AYAH

Adikku risma memberi kabar melalui pesan singkat tentang berita kematian Ayah. Aku sedikit terkejut bercampur rasa cemas membaca isi pesan tersebut. Hal pertama yang terlintas di benakku bukanlah perasaan sedih atau kehilangan tapi justru rasa cemas dan gelisah yang perlahan mulai mengusik pikiranku. Aku sangat khawatir jika urusan seperti memandikan jenazah, mengkafani jenazah dan menguburkan jenazah. Akan di bebankan sepenuhnya kepadaku. Karena aku adalah anak laki-laki satu-satunya kepunyaan Ayah. Aku merasa belum siap jika harus diberi tanggung jawab sebesar itu.

Aku berpikir dengan keras dan menggunakan seluruh potensi otakku. Supaya terhindar dari tanggung jawab tersebut. Kemudian, berbagai macam ide perlahan muncul di kepalaku. Sesaat aku berpikir untuk berpura-pura sakit. Sesaat kemudian, aku mempunyai ide untuk mengajak keluargaku berlibur sampai prosesi pemakaman Ayah telah usai dilaksanakan. Pada akhirnya aku mendapatkan ide yang paling masuk akal dibandingkan dengan ide-ide yang lain. Aku memutuskan untuk berpura-pura sangat sibuk lalu, menemui keluargaku pada saat semuanya telah beres. Aku akan meminta maaf dengan setulus-tulusnya atas kealpaanku dan memasang wajahku yang paling sedih supaya mereka percaya.

Tanpa diduga sebelumnya. Istri tercintaku ternyata sudah mengetahui berita kematian Ayah yang mendadak. Adikku yang paling bungsu yang memberitahunya.

“Aini barusan telpon, katanya Ayahmu hari ini meninggal”

“Aku juga dapat kabar tersebut dari risma”

“Ya udah. Tidak perlu ditunda lagi hari ini juga kita kesana dan menengok Ayahmu”

“Jangan hari ini. Tiga hari kedepan aku sangat sibuk. Kita kesana setelah urusanku di kantor beres”

“Sibuk apa sih kamu? Ayah tercintamu sekarang meninggal mas. Tidak bisakah kamu meminta ijin pada bosmu”

“Hari ini aku mau mempersiapkan diriku terlebih dahulu karena besok dan tiga hari kedepan aku ada rapat dengan klien dari jepang dan mereka adalah partner yang sangat penting bagi perusahaan. Seandainya transaksi tersebut goal maka perusahaan akan memperoleh keuntungan yang cukup besar. Jika pada saat itu aku tidak menghadiri rapat maka kemungkinan besar pekerjaanku yang jadi taruhannya”

“Oh begitu. Jadi kamu lebih memilih pekerjaanmu daripada ayahmu sendiri. Kamu sungguh tidak berperasaan mas”

“Bukannya begitu”

“Terus apa!! Kamu nggak sedih Ayahmu meninggal”

Aku benar-benar mati kutu dan dalam posisi yang sulit. Pada satu sisi aku tidak siap untuk mengambil tanggung jawabku sebagai anak laki-laki satu-satunya. Akan tetapi di sisi satunya lagi aku tidak ingin wibawaku jatuh di hadapan Istriku. Aku tidak mau Istri tercintaku berpikir aku adalah anak durhaka yang melupakan jasa Ayahnya.

Ok. Ok. Aku minta ijin dulu ke bosku. Kamu berkemas aja dahulu kita berangkat hari ini juga”

“Aku sayang kamu. Mmmmuach”  

Ah. Sialan, dasar wanita.

Setelah mengemasi beberapa barang akhirnya kami pun berangkat menuju kediaman Ayah. Aku sengaja melajukan mobilku dengan kecepatan tidak lebih dari 30 km/jam. Aku mencoba dengan upayaku yang terakhir supaya memperlambat kedatangan kami dan berharap ketika kami sampai jasad Ayah sudah terlebih dahulu dikuburkan. Oh Tuhan tolonglah hambaMu ini. Aku sungguh tidak siap dengan tanggung jawab tersebut. Berilah rintangan yang dapat memperlambat perjalanan kami ini. Rintangannya bisa berupa kemacetan yang panjang, remaja labil yang sedang tawuran, tsunami dan semuanya juga boleh. Pokoknya terserah Kamu Tuhan yang penting perjalanan kami terhambat. Amin.

“Padahal terakhir kali ketemu, Ayahmu terlihat sehat yah mas”

“Namanya juga umur sayang. Nggak ada yang tahu”

Kemudian, perlahan Istriku mulai menangis. Lalu, aku sodorkan sekotak tisu kepadanya.

“Kamu nggak sedih mas?”

“Aku sedih sayang”

“Kok nggak keliatan”

“Perasaan kamu aja kali”

“Sikapmu terlihat biasa saja. Tidak seperti orang yang sedang kehilangan”

“Ya udah terserah kamu saja. Namun yang pasti aku sangat bersedih atas kepergian Ayah”

 “Kok gitu sih jawabnya. Kamu nggak punya perasaan”

“Terus, aku harus gimana sayang”

“Aku nggak tahu. Pikirin sendiri aja”

Arrgh. Dasar perempuan. Walaupun sudah hampir setahun kami hidup bersama sebagai Suami dan Istri. Tetap saja susah bagiku untuk menebak jalan pikirannya.

***

Tidak seperti rencanaku semula. Aku sampai kerumah  orang tuaku terlalu cepat. Padahal aku sudah memperlambat laju kendaraanku. Seperti dugaanku jasad Ayah belum di apa-apakan. Tubuh orang tua itu masih ditaruh di kamar dan ditutupi kain sewet. Matilah aku. Tidak salah lagi. Kemungkinan besar pasti aku yang kena untuk mengurus jenazah yang sudah terbujur kaku itu. Sewaktu masih kecil aku pernah mendengar perkataan dari seorang ustad. Beliau berkata kalau orang tua meninggal, yang paling layak untuk memandikannya adalah kerabat dan anak-anaknya. Jika yang meninggal adalah orang tua laki-laki maka yang paling berhak adalah ayahnya ( kakek ), kemudian anak laki-lakinya atau cucu-cucunya yang laki-laki. Jika tidak ada yang mampu, boleh menunjuk orang yang amanah dan terpercaya.

Sebenarnya aku ingin menyerahkan pekerjaan mengurus jenazah Ayah kepada orang yang lebih mampu untuk melakukannya lalu, aku tinggal terima beresnya. Akan tetapi jika aku melakukan hal tersebut maka mau ditaruh di mana mukaku. Seluruh anggota keluargaku pasti berpikir aku adalah pria jahat dan anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya.

Lagi pula aku tidak habis pikir. Kenapa orang tua itu harus meninggal disaat aku sedang menikmati waktu liburku yang sebentar. Alangkah bagusnya kalau dia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada saat aku sedang berada di luar negeri, misalnya. Sehingga aku tidak harus berada dalam posisi yang sulit dan tidak  direpotkan dengan urusan pemakaman.

Keluargaku sudah berkumpul semua. Ibuku, Adik-adikku dan Kerabat-kerabatku mereka semua kompak menangisi kepergian Ayah. Kemudian, Istriku perlahan mendekati Ibuku. Lalu, mereka saling berpelukan dan menangis bersama. Aku juga tidak mau kalah. Aku genggam tangan Ibuku dan menangis sebisaku.

“Ayah kenapa meninggal bu?” ujar Istriku

“Ibu juga tidak tahu. Ayahnya zul sudah tergeletak tidak berdaya ketika ibu menemukannya di kamar mandi. Pas ibu bawa ke puskesmas dokter bilang nyawanya sudah tidak tertolong”

“Ibu yang sabar yah dan semoga arwah Ayah diterima disisiNya”

“Amin. Makasih yah ratna. Ibu sudah ikhlas kok melepas kepergian Ayahnya zul”

“Ngomong-ngomong kapan Ayah dikuburkan bu?”

Pertanyaan yang sangat cerdas istriku. Kamu memang yang terbaik. Sejak tadi sebenarnya aku ingin menanyakan hal yang serupa namun selalu aku urungkan. Aku takut melukai perasaan Ibu. Aku ingin memastikan siapa yang akan diamanatkan untuk memandikan dan mengurus jenazah Ayah dan semoga saja orang itu bukan aku. Tuhan aku bersungguh-sungguh meminta pertolongan kepadaMu, tolong jangan pilih aku untuk mengurus jenazah Ayah. Aku sangat tidak siap. Ya Tuhan kabulkanlah doa ku. Amin.

Kemudian dengan muka yang pucat dan mata yang berkaca-kaca ibuku melanjutkan perkataannya.

“InsyaAllah habis Ashar, nunggu pak rahmat terlebih dahulu”

“Siapa itu pak rahmat bu?” Tanyaku

“Pak rahmat adalah modin di kampung ini. Dialah yang akan memandikan dan mengurus jenazah Ayahmu”

Aku sangat lega sekali setelah mendengar perkataan Ibuku itu. Akhirnya aku tidak harus berurusan dengan jenazah Ayah. Pak rahmat kau adalah penyelamatku. Terima kasih yah pak. Dan terima kasih juga Tuhan karena sudah mengabulkan doa ku. Sekarang yang harus kulakukan adalah bersantai sejenak dan menemani ibuku yang sedang bersedih. Aku tidak mau terlihat buruk dihadapan keluargaku. Maksimal dua hari aku menginap di rumah orang tuaku. Setelah itu aku akan kembali ke istanaku dan kehidupanku yang menyenangkan.

***

Pak rahmat akhirnya tiba di depan pintu seraya mengucapkan salam kepada kami semua. Setelah berbela sungkawa kepada Ibuku kemudian, pria bertubuh jangkung itu berkata kepada kami semua.

“Disini saya sebatas wali yang diberi amanah oleh pihak keluarga untuk mengurus jenazah bapak samsudin. Sepatutnya yang lebih afdal untuk menguruskannya adalah anak-anaknya atau kerabatnya. Untuk itu dimohon kepada anak-anaknya atau kerabatnya supaya membantu pekerjaan saya”

Alangkah terkejutnya aku mendengar perkataan dari pak rahmat. Padahal aku sudah terlanjur senang tadi dan sempat merayakannya. Kau sungguh tega Tuhan dan untukmu, pak rahmat aku tarik kembali ucapanku, kau bukanlah penyelamat kau adalah pengganggu.

Kemudian, semua mata tertuju kepadaku. Dan wajah murung mereka seakan menambah derita yang akan kulalui. Lalu, Ibuku berkata

“Zul kamu bantulah pak rahmat mengurus jenazah Ayahmu. Setelah kepergiannya, sekarang kamulah yang jadi tumpuan Ibu”.  

“Tapi aku belum pernah melakukannya bu”

“Tenang pak nanti saya ajarin” ujar pak rahmat

Aku hanya menganggukan kepala. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Sebenarnya aku ingin menolak. Jika perlu aku berani membayar mahal bagi siapa saja yang mau menggantikan posisiku. Tapi ya sudahlah nasi sudah jadi bubur. Ayah bersiaplah aku datang.

Aku mengikuti langkah pak rahmat dari belakang sambil terus tertunduk. Ini pertama kalinya aku berurusan dengan mayat. Entah pengalaman seperti apa yang akan kudapatkan aku tidak berani untuk sekedar membayangkannya.

Jasad Ayah sudah dipindahkan ke belakang rumah oleh beberapa orang kerabatku untuk dimandikan. Tubuh ayah dibaringkan pada amben dan di sekelilingnya ditutupi secara rapi dengan terpal berwarna biru.

Aku dan pak rahmat mulai bersiap  untuk memandikan jenazah Ayah. Kemudian, ia menyuruhku untuk memakai sarung tangan dan masker seperti dirinya. Dengan gesit pak rahmat membersihkan kotoran yang masih menempel di tubuh Ayah. Lalu, ia membangungkan sedikit badan yang dulu adalah Ayahku dan mengurut-urut perut almarhum.

“Untuk apa bapak melakukan hal tersebut” tanya ku

“Supaya kotoran yang masih tersisa di perut keluar semua pak”

Aku hanya diam terpaku seraya menunggu perintah dari pak rahmat. Ternyata penilaianku selama ini salah. Aku membayangkan hal yang mengerikan dan menjijikan jika berurusan dengan mayat akan tetapi hal yang kubayangkan itu sepenuhnya tidak benar justru aku melihat kedamaian dan ketenangan yang terpancar di wajah ayah dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Lalu, pak rahmat memintaku untuk membantunya menunggingkan tubuh almarhum. Sesaat kemudian, aku melihat bekas luka yang cukup besar di perut Ayah. Aku ingat betul bekas luka tersebut. Itu adalah luka akibat dari kebodohanku. Luka itu seharusnya berada di tubuhku akan tetapi dengan begonya Ayah menggantikanku dan membiarkan luka tersebut bersarang di tubuhnya. Aku malu padamu Ayah. Aku tidak bisa menjadi seperti dirimu. Aku berubah menjadi manusia yang teramat busuk. Air mataku tidak terbendung lagi dan akhirnya bercucuran di atas tubuh Ayah.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at AYAH (6 years 32 weeks ago)
2550

Aku suka sebenernya, terlepas dari flow kalimat yg patah2 seperti: Aku sangat khawatir jika urusan seperti memandikan jenazah, mengkafani jenazah dan menguburkan jenazah. Akan di bebankan sepenuhnya kepadaku. Karena aku adalah anak laki-laki satu-satunya kepunyaan Ayah.
Tapi sudden epiphany yg di akhir cerita itu kurang bisa saya percayai. Terkesan terlalu dibuat-buat n kurang smooth. Tapi tetap aja, ini unik, potensial sekali. Saya tunggu karya selanjutnya :)

Writer A.Arifin
A.Arifin at AYAH (6 years 32 weeks ago)

makasih sarannya bro.

terima kasih udah mampir

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at AYAH (6 years 32 weeks ago)
80

paragraf pembukanya aja udah nyodorin konflik yang "aneh" banget. memandikan jenazah itu suatu hal yang lumrah, sekilas remeh, tapi sebenernya ga gitu juga, itu bisa jadi beban pikiran, khususnya pada seorang anak yang tampaknya kurang terhubung secara emosional dengan ayahnya yang meninggal. bisa2nya pula dia terpikir ide untuk mengajak keluarganya berlibur sampai proses pemakaman ayahnya itu selesai. jomplang banget antara liburan yang nuansanya senang2 dan pemakaman yang nuansanya (seharusnya) memilukan. salut sama kebisaan penulis ngangkat permasalahan yang detail banget dl realita kehidupan. 

.

dan menariknya lagi, si aku sebenarnya sadar dengan sikapnya.

.

Sebenarnya aku ingin menyerahkan pekerjaan mengurus jenazah Ayah kepada orang yang lebih mampu untuk melakukannya lalu, aku tinggal terima beresnya. Akan tetapi jika aku melakukan hal tersebut maka mau ditaruh di mana mukaku. Seluruh anggota keluargaku pasti berpikir aku adalah pria jahat dan anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya.

.

maka "keanehan" itu sebenulnya ga aneh. sering kali "yang semestinya" itu ga bersesuaian dengan "yang senyatanya". kalau kata orang jerman mah, ada das sollen, ada das sein. termasuk dl sikap kita thd orangtua. mestinya kita berbakti pada orangtua, tapi kok nyatanya kita sering melawan atau mengabaikan mereka?

.

selain itu, sikap si aku ini ngingetin sama The Stranger-nya Albert Camus. di situ tokohnya juga biasa aja sewaktu ibunya meninggal. dan karena itulah dia disebut manusia absurd. mungkin persis begitulah si aku ini.

.

sayangnya, segi yang menarik dari karakterisasi tokoh cerpen ini terpupuskan begitu saja di akhir. khususnya sejak bagian berikut. 

.

Lalu, ia membangungkan sedikit badan yang dulu adalah Ayahku dan mengurut-urut perut almarhum.

“Untuk apa bapak melakukan hal tersebut” tanya ku

“Supaya kotoran yang masih tersisa di perut keluar semua pak”

.

...dst. seperti benmi, saya kira si aku akan konsisten dengan sikapnya sampai akhir, namun ternyata dia mendapatkan hidayah, seakan penulis merasa ada semacam tanggung jawab untuk mengakhiri ceritanya dengan pesan moral yang jelas--dl hal ini peralihan sikap yang drastis, ibarat dari yang batil ke yang betul. tapi saya ga hendak mempermasalahkan lebih jauh mana akhiran yang lebih bagus. untuk akhiran versi yang begini pun, saya rasa penggarapannya masih bisa diimprovisasi. saya bayangkan narasinya akan panjang lagi. seperti yang dikatakan sendiri oleh si aku, dia kira dia bakal ngerasa jijik, apalagi di bagian mengeluarkan kotoran itu, saya juga berpikir begitu. tapi dengan mudahnya penulis membalikkan perasaan si aku. tahu2 aja dia insaf akan sikapnya itu, tanpa deskripsi yang cukup untuk memberi pemahaman (dan penerimaan) pada pembaca (--saya--) akan proses peralihannya itu, dari yang sadar-sih-tapi-ga-ah ke sadar-bener-bener-nyesel. 

.

ditambah lagi, pada paragraf terakhir, ketika si aku melihat luka di perut ayahnya dan teringat akan suatu pengorbanan yang dilakukan ayahnya itu untuknya sewaktu dia kecil, saya rasa akan lebih baik kalau itu dijelaskan dengan suatu kejadian yang konkrit walau singkat aja penceritaannya, misalnya katakanlah si aku dulu ginjalnya bermasalah sehingga si ayah mengorbankan salah satu ginjalnya dan luka itu adl bekas operasinya, atau keduanya dulu pernah bertemu perampok berpisau yang hendak menyerang si aku tapi si ayah menghadangnya sehingga perutnya kena senjata penjahat itu, dsb.

.

dan... cerita ini akan semakin baik lagi kalau penulisannya disesuaikan terlebih dulu dengan pedoman EyD sebelum dipublikasikan. mulai dari penulisan nama orang, kata depan, huruf kapital, sampai kalimat langsung, coba diperhatikan lagi.

.

saya teringat juga akan cerpenmu sebelumnya, "Cinta Seekor Ameba", yang tokohnya juga sama "ga berperasaan"nya. ga simpatik, sekaligus manusiawi banget. saya rasa potensimu ada pada karakterisasi. penggalian sifat2 manusia, yang menyebalkan, bahkan menyakitkan, tapi emang ada aja orang yang begitu.

.

mohon maaf kalau ada yang bikin ga berkenan dari komentar saya, barangkali karena silap pembacaan atau kurangnya pengetahuan, belum lagi nada kesoktahuan, waha. peace, love, and keep writing :)

Writer A.Arifin
A.Arifin at AYAH (6 years 32 weeks ago)

makasih banyak yah sudah komen panjang lebar hehe.. saran dari abang insyaAllah sy terapkan di karya sy yg selanjutnya

terima kasih udah mampir

Writer benmi
benmi at AYAH (6 years 33 weeks ago)
80

Kirain ampe akhir anaknya kayak gitu... tp aneh aja.. si zul... responnya ga seperti anak kebykn.. mgkn itu yg membuat pembaca diawal2 agak bingung... apakah dia ada konflik dg ayahnya... atau dia takut dengan mayat... disini ga dijelaskan kenapa pas dibilang meninggal.. yg dia pikirkan cuma mandiin mayat... anehnya disitu aja sih...
Sorry kalo komentnya ga berkenan.. salam..

Writer A.Arifin
A.Arifin at AYAH (6 years 32 weeks ago)

bener juga yak.. hehe btw makasih banget masukannya.

dan terima kasih sudah meluangkan waktu membaca karya sy.

Writer Namikaze Geofani-chan
Namikaze Geofan... at AYAH (6 years 33 weeks ago)
80

Ceritanya sangat menyentuh,saya sampai bingung mau komentar apa. Gaya bahasa sudah bagus,namun ejaannya (di bagian huruf kapital) perlu diperbaiki.

Writer A.Arifin
A.Arifin at AYAH (6 years 32 weeks ago)

terima kasih masukannya lain kali sy usahakan lebih cermat lagi.

salam kenal.

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at AYAH (6 years 33 weeks ago)

Maaf dopost :p

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at AYAH (6 years 33 weeks ago)
80

Cerita yang indah, Kak. Entah mau berkata apa lagi. Bingung aku ='(.

Writer A.Arifin
A.Arifin at AYAH (6 years 33 weeks ago)

makasih yah udah mampir

salam knal

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at AYAH (6 years 33 weeks ago)
90

Si Zul bisa-bisanya gak sedih, malah mikirin urusan memandikan jenazah. Akhirnya dia tobat juga. Ceritanya juga penuh amanat. Bagus, deh. Aku suka deskripsinya..
Oh ya, Kak. Lain kali, setiap awal huruf nama orang, pakai huruf besar. 'Ratna' , 'Zul' 'Rahmat' .
.
Cerita Kakak bagus. Bisa memberi pesan yang baik untuk pembaca seperti saya. Keep Writing, Kak :)

Writer A.Arifin
A.Arifin at AYAH (6 years 33 weeks ago)

makasih yah udah mampir