BAKAT (3)

Bakat Risa

“Tuh, tuh, lihat. Ada Risa,” ujar laki-laki di kampus yang sedang nongkrong di halaman kampus.

Wanita yang di bicarakan baru saja sampai di gerbang kampus dan laki-laki di kampus sudah mulai membicarakannya, berkhayal lebih tepatnya. Bagaimana cara mendapatkan perhatian Risa, bagaimana jika berpacaran dengan Risa, bagaimana jika Risa tidak pakai dalaman, dan bagaimana lainnya. Kebiasaan laki-laki.

“Hai, Risaaa,” sapa sebagian mahasiswa yang Risa lewati. Sebagian dari mereka tersenyum nakal padanya, malah ada yang mengedipkan mata mencari perhatian.

Risa hanya membalas dengan senyuman. Dia tidak bisa menyapa balik. Nama mereka saja tidak tahu. Risa sudah terbiasa di sapa orang asing. Di tempat kos, di bis, di kampus, bahkan di HaPe, dan Risa selalu membalas dengan senyuman.

“Risa!” seorang wanita melambaikan tangan pada Risa dan mendekatinya.

“Hai kak,” Kak Dewi panggilannya. Sepupu Risa. Usianya lebih muda, tingginya lebih pendek dari Risa, tapi karena budaya dan rahim yang mengandung Dewi lebih tua membuat Risa wajib memanggilnya Mba atau Kak.

 “Kamu baru datang Ris? Siang bener,” Dewi melihat jam tangannya.

“Kuliahnya siang, mau gimana lagi,” Risa mengangkat bahunya.

“Yang udah mau selesai beda ya kuliahnya,” Dewi cengengesan.

“Satu matkul kan kita?” tanya Risa, Dewi mengangguk. “Yasudah, yuk ke kelas.”

BAKAT

Hai Sa,” seorang laki-laki menyapa Risa lagi. Dia baru saja menaiki tangga menuju kelasnya di lantai tiga dan seseorang sudah menyapanya lagi. Kali ini dia mengenal mahasiswa itu.

“Hai Gen,” jawab Risa. Genta namanya. Salah satu dari sekian banyak laki-laki yang mencoba mendekati Risa. Entah sejak semester berapa, Risa lupa. Tapi, yang jelas dia tidak pernah menyerah meskipun Risa tidak pernah memberi respon apa-apa.

“Nanti pulang kuliah bareng yuk,” Genta tersenyum.

Risa juga membalasnya dengan tersenyum. Sudah bosan mendengar permintaan itu dan bosan menolaknya.

“Aku nanti ikut ya Gen, irit ongkos,” Dewi nimbrung nyengir-nyengir.

Genta hanya tersenyum, malas menanggapi.

BAKAT

Selesai perkuliahan. Langit jingga siap berganti malam. Risa dan Dewi berjalan bersama, bercanda dan tertawa bersama. Menyusuri halaman kampus yang masih ramai dengan mahasiswa kelas malam.

Dari kejauhan Genta sudah melihat dua wanita itu berjalan kearahnya. Dengan bersandar pada salah pintu mobilnya, dia menunggu Risa dan Dewi mendekat.

“Sa, aku antar pulang ya,” sapa Genta ketika Risa sudah di dekatnya.

“Tidak perlu Gen, aku pulang sama Dewi naik bis saja,” Tolak Risa halus.

“Kamu kenapa sih, nggak pernah mau aku antar pulang?”

“Aku sudah sering bilang kan Gen, aku nggak enak ngerepotin kamu,” Risa beralasan. Alasan sebenarnya adalah fakta bahwa Genta adalah playboy. Suka berganti-ganti pasangan dan semua wanita akan berujung sakit hati karenanya. Bahkan ada rumor yang mengatakan salah satu mantannya sampai mencoba bunuh diri karena Genta tidak ingin bertanggung jawab setelah menghamili wanita itu.

“Tapi aku tidak merasa direpotkan,”

“Iya, aku yang merasa merepotkan kamu Gen. Sudah ya, aku pulang dulu,” Risa menarik tangan Dewi dan berjalan meninggalkan Genta.

“Kamu kenapa sih nggak mau diantar pulang Genta? Kan enak naik mobil bagus, AC-nya pasti dingin,” Dewi terkekeh.

“Kak, kamu tahu kan Genta itu siapa… playboy. Bahaya dekat-dekat sama dia,” jelas Risa.

“Yah, kamu manfaatin aja Sa. Nggak perlu sampai pacaran.”

“Pikiran kamu Kak, kotor banget,” Risa geleng-geleng. Dewi tertawa.

Tidak jauh di belakang mereka Genta mengepalkan tangannya begitu kuat.

BAKAT

Risa turun dari bis yang ditumpanginya. Dia melihat jam tangan dan sadar dia pulang terlalu malam. Risa menggerutu, menyalahkan Dewi yang mengajaknya ke Mall dahulu. Jalanan mulai sepi, hanya beberapa pengendara motor terkadang melintas. Risa berjalan menyusuri jalan kecil menuju tempat kosnya. Dia membayangkan tugas akhirnya yang akan terbengkalai lagi malam ini.

Dari belakang tiba-tiba Risa merasa ada seseorang yang mengikutinya. Risa memalingkan wajahnya. Belum sempat dia melihat siapa, sebuah sapu tangan sudah mendarat di wajahnya. Entah apa di dalamnya, tapi Risa merasa mengantuk dan tertidur seketika.

Tiga orang pria membawa tubuh Risa dan memasukkannya dalam sebuah mobil. Sekarang Risa berbaring di jok belakang. Kepalanya bertumpu pada paha seseorang dan kakinya di paha orang lainnya.

“Gila ni cewe, dari deket tambah cantik aja,” ujar pria yang memangku kepala Risa.

“Kakinya juga bagus banget,” kata pria lain yang memangku kakinya. “Anjing, langsung nafsu gua megang kakinya aja.”

Pria itu mengelus kaki hingga paha Risa, yang satu lagi mengelus rambut dan wajah Risa.

“Woi! Jangan ada yang berani nyentuh Risa sebelum gua!” pria yang mengemudikan mobil terlihat kesal melihat dua orang pria di belakang mulai menggerayangi Risa.

Orang terakhir yang duduk di sebelah pengemudi mulai tertawa. “Guys, tahan dulu. Kasih Genta dulu baru nanti kita gantian,” Dua orang  di belakang tersenyum jahat, membayangkan rasanya tubuh Risa yang indah.

Mobil  terus melaju, menuju suatu tempat di pinggiran kota. Bangunan-bangunan tinggi mulai menghilang dan berganti dengan rumah atau ruko warga yang jarang. Genta terus melihat kanan dan kiri. Mencari tempat yang cocok untuk melaksanakan niat jahat mereka.

Akhirnya, mobil berhenti pada sebuah rumah tua yang tidak terpakai lagi. Genta melihat kanan dan kiri. Begitu sepi, ada beberapa rumah tapi tidak begitu dekat dengan posisi mereka. Aman!

“Lo serius Gen, mau disini?” ujar pria yang duduk di sebelah Genta. “Ini rumah Belanda Gen, angker.”

“Halah, masa bodoh! Mana ada setan yang mau gangguin setan,” Tegas Genta.

Yang dibelakang terkekeh. Pria yang di depan hanya bergidik, tapi dia sudah terlanjur ikut sejauh ini, sayang jika dia mundur hanya karena “angker”.

Empat orang itu turun, membawa tubuh Risa ke dalam. Tubuh Risa di letakkan pada sebuah ruangan bagian belakang rumah. Empat pria itu sekarang mengelilingi Risa. Ada perasaan cemas bercampur penasaran membuat mereka sedikit gemetar sambil tersenyum lebar.

“Ayo Gen, buruan. Gua udah nggak  sabar nih,” ujar salah satu dari mereka diikuti anggukan dari yang lain.

Genta tersenyum lebar. Ada rasa puas dalam dirinya. Pembalasan bagi wanita yang berani menolaknya. Genta mulai mendekat, mengamati setiap lekukan tubuh Risa dari atas. Perlahan dia duduk di atas tubuh Risa, memperhatikan lagi setiap inchi dari tubuh Risa dan merabanya secara perlahan.

Ughh! Risa merasakan sesorang sedang menggerayangi tubuhnya. Dia mencoba membuka matanya yang terasa berat. Dengan paksa Risa mencoba membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya hanya kegelapan yang buram. Risa mencoba mengedipkan matanya beberapa kali. Penglihatannya mulai jelas. Masih gelap, tapi dia bisa melihat bayangan seseorang menindihnya. Tersenyum kearahnya.

Risa menjerit ketakutan. Genta yang terkejut mendengarnya langsung membekap mulut Risa. Takut seseorang mendengarnya. Risa terus meronta, mencoba menyingkirkan Genta dari atas tubuhnya. Genta yang merasa kegiatannya terganggu segera memerintahkan ketiga temannya untuk memegangi kedua tangan dan kakinya. Risa terus meronta meskipun telah dipegang tiga orang. Genta yang sudah tidak tahan segera meluncurkan ciuman ke mulut Risa, dilanjutkan dengan menjelajahi setiap wajahnya. Risa merasa jijik dengan air liur Genta memenuhi wajahnya. Ingin sekali dia muntah di wajah bajingan ini. Selanjutnya yang dia ingat tangan bajingan ini sudah berada di dadanya. Meremas salah satu payudaranya dengan kasar. Risa menahan sakit karena perlakuannya. Dia ingin berteriak tapi tidak bisa karena ditahan oleh tangan  pria itu. yang bisa dilakukan Risa sekarang hanya menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasibnya yang entah akan seperti apa.

Puas meremas dan menjilati payudara Risa, Genta melanjutkan memainkan tangannya dengan memasukkan jari-jarinya dalam celana Risa. Risa terbelalak lalu kemudian terpejam. Dia merasa jijik dan benar-benar kotor dengan perlakuan Genta. Dia menangis sejadi-jadinya. Berharap Genta akan kasihan melihat air matanya. Tapi tidak, Genta terus melancarkan kebejatannya tanpa rasa iba. Justru kepuasan mendalam merasukinya saat ini. Senyum di wajahnya semakin lebar, terlihat begitu senang.

Mental Risa benar-benar jatuh sekarang. Rasa sakit yang mendalam dirasakan tubuh dan hati Risa. Dan rasa sakit itu adalah hal terakhir yang Risa ingat. Risa kehilangan kesadaran, mengalami kejatuhan mental tidak kuat menahan berbagai emosi yang berkecamuk dalam dirinya.

BAKAT

“AAGGGHHHH!!!” Genta mendengar teriakan dari salah satu temannya yang membantu memegang tangan Risa.

“AAGGGHHHH!!!” disusul dengan teriakan temannya yang memegang tangan lainnya.

Genta tidak tahu apa yang terjadi. Penerangan yang minim membuat Genta hanya bisa melihat siluet temannya yang menjerit kesakitan.

“Kenapa kalian!” pekik Genta.

“Tanganku! Tanganku!” kedua temannya menjerit kesakitan.

“Gen, kenapa mereka?!” temannya yang memegang kaki Risa mulai ketakutan, berpikir hantu rumah ini telah muncul.

Genta tidak menjawab. Tubuhnya membatu di atas tubuh Risa. Sepasang mata merah menyala yang terus memperhatikan Genta. Genta melepaskan tangan yang menahan mulut Risa sedari tadi, membuat Genta semakin ketakutan. Mulut itu tidak meronta lagi, malah tersenyum melihatnya.

“Hwaa!!!” Genta melonjak ketakutan. Menjauhi Risa. Ada yang aneh dengan Risa.

“Genta lo kenapa?!” tanya teman yang memegang kaki Risa. Genta terus menjauhi Risa hingga terpojok di salah satu dinding. Tidak mengerti apa yang terjadi pada Genta dan temannya yang lain, dia kembali melihat Risa yang masih dia pegangi kakinya. Risa telah bangkit, duduk dan berada setara dengannya. Wajahnya begitu dekat melihatnya dengan tersenyum dengan mata merah terang yang terus memperhatikannya.

Orang itu ketakutan, melepaskan pegangannya pada kaki Risa dan seperti Genta berusaha menjauhi Risa yang sepertinya telah berubah.

Risa – atau sesuatu yang lain – itu bangkit. Melihat sekelilingnya. Dua orang merintih kesakitan dan dua orang ketakutan melihatnya. Dia tertawa, begitu keras hingga menggema ke seluruh ruangan.

“KALIAN TELAH MELAKUKAN KESALAHAN BESAR,” Dia tersenyum, suaranya begitu menggelegar dan tegas. “KALIAN HARUS MEMBAYARNYA DENGAN NYAWA KALIAN!”

Genta dan temannya sontak berlari ketakutan, meninggalkan kedua temannya yang terluka di dalam. Melihat pintu keluar di ujung mata membuat Genta dan temannya begitu lega. Tapi, bayangan di ujung sana membuat Genta melambatkan langkahnya.

Risa sudah berada di sana. Menanti mereka di daun pintu dengan tersenyum. Genta menghentikannya langkahnya. Lututnya lemas dan bergetar hebat, begitu juga temannya di sebelah.

“Kalian tidak akan kemana-mana,” Risa tersenyum.

Baru saja Genta dan temannya mundur selangkah, Risa sudah bergerak cepat dan menangkap leher teman Genta. Genta yang melihatnya segera berlari meninggalkannya. Risa tersenyum, dia mencengkram leher orang itu dan menekannya begitu kuat hingga leher itu robek  dan meninggalkan lobang besar pada lehernya.

Risa lalu meninggalkan orang yang sedang meregang nyawa itu dengan darah yang bercucuran deras. Risa lalu mengejar Genta yang berlari kembali ke dalam rumah.

Genta terus berlari. Menyusuri setiap ruangan. Meraba sisi-sisi dindingnya. Dalam gelap dia tidak tahu berlari kemana. Rumah itu tidak tampak besar dari luar, tapi entah kenapa sekarang rumah ini terasa besar bagi Genta. Mencari pintu keluar hanya bermodalkan cahaya bulan yang samar. Berharap rumah ini memiliki pintu belakang.

Keringat dingin mengucur dari dari dahi dan lehernya. Suara degup jantungnya bisa terdengar di telinga Genta. Suara tetesan air jatuh ke lantai terdengar semakin besar dan dekat padanya.

“KAU SUDAH PUAS MENIKMATI TUBUH INI?” suara Risa terdengar dari belakang “SEKARANG, BIARKAN AKU YANG MENIKMATI TUBUHMU!”

Sesuatu seperti menarik Genta dan mendorongnya ke sisi dinding dengan keras. Tangan kasar dan cakar tajam menekan leher Genta begitu kuat. Membuatnya sulit bernapas.

“Ri… Risa, a… aku minta maaf,” mohon Genta lirih.

“AKU BUKAN RISA! RISA SEDANG TERTIDUR DI DALAM TUBUH INI,” ujarnya tersenyum lebar pada Genta. Genta bisa melihat gigi-gigi tajam di sana.

Kemudian yang terjadi, senyum itu melebar, menganga, dan menggigit leher Genta. Genta menjerit kesakitan. Tapi, itu tidak lama. Pita suara genta putus dan suaranya hilang. Meninggalkan Genta yang kesakitan, menggelepar seperti ikan keluar dari airnya. Dalam kesunyian Genta meregang nyawa. Dan, Risa melihatnya dengan wajah yang begitu puas.

Read previous post:  
26
points
(936 words) posted by 2rfp 6 years 26 weeks ago
65
Tags: Cerita | Novel | petualangan | kemampuan
Read next post:  
Writer benmi
benmi at BAKAT (3) (6 years 23 weeks ago)
70

Sesudah genta tidak menjawab... ada kalimat ke 4 yang menurutku agak aneh.. coba dibaca lagi kalimat ke 4 itu.. yg sebelum n sesudah koma.. kyknya aneh aja.. ga bener kalimatnya.. hahahah...

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at BAKAT (3) (6 years 24 weeks ago)
70

Hmm..minim deskripsi latar dan setting kalo aku perhatikan. Kurang dapet feel tempatnya dimana, suasananya seperti apa, dll. Mungkin perlu dieksplor lagi gimana mendeskripsikan suasana.
Adegan perkosaannya kurang menegangkan, mental breakdown-nya Risa sampe dia pingsan rasanya kurang. Mungkin butuh ditambahin adegan kekerasan. Genta nampar, mukul dan mencekik Risa. Itu kan bakal nambah ketakutan dan kesakitan si Risa, jadi ketika dia pingsan bisa lebih believable. Genta juga bisa menghina-hina si Risa, bilang kata-kata kotor, dll. Jadi kekerasan yg dialami Risa bukan cuman seksual tapi juga fisik dan verbal. Kan jadinya adegan itu tambah mengerikan dan kesannya realistis. Maksudku, ga usah setengah2 bikin adegan kekerasan kayak gini. Namanya perkosaan ya jelas mengerikan.
Btw, saya pikir ini bukan kerasukan. Semacam..personality take-over mungkin? Ada kepribadian Risa yg lain yg keluar. Kayak karakter siapa gitu di serial TV Heroes, cewek pirang yang kepribadian gandanya punya kekuatan fisik yang gila banget. Atau seperti Jean Grey yg kepribadian Phoenix-nya kejam banget.
Oh satu lagi, ini pure masalah personal taste sih, cuman kayaknya enggak perlu pake capslock di akhir2 cerita itu. Rada ga nyaman aja baca dialog pake capslock. Itu aja, sekian. Maaf kalo sotoy n salah2 kata. Aku suka lho serial Bakat ini, makanya rada cerewet, hehe. Salam :)

Writer 2rfp
2rfp at BAKAT (3) (6 years 24 weeks ago)

latar dan setting ya? (banyak yg protes, mengaku masih lemah soal itu) adegan pemerkosaan pengen di eksplor cuma takut terkesan trlalu keras gtu (saya jg gak sanggup bayanginnya hahaha)
untunglah mas gak anggep ini kerasukan juga -_-
capslock itu niatnya pengen jelasin suara sosok rusa yg lain itu yg menggelegar dan bergema d seluruh ruangan saat berbicara, iya deh ntar d revisi lg

Writer alcyon
alcyon at BAKAT (3) (6 years 24 weeks ago)
100

ceritanya menarik, tapi bagian pemerkosaannya rasanya terlalu dieksplor ya hehehe...

Writer 2rfp
2rfp at BAKAT (3) (6 years 24 weeks ago)

iya, anggaplah saya terlalu asik menulis bagian itu hahaha

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at BAKAT (3) (6 years 24 weeks ago)
80

Bagus Kak ceritanya. Tapi kayaknya belum terlalu tegang. Ng, saya juga kurang ngerti pas Risa kayak kemasukan itu. Dia ceritanya itu bakatnya, ya Kak? Narasinya bagus, Kak.

Tetep semangat Kak.

Writer 2rfp
2rfp at BAKAT (3) (6 years 24 weeks ago)

iya itu bakatnya, tapi knp bgitu aka d jelaskan d bab yg akan datang.
oh buat ketegangan itu gmn? saya masih menciptakan suasana

Writer Nine
Nine at BAKAT (3) (6 years 25 weeks ago)
70

Hmmm, ceritany kurang tegang om, ini crita ttng wanita yg tiba2 kerasukan pas mau diperkosa, tpi knpa yh? Saya ngk bgitu ngerasa thrillerny.. narasiny keren..
Di bagian pas Risa kemasukan itu ngak jelas kenapa, sy bingung.. kyakny sy msh lebih suka sama bakat1 dan bakat2..
Mohon maaf bro kalo ada kata yg kurang berkenan, :)
Sy jga msh belajar.. :)

Keep nulis bro..

Writer 2rfp
2rfp at BAKAT (3) (6 years 24 weeks ago)

duh, memang banyak yg bilang kayak kamu tapi begitulah, kadang saya bingun ingin memperbaikinya, tapi bab selanjutnya semoga lbh baik