguran itu telah meninggal dunia, dan orang-orang sangat sedih karena pemuda itu terkenal begitu ceria dan baik hatinnya. Si Anang yang gagal masuk PNS itu dulunya tiba-tiba menjadi Pemurung, semua warga gang selalu mencoba menghiburnya, menyapanya dengan senyum setiap kali dia lewat. Mengajaknya bergurau, bercanda, meneriakkinya setiap kali dia lewat. Warga ingin dia kembali sebagai pemuda riang yang penuh semanggat, pemberi senyum yang selalu meringgankan beban orang-orang di gang. Tapi, Lelaki yang dijuluki si Anang di gang itu telah merubah cara berpikirnya, baginnya senyumman adalah hinaan, sapaan adalah makian setelah sarafnya putus. Dia dijuluki si Anang, Namanya Herton- Pemuda yang adalah sebutir berlian di kotak debu telah menjadi debu juga.

 

 

 

 

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Bayang
Bayang at Sebutir Debu Di Kotak Berlian (7 years 1 week ago)

hmmm... lumayan, tapi memang ada yg masih kurang... ada saraf yg terputus pas nulisnya kali ya... atau si penulis mau jadi PNS juga? atau masih sering ke psikater? hehehe...

Writer Balter
Balter at Sebutir Debu Di Kotak Berlian (7 years 8 weeks ago)
100

psikiater kurang ajar, malah ngajarin self-pity. grr!
tapi sebenernya itu setengah benar sih, mengajarkan positif thinking. Endingnya tragis, sayang sekali dia tewas gara-gara pikirannya sendiri yang sebenarnya tidak nyata.

Hmm, lumayan ceritanya, masih ada beberapa typo dan sepertinya bisa dikembangkan lagi idenya. :))