Hujan Ulat Bulu

Hari ini hujan ulat bulu. Seperti kemarin, hujan turun pukul dua belas siang dan berhenti tepat pukul satu siang. Langit Orfen kembali cerah seperti musim panas yang biasa terjadi, meninggalkan ulat-ulat bulu yang menggeliat, tersesat di jalanan Desa Alcauld.

Saat ini pukul tiga sore, dari jendela ruang kerjanya di lantai dua, Hilda sedang memandang ke luar jendela. Di bawah sana ada pantai kecil yang hanya bisa dimasuki melalui pintu samping puri panti asuhan. Sekalipun sejak kemarin hujan aneh turun dari langit, namun ombak tetap bergulung-gulung seperti hari-hari biasa.

Seorang bocah berenang dengan alaminya sehingga tampaknya dia menyatu dengan gulungan ombak, ia seperti papan liar yang terlepas dari badan kapal kemudian terbawa arus sampai ke bibir pantai. Setelah mendarat, bocah itu bangkit dengan wajah puas, rambutnya basah dan kulitnya mencoklat, Wes kembali lagi ke tengah perairan untuk menjadi papan liar yang hanyut ke tepi pantai.

Hilda tersenyum melihat anak asuhnya bergembira, wanita itu melepaskan kacamatanya yang ramping lalu membersihkan kacanya dengan sehelai kain putih.

Terdengar bunyi bip, disusul suara seorang wanita dari gelang yang terpasang di tangan kanan Hilda.

“Hilda, ada pasukan di pintu gerbang.”

Hilda menghela nafas dan menjawab, “aku akan segera ke sana.”

Wanita itu mengenakan kembali kacamata rampingnya melindungi bola matanya yang sebiru samudera. Hilda melangkah keluar kantor dan menuruni tangga spiral kayu ke lantai bawah, lalu melewati ruang duduk dimana Mandy dan saudari-saudarinya sedang nonton acara konser musik di televisi hologram.

Pintu depan puri itu bukanlah dua daun pintu megah, hanya pintu kayu biasa dengan gagang besi yang dicat hitam. Beberapa bulan lalu kerusakan gagang pintunya sudah cukup mengesalkan sehingga dia meminta Tuan Henry untuk menggantinya dengan yang baru.

Melewati pintu depan, agak jauh di sana ada pintu gerbang panti asuhan berupa dua buah jeruji besi setinggi dua meter berwarna hitam yang mengisi jeda di antara pagar dinding batu. Seorang wanita gemuk, usianya nyaris lima puluh tahun berdiri menjaga pintu gerbang, di tangannya ada sebatang sapu lidi dengan dua ekor ulat bulu tersangkut di sela-sela lidi. Dibalik gerbang itu berdiri dua orang tentara berseragam hitam dengan senapan laras panjang terselempang di punggung mereka.

“Kami yakin dua anak nakal ini berasal dari panti asuhan, Dokter la Vida?” tanya dua orang tentara itu dengan wajah datar.

Hilda menurunkan pandangannya dan menemukan dua orang bocah, yang satu bertubuh gemuk—tapi tidak sampai obesitas—sedangkan yang lainnya kurus dengan warna mata hijau. Dimitar dan Strego, mengherankan mereka yang dibawa pulang oleh dua orang tentara PUDF karena mereka bukan jenis anak yang biasa membuat masalah.

“Ada apa dengan mereka berdua?”

“Mereka mencoba masuk ke pedalaman Gunung Dimsel,” jawab salah seorang tentara PUDF.

“Oh,” Hilda tertegun sejenak, “aku mengerti. Terima kasih telah membawa mereka pulang.”

Kedua prajurit itu menggesekkan sol sepatu militer mereka saat meninggalkan panti asuhan, ada ulat bulu yang gepeng menempel di sana. Hilda menggandeng Dimitar dan Strego dengan kedua tangannya, kembali ke dalam puri panti asuhan.

“Apa yang kalian lakukan di Gunung Dimsel? Kalian tahu itu area berbahaya yang tidak boleh dilewati siapapun,” tanya Hilda dengan lembut sehingga anak-anak itu tidak merasa keberatan untuk menjelaskan.

“Dimitar ingin melihat bintang di langit timur, kami tidak bisa melihat langit timur karena tertutup bayangan Gunung Dimsel,” jelas Strego, sekaligus menjelaskan kenapa mereka berdua membawa ransel yang penuh, Hilda menduga isinya adalah persediaan makanan dan minuman.

“Berani sekali kalian,” puji Hilda dengan tulus, sedikit meledek, “tidak takut binatang buas datang untuk menculik kalian?”

“Wes pernah membunuh bugbear dengan batu, binatang buas bisa dilawan, Hilda!” kata Dimitar.

“Iya, kita bawa ketapel untuk melawan binatang buas yang akan menyerang kita!” dukung Strego dengan bersemangat, seuntai ketapel kayu terkalung di lehernya.

Sekarang mereka sudah di dalam puri, Hilda membawa mereka ke tempat dimana mereka bertiga bisa duduk di atas karpet yang empuk di tepi perapian yang padam. “Wes berbeda dengan kalian, keadaan akan lain bila kalian yang berhadapan dengan bugbear.”

“Kenapa Wes berbeda?” tanya Strego.

“Karena dia jauh lebih kuat daripada kalian, kalian pernah bermain dengannya, bukan?” tanya Hilda.

Dimitar tidak pernah lupa bagaimana Wes selalu melakukan hal-hal yang di luar kewajaran. Pernah mereka main bola kasti di lapangan di desa Alcauld melawan Tom dan teman-temannya, Wes memukul bola sampai hilang di langit. Setiap kali bermain bola, dia maunya dipasang menjadi penjaga gawang dan tidak ada satupun tendangan lawan yang tidak bisa ditangkapnya.

“Hilda, apa Wes seorang android?” bisik Dimitar hati-hati. Seingatnya, android memiliki kekuatan yang lebih besar daripada manusia biasa. Mereka melakukan pekerjaan kasar sekaligus berbahaya yang dahulu dilakukan oleh pekerja tambang atau buruh bangunan dan kadang ada android yang dimanfaatkan sebagai pengasuh anak-anak.

Hilda tertawa sesaat, “kalian pernah melihatnya berdarah, kan? Android tidak punya darah. Nah, sekarang jelaskan padaku, kenapa kalian ingin melihat bintang di langit timur?”

Strego tentu saja tidak tahu alasannya, karena ini bukan idenya. Dimitar yang sering diolok-olok oleh teman sebayanya butuh sedikit waktu untuk memutuskan apakah Hilda akan percaya pada ucapannya atau tidak.

“Hilda, aku …” Dimitar membuka mulutnya sedikit, “… aku ingin mendengar apa kata Bintang Serrah.”

Tentu saja ini pertama kalinya Dokter Hilda la Vida mendengar nama itu. Hidupnya di dunia sudah berlalu empat puluh tiga tahun, dan dia bukanlah seorang yang tidak berpengetahuan. Dia tahu beberapa rasi bintang dan mengikuti perkembangan astronomi sebagai hobi, namun mengenai Bintang Serrah, itu adalah sesuatu yang benar-benar asing.

“Apa itu Bintang Serrah?”

“Itu adalah bintang yang menyimpan rahasia waktu. Aku bisa mendengar ucapan Bintang Serrah bila melihat kilau cahayanya, tapi Gunung Dimsel menutupi cahaya Bintang Serrah, maka aku harus berkemah di sana menunggu malam,” jelas Dimitar.

Strego menambahkan, “Hilda, aku juga ingin dengar apa yang dikatakan Bintang Serrah, tentara PUDF itu pasti tidak akan menangkap kami bila kau ikut.”

“Hmm …” Hilda memutar biji matanya, “kau yakin ada Bintang Serrah di langit timur, Dimitar?”

Bocah itu mengangguk dengan sangat yakin.

“Baiklah, tapi aku tidak akan membawa kalian ke Gunung Dimsel, tempat itu tetap berbahaya sekalipun ada aku bersama kalian. Aku akan membawa kalian ke gunung di belakang puri, dari sana kita tetap bisa melihat langit timur. Bagaimana?”

Gunung di belakang puri panti asuhan sebenarnya masih bagian dari Gunung Dimsel juga, tapi Dimitar tidak pernah ke sana karena pemandangannya membosankan. Tapi bila itu satu-satunya tempat yang bisa dia datangi untuk melihat Bintang Serrah, kenapa tidak?

“Baiklah.”

“Yey!! Kita akan melihat Bintang Serrah!” Dimitar dan Strego mengepalkan tangan dengan antusias.

“Hari ini hari rabu, besok kalian masih harus bersekolah. Kau bisa menunggu sampai hari jumat sore, kan, Dimitar?”

“Bisa!”

“Sekarang kerjakan pr dulu, kalau tidak ada, bantulah Pak Henry membersihkan kebun dari ulat-ulat bulu.”

“Baik, Hilda!” Strego dan Dimitar berlarian ke belakang puri untuk membantu Pak Henry membersihkan ulat-ulat bulu yang tersesat di kebun belakang.

Read previous post:  
9
points
(1367 words) posted by Balter 6 years 50 weeks ago
45
Tags: Cerita | Novel | lain - lain
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer citapraaa
citapraaa at Hujan Ulat Bulu (6 years 48 weeks ago)
100

seru.. bagus... gayanya. rapi x____x

Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at Hujan Ulat Bulu (6 years 49 weeks ago)
90

Membayangkannya saja aku langsung gatal-gatal. Haha tp keren
Fantasi dunia modern sepertinya. Penasaran dgn si Wes itu.

Writer sumihardeny
sumihardeny at Hujan Ulat Bulu (6 years 49 weeks ago)

judulnya itu lho