Mau Gimana Lagi

Mau Gimana Lagi

 

Senyum menawan di wajah oval Desi menandakan dia terlihat bahagia ketika menerima kado istimewa untuknya. Walaupun dengan jaket dan celana jeans yang biasa dikenakannya, Desi tetap saja menjadi pusat perhatian seisi ruangan coffeeshop lokal itu. Matanya berbinar-binar sambil bertanya-tanya isinya, helaian rambutnya diselipkan ke belakang telinganya, duduknya pun sedikit diluruskan. Setelah merasa siap lahir batin, tangan Desi perlahan membuka pita merah pengikat kado pink yang tergeletak di meja di depannya.

 

"Waaahhh! Sepatu!" Desi histeris menatap sepatu olahraga berlogo huruf itu. Coraknya berwarna, namun yang paling mencolok tali sepatunya berwarna pink.

 

"Dicoba dong." Jimi membantunya membongkar sepatu baru kekasihnya. Dia melonggarkan tali sepatunya lalu berjongkok membantu memakaikan sepatu itu pada kedua tumit Desi. Setelah keduanya terpakai, Desi berdiri dan berputar melihat bagaimana penampilan dia memakai sepatu barunya, meski rasanya dia perlu kaca untuk itu. "Gimana, yang? Bagus, gak?"

 

"Bagus, dong." Jimi tampak senang melihatnya, namun ketika kencan telah selesai dan Jimi telah sampai di kasur kamar kostnya, dia baru sadar bahwa dia sudah membelanjakan semua uangnya bulan ini, termasuk uang kuliah dari orang tuanya. Dia terlalu naif, bahwa hal ini bisa dipikirkan esok hari. Toh, dia yakin hal ini hanya berlangsung beberapa hari seperti sebelumnya. Karena kiriman uang bisa saja datang dalam tiga hari ke depan, begitulah yang ada di pikirannya.

 

Jimi membuka lemarinya dan melihat koleksi barang-barang bermerek berharga mahalnya. Pikirnya, barang-barang ini mungkin pasti laku dijual kembali. Jimi lalu mengingat-ingat barang-barang mahal bermerek yang dia hadiahkan pada kekasihnya, yang paling mahal adalah sepatu lari yang dia berikan pada Desi tadi.

 

***

 

Hari ini Jimi menceritakan kisahnya dua tahun yang lalu, di sebuah angkringan pinggir jalan. Tampak duduk di sebelahnya sahabat jaman kuliahnya, Andre mendengarkan awal kisahnya layaknya seorang anak mendengarkan dongeng guru taman kanak-kanak baik-baik.

 

“Setelah kencan sama Desi, besoknya gue kan langsung hubungin elo kan, Ndre.” Jimi berusaha mengingatkan sahabatnya. “Buat minjem duit.”

 

“Oh iya, gue inget!” Andre berkata seperti saksi mata. “Waktu itu lo kayaknya belum kelihatan desperate banget.”

 

“Waktu itu gue emang masih bisa make duit lo.” Andre membakar rokok mild-nya. “Tapi belum sampe seminggu duit lo udah habis.”

 

Setelah itu Jimi terpaksa meminjam uang kekasihnya, Desi untuk bertahan hidup. Sebelumnya dia berpikir seminggu sebelum bulan berganti, dia bisa memakai uang Desi untuk kebutuhan makannya sehari-hari. Namun di awal bulan ternyata belum ada tanda-tanda ibunya akan mengirim uang. Lalu suatu hari ibunya menelpon  menyampaikan kabar tentang ayahnya sedikit menggoyahkan keseimbangan tubuhnya.

 

***

 

Sebuah kerumunan melingkari sebuah nisan, kembang tujuh rupa menumpuk pada makam yang baru dibuat itu. Terlihat kembang-kembang putih berserakan di antara batu-batu nisan. Jimi sibuk menyalami teman-teman sekampungnya, teman-teman kuliahnya yang menyempatkan datang dan juga para kenalan ayahnya yang melayat. Ekspresi ramah terlihat di wajahnya, mungkin dia hanya berusaha menyembunyikan rasa kehilangannya. Ibunya tampak duduk dengan lemas, menatap kosong pada nisan suaminya. Air matanya sudah tak mampu lagi mengalir. Dua adik Jimi terlihat di sebelah ibunya saling berusaha menahan tangis.

 

Ayah Jimi menabrak pengemudi yang menerobos lampu merah dalam perjalanan pulang kerja. Malang tak dapat dihindari, ayah Jimi kehilangan banyak darah dalam perjalanannya ke rumah sakit. Sehari setelah pemakaman, utusan pabrik tempat kerja ayahnya datang dan memberikan pesangon pada keluarga Jimi, yang mungkin cukup untuk membiayai kuliahnya selama setahun ke depan. Atau mungkin cukup untuk membiayai sekolah dua adiknya selama dua tahun.

 

Jimi menemukan sebuah surat tergeletak di atas meja, surat tersebut berasal dari sekolah Dian, adik bungsunya yang menginjak sekolah dasar. Jimi terkejut mengetahui isi surat tersebut adalah surat tunggakan biaya sekolah. Diterangkan dalam surat itu bahwa adiknya telah menunggak selama 6 bulan. Pikiran Jimi terhempas, selama ini dia meyakini keuangan keluarganya baik-baik saja, bahkan biaya kuliahnya pun hanya menunggak 2 bulan saja. Kemudian Jimi merasa penasaran, apakah adik tengahnya, Rara juga mengalami hal yang sama dengan Dian.

 

“Ra, kamu dapet surat dari sekolah gak?” Jimi memastikan tak ada ibunya.

 

“Surat apa, mas?” Rara terlihat acuh tak acuh menjawab, dia lebih sibuk dengan ponselnya.

 

“Semacam surat tagihan.”

 

Cukup lama Rara menjawab dan Jimi terlihat menahan emosi pada adiknya.

 

“Kayaknya gak ada, mas.” Rara menatap kakak sulungnya. “Cuma seinget Rara, Rara nunggak 3 bulan.”

 

Jimi seperti tak terkejut mendengarnya, sebelumnya dalam benak kepalanya dia sudah yakin kalau adik tengahnya ini menunggak sekolah. Jawaban Rara hanya mengonfirmasi saja keyakinan kakaknya.

 

“Ya sudah kalo begitu.”

 

***

 

“Kamu yakin, Di?” Ibunya memanggil nama kecil Jimi, Adi. “Udah dipikirin mateng-mateng?”

 

“Sudah, Ma” jawab Jimi. Dia teringat pertanyaan yang sama oleh pacarnya tempo hari.

 

***

 

Setelah mendengar kabar duka dari Jimi, Desi bergegas untuk mengemasi pakaiannya. Dalam pikirannya dia yakin Jimi membutuhkannya. Tak lupa Desi mengajak Rima, untuk menemaninya.

 

“Rencananya lo mau nginep?” Rima mendapati tas sahabatnya itu telah siap untuk dibawa. “Gue gak bisa nemenin nginep, ada kuliah pagi besoknya”

 

“Yaudah. Lo langsung balik aja sama temen-temennya Jimi.”

 

Setelah rombongan telah pulang, kini Desi memposisikan dirinya untuk membantu Jimi dan keluarganya. Keluarganya pun menyambut dengan tangan terbuka. Dua adik perempuan Jimi, Rara dan Dian takluk pada aura yang dimiliki Desi lalu otomatis mengidolakannya dan berharap bisa memiliki aura seperti kekasih kakaknya kelak. Di sisi lain, Desi merasakan sang kekasih sedikit berubah.

 

“Yang, besok bangun pagi ya.” Jimi memecah lamunan Desi. “Kita jalan-jalan pagi.”

 

***

 

Pagi hari pun menjelang, Desi terlalu bersemangat hingga bangun terlalu pagi. Hal selanjutnya yang akan dilakukan Desi setelah membersihkan diri dan memakai make up tipis adalah membangunkan kekasihnya. Namun ternyata Jimi telah bangun sebelum sempat dibangunkan. Dia pun mengajak Desi keluar rumah setelah sebelumnya mengingatkannya untuk memakai jaket.

 

Mereka berdua berjalan dari kawasan pedesaan menuju kawasan persawahan. Kabut pagi telah tipis, membuat sepanjang mata memandang sawah yang hijau, hanya tinggal menunggu masa panen. Lalu lalang sepeda yang dikayuh petani-petani tua berpapasan dengan mereka berdua. Kaki pasangan kekasih itu basah tersapu embun pagi yang menempel pada rumput. Desi takjub pada lingkungan persawahan, dia memang tinggal dalam hiruk-pikuk perkotaan yang diasingkan dari daerah desa. Jimi membiarkannya menikmati pemandangan pagi itu, sesekali dia menolong kekasihnya meminta gambar digital dirinya dalam pemandangan ini.

 

“Aku mungkin gak ya lanjutin kuliah?” Desi menatap Jimi. “Kok kamu tanya gitu?”

 

“Situasinya udah gak kayak dulu lagi, yang.” Jimi menghela napas. “Udah gak ada biaya.”

 

“Kan ada beasiswa, yang,” protes kekasihnya. “Jangan putus asa gitu.”

 

“Aku aja gak yakin dapet.” Jimi balik menatap Desi. “Aku gak pede sama nilai akademik-ku sendiri.”

 

“Payah.”

 

“Apa lo bilang?!”

 

“Payah!”

 

Kali ini Desi mengejek dengan menjulurkan lidah, lalu spontan Jimi mendekap dan menggelitik dengan gemas kekasihnya. Yang digelitik pun menjerit-jerit histeris berusaha melawan. Tawa mereka berdua berderai, menggoda dan mengejek seperti permainan kanak-kanak. Dan hal itu terus berulang dalam perjalanan pagi itu.

 

Kini mereka berdua berdiri di bawah sebuah pohon rindang, menatap aliran pasang sungai yang keluar dari lubang bendungan layaknya air terjun. Jimi mendekap kekasihnya dari belakang, mereka saling memadu kasih. Lalu Desi terdiam cukup lama, dan Jimi tahu ada yang tidak beres, namun dia tak tau apa itu.

 

“Aku gak mau kamu putus kuliah.” Desi membuka pembicaraan kembali. “Kita bakal jarang ketemu dong.”

 

Jimi kali ini memutar otak untuk menjawab. “.... walaupun kita jauh, tapi kan dekat di hati. Ya, gak?”

 

“Ih! Kamu!” Desi pun mencubit kekasihnya dengan gemas. “Aku serius, tau.”

 

“Aku mau kerja.” Jimi pun mulai berkelakar. “Aku mau nyari duit buat nikahin kamu.”

 

Desi sepertinya sudah bosan dengan rayuan seperti itu, dia malah balik menantang kekasihnya. “Yang bener nih? Nyari kerja sekarang susah lho”

 

“Ya kerja apa aja sih, yang penting halal.”

 

“Kamu bisa aja ngelesnya.”

 

***

 

Hari kepulangan Desi diwarnai ekspresi kesedihan dua adik Jimi. Mereka berdua terlalu berat melepas idolanya, bahkan mereka rela ikut mengantar kekasih kakaknya ini sampai stasiun. Dan Desi pun cukup pandai mengatasi mereka berdua, sepertinya dia sudah biasa menghadapi sekumpulan fans. Namun di sisi lain, Desi sendiri melihat secara realistis bahwa kekasihnya sudah sedikit berubah. Jimi yang sekarang sepertinya sangat menerima semua realita yang ada. Sangat kontras dengan pribadi kekasihnya yang dulu yang selalu mengeluh dan tak bisa menerima kenyataan. Jimi pun tau cepat atau lambat kekasihnya akan menyadarinya karena Desi yang dia kenal, bukanlah gadis yang bodoh.

 

Mereka berdua menatap mata satu sama lain, bertanya-tanya, apakah hubungan ini bisa dilanjutkan atau tidak.

 

“....kamu sudah yakin berhenti kuliah?” Desi menatap kekasihnya berusaha menahan gejolak dalam dirinya.

 

“Mau gimana lagi.”

 

“.... oke.”

 

Desi menunduk dan memejamkan mata sesaat, setelah itu dia membuka mata dan menunjukkan wajah ceria kembali. Dia berjalan memasuki gerbong dan melambaikan tangan pada adik-adik Jimi yang mengucapkan perpisahan. Jelas Desi tak mau wajah sedihnya kelihatan pada orang-orang sekitarnya. Jimi pun tak yakin akan masa depannya dengan Desi, dia pasti akan sibuk dengan bekerja, sedangkan waktu untuk merawat hubungan pasti tak ada. Jimi tak naif, seperti pribadinya dulu.

 

Tiga bulan kemudian mereka berdua mengakhiri hubungan mereka. Karena memang kedua sejoli ini hampir tak pernah memiliki waktu untuk sekedar saling berkomunikasi. Waktu Jimi tersita pada pekerjaannya, sedangkan Desi mulai sibuk dengan kuliah dan kegiatan-kegiatan agensi model yang mulai diikutinya. Apalagi Jimi dan Desi terpisah pada jarak. Mereka sempat bertemu beberapa kali, namun pada akhirnya mereka berdua merasa lelah untuk menjalani hubungan seperti ini dan memutuskan untuk mengakhirinya.

 

“Jim, kamu gak lelah?” Desi tidak memanggil Jimi dengan panggilan spesial kembali yang awalnya membuat hati Jimi tersenggol, namun dia lekas memahami posisi Desi dan dirinya saat itu.

 

“Sepertinya, iya.” Desi sedikit jengah mendengar suara Jimi yang tenang dan santai di jaringan seluler. “Kamu juga. Sepertinya lelah.”

 

“...aku sulit buat ngelanjutin ini, Jim.” Suara Desi semakin pelan.

 

“Iya, aku ngerti kok.” Jimi menimpalinya dengan tenang. “Yah, mau gimana lagi.”

 

“Jadi kamu gak papa?”

 

“Enggak juga sih.”

 

“Ya sudah kalo gitu. Aku harus tidur nih.”

 

Desi menutup jaringan lebih dulu. Hatinya bergejolak. Dia berusaha menahan tangis, namun air matanya tak mampu dibendung dan meleleh di pipinya. Jimi awalnya memang terlihat tenang, namun ketika realitas tentang hubungannya yang berakhir sudah merasuk dalam pikirannya, dia terlihat mulai tak fokus. Dan semalaman mereka berdua tak bisa tertidur.

 

Ketika kabar ini terdengar pada kedua adiknya, mereka tampak kecewa sekali. Namun hanya adik-adik Jimi yang masih menjalin komunikasi dengan mantan kekasih kakaknya. Setahun kemudian, Dian terlihat kegirangan menonton acara puncak Putri Indonesia tahun itu, ketika Desi dipasangkan sebuah mahkota dan musik scoring yang bersahutan, tepuk tangan, serta sorak-sorai mengiringinya.

 

***

 

Dua tahun telah berlalu, Jimi sibuk bekerja menjadi buruh pabrik sebuah perusahaan multi-nasional tempat ayahnya dulu bekerja. Sekolah kedua adiknya memang berhasil dibiayai oleh pesangon ayahnya, sehingga Jimi cukup percaya diri untuk membiayai sekolah mereka tahun-tahun berikutnya.

 

Pabrik tempat Jimi berkerja memproduksi suku cadang sound system untuk kendaraan mobil. Jimi berada di bagian housing dimana dia memproduksi sirkuit. Bekerja seven to five membuatnya hampir tak memiliki waktu luang karena malamnya dia gunakan untuk beristirahat, tak seperti jaman dia kuliah yang hampir setiap hari, waktu seperti meluangkan dirinya. Jam kerja pabrik sangat ketat, Jimi merasa seperti robot yang bekerja, bahkan jam-jam istirahat saat bekerja benar-benar tak membantunya. Suatu kali, tubuh Jimi hampir tumbang namun dia tetap bertahan, tetapi sebagian besar fisik rekan-rekannya seringkali roboh dan tak ada kebijakan apapun dari otoritas pabrik akan hal ini.

 

Meskipun upahnya dirasa cukup, namun Jimi juga merasa jam kerjanya tidak manusiawi. Maka ketika mendengar desas-desus diantara karyawan pabrik akan mengadakan demonstrasi menuntut pengurangan jam kerja buruh pada Mei tahun ini, Jimi tanpa pikir panjang mendaftarkan diri.

 

May Day tahun ini digelar oleh gabungan serikat dan organisasi buruh, organisasi mahasiswa, dan sekumpulan LSM di ibukota. Pada saat long march, tak sengaja Jimi bertemu dengan Andre, teman kuliahnya yang ikut bersama aksi itu. Andre mengajaknya untuk ngobrol lebih panjang setelah aksi selesai di warung kopi terdekat.

 

***

 

Setelah menceritakan seluruh kisahnya dalm dua tahun ini, Jimi dan Andre kembali berdiskusi tentang aksi yang mereka lakukan tadi. Andre sempat berkelakar, begitu pesimisnya dia pada media massa yang meliput May Day yang akan diterbitkan esok hari. Lalu Jimi bertanya kabar tentang mahasiswa-mahasiswa sekarang.

 

“Besok, saat Hardiknas. Kita akan menggelar aksi lagi, Jim,” ujar Andre seraya menyeruput kopinya yang mulai dingin. “Beberapa serikat buruh juga bergabung, kemungkinan serikat buruh lo juga ikut, Jim.”

 

“Iya, mereka juga bilang gitu,” sahut Jimi. “Cuma gue belum paham apa tuntutan lo semua.”

 

“Terakhir kali saat rapat, kita semua sepakat mau nuntut agar pemerintah membiayai kuliah.” Jimi terhenyak. “Agar supaya orang-orang seperti lo bisa terus kuliah, dan pesangon almarhum ayah lo juga gak perlu dipake untuk biayain sekolah adik-adik lo.”

 

“Wah gila, kayaknya mustahil.” Jimi pesimif. “Tapi alasan anak-anak sebenernya apa, Ndre?”

 

“Setelah kepergian lo, ternyata banyak teman-teman kita yang DO juga karena alasan biaya.” Andre kembali menyeruput kopinya. “Bahkan sebagian besar gak ada kabar yang jelas tentang kuliahnya yang non-aktif.”

 

“Menurut lo bisa berhasil, Ndre?”

 

“Tergantung konsistensi kita, Jim. Lagian gue juga yakin kita butuh perjuangan yang gak sebentar. Hari Buruh diliburkan juga, butuh sepuluh tahun lebih buruh berdemo tiap tanggal 1 Mei. Sedangkan di Chille, mahasiswa juga perlu 3 tahun untuk membuat permerintah mengambil pajak korporat untuk membiayai kuliah mereka.” Andre kemudian menambahkan. “Banyak yang belum tahu, bahwa tetangga kita di Burma juga menuntut hal yang sama dengan kita. Tapi kasusnya sedikit beda, mereka terancam tak medapat pendidikan yang gratis lagi.”

 

“Tunggu dulu, Ndre. Burma itu dimana?”

 

Andre menyalakan kreteknya namun gagal. “Burma itu Myanmar, Jim. Negara di bagian utaranya Thailand.” Dia lalu berusaha menyalakan kreteknya lagi dan berhasil. “Diktator militer di negara mereka yang menamakan Myanmar.”

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer duvernoy
duvernoy at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)
60

Cerpennya panjang tp menarik utk terus dibaca yah :3
Krn sdh banyak yg mengkomen isi critanya saya ndak mau bahas lagi, krn pendapat saya tak jauh beda dg komen" dibawah ehe :p
Tapi terlepas dr itu smua, saya sukaaaaaaaa bangettttttt

Sama judulnya :v

Judulnya bagus lho kak, ngefans ah sama judulnya wkakaka >.<
Rasanya pertama baca tuh ya,
Klo kita belajar mati"an tapi nilai tetep jelek, 'Mau Gimana Lagi?'
Ketika kita mati"an mengejar si dia yang tak peka akan perhatian kira, 'Mau Gimana Lagi?'
Ketika saya kehabisan ide mo comment apa lagi, mau gimana lagi yah?? #hehe maap gaje
Salam kenal kakak :3

sijojoz at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)

terimakasih. salam kenal juga hehe. ceritanya emang soal menerima realita sih, jadi judulnya emang perwujudan dari ceritanya. ngomong-ngomong saya juga bolak-balik ganti judulnya sebenernya hehe

Writer MocchaFreim
MocchaFreim at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)
60

berasa kayak dingantung ;_; udah nih . jujur aja rasanya cepet banget :'v jadi lagi asik baca spontan 'lho udah abis . lanjutannya mana' eh tapi ceritanya keren :3

sijojoz at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)

terimakasih. iya memang rasa-rasanya harus dilanjutkan hahaha

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)
80

Saya kok lupa kasi poin yak? -.-
Overall oke kok, uneg2 udah saya sampaikan di bawah hehe :)

sijojoz at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)

terimakasih poinnya

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)
90

Keren! Dari awal baca saya terus kepincut dan ingin membacanya sampai akhir. Kisah cintanya, deritanya, namun hal yang mengganggu adalah terlalu cepatnya perubahan kepribadian Jimi dan ending yang "Hah! Terus, udah?"
.
Jujur, padahal topik dan gaya penceritaannya udah bagus. Cuma itu, kok endingnya kayak gak jelas gitu. Mau dikemanain hubungan manis antara Jimi dan Desi? Masalah demo? Gaji? Biaya hidup? Oke, biaya hidup mungkin sudah terseleseikan.
.
Ada dua kalimat yang membingungkan saya:
"Ayah Jimi menabrak pengemudi yang menerobos lampu merah dalam perjalanan pulang kerja. Malang tak dapat dihindari, ayah Jimi kehilangan banyak darah dalam perjalanannya ke rumah sakit." <--- itu yang nabrak Ayah Jimi, kok jadi dia yang kritis sih. Apakah Ayah Jimi setelah menabrak pengemudi, dia terpental gitu? Menghantam trotoar? Atau menubruk tiang lampu merah? Kalau iya, kenapa tidak dijelaskan. Kalau tidak, itu artinya kalimat itu salah menggunakan kata kah? Saya gagal paham di situ.
.
Untuk semua, sebenarnya bagus! Cuma itu, endingnya kayak gak jelas aja.
Terus semangat menulis ya Kak :D
Mampir juga ke tempatku :D
Salam kenal~~

sijojoz at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)

Terimakasih atas kritik dan sarannya, saya membutuhkan memang. Jadi jangan sungkan-sungkan hehe.

Yang paling bikin saya khawatir ya emang tentang perubahan kepribadian Jimi, apa tidak terlalu cepat ya. Saking khawatirnya, saya jadi luput dengan yang lain hahaha. Jadi ternyata saya gagal juga :)

Tentang kecelakaan ayahnya Jimi mungkin nanti saya perbaikin. Tentang hubungan Desi dan Jimi udah sampai gitu aja sih maunya saya. Tentang demo dan ending masih cari referensi-referensi buat menyelesaikannya. Terimakasih sekali lagi.

Writer benmi
benmi at Mau Gimana Lagi (5 years 41 weeks ago)
60

Saya suka topik yang dibawakan di cerita ini.
Ada beberapa kalimat kerja yang aneh menurut saya.. misal rambut ditarik ke belakang telinga.. akan lebih bagus kalo diganti rambut diselipkan ke belakang telingi..
N masi ada beberapa bagian yg menurut saya aneh.. cuma uda ga gitu ingat lagi... hahhah.. bisalah nanti dibaca lagi.. n diedit..

Trus endingnya menurut saya kurang ditegaskan disini.. padahal awal2 uda bagus...

Itu aja sih.. komentnya... sorry kalo ga berkenan.. n salam... hehheheh...

sijojoz at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)

Terimakasih atas saran dan kritiknya, memang hal-hal itu yang saya butuhkan. Jadi jangan sungkan-sungkan untuk memberinya hehe.

Tentang rambutnya yang ditarik, sudah saya benerin.

Tentang endingnya, saya baru sadar, ketika saya memutuskan untuk memulai bagian perlawanan tokoh utamanya, sepertinya saya terlalu cepat ya mengakhirinya hehe. Mungkin nanti bisa diperbaiki setelah dapet referensi-referensi. Terimakasih sekali lagi.

Writer hidden pen
hidden pen at Mau Gimana Lagi (5 years 41 weeks ago)
100

salam kenal kk, saya newbie yang pengen belajar tata bahasa dan penulisan,
wah bahasanya gaul banget, mantap
tapi romantisnya koq diawal aja kk.terus endingnya sedih
tapi mau bagaimana lagi.
sekian dan mohon maaf bila salah kata ya kk.

sijojoz at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)

wah sebenernya saya juga lagi belajar, jadi banyak salahnya. mungkin coba cari bacaan sebanyak mungkin dan lihat komentar-komentar para users tiap cerita di sini.
ngomong-ngomong, tentang endingnya yang sedih ini maksudnya ketika tokoh utama mengakhiri hubungan sama pacarnya?

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Mau Gimana Lagi (5 years 41 weeks ago)

Pertama2 saya ucapkan salam kenal :) Saya suka kisah ini sebenarnya, tp saya ngerasa cerpen ini termutilasi di akhir. Kayak ada bagian yang hilang. Itu ngebuat saya ngerasa enggak dapet full impact dari apa yang dimaksudkan. Idenya oke sih, supaya pemerintah lebih merhatiin pendidikan khususnya pendidikan tinggi, cuman packagingnya masih kurang cantik, perlu tambahan aksesoris lagi. Misalnya: setting bisa lebih dieksplor di setiap scene2 yang ada. Aku baru ngerasa dapet feel scene yang jelas banget pas tokoh utama dan pacarnya jalan2 di desa pada pagi hari itu. Selain itu masih kurang deskriptif settingnya. Terus, ada beberapa detail yang kurang dan itu ngeganggu feelnya. Misalnya, adegan ketika ayahnya tokoh utama meninggal harusnya bisa dibikin lebih dalem lagi penggambaran emosi tokoh utama dan keluarganya. Ketika dia putus dengan pacarnya pun bisa digali lagi. Saya tahu poin kisahmu bukan di bagian itu, tapi scene2 semacam itu perlu utk ngegambarin karakterisasi tokoh utama. Terus satu hal lagi kalo boleh saya tambahin, di cerita ini cuman ditulis dua paragraf aja untuk ngejelasin pekerjaan tokoh utama di pabrik. Padahal, kalo message utama kisah ini ada di isu perburuhan, harusnya bisa lebih dieksplor lagi kerjaannya buruh itu seperti apa dan apa aja kekurangan sistemnya. Tapi di sini bahkan enggak dikasih tau tokoh utama kerja di pabrik apa dan di bagian mana. Jadinya kurang deep aja sih. Hmm, kalo yang ini pure pendapat pribadi saya sih, tapi kalo aja si tokoh utama adalah orang yg cerdas, tp dia terpaksa berhenti kuliah krn masalah2 itu, impactnya lebih dapet lagi. Karena kalo gitu jelas dia merupakan korban sistem. Tapi kalo di cerita ini kan dia nilai2 akademiknya enggak begitu bagus. Apalagi, secara sifat dia punya kecenderungan untuk hidup hedon plus ngemanjain pacarnya dengan barang2 mahal. Terus soal endinhnya. Emm..saya agak gimanaa gtu baca cerpen ini berhenti di situ, enggak puas bacanya. Padahal saya udah nunggu2 kira2 apa yg akan dilakukan oleh tokoh utama utk memperjuangkan haknya memperoleh pendidikan, apalagi dia adalah bagian dari serikat buruh, walaupun bukan aktivis. Itu aja sih, maaf kalo cerewet, habis saya suka banget sama angle kisah ini. Agak kekiri-kirian soalnya, walaupun kurang tajam. Btw, agak janggal kalo bilang Burma itu di Myanmar, sama kayak bilang kalo Nusantara itu di Indonesia. Burma dan Myanmar kan nama negara yg sama, kayak Nusantara dan Indonesia. Sekian dari saya, salam :)

sijojoz at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)

Ada yang lupa hehe. Tentang endingnya, saya baru sadar, ketika saya memutuskan untuk memulai bagian perlawanan tokoh utamanya, sepertinya saya terlalu cepat ya mengakhirinya. Lalu tentang Burma dan Myanmar sudah saya perbaiki. Terimakasih sekali lagi

sijojoz at Mau Gimana Lagi (5 years 40 weeks ago)

Salam kenal juga. Sebenernya ini baru pertama kali menulis kekiri-kekirian, jadi perlu banyak referensi hehehe. Kalo mau ngasi referensi, saya akan dengan senang hati menerima.

Dan terimakasih juga atas kritik dan sarannya. tentang pekerjaan tokoh utaman, saya emang cuma konsen ngeksplor tentang pendidikan tingginya (mudahan karakterisasi Jimi sebagai mahasiswa bisa ditangkap, soalnya saya gak pernah menempuh pendidikan formal). tentang setting ayahnya yang meninggal, lalu putus dari pacarnya, mungkin nanti saya akan memperbaiki.

Terus tentang endingnya, mungkin nanti saya cari referensi-referensinya dulu hehe. Terimakasih sekali lagi.