Something Beautiful, Something Broken

Kamu mengecek ponsel layar sentuhmu sekali lagi, belum ada kabar dari Rangga. Tadinya kamu hendak menaruh kembali ponsel itu, namun saat kamu melihat wallpaper lock-screen ponselmu, kamu tersenyum.

Itu adalah gambar kamu dan Rio, tengah duduk di sofa di ruang tamu rumah kalian. Max, nama Golden Retriever milik kalian terihat tengah tertidur di depan jendela yang dibuka, supaya cahaya dan udara pagi masuk ke dalam rumah kalian. Marrie, kucing ras campuran pemberian sahabatmu saat kamu lulus kuliah dulu, tidur di atas Max. Ini bukan pertama kalinya Marrie tidur di atas Max, atau terkadang Max menggunakan tubuh Marrie yang lumayan gendut sebagai bantalnya, jadi bukan hal aneh bagimu dan Rio saat melihat hewan peliharaan kalian tidur dalam posisi seperti itu.

Disaat hewan peliharaan kalian tidur, kamu dan Rio duduk saling memunggungi, kaki kalian diangkat ke atas sofa. Kaki Rio selonjoran, sedangkan kamu menekuk kedua kakimu sehingga kamu bisa menjadikan lututmu sebagai alas untuk menaruh buku yang tengah kamu baca, sementara Rio memegang buku yang ia baca dengan tangan kanan sementara tangan kirinya terkulai di pinggir sofa.

Di atas meja ada cangkir yang kalau kamu tidak salah ingat berisi minumanmu, teh yang baru dibelikan oleh ibunya Rio yang baru kembali dari London. Di samping cangkir ada sebotol minuman soda, punya Rio. Kamu sering memarahi Rio karena hobi minum sodanya. Rio tentunya hanya berkata kalau dia akan mengurangi kadar soda yang masuk dalam tubuhnya, namun tidak pernah dia lakukan.

Kamu tidak sadar kalau ada orang di depanmu sampai orang itu menyapamu. Dengan cepat kamu mengunci kembali ponselmu, dan kamu tersenyum saat melihat sosok Rangga. Kamu menyapanya, Rangga balas dengan senyuman.

Rangga berkomentar dengan lokasi tempat duduk yang kamu pilih, terlalu jauh dari pintu masuk dan tersembunyi di balik pilar.  Kamu mengatakan kalau tadi hanya tempat ini yang tersisa, ya kamu tidak sepenuhnya bohong. Memang tempat ini tadi kosong, dan juga meja di dekat salad bar, tetapi kamu memilih meja ini.

Saat Rangga hendak bicara, suara orang lain memanggilmu. Suara yang pernah kamu puji-puji, suara yang pernah membuatmu jatuh cinta, suara yang pernah membuatmu takut, suara yang ingin kau hapus dari benakmu.

Tubuhmu seperti disiram air dingin begitu kamu betatap muka dengan orang yang baru saja memanggilmu.

Randy.

Kamu menyebut nama pria itu seperti orang kehabisan napas. Randy mengira kalau itu karena kamu senang melihatnya lagi, padahal sebaliknya. Kamu mencengkram ujung meja dengan sangat erat sampai-sampai tanganmu sakit.

Ketika Randy berjalan ke mejamu, kamu berdoa kepada semua Tuhan yang ada di dunia supaya Randy menghilang, supaya menjadikan ini semua hanya sebuah mimpi. Sebab kamu tidak mau kembali lagi ke dalam pelukan Randy. Tidak peduli setampan apa pria itu sekarang, kamu tidak mau kembali ke masa lalu.

Kamu sudah berjuang terlalu keras untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Rio sudah berjuang mati-matian untuk membantumu keluar dari cengkraman Randy.

Suara Rangga yang menanyakan siapa pria itu tidak dijawab, sebab kamu terlalu takut untuk bergerak, sementara Randy... kamu tidak tahu dan tidak mau tahu kenapa dia tidak menjawab pertanyaan Rangga.

Saat bibir Randy menyentuh pipimu, kamu sangat yakin kalau jantungmu berhenti berdetak untuk beberapa saat. Bibirnya terasa panas, bukan hangat, di pipimu yang pasti sangat pucat dan dingin.

Rangga menyuruh Randy untuk mundur dengan suara tinggi, tapi yang ada Randy malah merangkulmu. Kamu tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu kalau sekarang dia sedang menyeringai.

Randy bertanya siapa Rangga dan apa yang dia lakukan bersamamu. Kamu masih terlalu takut untuk menjawab, apalagi dengan jarak yang begitu dekat dengan Randy. Matamu tidak sanggup melihat ke arah Rangga, sebab kamu tidak ingin melihat apa yang tengah dipancarkan oleh matamu sekarang. Oleh sebab itu kamu sibuk memperhatikan akuarium yang berisi ikan-ikan kecil warna-warni.

Dalam hati kamu hanya bisa berkata Rio, Rio, Rio, Rio, Rio bekali-kali. Kamu sangat berharap kalau kamu dan Rio benar-benar bisa berkomunikasi menggunakan pikiran kalian.

Rangga menjawab bahwa dia adalah kekasihmu. Mau tidak mau kamu menatap Rangga dengan mata membesar, kamu tahu kalau dia merasa bersalah karena telah berbohong mengenai status kalian. Tapi disatu sisi kamu berterima kasih, mungkin dengan itu Randy akan segera pergi dari sini.

Tapi sayangnya tidak. Randy malah tertawa sambil merapatkan rangkulannya sampai kepalamu menyentuh tubuhnya. Kamu sangat yakin kalau tubuhmu sudah basah karena keringat dingin.

Dia mengatakan kalau dia tidak percaya dengan jawaban Rangga. Tidak ada yang bisa memiliki seorang Langit Pramodawardhani selama Riota Nakajima masih hidup. Tidak ada yang bisa memiliki seorang Langit Pramodawardhani, bahkan jika mereka memaksa.

Semenjak kamu mengenal Randy Atmajaya, kamu mengetahui dan merasakan banyak hal. Salah satunya adalah tentang air mata. Tangis itu tidak hanya sekedar tangis sedih dan tangis bahagia. Meski kamu merasakan kedua jenis tangis itu saat kamu masih berpacaran dengan Randy, tangis yang paling sering kamu keluarkan dulu adalah tangis ketakutan.

Tangis yang sekarang memberontak untuk keluar, untuk menunjukkan kepada dunia betapa takutnya dirimu sekarang.

Rio, Rio, Rio, Rio, Rio, Rio, Rio kamu kembali memanggi nama Rio dalam hati. Seolah-olah hanya dengan mengucapkan nama Rio bisa membuat segalanya baik-baik saja.

Sebelum dua pria yang berada di dekatmu memberikan reaksi, ada pria lain muncul. Dia seorang pelayan. Dia membawakan pesananmu. Kamu menelan ludah sebelum melihat si pelayan. Kamu nyaris mengatakan kalau itu bukan pesananmu, tetapi saat dia melihat wajah si pelayan, kamu tahu alasan kenapa pelayan itu sengaja membawakan pesanan orang lain ke mejamu. Dalam hati kamu mengingatkan diri untuk berterima kasih bahkan kalau perlu memberikan uang tip yang banyak untuk si pelayan.

Randy mengembuskan napas, pura-pura atau memang benar-benar kesal–kamu tidak peduli–karena ada orang yang tiba-tiba menghentikan obrolan kalian. Randy membungkukkan badan sehingga dia bisa melihat matamu, tetapi kamu terus menatap makanan yang ada di nampan. Mungkin orang akan mengira kalau kamu sangat kelaparan sampai-sampai kamu tidak sadar kalau ada pria setampan Nicholas Saputra berdiri di sampingmu.

Tidak, Randy tidak pantas disamakan dengan Nicholas Saputra. Bahkan Randy tidak pantas disebut sebagai manusia.

Kamu bisa merasakan embusan napasnya menyapu telingamu. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya bernapas di dekat telingamu. Matamu tertuju ke arah pintu masuk restoran, ada seorang perempuan yang menatapmu dengan tatapan marah. Kamu seperti melihat masa lalu, ketika kamu yang berdiri melihat Randy menyapa teman perempuannya.

Kamu berharap kalau perempuan itu tidak dibutakan oleh api cemburu saat melihatmu berinteraksi dengan Randy, atau dia tidak akan bisa melihat tatapan ketakutan yang terpancar dari bola matamu. Tatapan peringatan mengenai apa yang akan dia alami dimasa depan.

Randy mengecup tulang pipimu dengan mesra, membuatmu merasa jijik dan kamu segera ingin membersihkan wajah dengan tanah dan kembang tujuh rupa. Kamu tidak mengerti kenapa makhluk seperti Randy masih berkeliaran dengan bebas, bukannya mendekam di balik penjara. Oh ya, orang tuanya memiliki uang dan kekuasaan.

Kamu terus menatap Randy dengan wajah tegang, setelah sosoknya keluar dari restoran baru kamu mengeluarkan napas yang sedari tadi kamu tahan. Entah berapa lama. Bagimu kejadian barusan seperti terjadi bertahun-tahun, bukan hanya tiga-empat menit.

Napas yang kamu keluarkan tidak teratur, seperti orang yang baru selesai lari marathon. Seperti orang yang baru saja melihat hantu. Seperti orang yang baru saja berlari dari hantu masa lalunya.

Tanganmu bergetar, bahkan semua tubuhmu bergetar. Kamu tidak sadar kalau Rangga sudah mengambil alih gelas yang hendak kamu angkat dari meja. Dengan wajah bingung dan khawatir, dia bertanya siapa Randy. Apa hubunganmu dengannya? Kenapa kamu sangat ketakutan begitu melihat Randy?

Kamu marah, untuk pertama kalinya dalam hidupmu kamu marah. Kamu marah kepada Rangga yang langsung memborbardir dirimu dengan pertanyaan, kamu marah kepada mantan-mantanmu karena mereka selalu mengatakan bahwa Rio adalah orang ketiga dalam hubungan kalian, kamu marah kepada orang-orang sialan itu yang tidak mau memberikan waktu kepadamu untuk menjelaskan mengenai hubunganmu dengan Rio.

Kamu marah kepada Randy yang berusaha untuk menyentuhmu dengan kurang ajar.

Kamu marah kepada dirimu sendiri karena tidak cukup kuat untuk melawan Randy. Seandainya Rio tidak datang waktu itu, mungkin kamu sudah tidak ada di sini sekarang.

Kamu marah kepada mereka yang selalu memaksamu untuk menjadi pacar mereka. Sebab kamu tahu apa yang akan terjadi jika ada sebuah paksaan dalam sebuah hubungan. Kamu takut, takut bahwa apa yang terjadi dengan Randy akan terulang lagi.

Kamu tidak tahu kapan kamu berhenti marah-marah dan mulai menangis dengan keras, yang kamu tahu ada sebuah tangan memelukmu dari belakang. Kamu kenal aroma tubuh ini, aroma yang sudah lama tidak kamu cium. Akhirnya kamu ingat di mana kamu berada. Kamu berada di restoran milik salah satu sahabat baikmu, Naya. Aroma yang kamu cium adalah aroma parfum Naya. Lembut dan kuat disaat yang bersamaan, sama seperti Naya.

Kamu mendengar Naya memerintahkan Rangga untuk pergi meninggalkanmu, tetapi Rangga menolak. Naya langsung marah dan mengatakan kalau yang kamu butuhkan sekarang bukan Rangga melainkan Rio. Samar-samar kamu juga mendengar Naya memerintahkan salah satu pelayaan restorannya untuk menelepon Rio.

Kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan Rangga, atau apakah Rio menerima kabar kalau kamu baru saja bertemu dengan Randy di restoran Naya. Yang kamu tahu, kamu hanya menumpahkan seluruh tangismu, tangis ketakutanmu dalam pelukan Naya.

Read previous post:  
47
points
(1704 words) posted by puTrI_keg3lapaN 5 years 30 weeks ago
67.1429
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | 2nd POV | tanpa dialog
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

Kalau dari segi teenlit, Langit ini cocok sekali jadi tokoh yang sempurna, diperebutkan banyak cowok XD
Suka dengan sudut pandang orang kedua yang digunakan di cerita ini, seolah para pembacanya menyaksikan kejadian tsb secara langsung.
Belum tahu mau mengkritik apa hehe, keep writing ya :)

Makasih buat komenny :)

100

Eeeeaaa.... mengalir seperti biasa.
Satu keluhanku, saya masih tidak tahu kenapa Langit begitu ketakutan dengan Randy? Saya sudah terpaku dari awal dan menunggu-nunggu apa sebenarnya yang terjadi pada masa lalu Langit. Dan...... tidak ada.
.
Tadi ada sebuah typo yang saya temukan:
"Max, nama Golden Retriever milik kalian terihat tengah tertidur di depan jendela yang dibuka" itu seharusnya "terlihat" <---yah, edit juga selesei :)
.
Untuk cerita, chapter ini yang benar-benar paling ngambang. Serasa belum matang dan masih ada beberapa hal yang membuat bingung. Mungkin karena Kakak takut kehilangan ide. Yah... kadang saya juga gitu. Tapi biasanya, saya ngumpulin ide yang saya dapatkan di HP dan baru menulis di saat ada waktu.
Terkutuklah ide yang selalu datang di waktu sibuk >_< arrggh!
.
Oke, terus lanjutkan Kak :D
Saya masih setia mengikuti cerbung yang satu ini. Karena 2nd Pov kakak unik. Dan saya masih belum bisa membuatnya... ugh! Sulit.
.
Terus semangat menulis Kak :D
Jangan lupa mampir balik ya :D

Awalny sih saia juga ngerasa chap ini buru-buru, tapi setelah kemunculan Naya, saia ngerasa kalau ini cocok. Di chap berikutny akan saia ceritakan secara gamblang soal hubungan Randy sama Langit. Soalny penjelasan hubungan mereka terlalu panjang buat saia taruh di akhir cerita

Kalau mau nebak sih, ada banyak hint loh saia kasih. Tapi yang paling menjurus menurut saia, ya line yang ini "Kamu marah kepada Randy yang berusaha untuk menyentuhmu dengan kurang ajar."

Uwaaa makasih buat koreksiny. Ayo-ayo bikin 2nd PoV. Awalny emang susah loh, tapi lama-lama jadi terbiasa juga, hahaha

Owh, begitu ^_^ ngerti deh. Entar saya baca lagi tentang masa lalu Langit-Randy. Eeeaa!
Sebenarnya saya mau buat, cuma itu. Susah Kak, selalu pengen ada dialognya. Huwaaa T_T
Saya sih nebaknya, kalau Randy ini mantan Sekar yang suka mukulin Sekar dan membuat Rio menghajarnya dulu. Itu di chapter berapa ya? Yahh... pokoknya saya mikir ke situ. Makanya Langit sangat ketakutan padanya <---sok beranalisis.

Siapa itu Sekar? Wuhahahaha. Bukan-bukan, beda lagi itu. Langit kan gitu-gitu sering gonta-ganti cowok, beda sama saia *curhat mode on*

Hahahaha, waktu di chap 2 saia juga agak gatel buat bikin dialog. Tapi berhasil saia tahan. Diaologny cuma saia bikin dalam kepala saia aja pas ngetikny, hahaha

Ouh... gitu caranya.
Oke, nanti saya coba. Mudah-mudahan bisa nahan diri bikin dialog.
Ayo Thiya, semangat!

Writer Nine
Nine at Something Beautiful, Something Broken (5 years 26 weeks ago)
100

Saya bingung mba pas baca cerita ini, kok itu si kamu mau-maunya aja digituin sama Randy? Kenapa ngak melawan sama sekali yah? Si kamu ini kayak lagi dirangkul sama penjahat kelas kakap, agak janggal di sini menurut saya (pandangan subjektif seorang cowok, hehe).
.
Terus ketakutan Kamu sama Randy, ngak dibarengi dengan penjelasan. Kenapa si Kamu bisa takut bukan main sama itu orang? Apa masa lalu mereka berdua? Randy ini siapa dan sifatnya kayak bagaimana? apakah dia itu tempramen atau memang residivis yang dicari-cari polisi? di sini kurang jelas mba, saya jadi kesulitan memahami konflik yang terjadi. (mohon maaf yah mba?)
.
Terus si Rangga. Hmm kalau menurut saya mba, saya ngeliat orang yang saya sayang dirangkul terus dicium sama orang yang ngak saya kenal dan udah pasti dia itu bukan keluarganya, ngak pake basa basi mba, pasti langsung saya hajar aja mba! hehehe, Bingung sama si Rangga yang ngak ngelakuin apa-apa. Apakah Rangga memang lagi lapar? (hehehe, sekali lagi pandangan subjektif seorang cowok)
.
Saya sempat bingung sama si pelayan. Dia itu siapa yah??
.
@Rio, Rio, Rio, Rio, Rio, Rio, Rio kamu kembali [memanggi] nama Rio dalam hati. <--- Ini maksudnya memanggil kan mba?
.
Terlepas dari semua kebingungan dan protes saya yang ngak jelas mba. Cerita ini menarik, sampai2 saya yg ngak terlalu minat baca romansa tertarik untuk menyelesaikannya. Good job deh mba. :)
Mungkin bacot-bacot saya di atas bisa dijadikan bahan pertimbangan dari sudut pandang laki2.. hehehe
.
Sekian dari saya mba, mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan. :)
.
Salam (y)

Buat hubungan Langit sama Randy akan saia jelasin secara gamblang di chap selanjutny. Kalau mau nebak-nebak sih, ada petunjukny yaitu "Kamu marah kepada Randy yang berusaha untuk menyentuhmu dengan kurang ajar."

Pelayan itu temanny Langit juga, makany dy ngebantuin Langit.

Uwaaaa, makasih buat masukanny. Selama saia bikin chap ini emang engga dapet masukan dari cowok juga, dan saia belum pernah ada di posisi Langit, aka belum pernah dilindungin sama cowok, jadiny yaaaaah *kok malah curhat?* dan sebetulny saia juga masih bingung dengan karakterny Rangga karena jujur, chapter-chapter setelah yang pertama ini bener-bener engga ada dalam rencana saia, tadiny cerita ini mau langsung tamat, eh malah kelanjutan

Ditunggu masukan dari sudut pandang cowok untuk chapter berikutny :) dan makasih karena udah mau baca cerita ini. Saia juga sebetulny gak suka sama yang full romance kok, bukan kamu aja

Writer Nine
Nine at Something Beautiful, Something Broken (5 years 26 weeks ago)

Baiklah, saya bakal nongol di chapter selanjutnya.. (Y)

Lha, ngak suka romance tapi kok sering nulis romance? (saya pernah baca tulisanmu yg tentang web therapy (video blog) itu, kalo ngak salah ingat)

Makany, aneh kan? Hahaha. Atau mungkin lebih tepatny saia engga bisa baca/nonton yang full romance. Jiwa kelam saia tidak sanggup *apa sih*

Writer Nine
Nine at Something Beautiful, Something Broken (5 years 26 weeks ago)

Kalo saya sih nonton yg full romanse tergantung, kalo bagus, yah saya suka. Contohnya film "Safe Haven", itu enak di tonton.

Writer benmi
benmi at Something Beautiful, Something Broken (5 years 26 weeks ago)
70

Aku suka dekripsi pas awal2... kesannya mendalam.. yg ada anjing segala macam.. kebayang banget. Tp pas cowonya masuk... trus cowo kedua masuk.. pake nama aja.. biar jelas.. pas si rangga masuk.. dia ngomel.. knp milih tmptnya itu didalam bgt.. secara logika lgsg aku mikirnya.. pasti dikomplein krn susah dicari n ga keliatan. Tp begitu si randy dtg.. n lgsg liat.. astaga.. kok.. lgsg bisa ngeliat gitu. Aneh aja.. si randy.. kan ga janjian.. ngapain dia matanya mutarin satu resto cuma buat ngeliat ada kenalan ato kgk yang kalo bisa kebetulan ketemu.. mau di sapa ntar.. agak janggal aja sih...trus restorannya rame.. aneh aja.. kl misal meja sebelah ada org.. meja ssebelah lain jg ada org.. otomatis pasti suasananya rame.. tp begitu sih randy manggil.. bisa dgr aja.. ajaib... wow..
N tiba2 pelayan... menurutku.. kalo bukan teman ato siapa.. cuma pelayan.. biasanya dia ga bakalan turun tangan.. krn gimanapun.. yg dihadapin itu tamu.. kecuali tamunya gmn gitu brengseknya.. n aneh aja... respon si rangga.. ktnya suka.. tp kok pas si randy dtg.. ga ty.. biasa cowo.. kl ada cowo lain aja muncul.. apalagi dia suka.. otomatis pasti pasang posisi ato badan diantara cewe yg disukai n cowo lain.. istilahnya.. bahasa tubuh uda ngasi tau kl si cewe dtg ama dia.. apalagi pas diapa2in ama si randy.. rangga malah ga respon.. wow..
Anw.. sekian koment saya.. sorry kl ga berkenan.. thx u..

*Tepok jidat* sori, sebetulny saia mau ngeganti lokasi tempat duduk Langit soalny ya itu, engga cocok dengan plot Randy tapi saia lupa gantiny, soalny ngetikny ini sempet kepotong beberapa jam. Makasih udah dikasih tau

Buat kenapa Rangga engga melakukan reaksi fisik, soalny emang Langit engga suka dengan cowok yang main fisik dan dy udah bilang ke Rangga, ini belum saia masukin, baru mau saia masukin di chap depan, makany Rangga cuma bisa negur Randy doang. Dan ini juga yang bakalan jadi konflik ke depanny antara Rangga sama Rio

Sementara buat si pelayan, diakhir cerita udah dijelasin kalau restoran ini punya Naya, sahabatny Langit. Hence beberapa pelayan ada yang kenal dengan Langit dan tau apa yg terjadi antara Randy dengan Langit, walau tidak sedetail Rio dan Naya

Writer benmi
benmi at Something Beautiful, Something Broken (5 years 26 weeks ago)

Ooo... sebenarnya bukan aksi fisik sih kalo cuma mengebentengi langit.. banyak cowo yg biasanya sih ya... kalo ada cewe.. apalagi dia suka.. otomatis krn kodratnya sebagai cowo... pastinya mengelindungin cewenya.. walau cewenya bilang ga suka aksi fisik. Setidaknya ga bakal ampe mukul.. tapi tetap dia yg ngelindungin.. saoalnya jarang ya.. ada cowo yang ga bereaksi liat cewenya begitu kasusnya. Sory kalo salah. Tp jarang aja.. kalo cowo mgkn ada yg ga bergerak pas cewenya nangis krn dia.. soalnya dia ga tau mesti ngapain.. tp kalo liat cewenya diganggu ampe kyk yg dicerita.. aneh aja kl terlalu mematung jg.. kalo misal preman.. disuruh cewenya ga boleh kekerasan fisik nich misal contoh.. ya.. kalo ada preman lain gangguin cewenya... pasti dia yg nolongin, cuma mgkn disini utk menepati janjinya.. dia ga bakalan mukulin balik yg mukulin dia. Hahahha...
Sorry dah kalo salah..
Yg pelayan iya.. masih logis.. cuma saya ttp ga gitu sreg ama lelaki macam rangga.. reaksinya itu loh.. bikin kesel.. cowo ato bukan sih.. (kesannya pas baca)

Writer alcyon
alcyon at Something Beautiful, Something Broken (5 years 26 weeks ago)
100

wow, eksekusi 2nd pov yang keren, mengingat masih belum bisa menggunkan 2nd pov untuk cerita sendiri

60

kesan pertama yang timbul dr pembacaan ini yaitu imajinya indah dan nyaman banget. anjing dan kucing yang akur termasuk sewaktu tidur. punggung2an sama cowok yang disenangi dg benda2 yg juga membikin senang. ya sekalipun itu dl foto aja. belum lagi setelahnya diperebutkan pria2 tampan. aw aw aw. dan bukan cuma dua. lucunya, sewaktu bagian "Sebelum dua pria yang berada di dekatmu memberikan reaksi, ada pria lain muncul.", saya pikir si pria itu bakal jadi orang ketiga, dan ketika selanjutnya ada "Dia seorang pelayan.", ekspektasi saya sempat jatuh, tapi keterangan selanjutnya bilang kalau si pelayan itu emang orang ketiga... ._. banyak juga, ya. apa Langit ini salah satu personil AKB48?
tapi itu bukan masalah sebenarnya. barangkali, cerita ini sengaja ditulis dg pov 2 supaya efeknya lebih kena bagi khayalan sebagian pembaca cewek yang kurang beruntung, yang jangankan empat cowok, satu aja belum tentu ada yang mau, belum lagi dg bentuk kenyamanan hidup lainnya sbg digambarkan dl cerita ini.
beberapa ganjalan:
disaat / pada saat
dimasa depan / pada masa depan
soal kata depan penunjuk waktu ini kita emang terbiasa pakai "di". menurut bukunya JS Badudu, "di" itu katanya khusus untuk kata tempat. kadang rasanya emang ganjil sih.
cengkram / cengkeram
disatu / di satu ("di" di sini bukan imbuhan untuk melengkapi kata kerja, bukan?)
sekedar / sekadar
marathon / maraton
borbardir / bombardir
mungkin itu aja. mohon maaf kalau ada kurangnya, he.

Tadiny sih saia mau bikin si pelayan itu juga pria dari masa laluny Langit, tapi kesanny sinet abis engga sih?

Hahahahah, iy itu dy. Saia bingung dengan penggunaan kata 'di'buat petunjuk waktu. Nanti akan saia edit, makasih udah dikoreksi

Keyboard saia emang udah eror itu, mesti diteken keras-keras jadiny kadang suka banyak yg engga kespasi dan sebagainy

100

Aku nggak mendapat kesan buru-buru di part ini kak, mengalir seperti biasa. Seperti biasa juga, narasinya benar-benar enak dibaca, mudah dibayangkan. Walaupun nggak ada percakapan, aku bisa membayangkan apa aja yang mereka katakan wkwkwk
Nggak sabar menunggu kelanjutannya Kak Putri :)

Makasih :)