Shield-maiden Alerith (Verse II) - A Maiden in Solitude (Final Part)

Sore hariku kuhabiskan bersama Gillian. Kami berdua sekarang duduk di salah satu meja food court di area stasiun. Matahari yang mulai surut melapisi seluruh Ayodhya dengan warna jeruk kepruk.

Kalau harus memilih, menurutku warna itu memang yang paling cocok bagi kota ini. Atmosfir yang dibawakannya membaur dengan arsitektur-arsitektur tradisional yang memenuhi nyaris separuh isi kota.

“Wuaahh...! Wil, Wil, coba lihat ini. Dua lokomotif baru akan ditambahkan ke rute kereta komuter,” Gillian, yang tangan kanannya sedang memegang burger kentang dengan ekstra tomat dan mayonaise, menjulurkan ponselnya dengan tangan yang bebas ke depan hidungku.

Aku bisa lihat deretan tulisan memenuhi hampir seluruh layar. Di tempat yang tak ada tulisannya, ada sebuah boks kecil berisi gambar sebuah lokomotif diesel. Ini sebuah artikel.

“Kelihatannya kamu bisa bolak-balik dari rumah ke sekolah lebih mudah kalau begini.”

“Ck ck ck. Kamu tidak mengerti, Wil,” ucap Gillian sambil geleng-geleng kepala dan memegangi dahinya dengan ujung–ujung jari. “Ini mengingatkanku pada kejadian tertentu di kampung halamanku.”

“Kampung halamanmu?”

“Humh!” Gillian mengangguk kuat-kuat. “Saat itu siang hari terik, dan Tuan Jorge mendadak datang menggenggam tali tambang yang terikat di leher sepasang biri-biri.”

Aku terkikih. “Biri-biri? Dan bagaimana dua hal itu bisa berhubungan?”

“Aku belum selesai, Wil. Jadi begini, Tuan Jorge memberikan sepasang biri-biri itu kepada si penggembala yang bekerja di peternakannya. Penggembala itu kebanjiran rasa suka. Dia sangat menyayangi biri-biri yang sudah ada di peternakannya. Sepasang hewan gembala baru di lingkaran pagar kandangnya adalah hal paling baik yang bisa dibayangkannya hari itu.”

“.....” Aku bingung. Banyak yang ingin kukoreksi dari kalimat-kalimatnya, tapi kuurungkan niatku. “Jadi, kamu menggembala biri-biri di kampung halamanmu?”

“Buu-kan.”

“Aha! Tuan tanah itu ayahmu?”

“Wil, aku tidak menghabiskan masa kecilku mengaduk-aduk pupuk di pedesaan. Aku ini 100 persen anak kota. A-nak ko-ta!”

“Coba keraskan lagi suaramu. Di tempat ini kamu bisa jadi sasaran bullying berkat kalimatmu yang barusan.”

“Geh, pokoknya! Perasaanku sekarang ini bisa disandingkan dengan milik anak di cerita itu. Hauhp!” Gillian mengakhiri ceritanya dengan satu gigitan raksasa pada burgernya.

“Baik, baik. Aku dapat gambarannya. Jadi siapa si penggembala ini?”

“Hehehrorany nyaun khukhenay.”

“Seseorang yang kamu kenal?”

Gillian hanya bisa mengangguk. Rahangnya kini sedang bergulat sengit dengan potongan daging dan roti di mulutnya.

“Dasar. Gillian dan festishnya terhadap lokomotif.”

Foamer,” protesnya. “Burung dengan bulu yang sama berkumpul bersama’ kan?”

“Kalau begitu, siapa yang hinggap bersamamu?”

Dengan mulut yang kembali penuh dan kedua mata terpaku ke layar ponsel, Gillian mengarahkan telunjuknya padaku.

“U-ugh.” Aku tak punya pembelaan untuk menolak pernyataannya. Aku mungkin memang sama dengannya dalam kasus ini. Walau objeknya berbeda.

Gillian hanya membalas tatapan gugupku dengan senyuman lebar sebelum satu lagi gigitan besar kembali memenuhi rahangnya.

Aku baru saja mau melahap burger di tanganku yang baru berkurang sedikit, ketika Gillian mendadak menyita kembali perhatianku.

“Hil, haryhiha.”

“Hm?”

“Harryhiiha.” *glek!* “Charlissa!”

Aku memutar posisi dudukku, mencoba melihat ke arah yang Gillian tunjuk dengan sisa-sisa potongan burgernya. Yang jadi pusat perhatianku selanjutnya adalah pintu masuk stasiun yang berjubel. Disana. Ada wajah yang familiar.

Rambut panjang sepunggung, seragam sekolah yang sama dengan kami, tubuh yang lampai dan tinggi tegak. Di tengah kerumunan itu pun Charlissa terlihat mencolok. Semua berkat warna rambutnya yang berkilau keemasan dan mata azure-nya yang jernih.

Bediri di hall stasiun, Charlissa berulang kali menatap jam tangan mungil yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Aku tak bisa melihat jelas ekspresi wajahnya dari food court tempatku berada, namun dari gestur tubuhnya dia kelihatan tidak tenang.

Sedang apa dia disini? Siapa yang ditunggunya?

 “Tidak mau menyapanya, Wil? Dia itu teman satu kelasmu kan?”

“Iya, memang. Tapi kami tidak begitu dekat. Dan sepertinya dia sedang menunggu seseorang.”

“Hmm... ini tidak boleh. Ayo, kesana sekarang. Kita berdua.”

“H, hey! Kamu ini kenapa sih?” tegurku gusar, menarik lengan Gillian yang sudah separuh jalan mau meninggalkan mejanya. “Kamu salah makan ya barusan?”

Gillian menggaruk belakang kepalanya. “Habis... kalau aku harus memilih dari sekian  gadis yang cocok untukmu, aku akan ambil dia.”

“Ha?”

“Yaa... bagaimana, ya...?  Gadis bernama Charlissa itu seperti berasal dari tempat yang berbeda, ya?”

“Tempat yang berbeda? Hmm... Kalau hal itu aku bisa mengerti. Sedikit-sedikit. Dia memang kelihatan tidak membaur dengan orang-orang di sekitarnya.”

“Aha, itu dia! Aku tidak bicara tentang geografis di sini, gadis itu kelihatan lebih seperti seseorang dari komunitas sosial yang berbeda. Seorang bangsawan, mungkin. Seorang puteri! Atau putri dari seorang bangsawan.”

“Ehh... Anu...” Aku mulai khawatir dengan kemampuan menakjubkannya dalam menarik kesimpulan acak. “Ada argumen pendukung untuk hasil akhir analisismu?”

“Berpikir impulsif.”

“.....”

“Yaahh... sekali-kali kamu coba lepaskan rem di kepalamu dan biarkan pikiranmu jalan bebas.”

“Itu bukannya sama saja dengan tidak berpikir sama sekali?”

Gillian mengangguk. “Seperti yang kuharapkan dari Wildan-sama.”

“Kamu jangan bangga dong. Dan sejak kapan kita jadi di Jepang?”

“Kalau kita mengandai-andai, dan dia benar-benar seorang putri bangsawan, pasti Charlissa butuh seorang ksatria yang bisa mendampinginya kan? Aku tidak melihat ada satupun yang sedang mengawalnya.”

“Dan kesimpulan Professor Gillian adalah...”

Gillian menepuk punggungku sambil berdesis, “Ayo. Maju sana. Maju.”

Aku kehabisan kalimat balasan. Tapi itu bukan hal yang harus kukhawatirkan lagi karena seseorang yang sejak tadi Charlissa tunggu baru saja keluar dari pintu lobby stasiun.

Menarik sebuah koper yang nyaris seukuran tubuhnya sendiri, sosok itu menghampiri tempat dimana Charlissa berdiri. Aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya yang sebagian tertutup oleh rambut pendek warna gelapnya. Tapi dari mantel bulu putih, syal dan skinny jeans yang dikenakannya, serta caranya berjalan, aku bisa pastikan kalau dia perempuan. Mungkin seumuran dengan Charlissa.

“Bukannya pakaian itu terlalu panas untuk iklim disini?” ujar Gillian. “Turis?”

“Bisa jadi,” jawabku sekenanya. Aku belum bisa melepaskan pandanganku dari kedua sosok yang sedang saling berhadapan di depan pintu masuk stasiun itu. “Tapi... naik kereta?”

Tak satupun dari keduanya membuka mulut selama nyaris lima detik penuh. Gadis berambut pendek itu lah yang akhirnya memberi salam pertama kali. Ia letakkan koper yang dibawanya, sebelum menegakkan posisi berdirinya.

Nyaris. Aku nyaris yakin sepenuhnya kalau gadis itu baru saja bermaksud untuk merendahkan posisi tubuhnya. Tapi itu tak terjadi, karena Charlissa buru-buru menahan dan memintanya untuk kembali berdiri di atas kedua kakinya. Aku tak tahu apa yang baru saja ingin dilakukan oleh gadis itu, tapi Charlissa kelihatan tidak senang.

Keduanya kini saling berbicara layaknya orang yang lama tak bertemu. Namun begitu, mereka tak terlihat akrab. Rasanya ada jarak yang memisahkan Charlissa dengan gadis di hadapannya itu. Aku tak mengerti bagaimana, tapi kesan itulah yang kudapatkan dari memata-matai keduanya.

Dan sampai sini aku pun sadar hal apa yang sedang diriku dan Gillian lakukan.

“Ngg... Gil, mungkin lebih baik kalau kita tinggalkan keduanya dengan urusan mereka sendiri,” ucapku sambil mengembalikan posisi dudukku ke semula. Membelakangi pintu stasiun.

Aku tak suka ini. Aku merasa seperti baru saja melihat sesuatu yang tak sepantasnya kulihat.

“Setuju. Sepertinya itu cuma pertemuan biasa. Tapi aneh, ya.”

“Aneh bagaimana?”

“Ah, tidak, tidak. Aku bisa saja salah.”

Aku cuma angkat bahu sebelum membenamkan gigi-gigiku ke permukaan burger yang mulai dingin.

“Uwaaahhh...” ratap Gillian.

Aku tak tahan untuk tak ikut melihat kemana arah pandangnya tertuju.

Dan di sana, Charlissa berhadapan dengan gadis itu, masih di tempat yang sama. Dari gerak tubuh dan ekspresi yang samar-samar kutangkap, aku bisa mengerti.

Keduanya sedang bertengkar.

Gadis berambut pendek yang belum lama datang itu mengulurkan sebelah telapak tangannya ke depan. Namun Charlissa justru mundur kebelakang, tak suka dengan apa yang dilihatnya. Dari gerak bibir dan kepalanya yang terus menggeleng, Charlissa terlihat sangat terganggu dengan hal ini. Tapi gadis dihadapannya itu bahkan tak mau repot-repot menarik tangannya kembali.

Sekali dua kali Charlissa menoleh ke sekitarnya, mungkin memastikan kalau tak ada orang yang mengenalinya disini. Hal itu memberi efek padaku dan Gillian untuk spontan beranjak dari bangku yang kami duduki dan mengambil tempat berlindung di bawah meja.

“K, kenapa aku jadi merasa seperti baru saja melempar harga diriku sendiri ke dasar jurang?”

“Anggap saja kita melakukan ini demi menyelamatkan miliknya Charlissa.” Gillian berkata demikian dan lanjut mengintip dari ujung meja.

“Apa-apaan aku ini, kan aku tidak perlu sembunyi juga,” rintihku sesal sambil memijat dahi.

“Hehe, bersikap wajar deh,” ujar Gillian separuh bercanda.

Kami berhasil mengontrol diri dan kembali ke atas bangku. Sebisa mungkin aku duduk dengan wajar sambil memunguti puing-puing kehormatanku yang masih tersisa.

“Kelihatannya mereka mulai dingin,” lanjut Gillian. Aku pun mencuri pandang ke arah keduanya berada.

Charlissa yang kelihatannya menyerah lebih dulu, menurunkan bahunya dan menghela nafas lelah. Ragu-ragu, dia mengulurkan tangankanannya kedepan. Dan-

“What the...” celetukan Gillian mewakili isi hati kami berdua.

Aku tak bisa melihat wajah Charlissa yang sekarang tertunduk kaku.

Jari-jemari kedua gadis itu bertemu, keduanya saling genggam.

Gadis berambut pendek itu pun kelihatan senang dengan hasil akhir argumen mereka. Dengan ceria diraihnya koper yang dari tadi hanya menyaksikan keduanya dengan bisu. Dan tanpa satupun dari keduanya mengucapkan satu kata pun, Charissa menggandeng tangan gadis itu meninggalkan stasiun.

Di detik-detik akhir aku bisa menangkap wajah keduanya... merona kemerahan.

.....

“Ini terlalu berat bahkan untukku,” Gillian, merosot di tempatnya duduk berkata pada dirinya sendiri. Sebelah tangannya meraih permukaan dada dimana jantungnya bersemayam. Wajahnya memerah. “Barusan aku... Apa menurutmu mereka berdua-”

Stop, Gil. Jangan dibahas.”

Read previous post:  
14
points
(1651 words) posted by Blood_Raven 6 years 34 weeks ago
46.6667
Tags: Cerita | Novel | fantasi | fantasi | fantasy | fiksi | slice of life | valerie
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Seimbang antara narasi dan dialog, bukan dalam artian proporsi tapi penggambaran; jadi dialog dapet, narasi juga dapet.

Thanks. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. :D