Tragedi dan Pengharapan

“Roda kehidupan terus berputar. Semua dapat dijungkir balikan. Apa yang tak mungkin, dapat menjadi mungkin. Aku yakin akan hal itu,”

Begitulah yang selalu dikatakan Widhira Charlotta, sahabatku.

Perkataan itu tak dapat disangkal. Ya, aku tahu itu.. Tapi bukan berarti aku harus mengalami kesengsaraan hingga akhir hayat, 'kan?
~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~

“Hiks.. Hiks...”

Tangis memecah keheningan. Tangis dari seorang gadis remaja, yang duduk menyandarkan diri pada pintu. Di sebelahnya, terdapat pula seorang anak lelaki yang menatap kosong ke arah lantai kamar.

Kamar lembab nan pengap yang sama sekali tak pantas dipakai untuk tidur. Dimana-mana terdapat retakan. Sudut-sudut kamar disarangi lumut. Bahkan, tiada satu pun jendela di ruangan itu. Tiada sinar disana. Dan disinilah mereka, bersembunyi dari perdebatan dan amarah.

Dari luar kamar, terdengarlah jeritan amarah, caci maki, dan sumpah serapah dari para anggota keluarga.
Hal yang tak asing lagi bagi sepasang Kakak beradik ini.

Si Kakak lelaki menatap pahit, sambil terus membelai kepala adiknya. Sedangkan si adik terus menangis dengan tubuh gemetar..

Takut,
Itulah perasaan yang tergambar.

Dan amarah itu semakin berkobar, bagai tak pernah ada yang namanya 'Keluarga' di antara mereka..

“Ku tak butuh nasihatmu, lelaki tua!!” geram seorang pemuda, sambil menyiram 'Kakek' di hadapannya dengan segelas air yang terdapat di meja makan. Pemuda itu tak lain adalah 'Paman'.

Lantas, tindakan itu segera ditanggapi dengan cercahan bertubi-tubi dari seorang wanita tua yang berdiri tepat di pintu masuk. Wanita itu menunjuk-nunjuk pemuda di hadapannya dengan amarah yang semakin menjadi.

Bagai suara yang masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Cercahan itu sama sekali tak diindahkannya. Tanpa merasa bersalah, pemuda itu langsung membanting gelas kaca itu ke lantai. Membuat pecahannya berserakan kemana-mana.

Abang dari pemuda itu langsung melangkah dan menarik kerah 'Paman' dengan penuh emosi. Bahkan nyaris mencekiknya.

“Lepaskan, Brengsek!” geram Paman, sambil meninju wajah lelaki yang disebut sebagai 'Ayah'.

Melihat putra sulungnya tersakiti, bangkitlah sang Kakek. Ia mengucap sumpah serapah bertubi-tubi tanpa memikirkan volume suara yang begitu besar.

“Awas kau, Aland!!” geram Kakek, sambil menggertakan gigi.

Kalau bukan karena fisik yang telah rentan, dan pemuda itu adalah anaknya, pastilah Kakek sudah menghajar Paman habis-habisan.

Paman tersenyum mengejek, dan mencaci maki ketiga anggota keluarganya tersebut.

Nenek yang tak terima, langsung mencengkram dan menatap tajam ke arah Paman. Begitu pula Paman, balas menatap tajam ke arah Nenek.

“Lepaskan aku, Nenek tua!!” bentak Paman. Namun, wanita itu tetap mencengkram erat pergelangan tangannya.

“Lepaskan! Ku tak segan-segan mendorongmu!!” bentak Paman, sekali lagi. Namun, cengkraman itu malah semakin kuat.

“Dasar, kau anak durhaka!!” geram Nenek, yang semakin terbawa emosi.

Dengan kasar, Aland mendorong Nenek dengan kuat. Membuat Nenek menabrak dinding, dan jatuh terduduk di lantai. Kakek semakin tak tahan melihat tindakan putranya. Begitu pula dengan Ayah.

“Apa-apaan kau?! Dasar, orang gila!” bentak Ayah, sambil menggerbak meja dengan kasar.

Paman hanya melirik sekilas, sembari melangkah menuju pintu keluar.

“Berhenti!” pinta Kakek, tiba-tiba. Namun, perintah itu dihiraukan begitu saja bagai angin lalu.

“Berhenti!!” bentak Kakek, sekali lagi.
Namun, Paman tetap berjalan menuju pintu keluar. Sekali lagi, Kakek menggertakan gigi.

“BERHENTI SEKARANG JUGA!!” teriak Kakek, sambil menatap penuh emosi ke arah Paman yang berdiri di depannya.

Pada saat itu juga, Paman berhenti melangkah. Matannya tetap menatap lurus ke arah pintu. Tubuhnya pun tegap, menghadap pintu.

Tap , Tap , Tap

Terdengarlah suara langkahan kaki yang bergema dalam ruangan. Semakin lama, suara itu semakin besar. Hingga akhirnya berhenti tepat di belakang Aland. Aland terdiam sejenak.

“A..”

Dalam hitungan detik, Aland berbalik. Membuatnya berhadapan tepat di depan ayahnya. Kakek sontak membulatkan mata.

Kalian tahu? Aland sangat ingin membunuh Ayahanda nya.
Dan ia benar-benar melakukannya..

Kini, pisau bermata dua di genggamannya itu bersimbah darah. Pisau yang entah kapan dan dimana ia simpan. Pisau yang menusuk dalam, organ vital Kakek..

Semua mata membulat. Membeku di tempat. Tak ada yang mampu bersuara.

“A.. A-land..” ujar Kakek, yang mulai merasakan sesak. Kini, kesadarannya hampir goyah. Semua menggelap, dan degup jantungnya semakin kacau.

Dengan kasar, Aland menarik kembali pisau bermata duanya. Membiarkan bercak merah darah menodai lantai. Membuat semua bergidik ngeri, ketakutan. Dan dalam hitungan detik, Kakek langsung jatuh tersungkur. Hingga akhirnya sama sekali tak mengeluarkan hembusan nafas.

Sementara itu, Nenek menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Tenggorokannya tercekat. Ingin sekali ia berteriak, namun tak bisa. Bagai ada sesuatu yang mengunci mulut dan tindakannya.

Sementara itu, si Paman langsung menatap bak psychopath kepada 2 anggota keluarga yang tersisa di ruangan tersebut. Ia tertawa mengerikan, sambil memainkan pisaunya.

“Tak ada lagi ikatan kekeluargaan! Semua sudah musnah!! Jadi, bersiaplah MATI sekarang juga!!” teriak Paman, yang akhirnya melesatkan pisau ke arah Nenek.

Ayah sontak terkejut, dan langsung berlari ke hadapan Nenek. Ia tak menghiraukan lagi akan pecahan-pecahan kaca yang menusuk kakinya. Tujuannya hanya 1. Yaitu untuk melindungi Nenek.. Dan,

Set!!

Percikan darah mengenai wajah Nenek yang semakin ketakutan. Di hadapannya, terdapat putra sulung yang bersimbah darah. Ia memunggungi Nenek, membiarkan pisau itu menusuk dirinya. Darah mengalir, membuat Nenek semakin ketakutan.

“He..Hentikan..” ujar Nenek terbata-bata. Tangis, tak dapat lagi ia hindari.

“Biarkan pisau ini mengakhiri hidupku.. Setidaknya, akhirnya aku dapat berguna di matamu, Bu..” ujar Ayah, sambil tersenyum samar.

Paman tertawa mengerikan, sambil bersiap menarik pisau yang tertancap pada Abang lelakinya.

Sratt!!

Darah mengucur semakin banyak. Hingga akhirnya, Ayah kehilangan kesadaran. Ia langsung ambruk, tepat di hadapan Nenek. Perasaan ini semakin bergejolak di hati.

“Terkutuklah kau, Aland!!” pekik wanita tua itu.

Aland dengan cuek, langsung melesatkan pisau bermata duanya ke arah Nenek.

“MATILAH KAU, SEKARANG!”

Set!

“A-land.. A..a-was.. kau...”

“Semoga kematianmu menyenangkan.. Bu..”

Aland tersenyum puas, melihat ketiga mayat di ruangan tersebut. Ia tertawa sekeras-kerasnya. Bagai tak berdosa sama sekali.

~~~~~~~~•••~~~~~~~~

Sementara itu, si gadis dan kakak lelakinya hanya bisa merinding di kamar. Mendengar segala kalimat yang terucap dari keempat orang di ruang depan itu.

“Ka-kak..” ringis gadis itu, sambil mengeratkan pelukan pada tubuh Kakak lelakinya.

“Tenanglah, Elisa..” bisik Kakaknya. Ia membelai kepala Elisa, sambil mencoba untuk meraih handphone di saku.

Ia berusaha mengetik sepelan-pelannya, agar tak menghasilkan suara yang mencurigakan di telinga Pamannya. Dengan cepat, ia langsung menekan tombol telepon berwarna hijau.

Pada saat yang sama, pintu kamar didobrak dengan kuatnya. Membuat kedua anak itu terjungkal. Dari pintu kamar, nampaklah sang Paman yang begitu mengerikan.

“Kalian di sini rupanya..” ujar Paman itu, sambil memainkan pisaunya.

Wajah mengerikan, juga tangan yang bersimbah darah.
Ia bukanlah 'Paman' yang dahulu mereka kenal. Ia sudah layaknya pembunuh berdarah dingin, yang membantai tanpa rasa iba..

Elisa dan Deo, kakaknya sontak membeku di tempat. Handphone itu jatuh terbanting ke lantai. Mereka gemetar.. Mereka takut... Takut akan kematian yang 'kan segera menjemput mereka..

~~•••••~~
Pamannya ini sudah gila.. Bukan sindiran, tapi realita.. Kenyataan yang di luar dugaan..
Layaknya film yang di-replay, segala kenangan mulai menari kembali di pikiran kami..

Ya, saat itu.. Awal mula dari semua kegilaan ini.. Ketika Kakek, sang Direktur membagi-bagikan semua harta kepada kedua anaknya yang masih kuliah. Ayah dan Paman..

Ayah kuliah? Memang aneh.. Ia sudah menikah, dan memiliki 2 orang anak. Kak Deo masih berumur 4 tahun, saat itu. Sedangkan aku, Elisa berumur 2 tahun. Aku tak ingat akan peristiwa ini. Tapi Kak Deo yang menceritakan semuanya kepadaku..

Dahulu, Kakek adalah seorang Direktur yang kaya raya. Sedangkan Nenek adalah seorang Manager terkenal. Rumah kami sudah 'bak istana. Dan kendaraan kami cukup banyak. Segala keinginan Ayah dan Paman selalu di penuhi sejak kecil. Membuat mereka tumbuh menjadi anak yang manja. Kata Kakek, Ayah dan Paman pernah tidak naik kelas 2 kali. Dan saat kuliah, Paman di-Drop Out karena sering membolos, dan memiliki nilai akademik yang rendah. Setelah dikeluarkan, Paman semakin malas menuntut ilmu. Untungnya Ayah tidak ikut dikeluarkan. Walau sebenarnya, ia kerapkali membolos.

Disinilah, Ayah bertemu dengan Ibu. Yang pada akhirnya membuat mereka menikah. Sebenarnya, Ibu adalah sosok perempuan pintar. Sugguh bertolak belakang dengan Ayah..

Karena pernikahan itu, Ibu terpaksa mengambil D3. Dan kini? Kini Ibu berkerja di luar negeri. Negeri yang teramat..... jauh, tanpa kabar.

Diluar dugaan, Paman akhirnya jatuh ke dunia Narkoba. Membuat amarah Kakek dan Nenek semakin berkecambuk. Mulailah pertengkaran yang semakin menjadi, di keluarga kami. Paman dan Ayah hidup dalam dunia gelap yang penuh akan kefoya-foyaan..

Kakek semakin tua.. Begitu pula Nenek. Hingga akhirnya, mereka harus pensiun. Tak ada yang membiayai. Kemiskinan melanda hidup kami. Hidup kami semakin terpuruk, Paman di diagnosa Dokter menderita Skizofrenia.

Skizofrenia?

Itu adalah penyakit gangguan mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang lemah. Biasanya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi dan paranoid. Penderita Skizofernia biasanya memiliki keyakinan atau pikiran yang salah dan tak sesuai dengan kenyataan ataupun logika.

Paman telah mengidap penyakit ini dalam kurun waktu yang cukup lama. Dan kami tak tahu bagaimana cara menyembuhkannya.

Tapi, memangnya Skizofrenia dapat menyebabkan seseorang 'tuk membunuh? Ataukah, Paman juga menderita kelainan jiwa yang lain?

Tak hanya itu, rupanya Ayahku ketahuan berselingkuh dengan seorang janda yang sungguh menyebalkan. Dan Ayah memang tak pernah peduli soal keluarga. Ia tak becus, mengurusku.

Aku sering kali berpikir.. Apa yang akan kami lakukan, bila suatu saat Kakek dan Nenek meninggal.. Mengingat, Ayah tak peduli sama sekali pada kami.. Apa Ibu akan kembali? Atau kami akan terlantar? Dan sampai kini, ku belum menemukan jawabannya..

“Roda kehidupan memang berputar, rupanya..” ujarku, pelan. Membuat Kakak menatapku sekilas, sambil tersenyum samar.

Tersenyum? Di saat seperti ini?

Aku tak mengerti. Dan kelihatannya, memang tak perlu mengerti..
Ku tak perlu mencari jawaban lagi. Ku tak perlu menangis lagi. Ku tak perlu mengingat semuanya lagi..

Sebab, kematian telah datang menjemputku.. Sebentar lagi.. Sudah dekat.. Ketika pisau itu ditebaskan, maka..

“MATILAH KALIAN!!” teriak Paman, sambil melesatkan Pisaunya yang begitu tajam ke arah kami.

Sontak, ku menutup mata. Hanya menutup, membiarkan gelap saja yang ada di pandangan ku..

Ya, benar.. Ini takdir kami.. Ketika pisau itu mengenai organ vitalku, dan menusuk dalam. Menghasilkan cipratan darah dimana-mana.. Artinya,

Sett!!

Aku.. akan.. ma-ti...

“Aaa!!”

“Ada apa, Elisa? Kau pikir, ku akan membiarkanmu mati begitu saja, hah?”

Sebuah suara menyadarkanku. Membuatku mencoba 'tuk membuka mata. Saat itu juga, ku membulatkan mata.

“Ka...Kak Deo?!” ku terkejut bukan main.

Tapi, se-jak kapan? Sejak kapan, Kak Deo berada di hadapanku? Jadi, aku benar-benar masih hidup?!

Kulihat, ia tersenyum manis ke arahku.
“Kegilaan ini akan segera berakhir!” ujarnya, santai.

Kini, ia tengah mengunci pergerakan Paman, dengan bela dirinya. Paman tak mampu berkutik, karena Kak Deo menekan titik inti saraf lengannya. Membuat pisau itu terjatuh dari genggaman Paman. Dengan sigap, Kak Deo langsung merebut pisau itu.

“Aaa!!”

Tiba-tiba saja, Kak Deo memekik kesakitan. Di luar dugaan, Paman memanfaatkan kelengahan Kakak, dan langsung mencengkram lengannya. Membuat Kakak tak dapat bergerak.

“Kakak!!”

“Lari, Elisa! Lari! Cepat pergi dari sini!”

“Ta..ta-pi, bagaimana dengan Kakak?!”

“Lupakan aku! Pergi dari sini, SEKARANG!”

“Ka-kak..”

“Aaa!!” Kak Deo memekik semakin keras. Kelihatannya, Paman semakin memperkuat cengkramannya.

Tanpa sadar, ku menitihkan air mata. Ku tak mampu lagi melihat kenyataan ini. Ku ingin lari.. Lari sejauh yang ku bisa.. Pergi dari tempat ini.. Namun, tubuh ini tak mau beranjak. Memaksaku untuk menantang maut. Tapi, aku tak bisa.. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah gadis kecil yang lemah. Ku tak mampu..

Ku ingin lari.. Disisi lain, ku juga ingin menyelamatkan Kakak..

Ku tak dapat meninggalkan Kakak begitu saja. Dan aku juga tak mampu melawan Paman.

Bagaimana ini?! Oh, ya Tuhan! Harusnya, pisau itu membunuhku.. Menusukku, membuatku tak perlu lagi memikirkan hidup. Sungguh, ku tak mampu menghadapi kenyataan..

Aku lemah.. Aku payah.. Aku sampah...

Dapatkah yang lemah menang? Tiada harapan lagi, setelah hukum alam berkuasa. Yang lemah tertindas, yang kuat semakin berkuasa..

Apa lagi, sekarang?

~~~~~~~~~~~•••~~~~~~~~~~~

“Harapan, semangat, dan usaha akan menciptakan perubahan yang besar dalam hidup kita.. Menghasilkan bunga elok nan indah, yang tak kan kalah oleh badai..” ujar seorang gadis yang dikuncir kuda, sambil tersenyum. Dia sahabatku, namanya Amelia Andette.

Begitu juga bayangan sahabatku yang lain. Ia juga tersenyum ke arahku, sambil menghapus air mata yang telah membasahi pipi ini.

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang membawa damai, dan yang dianiaya oleh sebab kebenaran..” ujar sahabatku yang lain itu. Namanya Theresa Donata.

“Roda kehidupan terus berputar. Semua dapat dijungkir balikan. Apa yang tak mungkin, dapat menjadi mungkin. Aku yakin akan hal itu,” lagi-lagi, muncul pula bayangan Widhira di pikiranku..

Kini, ku tatap dengan mata sendu, ketiga bayangan sahabat yang selalu menemaniku itu. Sembari merenungi kata-kata yang selalu mereka katakan..

Amelia Andette..

Theresa Donata..

Widhira Charlotta..

Ketiga sahabat yang selalu menghiburku. Yang selalu memberikan nasihat, kepadaku.

Lagi-lagi, memori itu kembali menari di pikiranku. Menghangatkan sukma yang ditelan malam..

~~~~~~~~~•••~~~~~~~~~

“Ku tak 'kan lari lagi dari kenyataan!” ujarku dengan tegas.

Ku tak ingin menjadi lemah.. Ku akan mengakhiri kegilaan ini! Ku akan menemukan kebenaran!

Ku bangkit berdiri, melawan maut. Takutku sirna, disongsong keberanian.

“E-Elisa!!” teriak Kak Deo, sambil menatap tak percaya ke arahku.

Dengan segenap kekuatan yang masih Kak Deo punya, ia mencoba melemparkan pisau itu ke arahku. Namun, sayang kekuatan Paman terlalu besar.

“Dasar bocah!!” maki Paman, sambil tetap mencoba meraih pisau itu.

“Kak Deo!!” pekikku, sambil berlari mendekat.

“Tangkap!!” teriak Kak Deo, sambil menjatuhkan pisaunya.

Paman langsung menoleh, dan melepaskan Kak Deo. Pada saat yang sama, ku meraih pisau tersebut. Sementara Kak Deo berlari ke arah belakang.

“Cepat, Elisa!” pinta Kak Deo, yang menghadang Paman dari belakang. Ia mencengkram kedua lengan Paman dengan tenaga yang masih tersisa.

“SIALAN KALIAN!!”

“Maafkan aku, Paman!” ujar ku dengan tangan yang gemetaran.

“Elisa!!” teriak Kakak, sekali lagi. Mengingatkan ku agar tak buang waku.

Lantas, aku langsung menusukan pisau itu tepat di jantung Paman. Membuat darah menodai tangan mungil ini.

Set!!

“Aaaaa!!” pekik Paman kesakitan.

Bukannya mencabut pisau itu, ku malah semakin memperdalam tusukannya dengan perasaan yang teramat hancur. Sakit, sesak.. Inikah yang harus ku derita?!
Paman ambruk seketika. Disambut tatapanku dan Kak Deo.

Tes... Tes..

Air mata membasahi pipi. Jatuh berderai, bercampur dengan darah. Bibirku gemetar. Tenggorokanku tercekat. Kakiku pun tak mampu lagi menahan berat tubuh. Seketika itu juga, aku terjatuh.

“Kita... selamat, Kak.. Kita.. sela-mat..”

Tes.. Tes..

“Elisa..”

“Se..senangnya.... Haha..”

Tes... Tes... Tes..

“Ki-kita.. hidup..”

Tes, tes,

“Da..dan Paman... ma…ti,”

“...”

“Pa..man, Paman...”

Perlahan, senyum hambarku tergantikan oleh raut duka. Dimana tiada satupun kebahagiaan disana.

Kepuasan pun berganti dengan duka. Bagaimana pun, Paman adalah Paman. Paman dari Elisa dan Deo. Paman, adik dari Ayah kami. Paman, yang memberikan nama padaku. Paman... Paman, keluarga kami. Sebenci-bencinya, ikatan itu tak 'kan pernah berubah. Dan tak akan pernah bisa diubah.

Ya, Paman.. Paman, yang membunuh seluruh anggota keluarga.. Paman yang akhirnya, dibunuh oleh keponakannya sendiri..

Paman...

“Pa-paman... Paman... Hiks, PAMAN!! MAAF PAMAN!! Hiks.. Ma..af.. Maaf...”

Tangisku pecah, tak terelakan.
Ku silangkan lengan di kedua pundak, sambil terus hanyut dalam duka. Kak Deo terdiam. Menatap iba kepadaku, adik kandungnya.

Ia mencoba berjalan mendekat. Menatap lekat-lekat, jasad di depannya. Membuat napasnya memburu, kakinya bergetar, dan jatuh, tepat di sampingku. Ia dapat mendengar dengan jelas, tangisan duka adiknya.. Menambah sakit dadanya.

“Hiks... Kakek... Nenek... A-ayah.. Ibu.. a-aku.. berdosa..” tangisku, menambah dalam kedukaan di tempat itu.

Kak Deo semakin menunduk, sambil meletakan tangan kirinya di bahuku, sang Adik.

“Kakak... Li-lihatlah.. Adikmu ini... A-adik.. yang hina... ini...” ujarku, sambil meletakan telapak tangan di wajah yang sendu itu.

Menangis, menghentak sunyi. Membiarkan gelap pada ruangan.
Sedih... Pedih...

Kini, apa?

Apa lagi yang harus dilakukan?

Menunggu? Bertindak?

Menunggu siapa?

Bertindak bagaimana?

Apa?! Apa lagi sekarang?!

Hanyut dalam hening.
Terus menangis, bagai tiada akhir..
Hingga terdengar bunyi sirine dari kejauhan. Dan bunyinya semakin dekat.. Sampai pada akhirnya pintu itu didobrak.. Masuklah orang-orang asing yang langsung membawa pergi, kedua kakak beradik itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Tuhan... A-aku telah berdosa..” gadis kecil berpakaian duka itu terus menangis tersedu-sedu di depan makam.

Tak peduli akan segala mata yang memandang, ia terus menangis dan mengucap kalimat tersebut berkali-kali. Sementara itu, si Kakak menghadapkan wajahnya ke langit. Membiarkan rintik demi rintik hujan jatuh, membasahi dirinya. Dirinya yang hina..

“Kak... Me-mengapa, Kak?! Mengapa...
Me..ngapa.. ini semua, harus terjadi?! Mengapa kepada kita?! Keluarga kita... Se-semuanya... hancur... Tiada lagi, yang dapat kita lakukan.. Hancur... Hina... Bimbang...” tangis Elisa semakin menambah kepahitan di hati sang Kakak.

Diam membisu. Biarkan angin menerpa kulit. Memainkan helaian rambut kedua anak itu. Dan rintik hujan yang terus jatuh mengguyur bumi. Bagai alam mengerti kepedihan mereka..

Sementara itu, nampaklah 3 sosok gadis berdiri agak jauh dari kedua insan tersebut. Ketiga sosok yang amat mereka kenal..

“Elisa.. Roda kehidupan selalu berputar.. Tuhan tak mungkin membiarkan mahklukNya, selamanya berada di dalam penderitaan.. Aku yakin itu..” ujar seorang gadis bersurai pendek se-bahu.

“Benar, Elisa.. Mungkin saja, keluargamu sengaja telah dipangil oleh Yang Maha Kuasa. Segalanya baik, Elisa.. Kak Deo.. Segalanya baik.. Segala yang merupakan rencana Tuhan, sunguh baik.. Serahkan segalanya kepadaNya,” imbuh Amelia, yang berdiri di sebelah Widhira.

“Elisa dan Kak Deo.. Aku tahu, ini sulit. Tapi, bukan berarti kalau semuanya telah berakhir. Nyatanya kalian masih hidup.. Kalian masih punya masa depan.. Tuhan masih memberikan kesempatan pada kalian! Bersemangatlah!” ujar Theresa, yang berdiri di depan Amelia dan Widhira.

Rintik hujan mengalir di pipi, bercampur dengan tetesan air mata. Hanyut dalam duka...

Tak tuk tak tuk tak

Terdengarlah suara sepatu kuda dari kejauhan. Suara yang semakin mendekat, hingga berhenti di belakang Theresa, Amelia, dan Widhira.

Disana, duduk sepasang suami istri yang mengenakan pakaian duka. Turun dari kereta kuda, mendekati Elisa dan Deo.

“Salam damai bagimu,” ujar sepasang insan tersebut.

Lantas, Elisa dan Deo mengadah, menatap sumber suara.

“Aku berkata kepadamu; Mulai hari ini, kalian akan tinggal bersama kami. Karena begitulah yang dahulu dipesankan orang tua kalian. Jadi, tersenyumlah anak-anak.. Tersenyumlah, seperti yang diharapkan keluarga kalian.. Mereka selalu melindungi kalian dari sana. Alam yang baka..”

Elisa dan Deo saling menatap tak percaya. Kini, berdiri di depan mereka, sepasang kekasih yang masih memberikan mereka harapan akan masa depan. Sepasang kekasih dengan senyuman tulus, sejuk menghanggatkan hati.

“Terima kasih Tuhan. Kau sumber pengharapan kami..” ujar Elisa dalam hati.

.
.
.
.

Dan begitulah awal dari lembaran baru dalam kehidupan kedua anak itu..

[Berakhir]

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Tragedi dan Pengharapan (3 years 49 weeks ago)
90

roda kehidupan terus berputar, siapa pun dapat dijungkir-balikkan,
bianglala,
ada saatnya diatas dan ada saatnya dibawah.

Writer Zarra14
Zarra14 at Tragedi dan Pengharapan (7 years 12 weeks ago)
90

Halo Naomi, salut sama kamu :)
Ketragisan situasinya bener-bener kerasa, tapi saya ngerasanya selingan kehadiran sahabat-sahabat si Adik, meski penting, kurang pas untuk diselipi di tengah-tengah ketegangan cerita.
Saya suka unsur psikologis dan (sedikit) religi yang dimasukkan di ceritanya. Bikin ceritanya jadi hidup dan gak datar.
Penulisannya wah, udah enak banget dibacanya. Paling saran saya psychopath dijadikan psikopat pun cocok. Skizofrenia ada yang ketulisnya skizofernia. Penggunaan "'tuk" ini terkesan puitis, diganti "untuk" aja. Terus penggunaan kata 'Ku' seperti yang udah disebut di komen bawah saya. Beneran saya juga gak percaya kamu masih SD, keren sekali.
Tetap berkarya :D

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Tragedi dan Pengharapan (7 years 12 weeks ago)

Halo Kak Zarra, Terima kasih mau mampir :)
Ohh, iya juga ya Kak. Kurang cocok dimunculin pas tegangnya. Tadinya maksud saya sebagai penyemangat si Adik, hehe.
Oh iya, ejaannya salah. Kayaknya si Paman gak menggambarkan pengidap skizofrenia ya? Hehe, Terima kasih Kak Zarra :)

Writer Nine
Nine at Tragedi dan Pengharapan (7 years 12 weeks ago)
100

Saya tidak percaya kalau kamu itu masih SD Naomi. :)
.
Cerpenmu yang ini bagus :)
Subjektif yah? Untuk penggunaan kata "ku" sebaiknya jangan dipake sebagai kata ganti Aku. Gimana yah? Ngak bagus menurutku. Ku tak tahu lagi, Ku merasa, dll. Lebih enak kalau Aku tak tahu lagi, aku merasa. Nah untuk kata "ku" itu lebih bagus kalau dipake untuk: Kuambil, Kutendang, Kutusuk, Kutikam. Bagitu menurutku, hehehe
.
Salut dek sama kamu yang masih SD (Sudah mau masuk esempe kan sekarang?) bisa merangkai cerpen kayak begini :) walau masih jauh dari kata luar biasa, cerpen ini bagus dek. Kalau kamu tekun, saya yakin peluangmu untuk jadi penulis yang hebat sangat besar (y)
.
Nah untuk kata keterangan: dengan keras, dengan kasar, bak istana, bak angin di musim panas. kata2 keterangan ini jangan terlalu sering dipake. Karena secara tidak langsung menggambarkan kelemahanmu dalam mendeskripsikan kejadian. Contoh yah. Bandingkan dua kalimat ini:
1.Roman menutup pintu dengan keras saat ia keluar
2.Roman membanting pintu saat ia keluar
Bagaimna? Mana yang lebih tegas? Mungkin ini bisa jadi contoh juga:
1. Lola tinggal di rumah besar bak istana
2. Lola tinggal di rumah mewah
Ini sekedar contoh saja dek, tidak ada maksud menggurui, hehehe, saya juga masih pemula dek :)
Saranku, kurangi kalimat penjelas/perandaian mu, lebih efisien memakai kalimat yg efektif. Oke? Hehe
.
Salut sama kamu Naomi! Tetap semangat menulis yah dek?
.
Salam olahraga (y)

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Tragedi dan Pengharapan (7 years 12 weeks ago)

Salam, Kak Nine,
Terima kasih mau mampir, ehehe. Iya, tinggal nunggu pengumuman nilai T_T
.
Setelah saya banding-bandingkan, benar juga kata Kak Nine. Yang penggunaan “Ku” dan “Aku”, lebih enak seperti yang Kakak contohkan di atas. Terima kasih atas pandangan subjektifnya, Kak :)
.
Jadi hindari kalimat yang lebih terkesan telling itu ya Kak. Iya juga sih, saya baru nyadar. Kalimat yang saya pakai itu juga tidak efisien. Lebih baik menggunakan kalimat yang lebih tegas, dan menggambarkan kejadian. Terima kasih sekali lagi Kak Nine! Tetap semangat menulis juga, Salam olahraga :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Tragedi dan Pengharapan (7 years 16 weeks ago)
100

Eeeaaa!
Yang ini cerpennya berasa manis dan juga pahit. Kata-katanya simpel dan mudah dicerna. Diksinya juga bagus dan pas! Semua pengandaiannya serasa kena dengan konflik yang sedang dijalankan.
Ini tulisanmu yang paling cermelang sampai sekarang. Menurutku ya.
.
Rasanya, tulisan ini seperti bercampur dengan puisi.
Paling yang saya bingungkan, itu Kakaknya udah ditusuk kok bisa aja masih bertahan hidup. Hmmm... mungkin gak dalam-dalam amat ya tusukannya.
.
Terus, kenapa dengan tiga sahabat itu. Kenapa mereka punya nama yang bagus banget! Sekolah dimana mereka? Kok bahasanya puitis begitu. Rasanya kehadiran ketiga tokoh itu cuma dijadikan penasehat tokoh Elisa agar sadar bahwa dunia tidak selamanya manis. Bahwa ada saatnya di atas dan di bawah. Hmmm.... menurut saya ya.
.
Kupikir, peran ketiga sahabat itu ada banyak dalam cerita ini. Ternyata tidak. Ya sudahlah. Melenceng dikit dari harapan saya tidak masalah. Hohoho :D
.
Anymway, cerpen ini keren.
Ya sudahlah. Saya hanya bisa berkomentar segitu. Gak terlalu panjang juga sih.
Terus semangat menulis Naomi :D

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Tragedi dan Pengharapan (7 years 16 weeks ago)

Halo Kak Thiya. Bener sih, ini ceritanya aku Campur-Campur puisi dikit. Ya ampun, saya sampai kelupaan kalau
si Kakak nya ditusuk. Ceritanya baru kena dikit doang, karena si Elisanya cepat Bertindak (Lama begitu dibilang cepat). Hehe, Maafkan saya yang membuat 3 orang itu seperti cuma sekedar jadi penasehat. Terima kasih atas komentar Kakak, saya jadinya baru ingat kalau cerita itu masih bisa dieksplor (Apalagi yang 3 sahabat itu). Tetep semangat juga, Kak Thiya!

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Tragedi dan Pengharapan (7 years 16 weeks ago)

Sama-sama... ^_^

Writer ilham damanik
ilham damanik at Tragedi dan Pengharapan (7 years 16 weeks ago)
100

BEST!

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Tragedi dan Pengharapan (7 years 16 weeks ago)

Terima kasih banyak, Kak Ilham. Tetep semangat ya!

Writer Shinichi
Shinichi at Tragedi dan Pengharapan (7 years 17 weeks ago)
70

kayaknya udah dikomentarin segalanya. saya nyumbang poin aja kalo begitu. ahak hak hak. kip nulis :D

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Tragedi dan Pengharapan (7 years 16 weeks ago)

Terima kasih banyak, Kak Shin. Keep nulis juga :D

Writer Namikaze Geofani-chan
Namikaze Geofan... at Tragedi dan Pengharapan (7 years 17 weeks ago)
80

Indahh..sekali...

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Tragedi dan Pengharapan (7 years 17 weeks ago)

Terima kasih Kak :) , kakak penggemar naruto ya?

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Tragedi dan Pengharapan (7 years 17 weeks ago)
60

halo, Naomi.
diksinya bagus lo.
ceritanya juga, tentang gadis remaja yang membunuh pamannya sendiri dilatari tragedi keluarga. seperti penjabaran dari berita yang ada di media. maksudnya, kadang berita yang cuman beberapa ratus kata itu ga cukup memuaskan rasa ingin tahu dan memahamkan pembaca akan peristiwa yang terjadi. nah, cerita semacam ini sedikitnya bisa menjelaskan. bisa tuh, sbg bahan latihan mengarang cerita, coba kembangkan dr berita2 yang ada di media, hehehe. kayak tantangan dr salah satu penantang di PTK2014.
memang penggarapan cerita ini masih ada yang bisa dibenahi, saya rasa.
misalnya, sudut pandangnya di sini masih belum konsisten. kadang orang pertama, terus orang ketiga, eh balik lagi orang pertama. terlebih lagi, ga ada penanda yang jelas saat ada pergantian sudut pandang itu.
selain itu, onomatope seperti "hiks hiks" (tangis), "tap tap" (langkah kaki), atau "tak tik" (sepatu kuda) kalau ga dicantumkan juga ga apa2 karena kesannya seperti penghamburan. dg menyebut kata "tangis", "langkah kaki", atau "sepatu kuda" saja orang sudah bisa membayangkannya sendiri tanpa harus disertakan bebunyiaannya. belum lagi sound effect seperti "set", "srat", dsb, di satu sisi, saya rasa kalau dihilangkan itu bisa mempercepat laju cerita, di sisi lain, kalau digunakan, efeknya cerita jadi terasa lambat, tapi seperti memberikan suasana tertentu semisal saat adegan yang ada "tes tes tes"-nya itu. jadi ini gimana feel-nya penulis aja.
selebihnya dapat diperbaiki sendiri, ya, dg lebih banyak membaca dan menulis, serta menengok pedoman EyD.
mudah2an dapat membantu. maaf ya kalo ada yang bikin ga berkenan, hehehe. saya juga lagi belajar bikin komentar yang baik :")
peace, love, and keep writing....

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Tragedi dan Pengharapan (7 years 17 weeks ago)

Terima kasih banyak, Kak Day. Masih mau menengok cerita saya yang masih ancur ini..
Terima kasih Kak, sarannya. Ok ok, akan saya Coba lagi. Kebetulan, ini masih Pertama kalinya saya mengembangkan berita, Hehe. Saran kakak sangat membantu.
Keep writing juga Kak :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Tragedi dan Pengharapan (7 years 17 weeks ago)

oh, emang dari berita, ya, hehehe. salut deh :)

Writer Golden Star
Golden Star at Tragedi dan Pengharapan (7 years 17 weeks ago)

Sepertinya dialognya masih perlu diperbaiki lagi ..

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Tragedi dan Pengharapan (7 years 17 weeks ago)

Oh begitu. Baiklah, terima kasih Kak

Writer benmi
benmi at Tragedi dan Pengharapan (7 years 18 weeks ago)
70

Endingnya kok agak aneh ya? Hahahhahah... ampe pamannya bunuh kakek, ayah, n nenek masi logis.. pas yang kilas cerita kakeknya yg kaya... pas umur 4 tahun.. berasa aneh.. biasanya umur segitu masi susah ingat...
N umur deo brp? Kok bisa lawan pamannya.. agak ga masuk akal aja sih.. kalo bikin ayahnya yg lawan masi logis...apalagi awal2 diceritakan gadis kecil.. sdgkn deo n adenya kan beda 2 taon.. kalo adenya masih gadis kecil.. abangnya jg hrsnya masih kecil jg.. bingung aja jadinya...

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Tragedi dan Pengharapan (7 years 18 weeks ago)

Halo kak Benmi. Terima kasih banyak, komentarnya, Kak. Oh iya, sebenarnya saya mau nyeritain kalau gadisnya itu remaja. Begitu juga si Deonya. Terima kasih, Kak. Akan saya perbaiki.

Writer hidden pen
hidden pen at Tragedi dan Pengharapan (7 years 18 weeks ago)
100

waahhh aku suka adegan actionnya walaupun seperti ada yang mengganjal saat penggunaan dialog. aku kesulitan membedakan suara hati dengan bicara hmm apa aku yang salah membaca. kalo begitu maafkan aku ya

tapi ceritanya okeeee. salam hangat dariku

maafkan diriku bila salah pengucapan, saya juga baru belajar pemahaman tanda baca.

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Tragedi dan Pengharapan (7 years 18 weeks ago)

Salam hangat, Kak Hidden.
Ohh, oke, Kak. Akan saya perhatikan lagi penggunaan dialognya. Terima kasih banyak atas komentar dan bintang dari Kakak. Maafkan saya bila kurang memuaskan. Salam hangat :)