Ego 1

Hanya cahaya temaram lilin yang menyinari siluet wajah Mai. Suara berisik serangga senja itu menimbun isak tangis tertahan Mai. Meski suhu di awal Juni terkenal dingin di Jogja, hangat yang dihasilkan oleh empat lilin yang ditempatkan secara acak diruangan itu - walau hanya sedikit - mampu menepis dinginnya suhu yang menusuk rusuk.

Mai duduk disatu-satunya sofa diruangan itu. Meski butut, sofa itu menyimpan banyak kenangan berharga baginya dan bagiku. Aku duduk bersila dilantai yang dilapisi karpet butut yang sekarang agak lembab. Tas kuletakan di sampingku. Mungkin dinginnya udara, dan letak gubuk yang berada tepat di tengah kebun pohon rambutan telah mempengaruhi produksi embun secara berlebih.

Ya, gubuk kayu. Gubuk kayu reyot ukuran tiga kali empat tempatku dan Mai sering bermain saat kecil. Atau mendengar dongeng dan cerita-cerita kepahlawanan yang selalu dituturkan oleh Pak Noto.

Gubuk itu sebenarnya adalah gudang peralatan bekas milik Pak Noto, yang setelah beliau pindah ke Bantul, kami merombak interior gubuk dan menjadikannya tempat bermain pribadi.

Mai kecil sangatlah tomboy dan periang, kontras dengan Mai remaja yang sekarang menangis pelan seraya meringkuk menopangkan dagu di kedua lututnya.

Ujung lengan jaket warna maroon yang dikenakan Mai tampak basah oleh air mata. Ya, kami tidak langsung pulang. Sebab sepulang sekolah Mai mencegatku di ruas kiri gerbang sekolah dengan wajah murung. Membuatku agak kaget karena Mai yang biasanya enerjik terlihat murung, Mai yang biasanya selalu dikelilingi oleh teman-temannya saat itu hanya sendiri.

Karena sekitar tiga bulan yang akan datang kami kelas tiga akan menghadapi ujian kelulusan, maka jadwal pelajaran tambahan semakin diperketat. Dan jam pulang sekolah juga semakin lambat. Sore tadi - sekitar jam empat lebih tiga puluh menit - Mai yang awalnya berdiri menyandarkan punggung di ruas kiri gerbang sekolah segera berpaling kearahku ketika ia menyadari kehadiranku.

"Hei," sapa Mai dengan senyum yang tampak sangat dipaksakan.

"Hei," balasku. Sedikit gugup. Bukan tanpa alasan. Dari kelas satu SMA, sejak aku mengungkapkan ketertarikanku padanya. Hubungan pertemanan kami menjadi agak renggang. Mai terasa selalu menghindar dariku setelahnya. Dan aku sedikitpun tidak merasa kehilangan sosok seorang teman, atau... Itu yang kuyakini kurasakan.

"Ayo ke gubuk," ajak Mai seraya membalikkan tubuhnya mendahuluiku menuju jalan pulang.

Ajakan sepihak Mai terasa seperti sebuah lelucon murahan yang biasa ditampilkan di televisi. Hampir selama dua tahun lebih dia selalu mencoba menghindariku. Dan sekarang, secara tiba-tiba, tanpa ada sedikitpun rasa bersalah, dia mengajakku ke gubuk, tempat kami bermain sewaktu kecil.

Mai berbalik, "Mon? Kanapa diam?" Tanya-nya.

Aku menggeleng pelan sebagai respon, sedikit tersenyum, lalu berjalan kearahnya. Mungkin Mai sadar aku telah mematuhinya. Ketika jarak kami semakin dekat, Mai melanjutkan jalannya. Meski kami berjalan berdampingan, tak sepatah katapun keluar dari mulut kami.

Lalu, setibanya di gubuk pukul lima sore tadi sampai sekarang, pukul enam lebih lima belas menit, May hanya menangis. Sebab dari kesedihannya hanyalah satu kalimat simple . Satu kalimat yang ia ucapkan sendiri, ia sebabkan sendiri, tapi, ia merasa ia belum mampu menanggungnya. Satu kalimat itu adalah- Aku hamil .

Setelahnya dia hanya menangis. Dan Aku hanya diam. Aku bukan tipikal orang yang suka menasihati. Meskipun orang yang ada didepanku adalah teman masa kecilku sendiri. Aku tak suka ikut campur urusan orang lain. Jika orang yang bersangkutan tak ingin aku mencampuri urusannya. Setidaknya, itu yang ingin kupikirkan. Tapi nyatanya? Hatiku panas.

Ingin aku memakinya, tapi makian tak mampu mencegah kejadian. Ingin aku mengolok-oloknya, tapi olok-olokkan tidak mendatangkan keuntungan. Diam adalah hal teraman dalam situasi yang sangat menyusahkan.

Mai mulai menghapus air matanya dengan punggung tangannya yang tertutup oleh ujung lengan jaketnya. Setelah menenangkan diri sejenak, ia mulai menatapku. Seakan ingin agar aku berkomentar, mencacinya, atau apapun. Seakan berlarut-larut dalam kesunyian tidak memberikan rasa nyaman baginya. Aku menunduk, menatap karpet kotor lembab, menghindari tatapan memelas Mai yang membuatku muak.

Aku terkekeh. "Kau pasti bercanda,"ucapku. Mencoba berkata setenang mungkin. Mai masih memasang tampang memelas. Tanpa berkata-kata ia mencari sesuatu di tas punggungnya yang berwarna hitam. Apa yang ada ditangan kanan Mai sekarang adalah benda berwarna putih yang mirip pulpen pipih panjang. Terdapat dua indikator kecil bertanda (+) dan (-) tepat ditengahnya. Dan tanda di indikator itu mengarah ke tanda (+). Tanpa penjelasan lebih lanjut, aku mengerti, apa maksud dari tanda itu.

"Aku gak tahu harus gimana Mon..."Masih memegang benda itu Mai mulai bicara ditengah isak tangisnya."Kalau sampai Ayah atau Bunda tahu kalau Aku hamil, mereka pasti marah! Terutama Ayah... Kamu tahu kan gimana sikap Ayahku!?"

Aku mengangguk pelan. Ya, Ayah Mai yang berprofesi sebagai arsitek itu terkenal temperamental. Ayahku sering mengeluh tentangnya dan ibuku selalu menasehatiku agar hati-hati saat aku bermain dengan Mai diwaktu kecil. Akupun sedikit takut saat Ayah Mai menatapku. Seakan dia menodongkan pistol yang tak kasat mata kearahku.

"Si Dafa brengsek itu... Dia tidak ada di kost-nya! Dia kabur setelah puas menggunakaku!" Raung Mai.

Aku tidak kenal siapa si Dafa brengsek ini. Melihat ekspresi Mai yang sarat akan kebencian, kusimpulkan dia adalah pacar Mai. Orang yang menghamilinya. Yang beberapa waktu lalu sempat kulihat ketika dia menjemput Mai saat pulang sekolah, atau ketika dia mengantar Mai di pintu masuk kompleks perumahan kami.

"Aku takut Mon... Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa!" Seiring Mai berkata, air mata yang tadi sempat disapunya kembali mengalir deras. Sesekali ia mengusapnya dengan punggung tangannya.

"Mai, akan lebih baik kalau kamu memastikan apakah kamu benar-benar hamil atau ti--"

"Aku tiga kali menggunakan testpen dan setiap pagi aku selalu merasa mual." Potong Mai seraya mengangkat benda putih ditangannya yang ia sebut testpen. "Atau aku harus pergi ke dokter dan mengatakan ke orang-orang kalau aku hamil dan merasa bangga!? Jangan bercanda." Ucap Mai terdengar putus asa.

Aku kembali diam. Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa aku? Kenapa bukan Lia atau Tessa yang selalu main denganmu, atau teman-temanmu yang lain yang selama ini selalu ada disekitarmu!? Tapi pertanyaan itu nantinya hanya akan menimbulkan berbagai pertanyaan lain yang menambah bebanku. Jadi kuputuskan untuk diam.

"Jadi... Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Tanyaku. Kali ini aku mencoba menatap wajah menyedihkan Mai.

Mai hanya menggeleng pelan Tangisannya semakin deras. Dia benar-benar putus asa. Semuanya adalah jalan buntu baginya.

Hanya suara jangkrik dan serangga-serangga lain yang mendampingi suara isak tangis Mai. Kalau ada orang yang lewat dekat sini, mungkin mereka akan mengira tempat ini berhantu karena isak tangis tertahan Mai terdengar sangat memilukan.

Aku melihat jam tangan hitam yang melingkar ditangan kiriku. Pukul enam lebih dua puluh tiga menit. Ibuku pasti khawatir aku belum pulang. Mai masih menangis, kali ini ia membenamkan wajahnya diatas kedua lututnya yang ditekuk. Aku berdiri perlahan dari posisi awalku.

"Mai... Ayo kita pulang. Kalau kita tidak pulang sekarang, Orang tua kita pasti akan merasa khawatir. Dan... Dan aku yakin orang tua kamu pasti belum tahu kalau kamu hamil. Besok kita cari cara lagi untuk memecahkan masalah ini." Ucapku.

Mai menaikkan wajahnya pelan, menatapku. "Cara? Apa yang kamu maksud cara!? Kamu pikir takdir sebijak itu hingga mampu menarik kembali apa yang telah kamu lakukan!? Kamu pikir lama-lama Ayah atau Bunda tidak akan tahu!?"

"Lalu apa yang kamu inginkan!?" Kali ini aku agak menaikkan nada suaraku. "Diam disini dan menangis tidak akan memecahkan apapun Mai! Dan aku tidak ada hubungannya dengan semua masalah-masalahmu."

Kali ini Mai benar-benar terkejut. Wajahnya yang sedari tadi kusut akibat menangis berjam-jam semakin kusut. Mulutnya yang bergetar sedikit menganga. Sepertinya ia ingin mengucapkan sesuatu tapi ditahannya.

"Oke, aku mengaku aku sempat menyukaimu. Dan aku sempat mengatakan aku ingin memacarimu." Ucapku meluapkan emosiku. "Tapi kamu hanya diam, diam dan mencoba menghindariku dan sekarang! Sekarang setelah kamu hamil kamu mengajakku kesini! Kenapa bukan Lia!? Atau Tessa!? Atau teman-temanmu yang lain!?" Ucapku mengungkapkan isi pikiranku yang sedari tadi sempat kutahan.

Mai hanya diam ditempatnya, terpaku atas ucapan-ucapanku. Aku merasa kesal aku tak mampu menahan emosiku. Tapi menurutku, itu hal yang benar.

Persoalan mengenai kehamilan adalah hal yang salah jika ditanyakan padaku yang seorag lelaki labil dan masih perjaka. Andaipun Mai membutuhkan teman untuk berbagi duka, aku bukanlah orang yang tepat. Masalah seserius ini harus diungkapkan ke orang yang lebih tepat, orang yang akan menerima dampak nyata yang dihasilkan dari tindakan gegabah Mai.

"Sekarang, kamu pulang. Dan ngomong sama Orangtua kamu. Mereka akan memberikan solusi yang terbaik buat kamu, masa depan kamu, dan mungkin masa depan anakmu." Ucapku."Aku tidak akan membicarakan hal ini pada siapapun di sekolah, atau tetangga, aku juga tidak akan mengatakan hal ini ke Orang tua kamu. Kamu yang akan mengatakannya sendiri. Entah kamu mau atau tidak, itu pilihanmu." Kataku panjang lebar. Aku memberanikan diri menatap wajah Mai yang masih menangis.

Mai hanya diam. Ia menunduk. Punggungnya yang bergetar menandakan bahwa ia masih menangis. Mungkin dia merasa terkhianati aku mengatakan semua itu. Orang yang dia kira akan membantunya hanyalah seorang siswa kelas tiga SMA biasa yang tidak bisa menganugrahi keajaiban apapun. Atau entah apa yang ia pikirkan.

Aku kembali melihat jam ditangan kiriku dengan gelisah. Pukul enam lebih tiga puluh menit. Sambil mengambil tas yang kuletakan di samping tempatku duduk bersila tadi, aku berkata, "Sorry Mai, aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Tapi menurutku, orang tua kamu, meskipun ayahmu sedikit pemarah. Mereka lebih berhak tahu daripada aku."

Aku memakai tas punggungku. Berbalik. Berjalan beberapa langkah. Membuka kenop pintu kayu reot gubuk tiga kali empat meter ini. Pintu yang sekali lagi mungkin akan merenggangkan tali pertemananku dengan Mai, yang masih meringkuk diatas sofa butut penuh kenangan itu.

"Sorry, aku duluan." Pamitku.

Mai masih menunduk, masih menangis, masih duduk menekuk diatas sofa, dan masih memegang testpen yang mengutuknya. Aku membalikkan tubuhku dan menutup pelan kenop pintu pemisah kami.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Ego 1 (3 years 2 weeks ago)
70

Oh, ISINYA mba..
EH, isinya MBA..
married bye accident, eh salah by accident,
hamil di luar nikah itu tema yang sering dibawa penulis kebanyakan.
boleh saja tapi kurang beda..

Writer hara
hara at Ego 1 (7 years 45 weeks ago)
80

Ceritanya keren! Apalagi di bagian kalimat ketika si cowok marah. Kelanjutannya di tunggu..!

Writer bluntz
bluntz at Ego 1 (7 years 46 weeks ago)
60

Ahaha.. makasih bro..

Writer Foo
Foo at Ego 1 (7 years 46 weeks ago)
80

Keren! Alur ceritanya dapat banget! Walau sebenarnya kejadian2 anak sma hamil itu sudah mainstrim, tapi, kamu bisa membuatnya jadi tidak mainstrim! Kamu juga sedikit cerdik untuk buat cerita ini jadi cerita bersambung! Yg jelas ditunggu kelanjutannya...!