Something Happy, Something Cold

Kamu tertawa saat membaca SMS dari Rangga. Sudah tiga bulan kamu berkenalan dengan Rangga, dan hidupmu semakin berwarna. Rangga memiliki pola pikir yang berbeda denganmu dan Rio, itu sebabnya kamu senang berdiskusi dengan Rangga. Kalian membicarakan banyak hal, mulai dari cuaca hingga sejarah. Kalian sebisa mungkin menghindari perbincangan mengenai politik, sebab, meski kamu dan Rangga memiliki pola pikir yang berbeda, rasa tidak suka kalian terhadap politik ternyata tidak berbeda jauh.

Salah satu teman kerjamu bersiul kemudian menggodamu, kamu hanya tertawa. Sebab kamu ingat saat Rangga pertama kali menjemputmu, waktu itu Rio masih belum selesai rapat sehingga dia tidak bisa menjemputmu seperti biasa. Beberapa rekan kerjamu yang melihat itu langsung kaget, sebab mereka masih mengira kalau Rio itu adalah pacarmu. Tidak peduli sudah berapa kali kamu katakan, kalau Rio itu hanya sahabat baikmu saja.

Ngomong-ngomong soal pacar, Rangga sudah beberapa kali membawa topik percakapan ke arah sana. Dan kamu selalu mengelak. Entah kenapa, tetapi kamu merasa risih. Kamu merasa kamu belum cukup mengenal Rangga dengan baik, kamu merasa belum cukup berani untuk membuka diri kepada Rangga. Bagaimana jika Rangga tidak menyukaimu lagi setelah dia tahu tentang masa lalumu? Bagaimana jika Rangga hanya bermain-main denganmu? Bagaimana jika...

Suara SMS masuk membuyarkan lamunanmu, ternyata itu adalah SMS baru dari Rangga. Dia bertanya kamu mau dijemput jam berapa. Ini adalah salah satu faktor kenapa Rangga jadi sering membicarakan soal pacaran denganmu. Sudah hampir dua minggu ini Rangga yang menjemputmu, sebab sekarang Rio sudah sibuk dengan Kalisa. Kamu tidak marah, hanya saja kamu sedikit kecewa karena hari pertama saat semua ini terjadi, Rio tidak memberikan kabar kalau dia tidak bisa menjemputmu. Kamu harus menunggu selama tiga jam lebih.

Kamu mengigit bibir bawahmu, ingat kalau hari ini adalah hari Jumat. Kamu dan Rio selalu pergi ke toko es krim, sebab hari Jumat ada diskon hingga lima puluh persen di toko itu. Kamu berpikir bahwa ini adalah salah satu cara yang baik untuk memulai percakapan dengan Rio.

Ya, setelah Rio telat menjemputmu hari itu, sikapnya tiba-tiba berubah drastis. Dia menjadi pendiam, padahal biasanya Rio tidak pernah berhenti bicara denganmu. Bahkan disaat kalian berdua tengah duduk di ruang tengah dan sibuk dengan dunia masing-masing, Rio pasti akan selalu mengeluarkan suara. Entah itu siulan nada sebuah lagu hingga kata makian jika dia kalah bermain video game. Kamu tidak terbiasa dengan Rio yang pendiam, dan kamu harus mencari tahu apa sebabnya.

Dengan sopan kamu menolak tawaran Rangga, meski kamu tergoda untuk makan seafood. Sudah lama semenjak terakhir kali kamu memakan seafood tapi memang di daerah Yogya, rumah makan seafood yang enak sangat jarang. Dalam hati kamu berpikir mungkin besok kamu akan mengajak Rio untuk pergi ke Semarang untuk makan seafood di sana. Ya, kamu sudah semaniak itu terhadap yang namanya seafood.

Kamu menunggu Rio dengan sabar di lobi gedung kantormu. Belum ada kabar dari Rio. SMS terakhir darinya sekitar jam tiga sore tadi, dia sedikit mengeluh soal rekan kerjanya yang baru. Nampaknya dia melakukan sebuah kesalahan saat sedang mengetes video game yang baru, sehingga Rio harus mengulangnya dari awal.

Seorang Riota Nakajima tidak pernah telat.

Pak Satpam yang sering mengobrol dengan Rio setiap kali ia menjemputmu saja sampai heran kenapa jam segini Rio belum tiba. Jika satpam itu heran, kamu sudah masuk tahap panik. Berkali-kali kamu menelepon telepon genggam Rio, menelepon telepon rumah kalian, tetapi tidak ada jawaban. Hingga akhirnya kamu menelepon salah satu rekan kerja Rio. Dia mengatakan kalau Rio sudah pulang dari jam lima, seperti biasanya.

Jika memang seperti biasa, seharusnya Rio sudah tiba dua jam yang lalu. Semacet-macetnya Yogya, hanya butuh waktu tempuh sekitar satu jam dari kantor Rio ke kantormu. Selain karena faktor Rio memakai sepeda motor, Rio sudah hafal dengan jalan pintas hingga jalan tikus dari kantornya menuju kantormu.

Mau tidak mau kamu menelepon Kalisa. Padahal kamu sudah berkali-kali menjelaskan kepada Kalisa kalau hubunganmu dengan Rio hanya sebatas teman, tetapi Kalisa tetap saja sulit untuk percaya kepadamu. Sayang, padahal kamu berharap kalau Kalisa akan berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah masuk dalam hidup Rio.

Kalisa tidak tahu dimana Rio berada, hanya itu yang ia katakan sebelum memutuskan telepon. Kamu menatap layar telepon selulermu dengan mulut terbuka lebar. Siapa yang mengira kalau ternyata Kalisa bisa sekasar ini? Kamu tidak tahu apa yang membuat Kalisa berubah, atau memang dia hanya kasar kepadamu jika tidak ada Rio didekat kalian? Apapun alasannya, kamu tidak tahu. Untuk saat ini.

Itulah sebabnya kamu tidak suka untuk mengenal lebih jauh gebetan-gebetan Rio. Sebab pada akhirnya mereka pasti akan menuduhmu sebagai orang ketiga dalam hubungan mereka.

Kamu mendapat SMS dari tetanggamu, dia mengatakan kalau motor Rio sudah ada halaman rumah kalian dari jam enam sore tadi. Kamu mengembuskan napas, setidaknya Rio ada di rumah. Sambil membalas SMS tersebut kamu berpikir kenapa Rio tidak mengangkat telepon rumah? Kamu pamit kepada pak satpam dan berjalan menuju pangkalan ojek tidak jauh dari kantormu.

Tidak ada lampu yang menyala saat kamu tiba di rumahmu, dan itu membuatmu bingung. Rio tidak pernah lupa untuk menyalakan dan mematikan lampu. Dengan perasaan was-was kamu membayar tukang ojek, tidak peduli dengan teriakan tukang ojek yang memanggilmu untuk mengambil kembalian. Kamu mendengar dirimu sendiri berteriak kepada si tukang ojek untuk menyimpan kembalian itu. Kamu bahkan tidak sadar kalau kamu baru saja bicara, saking paniknya kamu sekarang.

Kamu memanggil Rio setelah mengunci pintu rumah. Tidak ada jawaban. Kamu mencoba sekali lagi, lebih keras. Tetap tidak ada jawaban. Keringat dingin langsung membasahi tubuhmu, sebab kamu teringat terakhir kali kamu berada dalam posisi ini. Dengan cepat kamu berlari ke lantai dua, tempat kamarmu dan kamar Rio berada.

Kamu menggedor-gedor kamar Rio, tidak ada jawaban. Saat kamu masuk ke dalam, tidak ada orang di sana. Kamu kembali ke lantai bawah untuk pergi ke halaman belakang. Dan benar saja, kamu menemukan Rio tengah merokok di halaman belakang. Rio jarang merokok, jika dia merokok itu artinya dia sedang stress berat. Terkadang kamu bingung lebih baik mana, Rio lari ke rokok atau dia lari ke alkohol seperti waktu kalian masih kuliah dulu.

Rio akhirnya menyadari keberadaanmu. Dengan gugup dia mematikan rokok, sebab kamu benci rokok, sambil bertanya kenapa kamu sudah pulang padahal baru jam enam. Kamu tertawa sambil menggelengkan kepala. Kamu membiarkan Rio panik beberapa saat, sebagai balasan karena dia tidak menjawab SMS dan teleponmu.

Kamu tidak menjawab pertanyaan Rio, yang ada kamu malah balik bertanya. Kenapa dia menjadi dingin dan pendiam selama dua bulan belakangan ini?

Rio tertawa. Tawa sinis yang selalu ia keluarkan setiap kali ada orang yang ia anggap menyebalkan. Apakah kamu sudah masuk kategori itu? Nampaknya Rio menyadarinya, dengan cepat dia mengatakan kalau kamu bukan orang yang menyebalkan. Kamu tidak akan pernah menjadi orang yang menyebalkan di mata Rio.

Tiba-tiba kamu dan Rio sudah duduk di rumput halaman belakang kalian. Dia mulai menjelaskan apa yang membuatnya berubah. Kalisa. Setidaknya kamu dan Rio sepikiran, dia juga mengira dan berharap kalau Kalisa akan berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang pernah masuk dalam hidup Rio.

Rio berkata kalau sebetulnya dia mulai berpikir untuk serius dengan Kalisa. Kamu berusaha menahan senyum, sebab kamu tahu, makna serius dalam kamus Rio berbeda dengan serius dalam kamus perempuan yang sudah berusia dua puluh lima tahun ke atas. Bagi Rio, serius berarti mulai menjalin hubungan, mulai memberi status, nama dan label untuk hubungan yang tengah ia jalani. Sementara bagi Kalisa, serius berarti menikah. Membangun keluarga bersama.

Tetapi Rio belum berani untuk membuka diri kepada Kalisa, terlebih lagi setelah ia bertemu orang tua Kalisa. Tidak sengaja, tentunya. Rio tahu apa yang ada dalam pikiranmu, makanya dia tertawa dan mengatakan kalau tidak mungkin seorang Riota Nakajima mau diajak untuk bertemu dengan orang tua gebetannya.

Orang tua Kalisa mengomentari segala aspek kehidupan Rio. Mulai dari pekerjaannya hingga mengomentari soal tato di tubuh Rio.

Kamu menahan napas saat Rio mengatakan hal itu. Bagi orang lain, mungkin mereka akan berpikir kalau Rio itu suka tato, tapi yah memang sih, tato di tubuhnya Rio itu bagus-bagus. Apalagi yang ada di punggungnya. Gambar naga dan sepasang sayap malaikat.

Tidak ada orang yang tahu soal cerita dibalik tato-tato yang menghiasi tubuh Rio. Hanya Tuhan, kamu dan Rio yang tahu apa yang ada dibalik tato-tato tersebut.

Rio menggunakan tato untuk menutupi luka yang ia dapat dari pukulan-pukulan ayahnya, dari perkelahian, dari saat dia melindungimu. Dari setiap saat Rio berusaha mengakhiri hidupnya.

Satu-satunya bekas luka yang tidak ditutupi tato oleh Rio adalah luka di pergelangan tangan kanannya. Tetapi luka itu selalu ditutupi dengan gelang oleh Rio. Itu adalah luka pertama yang dibuat sendiri oleh Rio.

Tanpa bicara apa-apa kamu langsung memeluk Rio. Kamu tidak tahu harus bicara apa, hingga Rio berkata dengan nada lirih, bahwa dia takut untuk menceritakan apa yang disembunyikan oleh tato-tato tersebut kepada Kalisa.

Kamu tertawa. Sebelum Rio sempat bertanya kenapa kamu tertawa, kamu menjelaskan kalau sesungguhnya kamu juga sedang mengalami hal yang sama dengan Rangga. Tidak, tubuhmu memang tidak memiliki bekas lukas. Tetapi hatimu, jiwamu, kamu terkadang heran bagaimana kamu bisa hidup selama ini dengan luka psikologis yang cukup banyak.

Kalian kembali terdiam. Kamu masih memeluk Rio, tetapi sekarang posisi kalian sudah tidak duduk lagi, kalian sudah rebahan di rumput. Rio mengusap-usap rambutmu sementara kamu berusaha mencari posisi tidur yang enak dengan menggunakan dada Rio.

Kamu berkata kalau besok kamu akan mencoba bercerita kepada Rangga tentang beberapa aspek dari masa lalumu yang ingin kamu lupakan. Rio berhenti memainkan rambutmu, tubuhnya langsung membeku.

Kamu tahu, Rio tahu, kalau masa lalu adalah isu yang cukup mengerikan diantara kalian. Kalian tidak pernah menceritakannya lagi. Sebab sebagian besar masa lalu kalian, kalian lalui bersama. Kecuali untuk beberapa hal, namun itu juga kalian tahu karena kalian saling cerita.

Sebelum Rio mengatakan kalau itu adalah ide yang buruk, kamu sudah meyakinkan Rio kalau kamu tahu apa yang kamu lakukan. Bahwa kamu harus mulai terbuka kepada Rangga jika kamu mau Rangga terus ada dalam hidupmu.

Rio kemudian mengatakan jika reaksi yang kamu dapatkan dari Rangga tidak sesuai dengan harapan, Rio akan memukul Rangga. Kamu tertawa dan mengatakan kalau kekerasan bukan jawaban untuk semua masalah.

Tiba-tiba perutmu berbunyi dengan kencang, sedetik kemudian kalian kembali tertawa. Rio mengajakmu untuk makan di restoran yang baru dibuka, sebab dia sedang tidak mood untuk masak. Begitu pula dengan dirimu, lagipula kulkas kalian kosong.

Sambil membicarakan rencana untuk belanja bulanan, kalian berjalan kembali masuk kedalam rumah.

Read previous post:  
60
points
(1029 words) posted by puTrI_keg3lapaN 5 years 32 weeks ago
66.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | 2nd POV | tanpa dialog
Read next post:  
Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Something Happy, Something Cold (5 years 28 weeks ago)
100

Salam kenal, kak. Maaf Kak, baru coment sekarang.
Ceritanya menyerupai kisah nyata, Kak.
Aduh, PoV nya bener-bener bagus.
Saya juga mendukung Langit-Rio, ehehe.
Langit sama Rio punya interest sama orang lain, makin buat greget aja (Ngomong apa sih?)
.
ya udah deh, Maaf kalau coment saya nyampah, ya Kak Putri..
Sekali lagi, Salam kenal. Tetep semangat, buat Kakak

Salam kenal juga :). Oh ya? Sumpah loh, ini bukan kisah nyata. Tapi memang ada beberapa bagian yang saia alami atau pengalaman teman

Makasih. Sebetulny saia kurang PD sama PoV kayak gini. Ini cerpen kedua saia yang pake PoV 2nd, jadiny masih dalam tahap percobaan

Aduh tidak, semakin banyak yang dukung Langit-Rio. Tidaaaak, saia jadi galau

Wah, komen kamu engga nyampah kok. Saia seneng dapet komen, makasih yah :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Something Happy, Something Cold (5 years 28 weeks ago)

#ikutnimbrung
Kisah yang baik adalah kisah yang mencampurkan sedikit kenyataan dan fiksi. <---menurut pengamatan singkat saya. Soalnya beberapa ceritaku juga memasukkan unsur kisah nyata (curhatan hati malah) ke dalam tulisanku.
Sakitnya itu, waktu nulis kisah nyata. Kenalanmu liat dan dia teriak-teriak di kelas, Thiya ternyata suka sama ini ya... hoho! Diteriakin seharian. Mau ngebantah kan udah ada buktinya. Mau jujur, malu Kak! Gak bisa saya >_<
Di situ kadang saya merasa bimbang T_T

Jadi keinget postingan om Shin di forum yang bilang kalau awalny semua tulisan itu adalah curhatan. Emang bener sih, hahaha

Ihhhh, temen kamu tega banget sih. Tapi dulu gara-gara aku takut mengalami hal seperti itu, makany engga pernah mau nunjukkin hasil karyaku ke orang lain selain di forum

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Something Happy, Something Cold (5 years 28 weeks ago)

Sebenarnya aku gak pernah nunjukin ke mereka. Orang-orang kelasku aja yang matanya jeli. Dan entah kenapa, mereka mendapatkan cerpen-cerpenku. Habis sudah nama baikku di kelas! TIDAAKKK!
Sebenarnya aku penasaran bagaimana cara mereka mendapatkannya, apakah ada mata-mata di sini? Bukan Kak Putri kan?

Bukan kok, bahkan saia engga tau nama asli kamu, kamu asal mana...

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Something Happy, Something Cold (5 years 28 weeks ago)

Asal Palangka Raya <---oke, kota ini mungkin sangat jauh dari tempat tinggal Kakak. Aku percaya Kakak bukan mata-mata.
Hohoho :D Tak apa-apalah, sekarang aku dikenal memiliki bakat menulis. Tak adakah yang selama ini menyadarinya sebelum insiden bocornya cerpen-cerpen saya itu? T_T tragis nian nasibku.

Writer benmi
benmi at Something Happy, Something Cold (5 years 28 weeks ago)
70

Jadi ingat dlu... pernah dekat ama sesorg.. bukan pacaran tapi sedekat itu.. wkwkkwk.... tapi orgnya uda meninggal sih.. n.. jadinya mewek lagi teringat... hiksss...

Maaf, saia engga tau... Pasti menyenangkan bisa punya seseorang seperti itu

Writer hidden pen
hidden pen at Something Happy, Something Cold (5 years 29 weeks ago)
40

salam kenal kk, ini kisah nyata ya,

Salam kenal juga, dan bukan, ini bukan kisah nyata kok

Writer hidden pen
hidden pen at Something Happy, Something Cold (5 years 29 weeks ago)

hmm cuma perasaanku jadinya, hehe

Writer shadow
shadow at Something Happy, Something Cold (5 years 29 weeks ago)
60

Untuk comment cerita ini jadi baca cerita-cerita sebelumnya deh mulai dari yang someting new, something cliche.
Keseluruhan ceritanya sejauh ini cukup menarik dan berhasil membuat saya penasaran apa yang terjadi pada masa lalu Rio.
Tapi entah kenapa saya malah ngga suka chemistry antara Langit dan Rio. Meskipun ditegaskan berulang kali kalau mereka sahabat yang seperti saudara, rasanya terlalu dekat aja. Karena sedekat-dekatnya sahabat, kalau ga ada rasa tertarik mereka ga akan sedekat itu secara fisik.

Sebetulny mereka udah pernah pacaran waktu sekolah dulu, tapi akhirny putus karena toh aktifitas mereka tetep aja sama. Misalny jalan bareng, ngerjain PR bareng, bahkan sampe digodain sama temen-temenny pun tetep sama. Ibaratny kayak Shinichi sama Ran, cuma beda status doang

Jadi ya, mereka punya rasa ketertarikan

Dan buat apa yang terjadi di masa lalu Rio, mungkin dua chap lagi akan saia jelaskan. Chap berikutny saia mau ngebahas masa lalu Langit

Writer shadow
shadow at Something Happy, Something Cold (5 years 29 weeks ago)

Iya yg disebut sebagai 'dark ages' itu kan? hehe..
Kalau Shinichi dan Ran, mereka jelas sadar suka satu sama lain. Kalau Langit dan Rio kan merasa mereka mending kaya sebelum2nya aja. Apalagi di sini Langit dan Rio sama2 punya interest ke orang lain.

Kaya yang bagian Rio meluk Langit dari belakang, itu pelukan yang agak aneh untuk sahabat. Lebih wajar kalau misalnya cuma meluk pundak dari samping. Tapi itu pendapat pribadi saya saja :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Something Happy, Something Cold (5 years 29 weeks ago)
100

Keren deh! Selalu suka sama cerita 2nd PoV milik Kak Putri :D Hehehe.
Sudah mulai kerasa gregetnya :3
Saya mendukung penuh Langit-Rio untuk bersatu, wkwkwk :D Entah kenapa, mereka berdua tuh manis banget. Kayak, gimana gitu XD, pacaran aja dah sono! Bikin iri ngeliatnya :D
Oh ya Kak, tadi saya ada menemukan sesuatu yang mengganjal.
.
'Kamu tertawa dan mengatakan kalau kekerana bukan jawaban untuk semua masalah.' <--- itu ada typo, kesalahan kecil juga sih.
'Kamu juga mengatakan kalau kamu juga sedang malas untuk memasak, lagipula kulkas kalian kosong.' <--- entah kenapa, pengulangan kata 'juga' jadi mengurangi kenikmatan membaca di sini. Tapi, seperti sebelumnya. Masalah kecil, edit dikit juga selesei.
.
Untuk semua, baguslah, saya tunggu lho chap selanjutnya :D
Terus semangat menulis Kak Putri :D

Uppps, makasih buat koreksiny. Aduuuuh, makin banyak yang dukung Langit-Rio, tidaaaaak. Saia jadi galau

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Something Happy, Something Cold (5 years 29 weeks ago)

Jangan galau! Datang ke tempat saya aja biar gak galau lagi (promosi tersembunyi) hihihi :D
Tapi, mereka berdua memang kayak ada 'sesuatu' gitu, cuma ya, kayaknya malu-malu kucing karena mereka pernah pacaran dan menganggap itu sebagai suatu kesalahan terbesar di masa remaja.

Hahahaha bisa aja promosiny. Tenang, ini saia lagi main ke tempatmu kok ;)

*Nyanyi lagu Syahrini-Sesuatu* Hahahaha, memang akan selalu ada 'sesuatu' diantara mereka

Writer Cherolita
Cherolita at Something Happy, Something Cold (5 years 29 weeks ago)
100

Menarik banget kak :D Aku baca dari yang pertama sampai yang ini jadi makin penasaran sama Langit dan Rio :D Pengen tahu aja masalalu mereka gimana kok akhirnya bisa jadi sedeket ini, walau udah dijelasin karena orang tua mereka sahabatan dari dulu. Tapi entah kenapa aku malah dukungnya Langit-Rio, bukan Langit-Rangga dan Rio-Kalisa sih wkwkwkwk
Point penuh deh buat cerita ini kak:D Aku suka keunikan POV ini, soalnya belum pernah baca yang seperti ini hehehehe

Gyaaa, jadi banyak yang dukung Rio-Langit, saia jadi galau mau dukung yang mana. Di chapter berikutny akan semakin terkuak kok masa lalu Langit sama Rio, walau memang alasan utama kenapa mereka bisa dekat itu ya karena ortu mereka

Makasih buat poin penuhny:)