Life is A link (Spin Off 1)

Pieces of Heart of expressionless Girl,

From 'Meeting' and 'Geniuses'

 

Saat itu dia sendiri, memakan sebuah roti di tangannya di atas bangku kayu tersebut.

Dia melihat anak-anak itu bermain dengan gembira, kejar-kejaran, membangun istana pasir, dan menuruni papan lungsur.

Suara tawa mereka keras, merambat di udara sore itu.

Satu dari mereka terjatuh dan kemudian menangis.

Seorang wanita yang mungkin adalah ibunya, menghampirinya dan mencoba menenangkannya dengan mengusap kepalanya

Ia menggandeng tangannya dan membawanya kepinggir untuk diberi kecupan kehangatan

Tangisan anak itu mereda, kemudian kembali berjalan untuk bermain

 

"Sendirian?"

Zika menoleh.

Pria itu, pria yang dikenalnya, menyapanya dari sebelah dan duduk disampingnya.

Zika mengangguk.

"Kau tersenyum," katanya sambil melihat wajah gadis itu.

Ia kembali mengangguk.

Namanya Adri, seorang pria yang lebih muda satu tahun darinya, satu-satunya orang yang bisa membaca ekspresi yang dimiliki gadis itu.

"Hahaha. Lucu, melihat apa yang mereka miliki, yang aku tidak punya," katanya.

"Aku sadar, ketika mengunjungi apartemenmu. Kamu tidak mempunyai cermin maupun sesuatu benda yang memiliki pantulan."

Ia terdiam sesat dan kemudian menjawab, " Aku memiliki cermin di kamarku."

"Kau tahu kau tidak bisa membohongiku," jawabnya sambil tersenyum. "Kau sekarang memasang ekspresi sedih."

Zika diam. Ia tidak ingin menjawabnya.

"Kau bisa bicara denganku, aku akan dengan senang hati mendengarkannya," katanya lagi.

"Tanpa bicarapun kau sudah tahu apa yang aku rasakan kan?" Kata gadis itu pelan. Ia tersenyum, senyum yang tidak mungkin dilihat oleh orang lain selain pria itu.

"Kau tahu. Manusia diciptakan untuk jujur. Saat mereka menyembunyikannya perasaannya, dan membohongi diri mereka sendiri, hal itu malah membebani diri mereka. Saat mereka mendengarkan kebenaran tentang mereka dari orang lain, mereka tidak ingin mengakuinya. Tetapi coba percaya padaku, saat kau mengakui apa yang ada dalam dirimu, mengatakan hal itu kepada orang yang kau percaya, kesedihanmu itu akan hilang."

Zika menghembuskan nafasnya.

"Kau tahu... Aku sudah terbiasa..."

"Menyesalinyapun percuma..."

"Karena aku terlahir seperti ini..."

Dia tidak sadar, tetapi air mata itu keluar membasahi pipinya. Adri menatapnya, mendengarkannya tanpa menyelanya.

"Awalnya, saat aku melihat mereka. Aku iri. Ekspresi tawa itu. Ekspresi sedih itu. Kenapa aku tidak memilikinya?"

"Kemudian aku tak ingin melihat wajah mereka. Aku mengurung diriku dikamarku. Aku mengutuk semuanya, kehidupanku, orang-orang yang diberi kelebihan dariku."

"Tapi kemudian aku sadar. Tanpa tawa mereka hidup ini terasa sunyi."

"Karena itu, aku bertekad, jika aku tidak bisa untuk tertawa, biarkan orang-orang itu tertawa, biarkan mereka mewakiliku dari ekspresiku yang tidak tampak diwajahku ini."

"Kau tahu, karena itulah aku menjadi seorang komedian."

Kemudian mereka diam. Zika menyentuh pipinya yang basah dan ia tersadar akan air mata itu. Air mata yang dia kira sudah mengering. Kemudian ia tersenyum.

"Setiap kali aku melihat wajahku, aku tidak bisa berhenti untuk membencinya."

Karena itulah tak ada cermin di tempat tinggalnya, pikir Adri, seperti yang ia duga sebelumnya.

"Karena itu aku mencoba untuk melupakannya, sosok yang ada di balik kaca itu."

Air matanya terus mengalir.

"Apa aku ini monster?" Tanyanya.

"Monster tidak bisa menangis." Adri kini membuka mulutnya. "Dan walau orang lain tidak dapat melihatnya, kau masih memiliki ekspresi, kau bukan monster. Dan akulah bukti dari ekspresimu itu."

Zika menatapnya dengan mata penuh air mata itu.

"Jadi jika kau butuh seseorang untuk membagi ekspresimu itu, kau dapat memanggilku. Kita dapat tertawa bersama," katanya dengan suara lembut. Zika menatapnya, tersenyum,

"Apa kau mencoba untuk merayuku?"

"A...Ah bukan begitu. Uuugh," katanya kelabakan sambil menggaru belakang kepalanya. Zika tertawa dengan mimik muka yang tetap sama.

"Hei, untuk sesaat, dapatkah aku bersandar kepadamu?"

Adri tersentak, kemudian senyum dan mengangguk.

Zika menyenderkan kepalanya di bahu Adri, dan memejamkan matanya. Ia senang, beribu orang tidak dapat mengetahui ekspresi wajahnya, tapi satu orang yang peluangnya lebih kecil dari sejuta orang didunia itu berada di kotanya, bertemu dengan dirinya.

"Kau tahu Zika. Kau manusia jika masih ada orang yang dapat melihat ekspresimu."

Zika mengangguk dengan mata terpejam. Sementara ekspresi Adri berubah sedih dan di dalam hatinya berfikir.

Yah, kau tetap manusia jika ekspresimu masih terlihat olehku. Karena ada seorang yang menyamarkan dirinya dengan topeng yang tak terlihat oleh mataku ini.

Adri mengingat perempuan itu, adik tingkat yang baru memasuki klub aktivitas sekolah yang diikutinya , 'Geniuses'.

Dia yang dapat merubah ekspresinya sesuka hati, dengan mudahnya membodohi orang-orang yang ada disekitarnya.

Yang isi hatinya sendiri tidak dapat diketahui olehnya.

Mungkin dialah yang pantas disebut sebagai monster.

Adri kemudian melirik wajah yang ada dipundaknya itu, yang terpejam polos dengan air mata mengering. Tersenyum ia kemudian bergumam,

"Ya sudahlah. Kota ini memang dipenuhi dengan orang-orang yang menarik."

Ia menyantaikan pundaknya dibangku itu, ikut memejamkan matanya, dan menikmatinya sorenya tersebut.

Menanti cerita yang akan terjadi selanjutnya.

(Pieces of Heart of expressionless Girl, END)

 

 

 

 

 

******

Sang roti tertinggal di atas bangku menikmati malam yang dingin setelah mereka berdua pergi. Dingin dan basi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer MocchaFreim
MocchaFreim at Life is A link (Spin Off 1) (7 years 24 weeks ago)
70

Ceritanta bagus~ tapi ada dialog yg ganjal --" jadi agak bingung pas bacanya pertama kali

Writer Cherolita
Cherolita at Life is A link (Spin Off 1) (7 years 25 weeks ago)
90

Kerennnn~ Apalagi bagian endingnya :')
Cuma ada yang salah-salah dikit kayak misalnya waktu bagian "Adri tersentak, kemudian senyum dan mengangguk." aku bacanya agak gimana gitu, mungkin lebih enak kalau diganti tersenyum :D
Selain itu kayaknya nggak ada kesalahan fatal kok kak :D Bagus ceritanyaaaa, semangat menulis^^

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Life is A link (Spin Off 1) (7 years 25 weeks ago)
70

Wah, menarik juga, ttg cewek yg expresionless n cowok yg bs ngebaca dia. Tapi, dialognya kupikir janggal, entah kenapa. Terlalu..terkesan dibuat2 mungkin? Tp aku suka konsepnya, keren :)

Writer ichisan
ichisan at Life is A link (Spin Off 1) (7 years 25 weeks ago)

Wah, masnya balas dendam, :3
Walau bener sih, emang dipaksain... Kayaknya... Sya yg nulis jga gak tau kenapa kok bisa gitu :3
Ok sip mas, makasih komentarnya :D

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Life is A link (Spin Off 1) (7 years 25 weeks ago)

Eh? balas dendam maksudnya?

Writer ichisan
ichisan at Life is A link (Spin Off 1) (7 years 25 weeks ago)

Ah gak papa,
Komentarnya sama dengan yg saya kasi ke masnya dulu
Mungkin karma
Wkwkwkwk :p

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Life is A link (Spin Off 1) (7 years 25 weeks ago)

Ya ampun, kurang kerjaan bgt aku balas dendam soal gituan aja.
Ini lho yg paling janggal: "Hei, untuk sesaat, dapatkah aku bersandar kepadamu?" Kalau kubayangin scene nya secara nyata, aneh aja.

Writer ichisan
ichisan at Life is A link (Spin Off 1) (7 years 25 weeks ago)

Itu kan saya cuman bercanda kakaa... -___-
Jangan diambil hati... T_T

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Life is A link (Spin Off 1) (7 years 25 weeks ago)
90

Salam kenal, Kak.
Wah, ceritanya menarik, dan penuh dialog. Penceritaannya juga baik.

Ceritanya, Zika, emosinya jarang terlihat ya?
Kenapa bisa begitu, dan ternyata ia bisa Jadi komedian. Habisnya, biasanya ada sebab yang membuat dia jadi begitu. Ah tapi itu cuma penasaran saya saja. Hehe.
Ceritanya menarik, apa lagi pada bagian-bagian terakhir.
Baiklah Kak, tetep semangat nulis, ya Kak.
Salam kenal. :)