Setangkai Anyelir

Sekumpulan kata-kata bisu bermekaran di batas pagi, tumbuh meliar di jenggala dada bersanding dengan degup yang berdetak terbata-bata mengeja sebuah rasa. Meski terasa namun tak teraba, tapi aku tau rasa itu ada. Liuk pena dalam tarian jemariku membahasakan yang tak dapat kupungkiri berapa kali pun aku menyangkal keberadaannya.
Hitam di atas putih menoktah, tentang rinduku.
Kutelisik jejakmu pada masa dimana senyum dan tawamu dikekalkan oleh lengan-lengan waktu. Mengenai ribuan senyum juga tawa yang bertautan dalam perbincangan kita di hari kemarin. Tatkala senyum rekahmu menghampar di kanvas buana kerap kali kuselipkan tanya, Bolehkah kupinta segaris senyummu atau bisakah kumiliki seutuhnya?
satu dari sekian banyak tanya tak terucap yang hanya berdiam diri tanpa mencari jawaban. Hingga kini masih kulipat rapat tanya itu tanpa harus kau tahu angan yang menggelitik benakku. Karna kutahu senyummu berpulang ketempatnya, begitupun dengan senyumku.
Kita memang berbagi senyum namun hanya sebatas senyum yang berlepasan diantara obrolan kecil kita. Perihal pemiliknya? Aku, kau tahu itu.
Tentang tawa, aku berlaku sama karna kita pun tahu kedalamannya. Tentang tawa yang berhamburan tetap tak berarti apa-apa karna kita tak mengartikan tawa yang lebih dari sekedar tawa biasa, tawa kita diartikan oleh hati masing-masing dalam artian bahagia yang berbeda. Atau mungkin sediakah kita saling memberinya arti di lain waktu? Mungkin.

Teruntuk sosok bergaun merah muda yang tengah berdansa bersama angin di bawah temaram lampu-lampu pelataran jalan. Aku tak pernah berencana merindukanmu, pagi memang selalu berembun tetapi pagi tak selalu tentangmu namun pagi yang sama selalu berulang saat aku merindukanmu. Lantas bagaimana denganmu.
Adakah hari dimana kau merindukanku?
Adakah aku dalam catatan cerita rindumu?
Adakah detakku yang kau maknai sebagai sesuatu?
Entahlah, ada kalanya tidak semua hal berujung pada rasa tahu, sebagian hal kadang hanya berangan-angan, bertanya-tanya, menduga-duga. Akan selalu ada saat-saat seperti itu. Sebab semesta selalu menyimpan kemungkinan dan aku tidak punya kuasa untuk setiap perkara hidup yang telah terjadi dan yang akan terjadi, selalu ada bagian kejadian yang tak diperkirakan sebelumnya.
Dengan itu kuartikan engkau sebagai segala kemungkinan yang aku semogakan dalam doa.
Aku merapal lirih namamu dalam doa-doa yang kupanjatkan di sepertiga malam untuk mereka, dia dan juga kau. Jikalau aku lupa menyebutmu dalam doa malamku, aku tahu kau bersembunyi di belakangku meski hanya sebentuk bayang semu. Maka tepuk saja pundakku, berbisiklah ingatkan aku.
Selebihnya biar jemari takdir dengan runcing pena jarum jam yang menulis kelanjutannya, kisah kita.

Setangkai anyelir di seberang jalan

Kekasihmu mungkin tak pernah tahu, di sudut pagi sesekali waktu rinduku lebih dulu mengecup lembut keningmu dan mengabarkan pagi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sebenarnya
sebenarnya at Setangkai Anyelir (6 years 25 weeks ago)
90

oh my...
"Teruntuk sosok bergaun merah muda yang tengah berdansa bersama angin di bawah temaram lampu-lampu pelataran jalan. Aku tak pernah berencana merindukanmu."

dan endingnya...

duh, meleleh.

Writer leeyahalawi
leeyahalawi at Setangkai Anyelir (6 years 30 weeks ago)
70

Okh....memang cinta tak lepas dari bahagia dan derita jiwa

Writer niNEFOur
niNEFOur at Setangkai Anyelir (6 years 33 weeks ago)
100

saya pingin banget buat puisi yang kaya begini, tapi setiap kali mencoba, ngelantur kemana-mana.
hiks hiks.. T^T

Writer M. Lufiah Sirhab
M. Lufiah Sirhab at Setangkai Anyelir (6 years 33 weeks ago)

Mungkin kamu ngelantur karna terlalu lama memutar ulang kenangan2 yg mau kamu tulis. Cuma nebak aja sih hehe. Kadang menulis cerita cinta berdasarkan apa yg pernah kita alami lebih banyak godaannya drpd menulis cerita cinta fiktif.

Writer niNEFOur
niNEFOur at Setangkai Anyelir (6 years 32 weeks ago)

ia bener banget, jadi solusinya..?

Writer M. Lufiah Sirhab
M. Lufiah Sirhab at Setangkai Anyelir (6 years 32 weeks ago)

Kalo menurut saya, sebisa mungkin jgn terlalu menghayati sosok tokoh yg berperan dalam ceritamu, semenyenangkan atau semenyebalkan apapun kenangan yg pernah kamu lalui bersama tokoh tersebut, cukup mengingat seperlunya saja tidak perlu berkelanjutan, misalnya pada bagian tertentu yang ingin kamu masukan dalam kerangka tulisanmu, cukup dibagian itu aja ingatanmu bermain-main, jgn merambah pd bagian yg lain agar tidak membuat kamu keasyikan flasback dan keluar dari alur cerita yg kamu tulis. Itu kalo menurut cara saya, semoga saja bisa membantu:)

Writer Marie_A
Marie_A at Setangkai Anyelir (6 years 33 weeks ago)
70

waah, akhirnya saya menemukan puisi seperti ini. Banyak milik saya jg seperti ini gaya kepenulisannya, tp ngga saya posting karena tampak seperti cerpen saja, jadi bingung. Ternyata ini termasuk parafrasa puisi ya. Baru ngeh..hehe :)

Writer M. Lufiah Sirhab
M. Lufiah Sirhab at Setangkai Anyelir (6 years 33 weeks ago)

Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisan saya:) Saya gak ahli bngt tentang teknik2 berpuisi masih amatiran lah, tapi saya lebih suka dengan menulis puisi seperti sedang bercerita.

Writer Reborn Initial
Reborn Initial at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)
100

Mengutip sebuah komentar salah satu teman di KeKom ini juga:
"kalo dalam 1 tulisan yg bentuknya prosa liris isinya diksi yg "wah" semua, memang bisa membius pembaca, tapi maknanya?"
.
Menulis prosa liris itu memang bagai pisau bermata dua, menurutku sih. :)
.
Salam

Writer M. Lufiah Sirhab
M. Lufiah Sirhab at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Tulisan parafrase puisi saya tersebut, tidak terlalu sulit kok untuk menemukan makna keseluruhannya. Terima kasih:)

Writer Nine
Nine at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)
100

Bertepuk sebelah tangan. Itu yang saya tangkap setelah membaca ini. Saya tidak usah memberi komentar panjang soal kata-kata. Satu kata saja cukup: Indah
.
Terima kasih sudah memposting tulisan ini. Enak dibaca dan ngalir pula.
.
Tetap semangat berkarya kawan.
.
Salam hangat (y)

Writer M. Lufiah Sirhab
M. Lufiah Sirhab at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Terima kasih atas komentarnya:). Sebenernya tokoh "aku" dan "kau" dalam tulisan adalah sepasang teman, hingga kemudian mulai tumbuh getaran rasa diantara keduanya. Tp sayangnya mereka berdua sudah memiliki kekasih hatinya masing2. Singkat cerita, kelanjutan dari perasaan mereka masih tetap menjadi rahasia dengan semua kemungkinannya.

Writer ilham damanik
ilham damanik at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)
100

Halo, Selamat datang di K.com, Lutfi :)
Gaya penulisanmu punya keunikan sendiri kalo menurutku.
Kau hebat, bisa menulis puisi seindah itu.
Pesan dari puisi ini nampaknya jelas pas di bagian "Bolehkah kupinta segaris senyummu atau bolehkah kumiliki seutuhnya?"
Itu punya arti tersendiri buatku dan (mungkin) seseorang yang menjadi tokoh "aku" dalam puisi ini mengalami hal yang sama denganku :D
Untuk keseluruhan puisimu bagus, ngena bgt :D
Semangat nulis terus ya, Kawan. :)

Writer M. Lufiah Sirhab
M. Lufiah Sirhab at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Terima kasih atas penyampaian rasa suka anda terhadap tulisan saya:)

Writer ilham damanik
ilham damanik at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Sama-sama, salam kenal ya? :)

Writer M. Lufiah Sirhab
M. Lufiah Sirhab at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Iyaa, selamat berkenalan dengan ranah aksara saya:)

Writer ilham damanik
ilham damanik at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Kapan rencananya ngeposting karya yang baru, Mas?

Writer M. Lufiah Sirhab
M. Lufiah Sirhab at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Sebenernya sih sudah lama saya menulis dan lumayan banyak tulisan yg saya buat, tp kebanyakan tulisan saya berisi kata2 umpatan berbau erotis. Saya agak ragu bisa disukai pembacanya bila saya posting di media publik.

Writer ilham damanik
ilham damanik at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Hahaha tulisan yang disukai dan gak disukai pembaca itu emangnya gimana, Mas? :) aku gak ngeti. Menurutku semua tulisan itu sama, disukai dan gak disukai itu pandangan subjektif pembaca aja :)
Ayolah, keluarkan unek-unekmu disini, aku jadi penasaran :D

Writer M. Lufiah Sirhab
M. Lufiah Sirhab at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Haha perkara suka atau tidak suka, saya saja tidak tahu definisi detilnya seperti apa. Yg saya tahu, pembaca bebas menafsirkan dan mengapreasiasi karya seorang sasrtawan, penyair atau cerpenis. Itu adalah hak pembaca. Untuk permulaan mungkin nanti akan saya posting beberapa tulisan tersebut untuk melihat respon pembacanya:)

Writer ilham damanik
ilham damanik at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Haha ternyata kita sependapat, Mas :)
Baru kali ini saya ketemu sama orang yang se-pemikiran hehehe
Oke, saya tunggu di postingan berikutnya ya.

Writer Steve Elu
Steve Elu at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)
70

Banyak penulis puisi belakangan yang menulis panjang seperti ini. Tidak jauh berbeda dengan cerita. Memang bagaimana puisi harus ditulis, setelah mazab "Angkatan 45", praktis banyak penyair mengeksplorasi banyak cara, termasuk teknik menyajikan puisi. Bagi saya, tidak ada yang benar atau salah. Hanya apakah itu berkenan di hati pembacanya? Jujur, saya cukup suka dengan puisi di atas, meksi harus menahan lelah karena seolah sedang membaca cerpen. Padahal pengennya saya ya baca puisi. Hehehehehe. Good Job. Mari kiga bereksperimen.

Writer M. Lufiah Sirhab
M. Lufiah Sirhab at Setangkai Anyelir (6 years 36 weeks ago)

Dari gaya penulisannya bisa dibilang saya penganut parafrasa puisi, karna saya menyukai teknik penyajian kata yang mudah dipahami oleh pembacanya:)