10 Tahun

"Apa yang anda ingat terakhir kali, pak Johan?"

Dr. Arnold bertanya pelan setelah ia melakukan pemeriksaan fisik dasar padanya. Ia duduk di samping tempat tidur sambil menyilangkan kaki. Jarinya mengetuk-ngetuk jam tangan Rolex berwarna emas di tangan kiri. Sebuah stetoskop bergantung di lehernya. Ekspresinya tenang.

Johan menatap langit-langit kamar rumah sakit tempatnya dirawat. Putih bersih. Seperti segala sesuatu yang berada di sekelilingnya. Tembok. Jendela. Korden. Bantal. Selimut. Bahkan kimono rumah sakit yang dikenakannya. Johan tidak pernah suka warna putih. Membosankan. Tapi khusus kali ini, ia merasa warna putih membantunya berkonsentrasi. Entah mengapa.

"Saya kecelakaan kan, dok? Hal terakhir yang saya ingat..saya menabrak beton pembatas jalan di jalan raya dekat kantor saya. Saya berniat menghindari mobil lain yang salah membelok dari arah berlawanan. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan menjemput tunangan saya."

Dr. Arnold terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan. Ketukan jarinya tidak terdengar lagi. Johan ingin menoleh menghadapnya namun sedikit gerakan leher saja membuat kepalanya pusing. Ia terus menatap langit-langit. Dari sudut matanya, Dr. Arnold terlihat terus memperhatikan dia.

"Anda mengalami cedera otak yang berat, pak Johan. Syukurlah sekarang anda sudah sadar. Pemulihan fisik anda akan jauh lebih cepat lagi. Tapi tentu saja akan ada beberapa test lagi setelah ini, sekedar berjaga-jaga saja." Pria paruh baya itu menjelaskan.

Johan menutup matanya sejenak. Ia bukan tipe laki-laki yang religius, memang. Tapi paling tidak ia tahu bagaimana caranya bersyukur pada Tuhan. Alhamdulillah, ujarnya dalam hati. Ia ucapkan satu kata itu dengan penuh rasa terima kasih pada Dia yang masih melindungi nyawanya sekarang.

"Berapa lama saya tidak sadarkan diri, dok?"

Sunyi.

"10 tahun"

Sunyi lagi.

"Maaf dokter, mungkin maksud dokter 10 hari?"

Sunyi. Lagi.

"10 tahun."

Gelombang rasa dingin menghantam dadanya. Kamar putih itu bagai mengecil, menghimpitnya, memerangkapnya dari segala arah. Dokter Arnold yang tadinya hanya berjarak selangkah darinya sekarang terasa begitu jauh. Degup jantung Johan melonjak tinggi. Ia ingin berteriak tapi tak punya cukup tenaga untuk melakukannya. Maka ia lakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk mengekspresikan perasaannya saat itu: Ia menangis.

Perlu waktu 10 menit agar cucuran air matanya akhirnya mengering. Ia cukup memiliki koordinasi motorik untuk melakukan gerakan sederhana menghapus air matanya. Ia tidak merasa malu pada Dr. Arnold yang meremas bahunya pelan, memberinya support. Ia yakin, reaksinya wajar mengingat apa yang terjadi padanya adalah hal yang tidak biasa.

"Orang tua anda akan datang sebentar lagi. Saya akan menemani anda. Saya harus katakan bawa masa transisi setelah sadar dari koma panjang adalah hal yang sulit. Tapi jangan khawatir. Saya beserta seluruh staf medis disini akan membantu anda semaksimal mungkin."

Ia mengangguk ringan. Tidak berani menggerakkan kepalanya terlalu banyak. Pusing yang ia alami masih menyiksanya. Ia menutup matanya. Mencoba mengatur napasnya. Menenangkan diri.

"10 tahun. Banyak yang berubah pastinya."

Dr. Arnold menjawab dengan anggukan. Dari pengalamannya puluhan tahun sebagai neurolog, Johan Sebastian adalah pasien yang paling menarik perhatiannya. Jiwa akademisnya berpacu sedemikian rupa, berusaha meneliti kasusnya dengan semangat luar biasa. Data-data yang ia dapatkan selama 10 tahun merawat Johan merupakan harta tak ternilai bagi disiplin ilmu neurologi. Ia bertekad akan membayar itu semua dengan merawat Johan Sebastian dengan sebaik dan seprofesional mungkin. Akan ada banyak hal yang membingungkannya. Ada banyak hal yang berubah tentang dunia yang dulu ia kenal dan yang sekarang mau tak mau harus ia jalani. Ada tahapan-tahapan transisi psikologis yang akan dijalani oleh Johan Sebastian untuk membantunya beradaptasi dalam kehidupan barunya. Ini membutuhkan profesionalisme medis dan sensitifitas emosional tinggi.

"Tim psikolog kami akan membantu anda, pak. Jangan khawatir. Lagi pula, ada keluarga dan teman-teman dekat anda yang saya yakin akan selalu ada untuk anda."

Johan hanya bisa mengangguk lagi. Tiba-tiba ia merasa sangat lelah. Ia memejamkan matanya.

"Mohon maaf, dokter. Bisa tinggalkan saya sendiri dulu?"

Beberapa saat kemudian ia mendengar suara pintu ditutup. Ia sendirian. Ia butuh ketenangan. Tanpa gangguan siapapun. Apapun yang terjadi, apapun yang akan dia hadapi, ia akan mampu menjalani. Ia harus mampu.

Sejenak setelah ia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih tegar menghadapi musibah ini, Anna muncul dalam pikirannya. Emosi yang sempat sedikit tenang mulai kacau-balau.

Anna. Tunangannya yang cantik jelita. Belahan hatinya yang cerdas luar biasa. Anna yang ia cintai sebegitu dalamnya. Apakah ia masih menunggunya 10 tahun ini? Pikir Johan dalam hati.

Kemudian, ia menangis lagi sampai akhirnya tertidur pulas.

***

Ketika ia membuka matanya kembali, ia melihat ibunya duduk di kursi samping tempat tidurnya. Wajahnya dilinangi air mata. Ibunya tersenyum. Gelombang kebahagiaan yang menguar kuat dari ibunya memberi Johan sedikit energi semangat. Ia mencoba membalas senyuman ibunya.

"Oh, Johan. Ya Tuhan, Johan."

Ibunya menunduk mencium kening dan kedua pipinya. Air matanya menetes ke wajah Johan. Ia merasakan air mata juga turut menggenangi kedua bola matanya. Ibunya menggenggam sebelah tangannya dengan kuat, seakan takut melepaskan Johan.

"Ibu tidak pernah kehilangan harapan. Tidak sedikitpun. Ibu tahu Tuhan akan mendengar doa ibu. Cepat atau lambat."

"Terima kasih, bu."

Johan tak mampu berkata apa-apa. Gemuruh di dadanya begitu kuat. Genderang bertalu di dalam hatinya. Betapa ia merasa bersyukur memiliki ibu yang sebegitu cinta terhadap dirinya! Ia membalas remasan tangan ibunya. Lemah. Tapi ia berharap rasa terima kasih dan syukur yang ia rasakan dapat pula diterima ibunya.

"Dimana ayah, bu?"

Ibunya menggenggam tangan Johan lebih kencang. Ia menutup matanya.

"Bu?"

Ketika sejenak ibunya membuka matanya, dan Johan merasakan betapa sedih kedua bola mata itu terlihat, baru ia menyadari kejutan kejam lain yang telah hidup persiapkan untuknya.

Ayahnya telah tiada.

Sebuah tangan dingin yang tak kasatmata merogoh rongga dadanya, mencengkram jantungnya. Ayah yang menjadi sumber ketegaran dan kekuatannya sudah meninggal. Dan Johan tidak bisa mendampingi dalam saat-saat terakhirnya.

Air matanya mengalir tak terbendung. Ibunya menangis tanpa suara. Getir. Pedih.

"Kejadiannya 3 tahun lalu. Stroke ringan yang diderita ayahmu memburuk. Ia sempat diopname 2 minggu. Tapi tak ada lagi yang bisa dilakukan..."

Ibu bercerita pelan sambil mengusap-ngusap lengannya lembut. Johan menatap kedua bola matanya. Lelah. Wajahnya penuh keriput. Rambutnya mulai memutih. Ibunya sudah jauh menua. 10 tahun ini menghabiskan energinya.

"Ibu sudah merelakan beliau, nak. Sekarang saatnya kamu belajar merelakan."

Johan hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka diam. Ibu dan anak yang terpisah waktu 10 tahun. Sekarang telah bertemu kembali. Tapi tak ada satu hal pun yang mampu mengisi kembali 10 tahun yang hilang tersebut. Sekuat apapun usaha yang mereka lakukan.

"Bu?"

"Ya nak?"

Johan ragu. Takut. Tapi ia harus tahu. Harus

"Bagaimana kabar Anna?"

Ibunya terpaku. Johan bisa melihat kerut dahinya bertambah. Alisnya terpaut. Ibunya sedang menimbang-nimbang jawaban apa yang sebaiknya ia berikan.

Degup jantung Johan semakin bertambah kencang. Titik-titik keringat mulai membasahi keningnya. Ia takut mendengar jawaban ibunya.

Oh, Anna!

"Ibu sudah bertahun-tahun tidak mendengar kabarnya. Awalnya ia rajin menjengukmu. Bulan-bulan pertama. Tapi lama-kelamaan..."

Tatapan ibu mengeras.

"Kamu tahu? Ia bahkan tidak datang ke upacara pemakaman ayahmu."

Ini hantaman ketiga yang dirasakan Johan. Hantaman ini yang paling sakit, yang paling membuatnya sesak, yang paling membuatnya merasa tak berdaya, yang hampir membuatnya tidak ingin tersadar dari koma.

Anna!

***

Seminggu berlalu. Fisik Johan makin kuat. Ia sudah mampu mengendarai kursi roda. Dr. Arnold menyemangatinya untuk terus bergerak, menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk mengembalikan fungsi motorik tubuhnya. 10 tahun dalam kondisi pasif membuat fisiknya melemah. Ia harus berusaha agar kondisi tubuhnya pulih semaksimal mungkin.

Tapi Johan tak bersemangat, tak merasa punya cukup kemauan untuk benar-benar pulih. Hanya jika ibunya datang berkunjung saja Johan berpura-pura semangat. Tersenyum. Sekedar membuat ibunya senang, karena kini hanya tinggal mereka berdua.

Johan mendorong kursi rodanya ke luar ruangan. Ada sebuah taman kecil yang cukup indah dan nyaman tak jauh dari kamarnya. Ia sering menghabiskan waktu disitu. Dibawah rindangnya pohon tanjung yang tumbuh sumbur di areal taman. Sebuah kolam ikan berukuran sedang menghias bagian tengahnya. Belasan ikan koi berbagai warna dan ukuran berenang lincah.

"Kali ini baca buku apa, pak?"

Sebuah suara mengejutkannya.

Suster Lydia menghampiri Johan. Kedua tangannya ia masukkan ke kantong seragam putihnya. Ia duduk di kursi bambu yang berada di samping Johan. Tersenyum.

Johan menggeleng.

"Lagi tidak mood membaca, suster"

Senyuman suster Lydia makin terkembang. Giginya yang putih rata sempurna mengingatkannya pada Anna. Lesung pipit di pipi kirinya mengingatkannya pada Anna. Johan punya alasan yang cukup kuat untuk menghindari suster Lydia. Dan selalu gagal.

"Kemarin saya cari buku yang bapak baca minggu lalu itu. Di Gramedia. Stoknya habis ternyata."

"Yang mana?"

"The Gone Girl. Saya suka filmnya. Walaupun sudah lama sekali saya terakhir tonton."

Johan tertawa getir.

"Sudah sepuluh tahun lalu ya film itu diputar? Seingat saya baru sebulan lalu saya tonton bersama tunangan saya."

Suster Lydia terdiam. Entah mengapa Johan suka sekali merusak momen bagus yang tak ada sangkut pautnya dengan Anna menjadi sebuah percakapan yang menyedihkan. Sudah berapa kali ia bersikap begini terhadap suster Lydia? Mengapa ia tidak bisa sekali saja menghabiskan waktu mengobrol tanpa menyebut-nyebut Anna?

Jawaban sebenarnya sederhana. Logis. Ia masih mencintai Anna. Masih mengingat dengan jelas wajahnya. Senyumannya. Aroma parfumnya. Segalanya.

Bodoh. Bahkan Johan sendiri sadar betapa tololnya dia. Masih menyebut Anna sebagai "tunangan".

"Ada film baru yang minggu depan diputar. Ben Affleck."

Suster Lydia berdiri disamping Johan. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Entah mengapa ia seperti tidak mau beradu pandang dengannya. Tak seperti biasa.

"10 tahun saya merawat bapak. Setiap hari selama sepuluh tahun ini saya banyak berbicara kepada bapak selama bapak koma. Saya bercerita keseharian saya. Hidup saya. Keluarga saya. Apapun."

Johan terdiam. Menunggu. Apa maksud suster ini? Pikirnya heran.

"Kenapa?"

Akhirnya Johan bertanya. Penasaran. Ia pandangi wajah suster Lydia sampai akhirnya suster muda itu membalas tatapannya.

"Saya dulu juga sempat koma. Tidak selama bapak. Hanya beberapa minggu saja. Karena anemia akut. Hanya beberapa minggu. Tapi saya kehilangan pacar saya yang akhirnya memutuskan untuk pergi bersama wanita lain. Ketika saya sadar, saya hancur."

Johan terbelalak. Ia baru menyadari wanita di depannya ini memiliki nasib yang kurang lebih sama dengannya.

"Butuh waktu yang cukup lama untuk benar-benar pulih. Secara fisik juga secara emosi saya. Tapi akhirnya saya pulih."

"Ketika saya ditugaskan merawat bapak..saya merasa ini lebih dari sekedar kebetulan. Saya merasa memiliki teman. Dan saya pun merasa bapak akan perlu teman saat sadar nanti. Karena itu saya berusaha banyak berbincang dengan bapak."

Itu benar. Johan tidak memiliki teman lagi. Teman-teman lamanya sudah memiliki kehidupan baru yang berbeda arah dengannya. Johan masih terjebak dalam memori 10 tahun lalu. Dengan emosi dan tingkat kedewasaan seperti 10 tahun lalu saat ia masih berumur 25 tahun. Sedangkan teman-temannya sudah melangkah jauh di depannya. Betapa 10 tahun bisa membuatnya merasa asing dengan teman-teman dekatnya sendiri.

"Apa suster juga seperti ibu saya, selalu percaya saya akan sadar suatu saat nanti?"

Suster Lydia tersenyum. Seberkas sinar matahari yang menyelusup dalam rerimbunan daun pohon tanjung tepat mengarah pada wajahnya.

Cantik.

Johan baru sadar.

"Tentu saja. Saya seorang suster. Selalu percaya pada keajaiban."

Ia menyerahkan sepotong kertas pada Johan. Kemudian beranjak pergi.

Johan masih tetap duduk termenung. Ia mendongak menatap langit. Cerah. Indah luar biasa. Biru menenangkan dengan beberapa titik putih awan yang bergerak lembut. Langit tidak berubah ternyata. Tetap indah seperti 10 tahun sebelumnya.

Ia memandang sepotong kertas yang diberikan suster Lydia tadi. Sebuah tiket bioskop. Laki-laki itu tersenyum. Dalam hati ia berjanji akan berusaha lebih keras menjalani terapi agar bisa berjalan seperti dulu. Johan memiliki janji kencan dengan seorang suster cantik seminggu lagi.

Read previous post:  
34
points
(214 words) posted by wmhadjri1991 7 years 28 weeks ago
42.5
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | Psikologi | Thriller
Read next post:  
Writer Shinichi
Shinichi at 10 Tahun (6 years 48 weeks ago)
80

Maret ke Oktober, berapa bulan ya? Ahak hak hak. Dan cerita Oktobermu itu adalah tentang riset yang keren dan larut. Rasa-rasanya seseorang menjalani progres yang baik di sini. Saya enggak bisa komentar yang oke nih, mengingat kalau ini jelas bukan kemampuanmu saat ini, juga sudah banyak kritik yang masuk dan saya rasa itu sudah cukup.
.
Namun jika ada yang ingin saya sampaikan di mari, jelas hanya pendapat pribadi. Yah, minimal mirip-mirip komentar Rian. Semacam jika saya penulisnya.
.
Cerita ini punya ide menarik dan jalan cerita yang juga menarik. Bentukan begini, ibarat kata sebuah rumah yang belum selesai. Tapi sudah terlihat kerangkanya dan bisa dibayangkan bagian-bagiannya nantinya jadi seperti apa--plus masih bisa diubah sesuka hati. Saya melihatnya seperti itu. Contohnya seseorang terbangun dari koma selama 10 tahun harus berhadapan dengan ayahnya yang sudah meninggal. Ini salah scene yang bisa dikupas secara karakterisasi maupun psikologis, kan? Artinya, ini seperti kamu punya topik buat artikel yang mana semua bahan-bahannya seolah sudah ada di benakmu. Kamu tinggal menjangkaunya dan meraciknya jadi utuh (dalam kerangka karakterisasi dan emosi kejiwaan ya). Scene lain, kau terbangun dari koma 10 tahun dan mendapati tunanganmu entah di mana. Sama seperti sebelumnya, ini potensial banget dikembangkan. Lalu hubungan sosial tokoh utama pada ibunya. Semua bahan-bahan itu harusnya bisa tertuang lebih greget lagi saat pembicaraan pasien koma 10 tahun itu dengan seorang suster misterius. Dia harus misterius, kalau saya jadi penulisnya. Dan cara mengungkap (tapi tidak sampai bagian Suster itu jg pernah koma) kenyataan tokoh suster, enggak akan segamblang itu.
.
Coba bayangkan: seorang suster berbicara seakrab seseorang pada temannya selama 10 tahun belakangan. Dia bisa dibikin jadi akrab atau malah membentuk pasien itu seperti karakter yang selama 10 tahun belakangan ia lakukan. Tokoh aku bisa dianggap suster itu sudah mengerti apa yang sedang ia bicarakan tanpa membicarakan hal itu. Artinya dialog mereka bisa enggak harus sedatar dan sekonvensional yang kamu buat. Di sini yang menarik, semisal itu dibuat malah terlalu dalem, hingga memunculkan sisi karakter keduanya, latar belakang, dsb yang menjadi "ilmu baru" buat pembaca mengenai "penyakit koma 10 tahun" itu. Just like movies. Menurut saya, cara seperti itu, jelas itu merangsek ke puncak pertanyaan, lalu turun berangsur-angsur, lebih menantang untuk dipelajari ketimbang hanya seperti ini.
.
Tapi apapun ceritanya: sekarang tentu dirimu lebih piawai ketimbang saat cerita ini ditulis. Semoga komentar ini enggak dihapus karena koma selama 7 bulan. Kip nulis dan kalakupand.
Ahak hak hak.

Writer rian
rian at 10 Tahun (7 years 24 weeks ago)
2550

Sama kayak di Peppermint, ini banyak wishful thinkingnya. Ceritanya ber-ending bahagia tanpa si tokoh utama ngelakuin apapun. Dia cuma bergalau ria di rumah sakit terus tiba-tiba ada suster yang ngaku naksir sama dia, meskipun mungkin masuk akal juga alasannya si suster. Jadinya ceritanya, menurut saya, lempeng gitu. Enggak ada dilema moral. Enggak ada keputusan sulit yang mesti dibuat. Kalau saya yang nulis cerita ini mungkin saya bakal buat si tokoh utama patah hati enggak habis-habis, bahkan sampai sembuh, bahkan sampai dia menjalin hubungan sama berbagai orang, sampai ibunya pun mati dan dia enggak punya siapapun lagi di dunia ini. Terus dalam keputusasaan dia memutuskan untuk ngelacak Anna, dan ternyata terungkap kalau Anna udah mati, dan suaminya si Anna itu bajingan dan enggak bisa ngerawat anak-anaknya. Anak-anaknya si Anna ada yang udah besar, ada yang masih kecil, sebutlah tiga orang. Johan punya kesempatan untuk melakukan sesuatu demi anak-anak ini, tapi rasa sakitnya ditinggalin sama Anna ngebuat dia dilema. Dan akhirnya Johan bunuh diri gara-gara enggak bisa memutuskan, sementara anak-anaknya Anna mati kelaparan, dan suaminya Anna masuk penjara dan mati digebukin di penjara. Sekian dan terimakasih.

Maaf kalau enggak berkenan. Selebihnya cerita ini menghibur.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at 10 Tahun (7 years 24 weeks ago)

Iya, Rian, saya harus belajar utk lebih meramu konflik dalam kisah agar enggak jadi lempeng seperti yg kamu bilang. Tapi enggak semua kisah endingnya harus sedih, atau sebaliknya. Kecuali naskah FTV yg selalu bahagia, atau Greek Tragedy yg emang semuanya sedih. Terima kasih komennya, selalu berkenan kok dengan komenmu :)

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at 10 Tahun (7 years 28 weeks ago)
100

Menurut saya, konflik ceritanya cukup terasa. Suster Lidya nya baik banget, ya hehe. Idenya menarik. Koma 10 tahun, Pasti mengejutkan sekali ya.. Saya Senyum2 sendiri, pas baca dialog antara Johan dan Dr.Arnold.

Keseluruhan ceritanya bagus Kak.
Salam kenal.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at 10 Tahun (7 years 28 weeks ago)

Thank you, makasih udah berkunjung ya :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at 10 Tahun (7 years 28 weeks ago)
50

idenya menarik. orang yang terbangun setelah sepuluh tahun koma, kira2 gimana dia menghadapinya? namun untuk eksekusinya di sini saya senada sama benmi. saya kurang bisa memahami reaksi Johan yang seketika malah ingin teriak dan menangis. padahal beberapa kali dikatakan soal motoriknya yang melemah setelah tidak digunakan selama sepuluh tahun, apa tidak demikian dg pikirannya? yang terbayang oleh saya, setelah tahu kalau dia baru bangun dari tidur selama sepuluh tahun, dia mungkin bakalan banyakan bengong. mungkin kalau ada kaca/cermin dia bakal mengamat2i perubahan fisiknya selama sepuluh tahun itu. mungkin kulitnya jadi kendor, apalah. barulah pelan2 dia teringat akan tunangannya, dsb. tapi reaksinya malah, saya pikir, dramatis, seakan koma sepuluh tahun itu suatu tragedi, atau narator bilang, "musibah". kenapa dia langsung berpikir seperti itu, saya ga mengerti. (maklum, belum pernah koma sepuluh tahun ataupun ketemu orang yang pernah mengalami.)
.
belum lagi reaksi orang2 dekatnya: ibunya, teman2nya yang terasa asing, Suster Lidya. rasanya bisa dibikin lebih natural, tapi entah bagaimana. saya merasa terlalu jauh kalau saya ikut memikirkannya, hehe. mungkin dibawa pelan2 aja jalan ceritanya, mengikuti persepsi tokoh utamanya yang baru terbangun setelah sepuluh tahun itu. (mendadak jadi inget lagu Peterpan, "Tertinggalkan Waktu".) oh, mungkin juga ada wartawan yang mendengar soal ini, mendatanginya, mewawancarainya, dan menulis di medianya dengan judul "Lelaki Ini Baru Bangun dari Koma Sepuluh Tahun" atau semacam itu.
.
soal penulisan, coba cek lagi pedoman EyD tentang tanda titik, huruf kapital, penulisan angka, membedakan kata depan dan imbuhan (khususnya "di"), sama cek kamus untuk kata seperti "support", "test" (mungkin ada baiknya disesuaikan dg padanannya dl bahasa Indonesia), "cengkram", "sensitifitas" (ada silap huruf).
.
intermeso aja ini mah. sempet menggelitik dialog antara Johan dan dr. Arnold yang 10 hari/10 tahun. Johan Sebastian apakah nama keluarganya Bach dan jago main piano? hihi #lupakan

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at 10 Tahun (7 years 28 weeks ago)

Ya ampuuunnnn! Iyaaa poin2 nya bagus2 semuaaa! Ahh, makasih banget udah kasih masukan! #langsungpengenngedit :)

Btw Johan Sebastian itu nama belakangnya Soenaryo #gubrak wakakakaka

Writer Shinichi
Shinichi at 10 Tahun (6 years 48 weeks ago)

ahak hak hak. niat mau baca koment2 yg udah masuk, malah nemu yang ini. ngakak kalakupand jadinya. wkwkwkwkwk

Writer alcyon
alcyon at 10 Tahun (7 years 28 weeks ago)
100

suster ini mengingatkan saya kepada ibu Teresa...
btw, konflik batinnya cukup terasa, tetapi penulis disini menginformasikan kondisi si pasien hampir berulang-ulang, padahal cukup sekali saja memaparkan di bagian awal cerita, pembaca juga bisa memahami kondisi pasien. Atau mungkin fokus cerita ini memang konflik batin pasien itu sendiri.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at 10 Tahun (7 years 28 weeks ago)

Oke, ada repetisi ya? Sip makasih ya. Sebenernya iya, lebih ke kondisi psikologisnya sih. Makasih ud mau mampir :)

Writer benmi
benmi at 10 Tahun (7 years 28 weeks ago)
70

Salam kenal, secara keseluruhan bagus, mengenai koma berkepanjangan dan terbangun. Namun ada beberapa hal yang ingin saya komentari yakni penggunaan titik untuk setiap beberapa kata, dan menurut pendapat subjektif saya, seorang yg baru terbangun koma tidak akan bisa mengucapkan kalimat yang cukup panjang, bayangkan 10 taon tidak minum. Akan lebi bagus kalo penulisan kata2 yang disampaikan pasien dipenggal2 pendek dan kalimat panjang diganti dengan kata2 yang lebi pendek namum bisa menyampaikan emosi.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at 10 Tahun (7 years 28 weeks ago)

Wah, terima kasih saran n usulannya. Saya tampung :)

Writer Nine
Nine at 10 Tahun (7 years 28 weeks ago)
80

Hmmm, salut sama suster lydia... :) andai kutemukan wanita sepertinya, hehe

Pada saat konflik cerita, menurut saya kurang terasa, mungkin kalo si dokter yg merawat johan di jadiin suami Anna bisa lebih dapet. Tapi ini sih cuman pendapat pribadi bang.. mohon maaf sebelumnya yh? Hehe, overall saya suka........
Suka sama suster lydia, :) #soklucu

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at 10 Tahun (7 years 28 weeks ago)

Hahahah, makasih komennya yaa #salammenulis hehe