Maaf, Cintaku

  • MAAF, CINTAKU …

 

Sambil menghela napas gusar, laki-laki tegap berseragam militer itu memperhatikan sekitar delapan sampai sepuluh orang wanita berjilbab, dan anak-anak yang berjejer membentuk barisan di depannya—di bawah todongan senjata laras panjang para bawahannya yang juga mengenakan seragam militer.

Dia benar-benar kesal. Beberapa waktu lalu dia dan team-nya ditugaskan untuk menangkap dan membunuh beberapa anggota kelompok Hamas, di persembunyian mereka di sekitar perumahan warga di Jalur Gaza, namun sepertinya operasi penyerangan yang akan mereka lakukan telah diketahui oleh pihak Hamas, karena setibanya kelompok mereka di sana, mereka tidak mendapati satu pun anggota kelompok Hamas. Yang ada hanyalah beberapa wanita dan anak-anak—yang kemungkinan adalah istri dan anak-anak pemberontak muslim itu.

“Komandan. Bagaimana ini? Kita kembali saja, atau ….” salah satu bawahannya yang berpangkat sersan dua menghampiri. Tentara muda Israel itu melirik putus asa, pada anak-anak dan wanita Palestina, yang tampak gelisah menunggu penentuan nasib mereka. Dalam hatinya berharap, seandainya dia adalah tentara yang berpangkat sedikit lebih tinggi sehingga bisa membuat keputusan, dia ingin sekali melepas para wanita dan anak-anak ini. Biar bagaimanapun mereka hanya korban perang yang tidak bersalah. Namun perintah telah keluar sebelum operasi penyerangan dimulai, mereka diharuskan membunuh semua orang yang berada/tinggal di tempat persembunyian Hamas itu.

Si Komandan kembali menghela napas berat, dia memijat pelipisnya frustrasi, kemudian mengatakan, "Eksekusi mereka," dengan tegas.

Para tentara yang berada di Ruangan itu tampak kebingungan, "T-tapi mereka hanya anak-anak dan wanita. Mereka ...."

"Itu perintah, kita tidak punya pilihan," ucap si Komandan sembari berjalan keluar dari Ruangan.

Para wanita berjilbab terlihat panik, mereka mulai menangis memeluk anak-anak mereka, sambil menyerukan "Allahu'akbar!" Dengan suara lantang.

Seorang wanita yang tampak paling muda diantara para wanita lain di Ruangan itu, diseret ke depan barisan untuk dieksekusi lebih dulu. Dia tampak tenang dibanding yang lain. Kepalanya mendongak, dan mata cokelat jernihnya hanya menatap datar pada sosok tegap berseragam militer yang menodongkan senapan laras panjang ke kepaanya.

Keduanya terdiam selama beberapa saat.

Si wanita mendesah, dia kemudian tersenyum, memejamkan mata dan membaca dua kalimat syahadat dengan suara pelan. Si lelaki tentara Israel itu terdiam, menatap nanar pada wanita muda yang berlutut menunggu ajal di depannya.

"Maaf ...," ucapnya dengan suara serak, sebelum menarik pelatuk senjata yang meladakan kepala si wanita muda Palestina.

Setelah selesai mengeksekusi wanita malang itu, dia segera beranjak keluar dari Ruangan tersebut.

***

"Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku, Cintaku, maaf." Tubuhnya luruh ke tanah, dia terisak, menangis seraya memeluk selembar foto kusam yang dia keluarkan dari dalam saku celana. Foto seorang wanita cantik berparas timur tengah, dengan mata cokelat jernih yang indah.

Mengenakan kemeja putih lengan panjang, dan selendang polos berwarna merah muda pucar di leher. Wanita itu tersenyum manis ke arah lensa kamera, sambil memeluk setumpuk buku tentang arkeologi di dada.

Dia tidak menyangka, setelah empat tahun berpisah dengan wanita yang dicintainya—karena faktor perbedaan agama, mereka akan bertemu kembali dalam situasi rumit seperti ini.

Hatinya hancur. Dia tidak pernah membayangkan akan membunuh wanita yang dia cintai dengan tangannya sendiri.

"Sayang, maafkan aku ...."

 

(Flashback)

 

"Maksudmu kita tidak akan pernah bisa bersatu?"

"Hmm. Iya."

"Apa karena aku yahudi, dan kau muslim?"

Wanita itu tersenyum, melihat raut kesal dan bingung lelaki tampan berambut cokelat gelap di depannya. "Itu salah satunya."

"Lalu yang lainnya?"

"Karena aku Palestina, dan kau Israel. Kita tidak ditakdirkan bersama."

Si lelaki mendengus gusar. "Ini Amerika, Nona. Hubungan dan pernikahan beda agama ataupun negara diperbolehkan. Jadi jangan bicarakan soal agama dan juga negara kita yang bertikai di sini."

Wanita terkekeh, " Sekarang kau boleh saja berkata seperti itu. Tapi suatu saat dalam situasi yang mengharuskanmu memilih antara cintamu padaku dan juga cintamu pada negara, aku jamin kau pasti akan memilih untuk membunuhku demi negaramu."

"Apa-apaan bicaramu itu? Tidak akan!" Geram lelaki itu sambil memelototi si wanita, "lanjutkan saja belajarmu."

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vinegar
vinegar at Maaf, Cintaku (5 years 26 weeks ago)
60

Setahu saya israel bukan negara, tapi bagian daerah politik dari negara palestina. Sementara muslim palestine terkonsentrasi di tepi barat dan gaza, selebihnya mayoritas yahudi, cmiiw.

Kalo tema perbedaan sebenernya masih banyak kok setting lain yg lebih dekat sama kita, kalo konflik palestine kayaknya jauh di luar garis kita. Semua masih dalam perdebatan dan cuma orang2 yg bertikai itulah yg paling tahu.

Mungkin lain kali lebih ati2 aja make tema yang sensitif gini. No offense ya. Keep writing :)

Writer citapraaa
citapraaa at Maaf, Cintaku (5 years 26 weeks ago)
40

harusnya sedih, cuma ceritanya kurang panjang, kurang puas :P
menurutku bagus pake tanda ***, jadi dramatis
tapi kata (flashback) pakai tanda kurung terlihat agak ganggu gitu, kalau pake kata2 misal "New York, lima tahun sebelumnya.." atau apa punmungkin lebih pas.

Writer Nine
Nine at Maaf, Cintaku (5 years 26 weeks ago)
80

Halo Isk, kita bertemu lagi dalam acara "komen-komen kekom", hehe

Soal cerita bagus, seperti yg sudah di babat sama bang hadjri, tapi saya ada tambahan, di bagian ending, seharusny ketika si tentara memohon maaf ngak usah dipisah pke *** karna pembaca sudah ngerti.. trus bagian flashback.. mmm mungkin menurut sya ngak perlu, soalny membuat ending jadi datar, tetep enak kok menurut sy klo endingny ngak pke flashback..
Yh itu saja dri saya, saya suka ceritanya..

Salam lestari.. :)

Writer alcyon
alcyon at Maaf, Cintaku (5 years 26 weeks ago)
90

bag pertama dan bag kedua dari cerita yg dipisah tanda *** ini, aku gak menemukan korelasinya apa? apa si pembunuh israel itu telah membunuh wanita muda yang filistin?
di bag flashback, mereka sedang di amurica kan? apa mereka sama2 akhirnya pulang kampung ke negeri masing2? deskripsinya masih kurang...
dan satu lagi, tidak ada yang namanya pemberontak muslim, adanya pejuang muslim, karena kita gak sebagai WNI gak pernah mengakui kalo israel itu sebuah negara

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Maaf, Cintaku (5 years 26 weeks ago)
90

Poinnya lupaa

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Maaf, Cintaku (5 years 26 weeks ago)
100

Argh! *frustasi*
Ini bagus, settingnya beda dari cerpen2 lain di kekom, meskipun masih kurang deskriptif tentang tempatnya. Kisahnya ngalir, enak dibaca. Panjangnya juga pas, enggak terlalu pendek enggak terlalu panjang, enggak ada informasi2 gak guna juga yang bikin kisahnya kehilangan fokus. To the point. Reaksi si tentara Israel itu enggak sedramatis yang kubayangin, sih. Tapi ya gak masalah. Adegan flashbacknya ngena banget. Overall ini bagus. Poin penuh! :)

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Maaf, Cintaku (5 years 25 weeks ago)

Eh sebentar. Pembacaan kedua kali, banyak kesalahan penulisan ya. Paragraf pertama dan kedua tanda komanya terlalu banyak, pantesan tadi aku baca agak megap2. Kalau kalimat setelah dialog itu masih menjelaskan dialog, maka setelah tanda petik di akhir ga usah pake huruf kapital. Dalam dialog gak usah pake titik-titik kebanyakan, tanda baca yang overload gak enak buat dibaca. Kata di-, -di, -ku, ku-, dan -nya dirangkai jangan dipisah. Yahudi dan Muslim pake kapital soalnya itu menunjukkan suku bangsa dan agama. Poinnya kuturunin satu ya, hehe.
All and all, aku suka banget tema yang kamu usung. Suka sama message yang kamu angkat juga. Enggak banyak cerpen yang kubaca yg membahas dari sudut pandang ini. You can write whatever story you want to write, jangan biarkan siapapun atau apapun membatasi apa-apa yang ingin kamu suarakan dalam bentuk kisah di atas kertas (atau layar monitor hehe). Aku tunggu cerpen2mu yang lain :)