-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer azkashabrina
azkashabrina at - (7 years 23 weeks ago)
90

Hi, wordsmith!
.
Dari sisi narasi: saya suka rimanya, sarkasmenya, kenaifannya. Soal ceritanya, komentar saya ga jauh beda sama yang udah ada dari member lain, jadi kalo saya taro disini takutnya malah ngulang, hehe. Mudah-mudahan saya nggak nyampah yaa.

Writer rian
rian at - (7 years 23 weeks ago)

Makasih. Kebetulan aja saya dapat ilham tokoh yang liar sehingga narasinya bisa ikutan liar juga.

Sebenernya berharap komentar tentang ceritanya ditaruh juga. Tapi kalau enggak sempat ya enggak apa-apa.

Sekali lagi makasih.

Writer azkashabrina
azkashabrina at - (7 years 23 weeks ago)

Oke, saya tulisin ya. Moga gak apa kalau ada yang ngulang dari komen lain.
.
Pertama, karakter Tania. Dia jelas jadi motivasi dan penyebab konflik cerita. Tapi karakter yang harusnya jadi tiang ini malah rasanya janggal buat saya. Soalnya di awal, dia ini gadis malu-malu. Tahu-tahu menjelang akhir dia jadi berani banyak omong dan ngajarin orang. Lompatnya kejauhan kalo buat saya.
.
Kedua, beberapa hal terungkap di dialog tapi kurang di gestur. Contoh, si Farhannya sendiri. Dia ngajak ribut orang karena cinta. Curhat sama ibunya pun, dia bilang bener-bener seneng sama Tania. Tapi sepanjang dia mau mukulin orang, yang kerasa adalah marahnya aja, tapi sakit hati putus cintanya kurang berasa. Padahal Tania ada dalam jarak pandang, bisa belain Rio tapi nggak kedengaran nolong waktu Farhan dipukulin. Harusnya itu poin banget. Harusnya Farhan kesakitan banget; mungkin malah motivasi untuk bangun dan maksain nendang lagi meskipun punggungnya udah kena pukul pentungan.
.
Mungkin inti dari racauan saya ini, beberapa hal nggak perlu dijadiin dialog. Jabarkan lewat gestur, lewat perbuatan. Jadi yang diberikan ke pembaca bukan kata-kata tapi kesan.
.
Segitu aja sih, maaf sotoy saya. Hehe.

Writer rian
rian at - (7 years 23 weeks ago)

Iya, ya, bener juga. Saya kebanyakan fokus sama marahnya si Farhan, dan menjadikan Tania sekadar sebagai pemicu supaya dia 'meledak'. Pas adegan kelahi itu saya malah lupa kalau Tania ada juga di sana. Betul, semestinya fakta kalau Tania udah enggak mau nolongin Farhan lagi bisa jadi poin yang penting banget.

Dan, iya, beberapa orang bilang tokoh Tania enggak realistis.

Ini komentar yang keren. Makasih banyak.

Writer Nine
Nine at - (7 years 27 weeks ago)
90

Biasanya kalo baca cerita lebih dari 4000 kata saya ngak baca sekali duduk, tpi "Farhan" ini menarik, sy membacanya sekali duduk.. hehe jujur tokoh farhan ini mengingatkan sy sma temen SMA mkany saya betah bacanya, dia juga berandal, tpi tiap adzan di mushola, pasti dia nongol juga... saya suka istilah darah lumpurnya hahay, Farhan jadi Muggle yh?

Keren ceritamu brada, dialognya berbobot... jeehehee

Yah sudahlah itu saja dri sy, . Mohon maaf apabila ada kata yg kurang berkenan dan ke sotoyan yg bkin hati jengkel..

Salam olahraga... (y)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at - (7 years 28 weeks ago)
100

Meski panjang, saya betah membacanya sampai habis. Suka sama sifat Farhan yang berandalan tapi juga alim. Seharusnya anak jaman sekarang begitu sifatnya. Nakal boleh, asal tidak berandal.
.
Wow, 2nd PoV yang Kakak pakai menurut saya berhasil. Meski dialognya dibuat tanpa tanda petik, saya mampu menangkapnya dan membayangkan hal-hal yang diceritakan dalam tulisan ini. Semuanya ngalir dan enak dibaca. Manis lah, bagi saya.
.
Ada huruf yang hilang di kalimat "Yang kau lihat hanya gadis biasa-biasa denga tingkat kelabilan di atas rata-rata." kata 'denga' seharusnya 'dengan'. Ya, cuma kesalahan kecil sih.
.
Suka sama gaya penceritaan Kakak, unik. Kelabilan tentang anak-anak remaja juga tampak sangat jelas. Saya rasa, ini baguslah :D Cukup untuk membuat saya memberikan point penuh :D
.
Btw, salam kenal ya :D
Terus semangat menulis Kakak :D

Writer rian
rian at - (7 years 28 weeks ago)

Makasih apresiasinya, Thiya. Makasih juga udah diingetin masalah typho itu:)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at - (7 years 28 weeks ago)

Kak, kalau saya hubungin Kakak lewat e-mail gak papa ya?

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at - (7 years 28 weeks ago)

boleh banget. ga usah pakai Kakak. rian aja. kan seangkatan.
#kabur

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at - (7 years 28 weeks ago)

Kebiasaan Kak -,-
Gara-gara memainkan sebuah game online dulu, dimana semua usernya memakai panggilan Kakak, saya jadi ikut-ikutan dan akhirnya kebiasaan. Sekarang, semua orang di dunia Maya adalah 'Kakak' saya.
Bagus lagi, saya jadi berasa muda dan semua tua :P Hahahaha :D

Writer The Smoker
The Smoker at - (7 years 28 weeks ago)
80

langsung aja ya, Rian.
cerita ini mungkin sengaja tak menjual cerita, lantas menekankan gaya penulisan dan exspresifnya.
.
diksi, keliaran yg digembor-gembor jadi kemasan yg katakanlah sebagai daya tariknya. mengembung? iya, dengan alur yg biasa walau ditutupi oleh gaya menulis yg tadi saya sebutkan, tapi pembaca seperti saya (yg sudah menyangka ending, pikiran dan sedikit kenaifan si tokoh) sedikit kelelahan membaca racauan naratornya.
.
datar? tidak terasa. narasinya berhasil ngacak2 sesuatu.
.
Oiya, entah mengapa yg hukuman memunguti daun kering di halaman sekolah, jadi inget cerita citapraa, mungkin sengaja.
.
nanti istilah seperti film2 murahan berarti gak layak pakai lagi ya, apa saya aja yg ngeuh istilah itu sudah dipakai Rian beberapa x, tapi abaikan yg ini, hehehe.
.
overall, bila saya bandingkan dengan cerita2 Ita mungkin belum waktunya, mungkin d cerita berikut. saya malah inget karakteristik tokohnya kalau sekarang dan saya masih cinta Ita.
.
beda? berubah? jelas beda. maka saya tunggu postinganmu yg baru.
.
maaf kalo ndak ngenyangin komennya. lagi gak bawa magic jar soalnya.
.
salaman

Writer rian
rian at - (7 years 28 weeks ago)

salamanbalik

Yap, saya masih belum tau gimana cara ngebuat plot yang enggak bisa ditebak. Citapraaa juga udah bilang kalau cerita ini mirip sinetron, apalagi dengan adanya anak orang kaya yang dikawal preman dan blablabla itu, huhuu. Saya nyadar sih, cuma enggak tau gimana cara menghindari yang macam begitu.

Komentarnya tetap ngenyangin kok. Makasih.

Writer Shinichi
Shinichi at - (7 years 28 weeks ago)
100

seperti yang saya bilang di email, maka saya akan tetep ngasiy 10 untuk Farhan. soal komentarnya, mungkin nggak perlu lagi saya sertakan di mari. ahak hak hak.
kip nulis

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at - (7 years 28 weeks ago)

Yah :( padahal kan kita2 ini bisa belajar banyak dari komen2 tulisan orang lain, Bang..

Writer Shinichi
Shinichi at - (7 years 28 weeks ago)

ya sudah saya koment deh. saya pastein saja (diedit seperlunya). ahak hak hak.
.
Wow!

Farhan ini bener-bener 'F'. Dirimu bagaikan memata-matai diriku yang sedang jenuh dengan cerpen-cerpen seperti cerpenku yg terbengkalai. Hihihi. Separagraf komentarku ini kuketik ketika aku baru nyampe di halaman 3. Dirimu membuatku "terpaksa" kagum dengan caramu bernarasi. Namun, jika kamu teliti lagi ceritamu sampai halaman 3, jelaslah bahwa komentarku ini akan berhubungan dengan satu hal yang kayaknya pernah kusinggung-singgung, pada komentar-komentarku di beberapa tulisan di Kemudian, juga tulisanmu kalau nggak salah. Itu soal tebak-tebakan.
.
TEBAK-TEBAKAN. bisa saya bilang begini: setiap pembacaan, umumnya, saya akan menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. itu memang pada genre tertentu, seperti misteri, thriller, drama. di dua genre sebelumnya, itu unsur penasaran dengan isi atau jalan ceritanya. beda dengan drama, lebih pada kekayaan karakteristik tokoh. jadi ketika tokoh dihadapkan pada situasi sedemikian rupa, pembaca membayangkan menjadi tokoh tersebut dan akan mempertimbangkan tindakan-tindakan yang akan diambil. menebak, apa tokoh tersebut melakukan hal yang umum tersebut atau yang lain yang nggak umum. lompatan besar penulis adalah membuat tokohnya melakukan hal lain yang bisa saja bertolak belakang namun sesuai dengan sifat yang ditanamkan penulis padanya. inilah yang namanya karakternya konsisten.

pada F, Farhan yang dilema, otomatis labil, melakukan tindakan melabrak Tania yang diketahuinya memata-matai. menurut saya, tokoh seusia mereka nggak akan melakukan itu. tapi lihat apa yang kamu buat pada Farhan: melabrak. kenapa ia melakukan hal tsb? maka pembaca seperti aku melihat apa masalah yang tengah dihadapi Farhan sebelumnya. bagaimana narasi penulis membentuk karakter, melalui peristiwa-peristiwa, yang melatarbelakangi tindakannya kemudian. tebakan saya salah! saya mengira ia akan balik penasaran, memata-matai juga, mengetahui secara tidak langsung soal tindakan Tania, lalu semua berakhir bahagia dengan rentetan peristiwa konyol khas remaja labil yang jatuh cinta. terang saja, cowok remaja sebagai tokoh, pembaca umum secara otomatis menduga akan jatuh cinta pada tokoh ceweknya. dan pengenalanmu akan sosok Tania menguatkan dugaan itu. dan saya salah! rentetan peristiwanya nggak begitu. Farhan membawa Tania ke pasar. memberitakan siapa dirinya dengan dialog yang di luar dugaan. nggak biasa. makanya saya menilainya keren banget!
.
Dan engkau memang konsisten dengan lawakan di sekujur cerita. Ini freshing buat saya. Saya harap begitu juga yang dirasakan pembaca yang lain. Ini gimana ya. Agak-agak kalem tapi koplak. Mungkin akan berkesan film komedi remaja, namun saya sukak banget! Dan lagi-lagi, sikap yang diambil tokoh Farhan memang liar. Saya suka karakternya. Moment ia bilang soal dirinya ke Tania itu, perihal kagum, terasa monumental--dan masih konsisten dengan tindakan awalnya melabrak pemuja-yang-bukan-lagi-rahasia itu. Keren ini, Bung Rian! Dan... saya harus akui juga, kalimat sebagai dialog Tania soal penerimaan perangai itu, terlalu dalam. Itu, sekali waktu memang tepat dalam cerita ini, sayangnya terlalu berbeda dengan kesan karakteristik tokoh. Memang siy, Tania masih misterius. Hanya saja pilihan kalimatmu menjelaskan "sikap jujur" itu terlalu "tinggi". Rasanya jadi timpang dengan kesan yang sebelumnya berhasil kamu kembangkan. Dialog Tania itu sewajarnya merupakan "inti" cerita, yang sewajarnyalah juga hanya tersirat. Agar ceritanya tetap berkesan dan nggak menggurui. Siasatnya adalah, ini hanya saran, mencari pilihan kalimat yang tepat yang biasa diucapkan oleh orang seusia Tania, dalam lingkup genre cerita F ini.
.
Di halaman 7, saya ingin menyampaikan hal ini. Namun perlu diingat kalau ini jelas nggak berhubungan dengan isi F secara teknisnya. Cuma pendapat atas fase yang kamu gunakan dalam hubungan Farhan dan Tania. Saya nggak koment lebih jauh soal itu, hanya saja, antara mereka, berarti, rasa cinta datang belakangan setelah mereka pacaran. Di jaman saya, mungkin sekarang sudah seperti itu, keadaannya berbeda. Cinta dululah baru pacaran. Jadi, untuk bagian tersebut, saya nggak bisa menikmatinya XD
.
Oke, ini grafik penilaian saya menurun meski konflik F meningkat. Adegan Tania minta putus pada Farhan itu. Dan lagi-lagi sebabnya adalah karakter Tania. Oke, kita anggap ia labil, namun pilihan dialognya terasa nggak cocok di sini. Nggak cocok dalam arti kesan ya, bukan pas tidaknya dengan isi cerita. Ia malah terlalu dewasa dari dialognya yang menjelaskan sifat-sifat para remaja. Dan...
.
Rian, ini udah bagus kalau berhenti di halaman 16 (ternyata cuma 18 halaman). Menurut saya ya: di poin itu, engkau telah berhasil menunjukkan sebuah peristiwa-umum yang dikemas apik dan nggak diduga. F punya adegan-adegan yang vital. Nggak bisa dihilangkan begitu saja, kecuali dipangkas: mengingat cerpen ini memang cukup panjang. Alasan saya F bagusnya berhenti di halaman 16 adalah demi menanamkan efek "renung" pada pembaca. Ketika pembaca pada akhirnya harus disuguhkan 2 halaman terakhir, maka renung itu nyaris hilang dan tergantikan oleh "itulah makanya" yang nggak banget rasanya bagi pembaca cerdas. Pembaca nggak butuh itu. Mereka harus dibikin bertanya-tanya, merenung itu. Pembaca juga, semisal F berhenti di halaman 16, nggak meraba-raba jalan cerita juga kok. Menurut saya mereka tak butuh tahu apa yang terjadi selanjutnya. Mereka sudah cukup tahu apa yang terjadi dari awal hingga akhir. Dan kesan itu sudah pasti ada di benak mereka. Kurva menurun yang engkau bubuhkan di penutup, itu nggak manis, nggak banget, dan nggak penting.
.
Saya membayangkan, ketika Farhan akhirnya mendapati dirinya babak belur, di samping ibunya, tokoh ibu takkan bicara banyak (tak "seintelek" yang engkau buat). Ia bersedih, atau mungkin menangis (diam-diam) dan Farhan merenung menerka-nerka apa isi hati ibunya dan apa saja yang ibunya sudah ketahui. Titik. Nggak ada indikasi penyesalan << ini malah mendikte pembaca. Namun bersedih, rasanya itu sisi emosional yang memang harus ada. Dan, cerita usai sampai di situ. Pembaca pulang dengan bertanya-tanya: kenapa ini bisa terjadi (yang sudah barang tentu membutuhkan teori-teori soal hubungan manusia dengan dirinya dan lingkungannya). Intinya akan membuat diskusi soal itu jadi berkembang dan menyegarkan pikiran. Keren!
===================================================
F ini sangat memukau. Saya nggak yakin apakah ketika F dikemas dalam POV lain, bisa lebih bagus lagi atau malah jadi buruk. Pun begitu, saya nggak bisa menilai baik-buruknya pilihan POV begini. Namun, saya sangat terhibur, terpuaskan, dan juga kagum engkau bisa menulis cerpen sepanjang-tapi-tetap-menarik seperti F! Intensitas konflikmu terjaga. Mungkin hanya pendalaman karakter yang rasanya terlalu melebar hingga membuat cerpen membengkak. Mungkin pembaca yang lain akan bosan, tapi saya bisa kesampingkan rasa itu karena pengenalan karakter yang kamu pilih pada toko Farhan sudah begitu membuat saya kagum. Kip nulis. ahak hak hak.

Writer rian
rian at - (7 years 28 weeks ago)

Makasih banyak, Bang:D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at - (7 years 28 weeks ago)
90

hai rian. maaf ya belum meluangkan waktu buat baca yang di e-mail. udah keburu dipajang di sini, hehehe ._.v
.
saya rasa ini bagus, rian. walau bahasanya ya begitulah, tapi saya menikmatinya seperti waktu mengeksplorasi kata di draf saya sendiri #eh ini kesannya lebih cair, ngalir, natural, apalah, ketimbang Ita, entah kenapa. mungkin karena subjektivitas saya aja: untuk tokoh cewek lebih enak bahasa yang ringan dan lincah ke mana2, sedangkan untuk tokoh cowok cukup pas bahasa yang serius sekaligus liar (lincah dan liar apa bedanya, ya?). meski begitu, masih soal bahasa, agak kebayang mereka seperti remaja era Rafika Duri (lagian kamu pakai ungkapan "hati ditusuk duri", memang ada lagunya Tante Rafika yang berjudul "Hati Tertusuk Duri, haha), ditambah lagi pakai malu2 segala pas mau gandengan tangan, ah, meski alasannya lebih karena bukan muhrim ketimbang tradisi jadul. coba lain kali pacarannya di bawah pohon kamboja macam di lagu gubahannya Jack Lesmana itu. (lagian ga jelas juga setingnya ini masa kapan. tapi satu yang saya sadari lagi, rian, gaya bahasa yang sempat saya pakai itu kayaknya kepengaruh dari lagu2 Indonesia jadul favorit saya deh. kalau kamu mungkin karena suka baca buku2 sastra Indonesia lawas di perpustakaan sekolah?)
.
alurnya udah kerasa memuncak, rian, setelah adegan aksi bertarung sama begajulan itu lalu ditingkatkan lagi dengan konflik sama ibunya, walau, yah, akhirannya masih kerasa melempem sih, seperti yang sebelum2nya.
.
"respon", "punggunggu", "aktifitas", "sunyu", "koid", "merangset", coba dicek lagi.
.
panjangnya cerita bisa jadi bikin pembaca malas, sejujurnya saya sempat merasakan begitu juga, he, sebelum membaca ulang sampai tamat dan merasakan asyiknya, tapi di sisi lain, saya merasa ini kemajuan, karena siapa tahu lain kali kamu bikin yang lebih panjang lagi dengan unsur2 cerita yang tergarap dg baik, dan itu udah bisa disebut sbg satu draf novel, terus dikirim ke penerbit deh.
.
soal dialog yang ga pake tanda kutip itu juga bisa jadi memusingkan, tapi saya sempat merasa kesannya justru jadi lebih ngalir, dialog nyatu sama narasi itu. untuk kenyamanan sebagian besar pembaca, saya kembalikan pada penulis saja.
.
selama masih ada hasrat membaca dan menulis, semoga terus rajin berkarya, ya. dg yang ini, saya merasa optimis lamban laun kamu bisa jadi lebih baik lagi.
.
kalau saya ada salah kata, mudah2an ada yang berkenan meluruskan.

Writer rian
rian at - (7 years 28 weeks ago)

Dikait-kaitin sama Rafika Duri segala, haha. Iya, saya tau sih lagunya yang "Hati Tertusuk Duri" itu, sering diputer Bapak saya di rumah, dan gara-gara itu saya jadi seneng ngedengerin lagu-lagu jadul juga. Mungkin terpengaruh juga dari sana, selain dari buku-buku perpustakaan.

Saya tau ini kepanjangan tapi males mangkasnya. Pas idenya muncul pertama kali, enggak kebayang pas ditulis bakalan jadi sepanjang ini. Tapi memang pas nulisnya cerpen ini lebih berkesan ketimbang cerpen-cerpen lain. Lebih berasa dan lebih memorabel.

Saya membaik? Ah, bisa aja.

Makasih udah mengapresiasi:)

Writer Isk
Isk at - (7 years 28 weeks ago)
100

Keren kak, ngalir gitu bacanya. Cuma tanda petik untuk dialog disembunyiin di mana, kak?

Writer rian
rian at - (7 years 28 weeks ago)

Di Venezuela. Saya cuma sok keren aja, Isk.

Makasih udah mengapresiasi

Writer vinegar
vinegar at - (7 years 28 weeks ago)
50

Hallo, rian.

Susah membedakan dialog dan narasi karena gak ada tanda petik. apalagi dengan jumlah kata sepanjang itu, mikir2 dulu kalo mau baca sampai selesai. Sebenarnya ngalir sih ceritanya, dengan kesimple-naifan khas remaja, semuanya bisa ditebak. Mungkin di mata teenagers cinta ya semudah itu saja, aku suka kamu, kamu suka aku, yuk pacaran, kalo bosan ya putus.

Entahlah mungkin saya emang gak bisa menikmati cerita teenlit begini karena similar satu sama lainnya, mungkin perkara umur :)

Writer rian
rian at - (7 years 28 weeks ago)

Belum terasa unik, ya? Padahal saya kira kalau pakai POV orang kedua plus gaya bahasa dibikin liar bisa kerasa beda dibanding teenlit-teenlit lain. Kalau masalah cerita plus karakter, sengaja dibikin labil.

Makasih udah mengapresiasi, Mbak Vinegar

Writer alcyon
alcyon at - (7 years 28 weeks ago)
100

when its grow long, plis separate it into four part, capek juga mbacanya sebanyak 4000 kata.
dan untuk penggunaan dialog, bagus dibuat baku aja dikasih tanda petik, lebih manis.

Writer rian
rian at - (7 years 28 weeks ago)

Awalnya mau saya pisah, tapi setelah dipikir-pikir lagi, entar jadinya enggak intens gitu pengalaman membacanya. Tapi mungkin memang lebih bijak kali, ya, kalau cerita ini dibagi tiga.

Penggunaan dialog. Yah, saya cuma sok keren aja sebenernya, hehe.

Anyway, makasih udah mengapresiasi

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at - (7 years 28 weeks ago)
70

Wah ini keren, suka bgt sama diksi n flow dari paragraf satu ke paragraf lain. Tapi sayangnya kepanjangan, jadi aku bacanya juga lompat-lompat karena ngeskip bagian2 yang aku enggak tertarik. Ending kisah cintanya predictable n so mainstream tp eksekusinya oke. Suka sama endingnya. Coba kalo kalo cerita ini dipangkas. Itu aja sih, makasih :)

Writer rian
rian at - (7 years 28 weeks ago)

Endingnya oke? Orang pertama yang berkata demikian!

Mestinya memang cerita ini dipangkas, tapi sayanya yang males, he.

Makasih udah mengapresiasi

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at - (7 years 28 weeks ago)

Iya, aku suka endingnya! Si Farhan berkontemplasi, merenungi yang ia perbuat, memikirkan kata-kata terakhir ibunya. Meakipun enggak secara gamblang tertulis, tapi Farhan paham. Character developmentnya di akhir cerita. Ada perubahan di situ. Perubahan cara pikir, atau persepsi, atau apapun itu sebutanya. Itu yang aku tangkep sih. Maap kalo ternyata bukan itu maksudnya hehe.