Mimikri : Harapan (Part 4)

"Selamat malam Ren!"
Tiba-tiba pundakku ditepuk dengan sebuah berkas, "Mau ikut terbang ke Ketapang malam ini?"

Aku berhenti dan berbalik. Batal meneruskan langkahku pada koridor kantor kepolisian. Kira-kira hanya sekitar sepuluh langkah dari pintu kantorku. Tadinya aku berencana untuk menemui Andra di rumah sakit.

Seseorang tersenyum padaku.

Pria berseragam polisi yang sudah tak asing lagi. Dari tag namanya terbaca nama Hemy Susanto. Tapi aku tidak butuh pengenal lain untuk mengenali pemuda jangkung di hadapanku saat ini. Merupakan salah satu penyelidik bagian Intelijen dan Keamanan. Dia Hemy, sahabat karibku sejak kecil.

Aku tersenyum balik, "Tugas bung?"

"Ya, meteor jatuh dan begitulah, hm... Bapak AKP (Ajun Komisaris Polisi) Yos Sudarso yang bertugas di tempat perkara langsung menghubungi Bapak Kombes (Komisaris Besar Polisi) Budi Gunawan barusan. Beliau meminta bantuan pengamanan. Katanya takut terjadi kerusuhan di sana. Kamu sendiri mau ikut?"

"Ah, tidak. Saya sudah selesai mengumpulkan bukti disana. Kasus pembunuhan yang kemarin kuceritakan, kebetulan semua saksi saya sudah di Pontianak. Salah satunya saat ini sedang menjenguk sahabatnya di rumah sakit dekat sini. Saya berpikir untuk mengunjunginya sebentar lagi. Tapi meteor ya? Sebentar! Nanti saya nyusul."

Aku lalu menelepon Andra untuk membatalkan pertemuan kami.

Sedikit sulit bagiku untuk mengurus pemuda itu.

Beberapa hari yang lalu ia selalu berceloteh tentang meteor di mimpinya -- invasi alien. Walau Mira memberitahu bahwa bongkahan meteorit itu tidak mengandung kehidupan apapun. Tetap saja aku merasa harus menyelidikinya lagi.

Lagian hujan meteor ini!

Aku memandang langit hitam. Kenapa bisa begitu kebetulan?

"Hem, tunggu saya ikut ke Ketapang!"
Teriakku sambil berlari cepat keluar dari kantor Polda.

Berlari menyusul sosok Hemy yang sudah agak jauh di lapangan depan. Tidak buruk ide terbang dengan helikopter, daripada aku harus menempuh sepuluh jam yang melelahkan dengan mobil lalu kapal ferry.

Ia hanya tersenyum saat melihatku yang kehabisan nafas. Lalu kami bersama berjalan pelan menuju hangar helikopter yang jaraknya agak jauh. Tepatnya kompleks sebelah kantor Polda.

***

"Pemirsa, kembali lagi bersama Breaking News Metro TV."

"Baru saja terjadi hujan meteor di daerah Ketapang dan Pontianak-- Kalimantan Barat. Seperti yang Anda saksikan di layar kaca. Pada video amatiran ini terlihat bahwa meteor yang jatuh berukuran cukup besar sehingga menimbulkan sejumlah kerusakan pada sisi jalan dan bangunan. Belum dapat dipastikan korban jiwa dalam peristiwa ini. Tapi berdasarkan informasi yang baru saja masuk. Saat ini terjadi kebakaran hutan yang cukup besar di Bukit Sedayang pedalaman kabupaten Ketapang. Api diduga berasal dari batu meteor yang sama. Sampai berita ini diturunkan, masyarakat setempat bekerja sama dengan Polisi dan Dinas Pemadam Kebakaran masih mencoba memadamkan kobaran api."

"Demikan Breaking News. Saya Wahyu Wiwoho, Metro TV melaporkan."

Kring-Kring
Kring-Kring

Suara telepon bersahut-sahutan kompak terdengar dari meja resepsionis. Letaknya tak jauh, kira-kira sekitar tiga meter dari tempatku berdiri. Pandanganku pun terlepas dari layar televisi -- LCD di depanku. Beralih mengamati mereka, tiga orang -- semuanya perempuan muda berseragam putih yang sibuk menjawab panggilan-panggilan itu.

Beberapa menit berikutnya terdengar suara berisik dercit roda diiringi derap langkah kaki. Lalu suara percakapan orang-orang dari ujung lorong. Di arah yang sama kulihat dokter-dokter muda dan petugas medis lainnya tampak bergegas. Berlari kecil menuju arah kami.

Beberapa mata yang sempat menyadari, aku dan beberapa anak muda sempat minggir ke tepi. Istilahnya mengungsi. Bersandar dekat pojokan dinding untuk memberi jalan para petugas yang juga mendorong kasur beroda besar. Sementara yang lain segera melakukan hal yang sama setelah ada instruksi dari para petugas yang lewat.

Tadinya kami memang cukup ramai berkumpul -- tua, muda bahkan anak kecil. Ada yang berdiri dan duduk. Bersama menyaksikan siaran langsung dari televisi. Tampaknya semua orang cukup penasaran dengan meteor di luar sana, apalagi peristiwa unik itu terlihat begitu jelas tadi, saat kami di luar.

Mungkin saja mereka semua akan terus terpesona pada cahaya-cahaya nyala api meteor yang mewarnai hitamnya langit. Hanya saja setelah beberapa goncangan kecil yang terjadi berikutnya, orang-orang tak jadi merekam dan malah masuk bersembunyi ke dalam gedung.

Sepatuku sedikit hitam. Terkena tanah saat diinjak paksa. Ya, beberapa ibu-ibu sempat mendorongku. Bahkan mereka terlihat lebih panik dan histeris saat berebut masuk ke dalam sini.

Tadinya kami, para pengungsi sementara di lobby rumah sakit. Kira-kira jumlahnya ada puluhan orang. Untung saja koridor rumah sakit ini cukup besar untuk menampung kami semua. Tapi mengingat kondisi di luar yang sudah lebih aman. Banyak yang memutuskan -- bergegas keluar meninggalkan tempat ini.

Aku memutuskan untuk duduk. Sekedar menarik nafas dan berpikir terlebih dahulu. Mencoba mengkaitkan benang merah yang ada. Tentang mimpiku dan meteor yang baru saja turun. Walau taklama terdengar suara ambulans dari luar pintu utama yang membuatku lupa akan tujuanku.

Apakah mereka pasien korban meteor?

Terlihat tiga kasur didorong oleh para petugas yang lewat tadi. Lewat di depanku aku sempat melihat seorang pria tua, pemuda, dan ibu-ibu berbaring sambil menjerit kesakitan.

Setelah mereka berlalu, suasana lobby kembali tenang. Mungkin sudah malam semua memutuskan pulang.

Keheningan ini nembuatku teringat kembali akan mimpiku tentang meteor.

Ya, seperti di mimpi
Inikah yang biasa disebut penglihatan?

Vision

Menyaksikan setiap malamnya pemandangan yang mungkin adalah pemikiran dari mahkluk yang sama seperti pembunuh Fakhri dan Santi.

Jika itu benar, maka...

Kecemasan menghampiriku, begitu pula rasa ketakutan. Dalam seketika aku terduduk lemas di kursi panjang di sudut belakang. Yang memang sengaja disediakan tepat depan pojok meja resepsionis.

Gemetar

Badan ini sedari tadi tak mau berhenti bergetar. Kusilangkan kedua lengan ini didada. Mengusap perlahan pergelangan tangan yang sebagian tertutup oleh lengan bajuku. Mencoba setidaknya menghangatkan jemari yang dingin karena apa yang telah kualami. Mengingat peristiwa yang telah berlalu dan penampakan peristiwa yang mungkin akan terjadi.

"Malam..."

Sebuah suara serak dengan tepukan ringan tiba-tiba menyentuh pundakku. Kontan keduanya membuatku terkejut kaget juga membuyarkan lamunanku, "Aaa.."

"Kau baik-baik saja?"

Kupandangi wajah yang tak asing itu, "Pak Rendi..."

Kehadiran penyelidik itu membuatku terjaga. Walau aku tidak menyangka. Tadinya aku kira ia membatalkan pertemuan kami malam ini. Bukankah ia meneleponku setengah jam lalu karena hal itu, tapi, "Kenapa?? Maksudku bagaimana Anda bisa berada di sini?"

"Hm... entahlah!"
Pria itu memberikan ekspresi bingung sama sepertiku. "Tadinya aku akan ikut rombongan heli terbang ke lokasi kejadian. Tapi perkataanmu dan beberapa hal lain membuatku membatalkan keputusanku di detik-detik terakhir. Lagipula aku bisa pergi pada rombongan berikutnya. Sebentar..."

Pak Rendi lalu berjalan menuju mesin minuman yang tersedia tak jauh dari meja resepsionis. Tak berapa lama ia kembali menghampiriku. Membawa dua gelas kertas bewarna putih.

"Kopi?"

Aku menjulurkan tanganku menerima kopi yang ditawarkan ,"Terima kasih."

Penyelidik itu telah duduk di deretan kursi yang sama denganku, aku bahkan mendengar serupan saat ia meneguk kopi itu perlahan.

Rumah sakit sudah kembali sepi. Mungkin meteor tidak terjadi separah laporan televisi. Ya, setidaknya Pontianak masih aman.

"Meteor, yang sering kali kau sebut di telepon. Selamat! Ramalan dari kegilaanmu sukses. Jadi menurutmu apa meteor yang jatuh barusan dan yang ada dimimpimu saling terkait?"

"Kau percaya denganku?"
Tanyaku, sebab aku tidak mau lagi dianggap orang gila yang berceloteh tentang mimpi buruk. Melihat meteor membawa alien bersulur hitam. Kemudian alien itu membunuh kedua temanku. Alien teman-temannya bahkan akan datang untuk menginvasi bumi.

Efek psikologi, trauma ataupun apapun itu yang dikatakan para dokter.

"Sedikit, tadinya aku membatalkan pertemuan kita karena berniat menyelidiki ke tempat jatuhnya meteor itu. Hanya saja sebelum sempat naik heli, salah satu peneliti meneleponku dan menyuruhku kesana sekarang juga. Entah kenapa aku tiba-tiba terpikir untuk membawamu juga."

Penyelidik itu menggaruk kepalanya.

Sementara kulihat gelas kertas tempat kopi tadi telah penyok dalam genggaman tangan kanannya. Raut wajahnya terlihat kelelahan. Aku tidak tahu apakah penyebabnya adalah karena tugas polisi yang begitu berat. Atau mungkin karena ia harus berhadapan dengan pemuda trauma dengan efek khawatir berlebihan sepertiku.

Yang jelas saat ia menatapku menunggu persetujuan, aku mengangguk pelan padanya.

Taklama, tanpa dikomando aku mengikutinya. Kami pun meninggalkan kawasan rumah sakit dengan Jeep.

Pak Rendi memacu mobilnya cepat saat kami mulai memasuki jalan raya. Terlihat kabut asap tipis telah menyebar dari balik kaca mobilnya. Mungkin akibat kebakaran seperti yang diberitakan di televisi tadi. Ketapang cukup jauh kira-kira sepuluh jam dari Pontianak. Tapi dengan angin kencang akhir-akhir ini tak heran asap akan menyebar cepat.

Kupandangi langit. 

Di sana, tempat meteor itu jatuh mungkin saat ini api sedang berkobar besar.

***

Sesekali Jeep yang dikemudikannya terasa mengenjot. Direm paksa untuk memperlambat laju kendaraan. Hanya setengah jam berlalu tapi jarak pandang kami menurun drastis akibat kabut asap yang semakin tebal.

Pak Rendi memberi tanda lampu sen ke kiri. Sesudah mobil berbelok, samar terlihat di depan kaca -- terkena lampu sorot mobil ada sebuah gerbang. Tampaknya mobil kami sudah semakin mendekati tujuan. Mobilpun mengerem pelan saat melewati polisi tidur tepat depan Pos satpam.

Sepuluh meter kemudian terlihat komplek bangunan. Pak Rendy berhenti tepat di depan bangunan putih.

Laboratorium Genetika Molekuler.

Kabut asap terasa sesak menghinggapi kerongkonganku saat aku membuka pintu mobil. Aku lalu berlari mengikuti Pak Rendi yang terlihat sangat buru-buru. Ia bahkan meletakkan -- memarkirkan mobilnya pas di depan pintu masuk bangunan.

Lagipula ia seorang polisi. Mungkin itu sah saja.

Di dalam gedung, hembusan angin dingin dari AC di atas pintu kaca menyambut. Saat melewati 'Mbak Resepsionis' aku sempat membalas senyumannya. Tidak ada waktu buat kenalan karena harus mengikuti Pak Rendi. Yang sudah menunggu di tengah koridor gedung yang lumayan terang. Aku menghampirinya cepat saat menyadari penyelidik itu sudah menghentikan langkahnya. Tidak baik membiarkannya berdiri lama -- tepat di depan sebuah pintu yang memiliki kaca kecil.

"Mira, apa katamu di telepon tadi?"

Pak Rendi langsung bersuara setelah membuka pintu ruangan itu. Seorang gadis berkacamata terlihat merespon dan memutar arah roda kursi yang didudukinya-- berbalik menghadap kami.

"Baguslah Ren kau sudah datang, ehmm dia?"

"Andra... Andra ini Mira. Jadi apa yang kau tidak bisa jelaskan di telepon tadi?"

"Ini!"

Mira bangkit dari kursinya. Membuka lemari-lemari kecil di pojok dan kembali dengan membawa tiga rak kayu kecil berisi tabung kecil yang biasa di pakai dalam percobaan kimia. Masing-masing tabung itu terisi sedikit cairan.

"Yang ini kutaruh di lemari pendingin. Yang ini sempat kumasukkan ke pemanas. Dan yang ini aku biarkan di udara bebas. Coba kau tebak apa yang terjadi?"

Ekspresi Pak Rendi terlihat seperti orang kebingungan, dan aku juga. Terus terang aku tidak begitu paham dengan kimia ataupun percobaan sejenisnya.

"Cryom, sel yang kemarin. Aku membawa kabar buruk tentang mereka."
Mira menunjuk pada layar komputer dihadapannya. Menatap monitor itu sambil berkutat sebentar dengan kaca kecil dan beberapa mikroskop. Ia mencoba membetulkan fokus kamera yang tersambung ke layar. "Ini, lihat sel-sel ini. Masih mengingat bagaimana mereka mengimitasi sel yang disentuhnya? Kukatakan mereka membutuhkan energi yang besar untuk itu."

Pak Rendi mengangguk pelan. Sementara aku hanya diam mendengar penjelasannya.

"Apa kau masih ingat aku bilang Cryom jauh lebih unggul dibanding kita? Huh... aku tidak menyukai ini. Tapi harus kukatakan mereka juga tidak seperti sel-sel umumnya. Teori empat elemen dari Empedocles yang menyatakan substansi apapun itu tersusun dari empat elemen dasar yakni api, air, udara dan tanah. Ah, kalian tidak mengerti..."

Mira menghentikan ucapannya sebentar saat mengamati ekspresiku dan Pak Rendi. Gadis itu lalu menghela napas panjang dan terlihat berpikir keras. Bola-bola matanya sempat memandang keatas sambil bergerak kiri-kanan sebelum ia lalu melanjutkan perkataannya.

"Intinya tidak ada apapun yang bertahan dari efek keempat elemen itu. Seumpama manusia jika ia terbakar maka akan hangus saat terkena api. Saat terkena air, cahaya ataupun angin maka sel-selnya akan melemah sehingga biasa manusia akan jatuh sakit atau yang biasa kita sebut menua. Saat badannya dikubur akan rusak sendiri bersama tanah. Tapi, mahluk ini tidak seperti itu. Mereka bahkan bertahan dan menjadi lebih kuat saat terkena panas api maupun dinginnya air. Cuaca ekstrim yang membuat dinaosaurus punah tidak berlaku buat mereka."

"Jadi?"

"Jadi... Jika meteor yang sedang membakar hutan di Ketapang itu adalah alat transportasi dari Cryom. Maka Pontianak, maksudku Indonesia atau bahkan lebih luas dari itu akan segera bertemu dengan makhluk pembunuh yang membunuh temannya. Si beruang rabies sesungguhnya. Dan mereka hadir dalam paket yang lebih kuat juga banyak. Mengingat jumlah meteor yang terlihat tadi."

"Kebakaran hutan di Ketapang..."

Rendi dan aku tampaknya mengerti apa yang terjadi sekarang. Berbeda denganku yang tak begitu terkejut, Rendi bahkan mundur beberapa langkah. Menjauhkan pandangannya dari layar komputer.

"Tidak ada yang dapat menghentikan mereka. Tidak dari keempat elemen yang kusebutkan tadi."

"Jadi kau katakan tidak ada sesuatu yang bisa membunuh mereka? Oh Mira, di luar sana semua petugas kebakaran berkumpul, begitu juga polisi, belum lagi kerumunan massa. Aku harus memperingati mereka."

Pak Rendi baru saja akan mengambil langkah keluar dari ruangan itu kalau saja Mira tidak mencegatnya, "Tidak ada yang percaya. Kita tidak punya cukup bukti."

"Terus? Kau ingin bagaimana? Menunggu makhluk itu keluar dan membunuh semuanya? Seorang sahabatku dan semua kolegaku berada di Heli dan sedang terbang kesana..."

Pak Rendi terlihat frustasi memegang kepalanya. Berjalan mondar-mandir sambil menekan layar ponselnya. Entah menghubungi siapa.

"Makhluk itu tidak, maksudku belum akan menyerang."

Rendi dan Mira serentak menatapku saat aku mulai berbicara.

"Mereka sedang mengumpulkan energi untuk invasi besar-besaran. Tujuannya menduduki bumi ini. Aku tau rencananya. Betina satu-satunya kelompok itu berulang kali hadir dalam mimpiku. Dia menginginkan pejantan yakni diriku. Salah satu makhluk bumi yang selain Mbak Dian yang saat ini terbaring di rumah sakit. Kami adalah korban yang diserang dan berhasil selamat. Aku tau bagaimana makhluk itu menginginkan aku untuk dirinya sehingga ia bisa menghasilkan keturunan yang beradaptasi baik dengan bumi. Makhluk itu tau dirinya tidak sempurna dan mereka ingin segera sempurna."

"Jadi?"

"Aku rasa mereka memiliki kelemahan. Saat itu, sebelum aku pingsan kulihat Mbak Dian tercekik. Namun dia berhasil selamat. Jika Pak Tono juga mati karena makhluk itu, maka aku percaya satu-satunya yang membunuh dia adalah ....

"Dian..."

Aku mengangguk pelan membenarkan tebakan Pak Randi, "Mbak Dian, jika saja ia membuka matanya mungkin saja ia dapat mencerita ..."

Aku menghentikan kalimatku. Tatapan Rendi dan Mira terasa kian tajam.

Aku menduga pemikiran kami sama.

Yakni...

Membangunkan Dian dan berharap ia bisa menjadi penolong kami.

Read previous post:  
106
points
(3277 words) posted by Nine 7 years 14 weeks ago
88.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | thriller | sci-fi | Tantangan SFST 2015
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Mimikri : Harapan (Part 4) (6 years 44 weeks ago)
100

Saya baca lagi dari awal sampe chapter ini. Up, up, up! Suka banget sama perkembangan ceritanya :))
Btw, Benmi kok lama ya ga muncul? Saya kan rindu :((

Writer hidden pen
hidden pen at Mimikri : Harapan (Part 4) (6 years 44 weeks ago)

sundul...sundul... Gooll angkat lagi... Angkaaattt. Maren2 ada mba benmi cuma si chopper ngilang mulu. Jadinya gini dech ikutan ilang. Ane juga ilang aaahhh sampai jumpa taun depan. #tring #ilang #disepak yang punya lapak :v

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Mimikri : Harapan (Part 4) (6 years 44 weeks ago)

Saya kangen Benmi :(

Writer FaraniD
FaraniD at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 8 weeks ago)
90

WAW Kereeen, cuman aku agak sedikit terganggu dengan beberapa kalimat.

'Hem, tunggu saya ikut ke Ketapang!'

kalimat diatas bisa bermakna ganda, yakni hei, tolong tunggu saya ikut! atau hei, tunggu! saya ikut!

Dan ada beberapa huruf kapital atau tanda baca yang masih salah tempat hehe.

Overall, ceritanya kereen bangeeet. Bikin penasaran lanjutannya gimana hehe

Maaf untuk bahasa yang tidak mengenakkan hati

Writer Fara Handoko
Fara Handoko at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)
70

Hai...
Aku newbie di sini. Wah... Keren sangat ceritanya.
Aku agak bingung dengan penggunaan web ini. Mohon pencerahannya ya!
Thank you!

Writer moon eye
moon eye at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)
90

hai, Kak Benmi :D
maafkan saya baru muncul :|
.
saya merasa iri kepada kalian yang bisa melanjutkan cerita ini dengan baik. seolah sudah memiliki satu pemikiran yang sama. mohon pencerahannya m(_ _)m
.
di sini saya menemukan beberapa kata yang mungkin kurang tepat tapi tidak mengubah makna kok :D
seperti hangar-> hanggar, sen -> sein
dan lain-lain. hehehe. CMIIW ya. siapa tahu saya yang salah paham atau salah ingat.
.
ohya, itu berarti... Andra selamat karena ditolong Dian, ya?
'untung ada mbak Dian'. hehehehe...
syukurlah mereka berdua masih selamat ya.
.
sekian dan semoga berkenan.
semangat :D

Writer Zarra14
Zarra14 at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)
90

Seru seperti part-part sebelumnya :3
Saya suka karena sudah ada gambaran setting yang jelas dan spesifik.
Tapi belum cukup menegangkan karena ekspektasi saya invasi akan langsung dimulai dan bakal ada serangan si Cryom lagi di sini.
Agak janggal ketika Andra menceritakan alasan invasi para mimikri, sepertinya butuh diiringi 'pemanasan' karena dgn dialog di atas itu saya malah ngebayangin Andra bicara dengan lempeng seakan ini bukan sesuatu yang gawat.
Koreksi di penulisan, setahu saya 'dercit' itu seharusnya 'decit' tidak pakai 'r'
Semoga berkenan komennya kak benmi :D

Writer benmi
benmi at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

Iya zarra.. cuma kan partnya ada 8.. ini cerita br ttg invasinya. Soalnya tktnya yg lain ntar susah mau nulis apa... aku kan dptnya part 4..
Kl invasi mulai.. tktnya part 5 ato 6 uda selesai..
Hiks..
Penceritaannya dr pov andra.
Sebenarnya andra ga lempeng soal invasi.
Buktinya dia menterror pak rendi mulu di telepon.
Trus ampe byk konsultasi ama dokter.
Cuma ga ada yg percaya.
Makanya pas terakhir. Rasa2nya meteor itu beneran invasi.
Si andra reaksinya aku pikir dia pasti mikirnya: tuh kan.. uda gw bilang lama.. ga ada yg percaya.
Lebih ke pemikiran begitu sih.. si andra ga lempeng kok. Dia kan si tampan yang berlebihan terhadap semua hal.
Makanya reaksinya kubuat lebih kepada dia mikirnya "tuh kan.. uda kubilang juga."
Tp mgkn masih aneh ya?
Sorry sorry... hahaha..

Writer hidden pen
hidden pen at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)
100

hay kk benmi. Sumpah! Ceritanya seru. Aku jadi teringat detektif benmi di trit menyampah. Hihi mungkin aku agak mengganjal ketika si aku bermimpi tentang invasi. Jangan-jangan punya penglihatan akan masa depan. Eh ya, wahyu wiwoho presenter berita metro tv. Hmm kk benmi, jangan bocorkan nama asliku dong hihi upps berikutnya thiya ya. Hahaha rasakan. Saya pamit dulu kak dan maaf bila tidak berkenan.

Writer benmi
benmi at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

Bagian vision penglihatan itu uda disebut nine di mimikri3..
*lempar tggung jawab ke nine..
Jd protesnya ke dia..
Saya hanya melanjutkan cerita yang uda ada...
Wkkakwkwk...
Ga tau deh itu presenter mana.. adeku yg rekomendasikan namanya... tdnya pake Desy ratnasari..
Wkkwkwk

Writer hidden pen
hidden pen at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

ahh kk benmi bisa saja
ehh pakai saja nama itu di mimikri selanjutnya ahahaha

Writer latophia
latophia at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)
100

Bagus mbak, makin menegangkan.. cuma sudut pandang si aku yg berubah-ubah sempet bikin bingung di awal.. tp ga masalah sih..
.
satu aja yg ganjel buat saya yaitu penggunaan teori Empedocles.. sempet gugling dulu sih, tyt dia ilmuwan yunani kuno, yg harusnya teorinya udah dipatahkan oleh kimia modern. Teori 4 elemen udah dibantah dg teori kl semua materi terdiri dari atom-atom.
.
tapi kl mengesampingkan itu, semuanya udah enak kok.. tegangnya dapet banget, bikin penasaran episode berikutnya…
.
semoga berkenan dg komennya ya~

Writer benmi
benmi at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

Iya sih.. cuma entah kenapa teori dia lebih berkesan. Soalnya bahasnya tentang sel. Hahhaha...
Intinya saya cuma mau jelasin bahwa smua makhluk dibumi. Yg sekecil selpun di bumi itu ga kuat. Krn adanya empat elemen itu. Makanya beberapa makanan dan apapun bisa diawetkan melalui proses tertentu. Tp tetap saja kalo proses itu dibalik, makanan atau apapun itu ttp rusak. Sedangkan sel cryom itu tdk terpengaruh akan hal2 itu.
Malah menjadi kuat. Saya sendiri belum tau ada teori atom lagi.. wkwkkwk.. ntarlah saya coba cek. Anw.. thx u masukannya..

Writer latophia
latophia at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

Kl makhluk hidup terkuat bumi yg tahan radiasi, beku, panas, tekanan ada tardigrade alias beruang air... mungkin kalau dibandingkannya dg itu malah lbh masuk...
tp itu pendapat pribadi aja sih, kl ga cocok silakan diacuhkan saja :)

Writer benmi
benmi at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

Itulah... tdnya mau bikin cryomnya itu terkuat sejagat raya.
Tp ntar tktnya yg lain ga bisa bunuh dia. Kasian yg lanjutin ceritanya. Hahahh...
Br tau ada ada beruang air.. hahahha... beruang kutub sih tau.
Tp itu matinya krn kelaparan. N krn es kutub byk yg cair.

Mgkn bandinginnya salah. Tp setidaknya dinosaurus kan uda punah. Jd ga gitu2 kuat amat. Bisalah dimatiin.

Penelitianku mmg masi kurang sih.. kimianya. Jd buat penulis yg berikut. Mgkn bisa lebih dikupas. Hahhaha....
Sekalian sampaikan teori yg lain buat matikan alien kita.. hahahha...
Jd penasaran saya nextnya.. giliran alycon kyknya.. lempar tanggung jawab. Jiaahhahah...

Writer Nine
Nine at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)
100

Puas saya mba ben, hehehe :),
Cuman situ selalu saja ketuker pas nulis nama CRYOM, bukan Cyrom. Huruf "R" dulu baru huruf "Y" mba. Emang nama ini rada2 ngeselin, jdi saya mohon maaf.
.
Saya kurang setuju pas bagian si Andra menjelaskan keinginan Ratu dari para Cryom. Di situ andra kelihatan yakin sekali dan mantap bahwa ia tahu cryom akan diam dulu, dan si ratu, si omega (jdi inget film Alien) menginginkan Andra. Kurang bagus menurutku mba, ada baiknya si andra ini diberi kesan bingung. Kesan ragu2, walaupun dia sudah mengalami mimpi, tetaplah itu masih sebuah teka-teki yg membingungkan, belum ada mata rantai yg didapat untuk melengkapi teka-teki itu (subjektif)
.
Tapi secara keseluruhan ini sudah maaannntaaaffff. Kejadiannya kerasa banget krna ngambil latar Indonesia, muncul pula metro tv. Mantep deh mba ben, KEREN!
.
Bagian penulisan masih ada beberapa typo, salah satunya: diijak yg mungkin seharusnya diinjak. Sisanya cek sendiri :)
.
Saya sangat menghargai riset dan kerja kerasmu mba, dan saya ucapkan selamat krna sudah menyelesaikan tantangan.. hehehe, oke mba? Salam olahraga (y)

Writer benmi
benmi at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

Uda saya edit lagi. Oh ya.. dalam bayangan saya si andra mmg tau ya.. soalnya kan makhluk itu berkomunikasi dgnnya. Makanya aku buat andranya yakin gitu.
Yg kutampilkan cuma efek2 agak takutnya dia pas awal2.. makanya sering curhat ama pak rendi. Soalnya sama yg lain uda dianggap gila. Hahahha...
Aku percaya sih makhluk itu si cryom bakal bunuh si dian. Hahahhah...

Writer benmi
benmi at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

Iya yach..wkwkkw... ntar aku edit lagi...
Thx u...

Writer Nine
Nine at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)
100

Saya udah baca mba ben. Entar kukomen. Saya mo baca ulang lagi.. okeoke?? hehehe

Writer benmi
benmi at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

Inet ku lg aneh.. ke post dua kali.
Pdhl aslinya ada huruf miring segala. Entah kenapa pas kirim ke website jd ilang smua.
Mmg ga bisa edit kali ya..
Aku copas langsung dr handphone.. soalnya nulis di tab. Kyknya mesti lewat laptop. Ntarlah.. mau bongkar laptop dlu.. ketauan laptopnya uda digudangkan.. ga tau simpan dimn..

Writer Nine
Nine at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

Hooh mba, harus lewat laptop klo mo dpet yg italicnya...

Writer benmi
benmi at Mimikri : Harapan (Part 4) (7 years 13 weeks ago)

Itulah... laptopnya mau dicari dulu... sedih banget.... pdhl aku kirim email ada italic.. eh kok pas dicopas lewat hp ga dpt italicnya... kesal...