Kekosongan Langit Malam

Gadis itu melangkahkan kakinya cepat pada sebuah jalan setapak sempit yang membelah hutan. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, seolah takut ada yang mengikutinya. Indra pendengarannya begitu sensitif terhadap suara langkah kaki yang mengikuti di belakangnya. Sekalipun itu adalah suara langkahnya sendiri yang bergema di jalan kecil yang membelah hutan. Ia baru bisa bernapas lega ketika memasuki daerah yang ramai dipadati manusia. Memang benar jika cara terbaik untuk memnyembunyikan selembar daun adalah dengan meletakkannya di dalam hutan.

 

Seulas senyum cerah menghiasi wajahnya. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk memperhatikan. Semua orang yang ada di sini tampak hibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa orang berdiri di bawah selembar kain usang yang menjadi atap mereka. Berbagai macam barang dan buah-buahan segar di letakkan dalam keranjang-kerang besar. Sementara orang-orang yang lain mengerumuni tenda-tenda itu, mencari barang yang diperlukan. Suasana memang sedikit riuh dengan suara yang bersahut-sahutan. Tapi gadis itu menyukainya. Seolah ia baru saja memasuki dunia baru yang tidak pernah diketahui sebelumnya.

 

Langkah gadis itu terhenti saat melihat seseorang yang di carinya. Orang itu sedang berhenti di bawah sebuah tenda yang menjual buah. Setelah memilih sebutir apel yang tampak berkilau, lelaki itu menyerahkan beberapa keping koin emas kepada pria berjenggot putih di hadapannya. Pria itu tersenyum senang lalu berujuar terima kasih. Sementara lelaki yang membeli apelnya berjalan meninggalkan tenda itu sambil mengusapkan apel pada pakaiannya, kemudian menggigitnya dengan nikmat.

 

Tanpa menunggu lama, gadis itu bergegas mengikuti langkah-langkah lebar lelaki itu. Tapi begitu keluar dari area pasar, ia kehilangan jejak. Hanya terlihat seorang pria penjual air dengan ember-ember yang dipikul dengan galah di bahunya. Kepalanya celingukan dengan kening yang berkerut dalam. Di tengah kebingungan yang melanda, matanya menatap seekor kuda berwarna hitam dengan bulu yang mulus mengkilap mencerminkan kasih sayang pemiliknya.

 

“Jora!” Gadis itu memekik senang sambil memeluk erat leher kuda itu. Telapak tangannya yang halus membelai leher kuda itu penuh kasih sayang. Kuda hitam itu meringkik senang. Seolah memahami perasaan gadis di dekatnya. “Ya. Aku juga merindukanmu,” bisik gadis itu. Lama ia memeluk kuda kesayangan lelaki yang dicarinya tadi. Hingga tidak memedulikan suasana sekitarnya.

 

“Pu, putri Kejora?”

 

Sebuah suara menarik paksa gadis itu dari dalam tumpukan kerinduan. Ia mengangkat wajah dan mendapati seorang lelaki berdiri tegap lima langkah dari tempatnya. Lelaki itu terperangah. Mulutnya menganga seolah baru saja melihat hantu. Sebutir apel yang tinggal separuh menggelinding ke tanah di dekat kakinya.

 

“Bintang!” Gadis itu tersenyum lebar lalu berlari menghambur ke dalam pelukan lelaki itu. Ia tampak tidak peduli pada ujung gaunnya yang menjuntai dan terseret di atas tanah. “Syukurlah kau baik-baik saja.”

 

“Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya lelaki bernama Bintang itu. Suaranya gugup dengan lengan yang bergerak kebingungan antara ingin membalas pelukan gadis itu atau tidak.

 

Kejora menjauhkan tubuhnya dari Bintang. Ia menatap lelaki itu sambil memberengut. “Aku mencarimu... dan Jora tentu saja. Sudah tiga bulan kalian tidak pernah lagi datang ke danau. Ada apa sebenarnya?”

 

“Bagaimana cara Anda keluar istana?” Alih-alih menjelaskan kepada Kejora, Bintang malah mengajukan pertanyaan lain. “Oh— jangan-jangan....”

 

Kejora menganggukkan kepala sambil tersenyum membenarkan dugaan Bintang. Mereka berteman sejak masih kecil. Dan selama itu, mereka sama-sama menyadari bahwa Kejora memiliki kemampuan aneh yang menjadi rahasia mereka berdua hingga saat ini.

 

“Apa Anda sudah memastikan bahwa tidak ada yang melihat saat Anda melakukan itu?”

 

“Kenapa kau tiba-tiba bersikap formal seperti itu?” protes Kejora dengan bibir yang mengerucut kesal.

 

“Tentu saja saya harus menghormati seluruh anggota kerajaan yang keluarga saya layani secara turun temurun,” jawab Bintang sambil menunduk hormat.

 

Sejak ratusan tahun yang lalu, keluarga Bintang memang sudah melayani kerajaan dengan penuh kesetiaan. Ayahnya adalah seorang panglima perang. Sementara ibunya adalah seorang juru masak handal di dapur kerajaan. Saat Bintang masih kecil, ibunya sering membawanya ke istana untuk memperkenalkan keluarga yang akan ia layani ketika dewasa nanti. Dan sejak itulah Bintang bertemu dengan Kejora dan mereka bersahabat hingga sekarang... atau setidaknya hingga tiga bulan yang lalu.

 

“Jangan membuatku ingin tertawa!” sergah Kejora cepat. “Apa yang mengubahmu hingga tega membiarkanku kesepian?”

 

“Seperti yang Anda ketahui, Putri Kejora. Usia saya sudah menginjak tujuh belas tahun. Jadi, saya sudah  resmi menjadi anggota prajurit kerajaan,” ujar Bintang memulai ceritanya. “Dan saya sudah menjalani latihan selama tiga bulan terakhir ini.”

 

“Aku akan menunggu kalian seperti biasa malam ini.” Kejora berkata dengan tegas. Tidak peduli pada penjelasan yang dikatakan Bintang.

 

“Mohon maaf. Tapi saya tidak bisa menemui Anda lagi, Putri Kejora.”

 

“Berhenti bersikap formal, Bintang!” Kejora melipat tangannya di depan dada. Ia menatap tajam ke arah puncak kepala lelaki itu yang terus tertunduk. “Tapi jika kau memang menganggapku sebagai anggota keluarga kerajaan, seharusnya kau menyadari bahwa ini adalah perintah dari salah seorang putri raja.”

 

Bintang mengangkat kepalanya terkejut lalu menatap Kejora. Tapi cepat-cepat ia kembali menunduk dan berkata, “saya tidak mungkin menemui Anda tanpa keperluan penting yang berhubungan dengan kerajaan. Tapi saya bisa mengantar Anda pulang ke istana sekarang.”

 

“Tidak!” tolak Kejora cepat. Ia berbalik untuk memeluk leher kuda yang diberi nama dari potongan namanya itu. “Aku bisa kembali ke istana tanpa diketahui siapapun. Tapi yang penting adalah aku akan menunggu kalian. Malam ini.”

 

Bintang mendengar suara penuh perintah itu. Ia juga menghitung langkah sang putri yang mendekat ke arah Jora. Tapi begitu ia mengangkat kepalanya, Kejora sudah lenyap seperti asap.

***

Suara gemerisik dedaunan dan ranting yang patah menarik perhatian orang-orang yang sedang bercengkerama di taman istana. Sedetik kemudian, terdengar suara berdebum diikuti pekikan seorang gadis yang meluncur turun dari dahan pohon. Gadis itu mengaduh kesakitan sambil mengusap pantatnya yang terasa sakit karena mendarat lebih dahulu.

 

Sementara orang-orang di sekitar taman yang pada awalnya menaruh perhatian, langsung memalingkan wajah begitu melihat siapa yang terjatuh. Mereka mengenakan pakaian seperti yang dikenakan gadis itu. Tapi tatapan mereka mencemooh. Bahkan sebagian memilih pergi seolah tidak mengenali gadis itu sama sekali.

 

“Kekacauan apa lagi yang kauperbuat, Kejora?”

 

Gadis itu mendongakkan kepalanya ketika mendengar hardikkan itu. Ia mendapati tiga orang gadis yang lebih tua darinya sedang berdiri angkuh di hadapannya. Bayangan tubuh mereka menutupi cahaya matahari yang tadi menerpa Kejora.

 

Sebenarnya, tadi Kejora bisa saja muncul di bagian manapun dalam istana ini tanpa menyentuh gerbang masuk. Tapi rasanya pasti mengejutkan jika ia tiba-tiba muncul dari tempat yang tidak terduga. Apalagi jika tidak ada siapapun yang melihatnya ada di tempat itu sebelumnya. Sehingga pilihan untuk terjatuh dari pohon adalah gagasan yang baik menurutnya.

 

“Selamat siang, kakak-kakakku yang cantik.” Kejora menyapa sambil tersenyum lebar dan ceria. Ia sudah terbiasa dengan tatapan sinis dan penuh intimidasi dari saudara-saudaranya. Seperti tiga orang gadis ini yang merupakan anak dari raja dengan ibu mereka masing-masing. Tidak seorangpun di antara mereka menunjukkan hubungan yang egaliter sebagai sesama anak raja dari para selir.

 

“Berani sekali kau memanggilku kakak! Panggil aku Tuan Putri!” bentak salah satu dari mereka sambil mengangkat tangan hendak melayangkan tamparan ke pipi Kejora. Tapi tiba-tiba telapak tangan itu membeku di udara di bawah tatapan Kejora. Tidak sedikitpun bisa mendekat apalagi menyentuh pipi gadis itu.

 

“Hei, apa yang kaulakukan?”

 

“Dasar anak penyihir!”

 

Mereka semua mengumpat dan berseru dengan panik. Sementara Kejora hanya bangkit dan mulai berjalan menuju kamarnya tanpa peduli pada suara-suara menyebalkan itu. Dua orang dayang-dayang yang bertugas melayaninya langsung menyambutnya di dalam kamar. Mereka langsung membagi tugas antara menyiapkan kamar mandi dan membereskan pakaian tuan mereka yang terkena noda tanah dan terkoyak karena tergores ranting pohon.

 

Sejak kecil, Kejora selalu merasa kesepian walaupun tinggal dalam istana yang megah bersama saudara yang berjumlah belasan. Tidak ada seorangpun yang mau bermain dengannya. Semua itu terjadi akibat rumor yang beredar bahwa ibunya yang meninggal ketika melahirkannya adalah seorang penyihir jahat. Sehingga semua orang memandangnya jijik sekaligus takut terkena sihir darinya. Hanya ayahnya yaitu sang raja yang mau memperhatikannya di tengah kesibukkannya memimpin kerajaan. Bahkan dayang-dayang yang melayaninya tampak terpaksa dan merasa terhina karena harus menjadi pelayan bagi Tuan Putri seperti dirinya.

 

Hingga tiba suatu hari ia bertemu dengan seorang anak lelaki yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Ia yakin anak lelaki itu bukanlah salah satu saudaranya jika dilihat dari pakaian yang dikenakan anak itu. Anak lelaki itu selalu menghabiskan waktu untuk bermain di halaman belakang istana yang berada dekat dengan dapur. Takut-takut Kejora mendekat ke arah anak lelaki itu. Segala macam penolakan dari orang di sekitarnya, terkadang membuat gadis itu merasa jijik terhadap dirinya sendiri.

 

Kejora terkesiap hingga langkahnya berhenti begitu saja. Anak lelaki itu mengangkat kepalanya saat menyadari kedatangan Kejora. Saat itu juga ia berharap agar bumi menelannya. Rasanya begitu memalukan saat anak itu mendapatinya tengah mengendap-endap.

 

“Hei.” Tanpa dinyanya, anak lelaki itu menyapanya ramah dengan tangan yang terulur. “Namaku Bintang. Siapa namamu?”

 

“Ke, kejora,” jawab Kejora tergeragap. Wajahnya tersipu saat menjabat tangan anak lelaki itu.

 

Kejora bisa merasakan tubuh anak lelaki itu menegang sesaat setelah mendengar namanya. Tiba-tiba anak lelaki itu menarik tangannya kemudian membungkuk dengan satu kaki sebagai  tumpuannya. Kepalanya menunduk takut alih-alih hormat.

 

“Mohon ampun atas ketidak tahuan hamba, Tuan Putri.” Suara anak lelaki itu sedikit bergetar.

 

“Tidak... tidak apa-apa,” ujar Kejora dengan panik. Ia menyentuh bahu anak lelaki itu dan memintanya untuk berdiri. “Aku datang menemuimu untuk memintamu menjadi temanku.”

 

Dalam sekejap, anak lelaki itu kembali membungkuk hormat dan berkata, “sesuai perintah Anda, Tuan Putri.”

 

Kejora menyandarkan kepalanya pada tepi kolam air hangatnya. Ia menghela napas panjang ketika mengingat kejadian itu. Saat itu ia dan Bintang masih berusia enam tahun. Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Rasanya ia ingin kembali ke masa kanak-kanak. Ia takut kedewasaan akan merenggut persahabatannya.

***

 

Kejora duduk di atas rerumputan hijau yang menghitam karena langit malam. Sesekali ia menoleh dan memicingkan mata ke arah bayang-bayang hitam pepohonan, tampak waspada jika ada seseorang yang datang. Tapi ia selalu menyadari bahwa yang didengarnya hanyalah embusan angin malam yang berdesir di antara ranting-ranting pepohonan. Jauh tinggi di langit sana sebuah bola bundar bersinar keperakan, bertengger dengan bangga menyinari malam yang temaram.

 

Bulan... mengapa engkau selalu sendirian di atas sana? Tidakkah kau kesepian?

 

Kejora menghela napas panjangnya. Entah mengapa sejak dahulu ia seolah bisa mengerti perasaan bulan yang selalu sendirian. Tidak ada cahaya atau bulan lain yang menemaninya di langit yang hitam pekat. Sama seperti dirinya. Terlebih sejak Bintang dan Jora berhenti menemuinya.

 

Benar juga. Mengapa lelaki dan kuda jantan itu belum juga tiba di sini? Padahal tubuh Kejora sudah mulai menggigil karena embusan angin malam. Ia menatap telapak tangannya yang sedikit demi sedikit terasa membeku. Perlahan, ia menutup telapak tangannya seolah menggenggam sesuatu kemudian membukanya kembali. Di atas telapak tangannya yang semula kosong, muncul setangkai bunga dahlia berwarna merah muda. Sudut-sudut bibirnya melengkungkan senyuman. Sementara hatinya bertanya-tanya. Benarkah yang dikatakan orang-orang? Bahwa kemampuan yang dimilikinya adalah warisan dari ibunya seorang penyihir?

 

Kejora memperhatikan danau yang tenang. Cahaya bulan terpantul di permukaan. Ia menjulurkan tangannya di depan dada. Dengan konsentrasi penuh, ia membayangkan permukaan air berubah menjadi kacau. Kemudian ia menggerak-gerakkan tangannya seolah sedang mengaduk-aduk udara. Dan seketika itu juga muncul riak-riak air yang membuat pantulan bayang-bayang bulan menjadi samar-samar.

 

Kejora menghentikan gerakannya, kemudian mulai mengedarkan pandangannya berkeliling. Tapi sosok yang ditunggunya tetap saja tidak terlihat. Ia menghempaskan punggungnya ke atas rerumputan berbantalkan kedua lengannya. Entah mengapa, ia merasa lelah dengan semua ini. Ingin rasanya ia pergi jauh dari sini. Tapi ia tidak tahu harus ke mana. Mungkinkah ia harus pergi ke bulan? Seperti impian masa kanak-kanaknya?

 

“Suatu hari nanti aku akan pergi ke bulan!”seru Kejora kala itu.

 

Bintang mengernyitkan keningnya bingung. “Untuk apa kau pergi ke bulan?”

 

“Untuk menemani bulan. Selama ini dia selalu kesepian di atas sana.” Kejora menundukkan kepalanya dengan sedih. “Dulu aku juga sama seperti bulan. Tapi sekarang ada kau yang menemaniku. Jadi maukah kau ikut bersamaku... ke bulan?” tanya Kejora. Kali ini dengan tersenyum lebar menunjukkan salah satu giginya yang tanggal ke marin malam.

 

“Tentu saja!” sahut Bintang penuh semangat.

 

Kejora tidak membual saat ia mengatkan hal tersebut. Seiring berjalannya waktu, kemampuan ajaibnya meningkat dan memungkinkan ia untuk menggapi impiannya yang satu itu. Pergi ke langit untuk menemani bulan yang kesepian.

 

“Maaf membuat Anda menunggu lama.”

 

Kejora bangun terduduk begitu saja saat mendengar suara dalam benaknya berubah menjadi nyata. Ia menoleh dan mendapati Bintang sedang menunduk ke arahnya. Tapi penampilannya tampak begitu hancur. Wajahnya tampak lebam di beberapa tempat, seolah baru saja dipukul secara membabi buta.

 

“Bintang?! Apa yang terjadi padamu?!” Kejora berseru panik melihat kondisi sahabatnya.

 

Bintang menatap sepasang mata bulat Kejora yang menatapnya khawatir. Tadi ia baru saja mendapat hukuman karena sudah melanggar salah satu peraturan bagi prajurit kerajaan yaitu larangan untuk menjalin hubungan istimewa dengan anggota keluarga kerajaan. Sepertinya ada seseorang yang melaporkan pertemuan mereka berdua tadi siang. Tapi mengatakan hal tersebut kepada gadis di hadapannya adalah pilihan yang buruk. Itu hanya akan membuat sedih sahabatnya.

 

“Katakan padaku, Bintang! Apa yang terjadi?!” Kejora masih memburu jawaban dari Bintang. Ia menggoyang-goyangkan bahu sahabatnya itu.

 

“Tadi aku terjatuh,” jawab Bintang lirih. Lebih seperti bisikan.

 

“Kau berbohong!” sentak Kejora cepat. Tentu saja ia tahu bahwa sahabatnya itu tengah berbohong. Tanpa kemampuan sihir apapun ia bisa mengetahui hal itu dengan baik. “Katakan padaku, Bintang!”

 

Bintang hanya bergeming menatap lurus ke arah permukaan danau. Sementara Kejora menatap nanar kepada sahabatnya itu di tengah keheningan. Ia merasa muak dengan sikap orang-orang yang seolah tidak memiliki hati di negeri ini. Kalau terus seperti ini, rasanya lebih baik ia pergi jauh dari tempat ini! Bersama Bintang tentu saja.

 

“Ayo kita pergi!” ajak Kejora dengan suara tercekat. Ia mencoba menelan lagi air matanya yang menyakitkan di pangkal tenggorokan. Perlahan ia mengulurkan tangannya ke hadapan Bintang.

 

Bintang tidak langsung menyambut uluran tangan Kejora. Ia  terdiam menatap tangan berkulit sepucat  bulan yang hadir di hadapannya. “Pergi ke mana?”

 

Kejora mengangkat tangannya yang lain lalu menunjuk ke arah langit malam. “Kita pergi ke sana. Seperti impian kita dahulu.”

 

Apa? Bintang memandang tidak mengerti ke arah sang putri. Lalu sedetik kemudian, ia mendengus ketika membayangkan khayalan itu. “Itu tidak akan mungkin terjadi.”

 

“Itu bisa terjadi... dengan kekuatanku,” sahut Kejora sambil menggedikkan lengannya sebagai tanda agar Bintang menggenggam tangannya.

 

Walaupun ragu-ragu, Bintang menyambut uluran tangan Kejora dan diikuti senyuman di wajah gadis itu. Kejora mempererat genggaman tangan mereka dengan menjalinkan jemari mereka, mengisi kekosongan yang menjadi jarak satu sama lain.

 

“Kau siap?” tanya Kejora yang dijawab anggukkan kepala Bintang. “Tutup matamu. Ini mungkin akan terasa sakit.”

 

Bintang menuruti perkataan Kejora. Sesaat setelah ia menutup matanya, angin berembus kencang berputar di sekitarnya. Angin itu terasa menekan permukaan kulitnya. Bahkan ia bisa mendengar suara pohon-pohon tumbang yang ada di sekitarnya. Lama kelamaan ia merasakan kulitnya seperti tergores dan terbakar. Ia berteriak begitu kencang. Terlalu kencang. Hingga ia tidak bisa mendengar apakah Kejora juga berteriak atau tidak. Rasa nyeri di tulangnya semakin menyiksa seiring angin yang menyatu dengan tubuh mereka dan membawanya memelesat ke langit.

 

Sosok dua orang itu hilang dari tepi danau. Sebagai gantinya, tampak dua titik berkelap-kelip di dekat bulan  yang lebih bersinar malam ini.

Setelah malam itu, bulan menikahkan kedua titik dengan cahaya berpendar itu. Setelah menikah, mereka melahirkan anak-anak cahaya yang bertebaran di langit malam. Sehingga bulan tidak pernah lagi merasa kesepian.

 

Sidoarjo, 9 Mei 2015

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer azkashabrina
azkashabrina at Kekosongan Langit Malam (6 years 22 weeks ago)
70

Heiyo. Heheh, sebagaimana yang dibilang sama yg lain. Ini lebih ke fantasinya sih. Malah saya pikir ini jatohnya fairy tale... Dan soal penulisan, meski cukup rapi, saya ngerasa di beberapa bagian kamu memadatkan terlalu banyak informasi. Alhasil jadinya terasa telling banget. Memang untuk cerita kayak gini butuh waktu panjang buat ngebangun latar ceritanya buat pembaca... jadi ya susah juga...
.
segitu aja deh. Maaf kalo ga berkenan ya :)

Writer Shinichi
Shinichi at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)
60

yang penting:
di carinya, di letakkan << tanpa spasi, kakak. itu "di" sebagai imbuhan.
.
mengkilap << yakin begitu? atau jangan-jangan hanya ikut dengan bentuk yang pernah kamu temukan di tulisan lain? itu imbuhan meng- (turunan dari me-) yang dipasangkan dengan kata dasar berawalan 'k'. contoh lainnya: kering, kurang, kejar, kuras, dll. apa pernah nemu bentuk mengkering, mengkurang, mengkejar, mengkuras?
.
ketidak tahuan saya rasa ditulis serangkai ._.
.
btw, ini ceritanya gimana ya? ahahahaha. fantasi kerajaan, kuda, nama-nama tokoh, apel, terus angka 17 sebagai usia bisa jadi prajurit. di negeri mana yang begitu? fantasi banget. dan penyihir pun melengkapinya. kirain beneran berdasarkan sejarah mana gitu :) btw lagi, adegan karena wajah lebam itu drama banget deh. ahak hak hak. ada pulak yang begitu sampe dikenain dialog "Kau berbohong" yang membahana oleh tokoh Kejora. serasa lebay aja reaksi Kejora.
.
overal, komentar saya senada dengan alcyon. cerita ini enggak bagus menurut saya. secara penokohan, konflik, jalan cerita, penurutan, dan greget. fantasi, mungkin pembaca fantasi berkomentar sebaliknya. sejarah, ini nggak termasuk bahkan. cerita dibangun berdasarkan hal-hal yang enggak bisa dibuktikan, faktanya, referensinya, dll. itu aja deh. perlu banyak-banyak baca lagi. mohon maaf kalau kurang berkenan. kip nulis dan kalakupand.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)
80

Sejarahnya tidak berasa. Malah tidak ada menurutku. Kalau fantasi, berasa banget malahan.
.
Cerita ini minim dialog ya, terlalu banyak narasi dan gaya penceritaanya telling sekali. Hati-hati lho, pembaca bisa cepat berasa bosan dengan format cerita seperti ini. Tapi menurutku ini bagus, kalimat-kalimatnya disusun rapi walau ada beberapa bagian yang berasa kepanjangan.
.
Untuk konflik, setuju sama Alycon. Menurutku, masalah hidup seperti itu masihlah belum cukup untuk membuat mereka berubah menjadi bintang. Kalau itu aku, akan kugunakan kekuatanku untuk mengusai kerajaan dan dunia. Kan sihirnya semakin lama semakin kuat.
.
Untuk lainnya, udah dibabat sama member lain. Jadi, sekian komentarku. Gimana tantangannya? Greget kan? *diubah jadi bintang oleh mooneye*

Writer alcyon
alcyon at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)
100

pertama : apanya yang sejarah? ini kan dongeng!?
kedua : konfliknya kurang kuat! saya gak merasa cobaan hidup yang kayak gitu membuat orang harus menjadikan diri mereka bintang? kurang kuat alasan untuk membuat mereka harus lari dari kehidupan dan berubah menjadi bintang?!
ketiga : dan kurasa unsur fantasi masih bisa terasa di cerita ini.

Writer moon eye
moon eye at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)

iya ya... hehehe. sebenarnya saya sendiri juga belum paham dengan genre sejarah.
apakah sejarah (asal-usul) dari sesuatu atau setting sejarah seperti misalnya zaman penjajahan Belanda begitu.
mohon pencerahannya.
.
ya tapi kalau mereka nggak kabur ke langit, tiap malam nggak ada bintang dong? :P
#ngelantur
.
terima kasih. semoga unsur fantasi yang terasa itu bisa berkesan untukmu :D
.
terima kasih ya atas komentar dan bintangnya :)

Writer latophia
latophia at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)
70

Aku suka ide ceritanya, walaupun merasa ini bukan sejarah sih, cuma fantasi aja...
Cara penceritaannya di bagian depan terlalu lambat menurutku (walaupun ini kyknya selera pembaca aja sih)..
.
semoga berkenan ya~

Writer moon eye
moon eye at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)

nah, tolong dongg kasih pencerahan tentang genre sejarah. mungkin ada referensi dari tulisan Kak latophia misalnya. >_<
.
terima kasih banyak atas komentar dan bintangnya. :D

Writer Nine
Nine at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)
100

Enak narasimu :)
Walaupun sy harus jujur kalau pribadi, saya tidak menemukan unsur sejarah apa pun di sini. Soalnya menurutku, sejarah itu seharusnya sesuatu yang benar-benar terjadi di kehidupan nyata. CMIIW, ini lebih merujuk kepada legenda atau cerita rakyat
.
Terlepas dari itu, caramu bercerita benar-benar asyik. Caramu juga mengemas masa kecil Kejora, kegelisahannya, dan sahabatnya Bintang, benar-benar rapi dan menarik. Ini fantasy-nya terasa sekali.
.
Di bagian awal saya menemukan typo klo ngak salah: kaiknya
.
Yah, sekian dari saya. Cerita ini tetap enak dinikmati. Mantep lah, jarang-jarang saya baca fantasi kerajaan yang mengangkat tema minor seperti ini. Biasanya kalo fantasi kerajaan, lari-larinya ke arah perang, dll. Tapi ini simpel, dan diceritakan dengan menarik.
.
Sekian dari saya, mohon maap kalau ada kata yang kurang berkenan.
.
Kamu juga ikut tantangan SFST 2015 kan? Kok seingatku kamu ngak pernah nongol di cerbung itu? CMIIW
.
Salam olahraga (y)

Writer moon eye
moon eye at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)

terima kasih, Nine :)
berarti misalnya setting ceritanya pada masa perang dunia II di Jepang begitu ya?
tokoh Kejora sebagai anak dari Jendral perang sementara Bintang adalah anak buah dari ayah Kejora. mungkin endingnya mereka meninggal karena bom Nagasaki.
Kalau seperti itu kira-kira termasuk dalam sejarah atau tidak?
mohon pencerahan. m(_ _)m
.
sekali terima kasih :D
saya memang penyuka genre fantasy ^^
.
terima kasih koreksinya. sudah dibetulkan. hehehe.
.
baik. terima kasih banyak Kak Nine sudah meluangkan waktu untuk berkunjung <3
terima kasih atas bintang dan kejoranya :D
.
Iya. benar. kebagian slot 8.
memang belum sempat meninggalkan komentar.
beberapa minggu ini cuma bisa mampir sebentar2 mengintip ke kemudiancom
jadi, sepertinya hari ini mau muncul di mana-mana hehe.
.
salam sport 7½ :P

Writer Nine
Nine at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)

Ya, dengan setting perang dunia 2 seperti yang kamu bilang, itu bisa masuk dalam kategori sejarah. Setahu saya sih, 'genre sejarah' berarti ketika membaca cerpenmu, pembaca bisa mengetahui apa-apa saja hal yang benar-benar terjadi di masa lampau. Seperti yang kamu bilang, jika settingnya diambil pada masa PD 2, berarti pembaca bisa tahu bagaimana suasana dan kejadian-kejadian penting di masa PD 2.
.
Dan terakhir saya ucapkan: Sama-sama Moon Eye :)

Writer moon eye
moon eye at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)

oh. begitu ya.
walaupun belum tentu kejadian yang ada pada cerita itu benar-benar terjadi dalam sejarah itu. jadi mungkin semacam peristiwa yang tidak dicatat sejarah ya.
sepertinya mulai sedikit paham. semoga bisa cepat paham dengan otak lemot ini hehehe.
Terima kasih Kak Nine :D

Writer hidden pen
hidden pen at Kekosongan Langit Malam (6 years 24 weeks ago)
60

HAYY moon eye.
sebenarnya udah lama kubaca tapi aku ragu untuk mengatakannya. tapi berhubung dirimu juga bingung. aku jadi tidak bingung laagi hihihi
seperti dongeng ya. enak sih bila berbicara dongeng dan kita jadi mengetahui latar belakang bintang di karyamu hehe

mungkin ceritanya kurang greget tetapi tidak apa-apa. aku tau pasti dirimu membuatnya terburu-buru karena takut deadline.
tenang nanti aku balaskan dendammu terhadap thiya. haha

Writer moon eye
moon eye at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)

hayy juga, hidden pen :D
.
iya. mohon pencerahan genre sejarah ini, Kakak m(_ _)m
aku juga ingin bisa menulis cerita bergenre sejarah.
.
balas dendamnya yang manis ya :D
.
terima kasih atas kejora dan bintangnya ^^

Writer Liesl
Liesl at Kekosongan Langit Malam (6 years 24 weeks ago)
70

Banyak kalimat tidak efektif di cerita ini yg bikin saya bacanya jd kurang semangat.
Contohnya:
Sekalipun itu adalah suara langkahnya sendiri yang bergema di jalan kecil yang membelah hutan.
Kan di kalimat pertama sudah dijelaskan kalau itu jalan yg membelah hutan.

Ia berbalik untuk memeluk leher kuda yang diberi nama dari potongan namanya itu.
Saya rasa tanpa dijelaskan pembaca tahu jora pasti diambil dr kejora.

Yah tapi itu pendapat saya saja, karena saya lebih prefer kalimat2 yg padat :)

Writer moon eye
moon eye at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)

Wah iya, benar juga. terima kasih banyak atas koreksinya <3
semoga ini menjadi ilmu bermanfaat untuk tulisan-tulisan selanjutnya :D
.
terima kasih banyak atas bintang dan kejoranya ^^
salam kenal, Liesl :)

Writer Zarra14
Zarra14 at Kekosongan Langit Malam (6 years 24 weeks ago)
90

Buat penulisan menurut saya gak ada masalah, Rapih dan enak dibaca ceritanya <3
Ada yang kurang jelas secara konten, saya juga sama bingung kyk kak benmi, kenapa kejora tau mereka bisa berubah jadi bintang? Terus di bagian ending juga saya bertanya-tanya, setelah Bintang dan Kejora menjadi 'bintang', apakah mereka masih punya self-concious? Bagaimana perasaan dan kehidupan mereka setelah berubah? Jadinya kurang ngena aja ending-nya buat saya, padahal menurut saya ini ceritanya keren hehehe.
Salam kenal moon eye maaf kalau kurang berkenan :D

Writer moon eye
moon eye at Kekosongan Langit Malam (6 years 23 weeks ago)

sama. saya juga merasa kurang greget endingnya. hehe. mereka masih memiliki self-conscious sampai Bulan menikahkan mereka. :P
banyak bagian yang saya potong sebenarnya. niatnya sih supaya ceritanya lebih padat. nanti lain kali mungkin bisa diperbaiki. kalau sekarang takutnya curang. kan ini buat TTC2015 hehehe. :D
.
Terima kasih ya atas bintang dan kejoranya :D
salam kenal juga Zarra14

Writer benmi
benmi at Kekosongan Langit Malam (6 years 24 weeks ago)
60

Jadinya ini cerita tentang sejarah terjadinya bintang kejora? Agak bingung saya pas bacanya. Soalnya fantasinya lumayan.. tp pas akhir ga cukup greget. Terutama pas bagian mereka terbang ke langit dan berubah jadi bintang. Kenapa kejora bisa tau.. apa ia mmg penyihir? Kekuatan apa saja yg ia miliki. Penulis ga jelasin disini. (Subjektif) mgkn saya doank yg bingung. Mgkn pembaca berikutnya paham.
Sekali lagi.. saya sangat menyayangkan beberapa bagian penting yg hilang itu.. sehingga sejarah asal mula bintang kejora di cerita ini bagi saya kurang meyakinkan.
Anw.. maap kalo komentnya ga berkenan.. salam..

Writer moon eye
moon eye at Kekosongan Langit Malam (6 years 24 weeks ago)

oh iya... nggak apa-apa kok... :D
saya sendiri waktu nulis dan baca ulang juga bingung. hehehe.
semoga lain kali bisa menulis yang lebih baik. sekarang masih belum paham sama genre sejarah hehehe :)
terima kasih atas bintang dan komentarnya :)