Sehari Bersama Greg

Anna mengayunkan kakinya riang sambil bersenandung. Di kirinya ada deretan toko yang menjual berbagai cinderamata khas kota Rhusk. Mulai dari pajangan kayu berbentuk elang, lambang kota ini, sampai keranjang rotan dengan pegangan berbentuk sayap elang. Di kanan berbagai toko makanan memanjakan indera penciumannya. Aroma roti yang baru selesai dipanggang hingga sup kental yang baru saja matang membuat perutnya terasa kosong meskipun ia baru saja sarapan.

Ia tak ingin percaya besok ia akan kembali ke desa. Dua hari terakhir ini ia menghabiskan waktunya menjelajahi kota, tempat yang selama ini hanya bisa ia bayangkan melalui buku ceritanya. Entah apa yang dikhawatirkan kedua orang tuanya, Rhusk merupakan kota yang bahkan lebih menarik dari imajinasinya selama ini.

Ia ingin membelikan bibinya sebuah topi sebagai tanda terima kasih. Jika bukan karena kebaikan hati bibinya, ia pasti sedang mencuci di tepi sungai saat ini. Matanya tertuju kepada sebuah topi beige lebar dengan jaring hitam untuk melindungi wajah dari sengatan matahari. Ia baru saja akan menanyakan harga pada si penjual saat sehelai sapu tangan tertiup angin dan mengenai wajahnya.

Anna menarik sapu tangan itu dan menoleh ke arah datangnya sapu tangan tadi. Seorang pemuda berlari mendekatinya. Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tersenyum malu.

“Maaf.” ujarnya.

Anna mengamati pemuda di hadapannya. Ia perhatikan rambut pendeknya yang pirang, sepasang bola mata biru dengan alis tebal serta hidung yang mancung. Perawakannya yang tinggi dilengkapi dengan pundak lebar serta sepasang kaki yang jenjang. Anna baru menyadari sikap lancangnya setelah pemuda itu memandanginya dengan bingung. Buru-buru ia kembalikan sapu tangan itu sambil menunduk.

Pemuda itu mengulurkan tangannya, “Greg.”

Butuh sejenak sebelum Anna mampu merespon pemuda tampan di hadapannya, “Anna.” balasnya sambil menyambut tangan pemuda itu.

“Kau bukan dari sini ya?” tanya Greg setelah mengamati pakaian Anna.

Anna menggeleng malu. Tangannya memainkan ujung rok hijau tuanya.

“Sudah ke alun-alun Palda?”

Lagi-lagi Anna menggeleng. “Aku ingin ke sana, tapi terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki.”

“Mau kuantar? Kebetulan pamanku punya beberapa kuda. Kurasa ia tak akan keberatan jika kupinjam kudanya seekor.” bibir tipisnya menyunggingkan senyum usil yang membuat Anna sulit berpikir jernih.

***

Entah apa yang ada di pikiran Anna, tapi sekarang ia sudah menunggangi kuda bersama dengan seorang pemuda asing yang baru saja dikenalnya. Sepanjang jalan ia tak berhenti mengagumi bangunan-bangunan kotak warna-warni yang berderet rapi di sepanjang sungai Lugra. Hanya di kota terdapat kerumunan manusia yang dari jauh terlihat seperti kumpulan semut yang terperangkap dalam labirin.

Greg mengikatkan kudanya pada sebuah pasak dan mengajak Anna ke tengah alun-alun dimana terdapat sebuah patung elang yang terbuat dari perak yang disepuh emas dan berhiaskan ruby sebagai mata elangnya. Anna menganga melihat betapa besar dan gagahnya patung itu. Cahaya matahari memantulkan sinarnya pada sekujur tubuh elang, menyilaukan mata yang memandangnya.

Kemudian Greg mengajaknya ke salah satu penjual topi kenalannya. Anna tersipu karena Greg ingat ia sedang melihat-lihat topi saat sapu tangan pemuda itu menerpa wajahnya. Anna menghabiskan waktu lama mencoba berbagai topi sebelum akhirnya memilih sebuah topi berwarna krem dengan hiasan bunga peony merah yang terbuat dari sutra.

Selepas dari sana, Greg mengajaknya mencoba biskuit buatan Ergard. Bibir Anna mengerucut saat ia mencoba biskuit dengan toping buah plum. Namun senyumnya mengembang saat ia mencoba biskuit apel. Anna membeli segenggam biskuit dan membaginya dengan Greg. Mereka berjalan melewati toko-toko pakaian mewah, sesekali mereka mengernyitkan dahi kemudian berpandangan dan tertawa saat melihat pakaian mode terbaru yang terlihat konyol.

Saat matahari tepat berada di atas kepala mereka, terdengar suara bel dari menara di sebelah selatan. Greg membawanya mendekat ke menara itu dan membiarkan Anna mengaguminya. Di bagian atas menara sebuah bel emas raksasa bergoyang seolah mengikuti semilir angin. Greg tak pernah bosan mengamati ekspresi lugu Anna setiap ia mengagumi sebuah objek baru layaknya seorang anak yang baru melihat permen sebesar tubuhnya.

Ia membawa Anna ke sebuah restoran di sudut alun-alun. Anna tampak ragu saat ia melihat piring berisi potongan daging dengan kentang tumbuk dan potongan tomat. Ia tidak tahu apakah orang kota makan daging dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan di desa. Ia yakin jika ia tidak makan menggunakan cara yang benar maka Greg pasti akan malu luar biasa telah membawanya ke sini, dan mungkin pemuda itu tidak akan lagi bersikap ramah terhadapnya. Anna menunggu Greg makan dan mendesah lega saat Greg memotong daging menggunakan pisau kecilnya sebelum melahap potongan daging itu.

“Jadi, kau tinggal dengan bibimu di sini?” Greg membuka percakapan.

“Ya. Tapi aku tidak akan lama di sini. Besok aku sudah harus kembali ke desaku.” ucap Anna, ada nada menyesal dalam penjelasannya.

Greg tampak terkejut. “Cepat sekali. Padahal..”

Anna menunggu Greg menyelesaikan kalimatnya, tapi Greg hanya menggeleng dan tersenyum saat Anna terus memandanginya dengan penuh harapan.

Setelah menghabiskan penutup mulut berupa puding Greg mengajaknya ke sebuah toko lukisan. Ia meminta sang pelukis untuk menggambar sketsa sederhana wajah Anna menggunakan pensil. Anna menggoyangkan tangannya, ia tidak pernah menjadi model dan ia sendiri tidak yakin apakah wajahnya pantas untuk dilukis.

“Nona, saya sudah melukis ribuan wajah orang dan saya bahkan tidak keberatan jika diminta untuk melukis wajah Anda di atas kanvas.”

“Lagipula semua wanita terlihat cantik asal mereka tersenyum.” Greg menambahi.

Anna dapat merasakan wajahnya merona hanya dengan satu kalimat sederhana itu. Gombalan yang seringkali ia dengar dari pemuda desa setempatnya. Entah mengapa saat Greg yang mengatakan itu, Anna merasa bahwa Greg sedang memujinya.

Akhirnya Anna duduk dan mengikuti arahan sang pelukis. Greg memandang cermat kelincahan tangan sang pelukis dan berdecak kagum. Kurang dari satu jam, sang pelukis sudah menyelesaikan tugasnya. Anna terperangah saat melihat sketsa wajahnya. Ia terlihat sangat bahagia dan.. Cantik. Rambutnya yang dikepang dua tidak lantas membuat wajahnya terlihat kampungan. Ia tersenyum lebar mengamati kertas di hadapannya. Greg membayar pelukis itu dan mengajak Anna pulang.

Dalam perjalanan pulang Anna memberanikan diri memeluk pinggang Greg dan menyandarkan kepalanya pada punggungnya. Greg terkejut tapi tidak menolaknya, sebuah senyum terukir di bibirnya.

Setelah mengembalikan kuda milik pamannya mereka berjalan menyusuri kota dan menikmati keramaian yang mulai menghilang. Satu persatu toko mulai tutup dan orang-orang mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Greg memetik sejumlah bunga liar dan memberikannya pada Anna. Mereka mengagumi matahari yang perlahan tenggelam dari jembatan Vilce.

Greg mengantarnya pulang dan mengucapkan selamat tinggal. Sebelum pergi ia mengecup cepat pipi Anna dan menyelipkan selembar kertas ke dalam saku roknya. Anna mematung di tempat dan menyentuh pipinya. Ingin rasanya ia berteriak keras-keras hingga seluruh Rhusk dapat turut merasakan kegembiraannya.

Anna buru-buru masuk ke kemarnya sebelum bibinya yang sedang sibuk di dapur melihat bunga dan sketsanya. Ia merebahkan badan di ranjang dan memejamkan mata, memutar ulang petualangannya hari ini. Sesekali kakinya bergerak memukul-mukul ranjangnya saat jantungnya berdebar, mengingat saat-saat dimana ia dan Greg tanpa sengaja bersentuhan. Atau  saat kedua bola mata biru Greg memandanginya.

Ie mendesah kecewa saat teringat besok ia harus kembali ke desa. Mungkin hari ini selamanya hanya akan jadi kenangan terindahnya. Atau mungkin suatu saat nanti ia akan kembali ke kota dan bertemu lagi dengan Greg. Ia menyesal tak menanyakan Greg dimana ia tinggal. Juga warna kesukaan Greg. Apakah ia menyukai anjing sepertinya? Terlalu banyak hal yang masih ingin ia tanyakan. Tapi Anna tahu, ia tak boleh rakus. Mungkin bagi Greg ini hanyalah sebuah hari biasa, tapi bagi Anna hari ini adalah segalanya. Ia mengelap sudut matanya yang basah.

Anna menurut saat bibinya menyuruhnya untuk mandi. Secarik kertas terjatuh saat ia menanggalkan paakaiannya. Ia memungut dan membacanya.

Kutunggu jam 10 malam nanti di jembatan Vilce

Sebuah senyum lebar kembali terlukis di wajah Anna. Ia tak sabar menunggu bibinya tidur dan menyelinap pergi. Dalam hati ia berterima kasih pada Tuhan telah memberikannya kesempatan kedua. Ia sudah menemukan apa yang tidak ia temukan di desa. Jika ia memang ingin bertemu lagi dengan Greg, ia harus dan akan mengusahakannya.

Anna menghabiskan banyak waktu mematut dirinya di depan cermin. Ia merapikan ujung roknya yang tidak kusut dan menyemprotkan sedikit minyak wangi. Setelah memastikan bibinya sudah tidur, ia keluar dan melangkah ringan. Angin malam yang dingin tidak sedikitpun menyurutkan semangatnya. Ia tahu ia datang terlalu awal, tapi ia tak dapat menahan gejolak dalam dirinya. Suasana kota yang sunyi dan gelap tak jauh berbeda dari desanya. Anna berjalan bolak-balik dengan gelisah, mengulang semua pertanyaan yang ingin ia tanyakan agar tak ada lagi yang terlewat.

***

Dalam sebuah basement kecil yang terletak di bawah motel sekumpulan pria tua membuat kegaduhan. Seorang pemuda mengetukkan palunya di atas meja untuk menenangkan mereka.

“Tiga ratus keping emas! Ada yang mau menawar lagi?” tanya pemuda tersebut

Beberapa pria bercakap-cakap gelisah, sebagian lainnya mengangkat kedua tangan mereka dan mengeluarkan sumpah serapah.

“Satu kali, dua kali, ter-“

“Tiga ratus lima puluh!” Ergard mengacungkan tangannya.

“Tiga ratus lima puluh!” sambut pemuda beramput pirang itu dengan semangat, “Ada yang mau menawar lagi? Satu kali, dua kali, terjual!” kemudian ia mengetukkan palunya tiga kali dan mempersilahkan Ergard untuk maju.

Ergard menyerahkan sebuah kantong kotor yang hampir jebol. Pemuda itu membuka dan mengeluarkan kepingan emas di dalamnya. Kedua bola mata birunya berkilat melihat tumpukan koin di hadapannya.

Setelah puas ia merapikan lagi kepingan emas itu dan berbisik pada Ergard, “jembatan Vilce.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rian
rian at Sehari Bersama Greg (7 years 18 weeks ago)
90

Terlepas dari rencananya Greg yang menurut saya agak kurang masuk akal itu, cerpen ini oke sih. Narasinya enggak wow amat, tapi rapi enak dibaca. Petualangannya kurang, tapi saya suka tipe-tipe cerita realis kayak gini, gimana sesuatu yang biasa aja sebenernya bisa ngasih kesan ke kita. Kesimpulannya ini menghibur. Makasih, ya:D

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 18 weeks ago)

Iya nih, setelah saya baca ulang setelah diendapkan hampir seminggu memang agak kurang kerjaan si Greg ini. Padahal awalnya saya bermaksud menggambarkan Greg sebagai tokoh antagonis tapi keren gimana gitu.
Saya yang terima kasih karena sudah mampir di sini :D

Writer moon eye
moon eye at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
70

hai, Liesl :)
.
membaca deskripsi Greg di cerita ini berhasil menghapus sosok meme GoogdGuyGreg yang ada di benakku. tapi sosok Anna tiba-tiba menjelma menjadi Princess Anna dari Frozen gara-gara kalimat;
Rambutnya yang dikepang dua tidak lantas membuat wajahnya terlihat kampungan.
hehehe.
.
kenapa nggak bikin petualangan Anna membebaskan diri dari Ergard aja? hehehe :p
.
tapi secara keseluruhan, aku suka ceritanya :D
.
sekian dan semoga berkenan.
semangat :D

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 18 weeks ago)

Benar juga Anna frozen dikepang dua. Saya enggak nonton filmnya sih, jadi ngga bermaksud meniru Anna yang di frozen. Saya bahkan lupa kalau ada yang namanya Anna di sana. Ingetnya cuma Elsa dan lagu let it go.

Karena endingnya saya tidak bermaksud membuat Anna berhasil kabur hohoho *iya saya memang penulis kejam*

Terima kasih sudah mampir :)

Writer Shinichi
Shinichi at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
70

Oke, ahahahaha. Kalian ini, kok lucu-lucu imut-imut begitu ya. Ahak hak hak. Saya membaca cerpen ini setelah berturut-turut: cerpen Patah, Pintu, dan Sabtu Malam. Dan saya enggak berhenti senyum-senyum, sampe tertawa, terlepas dari apakah ketiga cerita tsb komedi atau yang lain. Pasalnya, ada beberapa hal yang rasanya lucu, yang saya pikir enggak lucu jugak. Nah lho. Di cerita ini, saya nemu kalimat Jika bukan karena kebaikan hati bibinya, ia pasti sedang mencuci di tepi sungai saat ini. Lucu kan? Ahak hak hak. Kesan dari kalimat itu adalah mencuci itu perbuatan yang enggak bagus, makanya ketika itu berhasil luput mengenai seseorang, orang yang membuatnya luput dianggap telah melakukan kebaikan. Ya ampun! Ahak hak hak. Kocak kali bagian itu. Hohohoho.
.
Pokoknya terhibur deh diriku. Selain ya saya pikir penilaian yang paling pantas justru dari penantang. Pembaca bisa dibilang sambil lalu sahaja. Kip nulis dan kalakupand ya. Ahak hak hak.

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 18 weeks ago)

Well.. Mencuci itu perbuatan yang membosankan dan melelahkan kan .-.
Tapi baguslah kalau cerita saya menghibur, biarpun bukan menghibur seperti yang saya bayangkan hahaha.

Terima kasih sudah mampir~

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
80

Sya suka gaya penceritaannya. Serasa dibawa jalan-jalan. Untuk hal lainnya, udah dibahaa panjang lebar ama Kak nine dan kak Alycon. Ya sudah deh, ane nyumbang poin aja. Lagian kalo komentar juga pasti bakal mirip-mirip mereka. Dripada ngulang.
.
Untuk Kak liesl, terus semangat menulis ya. Kalau ada tantangan ikut aja lagi, mwehehehe :D
gimana rasanya keluar dri zona aman? Menyenangkan? Senang dong ya #plak *ditimpuk bata*

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 18 weeks ago)

Seru juga keluar dari zona aman. Berikutnya mungkin akan saya coba masuk zona setengah mati #banyakgaya

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Sehari Bersama Greg (7 years 18 weeks ago)

Zona kematian mungkin? Di mana penulis harus membuat cerpen fusion puisi dengan genre horor-komedi-thriller-cinta-sejarah.
Ane bakal langsung ngangkat bendera putih dah.
Btw, situ juga ngunjungin lapak 'manusiahilang' ya? Mwehehehe, saya kelihatan sok bijak di sana. Kyaa! Nanti nampak tua aku!

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 18 weeks ago)

Bisa jadi. Jangan lupa cerpen-puisi itu harus ditujukan untuk anak-anak SD, jadi bahasanya ga boleh terlalu kompleks *gali kubur*

Abis gemes ada aja orang2 aneh kaya dia dan yang sebelumnya siapalah itu yang nganggep web ini kaya dropbox hahah.
Menyerahlah Thiya. Rahasia umurmu yang sesungguhnya sudah tua itu sudah menjadi rahasia umum! Kekekeke

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Sehari Bersama Greg (7 years 18 weeks ago)

Oh itu, ane juga lupa siapa namanya. Yah... sebelas-duabelas lah mereka berdua. hakakaka :D
Busyet dah, tantangannya yang greget itu. Mudah-mudahan tidak ada orang gila yang mengajukan tantangan itu forum.
.
Oke, akan saya ajukan nanti <---nih orang gilanya.
.
Kyaaa!! Saya masih muda! Masih 14 tahun! Masih unyu-unyunya dan sedang imut-imutnya. Tidak!! Saya tidak tua, tidak tua!!! *menjerti sambil menjambak rambut Liesl (?)*

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 18 weeks ago)

Mudah2an ga ada orang gila yang mau ikut tantangan itu..

Saya sih ga ikutan <-- bukan orang gila

Yah orang gila memang biasanya delusional sih.. *kabur*

Writer Nine
Nine at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
100

Manis tapi pahit, bittersweet :)
.
Saya suka sama penulis yang membuat karakter tampan dan heroik menjadi bajingan di akhir cerita. Apakah akan dilanjutkan? Ato memang mau dikasih menggantung begitu? Saya ngak peduli amat sih, soalnya pembawaannya dari awal sudah muantaf.
.
Satu saja keluhanku, ngak ada konflik sama sekali dalam cerita ini (subjektif). Datar saja. Tapi enak dibaca, dan penceritaannya menarik.. (y)
.
Untuk si Greg yg adalah seorang penjual manusia ato penyedia jasa "cinta satu malam", kayaknya kurang efektif cara berdagangnya. Masak asetnya disuruh nunggu di jembatan, padahal bisa saja si aset lari, ato ngak datang2. Mungkin si Greg ini sudah berpengalaman yah? Ah, sudahlah.
.
Untuk penulisan udah rapi, ngak ada typo. Jdi overal: Nice
.
Untuk ceritanya ini enak, dan menghibur pula. :)
.
Sekian dari saya, mohon maap kalau ada salah paham atau kata yang kurang berkenan.
.
Salam olahraga (y)

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 18 weeks ago)

Uh.. Endingnya sampai di situ aja sih. Sisanya Anna bagaimana silahkan diimajinasikan sendiri :D
Iya nih niatnya mau memberikan twist yang bagus, tapi jadinya malah maksa banget twistnya..
Betul, Greg penipu ulung yang sudah banyak makan asam garam di bidangnya hahaha.
Terima kasih sudah mampir :)

Salam malas-malasan (karena saya malas berolahraga)

Writer alcyon
alcyon at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
100

pertama: unsur petualangannya kurang dapat, kalo cuman keliling kota, kurasa belum masuk petualangan deh
kedua: slice of life, kalo soal penipuan, okelah, tapi tdk dijelaskan untuk apa? klo cuman mau nyulik gadis buat dijual atau dijadikan pelacur, ngapain harus pake acara kayak gitu segala, cukuplah diculik waktu dia ngelewatin gang sepi, beres, gak usah panjang2 pake ngerayu segala
ketiga: si anna tanpa sebab musabab penjelasan apapun mudah terpikat dengan si pemerkosa, eh si penipu, dan mau diajak jalan2. kalo memang si greg tipe cowok idaman ana, berarti ini tentunya hari keberuntungan dia kan?
keempat : kenapa anna begitu mudahnya terjatuh hati dengan cowok yang baru dikenalnya? emangnya orang tuanya di desa tidak memberitahu untuk tidak mudah percaya orang asing?
kelima : menculik di jembatan? apa tidak ketauan orang lain. jembatan itu kan tempat rame??
keenam : gimana cara edgard menculik? dia kan bukan greg? tentunya si ana langsung lari begitu ada orang asing mesam mesem ke arahnya dan itu bukan greg? pake karung? kenapa gak dari awal aja nangkapnya, gak perlu pake kenalan dengan greg segala
ketujuh: mungkin lebih baik kalo ketemuannya di hotel Hilton misalnya, lebih mudah nyuliknya

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)

1: Iya, memang ga maksimal unsur petualangannya nih..
2: Karena saat saya bikin Greg saya ngebayangin dia tipe orang yang cerdas, licik, dan narsis. Jadi dia memang sengaja pake charm dia buat merayu cewe2 polos seperti Anna.
3: Karena Anna bukan korban pertamanya. Jadi Greg udah tau tipe cewe yang kira2 bakal mudah kemakan rayuannya.
4: karena Anna terlalu polos.. Dan selama dua hari pertama di kota dia merasa aman karena ga terjadi apa2. Orang tuanya sudah mengingatkan kok. Secara implisit ada di kalimat ini: " Entah apa yang dikhawatirkan kedua orang tuanya, Rhusk merupakan kota yang bahkan lebih menarik dari imajinasinya selama ini."
5: Ngga karena ketemunya malem2.. Ini settingnya kan jaman dulu jadi kalau malem jarang ada orang yang masih keluar2 rumah.
6: Nah kalau itu memang saya serahkan pada pembaca mau bayangin kejadian persisnya gimana. Saya pribadi ngebayanginnya sih Ergard akan bilang kalau Greg kecelakaan atau sesuatu terus bawa Anna ke motel. Atau mau pake kekerasan ngancem bawa pisau juga bisa, karena itu malam2 dan sepi. Kalau siang2 ga akan bisa culik orang begitu. Kalau Anna ga kenalan sama Greg dia ga akan keluar malam2 sendirian begitu kan..
7: Jaman itu belum ada hotel Hilton hahaha. Bayangin seandainya cewe seperti Anna diajak ketemuan di hotel/motel, saya rasa Anna ga akan dateng. Kalau jembatan kan yang ada di bayangan Anna tempat yang romantis. Karena sebelumnya mereka ngobrol2 sambil liat sunset di sana.

Intinya kenapa Greg merayu Anna seharian (selain karena Greg narsis) supaya Anna keluar malem2 sendirian jadi gampang diculiknya.

Terima kasih sudah mampir :)

Writer latophia
latophia at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
90

Saya suka ceritanya, walaupun kurang berasa petualangannya sih, penceritaannya juga enak, cuma endingnya menurutku terlalu maksain twist... maksudku harusnya peluang Anna dateng ke jembatan kan msh 50:50, tp pembelinya udah ngasih uangnya aja ke Greg...
.
Tapi di luar itu saya suka semuanya kok... semoga berkenan ya ~

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)

Pas saya bikin karakter Greg saya ngebayanginnya dia itu penipu ulung yang narsistik. Ergard dan om2 lainnya itu semacam 'pelanggan' dia dan Anna bukan korban pertamanya. Jadi mereka udh sering transaksi sebelumnya. Salah saya juga sih karena ga ada banyak penjelasan tentang Greg di sini.

Terima kasih sudah mampir :)

Writer ilham damanik
ilham damanik at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
80

Halo, Mbak Liesl :)
Langsung eksekusi aja ya :)
Slice of life nya dapet tapi petualangannya kurang berkesan. Si Anna cuma pergi ke kota, ketemu Greg dan aku mikir dari situlah petualangannya bakal dimulai tapi ,... ah sudahlah.
Terus endingnya kok si greg yang nutup cerita? Anna kemana? Ini petualangan si Anna kan? -_- Bingung nih jelasinnya, kamu mikir sendiri aja ya :p

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)

Sisi petualangannya memang sama sekali ga maksimal di cerita ini.. Harusnya lebih banyak interaksi antara Anna dan Greg dan juga perkenalan mereka lebih panjang.

Endingnya memberikan clue pada pembaca apa yang kira2 akan terjadi pada Anna, tepatnya seperti apa, saya ingin pembaca yang berimajinasi sendiri. Sudah dijelaskan juga Anna kemana. Tapi kalau kamu tidak mampu berimajinasi Anna akan bagaimana ya saya tidak bisa apa2 :)

Writer benmi
benmi at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
60

Petualangannya kurang greget.. kl kubaca. Lebih berasa slice of lifenya.. makan skedar jln2 di kota keliling.. kyknya bukan petualangan leh.. dlm bygnku petualangan itu hal2 yg menegangkan.
Tp ceritanya lumayan mengalir sih..

Anw.. smoga komentnya berkenan... salam

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)

Iya memang saya sendiri juga merasa kurang feel petualangannya di cerita ini kok benmi..

Terima kasih sudah mampir :)

Writer hidden pen
hidden pen at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
80

hay kk liesl. Maaf mengunjungi lapakmu. Dan sepertinya thiya udah banyak memakan korban kali ini. Hahaha . Ehm ehm. Begini, aku mungkin agak bingung membaca pikiran anna dan greg. Namanya keren kak hehe. Juga banyak mistery tentang apa sih? Apa yang membuat anna berterima kasih pada bibinya dan petualangannya aku rasa kurang. Mungkin perkenalan ann dan greg lebih lama . Agar makin greget. Cukup dariku ya? Maaf bila tidak berkenan.

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)

Iya ada penjelasan yang bolong dan sebenernya interaksi antara Anna dan Greg tadinya mau saya bikin bertahap dalam 3 hari. Tapi karena nulisnya dikejar deadline (yg ternyata diundur) begitulah.. XD

Berkenan kok. Saya sendiri pas baca juga merasa cerita ini kurang greget, kurang maksimal.

Terima kasih sudah mampir :)

Writer kemalbarca
kemalbarca at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
70

ketika baca, aku selalu memikirkan apa yang bakal terjadi di endingnya, karna aku menolak percaya ceritanya hanya se-klise itu
ternyata bener endingnya ketauan dia penipu
tapi sayangnya aku masih merasa si Anna ini terlalu adey ayem diajak pria asing menunggangi kuda entah kemana, ekspresinya kurang
gitu aja sih
oh mungkin satu lagi, kurasa sisi petualangannya kurang, karna pribadi aku nganggap apa yang dilakukan Anna gak bisa dibilang petualangan (karna di kepalaku petualangan itu melakukan sesuatu menegangkan, hehe, imajinasi anak kecil)
kip nulis :D

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)

Iya nih kemarin itu nulisnya dikejar deadline.. Jadi ga sempet diendapkan lagi deh cerpennya hahaha.
Saya juga merasa sih kurang sisi petualangannya.-.
Memang bukan cerita terbaik saya.

Terima kasih sudah mampir :)

Writer Zarra14
Zarra14 at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)
80

Wah jadi si Greg ini penipu ya, sedih euy. Tapi kenapa ending-nya ngegantung?
Campuran petualangan dan slice of life-nya dapet, tapi menurut saya bisa lebih banyak yang diceritakan daripada sekedar petualangan Anna di kota, ketemu Greg dan ternyata ditipu. Lanjutannya seperti apa yang bakal Edgard lakukan ke Anna, kenapa Greg mau jual si Anna, lebih bagus ditambahin. Itu pendapat pribadi saya aja sih hehe soalnya saya penasaran~ :o
Dari sisi penulisan udah lumayan rapih hehe, keep nulis :D

Writer Liesl
Liesl at Sehari Bersama Greg (7 years 19 weeks ago)

Mungkin harusnya menceritakan dua hari pertama Anna di kota sebelum bertemu Greg, atau menceritakan Greg lebih banyak ya?
Kalau itu memang saya sengaja bikin ending yg ngegantung supaya pembaca bisa berimajinasi sendiri Anna diapain Ergard nanti :p

Terima kasih atas sarannya :)