BAKAT (4)

Pohon Tua

Idon turun dari angkot. Membawa sebuah wadah penyimpan makanan yang cukup besar untuk dua kaktus muat disana, Granda dan Franda. Di areal pertokoan yang cukup luas dengan sebuah gedung bertingkat sebagai pusatnya, di sanalah Idon berada. Pasar terbesar di kota.

Pagi Harinya

“Apa yang kau lakukan?” tanya Franda heran. Matahari baru terasa hangat dan Idon sudah sibuk akan sesuatu di kamarnya.

“Aku mencari tempat yang cukup untuk kalian berdua,” jawab idon seadanya, sambil terus sibuk mencari sesuatu yang cukup untuk dua kaktus.

“Apa kita akan pergi menemui pohon tua itu?” tanya Granda.

“Wahh! Senangnya. Sudah lama aku tidak keluar dan menghirup udara segar,” ujar Franda semangat. “Apa?”

Granda sinis melihat Franda. “sudah lama tidak keluar? sejak kapan tanaman bisa berjalan-jalan.”

“Grand… tidak bisakah kau membiarkan aku senang?”

“Tidak!”

Idon menggaruk kepalanya. Tidak tahan mendengar dua kaktus yang tak pernah akur sedetik pun ini. Sejak pagi dia tidak bisa mendengar apa-apa selain pertengkaran mereka. “Lihat, aku sudah menemukannya. Aku akan memasukkan kalian kesini.”

Granda dan Franda melihat tempat penyimpanan makanan itu. “Aku tidak akan masuk kesana,” tolak mereka hampir bersamaan.

“Kenapa?” tanya Idon tidak mengerti.

“Apa kau buta! Tempat itu kotor dan berdebu. Menjijikkan!” ujar Granda. Franda hanya mengangguk mengiyakan.

Idon mendengus kesal. Baru semalam mereka berbicara dan Idon sudah merasa tidak tahan. “Ayolah! Kalian hanya kaktus. Apa yang kalian takutkan dari debu.”

“Kau tahu manusia, aku tidak mau duri-duriku yang indah ini kotor karenanya,” Franda cemberut.

“Oh ya. Satu lagi, kami bukan ‘hanya kaktus’ kami punya nama kau tahu!” Granda menimpali.

Ohh, Idon benar-benar ingin mengambil gunting dan memotong mereka berdua sekarang. Tapi, dia tidak sanggup melakukan kekejian seperti itu sekarang. Membayangkan teriakan dan tatapan mata mereka saat dipotong saja sudah cukup membuat Idon mual.

“Oh ya! Siapa nama kalian? Grandaaa dan Frandaaa,” ujar Idon dengan nada mengejek. “Siapa yang memberi nama kalian seperti itu.”

“Sama seperti orang yang memberi nama aneh itu padamu Idooon,” Granda balas mengejek.

“Hei! Jangan sekalipun menghina ibuku!” Idon menunju Granda tepat di depan wajahnya.

“Dan kau jangan pernah berani menghina Ibu kami seperti itu!” balas Granda, dan Franda mengangguk.

Idon menghela napas panjang. “Baiklah, aku minta maaf. Sekarang aku akan membersihkan tempat makanan ini, lalu setelah itu kalian akan masuk kedalamnya. Bagaimana?”

BAKAT

 Idon berjalan-jalan di pasar. Membawa dua kaktus dalam wadah khusus transparan. Beberapa orang melihat Idon dengan heran. Tapi, tiga makhluk itu tidak perduli. Semuanya asik melihat pasar yang terkenal serba ada. Ratusan toko, berbagai macam barang yang dijual, pedagang yang berusaha menarik pembeli di depan tokonya, pedagang kaki lima yang terlihat kepanasan, dan kesibukan lainnya. Tentu saja dua kaktus yang terlihat paling bersemangat. Franda terus saja berkomentar akan apa pun yang dilihatnya. Memanggil Granda berulang kali untuk melihat sesuatu yang menurutnya menarik. Granda mencoba tidak memperdulikan sodaranya. Dia asik memperhatikan yang lain, yang lebih menarik dibanding Franda. Tapi, semua keasikan itu harus rusak di persimpangan pasar.

Seseorang tiba-tiba melintas di depan Idon. Begitu dekat hingga Idon bisa mencium bau napas orang itu yang tidak sedap di hidungnya. Idon begitu terkejut hingga jantungnya seperti mau copot dari tempatnya. Belum hilang rasa kagetnya, Idon terbentur dagu kasar orang lain entah siapa. Di ikuti dengan dorongan kuat dari belakang orang itu membuat tubuh Idon terbawa dan jatuh dalam sekedipan mata. Semua begitu cepat. Bahkan Idon masih memegang dadanya yang berdegup kencang saat ditindih orang-orang yang sama terkejut dengannya. Dia bisa mendengar jeritan Granda dan Franda dari dalam tempatnya, di ikuti orang-orang di atasnya yang mengeluh kesakitan yang tidak sesakit tubuh Idon sekarang.  

“Bego! Tolol! Punya mata gak lo!” bentak pria yang menindih Idon tepat di wajahnya. Wajahnya yang sangar membuat Idon tidak sanggup membalasnya. Orang itu bangkit dan orang lainnya di atasnya yang juga mengumpat Idon dengan kasarnya sambil menunjuk-nunjuk tepat ke arah wajah Idon.

Apa salah gue?

Idon hanya melihat orang-orang terus berlari meninggalkannya yang bingung dan kesakitan.

“Manusia! Manusia!” teriak Granda pada Idon.

Oh! Idon melihat kebawah. Mendapati kaktusnya yang telah jungkir balik dalam tempat mereka berada. Idon segera membalik wadah itu. Untung saja penutup tempat itu tidak terbuka atau pecah. Granda dan Franda tidak terluka. Hanya kotor oleh tanah yang hampir menimbun mereka saat kejadian tadi.

“Manusia memang tidak becus! Tidak berguna!” umpat Granda,

“Hei, kalian baik-baik saja kan?” tanya Idon.

“Ah, duri-duriku,” keluh Franda melihat dirinya kotor.

“Tidak tahu diri! Mereka yang salah. Bukannya meminta maaf malah menghina. Akan kuhajar mereka jika bertemu lagi!” kata Idon dengan berani.

“Heh! Kenapa tidak tadi kau hajar mereka? Manusia penakut! Kau sama saja tidak bergunanya dengan mereka,” ketus Granda.

“Ah, sudahlah…” Idon lelah, “sekarang, mari kita temui pohon tua itu.”

BAKAT

“Apa kalian masih ingat di mana tempat aku membeli kalian?” tanya Idon pada kaktusnya. Mereka sudah berjalan cukup lama di pasar itu dan belum menemukan tempat tujuan mereka.

“Tidak, aku bukan pengingat jalan yang baik,” jawab Franda tidak membantu.

“Tentu saja kita bukan pengingat jalan yang baik, memang kita pernah jalan-jalan?” ketus Granda, “dan kau manusia, jangan bilang kau sudah lupa tempatnya.”

“Aku? Tentu saja aku ingat,” Idon tertawa sumbang. Mencoba mengingat di mana letak kios penjual tanaman itu.

Idon mulai lelah. Dia memutuskan untuk duduk di sebuah bangku kayu panjang milik penjual minuman pinggir jalan. Badannya terasa pegal, dari kepala bekas terjatuh tadi, tangan yang membawa kaktusnya, dan kaki yang terus berjalan. Idon membeli sebotol air mineral dan menyiram sedikit untuk kaktusnya lalu meminumnya hingga setengah.

“Itu punya mas?” tanya penjual minuman heran. “Kok, dibawa-bawa mas?”

“Ini?” Idon melirik kaktus yang di letakkan di sebelahnya. “Mau saya jual pak,” jawab Idon penuh canda. Idon tertawa, dalam hatinya sungguh ingin menjualnya karena jengkel sejak bisa mendengar dua kaktusnya berbicara.

“Memang ada yang mau beli?” tanya penjual minuman heran.

“Mungkin. Mas tahu di mana penjual tanaman di sini?” tanya Idon. Putus asa mencari dengan matanya.

“Coba ke sana mas,” tunjuk penjual itu pada sebuah jalan dalam pasar. “Ikuti saja jalannya, kalo nggak salah ada satu di sana.”

Idon melihat jalan itu. Samar-samar dia ingat pernah melihat atau berada di sana. Idon berterima kasih pada penjual itu sambil membayar minumannya. Idon mulai berjalan kembali. Menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh penjual itu. Perlahan dia mulai ingat tempat itu. Jalan yang tidak sengaja dia lewati saat berkunjung ke pasar itu terakhir kali. Rencana awalnya untuk membeli setelan kemeja dan celana dasar untuk keperluan kampus membawanya menemui kios yang menjual aneka tanaman dalam pot. Awalnya tidak ada yang menarik saat Idon melintas di sana. Tapi, dua kaktus kecil yang saling berdampingan yang menjadi pajangan paling depan di kios itu membuat Idon berhenti dan melihatnya untuk sesaat. Lucu pikirnya saat itu dan mengingat kamarnya yang sepertinya butuh udara segar, bukan ide buruk untuk memiliki tumbuhan hijau di sana. Akhirnya Idon membeli dua kaktus itu dengan harga yang cukup murah. Dia sangat senang saat itu. Tapi, sekarang sepertinya itu adalah keputusan bodoh yang dia buat.

Akhirnya, Idon menemukan kios penjual tanaman itu. Masih seperti saat pertama Idon kemari. Sebuah kios berukuran tidak cukup besar yang beratap terpal dan beralas lantai batu. Di bagian depan toko ada berbagai macam tanaman yang di letakkan dalam pot sendiri-sendiri. Di pajang di atas sebuah rangka besi, membentuk tingkatan sehingga setiap tanaman dapat terlihat wujudnya.

Melihat ada orang berhenti di depan kiosnya, jiwa pedagang pemilik kios langsung keluar dan menyapa halus – yang dikiranya – calon pembelinya.

“Nyari tanaman apa mas? Bisa dilihat, kami memiliki banyak macam tanaman, ada…”

“Mau lihat-lihat dulu mas,” sela Idon, sebelum pemilik kios menjelaskan dagangannya.

Pemilik kios langsung bermukam masam. Tanpa sadar dia memperhatikan Idon dari atas ke bawah. Idon yang saat itu hanya mengenakan kaos merah pudar dengan gambar sablon yang mulai rusak, jins lusuh yang mulai hilang warnanya, sepatu kets yang terlihat tidak pernah di cuci, serta dua buah kaktus dalam wadah, membuatnya berpikir bahwa orang ini tidak akan membeli malah mungkin akan menjual dua kaktus itu. pikiran buruk beralasan itu membuat pemilik kios itu melongos kembali ke dalam kiosnya dan duduk membaca korannya.

“Yang mana pohon tua itu?” tanya Idon pada Granda dan Franda yang berada di pundaknya. Dia memegang wadah itu seperti rapper membawa radio pada jaman lampau. Alasan kenapa Idon meletakkan wadah itu di pundak dan membuatnya tampak lebih aneh adalah untuk mendengar Granda dan Franda lebih jelas. Sejak sampai di kios ini, telinga Idon tidak henti berdengung. Mendengar suara-suara tanaman kecil di depannya yang sama berisiknya dengan dua kaktusnya. Yang tanaman itu bicarakan pun tidak penting. Sebagian besar hanya membicarakan diri mereka sendiri. Bagaimana hidup mereka sebelum di sini, berbagi pengalaman, dan sebagian menyombongkan diri menganggap dirinya tanaman yang paling baik dan cantik.

“Kau lihat tanaman tua yang di atas sana,” ujar Granda.

Idon melihat deretan tanaman di tingkat paling atas. Ada berbagai macam tanaman di sana. “Yang mana?” tanyanya bingung.

“Itu! yang sedang  tertidur,” ujar Granda. “Hei Pak Tua, bangun!”

Idon memperhatikan dengan seksama tanaman yang ada di tingkat atas. Dia sadar ada satu tanaman yang hanya diam saja. “Yang ini?” tunjuk Idon pada sebuah bonsai yang terlihat buruk. Kulit batanya terlihat mengelupas dan ada garis-garis kasar di batangnya. Bentuknya tidak beraturan, cabang-cabangnya menyebar ke segala arah, dengan puncaknya yang terdapat daun-daun yang jarang.

“Iya, jawab Granda.”

“Kenapa tidak ada wajahnya?” tanya Idon heran.

“Karena itu bagian belakangnya bodoh, cepat putar balikkan dia.”

Idon memutar Pot Bonsai itu. Barulah terlihat sepasang mata lusuh yang terpejam dan sebuah mulut yang terlihat kering dan dua buah garis di ujungnya membentuk guratan seperti jenggot yang panjang.

“Hei, Pak Tua!” panggil Granda dan Franda bersamaan. Tapi, yang di panggil hanya mengguman tidak jelas, sedang mengigau sepertinya.

 Idon lalu menekan-nekan pucuk bonsai itu. “Ah, uh, hah? Siapa itu! siapa yang berani membangunkanku?”

  •  
  1.  
 

Read previous post:  
39
points
(1859 words) posted by 2rfp 6 years 25 weeks ago
65
Tags: Cerita | Novel | petualangan | kemampuan | supranatural
Read next post:  
Writer benmi
benmi at BAKAT (4) (6 years 23 weeks ago)
70

Ceritanya yang tabrakan dipasar toh.. hahahhahah... okay.. di bakat kali ini.. entah kenapa penyajian ceritanya menurutku agak sedikit kurang... penceritaannya ga sebagus yang sebelumnya. Terutama yg pas didalam toko bunga. Aneh aja.. ga diusir tp ga dilayanin.. hahahhah...

Writer 2rfp
2rfp at BAKAT (4) (6 years 23 weeks ago)

gak di usir karena pamali ngusir orang yang datang ke lapak kita, mau di layanin si idonnya nolak sih,

Writer Nine
Nine at BAKAT (4) (6 years 24 weeks ago)
90

Sedikit koreksi bang:
-Dialog Idon: "Siapa yang memberi nama kalian seperti itu." Ngg ini kok ngak pke tanda tanya yh??
-Kalimat: Idon menunju Granda tepat di depan wajahnya. Meninju seharusnya.

Trus bang ini menurut sy pribadi sih:

-Kalimat: Dia memegang wadah itu seperti rapper pada jaman lampau.
Ini menurut sy kurang enak bang :) , mungkin (menurut sy lho) lbih enak klo di tulis bgini:

Dia memegang wadah itu seperti rapper tahun 80-an.

Trus sy sempat baca komen mu di bawah bilang mau mempertemukan Idon sma brasta. hmmm knpa ngak dibikan kyak film Vintage Point aja bang? Kan keren 1 kejadian di tulis dari sudut pandang yg berbeda-beda. Misalny pas Idon ketabrak massa (disini sy nangkapny massa itu lgi ngejar2 brasta), itu dibikin juga yg dari sudut pandang si brasta (tetep pke pov 3).

Yh itu sja dri sy bang, mohon maaf kalo ada kata2 yg kurang berkenan. Sy jga msh belajar bang,.. hhee

Salam pramuka... (y)

Writer 2rfp
2rfp at BAKAT (4) (6 years 24 weeks ago)

yg dialog itu memang bukan bertanya, lebih pada ejekan
yg kdua, itu typo, menunjuk harusnya

yg ketiga, vintage point saya suka film itu. coba baca BAKAT (2), d situ ada yg versi brasta

Writer Nine
Nine at BAKAT (4) (6 years 24 weeks ago)

Sy udah baca kok BAKAT (2), menurutku itu yg paling keren dari serial bakat mu.

Mohon maaf atas kesalah silapan sy di komen diatas.. (y)

Writer 2rfp
2rfp at BAKAT (4) (6 years 24 weeks ago)

tidak ada yang perlu d maafkan, kesenangan tersendiri saat orang baca tulisan dan mengomentarinya

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at BAKAT (4) (6 years 24 weeks ago)
100

Ohh, Jadi yang tadi Brasta. Idon cukup mencairkan Suasana ya. Tadinya saya kira, pohon tuanya besar, hehe. Rupanya bonsai. Deskripsinya sejauh ini selalu bagus. Tetap semangat, ya Kak. Saya tunggu benang merahnya.

Writer 2rfp
2rfp at BAKAT (4) (6 years 24 weeks ago)

iya trima kasih naomi, semoga kamu sabar yah hehehe

Writer shadow
shadow at BAKAT (4) (6 years 24 weeks ago)
70

Kok Idon sepertinya yang paling sial dibanding semua pemilik bakat lainnya. Udah bakatnya kurang menarik dibanding yang lainnya, harus mengurus 2 kaktus bawel pula hahaha.
Kalau dilihat dari comment cerita part sebelumnya banyak pembaca yang senang dengan deskriptif lengkap seperti cerita ini, tapi kalau saya pribadi senang dengan deskriptif singkat tapi jelas. Sehingga sisanya bisa diimajinasikan sesuai dengan keinginan pembaca *contoh pembaca yang banyak maunya*
Saya masih menunggu benang merah antara para pemilik bakat :)

Writer 2rfp
2rfp at BAKAT (4) (6 years 24 weeks ago)

anggaplah idon pencair suasana d crita sini.
perlahan benang merahnya. cerita ini akan lambat temponya karena menceritakan tiga tokoh dengan tiga kisah berbeda

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at BAKAT (4) (6 years 24 weeks ago)
70

Cerita pendek yang bikin senyum-senyum sendiri membayangkannya :)
Sayangnya, ada sesuatu yang kurang. Mungkin karena part ini kurang jelas maksudnya. Idon cuma bertemu dengan Pohon Tua. Sudah, selesai, begitu aja. Coba mungkin disambung dengan part berikutnya saja, jadi pembaca bisa lebih nyambung dengan poin kisahnya. Mungkin sebaiknya tiap chapter diberi judul? Eh, itu judulnya Pohon Tua ya? Hmm..semoga dirimu mengerti maksud saya, saya juga agak bingung menjelaskan *gubrak!*
Pokoknya serial ini akan tetap saya ikuti hehe.

Writer 2rfp
2rfp at BAKAT (4) (6 years 24 weeks ago)

sebenernya disini saya mau menjelaskan pertemuan idon dan brasta (bakat 2) lalu sosok pohon tua itu yg ternyata hanyalah bonsai (pohon mini) judulnya itu mas yg pohon tua di atas hahaha