Biskuit Cokelat yang Istimewa

                Namaku Dea. Aku seorang anak perempuan yang kurang suka memasak, namun suka memainkan game memasak di komputer. Aku memakai kerudung dalam kehidupanku sehari-hari. Untuk usiaku yang hampir menginjak 18 tahun, kakakku, Kak Sita, sangat merasa heran denganku mengapa aku sampai sekarang masih susah bila memasak. Aku masih suka menjerit ketika minyak panas mengenai tanganku, aku sering sekali membuat makanan menjadi gosong, dan pernah membuat kue tetapi hasilnya tidak rata matangnya. Aku dan kakakku berbeda tujuh tahun. Saat ini usiaku 17 tahun namun aku masih belum bisa memasak adalah suatu hal yang sangat memalukan. Kak Sita sangat suka memasak, biasanya selalu menemaniku belajar memasak. Kak Sita dan aku memiliki tinggi yang hampir sama,namun tergolong pendek. Kak Sita tidak memakai kerudung, rambutnya panjang sebahu.

            Hari ini hari Minggu. Aku sedang main game memasak di komputer. Kali ini, tentang memasak biskuit cokelat. Namun, aku yang biasa memasak di komputer, hari ini merasakan ingin membuatnya sendiri. Beruntung, aku menemukan tombol yang berisi resep biskuit cokelat dalam game tersebut. Maka aku segera membukanya, dan mencatat resepnya.

            Aku menuju ke dapur, melihat apakah bahan-bahan yang diperlukan ada di dapur. Aku akan membuat tiga porsi, maka bahan-bahan di resep aku kalikan dengan tiga. Aku membutuhkan 450 gram margarin, 450 gram gula halus, enam kuning telur, 525 gram tepung terigu, 30 gram cocoa (cokelat bubuk), 75 gram tepung maizena. Aku segera mempersiapkan bahan, dan juga alat-alat yang kubutuhkan seperti timbangan, mixer, blender, oven, loyang, wadah beberapa buah, sendok beberapa buah, penggilas adonan, dan kuas untuk mengoleskan margarin.

            Ketika aku sedang membawa bahan-bahan dan alat-alat ke dekat ruang makan, karena di sana terdapat stop kontak untuk menancapkan steker alat-alat masak, kakak laki-lakiku, Kak Bram, berbicara sambil menertawakanku.

“Kamu mau masak, Dea? Mau masak apa? Awas ya kalau gosong. Kamu kan kalau memasak suka gosong hasilnya. Hahaha,”

            Kak Bram memiliki tinggi yang berbeda jauh denganku, sehingga kalau aku berbicara dengan kakakku yang ini, aku harus selalu menengadahkan kepalaku terus. Kak Bram memiliki beda lima tahun denganku. Rambutnya panjang sebahu seperti perempuan, namun rapi.

            “Iya, aku mau memasak, kak. Aku mau membuat biskuit cokelat. Tenang saja, kali ini aku tidak memakai wajan, tidak akan terkena minyak panas dan aku jamin tidak akan gosong hasilnya nanti,” jawabku meski aku tidak terlalu yakin akan hasilnya gosong atau tidak.

            “Ya sudah, kakak pergi dulu, nanti kalau sudah jadi, panggil kakak, ya! Kakak ingin mencoba biskuit buatanmu,” kata Kak Bram lalu pergi begitu saja.

            “Siap, kak!” jawabku sambil berteriak, entah Kak Bram mendengar jawabanku atau tidak.

            Aku melanjutkan pekerjaanku. Aku membaca resep. Aku melakukan persiapan dahulu. Menimbang bahan-bahan di timbangan khusus untuk bahan makanan, lalu menaruh bahan-bahan tersebut dalam wadah yang berbeda, lalu aku memblender gula pasir agar menjadi gula halus. Ketika aku sedang memblender gula pasir, datanglah Kak Sita.

            “Wah, Dea mau membuat kue, ya? Mau kakak bantu, tidak?”

            “Dea mau membuat biskuit cokelat, kak. Nanti saja, kak. Kalau Dea tidak mengerti, nanti Dea bertanya pada kakak,”

            “Oke, selamat membuat biskuitnya. Semoga berhasil,”

            “Terima kasih, Kak Sita,”

            Aku melanjutkan memblender gula pasir. Setelah gula pasir itu menjadi gula halus, aku memecahkan telur dan memisahkan kuning dari putihnya, juga menaruh di wadah yang berbeda. Aku membaca resep.

            “Langkah pertama, kocoklah margarin dan gula halus!”

            Aku menuangkan margarin dan gula halus pada sebuah baskom yang besar, lalu menancapkan steker mixer pada stop kontak dan mulai mengocok.

            “Kak Sita, Dea mau bertanya. Kalau mengocok margarin dan gula halus hingga seperti apa?”

            “Kocoklah sampai gula halusnya bercampur dengan margarin hingga rata,”

            “Terima kasih, Kak Sita”

            “Sama-sama,”

            Aku melanjutkan mengocok dan membaca resep lagi.

            “Langkah kedua. Sambil mengocok margarin dan gula halus, masukkan kuning telur satu persatu, kocok hingga adonan mengembang,”

            Aku memegang mixer dengan tangan kiri, karena aku memegang wadah kuning telur dan memasukkan kuning telur satu persatu, namun aku tak tahu mengembang itu seperti apa. Aku bertanya lagi pada Kak Sita.

            “Kak Sita, adonan mengembang itu bagaimana? Dea tak mengerti,”

            “Kau lihat saja sambil mengocok, apakah adonan yang kau kocok itu semakin lama dikocok semakin naik atau tidak. Bila semakin naik, itu berarti adonanmu mengembang,”

            Segera aku melakukan apa yang telah diberi tahu oleh Kak Sita. Dan beberapa menit kemudian, adonan biskuitku mengembang. Setelah itu, aku mematikan mixer dan membaca resep lagi.

            “Langkah ketiga, campurlah tepung terigu dan cokelat bubuk, lalu masukkan campuran terigu, tepung maizena ke adonan margarin, aduklah dengan sendok besar, dan setelah jadi adonannya, gilaslah dengan penggilas adonan hingga memiliki tebal setengah cm dan bentuk adonan sesuka hati”

            Aku segera mencampur tepung terigu dan cokelat bubuk dengan sendok makan, setelah itu aku memasukkannya ke adonan margarin, juga memasukkan tepung maizena ke dalamnya, lalu mengaduknya dengan sendok plastik yang besar. Setelah jadi adonannya, aku mengambil penggilas adonan dan mulai menggilas adonan hingga memiliki tebal setengah cm. Aku mulai mengambil adonan sekepal tanganku. Membentuknya menjadi bulat. Begitu seterusnya, namun tanganku mulai pegal. Ibuku dari kamarnya menuju ruang makan dan melihatku sedang membentuk adonan dan melihat wadah yang berisi adonan.

            “Adonan masih banyak, kamu mau kapan selesai membuatnya kalau seperti ini terus? Ambil yang banyak, lalu bentuk adonan menjadi bulat yang besar, kalau kecil seperti itu, tak akan cepat habis adonannya dan kuemu tidak akan cepat jadi. Ibu bantu, ya!”

            Ibuku seorang ibu rumah tangga yang senang sekali memasak, juga membuat kue. Dulu aku sering diajari ibuku cara membuat kue brownies, pizza, dan lain-lain, namun aku sudah lupa, dan dulu pernah gagal gara-gara aku salah mengocok dengan mixer yang seharusnya cukup dengan sendok plastik yang besar, sehingga kuenya tidak rata rasanya dan teksturnya berbeda dengan yang seharusnya. Ibuku dan aku memiliki beda 31 tahun. Ibuku memakai kerudung dan wajahnya sangat cantik.

            Ibuku membantuku membentuk adonan hingga selesai semua adonan. Wah, jadinya banyak sekali.

            “Langkah keempat, oleskan loyang dengan margarin, taruh biskuit di loyang, dan panggang di oven selama 30 menit,”

            Aku mengoleskan loyang dengan margarin, menggunakan kuas khusus. Ibuku membantu menaruh biskuit di loyang. Aku memanggil Kak Bram.

          “Kak Bram, tolong bantu Dea menyalakan oven, kak. Dea tidak bisa memasang gasnya dan menyalakan apinya,”

            “Iya, sebentar lagi kakak ke dapur,”

            Kak Bram turun tangga dari kamarnya yang berada di lantai dua. Lalu Kak Bram memasang gas dan menyalakan api pada oven.

            “Oke sudah, sekarang panggang kuemu,”

            Aku segera memasukkan loyang ke dalam oven. 30 menit kemudian, aku mengeluarkan loyang. Mengambil sebuah biskuit buatanku dan memakannya.

            “Nyam, nyam, nyam... Enak sekali rasanya, cokelatnya sangat terasa,”

            Aku memindahkan biskuit tersebut ke dalam beberapa toples. Ternyata, sampai empat toples. Aku memutuskan untuk menyimpan satu toples, untuk kubawa besok ke kampus, kubagikan pada teman-temanku di kelas. Ibuku, Ayahku, Kak Sita, dan Kak Bram menuju ruang makan, karena mencium aroma yang lezat dari biskuitku. Dan mereka memakan biskuit buatanku. Ayahku yang usianya terpaut 11 tahun dengan ibuku, dan tingginya hanya berbeda sedikit dengan Kak Aji, yang biasanya tidak suka cokelat yang terlalu manis, kali ini berkata.

            “Dea, biskuit buatanmu ini enak sekali. Benar-benar biskuit cokelat yang istimewa untuk Ayah, karena rasanya tidak terlalu manis namun sangat pas. Terima kasih, rasanya enak dan renyah,”

            “Wah, ternyata tidak gosong. Kau hebat, Dea. Ternyata kau bisa memasak kue meski memasak yang lain masih gosong,” kata Kak Bram.

            “Rasanya enak sekali, tidak gosong, renyah. Benar-benar biskuit cokelat yang enak dan istimewa,” kata Kak Sita dan Ibuku.

            Alhamdulillah, akhirnya aku bisa memasak juga, membuat biskuit cokelat. Ya, biskuit cokelat ini memang istimewa. Karena, aku membuatnya dengan bersungguh-sungguh, dengan keyakinan bahwa aku akan menyelesaikannya dengan baik. Bukan hanya rasanya yang membuatnya istimewa, namun karena cokelat bubuk. Cokelat yang biasa, namun bisa membuat rasa yang istimewa pada biskuit ini. Dan biskuit rasa cokelat ini bisa membuat orang-orang yang kusayangi bahagia. Ya, karena cokelat, hari ini terasa menyenangkan bagiku. 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 28 weeks ago)

Dialognya kaku sekali ya. Kalau diperhatikan lagi, masa keluarga bicaranya seformal itu? Kan tidak. Coba dieksplor lagi. Selain itu, coba bikin plot twist yang menarik, yang tidak terduga. Misalnya, semua keluargamu bilang enak tapi beberapa menit kemudian mereka mual terus muntah-muntah, akhirnya kamu sekeluarga dibawa ke rumah sakit. Hehe.

Writer augina putri
augina putri at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 28 weeks ago)

Plot twist itu maksudnya seperti apa, ya? Saya belum mengerti.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 28 weeks ago)

Plot twist itu maksudnya ending yang sengaja bikin pembaca kaget karena enggak nyangka sama akhir ceritanya.

Writer shandya
shandya at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 30 weeks ago)
30

bagus kok;)

Writer kemalbarca
kemalbarca at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 31 weeks ago)
60

jadi ini cerita tentang bikin biskuit, hmmm
judulnya jelas sih, tapi tadinya aku berharap sesuatu yang lebih
cerita ini dari awal sampe akhir datar2 aja
percakapannya juga masih terlalu kaku, gak pas aja
ini cocok buat cerita anak menurutku, tapi terlalu banyak deskripsi
kip nulis :)

Writer augina putri
augina putri at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 31 weeks ago)

Hm, terima kasih komentarnya. Saya masih bingung sih dalam menulis cerita bagaimana yang pas untuk percakapannya. Masih belum bisa yang sesuai EYD tapi yang nggak kaku.

Writer Febilions
Febilions at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 31 weeks ago)
60

bagus banget karna nuansannya COKLAT>..<

Writer augina putri
augina putri at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 31 weeks ago)

Iya, waktu itu cerpen ini diikutsertakan untuk lomba tema coklat. Dan saya belum pernah menulis cerita tentang coklat, jadi saya menulis cerita ini.

Writer akubram
akubram at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 31 weeks ago)
60

setuju sama komentar sebelumnya.. sedikit tambahan ekspresinya kurang, sedikit contoh saya lebih suka jika dialog bram seperti ini.
"cieh adekku mau masak yah? jangan gosong lagi yah" tertawa meledek.
"iya dong" jawabku singkat. aku berlalu tanpa melihat wajah kak bram, bukan karena marah, tapi karena aku tiba2 tersipu malu karena dia meledekku.

Writer augina putri
augina putri at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 31 weeks ago)

Terimakasih komentarnya. Saya masih kurang bisa mengungkapkan ekspresi dalam dialog.

Writer 2rfp
2rfp at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 31 weeks ago)
2550

duh gmn ya, hmm *mikir
cerita kamu terlalu deskriptif, dari mendeskriptifkan tokoh yang terlalu panjang, terlalu terfokus (satu paragraf), dan terlalu jelas (yang gak ngaruh/penting buat cerita jadi masuk juga).
kedua, resepnya di buat list aja drpd pake koma. alatnya juga gak perlu di sebutin semua.
ketiga, jika ini fiksi atau kemungkinan non-fiksi, tetep harus dibuat semenarik mungkin sehingga pembaca bisa terbawa hingga akhir cerita.
terima kasih buat tulisannya, d tunggu karya yang lain :D

Writer augina putri
augina putri at Biskuit Cokelat yang Istimewa (7 years 31 weeks ago)

Terimakasih komentarnya. Jujur, ini juga baru mulai nulis yang genre kehidupan, biasanya nulisnya genre detektif atau cinta, jadinya agak bingung.