Malin

Ialah anakku,
Putera yang kuangkat tinggi-tinggi dengan tanganku,
Mengarungi rerumputan diatas pundakku..
Menunjuk zenit yang kelak akan memisahkannya dariku..
Menatap punggungnya yang berujung pada nadir yang meninggalkanku..

Ia kembali padaku,
Membawa putri dan kapalnya yang tak pernah ada dalam kepalaku,
Meski sering terasa rabun mataku,
Namun tidak kali ini yakinku,

Ialah darah dagingku
Yang sudah bermusim-musim meninggalkanku..
Boleh jadi liarnya adalah nafasku
Seperti liat ototnya yang sekeras didikanku
Jika saja keangkuhannya tak menggurat jantung hatiku
Barangkali ia masih kubelai dari rambut sampai dagu
Seperti saat ini,
Meski ia telah menjadi batu..

Ah Malin, maafkan Ibumu yang telah
mengutukmu menjadi batu

Sidoarjo, 2013
#latepost

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer mylovelyluna
mylovelyluna at Malin (5 years 48 weeks ago)

Terima kasih Lelenska

Salam Pena

Writer Lelenska Lia
Lelenska Lia at Malin (5 years 48 weeks ago)
70

Benda-benda, latar belakang alam, dan tindakan kongkrit yang muncul dalam puisi ini terasa jernih dan berkesan buat saya.
Pengulangan akhiran-kepunyaan -ku sedikit mengusik tetapi pada akhirnya saya menikmati puisi ini secara keseluruhan.
Kata depan "di" pada "diatas" mestinya ditulis terpisah. Kata "Ibumu" pada bait akhir mestinya ditulis dengan huruf kecil saja, karena penulisan Bapak, Ibu, Paman, dan sejenisnya dengan huruf besar awal itu digunakan untuk menyapa.
Saya tidak tahu kalau sudah ada yang menulis puisi tentang Malin Kundang dari sudut pandang sang ibu. Buat saya, ini yang pertama.
Salam kenal dari Lelenska