Cara Berkomentar yang Baik

Malam ini, aku dan kakak perempuanku bersekongkol untuk membuat anak setelah tiga percobaan sebelumnya gagal total. Kami terhenti di tengah jalan, bahkan sebelum mencapai klimaks, apalagi konklusi; ending.

"Malam ini kita harus berhasil menulis satu cerpen," kata kakakku.

"Berhasil membuat satu anak yang bisa dibanggakan," balasku.

"Jangan pakai istilah 'anak' untuk 'karya', jika ada yang dengar mereka pasti akan salah paham."

"Kitakan hanya berdua malam ini."

"Diam!"

Kakakku adalah gadis dua puluh dua tahun yang pemarah, kecuali pada saat-saat tertentu saja ia akan tampak manis sebagai kakak perempuan. Ia sangat suka membaca, bahkan ruangan lantai dua yang awalnya akan dijadikan dua kamar dan satu ruangan santai, diubah menjadi satu ruangan berisi buku-buku: perpustakaan. Dan kebanyakan buku-buku itu berbentuk rekaan, fiksi yang menurutku—pada awalnya jelek—sangat bagus.

Setelah mendapatkan ruangan luas di lantai dua itu, ia segera memenuhinya dengan buku-buku. Seratus buku setiap hari selama satu bulan, dan sekitar sepuluh buku setiap minggu setelahnya. Salah satu hal yang menurutku kurang pada kakakku adalah—selain sikap pemarahnya—ia gaptek. Ia bahkan tidak bisa mengoperasikan komputer. Sementara aku, pernah menyusup ke situs pemerintah hanya demi mendapatkan foto KTP gadis cantik yang tinggal di kompleks sebelah.

Ketidakmengertianku terhadap hobi kakakku yang sangat suka buku itu, membuatku penasaran dan akhirnya membeli novel di toko buku. Novel itu berada di rak bestseller, dengan harga di bawah 50.000. Lebih tepatnya 45.000. Aku membaca novel itu saat sedang santai, dan hanya sanggup membaca sampai halaman 5, karena tidak menarik sama sekali. Bahkan cerita temanku di blog lebih bagus daripada cerita dalam novel itu.

Aku pergi menemui kakak yang sedang membaca di taman belakang, dan bertanya kenapa ia suka dengan cerita buruk semacam itu? Kakak hanya melihatku sekilas, lalu ke buku yang kupegang, dan kemudian pergi. Sesaat kemudian ia telah kembali dengan sebuah buku yang cukup tebal. Ia melemparnya ke arahku, dan menyuruhku untuk membacanya.

"Yang lebih tipis saja membosankan, apalagi yang tebal," kataku.

"Baca saja."

Aku pergi ke kamarku dan membaca buku tebal itu, dan di sanalah aku terbuai oleh kata-katanya. Aku seakan masuk ke dalam dunia baru. Dunia yang menyenangkan dan bertemu orang-orang yang bahkan wajahnya tidak kulihat, tapi bisa akrab dengan cara yang unik. Setelah membaca buku itu dalam kurun waktu semalam, aku seperti kehilangan banyak teman, bahkan pergi dari dunia yang menyenangkan.

Aku menghadap kakak lagi dan bertanya. Kenapa buku yang kubeli tidak sebagus yang ia kasih?

"Novel populer sangat berbeda dengan novel sastra, meski sama-sama bercerita," jawabnya. Dan ketika aku bertanya bagaimana membedakan novel sastra dan non-sastra. "Kau harus mencobanya sendiri."

Dan dari situlah awal mula diriku menjadi penulis. Tepatnya juru ketik. Kakak yang suka menulis di buku, merasa bosan dan ingin sesekali mengetik di komputer. Tapi ia tidak bisa mengoperasikannya, dan terlalu malas untuk mempelajari keterampilan itu. Katanya, kenapa harus belajar jika ada aku yang bisa mengetik dengan kecepatan di atas rata-rata? Sebuah pendapat yang cukup mengandung pujian, sekaligus terdapat intimidasi halus di dalamnya.

Maka seperti malam-malam sebelumnya, kakak akan duduk di lantai sambil bersandar pada tempat tidur, atau berjalan mondar-mandir di belakangku, sementara aku berada di depan komputer dengan tangan yang siap mengetik kata-kata yang ia suarakan.

"Sebut saja ia A," kata kakak, memulai ceritanya sementara aku mengetikkan hal itu di keyboard. "A adalah anak yang suka menulis dan suatu hari ia menemukan kedai tempat para penulis pemula berkumpul. A masuk kedai itu dan mulai berbaur.

"Semakin lama, A betah di sana dan mulai berani untuk menunjukkan tulisannya pada yang lain, berharap mendapatkan komentar. Dan ketika tulisannya yang sekian mendapatkan ulasan oleh B, yang cukup rinci menerangkan tentang EyD dan unsur-unsur tulisan fiksi yang sudah lazim digunakan, A tampak tidak menerima hal itu. Ia menuding B berlagak pintar. Lalu C datang ke meja tempat A dan B duduk. C menerangkan bahwasanya B bukan berlagak pintar, tapi ia sungguh membaca tulisan A dan menelaah setiap sisi dari tulisan tersebut menurut apa yang ia rasa memang pantas untuk dikomentari.

"Kemudian D datang ke meja itu dan berkata, bahwa apa yang dikatakan B ada benarnya, tapi EyD itu adalah sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh setiap penulis tanpa harus dikasih tahu. Kalau ada penulis yang tidak mengerti EyD, kita cukup menyarankan agar belajar EyD, agar tulisannya lebih rapi. Bukan kasih contoh. Karena belajar sendiri bagaimana menata tulisan itu lebih baik, selain mudah diserap daripada diberitahu orang lain, juga melatih kepekaan dalam menulis dengan baik sebagaimana telah ditata dalam kebahasaan masing-masing.

"Namun, E yang tiba-tiba datang membantah pendapat D. Sebagai sesama penulis, jika ada kesalahan EyD, maka harus diberitahu saat itu juga, supaya cepat paham dan lebih cepat untuk menjadi penulis handal.

"Meja itu makin ramai saat F juga datang dan berkata, kesalahpahaman dalam mengomentari sebuah karya memang sering terjadi dan ada beberapa masalah yang membuatnya demikian. Pertama, si pemberi komentar yang mengatakan pendapatnya dengan nada kasar dan mencemooh, atau tanpa dasar, tapi orang seperti itu jarang ia temui dalam kedai tempat mereka berkumpul. Bahkan mungkin tidak ada. Selama ia berkunjung ke kedai para penulis ini, masalah terbesar malah pada komentar palsu yang hanya mencari poin, atau berharap komentar balik dengan satu atau dua kata pujian. Dan orang yang bisa berkomentar panjang lebar dengan ketelitian tinggi, sangat langka. Padahal orang seperti itu adalah orang-orang yang sangat dicari untuk berdiskusi dan saling membagi ilmu, serta memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis.

"Masalah kedua menurut F adalah, si penulis yang tidak bisa menanggapi komentar dengan baik. Dan penulis yang menghardik komentar, baik itu memang komentar asal, tetap disalahkan, karena begitulah hukumnya. Jika penulis memang merasa komentar itu tidak tepat dan merasa punya kewajiban untuk membela karyanya, maka hendaklah katakan dengan baik-baik dan mengakulah apa yang ia hendak sampaikan pada pembaca lewat tulisannya. Karena dengan begitu, si pemberi komentar dan si penulis akan saling mengetahui dari sudut mana mereka berkomentar, dan bagaimana memahami kedua sudut yang kemungkinan besar saling bertolak belakang itu.

"Pendapat F membuat semuanya diam, seakan setuju dengan hal itu. Tapi G yang dari tadi memperhatikan mereka dari meja sebelah, berkata bahwa F tidak sepenuhnya benar. F adalah manusia, begitu juga yang berada di situ. Ia bukan Tuhan yang selalu benar, tidak pula malaikat yang tanpa cela. Ia manusia biasa yang cenderung melakukan kesalahan. Maka tidak ada yang benar dari persoalan yang sekarang dihadapi mereka, kecuali kebenaran yang dipercaya oleh masing-masing orang. Karena setiap orang itu berbeda, maka konsep kebenaran dari suatu masalah pun berbeda. Dari hal itulah G berkesimpulan, konflik karena perbedaan sudut pandang itu wajar, karena konsep kebenaran dimiliki oleh masing-masing individu, yang tentu saja takarannya berbeda. Tapi konflik dengan caci maki bukan dengan kata-kata yang baik, bisa dipastikan konflik yang buruk dan salah.

"H yang dari tadi duduk di depan G, kurang sependapat dengan hal itu. Jika konsep kebenaran dan kesalahan berbeda-beda pada masing-masing manusia, kenapa ada hukum seragam yang harus dipatuhi oleh sebagian besar orang? Kenapa pula ada kesamaan norma buruk dan baik yang tertanam di otak sebagian besar orang?

"J yang dari tadi berada di sudut ruangan, menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain. Kenapa hal kecil seperti memberi komentar pada sebuah karya tulis bisa merambat ke hal lainnya?"

"Lalu K datang ke dalam kedai dan bertanya, kemana kekasihnya yang bernama L? Mereka seharusnya telah bertemu dan saling memberi cinta di bawah bulan sekarang, dan berpisah saat M yang adalah suami L pulang." Untuk interferensiku yang tiba-tiba terhadap cerita kakak tersebut, aku harus menerima boneka panda yang tepat menghantam kepala bagian belakangku.

"Jangan potong cerita kakak!"

"Maaf, aku tidak akan memotong lagi."

Kemudian aku kembali menghadap komputer dan bersiap untuk mendengarkan suara kakak dan mengetiknya. Tapi lima menit berlalu, kakak masih diam saja. Saat aku menoleh, ia merebahkan diri di atas tempat tidur dan memejamkan mata.

"Apa kakak sudah tidur?"

"Belum."

"Lalu, kenapa berhenti?"

Kakakku tidak menjawab, ia masih terbaring di sana untuk beberapa lama sebelum pergi ke pintu dan pamit untuk pergi tidur. Saat aku bertanya apakah percobaan yang keempat ini gagal lagi? Ia menjawab tidak, kalau aku bisa meneruskannya sampai selesai.

Setelah kakak menutup pintu kamar, aku mulai memikirkan kelanjutan cerpen yang kami tulis bersama. Namun sampai satu jam kemudian, aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk melanjutkan cerita tersebut. Sampai aku memilih untuk tidur saja, kata-kata yang kuharapkan tidak kunjung datang.

Paginya, aku mengetuk kamar kakak untuk bertanya apakah ia bersedia melanjutkan cerita semalam. Namun sampai tiga kali ketukan, tidak ada jawaban dari dalam sana. Dengan keberanian yang berusaha aku kumpulkan, aku membuka kamarnya yang tidak terkunci, dan menemukan kakak masih tidur dengan selimut yang hampir menutup tubuhnya, kecuali bagian wajah yang menghadap ke pintu. Wajah itu begitu damai dan menawan dengan rambut kusutnya. Wajah yang tak akan kukenal lagi jika matanya sudah terbuka, apalagi ketika berbicara dengan nada melebihi orang berteriak.

Aku turun ke bawah dan menemukan Bibi Mai—pembantu kami—sedang memasak sarapan pagi. Aku bertanya padanya apakah ibu pulang malam tadi. Ia menjawab ibu pulang jam dua belas malam, dan sekarang masih tidur. Aku mengangguk dan pergi ke halaman samping untuk mencari udara segar. Sejak ayah pergi sepuluh tahun lalu dengan wanita lain, ibu memilih bekerja keras untuk mengatasi kesedihan dan lukanya, meski kami bisa hidup dengan uang kakek yang diterima ibu sembilan tahun lalu.

Udara segar yang kucari, membuatku melihat Bibi Elma yang tinggal di rumah sebelah. Ia pergi ke luar kota seminggu yang lalu untuk menghadiri pemakaman keluarganya, dan tampaknya ia sudah kembali.

Bibi Elma adalah perempuan berumur 75 tahun yang masih aktif. Ia sering berolahraga dan sangat suka tanaman. Ia menanam berbagai macam bunga di halaman sampingnya, yang berbatasan langsung dengan halaman rumah kami. Mungkin berkat kedua hal itu, ia tampak masih berumur 50 tahun ke bawah. Makanya kami lebih suka memanggilnya dengan Bibi Elma daripada Nenek Elma.

Aku menghampiri Bibi Elma dan mengucapkan selamat pagi. Ia membalasnya dengan menambahkan pertanyaan apakah aku sedang ada masalah, karena tampaknya aku tidak tidur nyenyak semalam. Aku ceritakan saja apa yang kulakukan tadi malam bersama kakak, dan cerita yang belum selesai itu.

Bibi Elma yang selalu baik hati, memberiku sebuah nasihat. Lebih baik menulis cerita sampai cerita selesai meski sangat buruk, daripada menghentikannya di tengah jalan. Karena hal itu akan menjadi kebiasaan buruk, dan tidak akan mudah untuk diatasi jika terus berlanjut.

Kemudian aku sadar bahwa Bibi Elma adalah seorang penulis juga. Aku pernah ke rumahnya dan bertanya tentang sebuah foto di mana Bibi Elma bersalaman dengan orang asing. Katanya itu saat ia menerima penghargaan Nobel. Saat aku tanya Nobel itu penghargaan untuk apa? Bibi Elma hanya menjawab singkat: penulisan.

Bersambung....

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Ginekologi
Ginekologi at Cara Berkomentar yang Baik (4 years 51 weeks ago)

Lanjutkan terus tulisannya. Good kalau dari saya membacanya. Mantap pokoknya.

Writer Tunggalrahayu
Tunggalrahayu at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 11 weeks ago)
90

Hahaha kebenaran orang yang ada di dunia penulisan diungkapkan dalam cerita ini.

Well, tapi kalau bicarain tentang gimana komentar dalam sebuah cerita, sebenarnya aku sendiri bingung.

Kalau cerita itu udah bagus banget menurutku, yah paling cuma bisa komentar 'bagus banget ceritanya kk'.

Tapi ntar dikira cuma nyari poin atau ingin dapat komentar balasan di cerita kita.

Kalau udah dianggap seperti itu ujung-ujungnya bakal jadi silent reader di cerita yang bagus. Padahal komentar seseorang bakal meningkatkan semangat penulisan :3

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)
80

Jujur, kadang saia bingung mau komen apa kalau memang tulisan ini udah sempurna dan asik banget buat saia. Tapi sebisa mungkin saia menghindari komentar yang hanya bertujuan untuk poin *uhuk, uhuk*

Anyway, saia malah tertarik dengan Bibi Elma. Kayakny beliau tipe orang yang sederhana dan engga sombong. Dan si aku ini serem banget, bisa nge-hack segala, kebalikan dari kakakny. Dan saia juga sering nyebut karya sebagai 'anak' hahahah

Writer benmi
benmi at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)
100

Menyampaikan fakta yang ada di lapangan... hahhahahhaha...
ngakak pas saya bacanya.. n teringat pas baca koment2 org dalam satu cerita. Saya lebih suka karakter adenya.. yg nambahkan karakter K, L, M
bagi sensasinya terutama disitu. Saat masalah sedang dibahas seru2.. terkadang kita butuh iklan yg menyegarkan spt K yang ga jelas.. cuma ty tentang keberadaan L.

perbedaan pendapat dimana2 mmg ada. Bahkan dlam pemerintahan. Film jepang ttg pembawa berita aja srg ngisahkan. Pemerintah terkadang sengaja menyebar rumor artis dan rumor2 lain. Saat tekanan masyarakat thdp pemerintah sdg tinggi2nya. Istilahnya utk pengalih perhatian.

walau ditulis bersambung entah kenapa saya harapnya tamat aja.. n ga diterusin (*ciri2 org yg minta ditimpuk bata satu rt)

Saya sendiri pembaca lv 1. Lebih byk pake feel saya saat baca karya2 org. Terkadang disini saya menemukan penulis yg byk pake kata2 sulit. Istilahnya cerita sastra. Kadang saya bingung mau koment bagaimana... bacanya aja uda ngantuk, blm lagi tersendat2 krn ga ngerti, kyk berasa baca buku tertulis kata2 asing. Rasa2nya penulis yg berlevel tinggi spt itu. Perlu mencantumkan terjemahan kata2 sulit tsb pada akhir cerita. (Jdnya berkeluh kesah sebagai pembaca).

Anw pengamatan yang bagus.. mgkn anda tertarik juga ikut menyampah di thread menyampah.. biasanya disitu byk bicarain ttg beginian.. hahahha...

Salam.. n sorry kalo komentnya ga berkenan.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

Adiknya iseng, ya...hehehe

Aku rasa baca karya sastra tidak terlalu sulit, hanya menginterpretasikannya saja yang agak sulit. Aku juga pernah iseng membuat cerita dengan kata-kata tidak umum, tapi tetap bisa ditemukan di KBBI.

Thread menyampah itu di forum, ya?
aku sulit kalau log-in di forum, maklum lewat ponsel.

Terima kasih...

Writer Nine
Nine at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)
100

Entah kenapa saya jdi lebih tertarik sama percakapan si Aku dan Bibi Elma, hehehe.
.
Makasih banyak sudah berbagi pendapat bang. :)
.
Cerita di dalam ceritanya juga menarik. Sayang banget karakterny ngak sampai si Z. Mudah-mudahan anggota alfabet yg lain muncul di bagian kedua. Hehehe,
.
Syalam olahraga (y)

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

Aku juga..loh? Hehehe

Eh, ya.

Aku awalnya berpikir untuk menceritakannya sampai Z, tapi tidak nemu-nemu idenya. Yah, sampai di M aja. Idemu akan kupertimbangkan.

Salam, eh? Olahraga?

Terima kasih

Writer azkashabrina
azkashabrina at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)
90

Eh, ini seriusan bersambung? Kirain tadinya tulisan bersambung itu semacam ironi buat tulisan si kakak-adik yang belum selesai, terus dinasihati Bibi Elma untuk diselesaikan, trus eh ternyata tulisan ini pun nggak selesai... Kirain kayak semacam pesan tersirat gitu. Ternyata sayanya lebay ya? Hehehe...
.
Ya udah karena masih bersambung, saya nunggu sambungannya aja deh, hehehe...

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

Ya, ini bersambung....

Awalnya aku pikir akan menyelesaikan cerpen ini sampai tuntas, tapi keadaan dan waktunya tidak memungkinkan. Jadi aku simpan saja kelanjutannya untuk nanti.

Sabar menunggu, ya...

Terima kasih

Writer kemalbarca
kemalbarca at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

haha, aku juga mikir gitu XD

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

saya juga sempet mikir gitu, tapi saya (sok) polos aja deh, hehehe, kali beneran ada sambungannya :p

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)
100

oh, elqi... XP
si aku dan si kakak perempuan seakan unsur yang jadi ciri khasmu, seperti kucing dl cerita2nya HM.
ga tau ah mau komen apa lagi, cuman merasa sepertinya "demam"mu ga berefek buruk, malah sebaliknya.
dan, sayang ceritanya diakhiri dg Bersambung....
yeah, saya sadar ini bukan contoh komentar yang baik dan benar, hehe :P

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

Benarkah? :)
Aku rasa juga demikian, dan semoga saja "demam" ini terus berlanjut untuk beberapa lama. Bahkan selamanya.

Terima kasih

Writer kemalbarca
kemalbarca at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)
90

berkomentar itu ternyata susahnya minta ampun ya, pasti ada aja yang salah, haha
agak ironis juga karna aku gak bisa berkomentar banyak soal penulisanmu yang kayaknya (sejauh yang aku tau) gak ada kesalahan sama skali, detail karakter juga dijelaskan dengan baik
kaget juga setelah sadar ini ternyata cerita bersambung
tapi bagus deh, biar dirimu sering posting lagi
soalnya kemudian udah mulai rame :D

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

Hore, ada Kemal mampir...

Asal komentarnya disampaikan dengan baik, aku rasa tidak ada yang salah akan hal demikian...
Semoga saja aku bisa melanjutkan cerita ini, yah semoga saja...
Terima kasih :D

Writer hidden pen
hidden pen at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)
80

salam kenal dan anggap aku gk ada karena tak tau komentar yang baik dan mumpung lagi pengen belajar aku coba komen ya kk shin dan maaf bila tidak berkenan. Bener kata kakak! Aku salah paham tentang membuat anak dan membuat karya. Pikiran jahatku muncul ketika membacanya. Mengenai cara berkomentar yang baik sepertinya yang kudapatkan di karya kk. Cara menjadi pembaca dan penulis yang baik. Karena si aku sadar akan perbedaan karya sastra. Hhmm sepertinya begitu pendapatku maaf bila tidak berkenan. Yapz kaburr.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

Udah muncul kok disuruh untuk tidak dianggap, namanya tidak menghargai dong? :)
Bagian pertama itu emang sengaja, karena aku tidak tahu bagaimana membuat awalan untuk cerita ini. Jadi aku beri sedikit jebakan bernada komedi di sana...hehehe
Aku tidak menyalahkanmu karena berpikir jahat. Tenang saja.
Ngomong-ngomong kamu baca sampai kata "bersambung" belum?
Bahkan ide utama yang kupikirkan masih belum muncul (ok, ini agak jahat)

Eit! Jangan kabur, kamu belum bayar pajak! :v
Dan terima kasih telah berkunjung....

Writer hidden pen
hidden pen at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

Setelah aku kembali ternyata bersambung ya. Aku gk jadi kabur dan pengen lihat kelanjutan si aku dan kakak. Tetap semangat nulis ya kk shin.

Writer ilham damanik
ilham damanik at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

Belum selesai ya? Oke deh, aku nitip jejak dulu ya :)

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Cara Berkomentar yang Baik (6 years 19 weeks ago)

Maaf tadi ada kesalahan teknis saat copy-paste.
Terima kasih telah berkunjung. :)