Stradivarius

Stradivarius

 

Lagi-lagi hujan turun dengan derasnya.

Sudah empat hari berturut-turut hujan terus turun sejak pagi hingga petang menjelang. Bahkan hal ini terlalu berlebihan untuk sebuah kota yang mungkin dijuluki sebagai Kota Hujan. Setidaknya itulah yang dipikirkan olehku yang selalu membenci kehadiran rintik-rintik air hujan. Hujan selalu mengingatkanku pada sosok yang sangat kusayangi, bahkan ketika keadaan sekitarku telah jauh berbeda dengan saat dimana aku bersama dengannya, bahkan ketika aku sedang berada di rumah ‘baru’ku ini.

Baiklah, aku mengaku. Rumah ini tidak bisa dikatakan baru untukku, setidaknya aku pernah tinggal disini selama tiga belas tahun. Mau tak mau, rumah yang terletak di Bogor ini telah menjadi rumahku selama sepuluh tahun pertamaku sejak lahir, dan tiga tahun setelah aku kembali dari Inggris, setelah tinggal disana selama delapan tahun. Tapi aku selalu merasa bahwa jiwaku masih tertinggal di negara yang telah mengajariku segala sesuatu tentang musik itu.

Disanalah aku merasa bisa menikmati gubahan-gubahan komposer yang telah mendunia dan melegenda. Mozart, Johann Sebastian Bach, Ludwig van Beethoven, Chopin...

Tapi bukan mereka yang membuatku mencintai musik, melainkan seorang violinist muda berbakat yang telah menyeret hati bahkan jiwaku untuk masuk ke world of music miliknya.

Kemudian, ingatan-ingatan masa laluku mengalir bagaikan parade musik yang muncul beriringan dan mengalun indah...

Aku ingat, saat ayah dan ibu pertama kali mengajakku yang berumur sepuluh tahun untuk melihat konser yang saat itu di gelar di Inggris. Saat itulah aku jatuh cinta dengan musik yang dimainkan oleh violinist cantik yang begitu bersemangat, violinist yang kemudian aku tahu namanya sebagai,Vanessa Mae. Sejak saat itulah aku mulai tertarik untuk belajar bermain biola dan bertekad untuk dapat menguasai Contradanza milik Vanessa Mae. Itulah awal kecintaanku kepada musik, dan biola.

Aku ingat, saat ayah dan ibu mengatakan bahwa mereka senang dan akan mendukung penuh aku untuk belajar bermain biola. Atas izin orang tuaku, aku kemudian pergi sendiri meninggalkan kehidupanku di Indonesia untuk memulai hidupku yang baru di Inggris. ‘Aku tidak sendiri’, itulah yang aku pikirkan ketika aku merasa takut saat aku pergi untuk belajar di sekolah musik terkenal di Inggris. Ayah Ibuku memiliki seorang sahabat baik yang tinggal di Inggris, maka aku dititipkan kepada mereka. Sahabat orang tuaku itu sangat baik. Mereka juga memiliki seorang anak yang menjadi siswa tingkat pertama di sekolah musik yang akan kumasuki. Flore namanya, seorang anak laki-laki yang ceria dan sangat cerdas. Dia sangat baik meskipun sering sekali menjahiliku sehingga aku selalu membalas dengan mengejek namanya yang seperti perempuan. Dalam waktu singkat, kami langsung akrab.

Aku ingat, hari pertamaku masuk kelas musik. Sangat berat untukku yang memang dari awal tidak memiliki dasar tentang score, musik, ataupun pengetahuan apapun tentang musik. Aku merasa tertinggal dari anak-anak lain di kelasku. Tapi guru di kelasku cukup sabar menghadapiku yang masih sangat hijau ini. Bahkan Flore pun tak segan membantuku, hingga perlahan-lahan, aku mulai terbiasa dan mampu mengikuti kelas-kelasku. Flore pun tak mau kalah dariku, hanya dalam waktu satu tahun setelah aku masuk kesekolahnya, dia dapat lulus tingkat intermediate alat musik yang dia mainkan, cello.

Aku ingat, di usiaku yang menginjak tiga belas tahun, aku menyabet penghargaan The Best Soloist Violin Player dengan permainan sempurna Contradanza-ku yang aku pelajari selama dua tahun masa belajarku di sekolah musikku. Di tahun itu, aku mendapatkan hadiah dari ayah dan ibuku yang kemudian menjadi benda yang sangat berharga buatku, sebuah biola stradivarius. Sebuah biola yang tak pernah aku bayangkan bahwa aku akan memilikinya. Keluargaku memang keluarga yang berkecukupan. Ayahku seorang pengusaha sukses dan ibuku pun bekerja sebagai pimpinan kedua di sebuah perusahaan terkemuka, tapi aku tahu membeli sebuah biola stradivarius yang dibuat oleh Antonio Stradivari bukanlah perkara mudah dan murah, aku tahu pasti tidaklah sedikit yang mereka korbankan hanya untuk membelikanku hadiah berharga itu. Sejak saat itu, aku selalu berjalan dengan bangga saat aku menyandang stradivarius milikku.

Aku ingat, hanya selang empat bulan setelah aku mendapat penghargaan sebagai The Best Soloist Violin Player, aku membuat sebuah lagu. Lagu pertama milikku yang kemudian kumainkan di panggung Festival of the Year: The Greatest Melody, festival yang selalu diadakan oleh sekolahku setiap tahunnya. Setiap tahun, setiap lagu yang dibuat dan dipresentasikan oleh siswa di sekolahku akan diseleksi dan kemudian empat lagu terbaik akan dipilih sebagai The Greatest Melody of the Year. Sayangnya lagu pertamaku itu tidak terpilih sebagai The Greatest Melody of the Year, tapi lagu gubahan Flore terpilih. Aku tahu lagu-lagu milik Flore sangat indah sekaligus rumit. Pernah sekali Flore memainkan gubahannya didepanku, dan aku sulit untuk mengikutinya karena tempo lagu yang dimainkannya sangat cepat dan komplek tapi sangat indah. Meskipun aku kesulitan untuk mengikuti untaian nadanya, tapi aku sangat menikmati permainannya. Aku sangat kecewa karena lagu pertamaku tak terpilih, tapi aku senang akan keberhasilan Flore, dan aku tahu bahwa dia pantas mendapatkannya.

Aku ingat, Flore pernah mengajakku ke Paviliun rumahnya, dan memintaku untuk mendengarkan lagu baru miliknya. Nada lembut yang megalun saat Flore memainkan cello-nya membuatku ingin menangis. Selama dua puluh menit permainan cello Flore, selama itu pula aku tidak berhenti menangis. Selesai Flore memainkan lagu barunya, Flore kemudian menatapku yang masih terisak dengan lembut. Perlahan Flore memelukku dan berkata bahwa lagu yang baru saja dimainkannya adalah aku. Lagu itu dibuatnya untukku, seorang gadis yang harus selalu tegar mengejar cita-citanya meskipun harus berpisah dengan orang-orang yang sangat kusayangi, orangtuaku. Sejak saat itu, hubunganku dengan Flore semakin erat.

Aku ingat, saat usiaku lima belas tahun lagu ciptaanku kemudian mendapatkan penghargaan The Greatest Melody of the Year dari sekolahku untuk laguku yang berjudul Doughter of the Earth dan terus berlanjut sampai usiaku tujuh belas tahun. Selama itu pula aku banyak mendapatkan penghargaan dan memenangkan banyak kompetisi. Tapi kenangan yang paling berharga bagiku adalah bersamaan dengan terpilihnya Daughter of the Earth sebagai The Greatest Melody of the Year aku dan Flore mendapat penghargaan sebagai The Best Couple Player of Melody Instrument. Berkat prestasi kami berdua, kami selalu disebut-sebut sebagai Golden Pair dalam permainan duet instrumen melodi kami. Mungkin karena banyak orang melihat kami sangat dekat, sehingga mereka menyebut kami begitu.

Aku ingat, tak lama setelah aku menerima penghargaan ‘bersama’ku dengan Flore, aku mulai mendapat tawaran-tawaran untuk konser. Aku tak pernah menolak selama aku mampu, karena aku berpikir inilah saatnya, inilah kesempatan besarku. Selama dua tahun berturut-turut aku terus mendapatkan tawaran konser, baik aku sebagai pemain solo, ataupun aku sebagai pasangan Flore. Selama dua tahun itu pula aku selalu disibukkan oleh konser-konserku. Tapi sayang, layaknya sebuah musim dalam satu tahun, satu musim itu tidak bisa terus bertahan terus menerus selama setahun. Perlahan-lahan, ‘musim’ku berakhir.

Berbeda dengan Flore. Karena permainannya yang selalu dapat berkembang, Flore kemudian dapat bermain sebagai concertmaster dan mendapat jadwal konser rutin. Aku senang akan keberhasilan Flore, tapi disaat yang sama aku iri padanya. Aku selalu berpikir, kemampuanku ternyata hanya sebatas ini. Ternyata, berkat Flore-lah aku dapat naik keatas panggung kesuksesan ini.

Aku ingat, Flore selalu menghiburku. Flore bilang bahwa bukan berarti aku tidak berbakat sehingga aku tak lagi mendapat tawaran konser sebanyak sebelumnya, tapi karena persaingan dalam dunia kami semakin ketat. Setiap Flore menghiburku, aku hanya dapat tersenyum padanya, berharap bahwa dia tidak dapat melihat bahwa aku tetap tidak bisa lega mendengar kata-katanya. Entahlah, bagiku kata-kata Flore terdengar seperti ‘excuses’ agar aku dapat sedikit merasa tenang akan tenggelamnya diriku. Aku benar-benar tak ingin memiliki lebih banyak lagi alasan untuk berkelit dari kegagalanku, dari keter-tenggelamanku.

Aku ingat, ditengah-tengah keterpurukan diriku yang ketakutan akan hilangnya nama dan karirku, aku kemudian mendapatkan tawaran konser dalam event besar dengan tema The Golden Years of Nostalgic Concert. Disana, aku diminta untuk memainkan tiga judul lagu gubahanku. Seperti katak yang kemudian mendapatkan guyuran hujan setelah lama kekeringan, aku merasa sangat senang dan tidak sabar untuk menunjukkan diriku kembali. Aku kemudian berusaha keras untuk mengembangkan permainanku agar aku dapat tampil memuaskan dikonser itu. Kukatakan dalam hati, bahwa ini adalah batu loncatanku untuk meraih kembali ‘musim’ku.

Aku ingat, dua bulan persiapanku menuju The Golden Years of Nostalgic Concert, Flore turut membantuku dalam mempersiapkan diriku. Aku tak menyangka bahwa seorang Flore yang jauh melebihiku dalam segalanya sangat antusias dengan kesempatanku ini. Flore membantuku mengembangkan permainanku dan duniaku. Tanpa kusadari, Flore menjadi orang yang keberadaannya menjadi spesial melebihi keberadaan stradivariusku.

Aku ingat, selama Flore membantuku mengembangkan permainanku, Flore terus berjanji padaku bahwa pada hari konserku Flore akan menjemput dan mengantarku sampai atas panggungku. Aku sangat senang dan terus memintanya untuk terus menjaga janjinya kepadaku, meskipun aku tahu bahwa pada hari itu Flore sendiri memiliki konser yang harus dia hadiri. Selama dua bulan persiapanku menuju The Golden Years of Nostalgic Concert, aku mulai menyadari bahwa Flore menjadi segalanya bagiku. Aku pun bertekad jika aku dapat mengangkat kembali ‘musim’ku di konser ini dan aku berada dalam jalur kesuksesan, aku akan meminta Flore menjadi milikku dan memintanya menjadi guardian sekaligus guruku untuk selamanya.

Aku ingat, dengan tekad kuat dalam genggamanku dan impian besar yang menggantung dihadapanku, aku berjalan menuju hari penentuan terwujudnya tekad dan impianku. Aku merasa passion dan antusiasme yang sangat kuat mengalir dalam tiap pembuluh darahku. Aku merasa siap memberikan segala kekuatanku untuk mengangkat kembali diriku.

Aku ingat, hari penentuan itu pun tiba. Aku sungguh tidak sabar untuk memainkan gubahan-gubahanku dan mendapat sambutan hangat dari bangku penonton. Konserku akan dimulai pukul tujuh malam, sayangnya sampai pukul enam lebih tiga puluh menit, Flore belum juga datang untuk memenuhi janjinya kepadaku. Saat itu, aku pun mulai merasa gelisah. Tidak hanya takut terlambat datang ke ‘panggung kesempatan’ ini, tapi aku juga takut kehilangan Flore dan kemungkinan kesuksesanku. Saat itu, hujan mulai turun dengan derasnya.

Aku ingat, saat Flore akhirnya datang dengan mobil jeep nya pukul enam lewat empat puluh lima menit.

Aku ingat, saat aku berlari menuju mobilnya dengan terburu-buru dan memintanya cepat membawaku ke lokasi konserku.

Aku ingat, setiap tetesan hujan yang menerjang atap mobil Flore. Setiap kubangan yang terciprat airnya saat dilewati roda mobil Flore. Setiap kendaraan yang berpapasan dengan mobil Flore. Setiap hembusan air conditioner yang membawa wangi pengharum mobil Flore…

Aku ingat, saat mobil Flore berhenti dengan kasar didepan gedung konser.

Aku ingat, saat aku terburu-buru turun dari mobil Flore sambil memegang stradivariusku.

Aku ingat, saat Flore berteriak kepadaku untuk tidak cepat-cepat pergi tanpa menunggunya dan aku tak mendengarkannya.

Aku ingat, saat aku berlari ditengah hujan deras dan stradivariusku tergelincir dari tanganku dan terjatuh.

Aku ingat, saat aku kembali berlari tanpa memperhatikan keadaan untuk mengambil stradivariusku yang terjatuh.

Aku ingat, Flore berteriak padaku, suara klakson nyaring ditelingaku, suara rem yang berdecit nyaring, suara teriakan seorang wanita yang aku tak tahu dia berada dimana, dan aku terjatuh akibat dorongan kekuatan besar pada punggungku.

Aku ingat, aku tersadar diatas aspal yang dingin dan basah kuyub. Dahi kanan dan siku kananku terasa perih menyengat. Kulihat tubuh Flore terbaring tak bergerak.

Aah, aku telah diselamatkannya…

Sampai disana, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.

Yang aku tahu adalah aku kemudian menghadiri pemakaman Flore. Menyaksikan tubuh Flore dimasukkan ke dalam tanah. Menyaksikan ayah Flore menahan perih dalam dadanya. Menyaksikan ibu Flore menangis tersedu dipelukan suaminya. Menyaksikan kolega dan fans Flore tertunduk menahan duka. Melihat jejeran karangan bunga tanda duka. Menyaksikan pelaksana pemakaman menuangkan tanah diatas peti mati Flore. Merasakan tetes-tetes air mata pada pipiku yang tak kunjung berhenti. Pada usia delapan belas tahun aku menutup karir musikku di Inggris.

Aah, hujan masih belum juga berhenti.

Di usiaku yang ke dua puluh satu, aku masih belum dapat melupakan Flore. Aku masih belum dapat memaafkan diriku. Ayah dan ibu selalu memberitahuku bahwa semua yang terjadi adalah keinginan tuhan, dan aku kebetulan terlibat dalam kehendak tuhan ini. Seakan apapun yang diucapkan orangtuaku hanya lewat telingaku dan tidak sampai kepadaku, aku terus merasa bahwa kematian Flore adalah kesalahanku. Aku sudah tak dapat menyentuh lagi dunia Flore dan duniaku. Sekarang musik adalah pintu menuju lubang hatiku, dan Stradivarius adalah kunci yang dapat membuka pintu itu. Stradivarius yang dulu menjadi kebanggaanku sekarang adalah lambang kesalahanku. Entah sampai kapan aku akan terus terkunci dalam kotak kesalahanku dan entah sampai kapan aku dapat meraih lagi Stradivarius yang menunggu di sudut kamarku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Stradivarius (2 years 25 weeks ago)
70

bagus tapi kurang sempurna

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (2 years 25 weeks ago)

Terima kasih compliment-nya.
Wah, masih banyak yang harus diperbaiki ya?
Insyaallah akan berusaha lebih baik kedepannya.
Terima kasih lagi sudah menyempatkan mampir untuk membaca, padahal cerita ini juga sudah lama sekali.
Love xoxo

Writer vinegar
vinegar at Stradivarius (6 years 24 weeks ago)
60

John Sebastian Bach? Apa opa Bach berganti kewarganegaraan jadi orang Amerika. Typo kali ya, setahu saya sih Johann. Saya juga baru tahu Lupin nyambi komposer, itu kalo maksudnya Arsene Lupin. Ato Chopin? Soal musik klasik, biola, contradanza sepertinya risetnya kurang mendalam. Maaf ya, saya cerewet..

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 24 weeks ago)

Ups, Johann ya? wah, harus searching lagi nih.. hehe, maaf maaf :p
Sebelumnya memang belum meriset mendalam tentang itu semua sih, jadi malu..
Terima kasih atas motivasinya untuk research lebih banyak lagi, saya akan berusaha untuk memperluas wawasan saya.
Terima kasih sudah membaca :)

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Stradivarius (6 years 24 weeks ago)

Wahaha Arsene Lupin yang pencuri andal itu? :p

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)
2550

Salam, saya suka ini. Tapi menjelang akhir aja baru kerasa emosinya. Dari awal bahkan sampe ke tengah cerita rasanya lempeng2 aja, si tokoh "aku" rise to fame nya terlalu smooth, enggak ada halangan atau rintangan tertentu yang bikin menarik. Apalagi pas dia dikasih stradivarius yg harganya selangit itu, kesannya enggak ada "sesuatu" yang bikin perjalanan karirnya menarik. Enggak ada konflik batin, konflik dengan keluarga, teman atau dengan yg lainnya. Pas si Flore mainin cello buat tokoh "aku" dan setelahnya dia bilang itu buat ngasi semangat tokoh aku yang harus selalu tegar karena jauh sama orang tuanya? Aku flat aja rasanya. Kayaknya biasa aja deh merantau demi cita-cita, bukan halangan bagi tokoh aku dalam perjalanan karirnya. Nah, baru saat adegan di akhir itu aku ngerasa tersentuh, sedih ;( Ini baru pukulan telak buat mentalnya dan karirnya juga. Suka sama paragraf terakhirnya. Kesannya penuh keputusasaan gt.
Sedikit koreksi:
-Digelar harusnya digabung bukan dipisah.
-Daughter of The Earth, pas penyebutan pertama typo.
-Di depanku dipisah bukan digabung.
-Paviliun huruf kecil.
Sekian, terima kasih ;)

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Salam kak.
Wah begitu ya kak, terima kasih koreksinya. Dikesempatan berikutnya saya akan coba mengembangkan tulisan saya. Masih banyak teknik menulis yang harus saya pelajari :)
Untuk kedepannya, saya juga akan lebih memperhatikan detil cerita. Terima kasih kak :D
Terima kasih sudah membaca.

Writer benmi
benmi at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)
50

Aku sendiri penggemar musik klasik.. bach setahuku berasal dari german.. mozart dari austria wlau akhirnya lebih byk di vienna..beethoven itu sdri tinggal di wina org jerman..
Lupin.. aku belum pernah mendengar ttg lupin.. lupin setahuku adalah pencuri terkenal.. sampai ada filmnya lupin the 3rd utk keturunanya.. srg dibahas jg di cerita detektif.
Aku merasa utk musik violin.. komposer tersebut tidak begitu wow.. mereka rata2 lebih byk main utk piano.. utk violin sdri aku lebih suka tzigane n bach masih lah.. krn dia violinist jg.. kl misalnya sebut concert jika aku seorg conductor .. maka karya2 mereka oklah.. tp rasanya krg tepat aja pemilihan idolanya.. setahuku mereka memang lebih terkenal aja..
Utk lupin.. ntar aku googling dulu.. soalnya aku brn2 ga ada gambarannya...
Trus utk stradiviusnya.. rasanya setiap violin itu dibawa dengan tas.. cuma.. kenapa rasa2nya jd aneh.. kl dibw pake tas.. apalagi saat hujan.. biasanya violin n tasnya cenderung di pegang ampe dipeluk.. soalnya biola itu paling alergi ama yg namanya air.. jika mmg seorg violin.. ga bakalan dia pegangnya ampe bisa jatuh..
Trus mobil mrka stop di dpn gedung konser... aneh aja.. kok bisa tegelincir ampe jauh begitu... mobil yg nabrak jg aneh.. soalnya uda tau dkt2 gedung.. biasanya melambat... mau masuk ke gedung jg kl ga ngapain mobilnya kesana n masih ngebut..
Sekian koment saya.. n sorry kalo ga berkenan..

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Waow... Panjang... *kaget. Haha
Wah, saya selalu menyukai orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap musik :)
Hem.. untuk Lupin sejujurnya saya juga belum mengetahui secara pasti, hanya saja waktu itu saya pernah menemukan lagu dengan nama itu disana. Aaah, mungkin saya salah lihat *maaf.
Untuk pemilihan idola, mungkin saya kurang setuju, karena sesuatu yang kita senangi itu tidak selalu dan tidak harus sama dengan orang lain. Saya sendiri sangat menyukai Vanessa, dan sejak saya pertama mendengar lagunya, saya jatuh cinta pada permainannya dan hal itu mendorong saya untuk belajar lebih dalam lagi tentang biola.
Ternyata kakak adalah tipe pembaca yang logis dan teliti (mungkin karena kakak memiliki pengetahuan yang luas *kagum), terima kasih kritiknya, akan saya perbaiki kekurangan saya sebaik mungkin supaya bisa memuaskan kakak dan pembaca lain :D
Terima kasih sudah membaca kak.
Salam kenal.

Writer hidden pen
hidden pen at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)
100

Gimana ya rasanya tinggal di kota hujan. Apakah ada pelangi di sana #plaakk
Ceritanya bagus. Aku jadi ingin mengenal lebih jauh tentang musik hihi

Salam kenal. Aku nubi di sini Hihi

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Seperti apa ya? saya juga nggak tau. hehe
mungkin pelangi itu muncul setiap hari :P
Terima kasih compliment nya. Silahkan, musik itu menyenangkan^_^
Salam kenal juga, saya juga neubi disini :p

Writer hidden pen
hidden pen at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Nubi juga ya, perasaan udah lama dech :D
Kuro_kaze hmmm saya pernah lihat nama ini di salah satu website. Apakah ada hubungannya dengan nama kk :D

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Haha.. ketahuan ya? :p
Saya selalu merasa menjadi neubi sih, harus banyak belajar ^^''
Wah iya ya? Saya saja lupa saya punya blog atau tidak. Mungkin hanya kebetulan sama saja :D

Writer hidden pen
hidden pen at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

gitu ya kk. wwaahh maaf bila salah kata ya kk

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Nggak kok.
Terima kasih banyak ya kak sudah mampir :D

Writer Ajisai chan
Ajisai chan at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)
90

Udah baca tadi sore, tapi maaf baru bisa ngasih point sekarang ._.v
Aku kurang tahu tentang apapun yang berhubungan dengan musik, apalagi musik klasik. Jadi cerpen ini sedikit banyak udah kasih aku pengetahuan baru, hehe.
Btw, kak, ceritanya bikin aku jadi galau sore-sore begini

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Terima kasih, senang bisa berbagi pengetahuan.
Wah, maaf ya kak membuatmu menggalau di sore yang indah kemarin ^_^''
Terima kasih juga sudah mampir dan membaca :)

Writer Ryu.fernandes
Ryu.fernandes at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Salam kenal kaze....
cerita mu sangat bagus ,saya menyukainya

:)

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Salam kenal juga :)
Wah, terima kasih banyak
Terima kasih banyak juga sudah membaca :D

Writer Ryu.fernandes
Ryu.fernandes at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Doiutta-ne

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

'Doiutta-ne'?
itu artinya apa? XD

Writer Ryu.fernandes
Ryu.fernandes at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Douitta singkatan dari douiteshimasita dalam bahasa jepang,atau bahasa indonesia terjemahan nya itu sama-sama

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Aah, begitu...
terima kasih infonya. aku familiar dengan Douiteshimasita, tapi untuk singkatan itu aku baru tahu. terima kasih sudah memberitahu :)

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)
90

Salam kenal, Kak Kaze (berhubung 'kuro' berarti 'hitam' dan wajah penulis di foto profilnya tidak 'kuro', jadi saya panggil dengan nama belakangnya saja, ya? Peace.)
.
Sial. Tengah malam begini malah disodori cerita sedih. Jadilah saia galau sendiri ='|. Tapi saya juga sangat menikmatinya. Seperti membaca sebuah fragmen pada buku harian (dalam arti baik, tentu saja), rasanya begitu akrab dan dekat. Mungkin juga karena saya sudah berabad-abad jatuh cinta dengan suara biola, meskipun violis yang saya tahu cuma kakak saya: Sherlock Holmes (ditendang).
.
P.S.
Omong-omong, konon biola Stradivarius yang asli harganya (minimal) 20 miliar Rupiah, ya? Dan hanya tersisa kurang dari 500 buah di dunia ini. Katanya, biola Stradivarius yang dijual di luaran kebanyakan imitasi? Nah, menurut saya, hal ini bisa menambah daya tarik untuk kisah di atas, lho.

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Salam kenal juga Kak Yanuar (berhubung nama 'Rf' di bagian depan id kakak bakalan a little bit strange kalau jadi panggilan buat saya, dan saya nggak bisa melihat outer look kakak yang sebenarnya, saya putuskan begini saja. *maaf, jangan gampar saya :p)

Wah, terima kasih banyak kak, saya anggap itu sebagai compliment lho, hehe
Ngomong-ngomong, usia kakak berapa abad sudah? :p
Tolong kenalkan saya dengan kakak kak yanuar... *bersimpuh

P.S.
Untuk harga stradivarius sendiri, saya nggak begitu tahu, hanya saja saya pernah diinformasikan kalau stradivarius seharga 10juta yen yang kira-kira setara dengan 1milyar rupiah(kalau saya tak salah ingat), dan untuk keasliannya memang saya juga tidak begitu mengerti. Antonio Stradivarii sendiri memang sudah lama meninggal. Suaranya benar-benar berbeda dengan biola biasa, stradivarius terdengar lebih lembut dan memiliki power yang kuat saya sendiri sampai benar-benar jatuh cinta pada biola itu.. hehe
Sekali lagi terima kasih kak Yanuar sudah mampir dan menyempatkan membaca :)

Writer iiaditia
iiaditia at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

heee... ga ada dialognya kak?
btw... ini sedih:'(

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Stradivarius (6 years 25 weeks ago)

Nggak, memang sengaja dibikin monolog.. hehe
Wah, sedih ya?
Terima kasih banyak sudah mampir dan sudi membaca :3