Kana (Part 1: Selasar)

Kalau sedang tidak ada kerjaan seperti ini, aku lebih senang duduk di selasar A5. Gedung A5 adalah gedung kuliah paling tua yang ada di kampusku. Dan yang disebut selasar oleh penghuni kampusku adalah sebuah ruang semacam teras dengan lebar tak lebih dari setengah meter yang mengelilingi lantai pertama gedung itu.

Ruang sempit tersebut dilengkapi kursi kuliah usang yang sudah tak layak digunakan di kelas, sebab mereka selalu berderit dengan berisiknya setiap kami menggerakkan pantat barang sedikit saja. Namun apabila diletakkan di selasar, kursi usang itu seperti oase. Kami selalu bersaing agar dapat menggunakan kursi-kursi tersebut, yang akan semakin diperebutkan apabila berada dekat colokan listrik. Ditambah dengan fakta bahwa kami bisa mendapatkan sinyal penuh jika menggunakan WiFi kampus di selasar A5. Jadi, ya, kursi kuliah tua dekat dengan colokan listrik di selasar A5 memang segitu berharganya.

Aku punya tempat favorit sendiri di selasar ini. Bagian tersebut tepat berada di tepi jalan dengan pohon besar berbunga kuning berderet di kedua sisinya dari ujung ke ujung. Aku tidak tahu nama pohon itu, tetapi harus kuakui bahwa pohon itu sangat indah. Pada awal musim hujan, kelopak bunganya akan gugur dan memenuhi jalan. Para pekebun kampus kami sengaja tidak menyapu guguran bunga itu, sehingga aku bisa melihatnya selama beberapa saat sebelum terbawa air hujan atau hilang berhamburan karena terinjak-injak.

“Kana!”

Aku menoleh dan mendapati Indi tersenyum lebar sambil berjalan ke arahku. Selasar di bagian yang menghadap ke jalan tidak menyediakan kursi reyot maupun colokan listrik, makanya tidak banyak diminati mahasiswa. Aku tidak punya banyak teman dekat di kampus, sehingga Indi merupakan satu dari segelintir orang yang kerap ke tempat favoritku ini.

Gadis itu duduk di sebelahku dan dengan seenaknya mengambil buku sketsa dari tanganku.

“Bajunya lucu!” ujarnya, menunjuk gambar seorang gadis yang sedang kukerjakan. Gadis di gambarku sedang mengenakan sweater lengan pendek dengan kaus bergaris lengan panjang di baliknya. Kupikir baju itu memang lucu, makanya kugambar saja. Aku melihat yang seperti itu di suatu tempat, entah di komik-komik yang kubaca atau anime yang sedang kutonton. Aku tidak begitu ingat, lagian komik dan anime yang kutonton cukup banyak.

“Kan, desain baju yang ini buatku ya?”

Indi berujar lagi sambil menatapku dengan mata berbinar. Aku tertawa. Indi memiliki bisnis butik online. Dia mendesain sendiri baju-bajunya. Oke, sebetulnya tidak mendesain juga. Indi tidak menggambar. Indi menunjukkan sebuah gambar dari internet atau majalah kepada penjahit dan dia memodifikasi beberapa bagiannya.

Aku yang senang menggambar gadis dua dimensi kena getahnya. Ketika pertama kali bertemu, Indi melihat gambarku dan bertanya apa dia boleh mengadaptasi baju yang kugambar. Dia menawarkan pertukaran diskon setengah harga produk butiknya untuk satu desainku. Aku menyadari bahwa berbisnis dengan Indi memang tidak terlalu menguntungkan, tapi biarlah. Setidaknya sekarang isi lemari pakaianku cukup beragam sehingga Bunda tidak lagi mengomel karena aku selalu memakai kaus Polo kedodoran ke kampus.

“Ndi, berhubung jatah diskon buat desainku yang kemarin belum kuambil, gimana kalau aku kasih kamu desain yang ini, terus kamu kasih satu baju gratis buatku?” tanyaku sambil nyengir. Aku menggodanya, tentu saja. Baginya bisnis adalah bisnis. Dia cukup berpendirian akan hal itu. Lihat saja wajahnya yang sekarang sudah berkerut.

“Kok kamu temenan sama aku jadi pintar menawar gitu sih, Kan?” ujar Indi, matanya memicing padaku. “Hmm, boleh deh. Tapi tunggu desain yang satu ini laku, ya, Kan. Rugi dong aku kalau nggak ada yang pesan!”

Aku tertawa atas keberhasilanku. Keuntungan berteman dengan gadis seperti Indi adalah kau bisa mendapat barang dengan harga terendah. Aku pernah mengatakan padanya ingin membeli sebuah jam tangan. Dia mengajakku ke penjual jam tangan di pasar induk dan memintaku memilih. Ketika penjual menyebutkan harganya, Indi langsung menawarnya setengah harga. Gadis itu memang sinting. Tapi setelah perdebatan panjang, aku bisa membeli jam itu dengan harga murah. Lima ribu rupiah sedikit lebih mahal dari harga yang ditawar Indi, sebetulnya. Aku senang, tapi Indi manyun sepanjang perjalanan pulang karena kalah deal.

Mengingat bakat Indi yang luar biasa dalam bidang perekonomian itu, aku jadi ingat keinginannya untuk kerja di bank. Omong-omong, kami para mahasiswa tingkat tiga, sedang sibuk mengurus proposal kerja lapangan. Kupikir, itu semacam istilah akademik untuk magang.

“Eh, Ndi, gimana izin kerja lapanganmu? Bisa?” tanyaku. Aku merogoh tasku dan merasakan sebuah kotak licin kemudian menariknya keluar. Benda favoritku–Koi Watercolor. Aku suka memakai merk itu sebab warnanya lembut sekali. Cat itu padat, berada di kotak-kotak kecil seperti yang kalian lihat ketika menggunakan make up. Kuasnya keren, bisa diisi air sehingga hanya perlu memencetnya sedikit agar kuas tersebut basah. Kemasannya mudah dibawa-bawa pula. Sayang sekali, harganya cukup membuat mahasiswa bangkrut.

“Entahlah, sedang diproses. Doakan ya, Kan. Pengen banget, nih.”

“Kamu masukin proposal ke mana, Ndi? Mandiri? BNI? BCA?”

Dia menggeleng kemudian menjawab, “Unilever.”

Aku mengernyit. Berpikir lama, kemudian berkata, “Memang ada bank yang namanya Unilever?”

“Kumohon deh, Kan,” Indi memutar bola matanya padaku. “Dari dulu Unilever bukan bank, kali.”

“Ah, iya juga, ya. Itu perusahaan yang bikin pembersih toilet, kan?” kataku, yang dibalas dengan lirikan tajam dari Indi. Maka aku mengalihkan pertanyaan, “Nggak jadi pengen kerja di bank, Ndi?”

“Kata kakak-kakak tingkat, mending langsung coba ke perusahaan besar. Lagian,” dia cekikikan, “Aku juga pengen bisa lihat CEO muda ganteng.”

Aku menatapnya, merasa gagal memahami jalan pikiran anak itu.

“Proposalmu sendiri gimana, Kan?”

“Diterima, kok,” aku berkata sambil mengoleskan warna merah muda di pipi gadis yang kugambar.

“Wuih, cepet banget. Nggak pakai revisi?”

“Enggak. Langsung diterima.”

Sebetulnya aku juga heran. Entah proposalku yang sangat menarik, atau tempat yang kupilih untuk kerja lapangan memang sedang membutuhkan pegawai magang. Penerbitan yang kupilih sebagai tempat kerja lapangan–Artse Publishing, namanya–memang bukan penerbitan terbesar di Indonesia.Tidak besar, tapi cukup memiliki nama. Dosen pembimbingku heran karena aku memilih penerbitan sebagai tujuan kerja lapangan. Kubilang saja aku tertarik dengan penerbitan. Usaha tersebut sangat menggiurkan karena mencakup seni, hiburan, dan pendidikan, sehingga aku ingin mengetahui bagaimana manajemen usaha penerbitan. Aku mengatakannya dengan bahasa yang ilmiah, tentu saja. Bahkan sepertinya dosenku cukup terkesan.

Itu separuh benar. Sesungguhnya tujuanku sebenarnya adalah ingin menjadi desainer sampul buku fiksi. Bagian yang itu tidak bisa kukatakan pada dosenku. Mungkin saja menurut beliau, seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis tingkat ketiga yang memiliki cita-cita menjadi ilustrator buku fiksi terdengar agak menggelikan.

“Artse Publishing, ya...” Indi menggumam. Dia ikut menyenderkan punggung di dinding, persis seperti yang kulakukan. “Di Jogja, dong. Kamu jadi menginap di rumah ayahmu?”

Tanganku yang tadinya sibuk membubuhi warna otomatis berhenti. Aku melirik Indi, kemudian melanjutkan pekerjaanku dengan kikuk. Ah, sial, aku tidak sengaja mencoret hidung gadis di gambarku dengan warna merah marun.

“Enggak tahu, Ndi,” aku mengangkat bahu. Sesungguhnya aku ingin mencari kos saja selama berada di Yogyakarta. Aku benar-benar tidak tahu apakah aku siap tinggal bersama Ayah.

Indi menggenggam tanganku seakan menyemangati.

Tapi sepertinya aku memang harus melakukannya. Tinggal di rumah Ayah, maksudku. Aku sudah memikirkannya, juga mendiskusikannya dengan Indi. Harus ditegaskan bahwa curhat pada sahabat bukanlah gayaku, namun aku memang butuh dukungan.

Sebab aku memutuskan akan memberi Ayah kesempatan. Kesempatan untukku juga, barangkali.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer rizkarizzramm
rizkarizzramm at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 38 weeks ago)
40

saya suka, bersiap menikmati cerita selanjutnya.

Writer fajaragustian
fajaragustian at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)
60

keren

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)

terima kasih X)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)
80

Ceritanya keren, lanjutkan Kakak :D

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)

terima kasih :D ditunggu ya X)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)

Baca cerbungku juga ya Kak XD

Writer fsc
fsc at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)
70

Ringan, tapi asyik diteruskan. Saya suka.

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)

terima kasih ya dukungannya X)

Writer a.
a. at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)
50

ketika aku baca ceritanya kemudian ke arah percakapannya, entah kenapa ada gap bahasa yang bahkan aku tidak tahu itu apa, sehingga membuat aku sedikit tidak nyaman untuk membaca. seperti ada koneksi yang putus. oh ya, dan aku rasa konfliknya sudah hampir tertebak. coba cerita selanjutnya diberikan twist yang mengejutkan.
semangat melanjutkan ya :)

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)

wah, saya juga merasa peralihan dari POV Kana ke dialog memang kurang mulus. mungkin karena sudut pandang Kana memakai kalimat baku, sedang dialognya pakai kalimat tidak baku ._. atau karena paragraf tentang apa yang Kana pikirkan langsung dipotong dialog tanpa ada pengantar ._.
pokoknya terima kasih sudah mampir, membaca, memberi kritik pula, saya senang sekali X)

Writer Febilions
Febilions at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)
40

Next cepat ya kak hehee:p

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)

cerita selanjutnya sedang saya kerjakan, terima kasih banyak sudah mampir dan membaca cerita saya :)

Writer MS Rachmandika
MS Rachmandika at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)
70

bagus kakak ceritanya, aku juga baru nulis cerbung pertama saya kalo mau mampir nih http://www.kemudian.com/node/276977
kk otaku ya? :v

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)

terima kasih :) cerita kamu sudah saya baca :D
bukan otaku sih, cuma senang baca komik dan nonton anime juga seperti Kana :3

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 1: Selasar) (7 years 42 weeks ago)

Cerita bersambung pertama saya ^^ Semoga saya bisa komitmen nulis cerita ini sampai tamat ><
Kalau ada typo, kritik, saran, maupun kejanggalan dalam cerita, jangan sungkan berkomentar :)