Kana (Part 3: Pameran)

Hari berikutnya, aku benar-benar mengunjungi pameran seni di Museum Nasional.

Bukan, bukan karena Ayah yang memintaku melakukannya. Aku cuma penasaran saja. Sedikit.

Lagian, aku sedang senggang.

Indi senang betul kuajak mengunjungi pameran seni. Katanya, lukisan bisa menjadi latar belakang yang bagus untuk berfoto. Dia bahkan membawa kamera saku canggih yang lensanya bisa dicopot itu. Awalnya, anak itu ingin membawa tripod. Berlebihan benar. Lalu kukatakan padanya bahwa aku akan memotretnya—menggantikan fungsi tripod itu—anytime anywhere, asal dia tidak jadi membawanya.

Kami pergi ke sana saat sore hari, sekitar pukul empat. Kata Indi, setelah mandi, wangi, dan yang pasti memakai pakaian bagus untuk berfoto, alih-alih muka lecek yang didapat setelah kuliah empat SKS. Dia memaksaku mengenakan produk dari butiknya. Aku hampir yakin nanti malam fotoku—dengan wajah sebatas lubang hidung ke bawah—akan muncul di akun Instagram butik miliknya dengan caption “Kanarina Afandi wears our Fibonacci Blouse and Galactic Pant. So pretty, thankyou!”. Kesannya memuji, padahal yang dia maksud pretty adalah produknya.

Tapi biarlah, nantinya aku akan senang karena mengajak Indi yang hobi foto-foto, sebab punya kerjaan selain berkeliling dan melihat-lihat.

Seseorang menyerahkan brosur padaku di pintu masuk sambil berkata, “Nanti jam tujuh malam ada seminar. Silakan datang,”. Aku tersenyum sekilas, kemudian memperhatikan selebaran di tanganku. Rupanya pameran ini adalah hasil kerja sama dengan UNICEF, untuk memperingati hari anak internasional.

Indi yang berjalan di sebelahku berkomentar, “Wah, pembicaranya Kak Seto!”

“Terus?” tanyaku. “Mau ikut?”

Boro-boro seminar, kuliah pengganti saja Indi lebih sering titip absen. Bukannya aku tidak pernah melakukannya. Hanya saja, Indi lebih sering. Mana mungkin dia mendadak ingin ikut seminar.

“Enggak sih. Tiba-tiba ingat aja sama Si Komo.”

Indi menyanyikan lagu Si Komo. Aku merengut. Lalu menggeleng tak paham.

Kami berjalan melewati lorong-lorong bercat putih yang digantungi berbagai gambar yang dibuat dengan krayon, khas anak seusia TK atau SD. Sepertinya, sebelumnya acara ini mengadakan lomba menggambar dan mewarnai, kemudian karya mereka dipajang di pameran ini.

Kami melewati berbagai gambar anak-anak, hingga tiba di ruangan luas yang memajang karya pelukis sungguhan.

Lukisan pertama yang menyambut kami adalah sebuah potret seorang gadis yang sedang menengadah. Gadis itu tergambar di kanvas setinggi sekitar satu setengah meter. Rambutnya yang sebatas bahu terurai—berantakan ke belakang telinganya. Latar belakang lukisan itu berupa langit, awan, dan balon-balon berwarna pucat. Di punggungnya, tampak sesuatu yang terkesan bercahaya. Apa itu sayap?

“Kana, itu kamu.”

Aku memicingkan mata dan mundur selangkah. Benar. Gadis di lukisan itu adalah aku. Poseku di lukisan ini mengingatkanku pada foto candid yang diambil baru-baru ini. Saat itu, aku sedang berkunjung ke pantai. Aku menengadah untuk melihat layang-layang hitam yang sedang dimainkan temanku. Ah, ya, foto itu kujadikan gambar profil akun Facebook-ku.

Aku mencari-cari di sisi kanan bawah lukisan.

AM.

Tentu saja. Itu inisial Ayah—Arfat Margana. Seharusnya aku mengenali bagaimana warna-warna di kanvas ini seperti diseret berputar, meninggalkan jejak kuas dan garis berupa gumpalan cat di lajurnya. Khas Ayah.

Namun, ada yang aneh pada luksian ini. Seingatku, lukisan Ayah didominasi warna midnight blue. Terkesan gelap dan dingin. Sedikit menunjukkan kepribadian Ayah.

Tetapi lukisan di hadapanku ini menggunakan warna-warna pastel. Tone yang kugunakan pada gambarku yang kuwarnai dengan cat air.

Mataku tertuju pada kertas di samping lukisan. Di situ tertera kalimat “Acrylic on canvas”.

Aku begitu terkesan bagaimana Ayah bisa mendapatkan warna seperti itu dengan cat akrilik. Dan ketika membaca catatan kecil itu lagi, aku terdiam.

Lukisan itu berjudul ‘Aku Merindukan Malaikatku’.

*

Di rumah kami, terdapat sebuah kamar di dekat halaman. Kamar itu memiliki jendela besar menghadap ke belakang, tepat ke arah tiang jemuran dari bambu yang dibuat Ayah dahulu. Kamar itu biasanya terkunci, tetapi kuncinya tergantung saja di lubangnya. Kami membiarkannya begitu. Lagian, tidak ada barang berharga yang bisa diambil dari kamar itu.

Aku mengunjungi kamar itu setelah kembali dari pameran seni.

Dinding ruangan yang bergambar pepohonan, atap pemukiman, juga bulan dan bintang kuning menyambutku. Sebuah easel tua—tempat meletakkan lukisan—berdiri di dekat jendela. Lukisan berdebu tertumpuk di rak besar di sisi ruangan. Botol-botol cat dan kuas tergeletak acak di rak pada sisi kamar yang lain.

Ini adalah gudang tempat Ayah menyimpan peralatan melukisnya, juga lukisan-lukisan yang tidak bisa dijual.

Kamar ini sedikit banyak membangkitkan kenangan lama. Melihat lukisan Ayah yang berwarna pastel itu sepertinya sangat mempengaruhiku. Lukisan itu sarat kerinduan.

Aku tidak pernah berpikir Ayah akan sangat merindukanku, hingga melukis sesuatu seemosional itu. Apakah ‘Aku Merindukan Malaikatku’ adalah lukisan yang dimaksud Ayah sebagai kesayangannya? Tidak tahu. Aku tidak sempat melihat lukisan lain. Pikiranku kosong tadi—hanya tercenung lama sekali di depan lukisan Ayah. Indi mengajakku berkeliling, tapi pikiranku tak kembali.

Aku mendekati rak lukisan, dan menarik satu yang berada paling atas.

Di atas kanvas itu, tergambar dua ekor kelinci bertelinga terkulai. Yang satu—yang besar dan terlihat bagus—berbulu coklat, bercelana panjang, memakai topi seperti apel, dan memegang kuas. Kelinci yang lain—yang lebih kecil dan terlihat mengerikan—berwarna coklat pula, coklat yang terlalu tua. Warnanya tidak rapi di sana-sini. Gumpalan akrilik terlihat di mana-mana, tanda kuas tidak disapukan merata. Tetapi, tidak peduli bagaimana  rupanya, kelinci kecil itu tetap tersenyum.

Melihat lukisan itu, ingatanku terlempar jauh ke masa lalu.

Dulu ketika kecil, aku sering terbangun dengan sebuah kecupan di pipi. Ayah yang melakukannya, apabila beliau baru saja pulang setelah perjalanan jauh yang cukup lama. Kecupan itu terasa kasar dan menggelikan, disebabkan oleh kumis Ayah yang tidak dicukur beberapa waktu. Aku akan menjauhkan wajah Ayah karena kecupan itu sangat mengelitik. Namun Ayah tidak menyerah dan mengecupku berkali-kali, sehingga aku akan cekikikan kemudian bangun.

“Ayah, ayo melukis,” ujarku setiap kali Ayah pulang.

Ayah selalu menyanggupi ajakanku. Kemudian aku akan mengenakan kemeja hijau mungil yang penuh dengan noda cat. Bunda yang membuatkan kemeja itu untukku. Beliau tidak suka semua bajuku terkena cat.

Apabila matahari tidak terlalu terik, aku dan Ayah akan melukis di halaman belakang rumah. Di bawah pohon kelengkeng yang entah mengapa tak pernah berbuah. Aku akan duduk di pangkuan Ayah, sebab aku terlalu kecil untuk menggapai kanvas yang diletakkan pada easel milik Ayah.

“Kana mau melukis apa?” Ayah akan bertanya dari belakang bahuku.

“Mau melukis kelinci yang telinganya turun!”

Ayah kemudian akan menuangkan berbagai macam warna cat yang diperlukan untuk melukis kelinci bertelinga layu ke palet di tangannya. Seketika, bau cat akrilik yang tajam menyelubungi kami. Dan kami akan mewarnai kanvas tersebut bersama-sama.

*

Aku memegang sebuah palet. Cat akrilik berada di sisiku. Aku menemukan mereka di lemari kamarku, bersama dengan tumpukan buku cetak SMA. Untungnya, cat akrilik milikku ber-tube plastik, sehingga masih bisa dikeluarkan isinya meski sudah sekian tahun berlalu. Yah, meski kuakui aku tetap harus menyogoknya dengan paku.

Aku sedang mencoba mencampurkan cat sehingga menghasilkan warna pucat seperti yang Ayah lakukan pada lukisannya.

Aku mengambil warna navy blue dan broken white, menuangkannya di satu cekuk palet, dan mencampurnya dengan ujung kuas.

Bau tajam cat akrilik langsung memenuhi kamarku. Entah mengapa, mencium bau itu seperti mencium bau hujan setelah kemarau panjang. Menyenangkan, menenangkan. Membuatku kangen. Air mata menggenang di pelupuk mataku. Cepat-cepat kukedipkan mata, berulang kali, agar air mata itu tidak jatuh.

Kini, aku mengerti. Sebelum aku tahu bahwa cat akrilik tidak akan tercampur dengan baik, sebelum aku tahu bahwa cat akrilik sangat pekat, aku tidak menggunakannya karena cat ini selalu mengingatkanku pada Ayah.

Aku takut akan merindukan Ayah.

Read previous post:  
23
points
(1278 words) posted by anggitasekarl 7 years 41 weeks ago
57.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | keluarga
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer citapraaa
citapraaa at Kana (Part 3: Pameran) (7 years 37 weeks ago)
2550

pamerannya di deket monas bukan? (ga penting.)
masih kurang mengena perasaannya, seperti yg kk rasakan. pdhl cerita2 kk yg romance yg lalu itu manis... banget. hehe.

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 3: Pameran) (7 years 37 weeks ago)

Haha bukan, asal aja sih nyebut nama Museum Nasional. ((Soalnya di kota saya juga ada Museum Nasional)) Sebetulnya mau pakai latar Semarang, tapi nggak pernah ke sana. Makanya saya biarin aja kota asalnya Kana bias. Huahaha.
.
Makasih ya, sudah mau baca ^^ Saya senang sekali lhoo. Memang saya nggak pandai bikin cerita sedih, makanya bingung juga ini tokohnya galau-galau-kuat begitu (?????)
.
Makasih sekali lagi, citrapraaa :3 Kalau besok saya post lagi jangan sungkan-sungkan dicabein ^^

Writer rizkarizzramm
rizkarizzramm at Kana (Part 3: Pameran) (7 years 37 weeks ago)
30

saya suka cara menggambarkan lukisanya, mudah membayangkannya bahkan buat saya yang buta dunia lukis melukis..
saya tunggu cerita selanjutnya

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 3: Pameran) (7 years 37 weeks ago)

Terima kasih ya, sudah mampir membaca. Saya senang sekali ^^
Siap, saya tunggu kritik dan sarannya :)

Writer Alexis Iggy
Alexis Iggy at Kana (Part 3: Pameran) (7 years 37 weeks ago)
50

Ketinggalan poinnya, maaf.

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 3: Pameran) (7 years 37 weeks ago)

haha terima kasih ya, kritiknya. kalau bisa saya sekalian diberi keterangan harus bagaimana biar cerita ini lebih baik dan biar bisa 'lebih masuk dalam cerita', seperti kata Anda :3
.
saya juga merasa sih, penggambaran emosinya nggak maksimal. padahal harusnya ini titik balik keputusan Kana supaya mau memaafkan ayahnya lagi. cuma saya nggak paham musti gimana huft *nangis gerung-gerung di pojokan*
.
sebenernya ini bagian dari proyek menulis novel saya, sih. hahaha. masih draf satu yang kasar banget dan acakadut dimana-mana. kalau sudah selesai menulis sampai tamat rencananya akan saya edit ^^

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Kana (Part 3: Pameran) (7 years 37 weeks ago)

Hai, maaf ya membuat kalian menunggu lama.
((Kayak ada yang menunggu ceritamu saja -_-))
Sebetulnya, bagian ini sudah lama selesai. Cuma, ehm, berantakan banget. Penokohan dan pengutaraan emosinya, entah mengena atau tidak. Saya merasa part ini fail sekali -_- Tapi akhirnya saya putuskan untuk mengunggahnya. Siapa tahu teman-teman bisa membantu saya memperbaiki kesalahan saya :)

Writer Alexis Iggy
Alexis Iggy at Kana (Part 3: Pameran) (7 years 37 weeks ago)

Saya baca bagiana 2, dan memang di bagian 3 ini kurang pecah (Kalo kata komika). Saya jadi ingat Ayah saya hahaha. Agak kurang merasa masuk ke dalam ceritanya. Entah apa, tapi memang setelah baca saya bilang: Terus apa? Oh.