Cinta Bertepuk Sebelah Tangan (part 4)

Hari ini adalah hari Kamis. Hari ini tidak ada latihan ekstrakurikuler angklung, tetapi berkumpul untuk membicarakan pelantikan anggota baru hari Sabtu ini. Hari ini berkumpul di ruang ekstrakurikuler angklung yang baru, ruang tersebut berada di depan aula.

“Teman-teman, hari ini berkumpul dengan kelompok masing-masing, ya! Saya akan membacakan pembagian wali regu, anggota kelompoknya, dan barang-barang yang diperlukan untuk pelantikan nanti,” kata Fadillah lalu dia membacakan catatan kecilnya itu.

 

Setelah Fadillah selesai membacakan catatan kecilnya yang berisi nama wali regu, anggota kelompok, dan barang-barang yang diperlukan untuk pelantikan, kami semua berkumpul dengan kelompok kami masing-masing. Hari ini Ranti tidak datang karena ada les, sehingga di kelompokku hanya aku sendiri yang menjadi wali regu. Setiap kelompok ada dua orang wali regu.

“Perlengkapan yang harus kalian bawa,banyak,nggak? Mending dibagi-bagi saja, masing-masing harus bawa untuk yang perlengkapan kelompok. Kalau perlengkapan pribadi kan kalian bawa dari rumah masing-masing. Tetapi jika salah satu di antara kalian rumahnya dekat dengan supermarket atau toko yang besar, dia yang membeli perlengkapan kelompok, bagaimana kalau begitu?” usulku pada anggota kelompokku.

“Iya, teh, memang kami ingin seperti itu. Alhamdulillah rumahku dekat dengan toko yang besar, jadi sebagian perlengkapan kelompok aku saja yang membelinya, kalian iuran saja uangnya,” kata Silvi.

Teteh, tapi kita hari Sabtu ini juga ada serah terima jabatan anggota Rohis yang kita harus hadir dalam acara itu, kan? Gimana teh?” tanya Qireneu bingung.

Aku teringat kembali kalau hari Sabtu ini acara serah terima jabatan anggota Rohis diadakan dalam waktu yang bersamaan dengan acara pelantikan ekstrakurikuler angklung ini. Lalu aku teringat bahwa di dalam ekstrakurikuler angklung ini ada temanku sesama anggota Rohis. Namanya Adam. Adam berambut pendek, berkulit kecokelatan, bertubuh tinggi, tapi tak setinggi Arif.

“ Begini saja, teteh nanti ijin ke teh Fadillah, kita ke acara Rohis dulu sama kang Adam, baru kita nyusul ke pelantikan ekskul angklung. Kalau di tengah2 acara Rohis kehadiran teteh dan kang Adam dibutuhkan dan kami harus meninggalkan pelantikan ekskul angklung, teteh terpaksa meninggalkan kalian, tapi nanti teteh titip kalian ke teh Nifa, ya. Bagaimana?” usulku.

“Iya, teh. Tidak apa-apa,” jawab Rofi.

Teh Nad, kenapa teteh hanya sendiri di kelompok ini? Bukankah setiap kelompok mempunyai dua orang wali regu?” tanya Tazkiyatun.

“Iya, harusnya teteh berdua sama teh Ranti, tapi teh Ranti hari ini ada les mata pelajaran, makanya tidak bisa ikut berkumpul di sini dengan kalian,” jawabku.

Teh Ranti itu yang mana, teh? Mengapa kami tak pernah bertemu?” tanya Qireneu.

Teh Ranti itu yang pake jilbab, pake kerudung, pake kawat gigi, tingginya lebih tinggi daripada teteh. Sebentar, ya. Teteh tanya dulu tentang acara Rohis itu ke teh Fadillah,” jawabku.

“Iya, teh,” jawab Silvi, Qireneu, Rofi, dan Tazkiyatun dengan kompak.

 

Lalu aku pergi menemui Fadillah.

“Fadillah, aku mau minta izin. Hari Sabtu ini Rohis ada acara serah terima jabatan anggota. Boleh nggak kalau aku membawa anggota kelompokku ke acara Rohis dulu, baru nyusul ke sini?”

“Boleh, tapi pagi sekitar jam delapan atau jam setengah sembilan sudah ada di sini. Kalau kamu dan Adam memang dibutuhkan di sana, ya mau tidak mau anggota kelompokmu ditinggal di sini. Siti Hajar dan Echa juga anggota Rohis, kan? Ajak mereka juga kalau pagi-pagi izin ke sana,”

“Iya, aku mengerti. Terima kasih ya, Fadillah,”

“Sama-sama,”

 

Lalu aku menuju ke tempat Adam.

“Adam, hari Sabtu nanti kita ke acara Rohis dulu atau di sini?”

“Kita ke acara Rohis dulu, Nad. Baru ke sini. Tapi karena peran saya di sini tidak terlalu padat, jadi saya bisa ke acara Rohis. Kalau memang kamu dibutuhkan untuk hadir, nanti saya kabari,”

“ Oke, terima kasih penjelasannya, Adam,”

“ Sama-sama,”

 

Aku kembali lagi ke tempat kelompokku berada.

“Barusan teteh sudah berbicara kepada teh Fadillah dan kang Adam. Kata mereka, pagi-pagi kita ke acara Rohis dulu, sekitar jam delapan atau setengah Sembilan pagi, baru kita ke acara pelantikan ini. Tetapi kalau misalnya kehadiran teteh dan kang  Adam dibutuhkan di Rohis, terpaksa teteh menitipkan kalian pada teh Nifa atau kang Jaya, ya. Bagaimana?”

“Iya teh, tidak apa-apa,” jawab Qireneu.

 

Tiba-tiba Nifa dan Jaya berdiri di sebelahku.

“Nad, kenapa sendiri? Ranti di mana?” tanya Nifa

“Iya nih. Ranti katanya ada les, nggak bisa ikut berkumpul hari ini. Nanti biar aku yang ngasih tau hasil berkumpul hari ini ke dia lewat sms.”

 

Sementara itu, aku melihat Jaya sedang melihatku sekilas saat aku sedang berbicara dengan Nifa. Tatapannya seperti ingin tahu apa yang dibicarakan olehku dan Nifa.

“Ya, waktu diskusi sudah habis. Sekarang saya akan membagikan nama kelompok, dan dresscode nya mengikuti nama kelompok. Kelompok satu kelompok country, kelompok dua kelompok nasyid, kelompok tiga kelompok dangdut, kelompo kempat kelompok rock, dan kelompok lima kelompok pop. Setelah ini kalian berdiskusi lagi ya untuk dresscode  kalian,” kata Fadillah.

Kemudian kami semua pun berdiskusi lagi.

Teteh, sebenarnya music country tuh seperti apa? Lalu baju dan accessories

apa yang cocok untuk dresscode?” tanya Qireneu.

“Musik country itu musik yang suka ada di film-film barat yang cowboy-cowboy gitu, dan biasanya di tempat banteng juga. Kostumnya sih mungkin memakai topi cowboy, lalu memakai rompi, celana panjang juga, bajunya kaos,” jawabku.

“Oh, oke teh, kami paham. Besok teteh lihat ya pakaian kami benar pas sama tema atau tidak, kami sudah tahu akan memakai baju apa,” jawab Rofi.

Akhirnya acara berkumpul ini selesai. Kami semua pun pulang ke rumah masing-masing. Sungguh, aku tidak sabar ingin segera hari H acara.

 

Beberapa hari kemudian, tibalah hari yang dinantikan. Hari ini hari Sabtu, hari pelantikan anggota baru ekstrakurikuler angklung. Namun, pagi ini aku sedang berada di aula sekolah, tempat acara serah terima jabatan anggota Rohis, sambil menyiapkan nametag untuk pelantikan ekstrakurikuler angklung. Kini, aku sedang bersama Rofi, Qireneu, Tazkiyatun, Siti, dan Echa.

Teh Nad, jam berapa kita akan ke pelantikan ekstrakurikuler angklung?” tanya Rofi.

“Nanti kalau sudah pukul 8 dan acara Rohis ini masih belum mulai, kita ke sana,”jawabku.

Teh, tidak apa-apa, kan, kalau fotonya seukuran ini?” tanya Echa.

Aku memperhatikan foto di nametag Echa. Foto kakak yang disukai adalah fotoku. Memang ukurannya tidak seperti ukuran yang dicontohkan. Aku tersenyum dan menjawab pertanyaan Echa.

“Tidak apa-apa, yang penting ada fotonya. Kalau tidak ada fotonya, baru menjadi masalah,”

Teteh, kak Adam tidak ke sini?” tanya Qireneu.

“Iya, teh, kan kak Adam juga anggota Rohis,” kata Tazkiyatun.

“Mungkin Adam sedang di acara ekstrakurikuler angklung dulu, baru nanti ke sini,”jawabku.

Teh, sekarang sudah pukul 8 lebih, tetapi acara Rohis ini belum mulai juga,” kata Siti.

Aku melihat jam tanganku. Benar, sudah pukul 8 lebih.

“Ayo kita ke pelantikan ekstrakurikuler angklung sekarang. Soalnya acara Rohis belum mulai,sih,” kataku.

 

Kami pun menuju ke tempat ekstrakurikuler angklung. Sampai di sana, kami yang baru datang langsung menuju ke kelompok masing-masing. Jaya menghampiriku.

“Nad, kenapa baru datang? Tadi ke mana?” tanya Jaya.

“Tadi aku ke acara Rohis dulu, kemarin aku udah ijin ke Fadillah,” jawabku.

Aku kaget. Jaya datang tiba-tiba. Jantungku masih berdetak dengan cepat. Mukaku terasa panas. Mungkinkah aku jatuh cinta padanya? Begitulah lamunanku.

“Sekarang kami akan memeriksa nametag kalian dan barang-barang yang kalian bawa. Wali Regu mendampingi kalian,” Fadillah menyuruh kepada peserta pelantikan.

 

Tentu kata-kata dari Fadillah membuyarkan lamunanku. Aku segera menuju ke tempat duduk dan bersama peserta pelantikan kelompokku yang datang hari ini, Rofi, Tazkiyatun, dan Qireneu. Silvi tidak datang. Masalah muncul. Ranti juga sms padaku bahwa dia sakit, tidak bisa hadir hari ini.

Teh Nad, gimana nih? Barang-barang kami sebagian besar ada di Silvi, dan sekarang Silvi nggak ada,” kata Rofi.

“Mungkin nanti ada keluarga dari Silvi yang mengantarkan barang kalian ke sini. Sekarang, kalian keluarkan saja dulu barang yang ada pada kalian dan nametag nya,”

“Kalo nggak ada yang nganterin gimana,teh?” tanya Tazkiyatun.

“Sudah, yang penting sekarang kalian tenang dulu, keluarkan apa yang tadi diperintahkan. Soal barang, nanti teteh tanya ke Fadillah,”

Setelah mereka mengeluarkan barang-barang yang dibawa dan nametag mereka, Fadillah dan tim antagonis (Mareta, Yuli, Septi, dan Utami) mengecek perlengkapan peserta. Kelompokku aman, dan pada waktu barang-barang diperiksa, ada keluarga Silvi yang mengantarkan barang.

“Baik, kami sudah selesai mengecek barang kalian dan nametag kalian. Sekarang kalian akan diuji kekompakan kalian. Buatlah yel-yel perkelompok dan para wali regu juga membuat yel-yel,” kata Fadillah.

“Hey, kalian harus dandan yang bagus, ya. Mau ditonton sama kita. Yang menor, kalo nggak menor, kami akan menghukum kalian,” kata Yuli.

 

Aku segera menuju kelompokku. Menitip pesan ke mereka, bikin yel-yel yang ada kata-kata kelompok satu,kelompok country yang hebat, kompak, dan semacamnya. Lalu, aku berkumpul dengan teman-teman wali regu. Bersama Jaya, Nifa, Nita, Fatimah, Rizky, Arif, Andi, Ahsanul.

“Dandan yang menor, ya? Yang cewek, pake bedak yang tebel banget ya. Yang cowok, pake pensil untuk menebalkan kumis,” kata Nita.

Aku mengeluarkan bedak yang kubawa dari rumah. Memakai hingga mukaku putih seperti tisu. Setelah selesai memakai bedak, aku melihat ke arah Jaya.

“Hahaha, Jaya lucu banget, kumisnya digambar seperti kumis kucing,”

“Biarin! Kan emang disuruhnya dandan yang aneh-aneh,kan, Nad?”

“Iya, kalo yang aneh-aneh, kumis gambaranmu bagus deh, Jaya”

Jaya tersenyum padaku. Deg deg deg. Lagi-lagi kudengar bunyi itu. Ya, bunyi debaran jantungku yang semakin cepat dan keras ketika aku melihat dan berbicara dengan Jaya.

 

Setelah kami semua berdandan, kami membuat yel-yel dan menuju ke lapangan, tempat diuji yel-yel kami.

“Sekarang uji kekompakan kami mulai. Kelompok satu sekarang tampil, dan wali regunya melihat kalian tampil dari depan kalian, di sebelah kami,” kata Fadillah.

Aku segera berdiri di sebelah Fadillah dan melihat kelompokku tampil. Secara keseluruhan, kelompokku yel-yelnya bagus. Begitu juga seterusnya. Ketika tampil yel-yel sudah berakhir, wali regu juga sudah tampil, kami pergi dari lapangan.

“Sekarang, kalian menuju ruang kelas dekat tempat berkumpul. Di sana, kalian akan diuji pengetahuan tentang angklung,” kata Rahman.

Daritadi aku tidak melihat Adam. Aku bertanya pada Fadillah sebelum menuju ke tempat uji pengetahuan angklung.

“Adam ke mana, ya, Fad? Kok aku nggak lihat dia daritadi?”

“Oh, Adam ke acara Rohis, Nad. Kamu mau ke sana juga? Nanti aja, sekarang kamu harus dampingi anggota kelompokmu,”

“Oke Fad,”

Kemudian kami menuju ke tempat uji pengetahuan. Selama Fadillah dan tim antagonis menyiapkan tes, aku dan kelompokku berbincang-bincang.

Teh Nad, uji pengetahuan angklung tuh meliputi apa aja?” tanya Rofi.

“Nama penemu angklung (yang mengubah ke nada diatonis), trus tahun berapa beliau lahirnya, biasanya sih diuji tentang nomor angklung juga, misalkan di Do=D, angklung no 10 jadi nada apa,”

“Kalo waktu teteh dulu pelantikan gimana?” tanya Qireneu.

Teteh masuk ekskul ini kelas XI, karena nggak pelantikan waktu pas masuk, teteh jadi wali regu kalian sebagai pengganti pelantikan untuk teteh,”

Beberapa menit kemudian persiapan ujian siap dan kelompokku masuk ke dalam ruangan. Setelah kelompokku selesai, lanjut ke kelompok setelah kelompokku, begitu seterusnya.

Teh Nad, gimana nih? Qireneu disuruh pulang sekarang, ada urusan keluarga yang mendesak. Barusan ada telfon dari keluarga Qireneu, dan sebentar lagi Qireneu mau dijemput,”tanyaQireneu dengan nada yang khawatir dan tidak tenang.

“Iya, tidak apa-apa kalau memang mendesak. Nanti teteh dan teh Fadillah akan mengantarmu ke depan,”

Dan benar, beberapa menit kemudian orang tua Qireneu datang menjemput. Aku dan Fadillah mengantar Qireneu ke tempat orang tuanya menunggu, di gerbang sekolah. Lalu, kembali lagi ke tempat uji pengetahuan angklung. Ternyata, setelah uji pengetahuan angklung, waktunya istirahat, sholat, dan makan siang. Aku segera bergegas ke masjid sekolah untuk sholat Dzuhur.Di dekat aula sekolah, aku bertemu dengan Adam.

“Nad, setelah kamu sholat Dzuhur, ke aula, ya. Soalnya mau musyawarah pemilihan ketua Rohis yang baru. Tadi pagi acaranya musyawarah tentang Laporan Pertanggung Jawaban,”

“Oke deh, nanti aku ijin ke Fadillah dan menitipkan anggota kelompokku pada Nifa, baru aku ke aula,”

Setelah sholat Dzuhur, aku kembali ke tempat berkumpul panitia pelantikan ekskul angklung. Aku mengambil tas, bertemu dengan Fadillah, Nifa, dan anggota kelompokku.

“Fadillah, aku ke acara Rohis, ya. Soalnya setelah istirahat ini ada pemilihan ketua Rohis,”

“Iya, Nad. Kamu ijin juga sama anggota kelompokmu. Dan meminta salah satu wali regu untuk menggantikanmu sementara waktu,”

“Makasih ya Fadillah.”

“Sama-sama,”

Aku berjalan ke arah Nifa.

“Nifa, aku titip anggota kelompokku, ya. Sementara ini, aku dan Adam harus berada di acara Rohis, jadi aku tidak bisa mendampingi anggota kelompokku untuk acara berikutnya”

“Iya, siap, Nad!”

Aku menemui anggota kelompokku.

“Rofi, Tazkiyatun, teteh harus ke acara Rohis sekarang. Kata kang Adam, sekarang pemilihan ketua Rohis. Maaf ya, teteh nggak bisa mendampingi kalian untuk sementara waktu. Nanti kalau acara Rohis udah selesai, teteh balik lagi ke sini,”

“Iya, teh, nggak apa-apa. Nanti kalau sudah ada ketua Rohis baru, kasih tau ke kita, ya, teh,” kata Rofi.

“Oke,”

Setelah itu, aku bergegas menuju ke aula sekolah. Berlangsunglah pemilihan ketua Rohis. Ada 4 calon ketua Rohis. Adam, Halimi, Asyraf, dan Fauzan. Dan yang terpilih menjadi ketua Rohis yang baru adalah Halimi. Dan berakhirlah acara Rohis ini.

Aku kembali ke tempat pelantikan ekskul angklung. Dan ketika itu, sedang pemilihan ketua baru di tempat lain. Aku menuju ke tempat panitia berada, di ruangan yang berbeda dari ruang pemilihan. Dan kulihat Jaya sedang makan choki-choki dengan santai.

“Dari mana aja, Nad?” kata Jaya sambil mengunyah choki-choki nya.

“Abis dari acara Rohis. Teman-teman yang lain di mana?”

“Beberapa orang ke ruang pemilihan ketua baru. Sebagian lagi, masih nunggu di dekat lapangan sekolah, persiapan penutupan pelantikan. Peserta mau dibasah-basahi sama kita pake air kolam,”

“Hahaha, udah biasa itu sih. Eh, itu choki-choki dari mana? Mau, dong!”

“Tuh ambil aja di tas itu, masih banyak choki-chokinya,”

“Oke”

“Aku duluan, Nad ke dekat lapangan sekolah,”

“Oke, aku menyusul,”

Deg…deg…deg…Bunyi debaran hatiku ini semakin keras dan cepat. Aku tak mengerti. Benarkah aku menyukainya?

Aku segera mengambil choki-choki, memakannya sampai habis, dan segera menyusul Jaya ke dekat lapangan sekolah.

Sampai di lapangan sekolah, teman-teman sedang sibuk mempersiapkan ‘surprise’ ini.

“Nad, tolong ambilkan air di kamar mandi, ya! Setengah ember saja,” kata Fadillah.

“Oke,”

Aku segera mengambil air di kamar mandi. Ada beberapa temanku yang sedang mengambil air juga di kamar mandi. Ada juga yang mengambil air di kolam sekolah dan ada yang membeli air dan dimasukkan ke dalam plastic-plastik kecil.

Setelah mengambil air dan menyerahkan pada Fadillah, aku memegang satu plastic kecil berisi air. Untuk dilempar ke peserta pelantikan, kata Fadillah.

Anak-anak yang menjadi peserta pelantikan kini sedang berkumpul di tengah lapangan sekolah. Aku di belakang mereka, berjarak tidak terlalu jauh dari mereka. Aku menggenggam plastic kecil berisi air. Di sebelahku ada Jaya yang sudah bersiap memegang ember berisi air. Dan ketika hitungan mundur dari Septi dan Mareta, aku mulai mundur dari tempatku. Aku tidak mau ikut basah. Namun, terlambat. Jaya sudah mengguyurkan air pada anak-anak, dan cipratannya juga membuat basah sebagian bawah celanaku, kerudungku juga ikut basah. Namun karena aku tidak bawa baju ganti, ya aku tetap basah.

Setelah acara basah-basahan, saatnya berkumpul bersama angkatan atas dan makan malam. Aku sebenarnya ingin duduk dengan Nifa, Septi, dan teman-teman perempuanku lainnya. Namun Nifa sudah pulang dan tidak ada tempat yang tersisa di dekat mereka. Tempat yang tersisa hanyalah di sebelah Jaya dan teman-teman laki-laki yang lain. Maka aku segera ke tempat Jaya.

Dan ternyata, ada acara perkenalan, menyebutkan angkatan, jabatan, angklung nomor berapa yang dimainkan. Aku melihat posisiku, aku sebelum Jaya.

“Jaya, kenapa kamu tidak duluan? Duluan saja, kan laki-laki duluan. Tuh, liat aja Arif, Ahsanul, dan Andi duluan,”

“Aku malu, Nad,”

“Kenapa harus malu? Kan cuma memperkenalkan diri saja,”

“Iya deh, aku duluan,”

Jaya segera pindah ke sebelah kiriku. Dan benar, dia memperkenalkan diri duluan, deg…deg…deg… lagi-lagi kurasakan debaran jantung ini semakin cepat dan keras bunyinya. Setiap aku berada di sebelah Jaya selalu begini. Ada apa denganku? Lalu ketika aku memperkenalkan diri, aku lupa apa yang harus aku sebutkan, mungkin ini efek dari deg-degan. Jaya memberi tahukan hal yang harus aku sebutkan.

Setelah acara makan bersama ini selesai, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Ketika sampai di rumah, aku sms pada anggota kelompokku, memberitahukan tentang ketua Rohis yang baru. Hari ini tidak akan pernah aku lupakan. Sabtu, 19 November 2011.

 

~ Bersambung ke part 5~

Note:

1.      Teteh : Kakak perempuan (Bahasa Sunda)

2.      Teh    : Kependekan dari teteh

3.      Akang: Kakak laki-laki (Bahasa Sunda)

4.      Kang   : Kependekan dari akang

5.      Dresscode: Kostum

Read previous post:  
26
points
(1609 words) posted by augina putri 7 years 32 weeks ago
65
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | persahabatan | romance | teenlit
Read next post:  
Be the first person to continue this post
50

Name tag blom masuk ke note. Hehe mausik genre country sebetulnya, dari beberapa buku yang gue baca, bukan identically dengan outfit, loh. Tapi lebih ke identitas mixture harmonisasi musik fiddle, gitar sama banjo dari kehidupan koloni Amrik yang justru campuran selatan sama appalachia. Kalo koboi, itu sebutan buat gembala. Akibat musik country berkembang masa koboi berjaya, maka terminologinya dianggap begitu padahal ga juga. Oh iya, greget tentang bertepuk sebelah tangannya blom kerasa ya ini...blom ada adegan trigger yang bikin gue mikir atau kebawa perasaan. Hehe maaf komentarnya kepanjangan.

Terima kasih komentarnya yang panjang. Saya kurang tahu juga sih music country yang sebenarnya, tapi kalau mendengar, saya pernah, makanya saya nulis mungkin semacam koboi gitu kalo untuk kostumnya.

Dalam menulis, logika juga harus dipakai jika memasukkan unsur view. Riset dalam menulis harus tepat agar nanti pembaca ga keliru. Misalnya kalo nulis Samuel Colt penemu lampu, waah pembaca bakal dapet ilmu yg salah tuh. Semua tau Colt sama sekali bukan penemu lampu. Hanya mendengar lalu disampaikan tanpa membaca sejarahnya, sama seperti gosip. Hehehe maaf nyampah lagi.

oh, begitu maksudnya. Terima kasih sudah memperjelas.

cerita novel ini mirip dengan kisah percintaan gw hiks hiks hikss

Cincin Pernikahan | Brankas Murah

Dan cerita ini terinspirasi dari masa lalu seseorang yang saya kenal