Pakaian Pesta

“Nadia?”

“...”

“Sayang?”

“Berisik.”

“Ada apa, sih?”

“...pikir sendiri.”

Kepala lelaki itu diteleng lelah, menghadap kepada si cantik yang merengut keras kepala tak mau menatapnya balik. Perlu waktu nyaris setahun hingga ia cukup maklum bahwa beginilah memang watak si gadis—manja, selalu ingin dimenangkan, tak pernah mau bicara lugas seolah ia paranormal yang bisa menebak masa depan dengan satu dek kartu. Dan wataknya sendiri, kalau mau dituruti, bisa jadi tak kala`h keras kepala bahkan bebal, tapi tidak kali ini.

Ia hanya ingin pertengkaran konyol ini segera usai dan mereka bisa kembali ke dalam. “Apa karena aku terlambat datang tadi?”

“...yeah, itu juga menyebalkan. Tapi masih ada yang lebih fatal,” si gadis melirik dengan pandangan sedingin es. “Jadi kamu nggak sadar apa kesalahanmu?”

Gibran menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Aku nggak bisa baca pikiran, maaf deh. “Aku nggak tahu.”

“Coba ngaca, kamu pakai baju apa itu?”

“Ini? Sekarang?” Gibran menundukkan kepala lalu melebarkan tangan ke dua sisi badan. Tampangnya nampak sebingung kucing nyasar. “Kamu marah karena aku pakai baju ini?”

Si gadis buang muka lagi. Mendengus.

“Benar ini masalahnya? Baju ini?” pemuda berdarah Betawi itu merenggut ujung baju koko yang dikenakannya. “Salah?”

“Ini pesta ulang tahun, Gibran! Di restoran mewah!”

“Lantas?”

“Baju koko!”

“...?”

Ini hanya satu dari sekian pertengkaran. Sembilan bulan berpacaran. Sudah waktunya melahirkan bayi yang barangkali bernama pengertian, atau lebih klise lagi—keterbiasaan. Tapi tidak. Mereka masih perlu memisahkan diri dari kawan-kawan untuk bertengkar di halaman belakang restoran.

Bau rumput menguar. Bulannya sabit. Jengkerik bernyanyi. Mereka saling tatap.

Dingin.

Sementara di dalam, orang-orang sibuk menyantap hidangan.

------

 

Sebenarnya sejak pertama kali mereka bertemu, Nadia sudah tahu bahwa lelaki ikal itu agak-agak norak. Boleh saja kau mengaguminya; postur yang tegap juga tinggi, rahang yang kokoh, bahu bidang serta senyum yang begitu tampan. Semilir baritonnya itu selalu dilengkapi intonasi yang lembut, pula tutur katanya, terjaga. Jika berkesempatan mengobrol langsung dengannya maka akan kau hadapi dua pasang mata cokelat terang yang memandangimu seolah ceritamulah satu-satunya yang menarik di dunia. Tulus.

Hal-hal tersebut masih ditambah lagi dengan kecerdasan, kejenakaan, serta rajinnya menunaikan ibadah shalat—sesungguhnya Nadia adalah perempuan yang beruntung.

Tetapi cobalah habiskan satu hari dimana Gibran sepenuhnya menjadi Gibran dan akan kautemui alasan untuk menyebutnya norak. Lelaki itu ternyata punya segudang takhayul, pamali—apapun namanya—yang tanpa malu-malu ia bagikan kepada sekitarnya seperti kucing berbagi kutu.

“Jangan duduk di depan pintu, nanti nggak ada yang mau melamar.”

Itu yang pertama. Polah si ikal itu santai saat berucap, namun sesuatu di wajahnya memberitahumu bahwa ia tidak bercanda. Nadia membalasnya tak kalah santai, berargumen bahwa jika pamali itu benar, semua gadis yang pernah naik mobil takkan pernah dilamar. Gibran mematahkan itu dengan bersabda bahwa sesungguhnya ketika naik mobil orang akan duduk di samping pintu, bukan di depannya.

“Kalau menyapu harus bersih, nanti pacarnya berewokan.”

Yang kedua. Dan yang ini mudah, Nadia tinggal menunjuk muka si lelaki yang memang ditumbuhi bayang-bayang tipis sepanjang rahang lalu bergumam, aku sudah dapat hukumanku. Sarkastis. Praktis, membuat pacarnya itu tergagu lalu bercukur sampai licin setibanya di rumah.

“Jangan tidur di tempat terbuka, nanti ketiban kapak.”

...

...

Lalu malam ini, di dalam sana, pesta ulang tahun seorang teman digelar ala eropa. Yang datang semuanya anak orang berduit dengan gaya selangit. Segalanya formal; mengunyah pun perlu hati-hati, dan kalau garpumu sampai berbunyi denting saat beradu dengan piring, orang akan menatapmu seolah kau pantas bunuh diri. Para gadis bersolek dengan gaun malam mereka. Para pria minimal mengenakan kemeja serta dasi. Sedangkan Gibran—

“Ini juga pakaian formal,” lelaki itu berujar sabar. Nadanya seperti sedang mengajari satu tambah satu sama dengan dua. “Hanya saja asalnya beda. Ini pakaian formal Betawi, kamu tahu?”

“Ini bukan acara makan malam Betawi.”

“Tidak relevan. Ini tetap pakaian formal.”

“Bilang aja kamu nggak suka acara-acara begini!”

“Memang lebih seru nonton tanjidor.”

“Ini bukan tanjidor!”

“Lagi, tidak relevan.”

Wajah Nadia terbenam di dalam kedua tangan.

“Sudahlah Sayang, masuk lagi yuk. Anginnya dingin di sini,” bujuk Gibran.

“Nggak mau!”

“Kenapa?” mata Gibran menyorot lurus ke wajah gadisnya. “Malu bawa-bawa aku?”

Nah, ini jebakan batman si kampret hitam. Jujur saja, memang itu alasannya. Malu berat. Teman-temannya sih tidak akan mengejek terang-terangan, tapi Nadia tahu mereka pasti membicarakan Gibran di belakang punggung mereka berdua. Tapi masa iya dia harus terang-terangan bilang malu pada pacarnya itu?

Kesannya tidak tahu diri sekali.

Nadia tak lantas menjawab. Mencoba rela, tahu tidak ada yang benar-benar bisa diperbuat selain masuk lagi ke dalam. Ia putuskan untuk mengalah saja. Dihelanya napas lalu ia mendekat selangkah, tangannya meraih milik si Betawi ikal. Tak apalah baju koko, toh isinya tampan. Bayangkan Eric Bana jadi mualaf.

“Sudah marahnya?” si lelaki menyambut tangannya.

Ia mengangguk, pasrah.

Berbalas senyum.

“Habis makanan penutup, kita pulang?”

“`Kan masih ada acara setelahnya?”

Alis tebal si lelaki bertaut. Yang ini ia baru dengar. “Acara apa?”

Free flow? Minuman dibagikan.”—dan pesta yang sesungguhnya baru dimulai.

“Nggak,” tukas si lelaki cepat. Genggamannya mengerat. “Kamu pulang denganku setelah hidangan penutup.”

“Aku pulang dengan Tia kalau kamu buru-buru.”

“Nggak.”

“Aku sudah janji menyicip salah satu wine, sengaja dibawakan Andrew.”

“Satu gelas. Lalu pulang. Denganku.”

Itu tegas, tidak bisa ditawar.

Mereka berpandangan. Bahkan gadis keras kepala itu tidak sebegitu berani melawan kali ini. Genggaman yang begitu kuat di tangannya. Intonasi bicara. Ekspresi wajah yang kaku. Semua tanda bahwa kalau sembarangan melawan, ia bisa pulang patah hati.

“Kenapa tidak boleh?” tanyanya lirih seperti anak kecil yang membujuk agar dibelikan mainan. Kenapa mendadak galak?

“Tidak boleh pulang malam.”

“Kan aman? Dengan Tia.”

“Tidak boleh pulang malam,” si lelaki mengulangi, persisten.

“Tapi kenapa?” aku bukan anak kecil umur lima tahun lagi.

Kedua manik cokelat terang itu mendekat. Ada sinar jenaka di sana, beradu dengan yang bingung miliknya, menatapnya. Dirasainya pipi kanan diambil oleh tangan si ikal yang entah bagaimana kasar namun juga lembut, dingin terkena angin malam. Ia nyaris sesak napas saat pandangannya hilang fokus akibat jarak mereka yang terlalu dekat. Lalu pada saat ia kira hal itu akan terjadi, Gibran membuka mulut—

“Kalau pulang malam nanti dicegat macan.”

“DEMI TUHAN, GIBRAN, SERIUS DEH!”

Tangannya melepas genggaman lalu mendorong kuat tubuh si lelaki, namun karena kalah tegap justru tubuhnya sendiri yang melenting ke belakang. Beruntung pacarnya itu cepat tanggap, buru-buru meraihnya dalam rangkulan, terkekeh puas.

Dua pegawai restoran menonton drama ini dari jauh.

Pipinya panas. Tak tahu harus marah atau malu, dan sialannya, ia betah berlama-lama dalam rangkulan begini.

“Tapi aku serius. Lebih baik jangan pulang malam.”

“...kenapa.”

Suaranya tak jelas di dalam bahu Gibran.

“...”

“Kenapa?” kepalanya diangkat. Kalau tidak ada jawaban, hak sepatunya bakal membuat sesuatu bocor.

“...Aku mau minta sama ayahmu.”

“Hng?”

“...izin.”

Sepatunya sedikit ambles ke tanah saat ia menjejak mundur. Ia bisa melihat kegugupan di wajah pacarnya itu, dan meski telah berusaha menahan diri, tetap saja hatinya dipenuhi harap. Ia belum pernah melihat ekspresi gamang seperti itu di mata Gibran. Entah mengapa justru yang begini membuat lututnya bergetar.

“Apa?”

“...”

“Sayang?”

“Izin—” lucu melihat pria segagah itu mencicit. “—untuk mengawini putrinya.”

Coba katakan pria manis ini norak kalau bisa.

Siapapun, tolong katakan ini norak. Lalu katakan bulannya tidak indah. Katakan malam ini tidak indah, suruh para jengkerik itu berhenti bernyanyi.

Kalau bisa.

“Hng—“ kenapa matanya malah basah. Yang norak siapa. Antara terpaku di lantai dan melambung sampai ke bulan, dia tidak mampu berkata apa-apa. Tangannya tertangkup menutupi mulut. Napasnya menderu. Ia tertunduk. Dan sekali lagi tangan pacarnya itu terulur, kali ini masuk ke sela-sela garis rambut, terasa lebih dingin dari sebelumnya.

“Jadi, Nadia—” berani sumpah lelaki itu pun terisak. Wajar. Berubah gagu sekalipun masih wajar.

“—Will you go home with me?”

Nadia bersuara, entah derai tawa atau tangis, tak jelas lagi.

Dua pegawai restoran yang menonton itu ikut menangis di balik jendela, terlalu perasa.

Butuh beberapa jenak untuk menguasai diri. Ketika meraih tengkuk si ikal, Nadia sadar tangannya pun bernasib sama; dingin, bahkan gemetar tak terkendali. Dan ketika membalas sepasang pijar cokelat muda yang berair itu, tatapannya sama basahnya.

Ia mengangguk.

“Aku memang takut macan,” lirih.

Ganti si lelaki yang tertawa-menangis, lalu memeluk gadisnya erat seperti orang sekarat berpegangan pada sisa nyawa. Begitu saja. Tidak ada cincin—bukan adatnya, sebab dia Betawi, bukan bule—tetapi sesungguhnya mereka memang tidak memerlukan apa-apa untuk saling memiliki. Begini saja cukup.

Siapapun yang berani mengatakan ini norak akan bocor di bagian belakang kepala.

“Semoga ayahmu bilang iya.”

“Semoga,” Nadia tersenyum melepas pelukan lalu mundur selangkah, mengamat-amati. “Pantas kamu rapi begini. Cukur berewok, potong rambut...”

Pandangannya jatuh ke bordiran di dada, kain putih. Katun. Pakaian itu.

Pakaian formal adat Betawi.

Gibran terkekeh.

“—ha,” paham dia sekarang.

Sepertinya ia harus siap-siap kebanjiran roti buaya.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Saraldin
Saraldin at Pakaian Pesta (6 years 10 weeks ago)
80

Referensi romance yang bagus: get //wat
Sebenarnya seberapa deket para pegawai sampe ikutan nangis?

*psst* norak kamu Gib

Writer etikawdywt
etikawdywt at Pakaian Pesta (6 years 23 weeks ago)
90

Baca ini seakan makan gulali, kayak ada manis-manisnya gitu wkwk astaga aku jatuh cinta sama Gibran, titip salam boleh? :v
Kak azkashabrina, tulisannya selalu ngalir kayak biasanya, gatau apa lagi yang harus dikritik, mungkin aku juga sepemikiran sama sekar, taat ibadah tapi percaya pamali, agak rancu di sini.

Writer Zarra14
Zarra14 at Pakaian Pesta (6 years 37 weeks ago)
100

Terlalu manis T^T tapi suka banget. Pilihan katanya bagus, enak dibaca, bikin pembacanya (saya paling engga) terhanyut. Belum nemu yang bisa dikritik hehe. Bagus banget. Ditunggu cerita lainnya :)

Writer azkashabrina
azkashabrina at Pakaian Pesta (6 years 37 weeks ago)

Iya, setuju. Manis banget dan cenderung keju. Hehe terima kasih udah mampir :D

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Pakaian Pesta (6 years 37 weeks ago)
100

SUMPAH!! GILA!! INI KEREN!!! Kyaaaa!!
Apa-apaan cerita ini, bikin aku tersenyum-seyum sampai akhir. Idihhh... iri deh sama dialognya XD
.
Kak, ajarin saya dong. Kakak baca buku apa aja? Sebelum nulis nyari ide di mana? Apa yang kakak lakukan untuk menemukan dialog se-epic itu?
.
Nyahahaha, saya suka banget. Tingkah polos cowoknya, kesadisan (yang masih dalam batas wajar) ceweknya, ah pokoknya. SUKA SEMUA DEH!!!
.
Duh.... Kak, saya bisa kena serangan jantung nih saking bagusnya. Wakakaka :D
.
Terima kasih udah memposting cerita sebagus ini.
Terus berkarya ya Kak (y)
Ah... numpang fans dulu~~

Writer azkashabrina
azkashabrina at Pakaian Pesta (6 years 37 weeks ago)

Thiyaaaaa, hahaha. Makasih :)) Seneng lah kalo kamu suka. Hmm... saya waktu itu nulis ini gara-gara kena challenge buat nulis sesuatu berbau Betawi. Ya udah saya baca deh semua hal tentang Betawi, dan tertarik sama mitos-mitos anehnya. Terus kepikiran aja, gimana rasanya ya punya pacar ganteng, keren, baik, tapi ada bau-bau norak mitos. Malu apa gimana, ya? Dan sebenarnya, ending soal dilamar dan alasan pakai baju koko itu baru ketemu di tengah-tengah menulis. Sama sekali nggak direncanain, hehe.
.
Makasih juga komennya, Thiyaa. Semangat!

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Pakaian Pesta (6 years 37 weeks ago)
2550

Wah wah, asik bacanya. Narasinya oke, dialognya natural, konfliknya sederhana tapi packagingnya sip, plus ada mini-twist di akhir. Suka :D
Lebih suka Tikungan tapi, hehe. Dialognya Tikungan witty parah dan enggak cheesy, plus bener2 ngerefleksiin karakter2nya dengan asik. Ajarin dong bikin dialog kek gitu ^^v

Writer azkashabrina
azkashabrina at Pakaian Pesta (6 years 37 weeks ago)

Hehehe, iya yang ini udah pas di garis ke-cheesy-an (?). Ngg saya ga tau sih gimana caranya kalo disuruh ngajarin, soalnya kayaknya dialog kayak gitu ada influence dari sitkom. Saya doyan banget nonton sitkom macem-macem soalnya.

Writer ilham damanik
ilham damanik at Pakaian Pesta (6 years 38 weeks ago)
100

Sukses ya

Writer Shinichi
Shinichi at Pakaian Pesta (6 years 38 weeks ago)
90

Asyik banget ngikuti gaya narasinya. Rasa-rasanya boleh dicoba dengan menulis ala begitu. Ahak hak hak. Saya ngefans ah. Ajarin dong :D Untuk ceritanya, saya nggak bisa berkomentar banyak karena menurut saya, dan ini jarang kejadian, begitu ceritanya asyik, palingan saya cuman bisa cuap-cuap doang menyampaikan betapa saya menyukai tulisan tsb. Pakaian Pesta, keren judulnya. Saya baca cerpen Tikungan dulu baru ini. Dan sedikit saya menangkap "karakter" narator cenderung terlalu jenaka. Konsisten siy dari awal sampai akhir. Di dua cerpen kamu itu juga. Itu hal bagus. Artinya, penulis punya gaya yang ia "terus" pedomani ketika menulis. Ini kocak kan? Ya, saya membacanya juga lucu. Seperti Tikungan. Hanya saja, untuk tag drama itu saya belum bisa menikmatinya sebagai itu, ketika usai membaca ini, saya pikir kocak rasanya nggak tepat. Kesan itu harusnya nggak ada untuk tema begini. Kurang bisa menikmati saya secara pribadi. Namun, ya asyik. Gaya narasimu sudah matang, tengoklah prologmu, sudah langsung begitu bagus mengawali konflik. Namun, sekali lagi, saya yakin ini cuma masalah selera.
.
Anyway: semoga saya nggak mempermalukan diri saya sendiri dengan berkomentar begini. Mohon maaf jika ada salah kata. Kip nulis dan kalakupand. Ahak hak hak.

Writer azkashabrina
azkashabrina at Pakaian Pesta (6 years 38 weeks ago)

Bang, saya mah apa atuh. Belum sampe lah rasanya ke level ngajarin orang. Syukurlah kalau yang baca suka. Dan iya sebetulnya kelucuan itu timbul gara-gara saya ngeri ceritanya terlalu cheesy, soalnya ini romans dan kalo menurut saya inti ceritanya manis banget. Jadi muncullah kejenakaan si narator yang sebetulnya wujud ketidaknyamanan saya sendiri sama cerita yang kelewat romantis.
.
Komentarnya menyegarkan, kok. Heheh.

Writer benmi
benmi at Pakaian Pesta (6 years 39 weeks ago)
100

Keren... hahhahha... speechless.. ga tau mau koment apa.. bhsnya ngalir.. hahahha...

Writer azkashabrina
azkashabrina at Pakaian Pesta (6 years 38 weeks ago)

aw, makasih! Dan makasih juga udah mampir :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Pakaian Pesta (6 years 46 weeks ago)
2550

mampir ke sini karena ada yang ngerekomendasiin #lirikbawah
dan ternyataaa emang bener bikin geregetan bacanya huhuhu, kocak banget.
ada beberapa ungkapan dan pamali yang menarik buat dicatat (beneran saya catat di kertas, buat belajar bikin yang nendang juga XD).
bagian sahut2an antara Nadia dan Gibran itu juga menarik.
plotnya oke. dibuka dengan "keanehan" Gibran yang memakai baju koko di restoran mewah bergaya Eropa, dan diakhiri dengan jawaban akan maksudnya itu yang ternyata buat sekalian lamaran pulangnya: mbulet.
dan di bagian klimaks, selipan berupa adegan dua pegawai restoran yang ikut menangis itu entah kenapa rasanya bikin tambah semarak X9
tapi ada yang ngeganjel nih. ketika narator ber"kau2" ria (dan mungkin ada juga dari selainnya, semisal dialog), ada nuansa yang berasa terjemahan karya asing, kurang natural, jeglek dengan konten "kearifan lokal" (kalau boleh disebut begitu) Betawi yang padahal jadi bahan utama dl cerita ini--seperti lingkaran2 minyak di permukaan kuah soto (aduh, perumpamaan saya mungkin ga senyentak dirimu, heuheu :-/).
tapi biarpun ada nuansa yang kurang nyampur gitu, kalau ingat benturan budaya sbg ditampilkan cerita ini (pakai baju koko di restoran Eropa) sepertinya bisa dipahami betapa dl kepala kita antara yang asing dan tradisional itu bercampur-aduk dan
belum bersintesis secara utuh #korbanglobalisasi #ngomongapasih
mau nambahin juga komentar sekar tentang orang yang taat beribadah, kenapa "pacaran"nya ga "taaruf"an sekalian, wehehehe.
terima kasih ya sudah membikin cerpen ini dan mohon maaf kalau ada yang bikin ga berkenan.
coba posting lebih banyak lagi. atau kalau boleh, apa ada media lain tempat bisa membaca karya2mu? :D

Writer azkashabrina
azkashabrina at Pakaian Pesta (6 years 39 weeks ago)

Wah, terima kasih. Pertama kalinya nih dapet komen panjang begini. Dan syukurlah kalau suka. Kritiknya ditampung dengan senang hati hehehe :D Apalagi soal 'kau-kau-ria' itu memang juga dibahas sama beberapa orang kawan saya. Terima kasih.

Dan, anu. Saya tipe yang baru nulis kalo dikasih tantangan atau ada temen sparing. Ini juga dari kesepakatan sama teman untuk sama2 nulis dengan syarat harus ada bau Betawi. Punya dia lebih bagus, sayang sekali nggak dipublish dimana2.

Salam :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Pakaian Pesta (6 years 39 weeks ago)

oh, gitu. coba ada yang nantangin posting cerpen baru di sini tiap minggu, hehehe.... :)

Writer The Smoker
The Smoker at Pakaian Pesta (6 years 46 weeks ago)
80

hahaha. suka dengan celetukan2 si narator...
nangkep view detail yg biasa, tapi eksekusinya yg tak biasa. narasinya lihai.... #alah...
salam

Writer azkashabrina
azkashabrina at Pakaian Pesta (6 years 39 weeks ago)

Trims! Dan, trims lagi, udah promosiin /lirikatas/ :D

Writer a.
a. at Pakaian Pesta (7 years 5 weeks ago)
80

bahasanya mengalir, tapi di bagian klimaks malah agak membingungkan percakapannya, tidak jelas mana yang sedang berkata. atau mungkin saya yang terlalu cepat membaca haha :)

Writer azkashabrina
azkashabrina at Pakaian Pesta (6 years 39 weeks ago)

Terlalu banyak 'nya-nya-nya', iya. Huhuhu.
Trims!

Writer citapraaa
citapraaa at Pakaian Pesta (7 years 7 weeks ago)
100

ini bagussssssssss

Writer L. Filan
L. Filan at Pakaian Pesta (7 years 8 weeks ago)
70

bahasanya ngalir, enak dibaca

Writer Lilis Try Wahyuni
Lilis Try Wahyuni at Pakaian Pesta (7 years 8 weeks ago)
90

keren abiz, menarik bahasanya mengalir indah, berpadu padan dengan kiasan yang klop bgt. menikmati sekali saat baca cerpen ini. di tunggu lagi karyanya yaa :)

Writer Cherolita
Cherolita at Pakaian Pesta (7 years 8 weeks ago)
50

Bahasanya udah bagus, narasinya menarik.. hmm cuma kurang ngena aja, nggak tahu kenapa wkwkwk :D

Writer agniaryan
agniaryan at Pakaian Pesta (7 years 8 weeks ago)
100

Suka banget. Asli. Bahasanya mengalir bebas hambatan dan tahu-tahu sudah sampai akhir cerita. Ini indah.

Writer Gechil
Gechil at Pakaian Pesta (7 years 8 weeks ago)
100

Keren parah :) Gibran aaaaaaa

Writer esbee
esbee at Pakaian Pesta (7 years 8 weeks ago)
70

penggunaan kiasannya bagus dan tepat menggambarkan suasana romantis, dari sudut pandang budaya termasuk menunjukan eksistensi budaya di Indonesia.

Writer sekar
sekar at Pakaian Pesta (7 years 8 weeks ago)
80

Bahasanya bagus :) tapi biasanya orang yg taat ibadah tidak terlalu percaya pamali yg sifatnya irasional.

Writer azkashabrina
azkashabrina at Pakaian Pesta (6 years 39 weeks ago)

Wah. Trimakasih. Saya baru kepikiran, hahaha :p