GENG MOTOR

GENG MOTOR

 

            Bangunan itu adalah sebuah rumah yang besar, remang-remang dan suram. Bekas kebakaran hebat yang dulu pernah terjadi padanya masih jelas terlihat. Bahkan ada sebagian orang yang mengaku masih mendengar teriakan minta tolong para korban di dinding-dinding temboknya yang berjelaga. Namun bukan itu yang membuat orang-orang takut untuk lewat di sekitar bangunan itu. Mereka takut pada sesuatu yang lebih nyata dan lebih menakutkan: sekelompok geng motor yang bermarkas di situ.

            Hari itu hari sabtu malam, kembali terdengar seseorang yang meminta tolong. Namun yang meminta pertolongan saat itu bukanlah sosok hantu korban kebakaran, melainkan seorang wanita berumur belasan tahun yang merintih minta tolong kepada kekasihnya.  Wanita itu menangis, setengah telanjang dan terus meminta tolong kepada kekasihnya. Namun kekasihnya tak bisa berbuat apa-apa, sudah menjadi keharusan bahwa seluruh wanita yang ingin memasuki geng motor mereka harus memuaskan seluruh anggota geng.

            “Tolong aku Randy... Aku tak mau disentuh oleh orang lain selain dirimu...” Wanita itu kembali memohon. Dibelakangnya pria berumur sekitar tiga puluhan, berbadan bongsor dan berambut cepak ala tentara tersenyum menjijikkan. Celananya telah dia lepas dan menunjukkan kemaluannya.

            Ada lebih dari dua puluh pria yang berada di tempat itu, sebagian besar merupakan remaja berumur belasan tahun. Tak ada satupun yang memiliki tanda-tanda akan menolong wanita itu. Mereka hanya tertawa, menunggu giliran sambil mengisap lem aibon, merokok, mengisap ganja atau menenggek minuman keras. Bahkan ada beberapa yang tanpa malu-malu sedang melakukan hubungan seks dengan teman wanita geng motor mereka yang hanya berjumlah lima orang. Wanita-wanita itu terlihat masih sangat muda, mabok dan liar.

            Mereka semua sangat menikmati kemaksiatan mereka tapi tanpa mereka sadari, di atas rangka plafon tergelap terdapat seorang pria berbadan kurus namun kekar. Rambutnya hitam berantakan, sangat cocok dengan wajahnya yang liar dan kulitnya yang hitam. Dia benar-benar tampak seperti kucing liar yang lapar. Tanpa bergerak, pria itu terus mengawasi mereka yang ada di bawahnya. Menunggu saat yang tepat untuk memutuskan beberapa anggota tubuh mereka. Bisa saja dia melakukannya sekarang namun dia mau mambuat wanita yang sedang minta tolong itu menyadari mengapa orang tuanya melarang dia untuk keluar pada larut malam.

            Dan benar saja, wanita itu sekarang sudah benar-benar telanjang. Pria berbadan bongsor itu telah menindih tubuhnya. Menjamah apapun yang bisa dijamah tangannya dan mulutnya seakan mau melumat seluruh wajah wanita itu. Merasa puas, pria itu ingin bertindak lebih jauh lagi tapi disaat yang bersamaan seseorang menjerit.

            Sontak saja mereka semua berbalik ke asal suara itu. Di sana berdiri pria yang sedari tadi memperhatikan mereka. Katana (pedang bermata satu khas samurai jepang) pria itu bersimbah darah, di depannya tergeletak sebuah tubuh dan sebuah kepala yang telah terpisah. Bau anyir darah membuat para anggota geng motor itu bergidik. Namun mereka tahu kalau mereka lebih banyak, mereka tak akan kalah.

            “Sial. Bunuh dia!” perintah pria bongsor itu, masih telanjang namun cepat-cepat meraih goloknya.

            Tanpa diperintah dua kali, tiga orang terdekat dari pria ber-katana itu menyerangnya bersamaan dari arah samping kiri, depan dan belakang namun di tempat yang sama: leher. Pria ber-katana itu tersenyum, gerakan mereka mudah sekali terbaca dan terlihat lambat. Dia hanya perlu menunduk sambil menebas dengan gaya memutar. Alhasil, ketiga pria itu masing-masing kelilangan satu kaki. Serempak, mereka bertiga meraung kesakitan, terjatuh dan memegangi kaki mereka yang putus, berharap pendarahnnya bisa berhenti.

            Dua orang lagi berada di jarak yang memungkinkan mereka menebas pria ber-katana itu. Namun baru saja mengangkat lengan berniat menebas, sebuah logam dingin sudah menembus lengan mereka, meninggalkan rasa perih yang menyiksa. Dua lagi menyusul teman mereka, ekspresi pria ber-katana itu semakin menakutkan, senyum keji samar-samar tersungging di bibirnya. Dia sangat menikmati apa yang dia lakukan, memotong-motong tubuh lawannya bagaikan sepotong keju. Pakaiannya yang berbentuk aneh sudah basah oleh keringat dan darah. Bau anyir darahpun sudah sangat memuakkan namun hal itu tak mempengaruhinya sama sekali.

            Setelah sudah memotong tujuh tubuh, para anggota geng motor itu berhenti menyerang, mereka seakan menebak-nebak apakah sosok yang mereka lawan itu benar-benar manusia atau hantu penunggu rumah terbakar itu. Nafas mereka memburu dan gemetaran, keringatpun sudah bercucuran tak terkendali. Namun pria berbadan bongsor itu masih terlihat tegar. Dia mengganti goloknya dengan pistol dan dengan senyum kemnangan dia menembak pria ber-katana itu.

            Peluru pertama meleset, dia pikir itu sebuah keberuntungan namun tanpa dia ketahui pria ber-katana itulah yang menghindari pelurunya. Peluru kedua kembali meleset, bersamaan dengan melesatnya pria ber-katana itu ke arahnya. Peluru ketiga dia yakin tak akan meleset sebab sasarannya sangat dekat, hanya berjarak tiga meter. Namun apa yang terjadi kemudian membuatnya terganga seperti hendak meneriakkan sesuatu tapi terhenti; pria ber-katana itu membelokkan peluru dengan katannya dan hanya dengan jeda beberapa detik saja dia itu sudah ada di belakangnya, mengiris perutnya sehingga memuntahkan darah, usus dan beberapa organ dalam. Dia pun roboh merenggang nyawa.

            Melihat itu, beberapa anggota geng motor yang tersisa melarikan diri, beberapa malah bersimpuh meminta maaf. Namun pria ber-katana itu bukanlah pemaaf yang baik. Lagipula dia dan temannya dulupun meminta maaf tapi yang mereka dapat malah hal-hal mengerikan. Sekarang mereka harus membayarnya, mereka harus merasakan apa yang dia rasakan. Dengan senyum keji dia menebas leher orang yang bersimpuh paling dekat dengannya. Yang lain sontak lari sambil meminta tolong. Pria ber-katana itu membuat mereka berlari agak jauh kemudian mengejar. Tak sulit untuk menyusul mereka, memotong kaki-kaki mereka agar terjatuh kemudian menyeret mereka untuk didekatkan ke temannya yang lain. Pria ber-katana itu kemudian menggorok mereka satu persatu, menikmati tatapan kosong putus asa dari mereka yang menunggu giliran untuk manghadapi maut. Kemudian akhirnya suasana kembali tenang. Hanya terisisa anggota geng wanita yang kaku karena ketakutan dan wanita yang tengah menangisi mayat pacanya.

“Kau kejam! Mengapa kau tidak membunuhku juga, aku tidak bisa hidup tanpanya.” Caci wanita itu. Pria ber-katana itu hanya tersenyum. Tentu saja saya kejam, tapi aku tak mengerti kenapa dia masih meratapi kematian pria yang hampir membuatnya menjadi budak seks. Kau beruntung Rhetz, kau sudah berada di tempat yang lebih baik dari dunia busuk ini. Batin pria ber-katana itu sabil menghilang di kegelapan.

            Keesokan harinya rumah yang terbakar itu dikelilingi garis polisi. Beberapa mayat yang telah terpotong-potong telah dimasukkan ke dalam kantong mayat, darahpun sebagian telah dibersihkan namun bau anyirnya masih pekat tercium. Beberapa warga yang berada di tempat kejadian itu membuat spekulasi sendiri tentang pembunuhan sadis itu. Hampir sebagian besar meyakini kalau mereka terbunuh oleh hantu penunggu gedung itu.

            Satu persatu warga dan polisi semakin mengerumuni tempat itu. Diantara mereka, terdapat Detektif Keeil. Pria berbadan tinggi besar dan berambut abu-abu panjang itu sedang melihat-lihat daerah TKP. Dia terlihat sedikit kesal.

            “Apakah mereka geng Xtasy?” Salah satu polisi mendekat sambil bertanya kepadanya.

            “Bukan. Mereka hanyalah geng motor kecil bernama MRC. Namun mereka juga sudah mulai meresahkan, sudah melai melakukan perampokan dan penganiayaan.” Keeil menyulut sebatang rokok dan menawarkan ke polisi di sebelahnya. “Walau begitu, tak ada siapapun yang pantas diperlakukan sekejam ini. Siapapun yang melakukan ini harus mempertanggung jawabkannya.”

            “Sangat berbeda dari caramu menangani penjahat, huh?” Kata Polisi yang disebelahnya.

            “Aku hanya melakukan apa yang seorang Polisi harus lakukan.”

            Tak lama kemudian HP Keeil berbunyi. Dia segera menjawabnya kemudian mengulang kata “siap” beberapa kali.

            Temannya yang penasaran segera bertanya ketika dia mengembalikan HP-nya ke dalam saku, “Siapa?” tanya temannya.

            “Komandan Verno. Dia memintaku segera kembali ke markas pusat. Sepertinya dia mendapatkan informaasi kegiatan geng Xtacy. Aku harus pergi. Tolong beritahu aku kalau ada hal yang penting”

            Temannya hanya mengangguk kecil. Keeil kemudian bergegas pergi meninggalkan TKP yang semakin padat walaupun hari sudah semakin panas. Beberapa wartawan berusaha untuk mewawancarainya namun dia tolak sambil berdesak-desakan menuju mobil sedannya yang terparkir agak jauh.

            Diperjalannan pikirannya terus membayangkang kondisi mayat yang dia lihat tadi. Sudah dua kali kejadian serupa terjadi, sepertinya dilakukan oleh orang yang sama dan seluruh saksi mata di dua kejadian itu mengatakan kalau pelakunya seorang remaja berbadan kurus. Tentu saja pernyataan mereka sedikit meragukan mengingat mereka sedang dalam pengaruh obat-obatan saat kejadian itu berlangsung. Namun pada kejadian semalan, salah satu saksi mata dalam keadaan sangat sadar juga mengungkapkan hal yang sama. Sangat tak masuk diakal, seorang remaja kurus seorang diri bisa menghabisi orang sebanyak itu. Dia menarik nafas dalam-dalam. Sekarang dia bukan hanya menghadapi para geng motor yang samakin brutal, kini dia juga menghadapi seorang psikopat sadis.

            “Sial!” Keeil mengumpat sambil mengerem mobilnya karena sesorang melintas tiba-tiba.

            Di seberang jalan seorang wanita paruh baya berdandanan menor sedang berteriak-teriak panik sambil menunjuk orang yang baru saja melintas. Insting Keeil menyatakan kalau itu adalah pencopetan. Dan benar saja, begitu Keeil keluar dari mobil, baru terdengar kalau wanita itu menriakkan kata “copet.” Namun seperti biasa, tak ada yang mengejar, para warga tak berani mengambil resiko untuk terlibat dalam sebuah masalah apapun. Pengecut namun begitulah cara terbaik untuk menjalani hidup saat ini.

            Akhirnya, hanya Keeil yang mengejar, berkelok-kelok pada cela-cela bangunan yang lembab dan gelap. Sesekali melompati tong-tong sampah dan pagar kawat. Untung saja pencopetnya tidak terlalu cepat sehingga Keeil mampu menyusul. Hanya saja, saat tiba di tikungan terakhir, Keeil sadar kalau dia bukanlah berhasil menyusul. Rupanya pencopet itu pura-pura tersusul agar bisa memancingnya ke tempat teman-temannya. Yah, di tikungan terakhir yang merupakan jalan buntu itu terdapat enam orang pria berbadan kekar. Salah satu dari mereka yang tengah memainkan pisau kecil dan memiliki bekas luka di pipi berjalan lebih dekat ke arah Keeil. “Wah wah wah... Rupanya ada seekor anjing pemerintah yang tersesat.” Cemoh pria itu sambil meludah.

            Sekali lagi Keeil menarik nafas panjang, “Betapa sialnya saya hari ini.” Katanya sambil melepas kancing kemeja teratasnya, “Jadi siapa dari kalian yang ingin menyesal lebih dulu?”

 

BERSAMBUNG...

Read previous post:  
Read next post:  
Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at GENG MOTOR (6 years 51 weeks ago)
90

ini 18+, iya delapan-belas-plus, tapi kok aku baca ya? *waks* XD aaa.. rasanya lucu aja, biasanya kan buat cerita komedi, malah jadi serius gini >w< tapi feel-nya dapet kok, seriusan~ >w<

Writer Shikamaru
Shikamaru at GENG MOTOR (6 years 50 weeks ago)

Klu blum cukup umur jangan dibaca, haram... haram... Gyahahahaha... Iya ni, lagi mencoba membuat cerita yang begini. Btw, makasih dah komen. Gyahahaha...

Writer 2rfp
2rfp at GENG MOTOR (6 years 51 weeks ago)
80

mantan anggota aktif kayaknya yang buat cerita.
keseluruhan ceritanya bagus, kalo ada lanjutannya pasti kamu udah siap julukan buat remaja tokoh utama itu hahaha

Writer Shikamaru
Shikamaru at GENG MOTOR (6 years 51 weeks ago)

Kok semuanya mengira saya anggota geng motor ya? Btw, makasih dah komen...

Writer nusantara
nusantara at GENG MOTOR (6 years 51 weeks ago)
80

blm bisa komen apalagi kritikan

Writer Shikamaru
Shikamaru at GENG MOTOR (6 years 51 weeks ago)

Setidaknya bisa meninggalkan jejak. hehehe... Makasih ah mampir...

Writer vava44
vava44 at GENG MOTOR (6 years 51 weeks ago)

Pasti yang bikin cerita ini salah satu anggota geng motor, iya kan ? hehehe

______________________________________________________________
Harga Lingerie Murah | Supplier Baju Murah

Writer Shikamaru
Shikamaru at GENG MOTOR (6 years 51 weeks ago)

Bukanlah... Btw, makasih dah mampir...