Penantian Sebuah Kebahagiaan

Kau terbatuk kecil ketika membersihkan garasi yang dipenuhi debu. Tanganmu mengusap debu tebal yang menempel di kap mobil sedan hitam yang dahulu biasa kau gunakan bersama istri dan anakmu tercinta untuk bepergian di akhir pekan.

Kepergianmu selama tiga minggu untuk menghabiskan natal bersama Lilia, anak perempuan semata wayangmu di pedesaan kampung halamanmu membuat debu-debu menutupi seisi rumah. Walau demikian, membersihkan seisu rumah bukan apa-apa dibandingkan kebahagiaan sekaligus kelegaan ketika kau melihat sosok gadis kecil yang kau cintai berlarian dan bermain salju di tepi bukit, lalu tertawa bahagia bersama kedua orangtuamu. Setidaknya, walau dengan berati hati, kau dapat memberikan pengganti seorang ibu pada anakmu selama natal.

Suara alarm dari ponsel genggam yang kau simpan di saku celana menghentikan lamunanmu. Pukul sebelas siang, Lilia akan pulang tidak lama lagi dan kau harus menyiapkan makan siang untuk kalian berdua.

“Kentang, daging, kentang, daging...” Kau terus bergumam selama berjalan menuju dapur. Sedikit perasaan bangga muncul pada dirimu ketika mencium aroma segar pewangi ruangan di seluruh rumah. Tidak sia-sia bagimu menghabiskan seluruh pagi membersihkan rumah. Menyapu, mengepel, membersihkan jendela dan sudut-sudut ruangan. “Rumah yang bersih adalah rumah yang sehat,” gumammu bangga.

Dengan senyum yang masih menghiasi wajah, kau mengenakan celemek putih favoritmu lalu membuka kulkas dan mengeluarkan daging giling beku. Perlu beberapa saat bagimu untuk menyadari kalau kau kehabisan persediaan kentang. Seraya mengutuk dirimu sendiri yang lupa berbelanja bahan makanan kemarin malam, kau mengecek bahan-bahan apa saja yang tersedia sebelum memutuskan bahwa ada cukup bahan untuk membuat lasagna.

Lasagna, lagi-lagi kau teringat pada istrimu. Setiap kali kau bertanya apa yang ingin ia makan, dengan mantap ia selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Walau seringkali kau menolak untuk membuatkannya dengan alasan gizi, pada akhirnya kau tetap membuatkannya juga.

Wajah lucu wanita itu yang dipenuhi kenikmatan ketika menyantap hidangan favoritnya muncul kembali dalam pikiranmu. Seringkali ia tidak sadar mulutnya belepotan saus karena makan dengan terlalu cepat, membuatmu tersenyum lalu mengelapnya menggunakan serbet sementara Lilia akan tertawa bila melihatnya dan berkata, “Mama kaya anak-anak!”

Memikirkannya hal-hal tersebut kembali membuatmu tersenyum. Kau mengecek daging yang sebelumnya masih membeku dan kau diamkan di sebelah wastafel agar mencair dan dapat dimasak.

Setelah memastikan daging tersebut sudah dapat dimasak, kau mempersiapkan bahan-bahan lain yang diperlukan dan mulai membuat adonan lasagna.

Tidak sampai sepuluh menit, adonan telah siap dan kau memasukkannya ke dalam oven. Tidak lupa menyetel timer dan alarm ponselmu untuk berjaga-jaga.

“Tinggal menunggu matang,” gumammu pelan seraya mengelap keringat pada dahimu menggunakan lengan baju. Kau melepas celemek putih yang kau kenakan lalu menggantungnya kembali di sudut dapur sebelum mencuci tangan dan mengambil kotak dan gelas teh di lemari.

Dengan lihai kau meracik teh favoritmu dan dalam hitungan menit, kau membawa cangkir  berisi teh yang masih beruap ke ruang tengah.

Seraya merebahkan diri ke sofa, kau menyeruput sedikit tehmu. Membiarkan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhmu, teringat masa-masa dimana kau bersama istrimu tercinta duduk berdua di ruangan ini menikmati teh hangat bersama. Saling bercanda kecil dan melemparkan obrolan tanpa henti. Tanpa kau sadari, kau mengelus cincin platina yang terpasang di jari manismu.

Sudah hampir dua tahun semenjak kau berpisah dengannya. Walau demikian, kau tetap tidak dapat membiasakan diri hidup berdua dengan anakmu seorang. Penyesalan kembali muncul dalam dirimu karena melepas istri tercintamu pergi. Tapi, kau menggelengkan kepala dan mengingat tekad kuat yang telah kau buat. “Ini untuk kebaikan semua orang.” Untukmu, untuk istrimu, dan untuk Lilia, anakmu tercinta.

Kau menghela nafas, teringat saat dimana kau melakukan debat hebat dengan istrimu sebelum akhirnya melepas wanita itu pergi dengan satu syarat, Lilia tetap tinggal bersamamu. Kau tahu ia tidak dapat memberikan perhatian lebih pada gadis kecil itu. Karena itulah kau memutuskan untuk menjaga dan menemaninya selama ini.

Pandanganmu teralih pada pintu depan rumahmu. Teringat saat sebelum istrimu keluar dari pintu itu. Lilia menangis hebat dan memeluk wanita itu untuk menahannya pergi. Andai pada saat itu kau mengubah pikiranmu, akankah saat ini kalian duduk berdua menikmati teh hangat selagi menunggu Lilia pulang sekolah? Lalu menyantap makan siang bersama sambil mendengarkan celotehan gadis delapan tahun itu.

Tapi biarpun kau selalu memikirkan kemungkinan itu, pada akhirnya kau tetap berpegang pada keputusan yang telah kau buat seraya terus menggumamkan, “Ini yang terbaik.” Berulang kali.

Perlahan kau kembali menyeruput tehmu. Dalam pikiranmu kau berencana mengajak Lilia pergi berbelanja sore ini, mungkin sekaligus makan malam bersama di restoran. Atau menemaninya memasak makan malam dan mengajarinya resep-resep masakan mudah, teringat bagaimana ia berantusias ketika kau mengajarinya memasak kemarin.

Tok tok

Suara ketukan lembut pada pintu depan menghentikan lamunanmu. Kau menjawab, “Yaaa.” Secara spontan dan hendak bangkit untuk membukakan pintu. Tapi, belum sempat kau beranjak, pintu telah terbuka dan seorang wanita muda berjalan masuk.

“Eh?” Wajahmu berubah heran ketika melihat sosok yang sangat familiar bagimu. Wanita itu melepas sepatunya kemudian berlari kecil dan memelukmu singkat dan mencium pipimu.

“Aku kangen sekali Rick...” ujarnya. Ia meletakkan tas tangan yang ia bawa di meja ruang tengah dan mengangkat gelas teh yang masih setengah penuh. “Harum sekali... Darjeeling? Aku juga mau dong... kau masih punya air panas?”

“Ma-masih, mau kubuatkan?” Kau membalas dengan terbata-bata masih dibingungkan oleh sosoknya yang muncul tiba-tiba.

“Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri.” Kau kemudian hanya bisa menyaksikan wanita bersenandung ria selagi membuat teh. “Eh? Kau lagi buat lasagna? Kok tahu sih aku mau pulang hari ini. padahal aku enggak bilang apa-apa biar surprise loh.”

“Hanya kebetulan, aku lupa belanja bahan makanan kemarin ketika pulang dari liburan natal. Dan kebetulan ada cukup bahan untuk membuat lasagna.

“Benarkah?” Wanita itu membawa secangkir teh hangat lalu meletakkannya di meja dan duduk di sebelahmu. “Ini pasti kekuatan cinta!” tambahnya lagi.

Kau hanya tersenyum mendengarnya. “Lalu, kenapa kau pulang sayang? Bagaimana dengan penelitianmu?”

“Sudah selesai!” serunya dengan semangat. “Selesai lebih cepat dari yang kuduga. Karena itu, aku izin pulang untuk mengajak kalian ke London akhir pekan ini!”

“He?”

“Kau tidak akan membiarkanku sendirian ketika aku mempresentasikan tesisku bukan?”

Dengan senyum yang masih menghiasi wajah, kau mengelus kepala wanita itu dengan lembut dan berujar, “Kau sudah berusaha keras.”

“Oh Rick...” Wanita itu merebahkan kepalanya pada bahumu. “Aku kangen sekali padamu dan Lilia. Ini semua karena kau menolak pindah dan tidak mengizinkanku membawa Lilia.”

 “Aku tidak ingin Lilia berpisah dengan teman-temannya, harus pindah sekolah dan membiasakan diri dengan lingkungan baru. Kau juga harus fokus pada penelitianmu bukan? lagipula, bukankah kita melakukan video call setiap malam?”

“Kurang... aku ingin meluk kalian setiap hari,” rajuknya. “Kau tidak kangen padaku apa?”

Kau menggaruk dagumu. “Hmm... biasa saja.”

“Ih Rick, kau jahat!”

Kau hanya tertawa mendengarnya. “Tapi sekarang semuanya sudah selesai kan? Kita bisa bersama lagi bukankah begitu?”

“Yap, dan sekarang aku bisa memeluk kalian kapanpun aku mau.”

Dengan lembut, kau mencium kening wanita yang amat kau cintai itu lalu berkata, “Selamat datang kembali, sayang.”

Wanita itu tersenyum dan membalas pelan, “Aku pulang.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer MocchaFreim
MocchaFreim at Penantian Sebuah Kebahagiaan (7 years 25 weeks ago)
60

Awalnya ketipuuu :v saya pikir mereka cerai . endingnnya bagus :3 berkesan . saya lihat tadi ada yang typo '-' mohon dilihat lagi :3

Writer benmi
benmi at Penantian Sebuah Kebahagiaan (7 years 25 weeks ago)
80

Ceritanya keren..pemilihan topik dan cara berceritanya. Enak aja dibaca.. cuma ada yang sedikit kurang.. emosi suami istri yang uda kepisah lama ga terlihat.. padahal.. walau istrinya tiba2 pulang.. tanpa setahu suaminya. Hanya saja.. reaksi suaminya buatku terlalu biasa aja.. ga terlihat menyimpan kerinduan.. n meluap2 untuk menumpahkan kerinduan yang ada. Walau setiap hari video call jg.. tapi pasti kalo ketemu org yang kita uda pisah.. rasanya pasti gimana gitu.. n dicerita ini.. rasa 'gimanya' itu kurang terasa..
Padahal aku suka banget.. deskripsi awalnya uda bagus.. pemilihan kata n sebagainya. Cuma kurang aja dibagian yang tadi disebut.. hahahhah...
Sorry kalo komentnya ga berkenan. Salammm... hahahhah

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Penantian Sebuah Kebahagiaan (7 years 25 weeks ago)
70

*mencoba mencerna isi cerita*
Jadi si istrinya itu kuliah lagi dan jauh dari si suami? Kupikir mereka udah cerai dan si wanita itu pacar barunya.
.
Tapi aku suka banget sama kalimat penutupnya. Kata "Aku pulang" itu ngena banget rasanya.
.
Untuk komen PoV-nya... jujur sih saya sendiri belum pernah bikin yang seperti ini, dan jarang banget nemu cerita PoV 2. Jadi belum bisa membandingkan.
.
Cuman, menurutku sih, ada beberapa perkataan "Kau" yang tak perlu ditambahkan, semisal "Tinggal menunggu matang." Selama ini saya masak mi instan sih ga sampe ngomong begitu.
.
Oh, iya, di awal-awal... bersih-bersih rumah tapi ngantongin handphone itu rasanya ga wajar aja. Saya di rumah saja handphone ditaruh di atas meja. Kalaupun untuk alarm, mungkin bisa handphone-nya ditaruh di atas meja di garasi.

Writer duvernoy
duvernoy at Penantian Sebuah Kebahagiaan (7 years 25 weeks ago)
80

Kukira mereka cerai -_-
Makanya aku bingung, knp si istri pulang" bisa langsung mesra"an sama suaminya :V
Eh trnyata....
Tertipu aku, dirimu ituuuuu~
Wkwkk suka banget sama endingnya, nggak ketebak sma skali >.<

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Penantian Sebuah Kebahagiaan (7 years 25 weeks ago)
80

Ah, very sweet :)
Aku ditipu dengan lihai sekali, hehe. Kritik ya, kalimat-kalimat di kisah ini cenderung panjang sekali, apalagi di bagian-bagian awal, bikin aku megap2 bacanya. Ada baiknya dipisah menjadi dua supaya informasi yg terkandung dalam satu kalimat enggak overload. Misalnya kalimat terakhir di paragraf pertama jadi: Tanganmu mengusap debu tebal yang menempel di kap mobil. Sedan hitam itu yang dahulu biasa kau gunakan bersama istri dan anakmu tercinta untuk bepergian di akhir pekan.
Seperti itu. Terus, aku kurang begitu merasa tertarik dengan awal kisahnya, rasanya kurang mengandung umpan. Coba bisa lebih dibikin menarik lagi awalnya. Endingnya udah oke dan sweet, saya suka :)
Itu saja, terima kasih dan salam kenal.