Titik Gelap Mentari

Hampir senja ketika kepingan-kepingan salju kembali berjatuhan dari langit yang kelabu. Bersama rekan-rekannya yang lain, Kanon, salah satu Ksatria termuda di kesatuannya, mengendarai kudanya menyusuri tepian hutan; dalam diam dan muram; lelah, setelah seharian berpatroli untuk memastikan semua pihak yang terlibat dalam... kegilaan ini, benar-benar tunduk pada apa yang disabdakan oleh Konsul Suci: Gencatan senjata tanpa syarat dan penarikan mundur segala unit bersenjata pada wilayah-wilayah yang telah ditentukan.
 
Ia menarik napas panjang, menghibur diri dengan sedikit kesegaran dari harumnya aroma kayu dan pepohonan. Baru beberapa hari mereka berada di sana, tapi rasanya jauh lebih lama baginya; Menyisiri perimeter, berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain (yang sebagian besar hanya tersisa puing-puing), melihat ratusan mayat: prajurit, rakyat jelata, wanita, pria, tua, muda, dewasa, anak-anak; bergelimpangan dengan leher tergorok dan tubuh tercabik-cabik; Mencium aroma menyengat bangunan-bangunan dan daging terbakar yang bercampur dengan amis darah dan busuknya bangkai: SELAMAT DATANG KE NERAKA--walau menurut Kapten Tanos yang sempat ikut serta pada pertempuran agung terakhir melawan Ordo Naga: INI BUKAN APA-APA.
 
Setidaknya saat ini mereka sudah melewati apa yang dulunya perbatasan antara Sal-Bor dan Ish-Van. Sebagai pihak yang melakukan serangan--dan hampir-hampir tak mendapatkan perlawanan yang berarti pada awal peperangan, seharusnya kondisi di wilayah Sal-Bor tidak akan seburuk apa yang telah Kanon jumpai sebelumnya di wilayah Ish-Van.
 
"Jika peta ini masih akurat," Kanon mendengar Ludo berbicara pada Sang Kapten, "tak jauh dari sini ada Kuil Cahaya, lalu setelah itu kita akan tiba di Ormuks" 
 
Kuil Cahaya. Bagus sekali. Kanon menghela napas lega. Berada di dekat kuil cahaya selalu membuat perasaannya jadi lebih tenang. Lagipula sudah lama ia tak bersimpuh di depan altar matahari. Di wilayah Ish-Van, tak ada satu pun kuil yang dapat mereka temukan karena memang di kerajaan tersebut tak banyak penduduk yang menjadi pemuja. 
 
Kapten Tanos menganggukkan kepalanya, "Seperti biasa, saudara-saudara, tetap waspada," katanya sambil tersenyum masam. "Dan jangan terlalu berharap; Tak banyak yang bisa dilakukan oleh sebuah bangunan tua untuk melawan pusaran kegelapan," lanjutnya diikuti anggukan kepala oleh beberapa Ksatria yang seumuran dengannya.
 
Kanon mengerutkan keningnya. Membayangkan ada pihak yang dengan sengaja menodai kesucian Kuil Cahaya, membuat amarahnya naik ke ubun-ubun, tapi hanya sesaat, karena seorang Ksatria sejati tak boleh membiarkan tindakannya dikendalikan oleh emosinya. Bahkan ketika mereka harus memotong batang leher lawan mereka. Sekali lagi ia menarik napas panjang.
 
"Kau baik-baik saja, Nak?" tanya Navi, sang pembawa bendera. Di antara rekan-rekannya, ia lah yang tertua dan kurang lebih menjadi figur ayah, atau kakak, bagi ksatria-ksatria lain yang lebih muda.
 
Kanon menganggukkan kepalanya.
 
"Kuatkan jiwamu, Nak," kata Sang Ksatria Tua sambil menepuk dada Kanon, "jangan biarkan kegelapan menyusup ke dalamnya." 
 
"Bagaimana mungkin? Bukankah kita mewakili kebenaran?"
 
"Karena kita mewakili kebenaran."
 
Para Ksatria kembali memacu kuda mereka perlahan. Meninggalkan hutan dan matahari senja yang kemerahan di belakang mereka.
 
"Peperangan," kata Kapten Tanos pada suatu hari, "mungkin adalah hal yang buruk. Yah terutama bagi pihak yang kalah. Tapi peperangan bukanlah hal yang Salah. Jika tidak tentu kita tak akan punya hukum tentang peperangan:
 
"Peperangan harus didahului dengan sebuah deklarasi--biasanya berisi tuntutan dari salah satu pihak kepada pihak lainnya;
 
"Dilarang menyerang tempat-tempat suci dan mereka yang berlindung di dalamnya, dan atau menjadi tempat-tempat suci sebagai benteng pertahanan;
 
"Dilarang menyerang 'orang tua, wanita, anak-anak, dan orang cacat' yang tidak mengangkat senjata;
 
"Kemudian yang terakhir?"
 
"Untuk memperlakukan para tawanan perang dengan baik?" jawab Kanon.
 
Kapten Tanos menyeringai, "Dan itu termasuk memenggal kepala para tawanan yang, menurut pihak yang berwenang di masing-masing sisi, pantas untuk dipenggal."
 
"Tapi tentu saja," Lanjut Sang Kapten, "pada kenyataannya, tidak jarang aturan-aturan sederhana itu dilanggar dengan dan tanpa sengaja. Maka menjadi salah satu tugas bagi konsul suci untuk memutuskan dan memastikan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam suatu peperangan di wilayah Regulus tidak berlebihan atau secara terencana melakukan pelanggaran-pelanggaran tersebut..."
 
Matahari baru saja tenggelam, menyisakan sedikit pijar kemerahan di cakrawala, ketika akhirnya mereka tiba di Kuil Cahaya Ormuks: sebuah bangunan rumah besar memanjang, dengan pintu dan jendela-jendela tinggi berukir, berdinding batu bata merah yang mungkin sudah berusia puluhan tahun. Yang membedakannya dengan bangunan biasa adalah tujuh buah cerobong cahaya yang kurang lebih berjejer dua-tiga-dua di bagian atapnya.
 
"Seratus enam belas tahun lebih tepatnya," komentar Ludo setelah membaca plat logam yang menempel di samping pintu, "dibangun atas restu Yang Diperagungkan Leronzo Lagato, wakil Konsul Suci, Ksatria Ordo Burung Hantu, Pendeta Tinggi III Sal-Ish-Van, untuk mengenang keberanian Balazir Midas"
 
"Ksatria Ordo," keluh Tanos sambil mengetuk pintu kuil itu beberapa kali.
 
Lama berselang, akhirnya pintu itu pun bergeser, sang penjaga kuil--seorang pria tua yang sebelah matanya sudah memutih seluruhnya dengan curiga dan takut-takut mengintip dari celah yang terbuka.
 
Meletakkan tangan kanan di dada kiri sambil membungkukkan badan sedikit, para Ksatria memberi salam pada sang penjaga.
 
"Apa yang diinginkan para Ksatria malam-malam begini? Dengan zirah dan pedang, dengan belati dan tombak? tidakkah mereka tahu ini tempat suci?" tanyanya lirih.
 
"Kami utusan konsul suci, dengan segala hormat, meminta izin untuk sekedar bermalam dalam perlindungan Sang Dewa di Teras Kedamaian ini," jawab Kapten Tanos  sambil menunjukkan selembar perkamen berisikan salinan perintah Dewan Tertinggi Konsul Suci pada divisi Ksatria Pelindung Regulus untuk mengawasi gencatan senjata antara Sal-Bor dan Ish-Van berstempel Lingkaran Matahari dan sebatang Pohon Kalpataru.
 
Sang Penjaga memicingkan mata, menggunakan lentera yang dibawanya untuk mebeliti perkamen yang dibawa Kapten Tanos.
 
"Sungguh gembira," katanya kemudian dengan nada yang jauh sekali dari kegembiraan, "untuk bisa menjamu utusan Konsul Suci; pun sayang sekali, saat ini dapur kami sedang kosong dari gandum dan keju, sementara para pelayan sedang diungsikan... sampai perang benar-benar usai. Namun jika ksatria-kesatria nan gagah mau berkuda sejenak di desa Ormuks akan ditemukan makanan hangat dan tempat tidur yang nyaman."
 
Kapten Tanos tersenyum, "Kami Ksatria, bukan pelancong, roti dan buah-buahan kering, dan segelas air sudah cukup untuk mengganjal perut kami, dan dalam kelelahan bahkan tumpukan jerami di kandang kuda pun akan segera membawa kami ke alam mimpi."
 
"... Kebetulan sekali, kami memiliki kandang kuda yang tak terpakai di belakang."
 
"..."
 
Kanon menahan diri untuk tidak tertawa melihat bagaimana perkataan sinis sang Kapten justru digunakan sang penjaga untuk balik menjatuhkannya.
 
"Silakan duluan," kata Sang Penjaga sambil tersenyum kecil, "sementara akan kami lihat apa masih ada roti dan buah-buahan kering di dalam"
 
"Maaf," kata Kanon, "tapi sebelumnya, bolehkah saya mengunjungi Altar Matahari. Saya ingin melakukan pemujaan," katanya.
 
"Saat Matahari telah tenggelam?"
 
"Di sini mungkin, tapi tidak di negeri-negeri lain, di seberang samudra atau di balik pegunungan."
 
Kapten Tanos mengusap kepala Kanon. "Bocah pintar," katanya sambil terkekeh.
 
Sang Penjaga tampak berpikir sejenak. "Baiklah. Mari."
 
"Sungguh? Terima kasih banyak."
 
"Wah wah kebetulan sekali aku dan Ludo juga sedang ingin... berdoa," kata Sang Kapten, "Navi, kau dan yang lain bisa lebih dulu pergi ke istal. Dan kabari aku jika semua sudah beres."
 
Sang Penjaga melemparkan tatapan tajam ke arah Kapten Tanos, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
 
Dari pintu depan, Kanon, Kapten, dan Ludo berjalan mengikuti Sang Penjaga melalui sebuah lorong pendek yang, "Bersih sekali," komentar Kapten Tanos, "Apa kau mengepelnya setiap hari?"
 
Sang Penjaga tersenyum kecut, menggelengkan kepalanya, sambil melirik ke arah jejak kaki berlumpur dari sepatu bot para ksatria tersebut.
 
Sama seperti kebanyakan Kuil Cahaya lain di Regulus, lorong tersebut berakhir didepan sebuah pintu besar terbuat dari kayu hitam berukir. Sebuah ruangan di dalam ruangan; Altar Matahari. Dengan salah satu anak kunci yang dibawanya, Sang Penjaga membuka pintu tersebut.
 
"Gelap," kata Kapten Tanos.
 
"Malam," jawab Sang Penjaga. 
 
"Tunggu sebentar," lanjutnya sambil berjalan masuk lebih dulu, lurus, melalui jalur di antara dua barisan bangku panjang, langsung menuju altar pemujaan. Menggunakan sebuah tongkat-obor panjang dan api dari lentera yang dibawanya, dengan cekatan ia mulai menyalakan obor-obor yang menempel di sisi ruangan, dimulai dari bagian kiri dan kanan Patung Putra Matahari: seorang lelaki tua berjanggut yang mengenakan tunik dengan mahkota berhias enam permata dan wajah ramah penuh kasih.
 
Pada siang hari, hal tersebut tak perlu dilakukan, karena sinar matahari dari luar yang masuk melalui cerobong cahaya dan sebuah sistem cermin dan kristal yang rumit sudah cukup untuk menerangi dan menghiasai seluruh ruangan itu.
"Altar yang indah," puji Kanon, "Pasti penduduk desa sering berkunjung kemari."
 
"Tidak, sejak perang terjadi," gumam Sang Penjaga dingin.
 
"Mengapa? Apa ada larangan?" tanya Kapten Tanos ingin tahu.
 
"Karena berbahaya... berkeliaran di sekitar perbatasan pada saat perang berlangsung. Siapa yang tahu kapan... anjing-anjing liar dari Ish-Van akan menyerbu tempat ini." 
 
Sang Kapten terkekeh, "Terakhir kudengar, dan kulihat, serigala-serigala Sal-Bor lah yang pertama kali melintasi perbatasan dan mulai membakar desa-desa di seberangnya."
 
"Bagus kalau begitu," balas Sang Penjaga tanpa takut. 
 
Hening. Tapi hanya sesaat, karena tiba-tiba saja terdengar gemerincing koin logam yang berjatuhan.
 
"Aku sungguh-sungguh minta maaf," kata Ludo malu-malu sambi langsung buru-buru berjongkok, merangkak, mencari-cari, memunguti, koin miliknya yang berserakan menggelinding ke mana-mana.
 
"Dasar," komentar Kapten Tanos sambil menghela napas, "Kalau memang sudah mau sobek, sebaiknya segera kau ganti kantung uangmu. Perlu bantuan?"
 
"I-tidak perlu, bisa kuatasi sendiri, kalian silakan mulai saja pemujaannya."
 
"... mari," kata Sang Penjaga, "silakan."
 
Kanon sekali lagi mengucapkan terima kasih, lalu bersama Sang Kapten mengikutinya sampai ke depan patung. Keduanya lalu bersimpuh sementara sang penjaga melagukan sebuah syair pemujaan.
 
Menjelang akhir syair tersebut, konsesntrasi Kanon sedikit terganggu, melirik ke samping, Ludo yang mungkin sudah selesai memunguti koinnya yang terjatuh tampak sedang membisikkan sesuatu pada Sang Kapten, yang kemudian dibalas juga dengan sebuah bisikan berisi satu perintah singkat. Ludo mengangguk lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut.
 
Sang Penjaga menoleh lalu kembali menatap Kapten Tanos dengan tatapan tajam, "Apa maksud semua ini?" protesnya, "Kalian tak boleh seenaknya di Kuil ini."
 
Sang Kapten mengangkat bahunya, "Dia ingin buang air kecil?"
 
"..."
 
"Dan aku sebenarnya sangat ingin menghisap sebatang cerutu."
 
Wajah pucat Sang Penjaga berubah merah. "Silakan keluar," desisnya. 
 
Kanon tak percaya dengan apa yang didengarnya. Yah, yang pertama karena seingatnya Sang Kapten bukan seorang perokok, dan yang kedua karena Semua Orang tahu bahwa jangankan menghisap cerutu, tak diperbolehkan untuk makan dan minum di dalam Altar Matahari.
 
"Tidak jadi kalau begitu," kata Kapten Tanos. Ia lalu duduk sambil menyilangkan kaki di salah satu bangku panjang di deretan terdepan.
 
"Apa yang sebenarnya anda inginkan?"
 
"Kejujuran."
 
"Tentang?"
 
"Apa yang kau sembunyikan."
 
"Demi Matahari, ini tempat suci... baik, aku mengerti, kalian ingin menggeledah tempat ini, bukan? Tak masalah, aku bisa mengantar kalian berkeliling."
 
"Tak perlu, kawan-kawanku sudah melakukannya."
 
"Kapten!" protes Kanon. Ia masih merasa tidak pada tempatnya mereka melakukan hal semacam ini.
 
"Kuharap kalian tak membuka paksa pintu-pintu asrama kami."
 
Tepat saat itu, pintu Altar terbuka, Ludo dan Navi berjalan masuk.
 
"Naah, tidak perlu. Navi, apa yang kalian temukan?"
 
"Sampai beberapa hari terakhir, dilihat dari sisa-sisa kotoran kuda yang ada di sana, istal masih dipergunakan untuk menampung banyak kuda, juga ada bekas roda kereta yang sepertinya digunakan untuk mengangkut sesuatu yang cukup berat."
 
"Lalu? Sampai beberapa hari yang lalu para pelayan masih ada di sini." 
 
"Dan justru saat gencatan senjata mereka pergi mengungsi?"
 
"Perintah datang dari penguasa," jawab sang penjaga. "Dan sekarang itu jadi cukup masuk akal melihat kesewenang-wenangan yang kalian tunjukkan saat ini."
 
"Dan tadi, saat memunguti koinnya, Ludo menemukan bekas cerutu... di ruangan ini."
 
"Bahkan para pemuja kadang melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Kami tak bisa mengawasi semua orang."
 
"Dan menurut pendapatku, seluruh tempat ini, agak terlalu bersih."
 
"... kau sungguh-sungguh sudah kehilangan akal sehatmu."
 
"Dan tempat ini dibangun oleh Yang Mulia Lagato."
 
"Apa hubungannya?" kali ini Kanon yang bertanya.
 
"Nak, ada dua alasan kenapa sebuah kuil dibangun terpisah dari pemukiman penduduk. Yang pertama, untuk menunjukkan bahwa keberadaan Kuil sama sekali tidak terkait dengan siapapun yang berkuasa di wilayah tersebut, sekaligus memastikan agar ketika peperangan terjadi di desa atau kota, Sang Kuil dan siapapun yang berlindung di dalamnya tidak turut menjadi sasaran serangan.
 
"Yang kedua, adalah agar apa yang terjadi di dalam kuil tidak diketahui oleh orang banyak. Terlepas dari argumenmu tentang Matahari yang tidak pernah tenggelam, jarang sekali Altar Matahari dilengkapi dengan penerangan yang cukup untuk malam hari. Itu artinya, jika diperlukan, ruangan ini dapat digunakan kapan saja. Pertanyaannya untuk apa? Sekedar upacara pemujaan? Barak para prajurit? Atau... jika berbicara tentang Ksatria Ordo Burung Hantu..."
 
"Itu tuduhan yang harus dipertanggungjawabkan," desis Sang Penjaga, "Pendeta tinggi akan diberitahu tentang semua kekurangajaran ini."
 
"Tentu," sahut Sang Kapten, "begitu juga dengan Dewan Pendeta Konsul Suci."
 
"Bahwa kalian menemukan sisa-sisa cerutu di dalam ruangan ini?"
 
"Tentu dan kemungkinan bahwa Kuil ini telah dimanfaatkan untuk kepentingan yang tidak semestinya dalam konflik antara Sal-Bor dan Ish-Van."
 
"Kemungkinan..."
 
"Ya, kecuali jika kami berhasil menemukan bukti yang lebih meyakinkan. Ah tepat pada waktunya."
 
Beberapa Ksatria lain memasuki ruangan. Berpasangan, masing-masing dari mereka membawa bak kayu--tempat minum kuda dari istal penuh berisi air. 
 
Baik Kanon maupun Sang Penjaga memandang Sang Kapten dengan penuh tanda tanya. 
 
"Melihat kepercayaan dirimu," katanya pada Sang Penjaga, "Aku yakin tak banyak yang dapat kami temukan meski kami menggeledah seluruh ruangan di Kuil ini. Dan kalaupun ada, belajar dari sejarah, apa yang kami cari kemungkinan besar berada di ruangan ini. Lihat dan perhatikan."
 
Maka para Ksatria pun mulai menuangkan air yang segera saja mengalir dan menggenangi seluruh lantai ruangan. 
 
Menggenang. Kanon terkesiap. Tentu saja. Ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan memperhatikan genangan air yang ada. Benar saja, pada satu daerah ada semacam pusaran-pusaran kecil ketika air menemukan celah untuk mengalir ke tempat yang lebih rendah: Sebuah pintu masuk ke ruang bawah tanah... dan letaknya tepat di bawah Patung Putra Matahari yang fondasinya biasanya dibuat menyatu dengan lantai altar.
 
"Konstruksi yang biasa ditemukan pada kastil dan benteng," komentar Kanon.
 
Kapten Tanos menoleh kepada Sang Penjaga yang wajahnya kini benar-benar pucat pasi. Katanya, "Buka! Atas nama Konsul Suci."
 
"Bukan aku yang memegang kuncinya."
 
"Oh ya? Lalu siapa?"
 
Sang penjaga diam membisu.
 
Kapten Tanos mengangkat bahunya. "Robohkan!" perintahnya.
 
Tapi tak ada seorang Ksatria pun yang bergerak. Pada titik ini mereka hanya saling berpadangan satu sama lain. Kanon bisa memakluminya. Bagaimanapun juga, mencederai Patung Putra Matahari adalah hal yang tabu.
 
"Demi Yang Menggerakkan Matahari," gerutu Kapten Tanos kesal, "Apa kalian tidak mendengar? Apa artinya sebuah patung dibandingkan dengan tegakknya kebenaran? Bukankah dulu Putra Matahari juga merobohkan patung-Patung dewa-dewa sesat di kuil Lima Unsur?"
 
Melihat Sang Kapten bergerak, Kanon, Navi, Ludo dan ksatria lainnya pun segera ikut serta sekuat tenaga mendorong patung yang terbuat dari besi dan tembaga tersebut. Maka tak lama berselang rubuhlah patung tersebut beserta fondasinya, dengan suara gemeretak yang memekakkan telinga. Akibat benturan yang keras, kepala sang patung pun terpisah dari tubuhnya, menggelinding sampai ke seberang ruangan. 
 
"Ludo, Navi, dan kau juga Nak, ikuti aku," kata Sang Kapten, "Yang lain tunggu di sini. Awasi dia dan tetap waspada." 
 
Lalu sambil membawa lentera dan tongkat-obor yang tadi dibawa sang penjaga masuklah kapten Tanos melalui lubang menuju ruang bawah tanah, menuruni deretan anak tangga yang membawa mereka berempat masuk lebih dalam.
 
"Ini benar-benar luar biasa," gumam Ludo antusias beberapa saat kemudian saat lorong yang mereka lalui akhirnya bercabang menjadi sebuah perempatan. "Aku sungguh-sungguh mengira kita hanya akan menemukan ruang bawah tanah biasa."
 
"... Balazir Midas, adalah raja terakhir kerajaan Balor, yang lebih dari dua abad yang lalu tewas ketika mempertahankan wilayah ini dari serangan kerajaan Ishtar," kata Navi, "Legenda menyebutkan bahwa di bentengnya ia dan pasukannya bertahan berminggu-minggu  dari kepungan musuh sebelum akhirnya mereka terpaksa menggunakan banyak meriam dan ketapel untuk menerobos masuk dan merobohkan sebagian besar bangunan benteng."
 
"Berminggu-minggu?" tanya Kanon.
 
"Konon setelah persediaan makanan habis, mereka mulai memakan kuda-kuda yang ada di istal, juga anjing-anjing penjaga, bahkan tikus-tikus yang berkeliaran. Lalu ketika semua itu habis," kata Sang Kapten dramatis, "mereka mulai membunuhi para tahanan, juga para pelayan, untuk dijadikan bahan makanan."
 
"..." 
 
"Jadi ada kemungkinan, bahwa kompleks... kurasa--penjara bawah tanah ini adalah apa yang tersisa dari benteng tersebut?" tanya Ludo.
 
"Bisa jadi. Bagaimanapun juga tempat seperti ini adalah sarang yang sempurna bagi para Ksatria Ordo Burung Hantu yang bertugas untuk mengamankan dan menyadarkan musuh-musuh kuil atas kesalahan yang mereka perbuat."
 
"Lalu sekarang bagaimana? Berpencar?"
 
Sang Kapten menggelengkan kepalanya. "Terlalu beresiko. Sebentar... aku mencium bau darah di sebelah kanan dan bau kematian di sebelah kiri sementara di depan ada aroma kegelapan." ia mengangkat bahu, "Tak ada bedanya. Terus maju!"
 
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah aula berlantai tanah dan pasir dengan deretan terali besi di dinding yang sepintas mengingatkan Kanon pada reruntuhan koloseum di kota Remus. Tapi tidak, di balik masing-masing terali besi itu, adalah ruang-ruang tahanan di mana belasan atau bahkan puluhan manusia berdesakan, telanjang, dengan wajah pucat ketakutan dan tubuh kurus kering--terlalu lemas dan lemah bahkan untuk sekedar berbicara. 
 
Dalam kondisi seperti itu, sulit mengetahui mana di antara mereka yang laki-laki ataupun perempuan. Nah, bahkan sepintas agak sulit untuk benar-benar menyebut mereka manusia dan bukannya makhluk-makhluk jahat dari dongeng-dongeng kuno. Selain menelanjangi, yang menahan mereka juga telah mencukur habis seluruh rambut di tubuh para tahanan tersebut, di kepala, wajah, ketiak dan bahkan kemaluan mereka, dan entah bagaimana mencegahnya tumbuh kembali kecuali berupa rambut-rambut halus seperti yang biasa tumbuh dikepala orang yang sudah lanjut usia.
 
Tapi bukan itu yang membuat Kanon memuntahkan seluruh makan siangnya, juga beberapa potong roti yang ia lahap pada pagi harinya.
 
Di tengah-tengah aula tersebut, dua buah tiang kayu didirikan berdekatan. Di antara keduanya, seorang wanita tergantung terbalik dengan tangan dan kaki terentang masing-masing terikat kuat pada tiang-tiang tersebut.
 
Mayat seorang wanita lebih tepatnya.
 
Ada bekas genangan darah tepat di bawahnya, mengalir dari perut sang wanita membasahi dada dan kepalanya, sebelum akhirnya menetes ke tanah. 
 
"Gergaji Simon," di antara muntahnya, samar-sama Kanon mendengar komentar Ludo dan seketika ia bisa membayangkan apa yang telah terjadi di sana:
 
Malam, atau mungkin siang. 
 
Para penjaga masuk, mungkin dengan wajah ceria, mungkin sambil tertawa, sementara para tahanan sama berdesakan, mungkin dalam keputusasaan bertanya-tanya.
 
Siapa saja. Tak ada bedanya.
 
Sejak para tahanan sungguh-sungguh telah ditelanjangi, saat itu pula mereka kehilangan identitasnya.
 
Terali besi terbuka.
 
Para tahanan di ruangan tersebut mungkin mulai menangis, terisak, memohon, mengiba, dalam kesia-siaan, berharap belas kasihan para penjaga.
 
Itu membuat para penjaga makin tergelak.
 
Satu-satunya alasan mereka tetap melemparkan potongan roti dan buah busuk, juga air mentah yang rasanya pahit, adalah agar para tahanan masih bisa menjerit cukup keras saat pertunjukan dilakukan.
 
Juga saat mereka tanpa ampun menyeret sang korban ke tengah arena lalu membalikkannya di tiang gantungan.
 
Lalu datanglah para algojo dengan sebilah gergaji.
 
Pertunjukan akan segera dimulai.
 
Sang Korban kembali berteriak-teriak saat gerigi logam gergaji tersebut menyentuh kemaluannya.
 
Tapi belum. Tunggu.
 
Para Algojo tertawa lalu kembali menjauhkan gergaji dari tubuh sang korban.
 
Mereka lalu mulai berbicara, mengejek, mengumpat, retorika penghinaan, mempermainkan emosi para penonton dan sang korban, sementara menunggu aliran darah dalam tubuhnya stabil.
 
Kemudian para algojo kembali mengangkat gergaji tersebut, memposisikannya tepat di tengah-tengah, kali ini dengan sungguh-sungguh mulai menggerakkannya maju dan mundur.
 
Perlahan.
 
Perlahan.
 
Perlahan.
 
Lalu sesaat berhenti.
 
Kembali menunggu sampai Sang Korban berhenti berteriak.
 
Tak banyak darah yang mengalir.
 
Dalam kondisi tubuh terbalik, tekanan darah menurun.
 
Memulai kembali.
 
Berhenti.
 
Memulai kembali.
 
Berhenti.
 
Berulang-ulang.
 
Hingga akhirnya bilah gergaji itu tepat berada di tengah-tengah perut sang korban.
 
Cukup.
 
Darah mulai banyak mengalir.
 
Usus sang korban terburai.
 
Sementara ia masih sadarkan diri.
 
Para penjaga tampak puas.
 
Lalu sementara mereka pergi meninggalkan aula sambil membawa beberapa tahanan, sang korban akan dibiarkan sekarat, terikat ditiang, dalam penderitaan dan rasa sakit yang berkepanjangan, ditonton oleh para tahanan yang lain yang mungkin pernah mengenalnya, kawan baik dan kerabat, sampai kematian dengan penuh kasih menjemputnya.
 
"Kau baik-baik saja Nak?" Navi menepuk pundak Kanon.
 
Ia menggelengkan kepalanya.
 
Sementara itu Kapten dan Ludo tampak sedang berdiskusi tentang para tahanan. Keduanya sepakat bahwa kondisi mereka yang seperti ini, bukan ide bagus untuk langsung membawa tahanan naik ke atas. 
 
"Setidaknya kita bisa menyediakan sedikit air dan makanan sampai Para Penyembuh datang kemari," kata Ludo.
 
"Kau yakin para penyembuh bisa menyembuhkan mereka?"
 
"Setidaknya kita bisa berusaha."
 
"Humph, Navi, bagaimana keadaan si bocah?"
 
"A-aku baik-baik saja," elak Kanon.
 
"Bagus. Karena masih ada dua ruangan lagi yang perlu kita periksa. Ruang Penyiksaan dan Eksekusi kalau dugaanku tepat. Atau kau boleh ikut Navi langsung kembali ke atas untuk menyalakan Suar Biru. Kita butuh para penyembuh di sini. Aku tak tahu ini keberuntungan atau tidak, tapi saat Sabda Konsul Suci diturunkan, mereka lebih memilih meninggalkan para tahanan di sini begitu saja sampai mereka mati kelaparan."
 
"..."
 
"Ada apa nak?"
 
"Bagaiamana? Bagaiamana bisa hal semacam ini bisa terjadi?" bisiknya.
 
"Dendam mungkin motivasi utamanya. Penduduk Sal-Bor yang merupakan keturunan dari bangsa Balor banyak yang menyimpan kebencian pada penduduk Ish-Van yang banyak berasal dari bangsa Ishtar. Mereka juga menyalahkan mereka atas kondisi berat yang mereka alami setelah peperangan agung melawan Ordo Naga."
 
"Tapi bukankah semasa hidupnya Putra Matahari selalu menyerukan Cinta dan Kasih Sayang?" protes Kanon, "Lagipula ini... ini semua... tidak masuk akal. Bukankah mereka manusia?"
 
"Kau perlu banyak belajar sejarah, bocah. Bukan binatang liar tapi hanya Manusia lah yang bisa melakukan kekejaman seperti ini."
 
"Setidaknya kita bisa dengan mudah menilai pihak yang benar dan yang salah dalam suatu peperangan dari bagaimana cara mereka memperlakukan para tawanannya."
 
"Dan percayalah, nak... selama kau menjadi Ksatria Zamrud, selama kau berjuang untuk kebenaran dan kemanusiaan, kau mungkin akan menjumpai hal-hal yang jauh lebih buruk."
 
"Kuatkan dirimu."
 
"Bagaimanapun juga ini adalah bagian dari kenyataan."
 
"Kekejian. Kekejaman. Kegilaan."
 
"Selamat datang di titik gelap mentari."
 
*** *** ***
 
Post Script:
Cerita ini fiksi belaka.
Namun suatu tempat, di suatu saat, kenyataan mungkin lebih buruk.
 
Post PS:
Tahanan/Tawanan Perang sebisa mungkin harus diperlakukan dengan baik.
Begitu juga ketika melaksanakan hukuman mati.
 
Post PPS:
Kuis Moral:
 
Seorang anggota kelompok ekstrimis (istilah yang menurut penulis lebih baik dari teroris) yang merencanakan akan meledakkan suatu gedung tertangkap.
 
Menyiksanya MUNGKIN akan bisa membuatnya membocorkan detail rencana kelompok ekstrimis itu sehingga MUNGKIN bisa membantu pihak berwajib menggagalkan rencana tersebut.
 
Jadi pantaskah orang tersebut di siksa?
 
Post PPPS:
Adult Scene saya kira dapat disertakan dalam sebuah cerita secara vulgar ataupun elegan. Keputusannya mungkin ada di tangan penulis tergantung pada tujuan penulisan ceritanya dan target pembacanya. Cheers~ 
 
Post PPPPS:
Cerita ini ikut meramaikan even Cerbul forum Kastil Fantasi bulan April 2015
https://www.goodreads.com/topic/show/2330027-lomba-cerbul-kasfan-april-15

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Siane_dududu
Siane_dududu at Titik Gelap Mentari (4 years 41 weeks ago)
100

Setuju banget, kaya di film2 pas baca

Writer saharapm
saharapm at Titik Gelap Mentari (5 years 7 weeks ago)
50

Serasa nonton film bacanya hahaha, sambil dibayang-bayangin gitu. Berasa nyata ceritanya, keren! :)

Writer manusiahilang
manusiahilang at Titik Gelap Mentari (5 years 7 weeks ago)
100

Sepuluh

Writer MuhFajar
MuhFajar at Titik Gelap Mentari (5 years 7 weeks ago)

Menarik

Writer alcyon
alcyon at Titik Gelap Mentari (5 years 8 weeks ago)
100

Luar biasa, sebagaimana yg diharapkan dari sebuah master. Cerita2 dr om 145 selalu terasa mengalir, runtut, dan bs mengbrkan nuansa khasnya seperti kesadisan dan tk ekstremnya, ah... sangat bagus sekali

Writer 145
145 at Titik Gelap Mentari (5 years 8 weeks ago)

wew, thanks >_<
(mudah2an saia bisa err lebih sering posting cerita lagi)

Ah ya, silakan cek juga cerita2 lain di forum cerbul kasfan:
https://www.goodreads.com/topic/show/2330027-lomba-cerbul-kasfan-april-15

siapa tahu tertarik ikutan untuk lomba cerpen bulanan kasfan berikutnya~