Keluarga Perkins

“Apakah kamu mengenal nyonya Perkins?” aku bertanya pada Istriku

“Nyonya Perkins yang mana?” ujar Istriku kebingungan

“Itu..” lanjutku seraya membalikkan piring di meja “yang tinggal 3 blok dari sini. Yang warna cat rumahnya seperti langit siang yang cerah, serta di halamannya banyak patung kadal berwarna-warni”.

Kemudian, Istriku meletakan sepotong roti dan daging asap, serta kacang polong di piringku. Dan berkata lagi “oh nyonya Perkins yang itu. Aku tidak begitu mengenalnya akan tetapi yang kudengar dari tetangga-tetangga, semua keluarga Perkins sangat aneh. Termasuk nyonya Perkins”

“Hmm.. begitu yah”

“Memangnya kenapa, tiba-tiba saja kamu menanyakan nyonya Perkins”

“Gimana yah menjelaskannya. Aku bingung”

“Bingung.. Maksudmu?” ujar istriku dengan mulut penuh dengan kacang polong

“Bingung ya bingung apakah ada penjelasan lainnya?”

Kami terdiam sejenak sambil terus menikmati hidangan kami. Aku mengunyah beberapa kacang polong kemudian diikuti dengan melahap roti yang tidak ada rasanya itu.

“Maksudku apa yang membuatmu bingung?” tanya Istriku.

“Aku tidak tahu. Makanya aku bingung”

“Oh begitu. Ya sudah”

Aku merendahkan suaraku lalu, berbisik kepada Istriku “apakah kamu pernah mendengar suara tangisan”

“Tangisan yang itu, maksudmu?”

“Iyah.. Tangisan yang itu”

“Belum pernah. Apa kau pernah?”

“Hmm..” lanjutku. Kemudian, aku meletakan sendok dan garpuku di meja “sebelum aku ceritakan lebih lanjut. Maukan kau berjanji terlebih dahulu, untuk tidak menceritakan yang akan kamu dengar nanti kepada siapapun”

“Ya. Tentu saja”

“Janji?”

“Aku berjanji. Jika aku melanggar kamu boleh menghukumku sesukamu”

“Baiklah dengarkan baik-baik. Saat itu  sekitar pukul 2.00 pagi. Aku berniat untuk pulang kerumah, aku sengaja lewat di blok tempat keluarga Perkins tinggal karena itu adalah jalan tercepat menuju rumah kita ini. Ketika aku melintasi rumah keluarga Perkins aku mendengar suara seorang perempuan. Suara itu serak dan melengking panjang kemudian diikuti umpatan-umpatan. Aku mendengar suara-suara itu saling susul menyusul”

“Kamu mendengar banyak suara?” sela Istriku

“Iyah” lanjutku “aku yakin telah mendengar setidaknya dua jenis suara berbeda. Suara-suara itu seakan sedang berlomba dan menunjukan keperkasaannya. Aku mendengar suara itu sekitar 5 menitan dan akhirnya suara-suara itu hilang ditelan keheningan.”

“Terus yang jadi masalah dan membuatmu kebingungan apa?” seru Istriku

“Firasatku bilang suara-suara itu adalah suara nyonya Perkins yang sedang menangis”

“Apa kau yakin, suara yang kamu dengar adalah suara tangisan bukan suara-suara yang lainnya”

“Tidak juga sih. Makanya kubilang aku bingung”

“Oh. Ya udah”

“Kamu tidak mempercayai ucapanku?” tuduhku

“Aku percaya” lanjut istriku sambil membereskan piringnya yang sudah kosong. Lalu ia bangkit dan melangkah ke dapur “hanya saja, kamu tidak punya cukup bukti yang bisa mendesak logikaku pada sebuah kesimpulan”

“Misalnya?” kataku

“Apa kamu pernah mendengar suara tangisan sebelumnya?” kata istriku yang wajahnya bisa kulihat jelas diantara lubang persegi di dapur

“Belum pernah, baru kali ini aku mendengar suara tangisan yang begitu menyesakkan”

“Nah” seru Istriku “bagaimana kamu yakin suara yang kamu dengar di rumah Perkins adalah suara tangisan, padahal kamu sendiri belum pernah mendengarnya? Ini kan aneh, menurutku”

“Firasatku yang menyuruhku untuk mengambil kesimpulan suara yang kudengar di rumah Perkins adalah suara tangisan. Selama ini firasatku selalu benar”

“Bisa saja kan kali ini firasatmu membuat kesalahan dan ternyata suara-suara yang kamu dengar di rumah Perkins adalah suara gerisik dedaunan, misalnya”

Aku terdiam sejenak lalu buru-buru aku menghabiskan makananku. Kemudian, aku kembali berkata “setelah kejadian malam itu aku sempat menyelidiki tentang keluarga Perkins dan hasil penyelidikanku semakin membuatku bingung”

“Begitukah?” sahut Istriku dengan nada yang aneh “Mau secangkir teh?”

“Boleh”

“Mau pakai gula?”

“Jangan!!” seruku “jangan pakai gula, ganti saja dengan garam. Gula membuat tubuh organikku cepat membusuk”

“Oke. Akan aku siapkan”

Kemudian, Istriku membawakan dua cangkir teh dan meletakannya di atas piring taktakan yang sudah ia siapkan terlebih dahulu di meja.

“Penyelidikan seperti apa yang sudah kamu lakukan?” tanya wanita yang duduk di sebelahku

“Panjang ceritanya”

“Tidak bisakah kamu sederhanakan saja ceritamu?”

Aku menyeruput tehku pelan-pelan kemudian, aku berkata “bisa saja aku sederhanakan hasil penyelidikanku akan tetapi aku takut kamu tidak mengerti nantinya. Dalam bentuk utuh saja sudah begitu membingungkan apalagi disederhanakan”

“Kamu meragukan kemampuan otakku?”

“Tentu saja tidak, hanya saja kejadian yang kualami ini terlalu membingungkan untuk disederhanakan”

“Ceritakan saja garis besarnya. Mengerti atau tidaknya itu urusan belakangan”

“Ok. Aku ambil contoh sederhana. Ketika Ibumu didaur ulang apakah kamu menangis”

“Menangis yang itu?” ujar istriku sambil menatapku dengan tajam

“Iyah. Menangis yang itu”

“Gimana yah” lanjut Istriku mengusap bibirnya “Aku tidak tahu bagaimana caranya menangis. Di dalam otakku tidak ada data mengenai menangis. Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang otakku sendiri tidak tahu apa itu, tindakan tersebut sangat mustahil untuk dilakukan”

“Benarkan. Sudah kubilang kejadian yang kualami ini sangat membingunkan”

“Apakah menangis itu semacam penekanan?” ujar Istriku dengan wajah penuh kebingungan

“Aku tidak tahu”

“Bukankah proses daur ulang itu adalah proses yang wajar, semua orang pasti mengalaminya kenapa harus ada penekanan seperti menangis”

“Entahlah”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vinegar
vinegar at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)
60

Oh, alien toh. Apa semua alien ngomongnya muter-muter gitu dan berperilaku seperti manusia? Maksudnya, makan daging, minum teh. Satu-satunya kealienan mereka yg terbaca saya ialah mereka belum tahu menangis itu apa. Dan kalimat terakhir soal daur ulang itu rasanya terlalu manusiawi. Ato memanglah alien(mu) seperti itu? Ya, di dunia cerpen ini segalanya mungkin sih, terserah penulisnya ajalah maunya bikin seaneh dan seabsurd apa. Cheers :)

Writer benmi
benmi at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)
50

Pertama merasa yg ngobrol bukan manusia... sepasang robot atau sepasang binatang juga aneh.. masa makan polong n minum teh.
Kedua tak seperti dialog suami istri.. kalo suami istri pasti uda ga bertanya teh pake gula.. ato suruh masukin garam.. at least hal2 sepele dlm kehidupan sehari2 sdh slg ngerti...
Ketiga... mereka membicarakan tetangga mereka si perkins.. berasa aneh aja.. n ga jelas... kenapa hrs atau mesti dibicarakan... utk apa? Penasaran krn suara tangis... wew... suara tangis aja belum bisa bedakan dg jelas... yakin itu penasaran...
Keempat... terakhirnya daur ulang? Robot? Apa robot juga menangis... blm diprogram utk menangis... jd aneh aja.. kl dia merespon sesuatu di luar programnya... robot... aneh aja berpikir... cth.. robot bahan percobaan.. utk tempat sampah di sekolah.. robot itu cuma bisa membaca sensor tsngan manusia kmudian membuka tutup tmpt sampahnya sendiri... dia tidak akan bisa membedakan.. apakah yg dimasukkan manusia itu sampah atau barang beharga... sama seperti cerita ini... aneh aja.. kl ga ada programnya mereka ttp tau tangisan... trus juga bingung... itu lebih ke emosi.. sebuah program yang sanggup membuat hal seperti itu.. makanya aneh aja.. kl misal beneran robot..
Anw.. sorry kl komentnya ga berkenan.. salam... keep nulis..

Writer A.Arifin
A.Arifin at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)

Yoi.. sedikit bocoran sepasang 'mahkluk' itu bukan robot dan bukan manusia?.. btw thanks udah komment di cerita sy yang bikin pusing... hehe

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)

Terus apa dong?

Writer A.Arifin
A.Arifin at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)

bisa dibilang alien yang menguasai bumi.. dan keluarga perkins adalah satu-satunya keluarga manusia yg masih tersisa..hehehe

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)

..lompatannya kok jauh bro?

Writer A.Arifin
A.Arifin at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)

hahaha.. mungkin benar seperti kata mas arki atsema.. sy terlalu cepet menyelesaikan ceritanya.. jadi membuat tema yang ingin sy sampaikan terlalu membingungkan

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)
100

Ane bingung Kak.
Awalnya sepasang suami istri membicarakan keluar Perkins. Terus, mereka mendiskusikannya sambil makan kacang polong. Tapi di akhir kok mereka ngomong daur ulang ya?
Duh.... benar-benar bingung.
Mana di ending gak dikasih clue sama sekali lagi.
Arrrghhh >_<
Tetiba saya sakit kepala.
.
Sebenarnya cerita begini bagus, hanya saja saya kebingungan <---mungkin aku terlalu bego kali ya? :p
.
Anyway, terus semangat menulis ya :D
Mau ikut tantangan?
http://www.kners.com/showthread.php?t=2724
.
Ayo Kak, ikut aja. Hitung-hitung ramein K.com. Siapa tahu dapat pahala.
Oke, see ya~~

Writer A.Arifin
A.Arifin at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)

Lomba apaan Tuh?

Writer arki atsema
arki atsema at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)
60

Saya pikir ini punya potensi jadi cerita yang bagus kalau tidak digantung di tengah-tengah. Dialog dua tokoh disajikan dengan enak, konfliknya juga cukup aneh, dan dua karakter ini sangat menarik. Apakah si penulis kehabisan ide? Menurut saya cerita ini masih terlalu cepat diangkat dari penggorengan, masih belum 'kecokelatan' dan belum matang.

Writer A.Arifin
A.Arifin at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)

Hehehe... ini cerita sebenarnya sy bikin sebagai bahan experimen. sy sengaja bikin membingungkan dan ga jelas,
sy cuma ingin tahu, kira-kira pembaca bisa nangkep ide cerita sy nggak. eh justru malah bikin pusing yak hehe

Piss

Writer hidayatullah21
hidayatullah21 at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)

ceritanya gantung.....gk jelas juga gitu........#sorry

Writer Zarra14
Zarra14 at Keluarga Perkins (6 years 38 weeks ago)
80

Kurang huruf kapital di awal dan tanda titik di beberapa akhir kalimat. Isi ceritanya juga membingungkan, apakah mereka makhluk hidup atau bukan? Antara ingin berpikir mereka robot, eh tapi ada bagian tubuh organik (mungkin cyborg?)
Salam kenal dan semangat menulis :)

Writer Sakura Arizuki
Sakura Arizuki at Keluarga Perkins (6 years 39 weeks ago)
70

Ini ceritanya menggantung ya? Nyesek rasany udah dibaca malah gantung gini.keep writing XD

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Keluarga Perkins (6 years 39 weeks ago)
60

Idenya menarik, tapi ada beberapa poin yang aku dapetin:
-Dialog. Aku enggak ngerasa ini dialog antara suami-istri. Kalo misalnya diganti jadi dialog antara dua orang tetangga, atau dua orang kolega kantor misalnya, gak bakal ngefek apa2. Jadi kayaknya perlu dibikin lg dialog yg bener2 mengesankan hubungan dua orang suami-istri ini.
-Keluarga Perkins di sini kayaknya fungsinya cuman untuk mengesankan kalau dua karakter yg berdialog ini "berbeda"(Other ?). Selain itu aku enggak dapet fungsinya apa, atau inti kisahnya di mana. Mungkin perlu dieksplor lagi, ada apa dengan keluarga tersebut? menangisnya gara2 apa? terus kenapa itu jadi sebuah keanehan bagi dua karakter ini? dll.
-CMIIW. Dua karakter yang berdialog ini bukan manusia? Kalo main tebak2an buah manggis, aku bakal bilang kalo mereka android. Kalo bener, itu justru bakal bikin ceritanya makin membingungkan. Nah, kalo aku ternyata salah, maafkan deh ;(

Writer A.Arifin
A.Arifin at Keluarga Perkins (6 years 39 weeks ago)

Namannya juga lagi bereksprimen gaya menulis yang baru.. hehe jadi mungkin ada 'lubang' disana-sini,

makasih yah bro udah mampir, thks banget masukannya

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Keluarga Perkins (6 years 39 weeks ago)

Pertanyaan saya yg terakhir emang sengaja ga dijawab ya biar gak spoiler? Hehe.
Iya, ayo belajar bareng :)

Writer A.Arifin
A.Arifin at Keluarga Perkins (6 years 39 weeks ago)

yoi bro.. biar pembaca bisa berimajinasi sesukanya hehehe