Fehye

“Ayah, Ayah, Ele benar-benar boleh memilih apa saja?”

Gadis cilik berambut tembaga itu memeluk lengan Ayahnya. Terusan putih yang ia kenakan selembut sutra, terbelai halus tiap terkena hembusan angin. Ayahnya berpenampilan berantakan dan terlihat kelelahan namun masih menampakkan wajah yang sama lembutnya dengan puterinya.

“Tentu, Elena sayang. Akan Ayah belikan segala hal yang kamu inginkan.”

“Yey! Terima kasih, Ayah!”

Elena melompat kecil. Kaki-kaki mungilnya dengan cepat menelusuri tiap seluk-beluk toko tua itu. Di bagian papan permainan, boneka manusia, mainan masak-masakan, permainan balok pasang, hingga bagian boneka hewan. Kaki mungilnya berhenti ketika manik hijaunya menatap sebuah boneka beruang di bagian rak paling atas. Matanya berkilat, jarinya menunjuk si beruang.

“Ayah, Ayah! Ele mau yang itu!”

Ayah Elena mengambil dan memberikan boneka itu kepada Elena. Bulu cokelat emas beruang itu menyentuh kulit Elena. Lembut, halus, hangat; persis pelukan Ayahnya. Tidak henti-hentinya Elena membelai dan memeluk boneka itu.

 “Mau kamu beri nama apa boneka itu?”

“Um… Fehye!”

Elena menyayangi Fehye, lebih dari apapun yang pernah diberikan Ayahnya. Begitupula dengan Fehye.

Ia menyayangi Elena, lebih dari apapun di dunia.

Dari dulu, hingga sekarang.

 

***

 

Fehye tetap menyayangi Elena, sampai sekarang. Walau bulu emasnya sudah memudar. Walau tumpukan debu di tubuhnya semakin menebal. Walau ia sudah tidak dipedulikan dan terlupakan di kolong tempat tidur Elena. Elena memberikan Fehye rumah dan Fehye tidak akan pernah lupa akan hal itu.

Hanya satu yang Fehye inginkan. Terus berada di sisi Elena.

Menjadi boneka yang terlupakan dan mengusang di kolong tempat tidur, menatap keluar jendela adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukannya. Setiap hari, setiap waktu. Ia selalu menantikan malam karena bintang terlihat pada saat itu. Entah sejak kapan, bintang kembali mewarnai kelamnya malam. Bukan lagi di saat-saat Elena baru membelinya, di mana yang terlihat hanya langit gelap dan bulan.

Fehye layaknya remaja yang jatuh cinta. Memikirkan Elena tiap saat. Tiap jam, menit, detik. Membayangkan wajahnya tiap kali ia rindu. Memanggil namanya tanpa henti. Sama seperti sekarang.

Elena, Elena, Elena…

Tringg!!

DUUKK!!!

“OUCH!!”

Sekejap, kolong tempat tidur Elena yang luas terasa sempit. Fehye tidak mengerti. Apa tempat tidur Elena mengecil? Fehye merasa posisinya sangat tidak nyaman. Andai ia bisa menggerakkan badannya… BISA! Fehye bisa menggerakkan lengannya! Bukan hanya itu saja, lengan Fehye yang hanya bulatan cokelat berubah seperti tangan manusia! Fehye bisa menggerakkan lehernya!

“Woah, apa yang ter—!!! AKU BISA BICARA!!!”

Ini tidak bisa dipercaya! Sangat sulit dipercaya!! Fehye yang sudah menghabiskan—entah berapa tahun—hidupnya sebagai boneka, kini sudah berubah menjadi manusia! Fehye berusaha membebaskan dirinya dari kolong kasur yang sudah memerangkapnya sangat lama. Berhasil! Sekarang, ia mencoba untuk berdiri dengan kedua kakinya. Kedua kakinya! Bukan lagi bulatan cokelat berbulu emas! Ia sekarang punya kaki!

Fehye mencoba untuk melompat. Bisa! Ia berputar dan putar; sama ketika dulu dilakukan Elena ketika ia sangat senang. Berlarian ke sana, ke mari; Fehye mulai mahir dengan tubuh barunya. Hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah cermin. Kedua mata cokelatnya melebar melihat sosok di hadapannya. Seorang remaja laki-laki bertubuh tinggi, tegap, berambut ikal cokelat emas, berbaju kodok dan sangat.. berdebu.

“I-i-itu.. a-a-aku…. aku jadi manusia! AKU JADI MANUSIA!!”

Fehye berjingkrak lebih tinggi lagi. Ia sekarang seorang manusia! Manusia tulen, sama seperti Elena! Tapi, bagaimana bisa? Apa ini keajaiban sebuah cinta? Fehye tidak tahu dan ia tidak ingin repot-repot mencari tahu. Ia seorang manusia sekarang. Artinya, ia bisa menemui Elena yang sudah amat sangat dirindukannya!

Fehye celingak-celinguk. Ia mencari sosok yang ia rindukan itu, namun yang ia dapati sebuah kamar yang amat kotor. Sarang laba-laba di mana-mana, debu tebal, cat tembok mengelupas, suasana pengap dan sesak. Ini bukan kamar Elena. Kamar Elena selalu bersih. Namun, Fehye mengenali semua perabot yang tampak usang di kamar ini. Semua milik Elena.

Elena pasti berada di tempat lain. Dengan pengendalian tubuh yang mulai mahir, Fehye keluar dari kamar Elena. Ia berlari menuruni tangga di depan kamarnya. Ia masih ingat betul saat-saat Elena membawanya ke mana pun ia pergi. Fehye ingat seluk-beluk rumah Elena. Ia mencari Elena di setiap sudut rumah. Kondisi rumah Elena sama usangnya dengan kamarnya. Namun, secermat apapun Fehye mencari, Elena tidak ditemukan.

Ke mana gerangan gadis kesayangannya itu?

Fehye pergi menuju halaman. Elena senang bermain ayunan di sana. Mungkin, Elena di sana. Sama halnya dengan rumah Elena, halaman itu sama tidak terurusnya. Bunga-bunga kesayangan Elena tinggal rantingnya. Ayunan Elena tergeletak di tanah, tersuluri tanaman merambat.

Apa yang telah terjadi? Fehye mendadak merasa khawatir. Di mana Elena-nya? Apa dia baik-baik saja?

Fehye berlari keluar rumah. Mungkin Elena berada di toko permen, persis kebiasaannya. Namun, jalanan kota pun sudah tidak ia kenali. Kalaupun tanah yang ia telusuri masih bisa ia sebut jalanan. Reruntuhan bangunan berada di mana-mana. Sekalipun ada yang bisa dihuni, bangunan tersebut bentuknya sangat aneh. Seperti bulat telur. Semakin dalam ia menelusuri kota, semakin tidak sedap bau yang menusuk hidungnya. Kota yang biasa beraroma lavender itu sudah tidak ada. Tidak ada lagi keluarga yang biasa berjalan-jalan di tengah taman. Tidak ada lagi manusia yang berjalan santai di trotoar. Tidak ada lagi klakson mobil yang menunggu kemacetan. Tidak ada lagi yang ia ingat masih sama seperti sekarang.

“Apa kau?”

Fehye tersentak. Suara perempuan! Ternyata masih ada manusia di kota ini! Fehye memutar tubuhnya. Bahunya langsung melesak ketika mendapati gadis di belakangnya bukanlah Elena.

“Kau melihat Elena?” tanya Fehye.

Gadis itu berjalan mendekati Fehye. Fehye tidak mengenalinya. Cara berjalan gadis itu sangat anggun. Kulitnya berwarna pucat, mengenakan terusan sutera putih, bermata biru langit dan rambut putihnya terurai bebas. Sekilas, ia mirip dengan Elena.

“Apa kau?” Gadis itu mengulang pertanyaannya. Manik mata birunya berkilat janggal.

“Fehye,” jawab Fehye cepat. “Kau melihat Elena?”

Error,” gumamnya.

Gadis itu berjalan mendekati Fehye. Dia menatap Fehye dari dekat; di wajahnya, badannya, belakang tubuhnya. Wajahnya terlihat kebingungan sekaligus sangat penasaran. “Kau ini apa?” tanyanya dengan nada ingin tahu. “Mengapa kau bisa keluar dan punya tubuh?”

Hal itu juga yang ingin Fehye ketahui. “Aku tidak tahu.”

“Kau milik Andesa mana? Mungkin aku bisa membantumu menemukan Andesa-mu dan menyimpanmu kembali di tempat seharusnya,” kata gadis itu. Ia tersenyum untuk melunakkan suasana.

Fehye merasa canggung sekaligus bingung. Andesa? Apa itu sebutan untuk manusia sekarang? Tapi ia bukan milik Andesa. Ia milik seorang manusia bernama Elena.

“Aku milik Elena. Tapi Elena bukan Andesa.”

“Tidak mungkin kau milik Elena.”

“Hah?”

“Elena bukan Andesa, maka kau pasti bukan milik Elena. Mari, kubantu cari Andesa-mu.”

            Tangan gadis itu menarik tangan Fehye. Ia dibawa berlari menyusuri kota. Gadis itu berlari dengan kaki telanjang. Rambut putihnya mengikuti hembusan angin.

“Namaku Remi. Kau?”

“Sudah kubilang, aku Fehye.”

Mata Remi berkilat janggal. “Oh, Fehye itu namamu? Pantas aku tidak mengerti.”

“Remi, Andesa itu apa?”

Alis mata Remi terangkat. “Kau tidak tahu apa itu Andesa?”

Fehye menggeleng.

“Andesa itu robot penyimpan memori manusia, seperti aku.”

Mata Fehye membesar. Gadis di depannya ini sebuah robot? “Tapi robot itu kan.. terbuat dari besi dan kotak-kotak. Kau lebih mirip manusia daripada robot, Remi.”

Remi tergelak. “Aku jadi ingin tahu kau punya Andesa mana. Kau pasti memori yang sangat lama.”

“Memori? Tapi aku bukan memori.”

Remi melirik Fehye. Matanya berkilat janggal, lagi. Ia tersenyum simpul. “Kau sebuah data memori. Komputerku sudah memastikannya berkali-kali. Kau seratus persen sebuah memori.”

“Tapi aku sebuah boneka. Boneka beruang,” Fehye tetap menyangkal.

“Hm, kau sungguh aneh. Fisikmu seperti manusia dan komputerku mengatakan kau sebuah memori tapi kau mengatakan kau sebuah boneka beruang. Kau membingungkanku.”

Fehye mengangkat bahunya. “Aku juga bingung. Omong-omong, kita mau ke mana? Aku tidak mengenali kota ini lagi. Semuanya berbeda.”

“Tentu saja berbeda. Sekalipun perang dunia ketiga baru 100 tahun yang lalu berakhir, dampaknya masih amat mengerikan sampai sekarang. Bahkan manusia…”

“Manusia...?”

Remi menggeleng. “Lupakan.”

Omong-omong tentang manusia..

“Remi, apa kau mengenal Elena? Di mana dia?”

Remi tidak mempedulikan pertanyaan Fehye. “Ayo, sebentar lagi kita sampai.”

Mereka tiba di sebuah bangunan berbentuk bulat telur. Bangunan itu berpendar kebiruan. Banyak tulisan dan angka yang terus bergerak di dinding luar bangunan itu. Remi mengaitkan jemarinya di tangan Fehye dan tangan Remi satu lagi menyentuh bangunan itu.

“Bangunan di masa sekarang bentuk seperti ini. Tapi, yang satu ini seperti pusat informasi. Semua data Andesa ada di sini. Manusia yang biasanya tersesat di kota, kubawa ke sini agar bisa menemukan Andesa-nya. Baru kali ini aku membantu sebuah memori.”

“Aku masih bingung. Sebenarnya, apa yang telah terjadi, Remi? Dunia manusia yang kuingat tidak seperti ini. Andesa, perang, bangunan ini; aku tidak ingat ada hal-hal seperti ini.”

Remi tersenyum pada Fehye. Ia merasa maklum. “Kau pasti memori dari dunia yang masih damai. Aku sudah bilang kan, 100 tahun yang lalu perang dunia ketiga berakhir? Perang itu adalah perang terburuk sepanjang sejarah manusia. Populasi manusia tinggal seperempatnya. Yang hidup pun harus bersusah payah agar bisa terus bertahan hidup. Radiasi nuklir, krisis makanan, bahkan manusia juga kesulitan mendapat keturunan. Kemudian, agar bisa terus bertahan hidup, manusia menciptakan tubuh baru. Tubuh yang tidak terbuat dari darah dan daging, tapi mesin. Manusia mengganti tubuhnya dengan Katase. Usia manusia yang terbatas, potensi terserang penyakit; manusia sekarang sudah tidak mengalaminya lagi. Secara teori, manusia sekarang abadi.”

Fehye tersentak. Sebanyak itukah hal yang ia lewatkan? Lalu, bagaimana Elena? Apa yang ia menjadi korban perang atau malah menjadi manusia yang mengubah tubuhnya dengan mesin—menjadi Katase?

“Namun, bukan berarti tidak ada harga yang harus dibayar dengan tubuh abadi seperti itu,” Remi melanjutkan. “Manusia di zaman sekarang harus merelakan semua memorinya untuk dapat menjadi Katase. Katase mempunyai data penyimpanan yang sangat sedikit—semuanya habis dimakan tempat untuk jiwa manusia. Itu sebabnya, Katase tidak punya kenangan. Efeknya, mereka lebih dingin dibanding robot seperti kami, Andesa. Kenanganlah yang membentuk emosi dan perasaan. Mereka hanya punya data yang terprogram; apabila data mereka overload sedikit saja, mereka bisa error dan tersesat, seperti manusia yang biasa kubantu.”

“Lalu, Andesa yang menyimpan semua memori manusia yang menjadi Katase?”

Remi mengangguk. “Ya! Wah, aku baru tahu kalau memori juga memiliki akal. Andesa memang tidak memiliki data penyimpanan sebanyak manusia tapi tetap lebih besar dibanding Katase karena kami tidak harus menyimpan data jiwa manusia. Manusia harus memilah memori mana yang ingin mereka simpan di Andesa sebelum berganti tubuh. Memori manusia yang ada di dalam Andesa bisa dilihat Andesa tersebut lalu menceritakan beberapa kepada Katase. Meski nantinya Katase tersebut harus cepat-cepat menghapus memori yang baru saja diceritakan. Dan lagi, Katase dan Andesa-nya biasanya bersama-sama; Andesa menjadi semacam penjaga untuk Katase.”

Kepala Fehye terasa berat. Semua informasi ini sangat sulit untuk dicernanya. Katase? Andesa? Memori? Fehye tidak ingin tahu tentang semua itu. Ia hanya ingin tahu beradaan Elena-nya.

“Lalu, Elena—“

“Aneh. Aku tidak bisa menemukan Andesa-mu.”

“Karena aku milik Elena!” kata Fehye tegas. Ia sudah cukup dengan penjelasan tidak penting tentang Andesa. Dia hanya ingin tahu keberadaan Elena. Apa itu terlalu sulit. “Apa kau melihatnya? Kumohon, beritahu aku. Aku tidak peduli apa itu Andesa, Katase; aku cuma mau tahu di mana Elena. Bertahun-tahun aku menunggu kesempatan agar bisa menemuinya, berdoa tiap harinya agar bisa melihat wajahnya; sekarang kesempatanku telah datang. Kumohon...”

Remi melepaskan tangannya dari bangunan telur itu. Wajah ramahnya terkejut. Ia baru menyadari sesuatu. “Pantas aku tidak menemukan Andesa-mu.”

“Tentu saja! Aku sudah mengatakan kalau—“

“Aku lah Andesa-mu.”

Tangan yang mengait jemari Fehye sekarang sudah berada di depan dada Fehye. Sebuah katup terbuka di tangan Remi. Fehye merasakan ada tarikan yang sangat kuat dari tangan Remi.

“Harusnya daritadi kubuka memori Elena. Datamu mirip dengan boneka beruang milik Elena. Kau harus cepat kusimpan.”

“Kau.. Andesa Elena? Elena menjadi Katase?!” Kedua tangan Fehye mencengkeram lengan Remi. “Kumohon, bawa aku kepadanya. Sekali.. sekali saja!! Aku mohon!!”

“Tidak bisa.”

Fehye merasakan dadanya semakin sesak. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Kenangan yang ia lalui bersama Elena berkelebat di kepalanya. Rasa sesak di dadanya semakin penuh.

“Aku ingin melihatnya…”

Air mata Fehye jatuh.

“Aku ingin melihatnya.. cukup sekali..”

Tidak apa… sekali saja sudah cukup...

“…”

“Aku ingin mengatakan betapa… betapa aku merindukannya…”

Senyumnya. Tawanya. Pelukan hangatnya.

“…betapa aku tidak pernah lupa..”

Ketika Elena menemukanku mengusang di sudut toko…

“…juga tidak pernah merasa benci…”

Ketika Elena melupakanku di kolong tempat tidur…

“…a-aku… me-menyayanginya… se-selalu…”

Tanpa Remi sadari, air matanya telah menetes.

“A-apa ini?” Remi melepaskan tangannya dari Fehye. “A-air mata?”

Sebuah Andesa sepertinya menangis? Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Apa ini rasanya tersentuh? Apa ini rasanya sedih?  

Fehye sudah jatuh berlutut di hadapannya. Tubuhnya samar-samar. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Kepala Fehye mendongak. Mata cokelatnya berkilat tulus. “Tolong… bawa aku.. pada Elena…”

Mengabaikan perintah nomor satu di programnya, Remi akhirnya setuju membawa Fehye pada Elena. “Baiklah, tapi aku tidak mau tanggung risikonya.”

“Terima.. kasih..”

Remi menggendong tubuh Fehye melintasi kota. Ia gunakan kecepatan penuh, khawatir jika terlambat, Fehye tidak akan sempat bertahan. Ia sudah menyerap 80% data memori Fehye.

Remi membawa Fehye di depan sebuah bangunan masih berbentuk bulat telur. Remi masuk ke dalamnya. Ruangan di dalamnya berwarna serba putih. Di tengahnya, seorang gadis duduk tegap di sebuah kursi.

Itu Elena.

“ELENA!!”

Fehye menghambur kepada Elena. Ia peluk kuat gadis kesayangannya itu. Dicarinya rasa hangat pada diri Elena, namun yang ia dapati hanya dingin yang pekat. “Elena?”

Ditatapnya gadis yang selalu ia nantikan itu, namun yang ia temukan hanya wajah datar tanpa emosi. Ke mana wajah lembut Elena?

“Elena? Ini aku, Fehye. Beruang kesayanganmu, kau ingat? Kau membeliku di sebuah toko tua pada ulang tahunmu yang ke-6. Kita terus bersama-sama sejak saat itu…”

“…”

Mata hijau Elena yang berkilat hangat sudah tidak ada. Yang ada hanya manik hijau tanpa jiwa yang menatap lurus-lurus pada Fehye.

“Elena, kau ingat tidak saat kita bermain ayunan? Atau ketika kau membuat kue ulang tahun diam-diam untuk Ayahmu? Ayahmu marah sekali saat itu karena kau mengacaukan dapur. Tapi Ayahmu langsung menyesal ketika melihatmu menangis kemudian menghiburmu dengan memainkanku…”

Tidak ada respon.

Fehye tidak putus harapan. “Bagaimana ketika kau pertama kalinya jatuh cinta? Kau pasti ingat kan? Kau menyukai teman sekelasmu. Kau bilang, dia laki-laki paling pintar dan tampan yang pernah kau temui. Tiap malam kau menceritakan padaku semua hal mengenainya…”

 Elena tetap diam. Terdengar derit kepala Elena yang bergerak. “Remi, singkirkan dia. Dia sebuah memori.”

Remi bergeming di tempatnya. Ia masih ingin memberikan Fehye waktu untuk bersama Elena.

Fehye masih berusaha mendapatkan perhatian Elena. “Elena, Elena, kau pernah mengatakan kau menyukai mataku kan? Bagaimana? Aku masih punya mata cokelat yang manis kan?”

Elena masih tidak merespon.

Remi benar. Katase lebih dingin dibanding Andesa. Manusia yang menjadi Katase bukan lagi manusia. Mereka tidak punya kenangan, terlebih emosi. Menyadari kenyataan pahit itu, air mata Fehye kembali menetes. Fehye memeluk Elena, lagi. Ia tidak peduli tidak ada lagi rasa hangat yang ia dapatkan. Ataupun tawa berlagu yang biasa ia dengar. Dia sudah menemui Elena, bukan?

Bukankah hanya ada satu hal yang ingin Fehye katakan pada Elena?

“Elena… ternyata memang benar kau sudah lupa… tapi kau menyimpan semuanya kan? Semua memori tentangku kau simpan pada Remi kan?” Fehye membelai rambut kecokelatan Elena. “Aku masih ingat kok, semuanya… tiap detilnya… aku janji tidak akan pernah lupa…”

Fehye merasakan tubuhnya melemah. Badannya semakin transparan.

“Elena… aku menyayangimu… dari dulu hingga selamanya…”

Tangan Remi membuka katupnya, Fehye kembali terhisap ke dalamnya. Kali ini, tidak ada lagi yang tersisa. Fehye persis menjadi data di dalam Remi. Data berharga yang bahkan Remi jarang membukanya.

“Sudah kusimpan memorimu, Elena.”

“Ya.”

Elena tetap terduduk kaku di tengah ruangan. Remi berlutut di hadapannya. Ia menyentuh tangan Elena. “Elena, mau kuceritakan kenanganmu?”

“Tidak. Aku tidak mau dengar.”

Remi tersenyum. Senyum yang sirat akan kesedihan.

“Perintah diterima.”

Dibelainya lembut tangan dingin Elena. Ah, andai Elena ingat betapa indahnya sebuah kenangan itu.   

 

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer black1ce
black1ce at Fehye (6 years 39 weeks ago)
70

agak bingung tapi paham.. konsepnya.. .. ..keajaiban yg bertentangan dngn konsep universe nya..

Writer daniswanda
daniswanda at Fehye (6 years 40 weeks ago)
80

Nice. Lebih keren lagi kalo jadi novel

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Fehye (7 years 4 days ago)
90

hai, nycto.
sebelumnya jadi pengin nyanyi dulu .... Andesa andesi labora bora bori :v
saya bingung soal fantasi dan scifi-nya (genre ini memang ketinggian buat saya :/), lagi pula di balasan komentar pun penulis masih perlu menjelaskan banyak hal lagi. mungkin memang bentuknya sebaiknya cerbung atau novel sekalian, supaya penjelasan susulan itu dapat tempat juga di cerita.
terlepas dari bangunan dunia fantasi/scifi-nya yang saya gagalpaham, entah kenapa saya dapet emosinya. rasanya saya menyukai sosok Fehye ini malahan, yang tampaknya lincah, polos, dan periang (andaikata dia berada dalam situasi lain). kerinduannya pada Elena dan peristiwa temu kangen yang menyedihkan itu juga ... menyedihkan ._.
selain itu, walau bangunan dunia dan tokohnya berkesan anime-ish, tapi saya salut sama penceritaan yang begitu rapi. iri, malahan, kayaknya dari SMA sampai sekarang pun saya belum bisa serapi itu, heuheuheu.
semoga terus semangat menulis, ya :)

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 4 days ago)

Wah, mbak Dayyyyy X"D
Hem... mungkin memang lebih enak dijadikan cerbung biar lebih jelas cerita dan latarnya. Sepertinya di sini saya gagal menampilkan latar dengan lengkap .-.
Terima kasih atas komentarnya, mbak Day XD

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Fehye (6 years 51 weeks ago)

samsam, nycto :)
saya mau bilang di sini lagi ah: salut ngedraf sampai 10x!!!!!!!!!!
jadi kesentil buat nyoba segigih itu juga, hehehe.
kasih jempol yang banyak X)
ddddd*_*bbbbb

Writer FaraniD
FaraniD at Fehye (7 years 14 weeks ago)
90

Keren, cuman saya pribadi agak tidak menikmati cerita ini. Maksud saya, masih banyak part yang kosong, sehingga menimbulkan tanda tanya ketika membaca ceritanya.

Overall, bagus cuman itu aja masalahnya :))

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 4 days ago)

Terima kasih atas komentarnya :)

Writer citapraaa
citapraaa at Fehye (7 years 18 weeks ago)
90

keren, dua2nya dapet.. tapi penjelasannya membingungkan ._.

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 18 weeks ago)

Maaf ya membingungkan ._.
Terima kasih atas komentarnya :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Fehye (7 years 18 weeks ago)
90

Bingung mau komentar apa. Secara sci-fi memang masih ada yang bolong-bolong. Secara fantasi, ini cukup memuaskan bagi saya.
.
Agak gimana gitu dengan Elena yang tiba-tiba menjadi dingin di akhir. Aneh, jadi di masa itu manusia lebih dingin dari robot kan? Terus bagaimana mereka berkembang kalau begitu. Menurutku, solusi mengubah manusia menjadi robot itu agak kurang enggg... gimana ya, logis aja. Berasa kayak nonton Sasori yang mau mengubah dirinya menjadi boneka. Sampai tamat juga, dia tetap mendamba kasih sayang walau pun hanya punya jantung (sisa kemanusiaannya yang masih ada). Duh... maaf, saya malah ngelantur nih.
.
Intinya ini baguslah, semua tercampur dengan baik. Lagian, kalau saya yang dapat genre serupa belum tentu sebagus ini.
Nah, sekian cuap-cuap saya.
See ya, nycto :)

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 18 weeks ago)

Iya nih, masih banyak yang bolong T.T
Saya mau meletakkan ironi di sana, jadi begitulah. Berkembang dalam hal apa ya?
Ohya, Sasori! Baru ingat saya :D
Iya, ya mirip juga, hehe
Terima kasih atas komentarnya :D

Writer rian
rian at Fehye (7 years 18 weeks ago)
80

Ah, Nycto, saya kurang suka sama tulisanmu yang ini. Terlalu melodramatis untuk selera saya (padahal sendirinya juga nulis gitu, huhuu), dan bagian terakhirnya ngingetin saya sama selang-seling adegan flashback di film-film melodrama. Ini subjektif. Pembaca lain mungkin suka yang begitu
*
Masalah sci-fi saya enggak bisa komentar banyak. Enggak ngerti apa-apa soalnya, he. Cuma saya agak kurang sreg aja sama alasanmu kenapa Fehye bisa berubah jadi orang betulan. Kalau memang itu karena kenangan dan memori dan segala macamnya itu, apa itu artinya benda-benda lain juga bisa berubah jadi orang? Kalau gitu kenapa si Andesa masih kaget aja sama kejadian kayak gini, mengingat mestinya ini udah pernah terjadi sebelumnya, dan kalaupun belum mestinya si Andesa inisiatif untuk nyari tau kenapa dia bisa berubah jadi orang. Siapa tau kalau boneka-boneka lain bisa berubah juga kan bumi bisa diperbaiki sama boneka-boneka itu, hehehe.

Dan saya juga bertanya-tanya kenapa gampang banget Fehye ketemu andesanya Elena. Andesa-andesa yang lain ke mana? Kenapa si Andesa itu keliaran di kota yang sepi?
*
Sekian aja sih komentar saya. Gaya bahasamu kayaknya masih sama kayak yang terakhir saya baca: mirip terjemahan, simpel, rapi, enak dibaca

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 18 weeks ago)

Terima kasih atas komentarnya, rian :D
Karena nggak semua perasaan itu tulus, dan Fehye itu kejadian langka, bukan dikarenakan manusia mulai melupakan kenangannya makanya banyak kenangan yang bisa mengambil bentuk. Di program Andesa, Fehye dianggap data "lari"; maksudnya gagal kirim atau keluar dari Andesanya karena error. Jadi Remi menganggap bukan sebuah prioritas kenapa Fehye bisa berubah tapi prioritas dia, di mana Andesa Fehye :)
Seharusnya ada satu potongan yang ada dalam cerita tapi tidak jadi saya masukkan. Elena itu salah satu ilmuwan yang membuat Andesa dan Remi punya program lain yang khusus, yakni mengantar Katase yang tersesat kepada Andesa-nya. Makanya, Remi bisa bebas keliling kota. Toh, Elena nggak bakal ke mana-mana. Ohya, Andesa lain nggak punya tugas spesifik seperti Remi jadi kebanyakan tinggal bersama Katase di dalam rumah.
Maaf banyak bolongnya cerita ini T.T

Writer moon eye
moon eye at Fehye (7 years 19 weeks ago)
100

hai, nycto28 :)
bingung mau komentar apa ya.
bagus banget ini. penggabungan antara sci-fi dan fantasinya semua punya porsi yang pas.
untuk EyD dll sepertinya sudah dibahas sama yang lain ya.
jadi, cukup sekian dan semoga berkenan.
semangat :D
.
suka sama ceritanya <3

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 18 weeks ago)

Terima kasih atas komentarnya :D
Kamu juga semangat :3

Writer alcyon
alcyon at Fehye (7 years 19 weeks ago)
100

ini bagus, sangat bagus.
konsep fantasi dan sci fi nya ter mix dengan sempurna.
saya gak bisa komen lagi, udah sangat bagus bagi saya.

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Terima kasih atas komentarnya, alcyon :)

Writer Nine
Nine at Fehye (7 years 19 weeks ago)
100

Wow, keren!! Menjadikan boneka seperti manusia, dan manusia menjadi boneka. Saya nangkapnya Fahye itu adalah boneka yg secara ajaib menjelma menjadi manusia, iya kan?? Soalnya ngak ada penjelas soal Fahye tiba2 jdi manusia dan bisa menangis (mungkin ini bagian fantasinya). Untuk unsur sci-fi, ini udah dapet. Walaupun sebenarny scifi-ny ngak punya landasan teori yg kuat, seperti teori apa yg dipakai pada saat mentransfer jiwa ke dalam katase. Seakan-akan dibuat begitu saja, simsalabim. Tpi idenya memungkinkan kok secara ilmiah (subjektip) mungkin yg dipindahkan ke dalam katase jgan pakai bahasa "jiwa", tapi kata "kesadaran" menurutku lebih terdengar ilmiah.
.
Saya menemukan typo: banguna (selamat mencari)
.
Ada juga kalimat yg menurutku janggal: "tiap jam, menit, detik." Mungkin ini bgusnya ditulis "tiap jam, tiap menit, tiap detik" krna sy rasa dengan bgitu akan terdengar lebih dramatis. Tpi ini subjektif
.
Kalau penjelasan tentang teori2 katase itu dibeberkan baik2, unsur sci-finya pasti jdi lebih kuat. Seperti teori2, dan sistem katase itu sendiri (teknisnya)
.
Sekian dari saya, cerita ini menarik dan enak dibaca, salut lah sama kamu.
.
Mohon maap kalau ada salah paham dan kata2 yg kurang berkenan.
.
Salam olahraga (y)

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Hai, Nine
Nggak ajaib langsung jadi juga. Pernah dengar benda kalau udah berumur bisa bertuah? Konsepnya seperti itu. Kenangan yang kuat mengambil sebuah bentuk dan memiliki emosi.
Nah, makanya saya lemah sci fi ._.
Saya bingung mau pakai teori mana, belum tentu konsepsi kesadaran (menggunakan istilahmu, terima kasih :) "kesadaran" terdengar lebih tepat dibanding "jiwa") bisa diubah menjadi data yang bisa ditransfer ke sebuah medium (Katase). Jadi, yah, di situ letak kekurangannya. Tapi, saya pernah dengar proyek semacam itu sedang dilakukan. Kalau tidak salah, namanya "Avatar". Saya berandai di masa depan, kesadaran manusia bisa diubah menjadi data byte; berhubung juga sudah ada yang memulai penelitiannya.
Terima kasih atas komentarnya :)
Salam olahraga juga

Writer Nine
Nine at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Hooohh, Oke2 saya ngeh sekarang kenapa si Fahye bisa hidup. :)
.
Sama2 mba :)

Writer latophia
latophia at Fehye (7 years 19 weeks ago)
100

ini sci-fi sama fantasinya dpt semua, trus ceritanya juga bagus,.
btw awalnya kupikir si fehye itu berubah secara fisik macem film TED Mark Wahlberg gitu..tahunya dia cuma memori ya jd bisa kesedot gitu ya?

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Hai, latophia :)
Wah saya belum nonton filmnya
Secara data, Fehye itu hanya sekumpulan memori maka bisa diubah ke data byte yang bisa disimpan di Andesa
Terima kasih atas komentarnya

Writer Liesl
Liesl at Fehye (7 years 19 weeks ago)
90

Saya bukan penggemar sci fi, tapi saya sangat menikmati cerita ini. Ceritanya unik dan endingnya pait tp itu yg justru ngebuat cerita ini jd lebih berkesan buat saya :)
Yg saya penasaran sehari2 itu katase ngapain ya. Cuma duduk2 sajakah tanpa bisa ngapa2in?

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Di masa awal Katase baru muncul, mereka masih seperti manusia; melakukan aktivitas manusia (minus makan, mandi), melanjutkan pekerjaan mereka. Lama-kelamaan, mereka malah jadi sering overload, banyak yang tersesat. Karena posisi Andesa-Katase ini seperti majikan-pembantu, mereka jadi memberikan pekerjaan mereka kepada Andesa. Makin lama, mereka makin seperti robot dan untuk menghindari overload, kebanyakan dari mereka duduk-duduk saja sambil menunggu Bumi baik kembali.
Terima kasih atas komentarnya :)
Salam kenal, Liesl :)

Writer hidden pen
hidden pen at Fehye (7 years 19 weeks ago)
100

hay nycto. Aduh bener kata fehye. Hal itu amat sulit kupahami . Andesa katase. Scifinya kental banget. Top dech buat nycto. Juga tentang akhir perang dunia ketiga dan bagaimana kehidupan manusia setelahnya. Hmm fantasy banget. Awalnya kupikir aneh juga jika boneka bisa berubah jadi manusia dan prosesnya juga kayaknya masih gak jelas. Tapi berhubung fantasy jadi hal itu menjadi keunikan di cerpen ini. Ehm pendapatku loh ya. Maaf bila tidak berkenan.

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Hai, Kak Hidden :)
Proses Fehye bisa jadi manusia itu letak fantasinya. Kenangan yang kuat pada akhirnya bisa mengambil bentuk. Tadinya mau munculin peri atau bintang jatuh.. tapi terlalu klise. Haha. Ini juga klise sih #plak
Terima kasih telah mampir, nanti saya juga mampir ke lapakmu; abis tugas saya selesai :)

Writer Zarra14
Zarra14 at Fehye (7 years 19 weeks ago)
100

Salam kenal nycto :)
Penulisannya rapih, ngalir, plot-nya juga oke. Fantasi dan Sci Fi sama-sama dapet. Isi ceritanya oke, bikin saya terharu dan berkaca-kaca T-T
Robot yang punya perasaan... Bagian Remi si robot (Andesa) yang menangis itu gak logis bagi saya, mungkin teknologi saat itu memungkinkan robot bisa nangis? (ada storage air mata atau entah apa) tapi bagi saya tetep kerasa aneh.
Yang janggal juga, kalau manusia berubah jadi mesin, mereka gak bisa bereproduksi dong? padahal dicantumkan kalau populasi manusia tinggal sedikit )kecuali kalau mereka emang ingin jumlah mereka tetap statis)
Maaf saya malah mikir sendiri haha dan dan maaf kalau kurang berkenan :D

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Salam kenal juga Zarra :)
Saya juga hampir berkaca-kaca ketika membuatnya :')
Um, mungkin karena penjelasannya kurang jelas, saya jelaskan di sini saja ya :)
Tadinya, Andesa itu android biasa yang benar-benar sengaja dibuat menyerupai manusia dan 'seolah-olah' punya emosi makanya bisa luwes gitu, nggak kaku. Jadi.. mereka bisa menangis jika kondisi yang mereka hadapi sesuai dngan perintah di program mereka. Namun, karena perang, mereka beralih fungsi menjadi Andesa sekarang ini.
Dan itu juga sengaja, semakin membuktikan bahwa transisi antar manusia dan robot sedang terjadi; manusia makin mirip robot dan sebaliknya.
Kalau Zarra perhatiin, abis PD III, di dunia alter ini, manusia susah reproduksi, hampir di taraf udah nggak bisa lagi. Jadi, sampai Bumi-nya bisa ditinggali manusia dengan tubuh asli mereka (yang lagi dibekuin di suatu tempat yang aman), mereka tetap berada di Katase dan memori mereka berada di Andesa. Katase itu tindakan memperpanjang hidup manusia yang tersisa.
Nggak apa-apa kok, Zarra. Yang bagian ini emang nggak diceritain karena nggak ada hubungannya di cerita dan kalau mau dinyelipin juga aneh karena nggak ada nyambungnya sama ceritanya. Yah, kekurangan saya juga sih, kurang mampu menjelaskan hal rumit karena cuma dibatasi 3000 karakter.
Terima kasih atas komentarnya :D

Writer Zarra14
Zarra14 at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Saya gampang mewek soalnya TwT
Oooh begitu ceritanya, udah dipikirin detailnya juga yah, mantaps, sekarang saya udah terpuaskan (?)
Ngerti kok kalau nulis cerita itu seringkali harus mengesampingkan beberapa rincian, malah saya selalu luput di ngejelasin detail, jadi saya pikir cerita ini bakal keren kalau detailnya lengkap (y)

Writer ilham damanik
ilham damanik at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Akhirnya istri-istriku sudah saling kenal :)

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 19 weeks ago)

-_____-"
sadar, bang, sadar! saya bukan istrimu!

Writer Zarra14
Zarra14 at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Yuk bakar ilham bareng-bareng :))

Writer ilham damanik
ilham damanik at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Tidaaaakk!!!

Writer ilham damanik
ilham damanik at Fehye (7 years 20 weeks ago)
100

Awalnya ngebosenin tapi pas dibagian Fehye jadi manusia baru mulai berasa :D makin diikuti makin terasa sensasi fantasinya hahah aku gak tau mau kritik apa, feel nya ngena bgt walaupun ini cerita fantasi
Untuk keseluruhan cerita ini sangat bagus, aku suka sekali doraemon

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 20 weeks ago)

Terima kasih atas komentarnya ^^
Doraemon? *keinget lagu opening doraemon*

Writer ilham damanik
ilham damanik at Fehye (7 years 19 weeks ago)

-_-

Writer benmi
benmi at Fehye (7 years 20 weeks ago)
100

Sci fic iya... fantasi iya...
Sampai akhir penceritaannya dingin... n jelas... deskripsi tmpt jg jelas... walau aku ga suka akhir ceritanya tp aku akui ceritamu bagus.. hahahha...
Sorry kalo komentnya ga berkenan..

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 20 weeks ago)

Jadi dingin ya? Hiks, apalah aku penulis yang kurang emosi pada cerita sendiri T.T
Terima kasih atas komentarnya :D

Writer benmi
benmi at Fehye (7 years 19 weeks ago)

Bukan kurang emosi.. tapi pas.. hahhaha...
Kepala dingin... penulis disini cukup seimbang menurutku.
Penceritaannya dan emosinya.. dpt.. tp ga lebay n berlebihan... hahhaha..
Tp rupanya kata2ku bisa bermakna lain.. hahhah..

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Fehye (7 years 20 weeks ago)

Oke, pertama yang hanya ingin mengatakan. Cara memisahkan tag-nya menggunakan koma (,)
Semoga bisa diperbaiki. Soalnya biar saya juga mudah mencari cerpen-cerpen kalian nanti :)

Writer nycto28
nycto28 at Fehye (7 years 20 weeks ago)

Terima kasih atas pemberitahuannya :D
Baru tadi nemu komen yang serupa di tempat lain dan baru saya ganti
Maklum, nggak ngerti ^_^"