Senja Tenggelam dalam Hujan

-----------

Dear Diary, 24 September.

Aku membenci kejutan. Saat aku seharusnya mendapat kejutan yang menyenangkan, aku mendapat kejutan paling menyesakkan sepanjang hidupku.

Aku juga membenci senja. Karena saat senjalah, aku mengetahui kedua orangtuaku pergi selamanya. Meninggalkanku sendirian.

Aku kehilangan orang yang paling kusayangi, yang paling kubutuhkan. Aku ingin ikut menghilang bersama mereka.

Sudah lebih dari seminggu, dan aku masih belum bisa menerimanya. Oh, Tuhan kenapa kau mengambil kedua orangtuaku? Kenapa kau tak mengambilku juga agar aku bisa bersama mereka, selamanya.

------

“Jika kau tak mempercayaiku atau seseorangpun di dunia ini. Setidaknya kau bisa mempercayai dirimu sendiri. Jika kau tak ingin berbagi apapun kepada siapapun, bisakah kau berbagi dengan dirimu sendiri. Tulislah diary seperti biasanya. Tentang perasaanmu, kehidupanmu, masalahmu, hingga hal sederhana sekalipun. Jika kau masih tak ingin membicarakanya, kau bisa menuliskannya. Bukankah itu duniamu?”

Kata kak Isa itu akhirnya berhasil meyakinkaku untuk menulis kembali diary.

Sejak hari itu aku tak lagi masuk sekolah.

Sejak hari itu juga teman-teman bergantian menjengukku setiap hari. Juga kadang beberapa tetangga datang menjenguk, memberi makanan dan jajanan bikinan mereka sendiri. Meski aku tahu tetangga itu lebih ingin menemui Kak Isa.

Ana, teman baikku, teman sebangkuku, teman dekatku sejak kecil, datang menjengukku setiap hari. Dia banyak bercerita hari-harinya di sekolah selama aku tidak ada. Juga tentang guru baru, Kak Isa, juga semua orang dikelas.

“Kami merindukanmu, Senja. Kau harus berangkat sekolah. Kelas tak menyenangkan jika tak ada Senja di sana. Kau biasanya ceria, bersemangat, selalu mendengar dan mencatat sungguh-sungguh. Senja dan sekolah seperti sesuatu yang tak bisa dipisahkan. Layaknya telur dan cangkangnya. Ayolah Senja. Kami tak mungkin bisa menjaga Fajar dan Trio Usil di kelas tanpamu.”

Aku memelototinya. Memangnya aku pengasuh keempat anak-anak nakal itu? Ana salah tingkah melihatku. Bercanda, katanya. Tapi wajahnya tadi jelas-jelas serius.

Keesokannya dia juga datang, masih membujukku untuk berangkat sekolah. Tapi sekarang dia tak sendiri. Ada Ali, bocah eksentrik tapi sok pintar dan merasa tahu segala hal, layaknya detektif kawakan idolanya. Bersama kompatriotnya, Husen, bocah polos penurut dan mudah menerima semua kata-kata Ali. Matanya akan berbinar-binar saat Ali mengeluarkan kata-kata ajaibnya. Dasar orang-orang aneh nggak ketulungan.

Ali memandangiku, menyelidik, dan aku tak pernah suka dijadikan objek pengamatan. “Kau kurang tidur, kau jarang makan, dan kau tidak pernah keluar rumah.” Mata Husen membulat, memandang Ali penuh kagum.

Aku melongos, membuang muka. Orang buta juga tahu kalau aku kurang tidur dan makan, juga tak pernah keluar rumah. Mataku mengantuk, dan ada lingkar hitam dibawahnya. Badanku agak kurus, dan bibirku kering yang menandakan jarang makan dan minum. Dan bagaimana dia tahu aku tak pernah keluar rumah? Pasti rambutku yang hitam legam, tak seperti biasanya, atau kulitku putih memucat kurang sinar matahari?

Ali masih mengamatiku, hendak mengatakan sesuatu tapi menahannya, mungkin perasaanya mencegahnya merusak suasana hatiku. Syukurlah dia sedikit menggunakan perasaanya, yang biasanya dia buang jauh-jauh entah kemana. “Kau juga jarang mandi.”

Aku langsung memolotinya. Tanganku bersedekap depan dadaku. Tunggu dulu. Aku memang jarang makan, tidur dan tak keluar rumah. Kuakui itu benar, tapi aku masih rutin mandi. Enak saja dia mengada-ada. Rambutku mungkin acak-acakan, penampilanku memang tak karuan, tapi aku mandi. Husen sepertinya juga bertanya-tanya bagaiamana Ali menyimpulkan demikian.

“Aku bercanda,” katanya enteng sambil lalu menjauhiku, takut aku menimpuknya dengan gelas di depanku. “Aku senang kau masih sama. Marah jika kesimpulanku salah.”

Ternyata itu tujuanya? Untuk melihat reaksiku. Aku malas untuk menanggapi otaknya yang miring 45 derajat itu.

Fajar dan Trio Usil akhirnya menampakan hidungnya juga. Fajar bukanlah bos mereka. Dan mereka bahkan bukan sekutu. Trio usil-Aril, Rima dan Awan, ketiganya dilahirkan untuk mengganggu, dan menjahili setiap orang. Tak bisa diam dan selalu bertiga. Membentuk geng layaknya dalam film terkenal yang selalu bertiga, tapi tak ada yang menaggapi serius namanya, dan nama trio usil sudah melekat kepada mereka.

“Kita mau bikin rujak. Mumpung banyak buah.” Kata Aril bersepakat. Ketiganya sudah sibuk dengan urusannya, tanpa mempedulikan mereka ada di rumah orang. Padahal aku sendiri belum mengatakan ‘anggaplah seperti rumah sendiri’. Dan takkan pernah. Atau rumahku akan hancur berantakan.

Di lain pihak, Fajar adalah satuan dari ketiga trio usil ditambah nakalnya yang kelewatan. Sering dihukum, sering berantem dengan kakak kelas dan adik kelas. Tidak takut siapapun, bahkan Pak Hidir kepala sekolah kami. Hanya sekarang dia mulai sedikit berubah, tidak separah dulu. Akan ada perang dunia ketiga jika mereka (Fajar dan trio usil) sudah berselisih. Kelas bakal porak poranda.

“Kalau aku tahu di rumahmu banyak makanan begini, aku akan menjengukmu setiap hari. Boleh kubawa pulang, kan?” Kata Fajar tanpa mau berbasa-basi menanyakan keadaanku. Dia langsung menuju meja tempat banyak makanan dari tetangga dan Kak Isa diletakkan.

“Sekarang serius. Sampai mau kapan kau akan mendekam dalam rumah sumpek ini? Kau dulu sering mengomeliku karena aku sering membolos sekolah. Sekarang katakan kepadaku, sebagai ketua kelas yang baik, bagaiamana aku harus memperlakukanmu,  teman sekelas yang sudah tidak berangkat lebih dari seminggu.” Lidahnya tajam seperti biasa, pandanganya juga tajam menatapku, ada sedikit tanda bahwa dia khawatir juga kecewa.

“Apa aku harus memberimu pilihan? Baiklah, 1. Aku akan mengikatmu dan menyeretmu dari tempat terkutuk ini?” Fajar mencondongkan tubuhnya kedepan. Jarinya mengacung satu. “Sayang kau tak suka kekerasan. Opsi kedua. Aku akan menggendongmu setiap pagi? Sayangnya yang sakit bukan kakimu.”

Fajar mengedipkan matanya, berpikir sesaat, lalu meyungginkan seringai nakalnya. “Opsi terakhir, apa aku harus datang merayumu setiap hari? Mengenakan sepatu kaca kepadamu  dan membawakanmu kereta kuda untuk pergi ke sekolah?”

Aku langsung melemparnya pisang, dia menghindar lalu tertawa kegirangan. Dia takkan pernah bisa jadi pangeran macam apapun dari cerita manapun. Mungkin pangeran kodok, dan pangeran kodok yang sebenarnya.

Datang lagi dua orang kakak beradik yang bukan saudara kandung, bertingkah seperti saudara yang selalu bertengkar, berdebat dalam semua hal tapi saling membutuhkan dan terkadang saling membantu satu sama lain. Sito dan Oki.

“Jelas-jelas aku yang melihatnya dulu.” Oki hendak merampas yang ada digenggaman tangan Sito.

“Tapi aku yang mengambilnya lebih dulu. Siapa cepat dia dapat.” Kata Sito mengusir tangan Oki dari genggaman tangannya.

Oki mendengus sebal, lalu tatapan keduanya beralih ke meja berisi buah-buahan. Mereka berebut dan Oki berhasil mengambil apel yang tersisa satu itu. Tak butuh waktu lama pasti mereka meributkannya. Oki tersenyum penuh kemenangan.

“Ambil uang 200 rupiahmu. Sekarang aku punya ini.” Oki tertawa di atas kekecewaan Sito. “Siapa cepat dia dapat.”

Melihat mereka berkumpul membuatku merindukan hari-hari yang sudah kulewati di sekolah selama ini.

“Rujaknya sudah jadi.” Kata Rima dengan mulut penuh makanan. “Sisanya buat kalian kalau mau.”

Semua orang berebut ingin mengambil rujak buah yang sudah berlumuran dengan gula merah itu. Aku menepuk jidatku. Kapan mereka akan belajar?

Lalu teriakan-teriakan itu muncul juga.

“Pedas!”

“Asin, kampret!”

“Jelas-jelas pedas! Hmm, coba lagi. Oh yang ini benar-benar asin, sialan.”

“Air. Aku butuh air segera. Airnya juga asin. Cuih. Parah asin banget.”

“Iya, airnya ternyata asin.”

“Sudah kubilang asin, malah di minum lagi. Kau mendegarku nggak, sih?”

“Siapa tahu kau berbohong, kau ingin mimun semuanya sendiri!”

“Sini, kujitak kau!”

“Kemana trio usil itu menghilang? Kejar mereka, kita sumpel mulut mereka dengan rujak buatannya sendiri. Sampai mereka muntah darah. Sampai mereka sembelit tujuh hari tujuh malam.”

“Sial, kenapa aku bisa kena jebakan mereka yang sederhana ini? Mereka dengan cerdik menawarkan rujak setan mereka dan meyiapkan minuman sirup yang telah...”

“Bisa-bisanya kau bicara seperti itu di saat seperti ini! Otakmu benar-benar sudah teracuni.”

“Aduh, aku terpeleset. Siapa sih menaruh kulit pisang tepat di bawah tangga masuk? Fajar, Awas kau nanti, atau besok di sekolah!”

“Besok hari minggu, jadi sekolah libur atau kau mau...”

“Tidak usah ditanggapi Einstein gagal. Aku lagi marah, sial, pantatku.”

Semua orang jadi tertawa. Lupa rencana mereka untuk membalas Trio Usil hidup-hidup.

--------

Menyenangkan melihat mereka tertawa bersama hari ini. Lalu aku menyadari satu hal.

“Apa pengertianmu tentang kehilangan, Senja?” Kata Kak Isa satu hari mengingatkanku. “Apa pemahamanmu tentang kematian, Senja?”

Kak Isa melanjutkan, berusaha agar aku mendengarkan, “rasanya menyakitkan? Sampai-sampai kau merasa tak ada lagi yang tersisa di dunia ini selain penderitaan. Rasanya memuakkan? Saat orang masih memiliki apa yang sekarang sudah tak kau miliki. Langit begitu kejamnya mengambil darimu. Semuanya tanpa permisi. Meninggalkanmu seorang diri.” Suara kak Isa terdengar dalam. “Aku tahu rasanya, ya, biar kukatakan kepadamu Senja. Semua orang mengalaminya atau akan mengalaminya. Jadi cepat atau lambat kau harus belajar. Belajar tentang kehilangan dan kematian.”

Kak Isa menunjukan sesuatu kepadaku.

“Apa yang kau lihat? Katakan kepadaku” Kak Isa mengangkat sebuah kertas polos tanpa garis. Didalamnya ada dua titik hitam di tengahnnya.

Aku menjawab dengan pelan, dia langsung menggeleng. “Bukan. Katanya. Apa yang kau lihat?”

Aku menjawab dengan mendengus kesal. Bagaimana dia bisa memaksaku saat aku tak ingin menanggapinya. Dua titik hitam di atas kertas putih.

“Hampir, tapi masih bukan itu jawabanya.” Kak Isa meletakkan kembali kertasnya. “Kau akan tahu jawabanya saat kau sudah mengubah sudut pandangmu.”

 “Sekarang, apa yang kau lihat?” Kak Isa mengangkat kertas lain yang kali ini benar-benar kosong. Tidak ada apa-apa.

“Salah. Sekarang apa yang kau lihat?” tanya kak Isa memperlihatkan kertas yang sama.

Hanya kertas putih kosong. Kak Isa masih menggeleng. Tentu saja salah (lagi).

Hal itu memang membuatku penasaran. Aku tak suka dibuat penasaran. Apalagi tentang pertanyaan yang salah atau aku tak tahu jawabanya. Dan Kak Isa tak berniat memberikanya. Aku menarik napas dalam-dalam.

“Kau tahu? Kenapa kematian selalu diidentikan atau dimetaforakan dengan hujan?”

Aku menggeleng, malas memikirkan jawabanya, yang pasti salah lagi.

“Bukan. Hujan tak hanya menggambarkan kesedihan layaknya cucuran air mata dari langit yang ikut menangis atas sebuah kematian.” Katanya tanpa menunggu jawabanku.

Bagaimana Kak Isa bisa menebak jawabanku? Dan ternyata memang salah. Apa memang kebanyakan orang akan menjawab seperti itu? Jelas-jelas seperti itu.

“Kau pandai. Nilaimu selalu bagus. Masalah sepele seperti hujan, pasti kau bisa menghubungkanya dengan kematian. Aku ingin mendengar jawabannya satu hari nanti.” Kata Kak Isa. “Jadi sekarang kau punya dua PR dariku.”

--------

Senja jatuh tertidur saat hendak memikirkan jawabanya. Sepertinya dia merasa jawaban itu sudah ada di dalam kepalanya, tapi entah menguap ke mana sekarang. Lalu dia merasa mengantuk dan tertidur di meja belajar dalam kamarnya.

Kak Isa masuk ke kamarnya, mengangkat Senja dari kursi dan membaringkanya ke tempat tidur.

Kak Isa tahu Senja tak punya keluarga lagi. Bahkan kerabatpun tak ada. Ayah Senja adalah imigran yang datang sejak Senja dalam kandungan. Sama seperti dirinya. Dan Senja belum tahu apa-apa tentang keluarga kedua orang-tuanya. Pasti berat jika ditinggalkan oleh keluarga sendirian. Tanpa penjelasan. Begitu mendadak. Begitu tragis. Ayah Senja sungguh tak layak mendapat kematian yang seperti itu. Kak Isa tahu bahwa Ayah Senja adalah orang yang baik. Baik dan Berani.

Meski begitu, Kak Isa baru menyadari bahwa Ayah Senja memang demikian. Saat pemakamannya banyak orang yang datang melayat. Rumah mereka penuh sesak. Tak hanya warga satu kampung. Lebih dari satu kecamatan ada, pikir Kak Isa.

Senja mungkin perlu tahu seperti apa Ayahnya itu. Nanti suatu hari, pasti.

Untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir, Senja akhirnya bisa tertidur pulas. Dan dia hari ini banyak tersenyum. Itu langkah yang sangat bagus. Kak Isa merasa perlu mengundang teman-teman sekelas Senja sering-sering.

Kak Isa menuju meja belajar Senja. Dia membaca diary yang ditulisnya hari ini. Kak Isa tersenyum puas.

Saat kau tahu jawabanya, duniamu tak pernah lagi sama, Senja. Sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu. Besok akan menjadi hari yang panjang,

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Gechil
Gechil at Senja Tenggelam dalam Hujan (6 years 5 weeks ago)
100

saya suka :) semuanya, mengenai Senja. Semangat menulis!

Writer kakilangit
kakilangit at Senja Tenggelam dalam Hujan (6 years 25 weeks ago)
70

thanks........

Writer anamutiahrmnsyh
anamutiahrmnsyh at Senja Tenggelam dalam Hujan (6 years 27 weeks ago)
100

percakapan anak anaknya bikin tambah seru xD

Writer I.S.A
I.S.A at Senja Tenggelam dalam Hujan (6 years 29 weeks ago)
100

suka pada bagian anak-anaknya pada ribut.. Seru juga.. ditunggu jawabanya..

Writer Rival_chan
Rival_chan at Senja Tenggelam dalam Hujan (6 years 29 weeks ago)
90

lumayan keren bro,, mantap..

Writer A.Arifin
A.Arifin at Senja Tenggelam dalam Hujan (6 years 29 weeks ago)
50

bahasanya segar cukup mudah untuk dicerna, NICE

Writer marcell avira
marcell avira at Senja Tenggelam dalam Hujan (6 years 29 weeks ago)
20

NICE

Writer cencenlie
cencenlie at Senja Tenggelam dalam Hujan (6 years 29 weeks ago)
100

Luar biasaaa (y)