Mimikri: Invasi (Part 3)

Mimikri: Invasi (Part 3)

 

         Pekatnya malam masih menghiasi langit timur. Sekarang sudah pukul tiga pagi. Aku berdiri di balik jendela sebuah pondok kayu yang terletak di tengah belantara hutan, menatap ke pegunungan yang tertutup kabut. Bangunan ini memiliki dua buah jendela yang menghadap ke timur, dan satu lagi menghadap ke arah barat. Dari sini, kulihat Dian sedang duduk di teras. Ia tengah menikmati teh hangat, dan sebuah kain tebal menyelimuti tubuhnya. Biasanya mataku sudah tidak mampu lagi terjaga di waktu-waktu begini, namun entah kenapa, setelah berjalan kurang lebih dua jam melewati jalur pendakian, terasa sulit bagiku untuk memejamkan mata. Santi sudah terlelap di atas kursi kayu yang terletak dekat dengan perapian. Beberapa menit yang lalu, ia masih sibuk mondar-mandir mencari sinyal untuk smartphone-nya. Sementara Fachri terlihat serius mengamati perabot kayu dan beberapa foto yang tergantung di dinding.

         Pak Tono adalah orang yang bertanggung jawab membawa kami kemari. Ia memandu kami melewati jalur pendakian menuju pondok ini. Katanya, besok pagi kami akan diantar ke kota terdekat dengan menggunakan mobil dinas polisi kehutanan.

         Kung kung kung

         Sayup-sayup terdengar suara yang begitu ganjil di telingaku.

         “Itu suara penjaga hutan,” sahut Pak Tono yang sedang duduk di sudut ruangan. Ia menyandarkan salah satu sikunya di atas meja kayu yang berada tepat di depannya.

         “Orang Kalimantan Barat menyebutnya ‘Kek Tung’, seekor makhluk berwujud harimau dahan yang dipercaya sebagai pelindung hutan,” timpal Pak Indra. Ia duduk berhadapan dengan Pak Tono. Badannya kekar. Wajahnya yang terlihat lebih muda dari Pak Tono, membuatku berspekulasi ia adalah junior Pak Tono.

         Aku berjalan ke arah mereka. Seakan mengerti maksudku, Pak Tono menyodorkan salah satu kursi kayu kepadaku. Aku pun duduk. Di atas meja kulihat sebuah asbak yang terbuat dari bambu, benda itu dipenuhi abu rokok milik Pak Tono dan Pak Indra yang sedari tadi menikmati satu-dua batang rokok, ditemani secangkir kopi.

         “Waktu kecil dulu, aku pernah mendengar suara Kek Tung. Suaranya terdengar sayup namun menggetarkan, membuat bulu kudukku merinding,” kata Pak Tono sambil sedikit tersenyum ke temannya.

         “Katanya, kalau Kek Tung bersuara, itu pertanda akan datang suatu perkara baik, atau bisa juga sebagai peringatan bahwa suatu hal yang buruk akan terjadi,” Pak Indra menambahkan. Ia kemudian menawarkan rokok untukku, namun aku menolak.

         Pada menit-menit berikutnya, kami membahas lebih dalam mengenai makhluk Kek Tung ini. Kedua polisi hutan itu menceritakan pengalaman-pengalaman yang mereka alami saat mendengar suara khas makhluk itu. Kuakui, beberapa dari cerita mereka terdengar menyeramkan.

         Di sela-sela perbincangan kami, sesekali aku melirik Fachri. Tingkah lakunya agak aneh menurutku. Dari tadi ia terlihat sibuk meraba-raba perabotan kayu, bahkan tidak jarang ia mengendusnya. Heran saja melihat orang yang sudah cukup lama kukenal, bertingkah garib seperti itu. Fachri adalah orang yang jarang sekali peduli dengan lingkungan, apalagi manusia lain selain dirinya? Ah, masa bodoh. Pikiranku kembali fokus ke perbincangan kami seputar makhluk mistis penjaga hutan.

         “Pak Tono…” sesaat aku tersentak melihat Santi yang kini sudah berdiri di depanku, ia mengusap-usap pelupuk matanya yang masih diselimuti rasa kantuk, “kalau mau buang air di mana ya?”

         “Di sini tidak ada toilet dek, kalau mau buang hajat, pergi saja di luar terus cari semak-semak,” jawab Pak Tono enteng.

         Aku menatap Santi dalam-dalam.

         Pasti dia mengeluh lagi, gumamku.

         Beberapa detik kutunggu, namun Santi tidak mengeluh—setidaknya dengan kata-kata. Ia hanya memasang muka masam, entah karena kesal atau memang dia baru bangun tidur. Dengan malas Santi berjalan menuju teras. Sepertinya akan meminta tolong ke Dian untuk menemaninya ke belakang.

         Aku dan kedua polisi hutan itu kembali melanjutkan perbincangan. Namun perlahan, topik pembicaraan kami berubah arah ke isu penebangan liar yang akhir-akhir ini semakin marak, lalu ke masalah perburuan liar. Aku yang notabene adalah mahasiswa Fakultas Kehutanan, tentu saja tertarik mendengar pembicaraan mereka. Iseng, aku bertanya kepada Pak Tono perihal pohon-pohon tumbang yang kami temui di sepanjang jalur pendakian.

         “Jujur, aku sudah sering melihat kejadian-kejadian aneh selama bertugas. Namun tidak ada yang lebih aneh daripada pohon-pohon rebah yang kulihat belakangan ini. Mereka tercabut dari akar. Beberapa pohon juga meninggalkan bekas cakaran hewan buas. Jelas sekali ini bukan kelakuan manusia,” jawab Pak Tono sambil menghembuskan kepulan asap putih ke udara.

         “Kamu masih ingat bangkai rusa yang kita temui beberapa hari yang lalu?” tanya Pak Tono kepada temannya.

         “Ya! Bangkai itu juga, di tubuh rusa itu ada bekas cakaran. Dilihat dari ukuran dan polanya, cakaran itu mirip dengan bekas cakar yang terdapat di pohon-pohon tumbang.”

         “Mungkinkah itu ulah Kek Tung?” tanyaku polos.

         Pak Indra tersenyum, “Dek Andra, Kek Tung itu makhluk mistis, belum tentu benar-benar ada di hutan. Kalau memang makhluk itu yang melakukannya, dari dulu pasti sudah sering ditemukan kejadian seperti ini.”

         “Sepertinya ada makhluk lain yang mengembara di-”

         “Akkhh!”

         Jeritan? Santi dan Dian!

         Sesaat aku menatap wajah Pak Tono, lalu dengan cepat aku berdiri dan kemudian berlari menuju sumber suara. Saat menapakkan kakiku di tanah, kulihat Dian sangat panik dengan mulut yang terkatup kedua tangannya. Aku berlari ke arah Dian.

         Astaga!

         Beberapa meter di depanku, Fachri sedang mengunyah organ dalam tubuh Santi yang kini tergeletak tak bernyawa. Darah mengalir dari leher dan luka besar di perutnya. Tangan Dian mencengkeram bahuku, keras sekali. Terdengar jelas suara seperti geraman hewan buas, aku yakin suara itu berasal dari Fachri. Perlahan, aku dan Dian berjalan mundur. Tanpa sengaja aku menginjak ranting pohon yang terbaring di tanah, menimbulkan bunyi patah, membuat Fachri mengalihkan pandangannya ke arah kami. Mulutnya terbuka lebar, sangat lebar! Tidak mungkin manusia normal bisa melakukan itu. Gigi-giginya tajam dan hitam pekat. Darah dan cairan kekuningan yang entah itu dari tubuh Santi atau milik Fachri, bertebaran di wajah makhluk itu. Seketika tubuh Fachri melesat ke arah kami disertai dengan raungan yang membuat bulu kudukku merinding.

         Dor!

         Aku menunduk. Saat aku mencari asal suara tembakan, kudapati dua orang polisi hutan sedang berdiri memegang senapan laras panjang, membidik ke arah makhluk yang dulunya kukenal dengan nama Fachri. Kutarik lengan Dian, lalu kemudian aku berlari sekuat tenaga. Tidak peduli aku berlari ke mana, yang jelas aku benar-benar harus menjauh dari jangkauan makhluk itu. Jantungku berdebar kencang. Sesekali aku menoleh ke belakang, dan kulihat tubuh Fachri yang kini sudah dipenuhi sulur-sulur hitam, menjalar keluar dari tubuhnya. Benda-benda itu menggeliat liar di udara. Tuhan! Apa yang terjadi dengan Fachri!

         Pak Tono melepas tembakan. Peluru itu menembus dada Fachri. Ia menggeram, makhluk itu kemudian berlari menerjang Pak Tono dan Pak Indra. Sulur-sulur hitamnya mengamuk kemana-mana, menghancurkan beberapa tiang penyangga pondok kami. Kedua polisi hutan itu menembak secara beruntun, mencoba menghentikan makhluk yang berlari ke arah mereka. Saat Pak Indra sedang mengisi amunisi senjatanya, salah satu sulur itu melesat ke arahnya, menembus kerongkongannya. Pak Indra kemudian terangkat ke udara, kedua tangannya memegang sulur yang menempel di lehernya, kedua kakinya berontak, darah menetes deras ke tanah, ia merenggang nyawa!

         Pak Tono berlari ke arah kami yang dari tadi bersembunyi di balik sebuah pohon besar, ia memberi tanda untuk menjauh. Aku dan Dian melangkah cepat menuju pondok kayu. Terdengar suara-suara tembakan dari senapan Pak Tono disertai geraman buas makhluk itu.

         Kaki-kakiku menapak tanah hampir tanpa jeda. Saat menaiki tangga pondok, aku tersandung. Daguku menghantam keras tepi anak tangga. Aku merintih kesakitan. Dian meraih tanganku, membantuku untuk bangun, namun tiba-tiba kurasakan tubuhku tertarik ke arah lain, seperti ada sesuatu yang melilit pergelangan kaki—Oh tidak! Sulur hitam itu menyeretku! Dian tak kuasa menahan kekuatan makhluk itu.

         “Arrgghh!”  Ada sesuatu yang menusuk daging betisku. Aku merasakannya sangat jelas, seperti ada ribuan cacing kecil yang meronta-ronta dalam dagingku. Detik-detik berlalu begitu lambat. Pandanganku perlahan menjadi buram. Lalu kemudian aku melihat pemandangan lain. Aku kini berada di depan Pak Tono. Ia terlihat sibuk melepaskan tembakan ke arahku. Tunggu dulu. Ini bukan Aku! Aku yakin tidak pernah memiliki sulur-sulur hitam yang menempel di sekujur tubuhku! Beberapa saat kemudian, kudapati tubuh asliku sedang tertarik salah satu sulur hitam ini. Dian terlihat kewalahan mencoba menahan tarikannya. Aku berbagi pandang dengan makhluk ini!

         Dor!

         Perlahan aku membuka mata dan samar-samar kulihat Dian sedang bersusah payah menarikku. Kuarahkan pandangan ke kaki. Sulur hitam yang tadi melilit sudah putus. Dengan susah payah aku menarik sisa sulur hitam yang masih menempel. Dian lalu membantuku berdiri.

         Dari sudut mataku, kulihat tangan kanan Pak Tono kini terlilit sulur hitam. Ia berusaha melepaskan cengkeraman makhluk itu. Tubuhnya bergulat hebat dengan julai-julai yang mencoba melumpuhkan tangannya. Tiba-tiba Dian berlari menuju senapan milik Pak Indra yang tergeletak di tanah. Aku berusaha mencegahnya, namun tubuhku masih lemah, tak kuasa menahan Dian. Dian mengambil senapan itu, Ia kemudian melepas tembakan ke arah makhluk yang menyerang Pak Tono. Tembakannya tidak meleset. Makhluk itu kembali meraung dengan buas. Dalam hitungan detik, makhluk itu kini berdiri tepat di belakang Dian.

         “Dian!”

         Aku berlari sekuat tenaga ke arah Dian. Langkahku sempoyongan karena rasa sakit yang masih membekas di kakiku. Aku harus menolong Dian. Harus!

         Dian membalikkan tubuhnya. Namun sulur hitam itu lebih cepat melilit leher Dian. Makhluk itu kembali mengaum. Pak Tono kemudian menembak beberapa kali sambil melangkah maju. Saat berjarak beberapa meter dari makhluk itu, aku mengambil sebuah batu sebesar kepalan tanganku. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku melontarkan batu itu dan tepat mengena kepala Fachri. Makhluk itu kemudian menoleh ke arahku. Sekelebat sulur hitam menghantam keras tubuhku, membuatku terlempar jauh. Kepalaku membentur sebuah batang pohon. Mataku berkunang-kunang. Perlahan pandanganku memudar. Samar-samar kulihat Dian yang masih tercekik sulur hitam dan Pak Tono yang berusaha membebaskannya dari genggaman makhluk itu. Kemudian semuanya menjadi gelap.

 

***

 

         Aku dibangunkan jam beker. Jarum pendeknya menunjuk angka delapan. Kumatikan bunyi alarm itu, lalu duduk dengan jemari tangan kanan mengurut dahi. Pusing dan kantuk bercampur aduk. Saat kulihat telepon genggamku, ada tujuh panggilan tak terjawab dan sebuah pesan baru dari Mira.

         Hasil lab sudah keluar! Kau harus lihat ini!

         Received: 05.28 a.m. Today

         Aku menyalakan mesin mobil setelah selesai mandi dan berpakaian. Langit terlihat suram. Mobilku melaju di jalan yang lembab karena hujan semalam. Lalu lintas di Minggu pagi ini sangat sepi. Rintik-rintik hujan mulai membasahi kaca mobilku. Kabut menemani sepanjang jalan. Membuatku harus menyalakan lampu mobil. Tiga puluh menit berlalu setelah aku sampai di tujuan.

         Aku berjalan memasuki sebuah bangunan dengan cat warna putih. Sebuah tulisan besar terpampang di depan gedung:

         Laboratorium Genetika Molekuler

         Saat pintu masuk tertutup otomatis, seorang resepsionis menatapku dengan senyum.

         “Selamat pagi Pak Rendi, Bu Mira sudah menunggu di dalam.”

         Aku hanya membalas dengan senyuman. Lampu-lampu di sepanjang koridor gedung ini terasa sangat menyilaukan. Aku berhenti berjalan saat berada di depan pintu masuk sebuah ruangan yang sudah kukenal. Dari kaca kecil yang terpasang di pintu, terlihat Mira dan Ilham sedang mengamati layar komputer. Mereka membicarakan sesuatu. Mira menoleh kepadaku saat mendengar suara pintu yang terbuka.

         “Kenapa lama sekali?”

         “Maaf, tadi malam aku diajak teman minum di kafe, sampai larut.”

         Mira menggelengkan kepalanya, “Coba kau lihat ini,”

         Aku berjalan mendekat ke layar komputer. Di monitor, terlihat gambar sel-sel hitam milik Cryom, seperti sedang melahap sel lain. Kemudian sel hitam itu berubah menjadi mirip dengan sel yang dilahap tadi.

         “Dia bermutasi?” tanyaku.

         “Bukan, bukan bermutasi. Makhluk ini mengimitasi sel yang disentuhnya. Seluruh organel sel, hingga ke informasi DNA dan RNA-nya. Kuncinya adalah DNA. Karena dalam DNA terdapat seluruh informasi tentang sebuah organisme. Sel yang tersentuh tetap hidup, namun kehilangan energi untuk sementara, sebab sel Cryom menyerap energi yang disintesis mitokondria milik sel yang menjadi korbannya,” jawab Ilham.

         Aku mengernyit, memberi tanda kepada kedua orang yang sedang menatapku bahwa aku tidak mengerti.

         “Begini, sederhananya, Cryom hanya meniru ia tidak membunuh korban pada saat prosesnya,” Mira menambahkan.

         Aku mengangguk. Kusandarkan punggungku ke tembok.

         “Lalu, kenapa makhluk ini membunuh empat orang saat insiden minggu lalu?”

         “Kebutuhan dasar makhluk hidup Ren. Kita semua butuh energi,” jawab Mira.

         “Cryom memiliki metabolisme yang berbeda dengan organisme yang berada di bumi, membuat ia mengkonsumsi energi jauh lebih banyak. Makanya Cryom memiliki kekuatan dan daya tahan yang lebih tinggi dibanding makhluk hidup seperti kita.”

         “Intinya, Cryom jauh lebih unggul dibanding kita,” sekali lagi Mira menyederhanakan penjelasan Ilham.

         Mira adalah seorang peneliti molekuler hewan, beberapa hari terakhir aku menjadi lebih akrab dengan dia, setelah kasus pembunuhan ini ditimpakan kepadaku—seorang penyelidik divisi pembunuhan Badan Reserse Kriminal Polri—sementara Ilham adalah rekan kerja Mira.

         “Apa kau sudah dapat informasi dari tim forensik?” tanya Mira.

         “Sudah, namun tidak ada yang berarti bagiku. Makanya sebagian sampel dari Cryom kubawa ke kalian,” aku menarik salah satu kursi, lalu kemudian duduk, “Pemerintah masih berusaha menutupi peristiwa ini dari publik. Aku merasa kasihan kepada keluarga korban. Mau tidak mau, aku terpaksa memberikan mereka penjelasan yang tidak sesuai fakta.”

         “Memangnya apa yang kau katakan kepada mereka?”

         “Beruang rabies,” jawabku enteng.

         Mira terkekeh. Ia terlihat sangat manis di bawah sinar cahaya lampu neon. Sepertinya aku mulai menyukai gadis-pintar-berkacamata ini.

         “Aku khawatir…” Mira dan Aku menoleh kepada Ilham, “kau bilang tempo hari, kalian menemukan bongkahan meteorit di hutan tempat insiden itu terjadi. Dan hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya…”

         Aku memicingkan pandanganku ke Ilham, “Lalu?”

         “Kau tahu kan? Ketika sebuah kerajaan akan menyerang, biasanya mereka mengirim pasukan pengintai terlebih dahulu, setelah itu baru mereka menyerang.”

         Diriku tersenyum mendengar pendapat Ilham, “Kau terlalu banyak menonton film,” kataku sambil berdiri. Kudapati mataku bertemu pandang dengan Mira.

         “Mau pulang?” Mira bertanya kepadaku. Aku hanya mengangguk. Mencoba memberi kesan cool kepada wanita cantik itu.

         Beberapa menit berikutnya, aku sudah sampai di lobi. Kuberi senyum kepada wanita resepsionis yang tadinya asyik memainkan layar sentuh smartphone-nya, sebelum menyadari kehadiranku.

         “Hati-hati di jalan Pak Rendi,” katanya sambil membalas senyumanku.

 

***

 

         Dian sudah terlelap. Aku menggenggam lembut tangannya. Sudah satu minggu ia terbaring di rumah sakit ini. Luka di leher, bahu, dan perutnya belum sembuh. Aku mengalihkan pandangan menembus kaca bening ke arah langit hitam. Langit yang enggan menyuguhkan kerlap-kerlip cahaya bintang, ia sedang berteman akrab dengan kabut pekat. Aku menghela napas. Dalam pikiranku, masih terbayang-bayang peristiwa naas yang menimpa kami. Fachri, Santi, Pak Indra, lalu Pak Tono. Membayangkan mereka mataku mulai berkaca-kaca.

         “Mas, jam besuk sudah selesai.”

         Aku menoleh kepada seorang suster yang tengah berdiri di depan pintu masuk. Kutatap dalam-dalam wajah Dian lalu kucium punggung tangannya, kemudian aku berdiri dan mengambil tas ranselku. Langkahku berlalu sepanjang koridor rumah sakit dengan mata yang menatap kosong seiring jalan.

         Aku heran dengan mimpi yang sering kualami akhir-akhir ini. Dalam mimpi itu, kudapati diriku berada di sebuah padang gersang. Cahaya matahari di sana berwarna biru muda. Pada lubang-lubang yang tersebar di penjuru padang itu, terlihat ribuan—tidak bukan ribuan—jutaan makhluk yang sama persis dengan yang kulihat minggu lalu. Makhluk biadab yang telah merenggut nyawa sahabat-sahabatku. Mudah-mudahan ini hanya trauma akibat peristiwa itu.

         Saat membuka pintu keluar rumah sakit, kudapati kumpulan orang yang sedang berkerumun di jalan. Mereka semua menghadap ke atas. Di antara orang-orang itu ada yang merekam dengan telepon genggam mereka. Aku mempercepat langkahku ke depan.

         “Wah! Hujan meteor!”

         Meteor?

         Langsung aku teringat dengan penjelasan seorang petugas penyelidik tentang bongkahan meteorit yang mereka temukan setelah insiden naas itu terjadi.

         “Keren!”

         “Ayo cepat rekam! Rekam!”

         Kulihat ekspresi gembira dan takjub terpaut di wajah mereka. Saat menengadahkan kepalaku ke langit, terlihat ribuan titik-titik cahaya yang berpijar. Mataku terbelalak! Rasa takut menjalar di sekujur tubuhku. Langit yang tadinya gelap kini menjadi cerah, sangat cerah! Seperti beribu lampu sorot menyinariku dari atas.

         Ini invasi…!

 

~To be continued

Read previous post:  
121
points
(2619 words) posted by arsenal mania 5 years 14 weeks ago
86.4286
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain
Read next post:  
Writer moon eye
moon eye at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)
100

Maafkan karena baru hadir :(
keren. keren. keren banget.
terus aku harus ngoment apa lagi ini?
suka semuanya. terutama bagian waktu di laboratorium yang mulai membahas istilah-istilah ilmiah itu. hahaha.
.
ohya, ada satu kata itu... 'naas' kalah nggak salah yang bener itu 'nahas' hehehe. cmiiw ya, kakak.
.
jadi semakin takut nggak bisa mengimbangi keindahan narasi kalian semua, senior :(
help! T_T
.
cryrom benar-benar bikin 'cry' ya. (walaupun sempat teringat cryom shinchan :P). nyerang banyak orang gitu aja. apalagi Santi. kan kasian nggak jadi buang air kecil terus udah dimangsa.
.
itu... hujan meteor berarti temen-temennya Cryom pada ikut 'berkunjung' ya. keren :D
.
jadi, sekian dan semoga berkenan :D

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Ngak papa moonai :), mkanya sy ingetin supaya ngak ketinggalan :) hehehe
.
Untuk kata naas, sempet kok sy buka kbbi, iya memang yg bener nahas, makasih buat koreksinya (y)
.
Sy bukan senior moon, msh pemula saya, jdi jgan takut krna di sini kita belajar :)
.
Seneng bisa menghibur dirimu moon, sukses buat part 8 (y).
Jgan takut krna kita semua sama2 belajar... hehehe, oke2??
.
Makasih yah? :)

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)
100

Saya telat banget ini, comentnya.
Udah keburu tutup coment, hehe.
Saya suka narasinya itu lho Kak. Detail, dan menegangkan.
Jadi, thriller-nya dapat. Kalau sci-fi nya lagi belum saatnya ditonjolkan ya Kak. #soktahu
Saya sedikit terkejut, pas latar berubah ke laboratorium. Jadi si Dian diselamatkan Pak Tono ya, Kak? Ok, Salam buat Kak Nine :D

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Makasih udah mampir naomi, hehehe :)
.
Untuk penjelasannya, mungkin bisa baca2 komentar di bawah dek.. hehehe :)

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

@Thiya sayang: dek, sabar yah? Saya kan udah janji kalo komenmu akan kubalas kalo saya sudah slse nulis tantanganmu? Jadi sabarrr sayang, jgan cemburu gitu ahh. Liatkan semuanya jadi terbongkar... :)
.
@Zarra14 yang Manisss: Dek Zarra, saya cuma nanya umur, bukan mau macam2 kok. Macam2nya nanti menyusul, yang utama itu perkenalan dulu. Hehehe
.
@Benmi: Nice (y)
.
@member-yang-kebetulan-nongol-di-sini: cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada adegan2 dramatis atau erotis, semua itu hanyalah rekaan dan tidak ada niat untuk mengundang keributan massa
.
Saya bung nine undur diri, salam olahraga (y) hahahahahha :D

Writer Zarra14
Zarra14 at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)
90

Sukses bikin saya deg-degan malam-malam hohoho.
Rapih, seru, plus unsur Sci-fi nya pun muncul kembali. Endingnya greget. Karena unsur thriller-nya kental, deskripsinya bakal lebih bagus kalau lebih mendetail (seperti yg disebut di komen2 dibawah saya)
Cukup janggal di bagian after effect setelah pembantaian temen2 Andra. Gimana caranya dia bisa selamat dari si Cyrom? Lalu kenapa dia dinamai demikian?
Overall good job! Keren! :D

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Makasih udah mampir mba Zarra :), boleh tahu mba umurnya brapaan??? (Kepo)
.
Oke pertama, namanya CRYOM bukan Cyrom, huruf R dulu baru huruf Y. Namanya diambil dari...(liat balasan komen wmhadjri1991 di bawah)
.
Dan untuk kejadian after effect, saya memang sengaja bikin ngegantung di situ. Mungkin akan dijelaskan di part2 slanjutnya, mungkin juga akan dibiarkan tetap menggantung kayak begitu. :) saya sendiri kurang tahu apa yb terjadi XD
.
Sekali lgi makasih mba udah sudi membaca :), jangan kapok mampir ke lapakku :)

Writer benmi
benmi at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Ngakak... cryom itu ribet namanya ...
Kerenan cyrom.. hahahah

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Oh gitu, punya kak Zarra aja dibalas. Lah saya, udah seabad itu komentar dibiarin berdebu dijadikan sarang laba-laba T_T
Pake ditanya umur pula.... Hakakaka :v
Mbak Zarra itu umurnya masih 20, tapi kadang pikirannya nge-bocah jadi 15 tahun. Hakakaka :D Detektif Benmi mah, lewat dapat saya...

Writer benmi
benmi at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Mimikrinya nine aja yg dikoment trus...
Pyku ga dikoment...
Mmg pilih kasih ya si thiya..
Ato ada apa2nya sama si nine...
Ty kenapa?
Ciye2... wkkwkwk

Writer Zarra14
Zarra14 at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Sampe aku dicemburuin nih... ada apa sih sama thiya dan nine? hahaha XD

Kak benmi aku lagi baca yg part 4 yaa, tunggu komenku~

Writer benmi
benmi at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Nine lagi selingkuh kyknya...
Kalo di thread menyampah selingkuh dg si black cat..
Trus di kemudian kyknya lagi mencari mangsa.. mangsanya kayaknya si zarra14.
Si nine mgkn sudah bosan ama thiya... ato memang si nine itu cassanova. Nebar pesona sana sini.. wkkakwkk...

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Ooohhh jadi Kak Nine sekarang playboy cap buaya toh!!!!
Malam sama blackcat, pagi saya, siang Kak Zarra, dan sore Mbak Benmi. Yang sudah bersuami juga diembat (contoh mbak benmi dan kak zarra).
Bakar Kak Nine!!
BAKARRRR!!!!

Writer benmi
benmi at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Jangan dibakar.. minyak lagi mahal..
Di gantung aja.. di pohon cabe.. wkwkkakwk...

Writer Zarra14
Zarra14 at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Waduh Thiya, jangan cemburu sama saya!
Tanggung jawab, Nine! T_T

Bener saya 20, tapi selalu berjiwa 15 tahun kebawah kok :p
Nine umurnya berapa?

Oh iya, maaf kurang teliti baca komen-komen di bawah, khawatir kepengaruh ke komen saya hehe. Baiklah, ini sedang baca yang part 4~

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Kak Nine umurnya 22 tahun, kalo gak salah.
Aduh Kak Zarra, suaminya kemaren mana? Kak Ilham, Kak Zarra mau diembat orang. Hakakaka :v
Peace kak (y)

Writer Zarra14
Zarra14 at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Ooh, kirain seumur thiya... 0.o
Wah ilham kan udah jadi sate, sekarang saya menjanda hahaha, peace XD

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Saya suka janda :3

Writer Zarra14
Zarra14 at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Saya gak suka rebut suami orang :3
*brb manggil Thiya*
Hahaha lanjutin di thread nyampah aja XDD

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

AHEMMMM!!!! *sok berdehem nyaring*

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 12 weeks ago)

Hahahaha :D

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)
100

Kayaknya saya gak bisa komentar panjang-panjang, udah keburu sama member lainnya. Jadi, apa adanya aja ya..
.
Oke, dari kemaren ditagih mulu komentar saya. Udah tahu saya ini penulis abal-abal =,=
Hakakakaka :D Ya udah deh, yang penting Kak Nine senang. Nih point penuh (biasanya emang kasih penuh sih, kecuali tantangan, Hakakaka :D)
.
Untuk thriller-nya dapat! Sci-fi-nya emang gak berasa kuat seperti di Mimikri 1, dimana semua penjelasannya sangatlah ilmiah dan logis. Bahkan kelewat detail pula. Di sini, saya seperti mendapati jika Thriller dan sci-fi-nya serasa dipisah menjadi dua bagian. Mungkin itu emang niat penulis kali ya =,=
.
Tokoh yang mati ada Fachri dan Santi. Hm... saat kematian Fachri kemaren terasa belum greget. Apalagi kematiannya tidak dijelaskan secara detail (bertanggung jawablah kau Bang Senal!!). Di sini, kematian Santi emang mengerikan. Hanya saja masihlah belum masuk kategori sadis menurut asumsi saya. Hanya diceritakan ia berdarah, dimakan organnya (walau saya tidak tahu bagian yang mana) dan Dian hanya tampak ketakutan seperti menonton film horor.
.
Kalian itu mau diburu monster sayang!!!! Teriak! Panik!! MENJERIT SEKERAS-KERASNYAAA!!! Untunglah Andra ini tipe cowok yang cepat tanggap dan langsung kabur walau tak tahu kemana.
.
Dan lagi, saya tidak dapat mevisualisasikan sulur-sulur hitam yang keluar dari tubuh Fachri. Lewat pori-pori kulit kah? Ujung jari? Rambut? Merusak baju? Ekspresinya seperti apa saat Fachri yang bukan Fachri menyerang Andra dkk. Saya rasa masih kurang detail dibagian serang-menyerangnya. Terlalu cepat seperti menonton film yang di-skip. Padahal jika bisa dibuat lebih sadis lagi, thriller di cerbung ini akan lebih kuat. Tapi ini saja sudah cukup kok :)
.
Lalu, saya sedikit terkejut dengan perubahan setting yang tiba-tiba ke laboratorium. Hmm.... sejak kapan itu ilmuwan tahu? Dan darimana mereka mendapatkan contoh sel-sel Cryrom tersebut? Hal ini tidak dijelaskan secara detail dan terkesan hanya sambil lalu saja. Cuma untuk menjelaskan apa yang dimakan dan di-copy oleh alien ini. Mungkin sengaja Kak Nine untuk menyiksa penulis selanjutnya kali ya, hakakakaka :D
.
Wow, di bagian ending saya dibuat terperangah. Jadi ini menjadi invasi skala besar-besaran ya! Hohoho, jadi penasaran nih sama cerbung selanjutnya. Ayo Mbak Benmi!! Semangat!!
.
Sebenarnya tulisan Kak Nine udah bagus, hanya saja tampak minim ekspresi dari para tokoh. Apakah karena keburu deadline? Hihih :D Tulisan Kak Nine keren, ada bau-bau puisi begitu. Beberapa kata yang tampaknya sangat tinggi dan baku juga diselipkan. Hmm... belajar kosakata nih... :D Cuma... kadang dialog yang diselipkan irit banget. Tapi tak apalah, kan adegan mangsa-memangsa itu cukup menegangkan untuk saya.
.
Oke, sekian komentar saya. Semua hanyalah murni pandangan subjektivitas saya sebagai seorang pelajar yang sedang belajar dari cerpen orang lain, hakakaka :D
Untuk Kak Nine, terus semangat menulis ya :D
Untuk Mbak Benmi, semangat!!!

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 11 weeks ago)

Saya sudah janji tempo hari: kalau tantanganmu sudah kuselesaikan, maka akan kubalas komentarmu. Hehehe
Jadi mari kita lihat.
.
Untuk kematian Santi yang kurang sadis? Hmmm, kayaknya memang standar "kehorroran" kamu tinggi Thiya, makanya jadi ngak menakutkan.
.
Untuk Dian yang ngak menjerit keras-keras? Thiya, masak kalau ada binatang buas yang sedang menyantap makanannya kamu mau menjerit keras? Ya pasti itu hewan marah dong! lagi makan kok diganggu? Langkah yang Dian dan Andra ambil sudah tepat: mundur secara perlahan dan tetap diam.
Kayaknya kamu kebanyakan nonton film thriller/horror yang kurang berkualitas, makanya tiap ada binatang buas yang lagi makan, karakternya menjerit keras supaya adegannya jadi lebih meneganggkan. Hehehe (subjektif)
.
Untuk sulur-sulur hitam yang menjalar. Hmm, pernah main Resident Evil? Di situ banyak adegan film in-game-nya di mana si Zombie ngeluarin sulur2 dari tubuhnya. Yah mungkin juga di sini saya yang kurang deskripsi, jadi mohon maap karena kurang memuaskan.
.
Untuk adegan laboratorium, di situ Cryom sudah mati dek. Itu adegan satu minggu setelah penyerangan di pondok. Coba deh baca ulang adegan itu (kayaknya kamu ngak bakal deh :p) dan perhatikan baik-baik. hehehe,
kalau masih kurang jelas? baca kembali komentar-komentar di bawah (yang kayaknya juga kamu ngak bakal :P) reppootttt :)
.
Saya juga merasa minim untuk ekspresi dari para tokoh. Karena begini, (saya pernah baca tips nulis thriller di gugel) dalam menulis thriller, yang penting adalah "pacing" kejadiannya, bukan deskripsi para karakternya. Soalnya deskripsi itu pasti membuat tempo cerita menjadi lambat, yang cenderung mengarah ke kebosanan (menurutku)
.
Sekian balasan komentar dari saya, mohon maaf yah kalau ada kata yang kurang berkenan? hehehe,
Makasih sudah komen yang panjang-panjang begini.. :)
.
Gimana? udah puas belom? hehehe

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Menunggu komentar saya dibalas =,=

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Sabar thiya, akan kubalas kok, hehehehe sabaaarrnyah??

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Sabarnya itu sampai kapan? =,=

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Sampai saya selese nulis tantanganmu Thiya... Saaabuuuaarrrrr!!!! hehehehe

Writer kemalbarca
kemalbarca at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)
80

sebagian besar tokoh di cerita sebelumnya mati, keren!
menurutku ceritanya berkembang terlalu pesat, karena awalnya kukira si mimikri bakal pelan2 menginvasi, ternyata langsung rame2 gini, haha, mantep lah
btw, si mimikri di tubuh Fachri udah mati atau belum? cuma pengen pasti aja
banyak cinta ya di kemudian :D

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Mimikri/Cryom di tubuh fachri udah mati bang. (saya ngak nunjukin di cerita soalny keburu deadline, maklum bang, saya kewalahan pas nulis ini)
.
Iya bang, invasi besar2an saya buat, biar kelihatan lebih dramatis, hehehe
.
Kalo masalah cinta, yah saya ngak bisa ngomong apa2, maklum lah di kemudian sudah mulai terserang wabah kepo2an (korban pertama mba benmi)
.
Makasih buat komentarnya bang (y)

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)
2550

Maaf saya baru baca ini!
Keren, saya suka :D
Makin banyak karakter yg mati, atmosfer thrillernya juga kerasa, awal mula invasi juga oke menurutku. Cuman, sepakat sama alcyon. Keliatan banget kalo di tengah2 cerita pacingnya jadi jauh lebih cepat, eksekusi adegan demi adegan juga kerasa buru2. Dikejer deadline ya? :p Menurutku akan jauh lebih oke kalo adegan penyerangan di pondok itu bisa lebih slow + deskripsinya diperkaya, supaya pembaca bisa lebih ngerasa keadaan emosi dan mental masing2 karakter, gitu.
Terus, aku suka konsep alien yg jadi scout itu. Apa sih bahasanya? Pengintai? Terus di akhir cerita keren banget, hujan meteor yg membawa alien2 lain dlm jumlah besar. Invasi bener2 nih hehe. Cuman, perlu dipertanyakan, gimana caranya si alien yg wujudnya organik seluler ngendaliin meteor buat jatuh di Bumi?
Si Andra jadi bisa ngeliat sedikit memorinya alien ya? Karena kontak dengan alien tsb? Asik nih, mungkin si Andra jadi bisa tau kelemahan makhluk tsb. Hehe.
Terakhir, aku bingung, kenapa namanha cryom? Perlu dijelasin juga kenapa para peneliti itu nyebut alien ini dengan nama cryom.
Itu aja sih masukan/kritikan saya. Overall saya suka pake banget. Seru! :D
Next tante Benmi ya? Asik hehe. :D
Sekian, Nine. Salam :)

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Eh? Nongol juga bang hadjri,
Hehehe, untuk pacing yg rada2 cepat saya mohon maap bang, emang gara2 deadline, padahal sy mau ksi slow2 aja emang... Maklumlah, :)
.
Untuk alien yg bisa kendaliin meteor, sbenarnya mreka udah nentuin memang koordinat ke bumi dri galaksi mereka, di sini saya kasih gambaran lewat mimpi aneh yg dialami Andra. Dan Andra memang memiliki sebagian memory cryom yg udah ketransfer ama dia waktu di sentuh, Dian juga, krna dia disentuh dan ngak mati, jdi saya harap kunci2 dari kelemahan mimikri ada di dalam memory dian dan andra (mau ngejelasin di cerita keburu deadline)
.
Nama Cryom itu dari gabungan kata: mimiCRY mOzaic Monococcus (ini asli ngarang2 sendiri :p) niatnya mau ngejelasin di cerita, tpi rasany ini ngak penting2 amat, apalah arti sebuah nama, hehehe
.
Makasih udah mampir bang, (y)
Note: mba benmi harap reply ini dibaca juga.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Ciyeee.... yang manggil istrinya pakai kata 'Tante' Hakakaka :D
Udah mulai makin mesra nih.... mwehehe :D

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Heh, komenmu mna? Dri kmren kerjanya ngespam melulu.. T.T

Writer benmi
benmi at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Cieh... kalo nine aja komentnya dibuat di kertas dlu.. dicatat... dicek ricek.. kalo yg lain.. buatnya asal.. gitu ya thiya... kamu ketahuan.. pacaran lagiiii... dengan dirinya...

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Pacaran dengan siapa?
Saya ini masih polos dan belum tahu apa-apa tentang dunia orang dewasa ._.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Hakakaka :D sabar Bang.....
Ini komentarnya masih dipikirin lagi. Udah baca sih... cuma ntuh =,=
Saya sedang mempersiapkan komentar terbaik buat Abang.... hakakaka :D
Btw, ane baru pulang sekolah ni Bang....

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Cie cie anak esde baru pulang sekolah :p
itu seragam putih-merahnya cepet diganti biar gak kotor :D hakakakak

Writer benmi
benmi at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Baca ga ya? Hahhahah...
Ane ini uda paham..
Tp yg kmrn yg didelete.. disitu saya masi perlu penjelasan mendalam.. hahhahah...

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Apaan nih ngomongin dalam-mendalam? Kurang dalam kah sumur perasaanku padamu, hai jelmaan Nefertari?

*vertigokumat*
*mual2*
*maupingsan*

Writer benmi
benmi at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Bukan 1991... tp percakapan thiya utk nine.. yg di delete nine.. tdnya thiya pos disini.. tp didelete.. kt nine: hus thiya.. kok kamu kirimnya ke sini.. salah... masa privasi kita dikirim kesini...
Hbs itu di dlete deh... pas mau nyari.. uda ilang... ga smpt dibc.. yg bc kykya cuma arsenal..

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Yes! Kita berhasil membuat mereka penasaran!
MWAHAHAHAHAHA :D

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Yayayaya, kepo2 kepo2 :p

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

SEMUA ANAK KEMUDIAN!!!!!
COBA LIHAT INI!!
Bukti kalau ada sesuatu di antara Bang Hadjri dan Mbak Benmi
Hakakaka :D

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Hahaha, jgan mbaa, biar sy, thiya, senal, dan Tuhan yg tahu... hehehe

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Hihihi, iya nine, maaf kemaren (sok) sibuk :p
Ah, iya, makasih penjelasannya hehe. Good job, Nine! :)

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Sip sip sip (y) hehehehe

Writer azkashabrina
azkashabrina at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)
100

Logika ceritanya udah berdiri, udah makin banyak penjelasan soal Cyrom. Penjelasannya mudah dimengerti dan gak ngebosenin apalagi buat saya yang awam sains ini hahaha. Saya juga setuju beberapa tokoh dibuat meninggal supaya ga ada penumpukan, dan makin keliatan karakter utamanya yang mana aja.
.
Jadi ya... ga ada kritik. Secara amat penasaran saya nunggu tulisannya Mbak Benmi! :D

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Sayang bingitz mba T.T
Padahal sy ngarep dikritik pas bagian thrillernya. Itu datar apa ngak? Soalny sy kurang yakin pas di bagian itu. :)
.
Tapi makasih banyak yah mba? Udah berkenan mampirr.. hehehe
Tank-Q :)

Writer azkashabrina
azkashabrina at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Kritik sih enggak ada, tapi saran ada. Ini subjektif tapi ya, moga nggak terasa menggurui... hehe...
.
Momen penyerangan Cyrom di pondok itu banyak penjabarannya rata-rata dalam satu paragraf, dan deskriptif banget... Misalnya di bagian Andra nemuin si mutan Fachri lagi mengunyah organ dalam tubuh Santi. Nah kalo saran saya, kalimat yang nunjukin 'nailbiter moment' dikeluarin dari paragraf supaya mencolok. Misalnya bagian pas Fachri menggeram. Bagian Fachri menoleh, juga. Terus, bisa juga ditambah deskripsi mentalnya Andra kayak jantungnya berdegup, tangan dingin, atau gemetar.
.
Sisanya supaya lebih berasa ketakutan para karakter ini, mungkin bisa ditambahin sedikit dramatisasi. Misalnya Dian yang cewek, liat temennya mati dikunyah, jadinya nangis meskipun masih tetep usaha kabur dan melawan. Terus tambahin dialog juga satu-dua baris, mungkin...
.
Mungkin Bung Nine kehimpit waktu yang mepet aja, jadi belum sempat nambahin dramatisasi... Hehe..

Writer Nine
Nine at Mimikri: Invasi (Part 3) (5 years 13 weeks ago)

Nah yang ini nih yg saya maksud. Hehehe, makasih banyak mba azka... :)
.
Kan saya jadi belajar kalo mba komen kyak gini, :)