Pintu

Kalau hidup ibarat sebuah gedung, kami berada di ruang yang bersebelahan. Kami berada di gedung yang sama karena ada banyak kemiripan di antara kami berdua, tapi ruangan yang berbeda karena kisah kami berbeda. Kedua ruangan ini terhubung oleh sebuah pintu yang hanya bisa dibuka olehku. Dia bahkan tidak tahu pintu ada sampai aku secara tidak langsung memberitahunya beberapa hari yang lalu. Yang pasti dinding yang memisahkan kami tidak kedap suara. Aku tahu pasti karena aku bisa mendengar suaranya dari sini. Suaranya tidak terdengar jelas, tapi cukup untuk membuatku penasaran setengah mati.

Aku ingin bisa masuk ke dalam kehidupannya, mendengar dengan jelas apa yang dia katakan, melihat dunia yang dia lihat, menjadi bagian dari kisahnya. Yang perlu kulakukan hanyalah membuka pintu, tapi aku takut… Bagaimana reaksinya nanti?

Kalau saja dia belum tahu akan keberadaan pintu itu, mungkin dia akan terkejut. Aku mungkin bisa memanfaatkan hal itu untuk masuk sebentar. Mungkin dia akan merasa terganggu akan keberadaanku dan memintaku keluar. Mungkin juga isi ruangannya tidak seindah yang kuharapkan hingga aku sendiri yang ingin keluar. Itu bukan masalah. Kenyataannya lebih dari separuh pasangan yang jadian di bangku kuliah putus di tengah jalan.

Masalahnya sekarang dia sudah sadar akan keberadaan pintu itu. Aku takut. Pasti akan sakit sekali jika dia membanting pintu itu di hadapanku.

Kok pintunya dibuka?!” mungkin dia akan berujar seperti itu dengan nada kesal. Sejak dia tidak sengaja mendengar bahwa aku pernah suka padanya, dia agak menghindariku. Jelas itu pertanda bahwa dia tidak ingin aku masuk lebih jauh dalam hidupnya.

Dan kalaupun dia mengizinkanku masuk, apa yang akan kami lakukan setelahnya? Aku sering berandai-andai punya pacar, tapi setelah dipikir-pikir aku sama sekali tidak paham fungsinya selain sekedar upgrade status. Ada yang bilang pasangan itu lebih saling perhatian, tapi aku juga perhatian pada teman-temanku. Kalau ternyata tak ada bedanya berteman dan pacaran, aku tidak ingin mengambil risiko dengan mengejar dia.

Menurut sebagian orang, itu adalah alasan untuk orang yang pengecut. Aku tidak ingin jadi pengecut.

“Ada yang pengen gue tanyain,” itulah bunyi pesan yang kukirim padanya lewat f*cebook. Aku sudah hampir tidak pernah melihatnya di kampus, jauh lebih mudah mencarinya via internet.

…Sebenarnya ini cuma alasan. Aku memang bilang tidak ingin jadi pengecut, tapi aku bisa jauh lebih tenang jika tahu aku bisa mundur kapan saja. Kalau dia tidak membalas—aku delapan puluh persen yakin dia tidak akan membalas—aku bisa menyerah dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

“Ya?”

Dugaanku meleset. Balasannya langsung muncul.

I just don’t want to be a coward, so…”

Tidak. Aku harus mencari kalimat lain.

“Lo tahu gue suka sama…”

Tidak. Terlalu straightforward.

“Menurut lo pacaran itu ngapain?”

Dia belum menjawab, tapi tampaknya dia sedang mengetik sesuatu. Nafasku tertahan, menunggu.

Titik-titik yang menandakan dia sedang mengetik muncul dan hilang beberapa kali. Apa dia juga ragu menyusun kata-kata sepertiku tadi?

“Memangnya kenapa?”

Jawabannya sudah muncul. Aku menelan ludah dan menarik nafas panjang. Aku bersyukur aku tidak memutuskan untuk bicara langsung. Tanpa tatap muka saja jantungku sudah berdebar begini kencang.

Aku kembali menghela nafas. Setelah ini aku harus mengetik sesuatu yang benar-benar memalukan.

“Lo tahu gue suka sama lo, I know the feeling is not mutual
Gue merasa mestinya gue sedikit usaha, tapi setelah dipikir-pikir, buat apa?”

Aku tidak yakin aku sanggup bisa melanjutkan pesanku, tapi sudah kepalang tanggung.

“Gue gak ngerti pacaran itu ngapain, why waste the effort?
Mungkin lo prefer gue ga ngejar juga sih, :p. Tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal buat gue.”

...

“Jawaban lo bakal sangat membantu.
I value friends over romance, so no hard feeling.”

Apa sih yang kuketik dari tadi?

Sedetik. Dua detik.

Dia menjawab!

“Pacaran itu…”

Delay  lagi.

“Gini. Anggaplah hidup itu ibarat gedung.”

Hah?

“Lalu ada dua orang di ruangan bersebelahan, dipisahkan oleh satu pintu.
Pacaran itu ketika pintu itu dibuka, lalu dua orang ini melihat ruangan milik satu sama lain.”

Aku tahu kami punya kemiripan, tapi aku tidak menyangka dia akan menggunakan metafor yang sama.

 “Terus?” aku lanjut bertanya. Belum sampai lima detik, jawabannya sudah muncul.

“Terus mereka mutusin buat keluar dari gedung itu dan pergi keliling dunia.
Jir, gue ngomong apaan :v.”

Aku tertawa. Sial. Aku jadi makin tidak rela melepaskannya.

“…Hei.”

Ya ampun, aku hampir lupa mengirim pesan balasan.

“Makasih jawabannya.”

“Err… Lo ngerti kan ya maksud gue?” kali ini giliran dia yang bertanya.

Kinda.”

“Jadi…”

Aku menelan ludah. Menunggu entah apa yang ingin dia katakan.

“Pintunya boleh gue buka?”

***

Kalau hidup ibarat sebuah gedung, kami dulu berada di ruang yang bersebelahan. Kedua ruangan ini terhubung oleh sebuah pintu. Aku ingin membuka pintu itu, tapi aku takut dia akan membantingnya di depan hidungku. Tapi aku memberanikan diri untuk mengetuk. Dia balik mengetuk pintu itu dari sisinya.

Ketukannya memberiku keberanian. Lalu kami membuka pintu itu bersamaan.

Aku mengintip ke ruangannya dan dia melihat ruanganku sejenak. Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan gedung dan pergi keliling dunia.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Aninsane
Aninsane at Pintu (4 years 33 weeks ago)
100

ah sialll... gw baca ini jadi baper, wkwkwk
bagus sekali perumpamaannya! cocok, sumpah. belum lagi cara nembak dan jawaban yang tidak biasa, yang juga berkaitan erat dengan perumpamannya. I like it

Writer azura_caelestis
azura_caelestis at Pintu (5 years 34 weeks ago)
90

Ceritanya menarik banget. Dan saya suka sekali dengan metafora pintunya. Luar biasa brilian. Haha! Kalau dilihat dari sudut pandang yang lain, saya bisa bilang kalau ide cerita ini klise, tentang cinta yang sulit diungkapkan, tapi kalau dibaca dengan gaya yang seperti ini, pembaca jadi ikut jungkir balik dan senyum-senyum.

Tapi, saya menemukan kalimat yang agak ganjil di sini: Dia bahkan tidak tahu ipintu ada sampai aku secara tidak langsung memberitahunya beberapa hari yang lalu.

Mungkin kehilangan kata "kalau"? Kalau enggak ada "kalau" agak aneh sih pas dibacanya.

Overall, cerita ini bikin saya senyam-senyum dari awal sampai akhir cerita. Loved.

Writer 2rfp
2rfp at Pintu (5 years 34 weeks ago)
80

bagus, keren, apalah ya kata yang tepat, asik kali ya. hahaha

Writer nusantara
nusantara at Pintu (5 years 34 weeks ago)
80

blm bisa komen apalagi kritikan

Writer vava44
vava44 at Pintu (5 years 34 weeks ago)

cerita ini cocok banget untuk mengahayal tingkat tinggi hehehe

______________________________________________________________
Jual Lingerie Murah | Jual Baju Murah

Writer Shikamaru
Shikamaru at Pintu (5 years 34 weeks ago)
80

Tukang pintu ya gan? hahaha... Saya tidak tahu bagiamana cara mengomentari sebuah cerita jadi saya cuma kasih nilai ya gan. Nice story...

Writer terong_ungu
terong_ungu at Pintu (5 years 34 weeks ago)
90

Suka, rapih banget. Kecepatan ceritanya juga enak, gak terlalu cepat atau terlalu lambat. :3