Sabtu Malam

Malam baru mulai turun saat Tara meneleponku. Aku masih setengah terlelap menjawabnya.

“Kamu di rumah, Sayang?” Suara Tara berdesis terdengar buru-buru. Aku mengangguk sebelum sadar dia tidak melihatnya.

“Iya, Sayang. Kenapa?”

“Matikan lampu, kunci pintu dan jendela, tunggu aku pulang dan jangan keluar!” Lampu rumahku tak ada yang menyala karena aku tertidur dari sore. Dan kurasa pintu depan belum kukunci.

“Kenapa sih, Sayang? Ada maling?”

“Bukan maling tapi zombie. Buruan lakukan yang kuminta! Aku serius!” Tara langsung menutup teleponnya. Aku mengucek mataku. Entah aku masih bermimpi atau salah dengar. Ini baru seminggu aku menikah, baru seminggu menempati rumah baru yang baru lunas DPnya, malam minggu pertama malah ditinggal istri arisan RT, dan sekarang ada zombie?! Tapi memang sudah waktunya aku bangun, jadi aku bangkit juga. Kulonggarkan otot-ototku sejenak, lalu dengan malas kuintip jendela. Wooow… istriku ternyata tidak bercanda.

Ini pertama kali aku melihat zombie seumur hidupku. Makhluk itu berkulit pucat dengan pembuluh darah berwarna merah gelap menonjol dari kulitnya, mukanya menyedihkan dengan tatapan mata kosong berkantung dan mulut terbuka yang meneteskan liur. Zombie pertama yang kulihat sedang memanjat tiang lampu jalan yang menyala dengan kikuk. Berkali-kali dia naik lalu kembali melorot ke jalanan. Lalu zombie kedua lewat. Hanya berjalan begitu saja dengan kepala miring, tatapan kosong ke depan, kaki tersandung-sandung. Sama sekali tidak tampak menakutkan. Lalu zombie ketiga, keempat, kelima, keenam… Aku merasakan perutku mulai mual menghitung zombie-zombie itu.

Sebuah taksi berhenti di rumah tetangga depan, seorang pria turun kemudian menutup pintu taksi dengan cukup keras. Brakk! Tiba-tiba zombie-zombie itu menggila. Mereka mengejar, menangkap, menggigit pria itu seperti gerombolan piranha menangkap mangsa. Terdengar teriakan pria malang itu. Taksi berdecit melarikan diri dengan beberapa zombie mengejarnya. Mendengar teriakan, beberapa orang keluar, beberapa yang lain melongok dari jendela. Merasakan gerakan manusia hidup, zombie-zombie itu berlarian ke berbagai arah menghampiri mereka yang ingin tahu. Menerjang pintu, memecahkan jendela, lalu detik berikutnya terdengar lebih banyak teriakan lagi. Aku bergidik ngeri. Pria yang tadi turun dari taksi tiba-tiba terbangun lagi, berdiri dengan kaku, diam, lalu dengan oleng berbalik dan dengan langkah-langkah kaku berjalan ke pintu rumahnya. Aku masih terpaku ngeri melihat pria itu mengeluarkan kunci dari saku jaketnya lalu dengan kikuk membuka pintu saat kudengar pintuku sendiri berderit. Sekejap kupikir jantungku melompat ke jalanan (jika dia punya kaki kurasa dia benar-benar akan lari meninggalkanku di belakang) ketika wajah Tara menatapku dengan alis bertaut.

“Sudah kubilang untuk mengunci pintu, kan?” Desisnya marah. Rambut dan bajunya berantakan, sebuah frying pan di tangan kanannya. Kakiku masih lembek seperti tahu yang menempel ke lantai saat dia memelukku sambil menangis.

“Kamu selamat, Sayang?” Aku membalas pelukannya.

“Iya. Setelah mematahkan leher hampir semua ibu-ibu RT kita.” Kutatap frying pan yang dibawanya dengan ngeri.

***

Setelah menata detak jantung, kami membuka internet mencari informasi tentang serangan zombie. Tampaknya kota kami menjadi yang pertama terkena serangan. Polisi dan tentara belum berani masuk karena minimnya informasi tentang zombie. Penduduk disarankan keluar kota secepatnya.

Malam itu juga kami mengemasi barang-barang kami. Tara membawa satu koper besar dan aku sebuah ransel gendut, yang kebanyakan berisi makanan.

“Sayang, kurasa kamu enggak perlu bawa sepatu itu deh.” Kataku saat melihat Tara tengah menjejalkan sepatu hitam dengan heels tipis mematikannya ke dalam kopernya yang telah penuh. Tapi Tara tak mendengarkan, kini dia malah berusaha mencari ruang di dalam ranselku.

“Ini sepatu kesayanganku, Sayang.” Katanya sambil mengeluarkan tiga bungkus mie instan dari dalam ranselku.

“Kita lebih butuh makanan, Tara.” Kataku berusaha mencegahnya.

“Aku bisa nahan lapar kok.” Jawabnya sambil terus menjejalkan sepatunya. Aku sudah membuka mulutku, tapi kututup kembali. Jika aku menentangnya, sampai bulan depan kami akan terus berdebat tanpa ujung. Jadi kubiarkan saja sambil kuingat-ingat dalam hati, kalau ada zombie yang mendekat, aku punya senjata di dalam ranselku.

Tas-tas itu kumasukkan ke jok belakang mobil dengan hati-hati. Tara mengawasi keadaan. Untunglah rumah kami tidak memiliki pagar. Tak terbayang harus menggeser pagar besi tanpa suara, rasanya mustahil. Aku sudah masuk ke dalam mobil tapi Tara tidak nampak dimanapun. Aku mengedarkan pandang. Zombie-zombie tidak seramai tadi, mungkin mereka sudah menyebar ke tempat lain. Tara keluar dari rumah dengan tergesa, lalu masuk ke mobil sambil mendesiskan,

“Cepat Ren, kita harus bergegas!” Aku langsung menekan pedal gas sambil berdoa semoga tak ada zombie yang mengejar. Konon Tuhan terkadang menahan mengabulkan doa seseorang untuk memberikannya di lain waktu yang lebih baik. Tapi waktu lain mana lagi ya, Tuhaaaan?? Hatiku menjerit saat beberapa zombie mengejar mobil kami.

DUARRRR!!!

Sebuah ledakan terdengar begitu dekat, diikuti semburan nyala api mengalihkan perhatian para zombie pengejar kami.

“Tara, itu rumah kita yang meledak?”

“Iya, Sayang.” Aku memelototinya.

“Kamu yang melakukannya?” Tanyaku. Tara tersenyum mengiyakan. Mataku serasa keluar dari tengkorakku.

“Kamu tahu kan, kita baru saja melunasi DPnya? Dan sekarang kamu ledakkan? Kita sudah susah payah menabung untuk sebuah rumah, Tara.”

“Kamu masih tertarik tinggal di situ? Bertetangga dengan zombie? Kalau kita mau mengoper kredit pun enggak akan ada yang mau, Ren. Kecuali ada zombie yang tertarik membelinya.” Dia tertawa sarkas. Kualihkan mataku pada jalanan yang lengang. Kami sudah berada di jalan besar antar kota.

“Lagipula aku meledakkannya untuk alasan yang bagus.” Kata Tara lagi. Harus kuakui dia benar, tapi tetap saja menyebalkan mengingat kerja kerasku menabung. Susah payah menahan diri tak membeli Smartphone baru, game baru, dan sekarang rumah itu meledak begitu saja. Kami saling diam beberapa saat, lalu kurasakan jemari Tara mengacak rambutku.

“Aku minta maaf.” Katanya, lebih untuk sekedar meredam kesalku ketimbang benar-benar minta maaf. Tapi karena aku juga sadar ini bukan salahnya aku cuma diam sambil meraih tangannya. Kukecup punggung tangannya. Tangannya hangat seperti biasa. Kami kembali diam. Di luar tampak begitu sepi dan anehnya begitu damai tanpa jejak manusia. Lampu-lampu jalan sebagian telah rusak. Beberapa tumbang, beberapa yang lain pecah, sementara sisanya tampak malas bersinar. Lampu mobilku sendiri sengaja kumatikan. Aku tidak ingin menarik perhatian zombie manapun.

Diiiiinnn!!!

Suara klakson mengagetkan kami berdua. Kutoleh dari kaca spion, sebuah VW Combi berwarna biru putih yang melakukannya. Aku tak yakin apa yang harus kulakukan, tapi aku memilih sedikit menepi.

“Itu zombie, Ren.” Kata Tara. Tubuhnya seluruhnya menengok ke belakang.

“Apa, Tar?” VW itu berjalan kencang, saat dia melewati mobil kami, aku baru mengerti apa maksud Tara. Mobil itu dikendarai oleh zombie. Zombie gila dengan VW Combie yang kini tengah dikejar-kejar oleh puluhan zombie lainnya.

“Cari jalan lain, Ren.” Kata Tara.

“Enggak bisa, Tar. Ini satu-satunya jalan keluar kota.” Situasinya mulai gawat, karena zombie-zombie yang tertinggal beberapa mengalihkan incarannya pada mobil kami.

“Tekan gas?” Tanyaku pada Tara dengan tak yakin.

“Jangan! Di depan lebih banyak lagi. Lagipula aku enggak mau dekat-dekat zombie VW itu.” Kata Tara.

“Lalu gimana?” zombie-zombie mulai berdatangan dari depan dan belakang.

“Berhenti!” Kata Tara. Kutekan pedal rem dengan kuat, mobil berdecit berhenti. Aku mengedarkan pandangan. Tujuh zombie dari depan, dua dari samping (dan dekat sekali), tiga di belakang dekat, dan puluhan lagi di belakang jauh dari kami. Jantungku gemeretak, adrenalin kurasakan mengaliri hingga ujung kakiku, otot-ototkuku menegang,

“Tar…” Zombie dari samping sudah mencapai mobil kami. Satu yang terdepan menggebrak kaca mobil. Aku bisa melihat dengan jelas pembuluh darahnya yang menonjol dan kulitnya yang tergores-gores. Di beberapa tempat kulitnya tampak mengelupas, mengerut seperti plastik terkena panas. Tara masih memperhatikan jalan di depannya.

“Sebentar lagi Ren, sampai VW itu menghilang.” Zombie disampingku mulai memukul-mukulkan kepalanya ke kaca mobil. Kini kaca itu sudah mulai menghitam ternoda darah zombie. Zombie kedua disampingku datang dan berusaha membuka pintu belakang. Mobil kami mulai bergoncang. Keringatku menetes. Kurasa jika kami menunggu semua zombie datang, mereka akan dengan mudah menggulingkan mobil dan mengambil kami seperti korban perahu yang tenggelam. Tak berdaya di bawah body mobil. Semeter lagi zombie depan dan belakang akan mencapai mobil kami bersamaan.

“Sekarang, Ren!” Kutekan gas kuat-kuat. Kutabrak tiga dari tujuh zombie didepanku. Satu zombie melompat dan berpegangan di kaca depan menghalangi pandanganku. Sementara di samping kananku masih ada satu zombie yang bergelantungan.

Tara membuka jendela disebelahnya.

“Tar, kamu ngapain?” Aku berusaha mencegahnya sekaligus mati-matian mencegah mobil kami keluar dari jalan.

“Kamu urus setir, Ren!! Serahkan dia sama gue.” Tara meraih frying pan andalannya. Dia mengeluarkan setengah badannya dari jendela dan mulai memukuli kepala zombie nahas itu. Tang! Tang! Tang!! Darah hitam muncrat. Zombie itu terjatuh dan langsung kulindas dengan perasaan puas.

“Yeaaah!!” Kata Tara setelah menyelesaikan misinya. Setengah badannya ternoda darah zombie. Dia membuka baju atasannya, lalu mengelap darah dari kulitnya dengan gerakan menggoda. Aku tertawa.

“Jangan sekarang, Sayang, aku masih punya masalah di sana.” Kataku sambil menunjuk zombie yang masih menempel di body kanan mobil.

“Jangan-jangan dia Peter Parker.” Aku nyengir. Tara mengenakan sabuk pengamannya. Kulakukan gerakan zig zag beberapa kali, dan zombie itu terjatuh. Kami tertawa. Sedikit lagi kami mencapai pinggir kota.

“Kurasa kamu sebaiknya memakai bajumu dulu, Cinta. Kita hampir mencapai blokade.” Tara bersungut sambil mengambil jaketku yang berada di luar tas, lalu dikenakannya. Di kejauhan aku bisa melihat langit lebih terang, kekuningan, bintang-bintang memudar. Itu luar kota yang masih dikuasai manusia, dengan polusi cahayanya yang menutup cahaya bintang.

“Seharusnya malam minggu pertama kita honeymoon.” Kata Tara sambil merebahkan tubuhnya di jok.

“Kurasa kantorku kena serangan zombie, aku libur panjang.” Kataku sambil meliriknya.

”Coba buka internet, lihat apakah Bali aman?” Sambungku. Tara mencubit pipiku keras.

“Mulai sekarang kita sibuk cari kerja dan rumah baru, Sayang.” Katanya.

 

Entahlah apa yang akan terjadi besok. Saat ini aku hanya ingin mencapai luar kota, agar aku bisa tidur di kasur yang empuk sambil memeluk istriku.

Jalanan lengang dan lurus. Aku menambah kecepatan mobilku. Pohon-pohon berlari di belakang kami lalu menghilang dalam kegelapan. Aku mulai mendengar suara tembakan beruntun, lalu ledakan di kejauhan. Aku bisa membayangkan para tentara yang berusaha menghalau para zombie di pinggiran kota. Berjuang mempertahankan eksistensi manusia di bumi.

Bayangan dalam kaca spion mendadak menarik perhatianku. Dari kegelapan di belakang kami, muncul entah ratusan mungkin ribuan zombie berlarian dengan kecepatan tinggi ke arah kami. Kurasa mereka juga mendengar suara-suara ledakan di tepi kota dan tertarik mendatanginya. Perutku langsung jatuh ke lutut.

“Sayang…”

Aku heran Tara hanya diam. Kulirik dia. Ya Tuhaaaan… wajahnya pucat, pembuluh-pembuluh darahnya menyembul menekan kulitnya dari dalam, matanya kosong menatap ke depan,  jemarinya tegang, menempel erat di dasboard hingga kukunya menggores, menciptakan alur-alur cekung memanjang. Sebuah luka kecil yang menghitam tampak di sela ibu jari dan telunjuk kanannya. Mungkin darah zombie masuk ke aliran darahnya melalui luka itu. Mungkinkah itu penyebabnya?

Aku menekan rem kuat-kuat. Ciiiiitt!! Ban mobil berdecit.

Pelan kuputar arah mobilku menghadap zombie-zombie yang menggila. Kuhela napas panjang seperti itu terakhir aku bernapas. Kupejamkan mata berdoa. Tuhan, ini terakhir aku meminta, jika kasur yang empuk tak juga bisa kuperoleh, maka surga pun tak apa.

Kupegang tangan Tara yang kini sedingin es lalu kutekan gas sekuat mungkin.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Sabtu Malam (7 years 5 weeks ago)
60

waha. udah banyak yang komen. panjang2 pula. saya iyain aja deh, sekalian ninggalin jejak. harusnya mencekam ya suasana dikepung zombi gitu, tapi enggak kerasa gitu tegangannya. tapi saya mencoba bertahan sampai akhir tulisan. kayaknya kalo zombi melanda kota beneran, si Ren ini gimana gitu buat jadi teman survive karena pembawaannya yang lempeng, wkwkwkw. ralat: ga ding, di akhir cerita, ketika pasangannya berubah jadi zombi, kok dia semudah itu mau mengakhiri segalanya? kenapa dia ga berusaha berjuang sendiri lebih dulu? mungkin di situ kali ya, unsur "cinta"nya? setiap sampai jadi zombi? hehehe.
saya juga belum tentu bisa sih kalau mesti bikin cerita yang ada unsur cinta sekaligus thriller itu ._. salute!

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Sabtu Malam (7 years 18 weeks ago)
90

Seperti yang lain, ini thriller? Kok aku lebih dapat komedi ya. Mana si suami lempeng aja lagi waktu didatangi zombie satu komplek.
.
Sebenarnya cerpen ini aneh, tapi aku terhibur. Senyum-senyum aja gitu. Untuk ending, rasanya kurang nendang. Pengorbanan cinta demi kekasih yang sedang bertransformasi menjadi zombie kurang berasa bung. Mungkin efek cekikikan dari awal baca sampai akhir.
.
Untuk masalah kelogisan dan tata bahasa kayaknya udah dibahas sama member lain.
Jadi, nyumbang poin aja dah.
Gimana? Tantangannya seru? *dilempar pake frying pan*

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 18 weeks ago)

aaak... ini dia ketua panitianya udah muncul... saya ga nyalahin tantangannya, tapi yang ngocok arisannya :p
.
iya thrillernya ga dapet ya... mungkin kl saya cerita nulis cerpen dikejar-kejar kematian (DEADline) lebih berasa thrillernya ya :v
.
Kurang seru tantangannya... soalnya ga bisa bully ketua panitia? mana cerpenmu Thiya? :D

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Sabtu Malam (7 years 18 weeks ago)

Hiks, berasa kesindir saya.... nanti deh saya post cerpen yang udah telat itu.
Mau bully saya, silahkan. Bakar kalau bisa. Ane ikhlas kak. Tapi sebelumnya, biarkan aku bersembunyi dulu, hakakaka....
.
Gak nyalahin panitianya, tapi yang ngocok arisan. Waah.... ada dendam tersembunyi nih. Bisa-bisa saya dikirimin zombie satu komplek lagi #kabouuurrr
Hakakaka :D

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 17 weeks ago)

Hehehe... saya bukan peternak zombie, jd gabisa maketin zombie... nanti saya kirim bintang2 aja ya (digetok pake frying pan biar keluar bintang2 :p)
.
udah yg penting mana cerpennyah? :D

Writer moon eye
moon eye at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)
70

hai, latophia :)
selamat ya sudah berhasil melewati tantanganmu hehehe.
.
menurutku di sini, thriller-nya kerasa tapi kecampur sama komedi-komedi sedikit gitu.
terus pada awalnya, aku bingung menentukan siapakah yang istri dan suami antara Tara dan "aku".
jadi agak susah mbayangin. tapi akhirnya terjawab kok. v^^
.
romantis ya endingnya. kalau pasanganku kegigit kyk gitu, pasti aku juga bakal 'bunuh diri' digigit zombie. biar sama-sama selamanya walaupun jadi zombie. hohohohoho.
.
untuk EYD kyknya sudah dibahas sama yang lain ya.
kalau begitu, cukup sekian dan semoga berkenan.
semangat :D

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 18 weeks ago)

Iyaya... karakterisasi suami istri masih kurang jelas... hoho makin banyak aja nih kurangnya cerpen saya T.T tapi makasih kritiknya mooneye, setidaknya saya jd tau dimana salahnya saya (dimana-mana sih tampaknya, hwehe)
.
Hehe... iya kan ya, pikirku jg gitu, masak harus mendepak istrinya yg jd zombie keluar biar selamat, ini kan genre cinta :D
.
makasih udah mampir ya, salam :)

Writer niNEFOur
niNEFOur at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)
80

karna semuanya udah dibahas sama sesepuh, jadi saya mau bilang ini cerita lumayan menghibur sabtu malam saya :v

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 18 weeks ago)

Makasih udah mampir 94, senang kl bisa menghiburmu... salam kenal :D

Writer niNEFOur
niNEFOur at Sabtu Malam (7 years 16 weeks ago)

ia sama sama..
salam kenal juga :v

Writer Shinichi
Shinichi at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)
60

Desisnya marah. << ini enggak diawali kapital lho, Kakak ^^ Wah! Tiga cerpen yang saya baca pagi ini (offline) punya masalah dengan penulisan kalimat penjelas yang seharusnya enggak terjadi. Ehehehe. Saya harap, dirimu lebih teliti lagi deh walaupun punya deadline apa gitu. Ya, kalau udah mengakar siy konsep penulisan kalimat penjelas, yang beginian enggak bakal kejadian ;) Soal penjelasan penulisan Kalimat Penjelas ada juga saya komentarin di banyak tulisan di situs ini sejak kapan tau. Tapi yang teranyar ada pada cerpen yang judulnya PATAH. Bisa dicek di sana biar gampang :) Soalnya dirimu kayaknya memang enggak paham karena terjadinya kesalahan penulisan itu malah berulang dalam cerpen ini.
.
Btw soal cerpen, saya kok ya merasa tokoh suami dalam cerpen ini terasa kewanita-wanitaan. Dan yang isteri lebih kelaki-lakian. Terus, penulisan preposisi "di" juga masih ada yang keliru antara disambung atau enggak-disambung. Huft. Lebih dalam soal ide, btw, secara logika (karena terpengaruh film juga) ketika suatu area terindikasi dijangkiti wabah "zombie", biasanya pemerintah akan mengarantinakan area tersebut. Artinya, semua orang di area itu dilarang pergi ke luar area. Di ceritamu, mereka malah dianjurkan agar pergi dari kota secepatnya. Udah tonton I am Legend-nya Will Smith dan World War Z-nya Brad Pitt? Itu film soal zombie, genre thriller. Memang siy, film punya kompetensi thriller berbeda dengan "tulisan". Tapi toh menulis juga adalah memvisualisasikan. SABTU MALAM ini malah lucu menurut saya. Mulai dari ide cerita, latar belakang tokoh, dan penyelesaian konflik, dan dialognya juga. Serasa, wabah zombie ini kayak wabah diare aja. Bukan masalah penting dilihat dari sudut penceritaan. Itu kayaknya terbawa suasana akibat tokoh-tokohnya dan kurang penjiwaan. Maklumin? Oke :)
.
Secara garis besar, cerpen ini masih mentah menurut saya. Semoga bisa jadi lebih baik di kesempatan berikutnya. Kip nulis dan semoga berkenan kalakupand. Ahak hak hak.

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 18 weeks ago)

aaak... EYD masih harus remidi lagi tampaknya... iya bang, saya pelajari lg EYDnya...
.
Udah nonton I am Legend sama WWZ sih, tapi udah lamaaa, udah lupa detailnya... sebelum nulis malah nontonnya Zombieland hwehe...
Niatnya sih mo liat dari sudut pandang berbeda, zombie itu kan (di zombieland bukan WWZ, di WWZ ganas beut zombienya) keliatan bloon, kaku cuma reputasi dia yg doyan gigit aja yang bikin ngeri gitu bang... cuma di cerpen deskripsinya ga kuat, mana harusnya thriller pula, jadinya malah keliatan ngaco ya, hahah..
.
Iya, setelah baca komen-komennya saya bisa melihat kementahan cerpen saya sendiri T.T
yah tapi gapapa lah, yg penting bisa dapet komen dari para senior, jadi (semoga) bisa memperbaiki diri di cerpen berikutnya :D
.
makasih kritiknya yang cetar menggampar ini ya bang, saya berkenan sekali... semoga ga kapok mampir ke lapak saya lagi :D

Writer Nine
Nine at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)
100

Pandangan subjektif saya:
Kalau mau nulis thriller, menurutku, tulislah dengan serius. Ini kok kayak nulis komedi? hehehe, (mungkin selera komedi saya aneh). Masak pas di bagian awal, si Aku melihat zombie lalu bilang "woooww" hahahahha, aduuhhh ini jadi hilang thrillernya. bener2 deh.
.
Jadi dari segi thriller, cerpen ini sama sekali ngak punya thriller, saya bacanya sambil nyengir. (mohon maap, ini jujur lho)
.
Dari segi cinta, (aduuuhh saya sering gagal masalah cinta, apalagi mau komentar soal cinta), dari segi cinta hambar saja yang saya rasa, ngak ada adegan dramatis dan sejenisnya, ngak ada yang bkin sedih, atau terharu, yah overall flat aja. Cuman satu bagian menarik: pas Tara membuka baju
.
Terlepas dari apa pun cuap2 saya di atas, cerpen ini tetep menarik dan sekaligus mengecewakan dengan ending yang hambar begitu. Tapi plotnya menarik lho, deksripsinya juga mantaf. Bumbu2 komedinya dapet (padahal saya awalnya ngira ini thriller karena sudah ada zombie). Enak lah secara keseluruhan, walaupun menurutku ngak nyambung dengan tag-nya.
.
Sekedar saran saja (dari pemula), kalau mau nulis thriller, buatlah keadaan yang tidak terduga-duga. seperti kemunculan zombie pada awal cerita, enaknya itu zombie jangan diberitahukan ke pembaca lewat telepon si Tara. Bagusnya tangan zombie tiba2 mencengkeram si Aku pas mau nutup pintu . Kan enak tuh, kita jadi deg-degan, karena tak terduga-duga. Yah mungkin itu saja sih, saya juga masih pemula dan menyukai thriller. Ini cuman pandangan subjektif saja.
.
Sekian dari saya, mohon maap kalau ada salah paham atau kata2 yang kurang berkenan..
.
Salam olahraga (Y)

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

Begitu ya... salahnya saya nyari referensi ttg zombie dr film Zombieland, yg emang cenderung lucu drpd serem.. jd kebawa pas nulis, hehe mgkn besok lg kl mo nulis ttg zombie nonton World War Z aja buat referensi..
.
Haha... kl saya kasih adegan yg lebih hot mungkin cerpen saya bisa selamat ya... macem masak makanan, kl ga enak kasih aja vetsin banyak-banyak, walaupun ga sehat tp orang-orang suka :p
.
Terimakasih resep buat nulis thrillernya ya Nine, sangat bisa diterima :) Mungkin besok lg mo nyoba nulis thriller lg deh pake resep itu :D
.
Saya berkenan sekali dg kritiknya kok... sangat supportif... terimakasih banyak ya :)
.
Salam olahraga

Writer Nine
Nine at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

Wah WWZ itu keren, saya suka :) pantesan kamu nulis thriller gini, referensi kamu zombieland sih... hehehe
.
Yap, sama2 (y)

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

udah nonton WWZ juga sih, tapi udah lamaaa, jd udah lupa detailnya, hehe..
nah itu dia saya, malah lbh tahan nonton zombieland.. pada dasarnya saya ga tahan nonton atau baca genre thriller... kl terlalu tegang suka di pause dulu trus ditinggal ngemil atau jalan-jalan biar tegangnya ilang baru dilanjutin, hehe kyk gini dpt undiannya malah thriller :D

Writer Ran Ganiya
Ran Ganiya at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)
90

sungguh menghibur, hehe. walaupun jadinya condong ke arah komedi dibanding thriller. ending tara yang jadi zombie bikin cerita ini jadi tragis, dan akhirnya.. suaminya memilih mati bersama daripada menendang tara keluar mobil? wow,romancenya jadi terasa. selamat, dan semangat mencoba lagi!

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

terimakasih Ran.. senang kl bisa menghiburmu :D
Salam kenal ya :)

Writer alcyon
alcyon at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)
100

pertama: judul dengan cerita kurang nyambung, cerita kurang menjelaskan tentang judul dan sebaliknya.
kedua : saya tidak merasakan nuansa thriler, melainkan komedi dan pengheroan yang dipaksakan
ketiga : unsur psikologisnya kurang, mendapati zombie kayak cuman ketemu tukang bubur
keempat : rumah diledakin? buat apa? emangnya mission imposibel?
kelima : masalah cicilan yang baru lunas lebih berat ketimbang dunia yang tengah kiamat
keenam : unsur cintanya dimana? klo cuman peluk2an dan rindu2an itu mah belum terasa romantismenya
ketujuh : aku kasih poin 10 biar semangat, hehe

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

Pertama : diterima tanpa sanggahan apapun T_T
Kedua : thrillernya gagal dieksekusi dengan baik yah.. kl pengheroan, saya ga bermaksud bikin Ren jd Hero jg sih... maksudnya dia kan udah di ujung tanduk posisinya, krn istrinya jd zombie, ga mungkin dia nerusin perjalanan ke luar kota... balik arah udah byk zombie di belakang... jd drpd mati sia-sia (digigit istrinya misalnya) mending dia mati dg membawa bbrp zombie
Ketiga : ini pemikiran pribadi sih, zombie ini kan scr bentuk dan gerakannya kikuk, canggung, bloon gitu... jd awalnya dia cm takjub mikir "oh kyk gitu to zombie" gitu, cm pas tau zombienya bisa jd ganas kl ketemu manusia, dia baru merasa takut beneran
Keempat : diledakin biar jd pengalih perhatian zombie, biar bisa melarikan diri (ga pake bom, pake gas 3kg aja heheh)
Kelima : ini kan tokohnya org biasa, rasanya malah terlalu berlebihan kl sampai mikirin menyelamatkan dunia...
Keenam : haha saya no clue hrs gmn lg kl ini msh kurang romantis T_T
Mgkn memang saya belum bisa nulis apa yg ada di otak biar org lain yg baca paham... maklum baru mulai serius nulis utk dibaca org lain, biasanya disimpen sendiri

Ketujuh : Terimakasih utk kritik dan poinnya yg sangat murah hati ya :D

Writer benmi
benmi at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

Ke post 2x.. sorry.. ga tau inetnya knp.. hahah..

Writer benmi
benmi at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)
60

Hmmm... pertama baca.. aku ampe ngecek 2 kali.. ga salah tagnya... pas zombie keluar.. aku berasa jd cerita fantasi.. (soalnya ga jelas) trus ditgh2 byk adegan lucu.. masi smpt mikirin dp.. libur bali.. nge pak sepatu... walau cintanya berasa.. tp ketegangannya berkurang... terlalu byk humor yg mengganggu. Terakhir pas berasa action n thillernya.. eh uda habis... mana itu ga jelas lagi..
Anw.. sekian komentarnya.. maap kl krg berkenan.. salam..

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

Kyknya dr semua komen semua bilang ga brasa thrillernya.. percobaan nulis thriller pertama gagal total :|
makasih komennya benmi :)

Writer Liesl
Liesl at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)
60

Saya merasa sikap si pria saat pertama kali melihat zombie itu nggak normal, terlalu tenang.. Atau karena kebanyakan nonton walking dead? :p
Agak aneh rasanya tiba2 di awal disodorin zombie di cerita ini, tapi sampai akhir ga ada penjelasan dari mana epidemi zombie ini pertama berasal.
Sekian komentarnya, maaf kalo ga berkenan..

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

Haha..soalnya zombie pertama yg dia lihat ga nakutin (menurutnya) cuma pas lihat zombienya nyerang orang baru deh dia takut (walaupun gambaran tegangnya kurang jelas tampaknya :| )
Awalnya pengen bikin skala agak luas, rentang waktu di kotanya agak lama, ada penjelasan penyebab serangan, dsb cuma keburu deadline (yg akhirnya diundur :D)
makasih komennya liesl..salam kenal :)

Writer Zarra14
Zarra14 at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)
90

Halo latophia, salam kenal~
Romance-nya lumayan dapet, tapi thriller-nya kurang berasa tegang karena disisipin becandaan, seperti rumah yang belum lunas dan Tara yang mentingin sepatu.
Mix romance dan thriller dapet banget di ending cerita, ini bagian unggulnya menurut saya :D
Maaf kalau kurang berkenan, keep nulis~

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

Salam kenal juga Zarra..
Sepertinya memang gagal di bagian thrillernya :|
makasih udah mampir :)

Writer Zarra14
Zarra14 at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

engga gagal kok, saya malah belum tentu bisa bikin cerita thriller. Terus semangat menulis XD

Writer hidden pen
hidden pen at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)
60

hmm ceritanya agak aneh jika berkaitan dengan zombie. Tapi cinta nya kurasa dapat . Sepasang suami istri yang baru menikah dan baru bayar dp harus berhadapan dengan zombie. Akhirnya sedih juga dan semoga ada kelanjutannya yach . Maaf bila salah kata

Writer latophia
latophia at Sabtu Malam (7 years 19 weeks ago)

Ceritanya malah aneh ya? kemarin dpt tantangan thriller dan pusing mikir apa yg mo dihadapi pasangannya biar brasa tegang.. akhirnya milih zombie deh.. tp kyk nya belum berhasil bikin tegang nih..
Anw makasih udah mampir :)