Gara-gara Gak Dibukain Pintu

Saat aku berhasil masuk ke rumah, aku langsung melempar tas sekolahku ke sofa di ruang keluarga. Masih dengan emosi yang sama, aku membuka pintu kamar bunda yang langsung memperlihatkan Bunda yang sedang tertidur. Tanpa merasa bersalah aku langsung membangunkan Bunda dan mengomeli kecerobohannya.

"Bunda! Udah tau aku gak punya kunci, pintu rumah pake segala dikunci lagi!" Teriakku memaki Bunda.

Kulihat wajah terkejut Bunda saat mendapati aku yang baru saja pulang dan malah memaki-makinya. Nuraniku seakan hilang ditelan emosi.

"Loh loh, baru pulang bukannya bilang salam malah marah-marah. Kamu masuk darimana?" Kata Bunda penuh kesabaran, seakan tidak menyadari nada suaraku yang ketus dan penuh emosi.

"Ya dari atap lah! Gara-gara Bunda aku jadi malu karena harus mohon-mohon sama Bu Imas supaya dibolehin masuk ke rumah lewat beranda rumahnya!"

Disaat aku semakin emosi, Bunda malah terlihat tenang dan bahkan masih bisa memamerkan senyumannya yang sehangat mentari. Aku tahu sebenarnya Bunda pasti merasa sedih dan kesal kepadaku. Tapi yang aku herankan adalah kesabaran Bunda yang seakan tiada batas dalam menghadapiku.

"Maafkan Bunda ya Fia, Bunda tadi ketiduran. Bunda kira kamu mau langsung pergi ke tempat les." Kata Bunda penuh penyesalan.

"Bodo ah! Bilang aja Bunda udah gak sayang lagi sama aku!" Teriakku keras sambil membanting pintu kamar Bunda.

Segera setelah itu aku masuk ke kamarku. Ku kunci pintu kamar dan ku bantingkan tubuh ini ke kasurku. Aku masih saja menggerutu sambil memainkan "BlackBerry"ku.

Tanpa aku sadari, aku pun menangis karena terlalu kesal pada keteledoran Bunda. Sambil menangis aku mengingat-ingat lagi kata-kataku yang tadi sempat aku lontarkan kepada Bunda. Barulah aku sadari betapa durhakanya aku kepada Bunda. Bukan hanya membentak Bunda, tapi aku juga telah membangunkan Bunda dengan kasar. Aku tahu Bunda pasti sedih dan kecewa saat mendengar kata-kataku. Dan mungkin saja saat ini Bunda sedang menangis di dalam kamarnya.

Membayangkan hal itu, membuatku semakin merasa bersalah. Mengapa sejak tadi aku lebih mementingkan emosi daripada nurani? Ughh.. Betapa bodohnya aku. Aku bahkan tidak menyadari tangan Bunda yang bergemetar saat mendengar kata-kataku tadi.

Ingin rasanya aku meminta maaf kepada Bunda. Dan setelah itu aku langsung berlari ke kamar bunda. Begitu sampai di depan pintu kamar bunda, aku tidak langsung membuka atau mengetuknya. Tapi aku malah berpikir dan merenung sejenak. Apakah Bunda mau memaafkanku setelah kata-kata kasarku tadi? Aku takut Bunda malah memarahiku dan aku tidak diampuninya.

Aku merasa putus asa. Tapi, aku belum mencobanya dan aku harus berusaha membuat Bunda mau memaafkanku. Dengan jantung berdebar-debar, aku membuka pintu kamar Bunda dengan perlahan. Dan betapa terkejutnya aku begitu melihat Bunda sedang menangis di sisi kanan ranjang.

Aku memperhatikan wajahnya yang mulai berkeriput itu sedang dialiri air mata kesedihan. Melihatnya saja membuatku kembali menangis. Dan dengan penuh rasa percaya diri, akhirnya aku melangkahkan kakiku mendekati Bunda.

"Bunda.." Panggilku pelan.

Bunda langsung menoleh saat mendengar suaraku yang memanggilnya tadi. Terlihatlah matanya yang memerah. Tangisku pun semakin deras.

"Bunda.." Panggilku lagi sambil menahan sesenggukan.

Bunda pun merentangkan tangannya. Seakan-akan ia memintaku untuk mendekatinya dan memeluknya. Dan dengan satu hentakan aku menerjang Bunda dengan pelukanku.

"BUNDA!!!" Tangisku pun pecah di dalam pelukan Bunda.

Tidak perlu mengucapkan kata "maaf", tapi aku yakin Bunda sudah tahu bahwa aku merasa bersalah dan ingin meminta maaf. Bunda.. Sungguh, aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hasrinrn
hasrinrn at Gara-gara Gak Dibukain Pintu (7 years 45 weeks ago)

nice ^^

Writer brodenmbois
brodenmbois at Gara-gara Gak Dibukain Pintu (7 years 45 weeks ago)

jadi sedih sering bikin bunda mengangis

Writer esbee
esbee at Gara-gara Gak Dibukain Pintu (7 years 45 weeks ago)
70

cerita yang mengharukan

80

penyesalan emang datengnya belakangan. Gw juga pernah kayak gitu, gw ngimelin bokap gara2 motor gw ilang pas gw lagi tugas di luar kota, ujungn2nya sama sih, minta maaf juga

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Gara-gara Gak Dibukain Pintu (7 years 45 weeks ago)
70

Ini cukup baik untuk menyadarkan pembaca kepada ibunya.
.
Ada beberapa hal yang mau saya komentari:
.
1. "Masih dengan emosi yang sama, aku membuka pintu kamar ...." di awal saya agak bingung dengan kata "emosi" di sini. Emosi yang seperti apa? Dan kalimat-kalimat sebelumnya tidak menggambarkan emosi yang mendukung. Saya baru menangkap emosi yang dimaksud saat muncul kata "mengomeli". (PS: emosi tidak sama dengan marah karena marah adalah bagian dari emosi)
.
2. "Ku kunci" dan "ku bantingkan" seharusnya disambung menjadi kukunci, kubantingkan
.
3. "BlackBerry"ku mungkin seharusnya ditulis: blackberry-ku dengan kata "blackberry" yang ditulis miring.

Writer persada
persada at Gara-gara Gak Dibukain Pintu (7 years 45 weeks ago)

Nah emang sudah sepantasnya seorang anak yang berbuat kesalahan harus meminta maaf kepada orang tuanya, kalau orang tuanya yang salah belum tentu kesalahan itu dibuatnya, spa tahu karena ingin mendidik anaknya untuk disiplin

Ranjang RS Murah | Loket Pospay Online

Writer el_Muhammad
el_Muhammad at Gara-gara Gak Dibukain Pintu (7 years 45 weeks ago)
70

keren kak ceritanya.. salam dari saya yang pemula