Sebut Saja Namanya ‘Idiot’

Pagi itu langit memang masih mendung, udara terasa lembab. Jalanan belum begitu kering bekas hujan gerimis yang turun bertubi-tubi semalam. Ia tetap mengenakan stokingnya yang robek saat sarapan sendirian. Stoking untuk menghadapi udara pagi yang dingin, untuk menjaga kedua kakinya agar tetap hangat. Ia melahap makanannya sambil menyalakan rokok. Daging ayam cincang dan menthol.

Ia tidak terlalu bernafsu. Rasa laparnya dikalahkan oleh rasa yang lain. Pikirannya masih segar dengan peristiwa semalam. Walaupun memang bukan sesuatu yang baru baginya namun setiap memar di tubuhnya selalu menjadi kisah baru. Ia selalu ingat dengan kemunculannya, memar yang biru maupun yang merah muda. Ia berpikir asupan makanan akan mengurangi sakitnya, dan memberinya tenaga untuk memulai hari, karena semua orang butuh sarapan kan?
Ia memilih makan di sebuah kaki lima di pinggir jalan bukan karena menu makanannya, atau minumannya, tapi karena tempat itu masih sepi. Tidak ada siapa-siapa lagi di situ selain si penjual, laki-laki 40 tahunan yang tidak banyak bicara tapi ia sudah cukup mendengarkan banyak kata dari cara laki-laki itu menatapnya. “Ya, ini bukan salahmu,” ia membenak waktu si penjual itu menatapnya lagi sambil meletakkan pesanannya di atas meja. “Jangan duduk di sini. Ayo kembali ke gerobakmu dan buatkan aku minuman!”

Ia duduk mengenakan jaket beludrunya. Memar di kedua pergelangan tangannya terlihat, warnanya merah muda dan melingkar seperti gelang. Ia menyadari memar merah muda yang lain di salah satu tepi bibirnya. Sensasinya terasa setiap kali ia mengunyah. Sambil mengunyah dengan pelan-pelan, ia meraba ‘gelang kulitnya’ itu dengan jempolnya, dengan telunjuknya, lalu jari tengahnya; rasa ngilunya berbeda di setiap sentuhan. Jauh berbeda dari rasa ketika luka memar itu dibuat; dicetak melalui permukaan tali yang mengikatnya dengan keras.

Wajar saja karena ketika itu, ia terlalu bingung untuk menentukan perasaannya sendiri, apakah sakit atau nikmat. Reaksi yang ia ekspresikan untuk kedua rasa itu adalah ia merintih. Ia merintih menerima transisi rasa di tubuhnya yang naik-turun seperti ombak laut. AC di dalam kamar meniupkan udara dingin ke kulitnya. Tidak terlalu menusuk tapi cukup untuk mengimbangi temperatur tubuhnya yang sedang berkeringat.

Ada seorang pria yang mengikatnya di sana. “Oh, pria itu… dia tahu kalau aku idiot.”

Keduanya saling beradu pandang pertama kali seminggu lalu. Ia tidak yakin siapa yang memulai duluan atau berapa lama ia melakukannya. Tapi setidaknya ia yakin dengan perasaannya saat itu. Ia ingat saat ia di sekolah dasar, ia jatuh cinta kepada seorang teman sekelasnya yang pemalu dan canggung. Dan sejak saat itu ia tahu tipe laki-laki kesukaannya. Ia menangkap kesan malu-malu dari pria itu dalam pandangan pertamanya. Pria itu tidak banyak bicara, lebih memilih diam di tengah bisingnya klab. Lebih memilih duduk di bar daripada sibuk bergoyang. Lebih memilih menulis pesan di atas tisu untuk menunjukkan perhatiannya. Ia baru menemukan pesan itu di dalam saku jaketnya sesudah pria itu pulang. ‘Taruhan 100rb. Saat kau baca ini, gelang di tangan kananmu sudah lepas. Jangan coba-coba lari kalau aku menang. Besok aku ke sana lagi. PS: Jangan lari.’ Sebuah pesan tertulis ― persis seperti cinta monyetnya dulu.

Pria itu memperhatikan gelang bertali yang ia pakai. Tali gelangnya memang hampir copot saat pria itu masih ada. Ia tidak menyadarinya sampai akhirnya gelang itu lepas dengan sendirinya setelah pria itu pulang dari klab. Sebuah perhatian kecil yang terasa spesial. “Harusnya aku lari, tidak menemuinya lagi, dasar idiot!”

Tentu saja pria itu tidak serius dengan taruhannya. Tidak ada uang Rp 100000 yang harus dibayarkan besok malamnya. Transaksi yang terjadi hanyalah melibatkan emosi dan hati, atau setidaknya itulah yang ia rasakan. Halus dan sembunyi-sembunyi. Ia memang tidak selalu punya banyak waktu untuk mengobrol dengan pria itu di klab karena ia juga harus menemani tamu-tamu yang lain. Tapi ia selalu bisa melihat pria itu sedang memandang balik kepadanya ketika tatapan keduanya tak sengaja bertemu dari kejauhan. Sosoknya yang berkelap-kelip di bawah pencahayaan ruangan, bagaimana warna-warni bergantian menaburinya dengan cepat. Dan bagaimana tempo musik mempengaruhi semuanya.

Hari demi hari ia semakin tertarik dengan pria itu. Dan di hari ketujuh, pria itu mengajaknya kencan.

Restoran yang bagus, makan malam yang enak, dan kamar hotel yang nyaman. “Mungkin sesi bercinta yang akan menakjubkan,”pikirnya waktu itu. “Mungkin hanya harapan seorang idiot,” pikirnya sekarang.

Tidak butuh waktu lama untuk mencari tahu apa yang bisa ditawarkan oleh sebuah kamar hotel bagi dua lawan jenis yang sudah dewasa. Keduanya saling paham dan sama-sama menanggalkan pakaian. Tapi butuh beberapa waktu untuknya menerima siapa pria itu. Pria itu menamparnya, mencekiknya, meremasnya dengan keras, tapi bukan seperti perampok. Pria itu mencumbunya, mendekapnya, membelainya, tapi bukan seperti seorang kekasih. Pria itu hanya ingin mendapatkan apa yang diinginkannya. Maka ketika pria itu mengeluarkan tali, lalu mengikat tubuh mulusnya di atas ranjang dan berkata, “Mario bilang kau biasa bermain seperti ini,” ia tahu bahwa pria itu sama seperti Mario dan beberapa pria lain sebelumnya. Seorang konsumen. Hanya sebatas konsumen. Konsumen yang menekankan kepuasan dalam mengkonsumsi. Itulah transaksi yang sebenarnya. Mata uangnya bukan keintiman dan romantisme tapi profesionalisme dan daya tahan fisik.

Mungkinkah ini semua salah usianya? Ia masih muda, masih berada di situasi yang mudah untuk mengharapkan cinta atau terjerat di dalamnya. Atau mungkin karena pekerjaannya? Ia punya kontrak dan deskripsi pekerjaan yang harus dituruti, dan tidak boleh ada persoalan pribadi yang terlibat di sana. Ketika si laki-laki penjual itu menaruh minuman pesanannya di atas meja, tidak ada lagi momen adu pandang penuh penghakiman seperti sebelumnya. Ia terlalu sibuk dengan pertanyaan di dalam pikirannya. Dua pertanyaan itu memantul-mantul secara bergantian dan bergema di dinding kesadarannya. Ia kesulitan menangkap salah satu untuk dijawab. “Bisakah cinta tumbuh hanya dalam waktu seminggu?” dan “Apakah ada cinta dari melakukan pekerjaanku?”

Tapi lalu pertanyaan lain muncul, “Siapa aku?”

Pertanyaan mudah. Mungkin jadi favoritnya. Ia tidak ragu-ragu.

“Perempuan idiot.”

*

Ia berusaha menjaga pikirannya agar tetap berada di ketinggian yang aman. Berpikir tentang cara menghabiskan makanan tanpa harus memecahkan atau mematahkan sesuatu. Nafsu makannya belum juga membaik tapi ia tahu kalau dirinya perlu tambahan gizi untuk menghadapi hari.

Seekor kucing memperhatikan asap rokoknya dengan diam-diam. Kucing itu duduk tak jauh dari mejanya. Warna bulunya jingga dan bola matanya hijau. Kucing itu sendirian dan tak bernama. Kucing itu terlihat liar dan jinak dalam waktu bersamaan.
Setelah lama mengamati, lalu tiba-tiba kucing itu melompat ke atas meja. Ia kaget. Kedua mahluk itu saling beradu pandang. Si kucing punya sesuatu untuk dibicarakan tapi kemudian mengurungkan niatnya dan memilih untuk langsung mengarahkan perhatiannya ke target utama: sepiring daging ayam cincang.

Ia memperhatikan gerak-gerik kucing itu. Ia tidak merasa terancam atau terganggu, tapi ada perasaan aneh yang seketika muncul bahwa ia merasakan aroma pertemanan dari sosok binatang berkaki empat itu. Bagaimana pun juga, kucing itu menghampirinya tanpa diminta. Ia tidak memahami bahasa kucing dan ada banyak hal yang menyesaki kepalanya kini, menanti untuk dibebaskan, menanti untuk dimuntahkan. Kebetulan saja seekor kucing menampakkan diri dengan sukarela di hadapannya.

Maka di saat itu juga ia berpikir tentang bagaimana caranya menggambarkan rasa sakitnya kepada si kucing, karena hanya itu yang saat ini mampu ia bicarakan. Kucing itu menyampaikan rasa lapar dari kedua matanya, air liur yang membasahi lidahnya, suara mengerang dari mulut mungilnya. Mata mereka kembali bertemu dan sebuah ide muncul di benaknya: “Bagaimana kalau kita berbagi situasi yang sama di mana kita tidak mendapatkan apa yang diidam-idamkan?”

Si kucing menatap daging ayam cincang sementara ia memegangnya dengan jari-jarinya yang kecil dan pucat. Perempuan itu menggigit, mengunyah, dan menelannya.

Gigit, kunyah, telan.

Gigit, kunyah, telan.

Sedikit-sedikit sampai tak ada yang tersisa di atas piring. Bahkan gelas minumannya pun telah kosong. Ia menghabiskan sarapannya di depan si kucing.

Lalu betapa luar biasa perasaannya ketika ia menghabiskan semuanya dan melihat si kucing mengeong dengan putus asa. Ia tersenyum dan puas. Kemudian air matanya turun dan ia diliputi kebahagiaan. Ia senang mengetahui kalau dirinya bukanlah satu-satunya di dunia. Ia senang karena mendapatkan teman. Ia menyukai saat-saat seperti ini dan ia bisa mengingat Tuhan lagi. Oh, luar biasa!

Maka ketika ia pergi meninggalkan mejanya untuk mulai melanjutkan hari, ia membawa kucing tersesat itu bersamanya. Ia menghadiahinya dengan kecupan dan pelukan. Mereka pergi menjauh. Sepertinya keduanya akan menjadi sahabat dekat sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Ia menggendong kucing dengan penuh kasih sayang dan si kucing merasakan hangatnya permukaan jaket beludru.

Benar-benar sebuah hari yang istimewa di kala cuaca mendung.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (3 years 6 weeks ago)
70

BAGUS, tapi saya kurang seneng baca cerpen begini..

Writer Wanderer
Wanderer at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (6 years 50 weeks ago)
80

Belum baca cerpenmu yang terbaru, tapi langsung mampir ke sini. Tema seperti ini selalu menarik saya, tentang menemukan kesamaan dan kebersamaan terhadap seekor hewan berdasarkan kemiripan nasib. Kadang ada yang lebih mengerti daripada sesama manusia itu sendiri. Hewan tidak akan menghakimi, mereka tulus, meski seringkali itu hanya sepihak. Dan saya juga penyuka kucing (ini lebih ke personal. Hehe).
Kamu juga berhasil memunculkan empati pada sebuah profesi yang lazimnya tidak dihargai. Karakter si tokoh utama yang rapuh, mengharap cinta namun tidak berbalas, dan rasa keterpurukannya. Saya iri dengan narasi dewasa begini, rasanya ingin menyalahkan faktor usia juga. Hehe.
Gaya penceritaanmu oke padahal tanpa dialog yang muluk-muluk. Ada kesan gaya terjemahan, tapi masih enak diikuti.
Maaf bila kurang berkenan.
Salam kenal.

Writer ilham damanik
ilham damanik at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 20 weeks ago)
100

Gaya penceritaannya bagus, deksripsinya luar biasa. Aku juga setuju sama yang lain, gak tau mau kritik apa. Keseluruhan uda bagus, Mas hehe :)

Writer rian
rian at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 20 weeks ago)
2550

Huhuu, ini diksinya oke sekali. Enggak bisa menemukan apapun untuk dikritik. Heran kenapa fans masnya cuma lima orang.

Writer Liesl
Liesl at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 21 weeks ago)
80

Narasinya mantap dan pemunculan kucing yang tiba2 menjadi teman tokoh juga tak terduga. Entah kenapa buat saya ini menjadi semacam perbandingan kehidupan manusia dan binatang dimana hidup manusia kadang tak jauh berbeda dan bahkan bisa lebih biadab dibanding binatang.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 23 weeks ago)
100

Hmm, aku agak heran dengan kepribadian tokoh utama ini, semacam dia masih labil, belum terlalu paham tentang dirinya sendiri, apa yang dia sukai, apa yang ia inginkan. Terlepas dari ambivalensi itu, aku suka luar biasa dengan narasi kisah ini. Top!

Writer arki atsema
arki atsema at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 23 weeks ago)

terima kasih atas komentarnya, mari kita menulis terus

Writer MocchaFreim
MocchaFreim at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 23 weeks ago)
80

Keren gaya penulisannya ! seperti novel translate . tapi ada beberapa kata yang agak rumit untuk dicerna ._.

Writer arki atsema
arki atsema at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 23 weeks ago)

hehe iya mungkin karena referensi saya kebanyakan dari novel-novel terjemahan. makasih yaa

Writer JP
JP at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 24 weeks ago)
100

Tulisan kamu sangat bagus. terlepas dari EYD, aku sgt suka gayamu bercerita. Gaya menulis yang mahal. Ane sadar, tulisan seperti ini di kekom akan lebih sedikit pembacanya.

Memunculkan kucing itu sebagai tokoh juga sgt tdk terduga, entalah apakah itu hanya sekedar metapora atau tidak. Aku cukup merinding ketika mereka bertatapan. Dan si cewek selfienya belajar dari kucing.

Writer arki atsema
arki atsema at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 23 weeks ago)

Terima kasih banyak, ini sangat konstruktif buat saya

Writer jh.yasashi
jh.yasashi at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 24 weeks ago)
80

(y)

Writer arki atsema
arki atsema at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 23 weeks ago)

:}

Writer hidden pen
hidden pen at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 24 weeks ago)
100

..... makin serius aja ceritanya kk, tapi aku suka koq, saya juga sering memegang kucing saya dan menciumnya tentunya. ehhh itu saja ya gak lebih hehehe

Writer arki atsema
arki atsema at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 23 weeks ago)

hehe salam buat kucingnya

Writer CrimsonHills
CrimsonHills at Sebut Saja Namanya ‘Idiot’ (7 years 24 weeks ago)
50

u,u