The Masterpiece: Night to Remember

“Aku tak bisa membuktikan meskipun aku tahu,” Detektif Kemal berkata lirih pada Syarini. “Apa yang terlihat tak selalu benar. Mereka mengatakan perempuan ini—Sarah Landawati, gagal jantung. Tak ada racun terdeteksi pada tubuhnya. Apalagi narkoba. Ia hanya—(jeda cukup lama) tiba-tiba rubuh di tengah lautan manusia,” ujarnya, “Tapi, aku melihat keganjilan pada kasus ini—dan aku yakin, ini bukan gagal jantung biasa. Ini pembunuhan.” Syarini memandang mayat perempuan pada layar komputer. Internet sudah menyebarkannya, tanpa sensor. Di hadapannya, terpampang sosok perempuan berkulit kecokelatan, seolah telah seharian berjemur, dan ingin jadi pemenang di acara bergengsi itu—Night to Remember, perhelatan besar dari sebuah film berjudul sama yang baru saja dirilis, tempat gadis-gadis muda berharap meraih impian mereka. Tubuhnya benar-benar langsing, dan seperti tertidur, bahkan pada bibirnya tersisa seulas senyum tipis bagaikan sedang bermimpi indah. Syarini merinding melihat foto itu, bagaimanapun sosok cantik bernama Sarah Landawati itu telah 18 jam menjadi mayat. Tapi ia tetap memperhatikan paha kanan yang ditunjuk Kemal—foto itu memang beresolusi besar, namun bahkan setelah memperhatikannya sampai kepalanya pening, Syarini tetap tak bisa menebak apa yang membuat detektif partikelir itu memutuskan ini kasus pembunuhan. “Kau tak lihat?” hardiknya. “Aku takkan kaget jika kau tak menyadari ada belalai gajah di depan hidungmu, sampai benda itu menyentuhmu! Tahi lalat! Atau tepatnya, itu bukan tahi lalat!” Alih-alih sebal, Syarini justru senang jika Kemal sudah menunjukkan kesombongannya.

--

Sarah Landawati. Perempuan itu mengira akan bertemu dengan seorang pria yang akan mengubah hidupnya. Ia yakin, dengan kulitnya yang eksotis dan tubuhnya yang langsing bak model pada kaver majalah wanita metropolitan, ia dapat meraih cita-cita yang 18 tahun ia perjuangkan. Ia menatap kembali kertas undangan itu: Night to Remember. Namanya tertera sebagai yang diundang. Ia memakai gaun merah delima dan kalung emas berbandul permata imitasi, semata agar penampilannya tak menunjukkan latar belakangnya, yang hanya SPG di sebuah bioskop ternama. Wajahnya yang halus seperti pualam, senyum yang sedikit genit namun manis, menjadi pemandangan indah di tengah ratusan sosok yang tampak palsu. Sekejap, ia menjadi inti dari perbincangan orang-orang. Festival yang diadakan di selatan Jakarta itu, menciptakan keramaian yang hampa sebelum Sarah datang.

Akhirnya tiba juga yang dinanti-nanti. Pria itu memakai topeng kelinci, berbadan tegap dan gagah. Ia menembus keramaian dan duduk di sudut, pada meja undangan, memandangi perempuan yang sedang memegang gelas dengan anggun dan berbicara dengan seorang pria. Perempuan itu—Sarah Landawati—melirik sekilas padanya, dan memberikan senyumnya yang paling manis sebagai permintaan maaf. Pria dengan topeng kelinci mengangkat satu tangannya seolah sedang bersulang, dan membuka topengnya, lalu membalas senyumnya—kemudian memakainya kembali. Tapi, dalam jeda singkat tersebut, sesuatu terjadi. Dan tak ada satupun yang menyadarinya. Sejurus kemudian, pria itu memutuskan meninggalkan ruangan. Menuruni tangga, masuk ke dalam mobil, lalu pergi begitu saja—meskipun acara belum berlangsung separonya. Saat ia menyalakan mobilnya, terjadilah kegemparan itu. Sosok perempuan yang tiba-tiba rubuh, tak bernyawa. Menjadi tragedi yang akan dicintai para pemburu berita.

Satu lagi, temanku.
http://kompos.com/AsdDCvDF/

Begitulah pesan masuk yang diterima Kemal. Nomor tak dikenal. Pria yang memakai sweater tambalan itu tersenyum, nyaris tertawa, tangannya gemetaran seperti anak kecil yang menyadari kaus kaki Natal-nya ternyata penuh dengan mainan. Ia bahkan sempat melompat. “Syarini!” teriaknya. Sambil mamperhatikan berita pada ponselnya. “Cepat!”—Syarini datang dengan laptop, tergopoh-gopoh, dan membuka apa yang diperintah detektif tersebut. Kemal melihatnya dengan saksama, mencari foto-foto beresolusi tinggi, membesarkannya, sampai mendapatkan petunjuk. Hal itu berlangsung tidak sampai lima menit, dan, begitulah awalnya—“Aku tak bisa membuktikan—mustahil, tapi aku tahu,” katanya. Lalu menyadari tragedi itu belum berlangsung lama dan ia terkejut dengan cepatnya arus informasi di media maya belakangan ini.

“Taksi!” detektif Kemal langsung menuju pintu dan mendatangi salah satu mobil bercat kuning yang biasanya diparkir di depan rumahnya. Syarini ikut dengannya. Mereka langsung menuju tempat kejadian perkara. Jaraknya tak begitu jauh, tapi karena kemacetan, mereka baru sampai empat puluh menit kemudian. Ia turun dan menerobos masuk, dan mendesah lega ketika melihat mayat Sarah masih di sana, meskipun sudah dipindahkan ke tempat yang lebih layak. “Bukan kasusmu, Kemal. Kali ini, bukan,” seorang polisi berkata padanya. “Aku tak yakin kau benar,” balas Kemal. Detektif itu mendekati mayat korban, memakai sarung tangan lalu menyentuh paha korban. Mendapat pandangan aneh dari sekitarnya, polisi hanya berkata, “Tak perlu cemas, dia memang sinting,” katanya. Kemal mengendus paha korban, dan menahan tawa. “Seandainya tikus-tikus ini tak bertindak ceroboh seperti biasa, kasus ini sebenarnya sangat mudah!”

Kemal merapatkan jaketnya dan pergi begitu saja—meninggalkan pintu diiringi tatapan sinis dari para pengunjung, yang juga bingung dengan kalimat terakhirnya.

Curare. Tentu saja polisi takkan berpikir sejauh itu. Tapi inilah kenyataannya. Dan buktinya ada di tanganku,” kata Kemal pada Syarini. Mereka memutuskan berjalan beberapa blok sebelum menaiki taksi. Kemal menimbang-nimbang benda seperti batu seukuran tahi lalat yang ia masukkan dalam plastik. “Bahan ini biasa dipakai untuk membuat panah lempar suku Indian di Amerika Selatan,” gumamnya. “Setelah curare masuk ke aliran darah, korban menjadi rileks dan santai, lalu lumpuh. Ia akan mati karena kekurangan udara dan—phew (Detektif Kemal mengangkat tangannya) begitu saja. Tanpa rasa sakit,” Syarini masih mendengarkan, lalu menambahkan, “Saat menyadari ia dalam kondisi berbahaya, ia sudah tak mampu bersuara.” Kemal tersenyum, “Alat itu hanya dijual di satu tempat,” katanya, “Aku tahu di mana bisa mendapatkannya. Sekarang tinggal mencari informasi, siapa yang membelinya,” detektif Kemal melihat kembali plastik yang dipegangnya, “Dan ini model terbaru. Model yang dipakai untuk keperluan medis. Belum diterapkan di Indonesia, sehingga masih ilegal.”

“Ini akan mempermudah pencarian,” Syarini mulai bersemangat. Kemal terus berjalan, lalu berbelok pada sebuah gang. “Nah, ini dia tempatnya!” Detektif Kemal menunjuk sebuah rumah yang biasa saja.

Read previous post:  
58
points
(1315 words) posted by benmi 7 years 23 weeks ago
72.5
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | terinspirasi KemalBarca
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Zarra14
Zarra14 at The Masterpiece: Night to Remember (7 years 21 weeks ago)
90

Sayang akhirnya menggantung :o
Secara keseluruhan enak dibaca, saya rasa akan lebih bagus kalau dibuat lebih banyak pensuasanaan saat pembunuhan berlangsung supaya dapat thrill-nya.
Maaf belum bisa kasih komentar panjang :D

100

Yaaaahhh.... ngambang.
Hehehe, semakin ke belakang semakin serius ya. Padahal saya tadi udah nunggu-nunggu apa yang bakal terjadi. Ternyata T_T hiks hiks...
Tak apalah.
Tapi, apakah cerpen ini akan dilanjutkan?
Saya penasaran lho.
.
Narasinya lancar banget, dialog dan adegannya juga mudah dibayangkan. Cuma itu aja, ending yang ngambang membuatku hampir membanting laptop ini ke lantai. Hu!
.
Untuk Kakak, terus semangat menulis ya :D
Jangan lupa mampir balik:D
Wassalam.

70

wah, kok ceritanya selesai sampai di situ aja? :0
bakal ada sambungannya ga, ya?
di cerita yang ini cenderung serius aja, ga ada unsur lelucuannya, kayaknya, hehe, (abisnya ga ada yang bikin geli sih,) tapi sebagaimana cerita detektif, ngasih informasi baru tentang hal2 kecil.
bagian awalnya itu apa dialognya sengaja dijejalin dalam satu paragraf?
saya iseng buka yang kompos itu, kok Página no Encontrada? haha.

Writer JP
JP at The Masterpiece: Night to Remember (7 years 22 weeks ago)
70

ninggalin jejak ya kak....

Tulísannya uda enak dibaca.
untuk tema detiktif mgkn penyelesaian kasusnya terlalu sederhana.

Itu saja dr ane...

70

Loh, ini bener ceritanya uda selesai? Detektif kemal menunjuk sebuah rumah yang biasa saja. Terus mereka ngapain? -_-
ada kelanjutan ceritanya kan?

Writer benmi
benmi at The Masterpiece: Night to Remember (7 years 22 weeks ago)
70

Wkwkkwwkw.... akhirnya ngambang juga... walau kelincinya uda lebih berbentuk sekarang.. hahahhahah....
Kasian nasib si kelinci....