Ayah Tatiana

Padahal Tatiana sudah bilang pada Aan: jangan main Mantra Api dalam rumah! Aan malah membakar rak buku Ayah! Ayah marah. Mengamuk. Menghardik Aan anak tak tahu diri, menyuruhnya masuk kamar—tapi Aan sudah keburu lari ke luar duluan. Tatiana menjerit, “Ayah jahat! Aan kan enggak sengaja ngebakar rak bukunya!”

Lalu cepat-cepat Tatiana mencari sepatu botnya di bawah tangga. Di luar becek. Hujan semalam tidak reda sampai jam tiga pagi, berlanjut lagi siang tadi, hingga jadi gerimis sore ini. Dengan lambaian tongkat ia menyulap payung bunga-bunga seperti punya Bunda, membukanya di atas kepala, lalu berlari menyusuri jalan dengan rintik-rintik air menumpahinya. Ah, Aan, dia kan belum tahu cara menyihir benda-benda. Pasti dia bandel saja menembus gerimis tanpa perlindungan apapun. Nanti Aan pasti sakit. Dan Tatiana selalu tidak bisa tidak repot kalau ada orang yang sakit.

Di jalan Angsoka dia belok kiri. Patung kurcaci Bu Didin menyapanya. Tatiana melambai sambil lalu untuk memberitahu kalau dia sibuk. Di ujung jalan dia nyaris menginjak kucing, dan ketika menyeberangi Persimpangan Simpang-Siur dia harus menyulap lakban untuk membungkam anjingnya Ratih yang tidak henti-hentinya menyalak.

Napas Tatiana sudah mulai habis ketika rumah besar itu nampak. Pasti Aan mengadu pada Eyang lagi, seperti yang hampir selalu dilakukannya semenjak enam bulan belakangan ini, semenjak dia menyelematkan Tito, kucing terbang Eyang yang menjengkelkan itu, dari derasnya aliran Sungai Marwani. Semenjak dulu Eyang adalah nenek-nenek paling ditakuti di kota ini. Konon usianya sudah lebih dari seratus tahun, dengan rambut putih gimbal menjuntai ke mana-mana. Giginya kuning karena dia tak pernah beli pasta gigi (padahal minimarket berdiri persis di seberang rumahnya). Pekerjaannya sehari-hari adalah menyumpahi anak-anak cowok yang ketahuan mencuri mangganya. Tatiana sendiri dulu juga pernah kena semprot, ketika ia ketahuan mencuri bunga gerbra yang tumbuh di pekarangan Eyang.

Satu-satunya orang yang pernah disayang Eyang cuma Aan. Cuma Aan.

Gerbang rumah Eyang berderit ketika Tatiana dorong. Cewek itu bisa lihat jejak berlumpur di atas jalan tanah. Di teras ada sandalnya Aan. Tatiana mengetuk pintu dengan tergesa-gesa.

Setelah beberapa waktu tak ada tanggapan, Tatiana mulai cemas.

“Eyang, ini Tati!”

Tetap tak ada jawaban.

“Tati mau jemput Aan, Eyang!”

Terdengar bunyi ceklikan. Wajah suram Eyang muncul di celah pintu yang terbuka.

“Adikmu nangis begitu kamu apain, hah!?”

“Bukan aku, Eyang, Ayah yang—“

“Aan itu anak baik! Enggak ada yang boleh nyakitin perasaannya!”

“Iya, tapi bukan—“

Lalu Aan sendiri muncul di balik punggung Eyang. Mata besarnya berlinang air mata.

“Mbak Tati?” Suaranya seperti yang mau menangis lagi. “Ayah masih marah enggak, Mbak Tati?”

“Heh, ngapain ayahmu marah-marah!?”

Tatiana tak menggubris Eyang. “Habisnya kamu juga nakal sih. Kan berkas-berkasnya Ayah juga ada di rak buku itu.”

“Tapi kan aku tadi enggak sengaja...” Bibir Aan mulai bergetar.

Sebelum air mata Aan berderai lagi, Eyang cepat-cepat membawanya masuk. Tatiana mengikuti dari belakang. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi dia benci bau kamper di rumah Eyang, tapi di sisi lain dia sendiri juga malas pulang ke rumah, apalagi disambut muka jutek Ayah. Duduk di sofa, Tatiana memberanikan diri bilang pada Eyang, “Tadi di rumah, Aan dimarahin Ayah soalnya ngebakar berkas-berkas kantornya.”

“Berkas kantor? Itu kan bisa dibikin lagi.”

“Iya, tapi Aan juga salah, kan?”

“Tapi kan Aan udah bilang enggak sengaja!”

Tatiana bungkam. Aan menangis di pundak Eyang. Eyang menepuk-nepuk kepalanya. Tito muncul dari pintu dapur, mengeong, lalu terbang keluar lewat jendela. Tatiana mengerti kenapa Aan menangis sampai seperti itu: Ayah jarang marah semenjak Bunda tidak ada. Fakta kalau hari ini Ayah lepas kendali adalah sesuatu yang sangat janggal. Apalagi selama ini Aan hampir tak pernah membuat masalah: nilai-nilainya di sekolah bagus, anaknya penurut, tidak pernah membantah, dan selalu bisa berlaku manis di depan siapapun. Tatiana jadi makin merasa tak enak. Kalau saja dia tak pernah mengajari Aan cara menyemburkan api dari tongkat, insiden ini kan tak perlu terjadi.

“Aku juga sih yang salah, Eyang,” kata Tatiana, berusaha keras menjaga air matanya agar tak ikut tumpah. “Aku yang ngajarin Aan Mantra Api.”

“Siapa suruh kamu ngajarin mantra bahaya kayak gitu!?” tanya Eyang sambil menatapnya tajam.

“Enggak ada. Aku cuma pingin tau sampai sejauh mana Aan punya bakat.”

“Mantra Api itu bukan mantra sembarangan!”

“Iya, Eyang. Maaf, maaf...”

Diam sejenak sembari Aan terus terisak, menghabiskan sisa-sisa tangisnya. Tatiana merasa marah sekali. Selama ini Ayah memang selalu tampak masam, suaranya terkadang tajam, tapi mengamuk seperti tadi dan mengatai Aan anak...

Ah, itu tak termaafkan.

“Jadi Aan mau pulang enggak?” Tatiana menanyai adiknya.

“Entar Ayah marah lagi...”

“Enggak. Kamu sembunyi aja di belakang punggungnya Mbak Tati kalau enggak berani.”

Tapi mau dibujuk berapa kali pun Aan tetap tak mau beranjak. Dia bilang dia mau menginap saja di rumah Eyang sampai liburan usai. Bisa saja Tatiana menyebutkan satu per satu hal-hal di rumah Eyang yang akan membuat siapapun tak nyaman tidur di sana: bau kamper, banyak sarang laba-laba, banyak lorong gelap, nyamuknya ganas-ganas, dan kadang-kadang hantu yang tinggal di loteng rumah Eyang memainkan nada-nada sumbang di piano, nada-nada yang selalu membuat bulu kuduk Tatiana meremang. Aan tak mungkin tahan menginap lama-lama di rumah Eyang.

“Justru kalau Aan enggak mau pulang entar Ayah tambah marah,” ujar Tatiana.

Eyang menyentak, “Sudah, biar Aan tidur di sini sampai dia mau pulang!”

Akhirnya Tatiana tak punya pilihan. Di luar senja mulai turun. Tatiana ingin cepat-cepat sampai rumah, masuk kamar sebelum Ayah sadar, lalu tak keluar-keluar lagi sampai konflik ini selesai.

Tapi nyatanya Ayah malah duduk-duduk di teras. Menunggunya.

“Habis dari mana kamu?”

Tatiana tak menjawab. Mengangkat hidung, menyeruak masuk ke dalam tanpa menengok Ayah. Enam langkah panjang dan cepat dan tangannya bisa memutar kenop pintu kamar. Ayah dengan cepat mengekor di belakang. Tapi sebelum Ayah sempat melakukan apa-apa, Tatiana sudah membanting pintu sekeras yang ia bisa.

Gedoran Ayah memekakkan telinganya.

“Siapa ngajar kamu banting pintu kayak gitu!?”

“Diem! Aku enggak pingin denger Ayah ngomong lagi!”

Punggungnya merosot pada pintu, hingga terduduk. Cahaya senja menyorot melalui gorden jendelanya yang tersibak, memberi berkas warna oranye pada lantai.

“Aan sekarang enggak mau pulang gara-gara Ayah!”

“Berkas-berkas Ayah semuanya ada di situ! Ayah bisa dapat masalah kalau berkasnya enggak bisa diperbaiki!”

“Itu salah Ayah juga! Siapa suruh berkasnya ditaruh di rak? Berkas penting tuh disimpen dalam laci, dikunci, dimantrai!”

Tak ada jawaban dari Ayah, sampai beberapa jenak kemudian, “Bukan cuma berkas kantor aja, Tati. Di sana kan juga ada buku-buku Ayah, buku-buku Bunda.”

“Hah, ngapain sih buku-buku tua kayak gitu disimpen? Bikin debu aja! Bagus kalau Aan bakar sampah kayak gitu!”

“Apa? Kamu bilang apa tadi?”

Tatiana tahu dia telah salah ucap. Cepat-cepat dia alihkan pembicaraan, “Yang jelas Ayah tuh alay. Kan enggak perlu sampai marahin Aan kayak gitu.”

“Kamu kira Ayah enggak bisa sakit hati!?”

Ada dentuman di belakang Tati. Mungkin Ayah meninju pintu. Terdengar langkah kakinya menjauh. Lama-lama hening. Sementara langit kian menjingga dan menjingga.

***

Malamnya Tatiana terbangun. Jam weker di samping kasurnya menunjukkan pukul 11.20. Tatiana kepingin pipis.

Tatiana membuka pintu dan berjingkat di lorong. Terang. Hah? Ayah belum tidur? Ia berjalan sampai melewati pintu ruang depan, yang terbuka sedikit. Dia berhenti dan berbalik lalu mengintip.

Di sana ada tiga orang: Aan, Ayah, Eyang.

Mendadak keinginan pipis Tatiana lenyap. Ia semakin mendekatkan matanya pada celah pintu. Tak salah. Aan menggenggam tangan Eyang, setengah tersembunyi di belakang punggungnya. Eyang sedang berbicara pada Ayah. Ekspresinya serius. Tapi suara wanita itu pelan sekali. Tatiana tidak bisa mendengar. Ayah mengangguk-ngangguk. Tak seguratpun kemarahan pada wajahnya. Mukanya masam seperti biasa. Setelah entah berapa lama, akhirnya Eyang berhenti bicara.

Ayah mengecup punggung tangan Eyang. Khidmat. Lalu Tatiana mendengar Ayah mengucap terima kasih: sudah menjaga Aan, sudah mengantarnya pulang. Tatiana rasa Eyang bahkan hampir tersenyum. Ia mengecup puncak kepala Aan sebelum berbalik dan pergi. Ayah menutup pintu.

Sekarang di dalam ruangan cuma ada Aan dan Ayah. Aan menunduk. Ayah menatap Aan. Ekspresi wajahnya susah Tatiana tebak. Tatiana sudah bersiap masuk ke dalam ruangan kalau Ayah terbukti memarahi Aan lagi.

Tapi ternyata tidak. Ayah berlutut di depan Aan. Dengan lembut dagu Aan ia angkat, sejajar dengan wajahnya. Mereka tak mengatakan apa-apa. Lalu Ayah tersenyum. Ia mengusap dahi Aan dan memeluknya.

Sudah cukup. Sudah cukup yang Tatiana lihat. Pelan-pelan ia berjingkat lagi ke kamarnya. Pintunya berderit pelan ketika ia tutup. Semoga Aan dan Ayah tidak dengar. Kalau tadi sore cahaya senja yang menyorot masuk, malam ini sinar bulan memberi nuansa lembut pada dinding kamarnya yang berwarna biru laut.

Ia menjatuhkan diri ke kasur. Menatap nanar pada langit-langit. Pikirannya hampa selama beberapa saat. Lalu dia teringat. Membuka laci nomor dua dari meja kecil di samping tempat tidurnya, mencari-cari sebentar, lalu dalam sorot cahaya bulan mengangkat foto tipis itu hingga tepat di depan matanya. Waktu itu Aan belum ada. Tatiana baru tujuh atau delapan tahun. Bunda masih bisa tersenyum di foto ini, bersanding dengan Ayah yang wajahnya lebih cerah. Mereka kelihatannya bahagia sekali—Tatiana tahu kalau semua orang memang tampak bahagia dalam foto. Tetap saja. Berusaha menekan perasaan menyesal itu dalam-dalam, Tatiana mengingatkan diri kalau Bunda pergi bukan salah Aan. Mungkin salah dia juga. Kalau dulu dia tidak senakal itu, mungkin Bunda tak akan kelelahan. Kalau Ayah bisa lebih mengurus diri...

Kalau... kalau... kalau...

Tatiana berbisik pada sosok Ayah dalam lembar foto itu, “Ayah... kenapa Ayah enggak nyari Bunda baru lagi aja sih?”

Mungkin Ayah pikir Tatiana tak akan rela. Mungkin Ayah pikir Tatiana belum bisa melepas Bunda. Padahal dalam benak Tatiana Bunda tersenyum bahagia: kan tak perlu lagi ada makanan yang harus dia masak, tak perlu lagi ada baju yang harus dia cuci, tak perlu ada Tatiana yang harus dia marahi, tak perlu ada Ayah yang sakit maag, tak perlu ada bebungaan yang minta disiram, tak perlu ada tetangga biang gosip, tak perlu ada malfungsi tongkat, tak perlu ada peri rumput menyebalkan, tak perlu apapun lah.

Sekarang semuanya jadi tertimpa pada Ayah. Mungkin Ayah capek. Mungkin Ayah tidak bisa tidak mengamuk sore tadi.

Lama Tatiana baru bisa tertidur setelahnya.

Tepat sebelum kesadarannya hilang, tebersit dalam benak Tatiana: besok dia harus minta maaf pada Ayah.

9 Mei 2015

AA
 
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer izaddina
izaddina at Ayah Tatiana (7 years 9 weeks ago)
90

Halo, salken. Aaak, suka sama SoL-nya, deh! Cuma entah mengapa unsur fantasi yang diselipin di sini terkesan... err, maksa? /duh abaikan aja/

Kayaknya pendapatku udah sama kek para sesepuh yang ngomen cerita ini sih, wakakak (maksudnya males nulis). Jadi numpang vote aja ya. Ahihi.

Writer azkashabrina
azkashabrina at Ayah Tatiana (7 years 18 weeks ago)
80

Kayaknya saya juga merasa ini ada yang kurang. Apa, ya? Hehe..
.
Mungkin... mungkin karena kerangka cerita yang SoL itu jadi agak banyak detail gara-gara kamu menyelipkan perintilan fantasi. Perintilannya itu sih saya suka, lucu, paduannya pas dan enggak terasa dipaksakan. Tapi ketika masuk ke narasinya, jadi agak bertele-tele rasanya. Nggak semenggigit ceritamu biasanya, gitu...
.
Yah itu aja sih dari saya. Maaf kalau salah kata. Mangats! :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ayah Tatiana (7 years 18 weeks ago)
90

Wow, fantasi. Akhirnya Rian membuat cerpen bergenre ini juga (kan itu gara-gara kamu!).
.
Cerpennya nikmat, kayak cerpen kamu biasa. Untuk SoL-nya, dapatlah! Kisah seorang anak labil dan agak sedikit sadis ( jadi teringan sama Ita di Depresi Mama) yang sadar akan sifat egoisnya dan menyesal kepada Ayah.
Saya agak bingung dengan Aan, dia ini umur berapa sih? Kok kayaknya dimanja banget ama eyang? Cucunya kah?
.
Untuk fantasi, sebenarnya masih berasa kabur. Setting dan latar kekuarga Tatiana masih belum dijelaskan sehingga agak buram untuk saya hayati ceritanya. Menurutku, fantasi di sini berasa Indonesia sekali. Apalagi dengan panggilan Mbak dan Eyang itu.
.
Untuk lainnya, saya gak bisa komen apa-apa, cukuplah. Lagian, udah dibahas sama member lain juga.
.
Jadi, bagaimana tantangannya? Enak? *disihir api oleh Rian*

Writer moon eye
moon eye at Ayah Tatiana (7 years 19 weeks ago)
90

hai, rian :)
.
ceritanya bagus dan 'dapet' kok. kenapa nggak pede? hehehe.
.
Tito kucing bersayap ya... jadi inget Exceed seperti Happy, Sharuru, Lily Panther dari anime Fairy Tail. hehehe.
.
Jam [weker] di samping kasurnya menunjukkan pukul 11.20.
untuk penulisan weker itu yang bener yang mana ya? saya bingung. /garukgarukkepala
di KBBI yang bener 'beker'. tapi entah kenapa rasanya lebih pas 'weker'. saya mengira kata asalnya 'waker (pembangun)'
#teori ngawur
.
oke sekian dan semoga berkenan :)
semangat :D

Writer Nine
Nine at Ayah Tatiana (7 years 19 weeks ago)
100

Enak, sol-nya dapet, fantasinya, menurutku ngak terlalu kental, tpi udah pas kok untuk cerita yang sedih begini. Emang, lebih enak kalo fantasy-nya ngak nonjol banget. Mungkin pas di bagian Tatiana ngejar Aan bgusnya dia pke sapu terbang, biar rada2 penyihir gitu.
.
Saya menikmati ceritanya dan narasinya jga mantaf (y)
.
Sekian, mohon maap kalo ada yg kurang berkenan.
.
Salam olahraga (y)

Writer nycto28
nycto28 at Ayah Tatiana (7 years 19 weeks ago)
90

Hai, rian :)
Slice of life dan fantasi; genre yang mirip dengan cerita yang ketemu keluarga kelinci itu (maaf, saya lupa judulnya).
Kalau masalah slice of life, rian mah jangan ditanya lagi, emang udah ahlinya ^^ Jadi, nggak bisa banyak komentar soal yang ini. Slice of life memang biasa menggunakan konflik datar; tantangannya bagaimana membuat cerita slice of life menjadi menarik.
Nah, tapi fantasinya agak kurang; seperti hanya sebagai identitas tambahan untuk Tatiana dan keluarganya. Serta kurang dijelaskan mengapa mereka bisa menggunakan mantra sihir, apakah mereka penyihir atau penghuni dimensi dunia lain. Kalau dibanding cerita yang ada keluarga kelincinya, cerita ini kurang fantasinya. Namun, saya memuji cara rian untuk menampilkan unsur fantasi di bagian awal cerita. Mungkin karena saya terbiasa membaca cerita rian yang tidak berunsur fantasi, narasi di awal terasa janggal. Sama kayak sensasi baca Harry Potter lalu setelahnya baca The Cuckoo's Calling (analogi yang aneh ._.; tapi semacam itulah)
Secara keseluruhan, cerpen ini bagus, baik dari teknik maupun karakterisasinya. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, kurang greget.
Maaf kalau komentar saya kurang berkenan :)
Terus berkarya :D

Writer rian
rian at Ayah Tatiana (7 years 14 weeks ago)

Dirimu masih inget cerita kelinci-kelinci itu? Oh, wow, terima kasih, ya, Nycto:D

Pas nulis ini sebenernya saya memang enggak mau menonjolkan unsur fantasi atau gimana-gimana. Intinya tetap tentang keseharian sebuah keluarga, mirip sama cerita saya yang lain-lain, cuma dikasih bumbu fantasi dikit-dikit supaya sesuai sama kriterianya Thiya. Mengenai kenapa Tati dan keluarga bisa punya kekuatan sihir enggak penting untuk saya ceritakan, karena di sini mereka itu keluarga normal dilihat dari konteks penyihir. Lagian juga enggak ada tempat untuk nyelipin informasi kayak gitu.
Makasih, ya:D

Writer hidden pen
hidden pen at Ayah Tatiana (7 years 19 weeks ago)
100

korban thiya selanjutnya ya, sayang orangnya gak ada di sini hihihi

hebat bener bang, mengenai penyihir ya. jadi ingat film HARRY POTTER. kenapa gak pede kak rian? ceritanya bagus loh.

sekian dari saya, maaf bila tak berkenan ya kak.
kabuurrr

Writer rian
rian at Ayah Tatiana (7 years 14 weeks ago)

Ini rencananya pingin saya kembangin lagi sih, Kak Hidden, siapa tau bisa jadi serial semacam yang ada di majalah-majalah itu, menceritakan keseharian keluarga penyihirnya. Bukan kayak Harry Potter. Di ceritanya Tati enggak ada Voldemort lah, haha.
Makasih, ya:D

Writer Liesl
Liesl at Ayah Tatiana (7 years 19 weeks ago)
80

Slice of life dan fantasinya sama2 dapet :)
Ceritanya juga mengalir, enak dibaca tapi konfliknya cenderung datar buat saya. Penokohannya jg bagus, menampilkan sisi baik dan buruknya tapi kurang apa ya.. Kurang greget gitu, entahlah saya jg bingung jelasinnya. Tipe cerpen yg enak dibaca tp gampang dilupakan juga, semoga pembaca lain nggak
Maaf kalo ga berkenan komentarnya..

Writer rian
rian at Ayah Tatiana (7 years 14 weeks ago)

Itu juga yang jadi masalah saya sama cerita ini. Kurang gereget di bagian mananya gitu. Enggak membekas. Makasih udah berkunjung:)

Writer Zarra14
Zarra14 at Ayah Tatiana (7 years 19 weeks ago)
90

Suka ceritanya, perpaduan yang mantap <3
Paling yang mau saya komentarin sisi slice of life kerasa lebih dominan dibanding fantasinya, terus ceritanya agak datar dan boring karena kurang konflik yang berarti. Tapi saya suka pesan yang diajarin di sini, jangan kasar sama orangtua dan orangtua juga bisa lelah mengurus kita T_T
Secara keseluruhannya ceritanya keren :D

Writer rian
rian at Ayah Tatiana (7 years 14 weeks ago)

Kurang konflik yang berarti, ya? Oke! Masukan ditampung. Sebenernya enggak ada maksud masukin pesan tapi pesannya nyelip gitu aja. Enggak sadar malah, hehe.

Makasih, ya.

Writer latophia
latophia at Ayah Tatiana (7 years 20 weeks ago)
90

Tito ini beneran kucing bukan sih? Awalnya mau protes kenapa kucing terbang bisa tenggelam.. ngapain dia deket-deket air? Tapi di belakang diceritakan Tito terbang keluar jendela, padahal hari sedang hujan, jadi kupikir mungkin Tito emang suka air ga kayak kucing kebanyakan :D

Ceritanya rapi, ngalir, yang aku kurang suka karena tokohnya nyebelin semua: Ayah sama Eyang galak, Tatiana terlalu manjain Ann dan ga manis sama ayahnya, Aan terlalu manja. Bukan salah penulis sih, karena udah dijelaskan penyebabnya, ayah yang tertekan, Tatiana yang dipaksa jadi peran ibu padahal masih kecil.. cuma selera pembaca aja sepertinya :)

Semoga berkenan dengan komentarnya ya :)

Writer rian
rian at Ayah Tatiana (7 years 14 weeks ago)

Itulah. Kan maksudnya ini mau nyeritain keluarga penyihir yang disfungsional gitu. Gara-gara si Bunda meninggal, Ayah jadi pemurung, Tatiana terlalu over-protective sama adiknya, Aan enggak punya sosok panutan dari kecil. Rencananya ini mau dikembangin lagi jadi semacam serial.
Makasih ya udah mampir:)

Writer benmi
benmi at Ayah Tatiana (7 years 20 weeks ago)
90

Slice of lifenya dapat.. dan fantasinya juga lumayan dapat..
Bingung.. kok penulisnya ga pede... hahahhaha...
Tdnya saya mau kasi nilai full tp gr2 penulisnya merasa ga dpt.. saya yg baca jg jd ragu sendiri..
*abg labil... hahhahah...
Anw.. sorry kalo komentnya ga berkenan...

Writer rian
rian at Ayah Tatiana (7 years 14 weeks ago)

Enggak pede karena cerita ini pas ditulis terasa lempeng aja gitu. Standar. Tapi syukurlah kalau suka:D