Perjalanan Waktu

Perjalanan Waktu

 

         Seorang lelaki paruh baya mengutak-atik benda logam seukuran kepalan tangannya. Ia duduk di sebuah kursi kayu. Kedua sikunya bersandar di atas meja. Jari-jari panjangnya, sibuk mempreteli dan memasangkan mur pada benda logam di depannya. Pakaian usang membungkus tubuh kurusnya. Bau apak dan lembab mengisi seluruh ruangan yang sempit itu. Hanya baris-baris ventilasi di atas jendela—yang tidak pernah dibuka—sebagai satu-satunya tempat angin menyelinap masuk.

         Namanya Tuis. Wajahnya ditumbuhi janggut dan kumis panjang karena ia jarang bercukur. Boro-boro bercukur, mandi saja sudah syukur jika ia lakukan tiga kali seminggu. Jika dilihat dari atas, akan kita dapati sebuah kepala yang rambutnya sudah jarang, sudah banyak yang rontok. Meskipun ia terlihat gondrong dari depan.

         Setelah beberapa jam berlalu, ia duduk bersandar.

         “Akhirnya selesai juga!” serunya sambil tersenyum.

         Tuis beranjak dari tempat duduk. Pria itu mengambil sebuah foto berbingkai kayu yang menggantung di dinding.

         Dalam potret itu Tuis menatap Ayah, Ibu, Adik perempuan, dan dirinya yang sedang tersenyum bahagia. Ia ingat hari itu, hari wisuda Ayahnya yang sudah dua puluh tahun bekerja sebagai PNS, berhasil meraih gelar D3.

         Perlahan Tuis mulai meneteskan air mata. Ia ingat pemakaman Ayahnya yang tidak sempat ia hadiri. Juga peristiwa Adiknya yang meninggal karena overdosis. Tangisnya semakin meledak saat melihat sosok Ibunya yang kini terbaring lemah tak berdaya di kamar sebelah. Ibunya menderita penyakit diabetes dan sudah lanjut usia. Tuis tak kuasa menahan berat tubuhnya, punggungnya melorot sampai ia terduduk di lantai. Suaranya terisak-isak selama beberapa menit. Setelah tangisnya mereda, ia berdiri. Tuis meletakkan kembali foto yang dipegangnya dan mengambil mesin waktu yang tergeletak di atas meja.

         Selama dua puluh tahun, Tuis menyibukkan dirinya untuk menciptakan mesin waktu. Suatu ambisi yang bergejolak dalam dadanya setelah ia dikhianati “Sang Pujaan Hati” waktu kuliah dulu.

***

         “Is, kuliahmu bagaimana, nak?”

         “Aman, Ma. Aman.”

         “Kamu lagi buat apa? Sudah tiga bulan kamu jarang keluar rumah, jarang makan, lihat badanmu jadi kurus begini. Itu benda apa yang kamu buat?”

         “Ini tugas akhir, Ma. Saya lagi buat mesin… ngg… semacam mesin filter asap rokok.”

         “Iya, tapi kamu jangan lupa merawat diri, nak. Ini makan dulu.”

         “Iya, iya, taruh saja di atas meja,” Tuis menoleh kepada Ibunya, ”Ma, kalau Ayah datang, jangan lupa kasih tahu saya butuh enam juta lagi untuk mesin ini.”

         “Banyak sekali, Is! Bulan lalu kamu sudah ambil tiga juta, nak! Ingat, Is. Kita mengambil kredit dari bank. Uang kita itu utang, Is—”

         “Ma! Ini tugas akhir, Ma! Mama mau kan saya cepat wisuda?”

         “Is! Kamu jangan bentak mamamu!”

         “….”

         “Ya sudah. Nanti mama kasih tahu Bapakmu. Sekarang kamu makan dulu.”

         “Iya.”

***

         Butuh waktu yang lebih lama dari perkiraan Tuis untuk membuat mesin waktu. Ia menyelesaikan kuliahnya tanpa gelar apa pun terpampang di namanya. Semakin lama, Tuis semakin tenggelam ke dalam hasratnya. Ia tidak lagi mempedulikan hal-hal di sekitarnya, tanggung jawabnya, dan keluhan-keluhan kedua orangtuanya. Pada saat pemakaman Ayahnya, ia masih sibuk mengerjakan mesin waktunya. Ia juga tidak tahu sama sekali ketika Adiknya mulai mengkonsumsi narkoba. Sama dengan saat ibunya mulai sakit-sakitan. Tuis tidak acuh. Ia sibuk mengerjakan mesin waktunya.

         Tahun-tahun dilewatinya dengan membaca teori-teori ilmiah tentang waktu. Teori Relativitas Umum dan Teori Relativitas Khusus yang dicetuskan oleh Albert Einstein dipelajarinya. Sering ia pergi ke Lab Praktikum Mesin dan Elektro untuk mengambil alat-alat yang ia butuhkan. Tanpa izin dari pihak fakultas. Tuis juga melakukan eksperimen di rumahnya dan entah sudah makan berapa banyak biaya dari orangtuanya.

         Tuis berhasil menciptakan suatu alat yang dapat memulai reaksi fisi dari suatu partikel acak dan meningkatkan massanya hingga milyaran kali lipat. Sesuai dengan yang telah dicetuskan Newton dan Einstein, bahwa tiap benda memiliki gaya tarik (gravitasi) yang berbanding lurus terhadap massanya. Semakin besar gaya gravitasi, maka semakin besar pula kemampuan gravitasi itu untuk mendistorsi ruang dan waktu. Apabila suatu objek memiliki massa yang sangat besar dan karena suatu hal objek tersebut hancur, maka objek itu akan tertarik oleh gaya gravitasinya sendiri. Semakin lama objek tersebut menjadi semakin padat dan mencapai titik kritisnya. Sehingga terciptalah suatu fenomena yang dinamakan Black Hole. Sejauh ini, Black Hole hanya bisa ditemukan secara acak di ruang angkasa. Ini diakibatkan suatu bintang raksasa yang meledak karena sudah mencapai batas usianya. Namun Tuis berhasil menciptakan alat yang dapat meningkatkan massa partikel hingga mencapai berat yang sebanding dengan bintang-bintang raksasa dan meledakkannya. Singkatnya, Tuis berhasil membuat alat—seukuran kepalan tangan—yang dapat menciptakan fenomena Black Hole.

         Black Hole, adalah sebuah fenomena yang dapat mendistorsi ruang dan waktu dengan pengaruh yang sangat besar. Bentuknya bulat dengan warna hitam pekat. Ia memiliki kemampuan untuk menghisap segala sesuatu yang berada dalam jangkauannya, bahkan cahaya sekali pun tak akan lolos. Apabila kita masuk ke dalam Black Hole, maka akan kita dapati sebuah corong yang mengarah ke sisi lainnya, yaitu White Hole. Corong ini disebut Worm Hole—adalah sebuah ruang yang menghubungkan gerbang masuk (Black Hole) menuju gerbang keluar (White Hole).

         Dengan menggunakan Worm Hole, Tuis akan masuk ke dalamnya dan melakukan perjalanan ke masa lalu, melintasi ruang-waktu.

         “Akan kukembalikan semuanya Ma, akan kubuat semua menjadi lebih baik.”

         Tuis menarik napas dalam-dalam. Ia menutup matanya, bersiap untuk melakukan sebuah perjalanan mundur. Setelah hatinya mantap, Tuis menyetel angka tahun di mesin waktunya. 2008. Masa kuliah Tuis yang menginjaki semester tiga. Masa di mana ia bertemu dengan Elsa, sang pujaan hati. Ia melirik jam dinding. Jarum pendek dan panjangnya sama-sama menunjuk angka dua belas.

         Tuis menekan tombol merah di mesin waktunya. Selang beberapa detik, tangan kirinya yang memegang mesin itu mulai bergetar. Ia harus memegang mesin itu dengan dua tangan, karena getarannya menjadi semakin hebat. Seketika mesin itu mengeluarkan gelombang kejut yang menjalar ke segala arah. Tuis terhempas ke udara bersama dengan benda-benda yang berada di dalam kamarnya. Mereka melayang sangat lambat lalu perlahan menjadi beku. Tiba-tiba bulatan hitam sebesar kelereng terbentuk tepat di atas mesin itu. Black Hole!

         “Arrrgghhh!”

         Terasa guncangan hebat seiring dengan kemunculan Black Hole. Benda itu perlahan menghisap tubuh Tuis bagian demi bagian. Pertama tangannya yang memegang mesin waktu, lalu kepalanya. Tuis merasa dagingnya dicabik satu per satu. Rasa sakit yang tak tertahankan! Seluruh tubuh Tuis masuk ke dalam Black Hole bersama dengan mesin waktunya.

***

         “Saudara, Tuis.”

         “Saudara, Andre Tuis!”

         Perlahan Tuis membuka matanya. Pandangannya masih kabur namun perlahan menjadi jelas. Ia melihat ke sekeliling, dan didapatinya seorang pria yang berpakaian rapi sedang berdiri di depan—menatapnya tajam. Di sebelah kiri dan kanannya ia melihat teman-teman kuliahnya sedang meliriknya, ada juga yang sambil tersenyum kecil.

         “Pstt, Tuis.”

         “Nghh?” Tuis menoleh ke samping.

         “Pak Ridwan! Is—“

         “Saudara, Tuis!” Tuis tersentak. “Coba jelaskan pengertian dari Termodinamika!” dosen yang berdiri di depan membentak. Kontan tangan Tuis membentur papan kayu yang menyatu dengan kursi tempat duduknya. Mesin waktu dalam genggamannya terlepas dan jatuh di lantai, menimbulkan suara yang bising di ruang kuliah yang hening.

         Tuis beranjak dari tempat duduknya dan mengambil mesin waktu yang kini sudah menggelinding beberapa meter di depannya. Tanpa ia sadari, teman-teman Tuis melihatnya dengan wajah keheranan. Wajah dosennya kini berubah marah melihat tingkah laku Tuis yang dirasa tidak sopan.

         “Saudara, Andre Tuis!”

         “Ia, Pak.”

         “Silahkan kamu keluar dari kelas ini!” dosennya menunjuk ke satu-satunya pintu yang berada di ruangan itu. “Jangan lagi repot-repot kamu masuk di mata kuliah saya!”

         Tuis menatap wajah dosennya. Perlahan ia beranjak ke pintu dengan kepala menunduk.

         “Pstt, Is,” seru salah seorang temannya.

         “Ngg?”

         “Tas kamu, Is.”

         Tuis memutar langkahnya kembali ke tempat duduknya. Teman-teman Tuis tertawa kecil melihat tingkah lakunya begitu linglung—terkecuali dosennya, hanya dia yang menatap tajam kepada Tuis. Setelah mendapatkan tasnya, Tuis berjalan ke arah pintu—masih dengan pandangan menghadap ke bawah. Seisi ruangan terus melihat Tuis. Sampai akhirnya Tuis menghilang dari tempat itu.

         Tuis berjalan di sepanjang koridor. Gedung fakultasnya berbentuk persegi dengan sebuah taman terletak di tengah-tengah. Bangunan ini memiliki tiga lantai. Jika kita berjalan di koridor, kita bisa melihat hampir seluruh pintu-pintu ruangan yang berada di dalam gedung ini.

         Tuis melihat orang-orang berlalu-lalang. Beberapa di antara mereka sedang bercakap-cakap, dan ada juga yang sedang mengerjakan tugas di lantai koridor. Tuis berhenti melangkah. Ia masih berusaha melogiskan realita di matanya. Benarkah kini ia tengah berada di masa lalu? 2008? Ia kembali berjalan, kali ini menuju kantin.

         Suara hiruk-pikuk menghiasi suasana kantin. Tuis memilih bangku panjang yang masih kosong. Ia duduk dan menyandarkan kedua sikunya di atas meja yang sama panjang. Kedua tangannya menopang dahinya, sementara mata Tuis menatap ke bawah, ke meja kayu.

         “Kopi, Is?”

         Tuis menoleh ke wajah yang familier di depannya, namun ia tidak menjawab pertanyaan itu.

        “Pak Ridwan sudah keluar. Katanya mau menguji,” lelaki itu menyodorkan segelas kopi. “Jangan khawatir saudaraku,” ia mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya. “Saya dekat sama Pak Ridwan. Nanti masalah yang tadi kita diskusikan sama beliau, Oke?” katanya sambil menyodorkan rokok ke Tuis. Revan namanya. Salah satu sahabat Tuis yang terbilang sukses di masa depan. Sayang, ia terlibat kasus korupsi dan mendekam di penjara sepuluh tahun mendatang.

         “Oh ya, Is. Semalam Elsa telepon aku, dia minta nomor kamu Is! Enak ya kamu? Otak pintarmu itu seperti magnet buat cewek-cewek cantik di si…”

         “Tadi itu mata kuliah apa, Van?” Tuis memotong.

         “Ckckck, tidak usah khawatir soal Termodinamika, Is. Saya kan sudah bilang mau bantu kamu nego sama Pak Ridwan.”

         “Tidak perlu repot-repot, Van. Sebentar masih ada mata kuliah?”

         “Kalau saya sih ada. Mekanika Fluida. Kamu program?”

         “Tidak tahu, Van. Saya lupa.”

         “Hahaha! Kamu kenapa, Is? Habis miras yah semalam?”

         “Semacam itu lah,” Tuis menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap.

         “Hehehe, ada-ada saja kamu saudaraku. Eh? Bagaimana sama si Elsa? Minat tidak? Kalau mau, sekarang saya suruh dia ke sini.”

         “Nanti saja, Van.”

         “Jangan ditunda, Is. Elsa itu banyak yang mengantri. Lebih cepat lebih bai…”

         “Sekarang tahun 2008 kan?”

         “Huh? Is, kamu serius, Is? Lain kali kalau miras jangan terlalu banyak, Is. Otak jeniusmu nanti lumpuh,” kata Revan sambil tertawa, agak terbahak.

         Tuis merogoh saku celananya. Ia menduga akan menemukan handphone di situ. Dan ternyata benar! Ia melihat layar handphone-nya dan mencek tanggal:

         Selasa, 11 Maret 2008

         Tuis tersenyum. Ia mengambil sebatang rokok dari bungkus yang ditawarkan Revan tadi. Kemudian ia membakarnya dan menikmati setiap hembusan asapnya. Hatinya seperti tanpa beban. Sekarang ia telah memiliki kemampuan untuk mengendalikan waktu.

         “Woy, Is. Kenapa tiba-tiba nyengir sendiri?”

         Tuis menoleh sambil tersenyum. “Tidak ada apa-apa Van.”

         “Dasar kamu, Is. Seperti punya dunia sendiri,” kali ini Revan meneguk kopi yang sudah menjadi hangat.

         Tuis beranjak dari tempat duduknya.

         “Mau ke mana, Is?”

         “Mau pulang, Van.”

         “Cepat sekali, Is? Mending kita jalan-jalan dulu ke fakultas sebelah.”

         Tuis kini sudah bersiap untuk melangkah pergi, “Nanti saja. Saya pamit dulu yah?”

         Revan hanya memberikan gestur persetujuan dengan kepalanya—atau mungkin juga kekecewaan, tapi pandangan Revan terus melekat ke punggung Tuis yang berjalan meninggalkannya.

         Tuis kini berada di pinggiran jalan raya. Ia menunggu angkutan umum. Ketika Tuis sampai di rumahnya, ia menatap bangunan itu sesaat. Perasaan rindu dan haru bercampur aduk dalam dadanya. Rumahnya yang reyot dua puluh tahun mendatang, masih terlihat bagus dan layak huni. Ia melangkah pelan. Menikmati setiap tapakan kaki menuju rumahnya.

         Mata Tuis berkaca-kaca saat melihat sosok Ibunya yang masih sehat sedang memasak di dapur. Tuis berjalan ke arahnya, dan menyalimi punggung tangan Ibunya dengan lembut.

         “Sudah pulang, Is? Kuliahmu bagaimana?”

         “Aman, Ma. Aman,” jawab Tuis sambil menatap wajah Ibunya dengan penuh haru.

         “Kalau begitu kamu makan dulu, nak,” kata Ibu sambil membereskan masakan yang sudah siap dihidangkan.

         “Entar, Ma. Saya mau kerja tugas dulu,” Tuis berjalan menuju kamarnya.

         Di dalam kamarnya, Tuis langsung membuka buku-buku pelajarannya dan menghidupkan komputernya. Ia membaca dan mencari referensi tambahan seputar Dasar-dasar Termodinamika. Mata kuliah yang dibawakan oleh Pak Ridwan waktu di kampus tadi. Selama tiga hari berturut-turut, Tuis belajar dan terus belajar. Sampai akhirnya ia merasa cukup menguasai dasar Termodinamika, Tuis mengambil mesin waktu dari tasnya.

         Tuis menyetel indikator waktu di mesin itu: Selasa, 11 Maret 2008; 10.00 a.m.—lalu ia menekan tombol merah di alat itu. Seketika seluruh benda di dalam kamarnya melayang dan membeku di udara akibat gelombang kejut yang menjalar ke segala arah. Lalu sebuah Black Hole muncul. Tuis dan mesin waktunya terhisap ke dalamnya.

***

         “Saudara, Tuis.”

         “Saudara, Andre Tuis!”

         Tuis membuka matanya. Cepat-cepat ia mengumpulkan kesadarannya.

         “Saudara, Andr…”

         “Iya, Pak!” seru Tuis. Seisi ruangan kaget mendengar sahutan Tuis yang agak keras.

         “Coba jelaskan pengertian dari Term…”

         “Termodinamika adalah bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara panas dan jenis energi lainnya. Bidang ilmu ini membahas lebih jauh tentang kekekalan energi, entropi, dan temperatur—khususnya mengenai temperatur nol absolut,” jawab Tuis dengan mantap.

         “Bagus saudara, Tuis…” Pak Ridwan berbalik ke papan tulis, “jadi seperti yang sudah dijelaskan oleh teman kalian, Termodinamika….”

         Tuis merasa puas dengan jawabannya, sekarang ia terlihat senyum-senyum sendiri.

         “Psst, Is!”

         Tuis menoleh ke arah Revan. “Kenapa, Van?”

         “Semalam Elsa telepon, Is. Dia min…”

         “Minta nomor handphone-ku?” potong Tuis.

         Revan kaget. “La? Kamu kayak dukun saja, Is! Iya bener. Gimana, Is? Minat?”

         “Entar kita urus, Van. Belajar dulu!”

         “Enak ya kamu? Otak pintarmu itu seperti magnet buat cewek-cewek cantik di sini,” keluh Revan. Tuis hanya tersenyum menanggapi Revan. Ia memasukkan mesin waktunya ke dalam tas. Sepanjang pelajaran Pak Ridwan, Tuis tersenyum—teman-teman yang lain terlihat serius memperhatikan penjelasan dosen di depan mereka.

***

         Seorang Lelaki turun dari mobil limousine hitam. Pria itu berpakaian hitam-hitam, jas berwarna hitam, dan celana kain berwarna hitam. Setelah itu mengikut seorang Gadis turun dari mobil. Ia juga memakai baju hitam-hitam, baju kain berwarna hitam, dan celana kain berwarna hitam, dan kacamata hitam menutupi bola mata hitamnya, ada selembar kain putih—sepertinya sebuah selendang—membentang menutupi sebagian rambutnya yang dikuncir.

         Mereka berjalan melintasi halaman yang sangat luas. Bunga-bunga yang indah ditanam di sekeliling halaman itu. Berbagai jenis pohon yang rindang daunnya bertebaran. Ada sebuah air mancur terletak di tengah-tengah, diperindah dengan potongan rumput hijau yang ditata rapi. Di sepanjang jalan setapak menuju sebuah rumah yang besar, berbaris karangan bunga dengan tulisan “turut berduka….”.

         Di teras rumah yang bertehel putih, duduk seorang wanita yang sudah lanjut usia. Ia sedang meratapi sebuah foto dan tangan berurat menempel di bahu kirinya—milik seorang pria paruh baya yang berdiri di belakangnya. Saat lelaki dan gadis yang turun dari mobil limousine berada di dekat mereka, kedua orang itu duduk di undakan tangga. Mereka juga meletakkan tangan di bahu wanita tua itu—mengelusnya lembut.

         “Yang tabah yah, Nek?” hibur Gadis yang berpakaian hitam-hitam.

         Wanita yang sedang berkabung itu menoleh kepada si Gadis dengan tatapan sayu. Ia berusaha menyunggingkan senyum di wajahnya.

         “Antar mamamu ini ke dalam, Is,” seru wanita tua itu.

         “Iya, Ma.”

         Tuis berjalan ke dalam rumahnya sambil memegang tangan Ibunya. Si Gadis dan Lelaki mengikut dari belakang, mereka adalah anak-anak Tuis.

         Tuis naik ke lantai dua setelah mengantar Ibunya di kamar. Di dalam ruang kerjanya, ia menatapi deretan foto-foto yang dipajang di dinding. Fotonya bersama Presiden Jokowi, foto bersama Presiden Barrack Obama, dan juga beberapa foto bersama orang-orang ternama di dalam dan luar negeri. Ada satu foto yang menarik perhatiannya. Ia menaruh mesin waktunya di atas meja, dan mengambil foto berbingkai kayu itu. Ia menatap Ayah, Ibu, Adik perempuan, dan dirinya yang tersenyum bahagia dalam foto itu. Hari wisuda Ayahnya—yang barusan saja meninggal dunia. Walaupun hatinya masih diselimuti perasaan duka, ia tersenyum bahagia melihat foto itu. Ia senang karena telah hadir di pemakaman Ayahnya dan berhasil menjadi anak yang berbakti kepadanya.

         “Paman, Tuis!” seru Dina, anak dari Adik perempuannya.

         Tuis tersentak dan berbalik, namun sikunya menyambar keras mesin waktu yang berada di atas meja. Benda itu jatuh dan bergelinding cepat keluar pintu, lalu kemudian terjatuh dari lantai dua lewat celah-celah pagar kayu yang berbaris di tepi lantai dua.

         Tuis tidak menghiraukan seruan Dina. Secepat kilat ia berlari turun ke lantai satu, meninggalkan Dina dengan ekspresi heran di wajahnya.

         “Astaga!” teriak Tuis saat mengambil mesin waktunya yang kini tinggal kepingan. Ia cepat-cepat mengumpulkan kepingan-kepingan lain yang berada di lantai.

         “Tidak! Jangan!”

         “Paman kenapa?” tanya Dina yang kini berdiri di belakangnya. Namun Tuis tidak menghiraukannya.

         “Ada apa Din?” Adik perempuan Tuis muncul dari ruang keluarga. Kedua anak Tuis dan Istrinya juga turun dari lantai dua, penasaran dengan apa yang terjadi.

         “Tidak mungkin!”

         Teriakan Tuis membuat Ibunya keluar dari kamarnya. “Kenapa teriak-teriak, Is?”

         Tuis masih sibuk mengumpulkan kepingan-kepingan mesin waktunya. Semua orang heran melihat tingkahnya. Anaknya yang laki-laki berjalan ke arahnya, dan membantunya mengumpulkan kepingan tersebut.

         “Ayah, ini apa?” tanya anaknya sambil menyodorkan kepingan itu.

         Tuis menatap Anaknya dengan wajah panik. Matanya kemudian melihat ke sekeliling dan mendapati semua orang kini melihatnya dengan wajah keheranan.

         Tiba-tiba Tuis merasa kepalanya seperti dihantam keras dengan sebuah palu raksasa. Matanya berkunang-kunang. Dunia serasa berputar-putar. Tuis memukul-mukul dahinya, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Namun hal itu tidak ada gunanya. Kepalanya terasa semakin berat dan pusing!

         Tuis dengan susah payah melihat ke sekelilingnya. Sekarang semuanya berhenti. Membeku pada tempatnya. Ia melihat Adik perempuannya yang diam membisu di ambang pintu. Ibunya bergeming di depan pintu kamarnya. Istrinya—Elsa—membeku di dekat tangga. Anak perempuannya dan Dina menatap Tuis dengan wajah keheranan namun mereka diam. Semua orang tidak bergerak seperti patung.

         Hening.

         “Arrgghh!” kini kepala Tuis serasa ditusuk seribu jarum. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan.

         Dinding rumahnya, kursi, meja, dan perabotan yang lain menguap seperti kertas yang terbakar. Tangan anaknya yang mengulurkan kepingan mesin waktu perlahan berubah menjadi debu. Hal yang sama juga terjadi kepada Adiknya, Ibunya, Istrinya, Anak perempuannya dan Dina. Tubuh mereka perlahan luluh lantak menjadi debu. Paradoks yang Tuis ciptakan saat memulai perjalanan mundur melintasi ruang-waktu, kini mulai runtuh seiring hancurnya mesin waktu yang ia miliki.

         Tuis mencoba untuk berdiri, namun kepalanya sangat berat dan ia tidak mampu. Ia melirik sekujur tubuhnya yang kini berubah. Kulit-kulitnya menjadi keriput. Urat-uratnya menonjol keluar berwarna biru pudar. Rambutnya menjadi putih dan perlahan rontok. Dengan cepat janggut dan kumisnya tumbuh, memanjang, lalu kemudian memutih. Tuis merasa tulang-tulangnya menjadi rapuh. Pandangannya kabur. Ia menoleh ke arah jam dinding yang perlahan menguap, jarum pendek dan panjangnya menunjuk ke angka dua belas.

         Kemudian seluruh tubuh Tuis berubah menjadi debu.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer izaddina
izaddina at Perjalanan Waktu (5 years 2 weeks ago)
80

Halo, saya member baru. (Baru aktif maksudnya, bikinnya sih udah sebulanan lalu)
Kenapa ya di setiap sci-fi yang saya baca, efek time machine itu selalu bikin cepat tua? Kenapa gak jadi lebih muda gitu ya? :v
Komentar-komentar saya udah diembat orang, ya maklum soalnya saya baru tau ada cerita ini :'v
Terima kasih sudah diperbolehkan meninggalkan jejak!

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 2 weeks ago)

Halo, saya juga masih terbilang baru di sini. Di sini kan si Tuis sempat kembali menjadi lebih muda hanya sayang mesin waktunya rusak. Ya memang, ini adalah cerpen tantangan yang dibuat user: Thiya_Rahmah. Makanya lumayan banyak yang berkomentar.
.
Makasih sudah mampir yah izaddina? Salam hangat :)

Writer S_Desak
S_Desak at Perjalanan Waktu (5 years 5 weeks ago)
100

ceritanya bagus. tapi agak bingung tentang adegan yang terakhir yang berubah menjadi debu. Apakah menjadi debu itu maksudnya dia telah menjadi sangat tua dan tidak cocok berada di jamannya?

Maaf member baru. Masih newbie

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 5 weeks ago)

Salam kenal, ia benar yang kamu perkirakan. :)
Makasih sudah mampir kemari yah?

Writer FaraniD
FaraniD at Perjalanan Waktu (5 years 7 weeks ago)
90

Waw, keren sebenarnya. Cuman, ada beberapa part yang kurang 'scifi' menurut saya.

Seperti masalah black hole, untuk penjelasan black hole itu seperti penjelasan terhadap pembaca, bukan teori itu sendiri. Eng, seperti hanya penjelasan, tidak diaplikasikan.

Mungkin bisa lebih baik, jika penjelasan teori black holenya tidak dijabarkan secara gamblang, melainkan setahap demi setahap ketika tuis menggunakan mesin waktunya.

Untuk ketika mesin waktu jatuh dan pecah, yang saya agak bingung adalah kenapa seluruh anggota keluarganya diam, tidak menolong Tuis yang justru sedang kesakitan.

Untuk pakaian hitam-hitam, saya rasa itu terlalu boros dalam penggunaan kata untuk mendeskripsikan pakaian mereka.

Sekian, maaf jika tidak berkenan :))

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 7 weeks ago)

Makasih sudah mampir FaraniD. Mohon maaf kalau cerita ini kurang memuaskan :)
.
Saya masih pemula dan perlu banyak belajar lagi dalam pemilihan dan penggunaan kata (seperti pakaian yang hitam-hitam itu). Untuk keluarga Tuis yang tidak menolong Tuis, (jujur saya blenk pas kamu nanya ini T.T) mohon maaf karena saya tidak bisa menjelaskannya T.T.
.
Sekali lagi makasih sudah mampir yah? (y)
Salam hangat dari saya :)

Writer Shinichi
Shinichi at Perjalanan Waktu (5 years 9 weeks ago)
50

Oke.
.
saya bingung mau komentar apa. sejujurnya, saya baca komentar yang sudah ada lebih dulu, baru baca sampai selesai ini cerpen. kebingungan saya itu, semacam kekecewaan siy. awalnya, saya baca ini sampai narasi menyoal Black Hole. saya tertarik soal itu, meski masih belum bisa paham secara mendasar. dan soal kekecewaan adalah, ditambah komentar yang sudah masuk, saya lalu berharap cerpen ini akan lebih "cyber" dari zaman cerpen ini ditulis: sekarang. tapi ternyata enggak. saya menduga akan menemukan narasi cerdas, ringkas, dengan sarat "konten" sci-fi, atau yang futuristik abis). saya sadar, ekspektasi saya berlebihan sejak awal.
.
secara penyajian, membengkaknya jumlah kata dalam cerpen ini (karena sepertinya itu semacam kendala yang disebutkan penulis pada log message) disebabkan narasi yang enggak praktis. pendapat pribadi saya, paragraf awal jelas bertele-tele untuk konflik tokoh "ingin mengubah masa lalu". mungkin, ini mungkin, penulis berpendapat demi "menciptakan" suasana. tapi suasana apa? apa ada kaitannya dengan konflik? atau suasana konflik? saya menilainya enggak. jadi, dari sudut keringkasan, narasi semodel paragraf pertama itu boros. paragraf kedua juga. secara umum, cerpen yang baik itu, langsung menyajikan konflik yang dihadapi tokohnya dengan tepat. misal dalam Perjalanan Waktu ini, Tuis dihadapkan pada peristiwa yang menyebabkannya mengambil keputusan akan melakukan perjalanan waktu. singkatnya, cerpen ini bisa dimulai dari scene ketiga.
.
narasi, ini yang mestinya jadi persoalan utama cerpen ini. narasi praktis itu enggak bertele-tele dan tepat-guna saja (kecuali penulis sedang ingin "bermain" dengan psikologis atau teknik penyajian kalimat). jika itu informasi, memang benar jangan sampai tertinggal, hanya yang perlu dan jelas saja. apalagi ini menyoal "adalah". saya menilai genre sci-fi sebaiknya mengurangi kalimat model "adalah". tapi, eh tapi. bisa saja penggunaan itu (penyajian narasi model cerpen ini) adalah demi memuat unsur sci-fi-nya. kalo begitu, saya rasa itu pendekatan yang terlalu "gampang" dan "berbahaya". maksudnya, itu tadi, narasi jadi berisiko menjadi telling. gampang itu, sci-fi-nya berkesan informasi pengetahuan belaka--dan bukannya sebuah aplikasi dari sci-fi tsb.
.
cara lain yang sempat saya sebut adalah kenapa tidak tokoh itu memang tinggal di jaman dengan era futuristik, di mana unsur sci-fi akan lebih kental tanpa ada narasi model "adalah" di dalamnya?
.
berikutnya, hanya sekilas saja ya, secara ini komentar juga udah panjang banget, adalah dilema konflik. saya cenderung merasa tokoh Tuis ini enggak punya motif kuat untuk melakukan perjalanan waktu. maksudnya, ia enggak "kelihatan" harus melakukannya. mengenai kebutuhan tokoh itu, di sayanya, kurang berasa. seolah ia hanya digaris-tuliskan penulis melakukannya. enggak berasa secara emosional. satu film soal perjalanan waktu, yang kerasa motif tokohnya berjudul The Time Machine. Guy Pearce kalo enggak salah bintang utamanya. Itu dapet emosi, dilema, dan dramanya. pernah nonton kan? mungkin dari sisi sci-fi, film itu enggak bisa masuk 10 besar, apalagi di era sekarang ini. tapi dari jaman kapan film itu berasal dan unsur "life", itu termasuk jempolan. padahal sepele lho: dosen patah hati karena tunangannya terbunuh.
.
lalu ada beberapa dialog dan tindakan tokoh-tokoh dalam cerita ini yang rasanya berkesan dipanjangkan. contohnya soal duit enam juta itu. lalu kebingungan Tuis tatkala baru berhasil kembali ke masa lalu dan mengobrol dengan Revan. keberadaannya, sedikit banyak, menurut saya, mengikis "sci-fi" cerpen ini. kira-kira begitulah yang bisa saya sampaikan. mohon maaf bila kurang berkenan.

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 7 weeks ago)

Makasih sudah mampir bang, juga buat komentarnya (y)
.
Mudah2an kedepannya bisa lebih baik dan tidak mengecewakan :)
.
Saran tentang kata "adalah" itu, memang karena keterbatasan saya dalam menggunakan kata-kata, masih pemula. Jadi mohon maaf.
.
Jangan kapok mampir ke lapakku bang (y)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Perjalanan Waktu (5 years 10 weeks ago)
100

Mau komen, tapi bingung komentar apa. Udah diembat ama member lain soalnya. Jikalau subjektif sekali pun, paling juga sama. Intinya, apa yang ingin saya sampaikan udah dibahas ama yang lain (beginilah kalau telat datang).
Cuma mau nanya ini:
“Ia, Pak.”
itu sebenarnya "ia" atau "iya" saya kok berasa janggal ya. Coba deh cek lagi. Apa sayanya aja yang silap baca oleh baca tengah malam.

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Perjalanan Waktu (5 years 10 weeks ago)
80

Sebetulny ssaia lebih prefer ke fantasi, tapi karena cerpen ini mengangkat tema time-traveler jadiny saia santap juga. Saia gak mau komen soal teori time-traveler itu, udah banyak yang bahas di internet, jadi saiamau ngebahas cerpen ini aja

1.Ada kata menginjaki semester tiga, itu aneh. Setau saia kalau menginjak itu engga bisa/boleh ditambahin imbuhan i

2.terus Lelaki enggak perlu dikapitar huruf l-ny, yang gadis juga sama kasusny. Kecuali kalau itu memang nama mereka

3.Terus untuk pakaian hitam-hitam, itu saia rasa gak perlu dijelasin lagi. Atau kalau mau dijelasin dy pake pakaian apa, mungkin bisa cuma ditulis kemeja dan celana, engga perlu disebut hitam lagi, pengulangan soalny

4.Percakapan si Tuis dengan temanny terlalu kaku, sumpah deh. Emang sih ada anak kuliahan yang gaya ngomongny kayak gitu, tapi jujur selama saia baca percakapan si Tuis sama temenny yang ngasih rokok itu, kesanny mereka kayak orang baru kenal yang terpaksa ngobrol, gak ada nuansa friendly. Tapi ini cuma opini saia aja

5.Alurny terlalu cepat, dan engga ada penjelasan apa-apa, tiba-tiba udah ganti scene ke sini aja. Dan enggak ada penjelasan soal berapa kali si Tuis melakukan perjalanan waktu, ke timeline kapan

6.Tuis ceroboh banget! Sumpah dari pertama kali dy jatuhin mesin waktuny itu saia udah sebel sama dy. Itu benda berharga woy, jaga dengan nyawa kamu! Malah ditaruh sembarangan! Dan yang scene waktu si Tuis pertama kali berhasil melakukan perjalanan waktu, itu klise banget. Ditambah kamu membuat scene menjatuhkan benda penting, double klise

7.Saia suka dengan endingny, ini semacam jadi sebuah hukuman buat Tuis yang mengutak-atik waktu

Oke, itu aja. Semangat buat bikin cerpen yang lain!

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 10 weeks ago)

1. Kata menginjaki itu saya baru tahu kalau tidak boleh ditulis begitu.
2. Lelaki dan Gadis, setahu saya kata ganti untuk karakter itu ditulis kapital awalnya (setahu saya)
3. Yang hitam2 itu saya nyadar kok. Pas saya revisi, entah knpa kalo yang hitam2 itu hilangkan seperti ada yg tidak lengkap. Tapi makasih atas opinimu putri.
4. Itu bukan salah percakapannya putri. Saya bikin kaku begitu, karena Tuis masih setengah sadar, masih bertanya-tanya, (karena menurutku kalau seseorang kembali ke masa lalu, dia bakal banyak ngelamun dulu, ini benar tidak masa lalu?) Makany Tuis rada2 ngak nyambung kalo ngomong.
5. Gitu yah?? mohon maap kalau cerpen ini temponya cepat (saya khawatir kebanyakan kata, mungkin bisa smpe 6000 kata kalau saya kasih lebih detail lagi)
6. Jujur saya sulit m3nghindari yg namanya "klise" Putri. Kita hidup di jaman milyaran cerpen, ngak mudah buat sesuatu yg ngak klise. Banyak cerpen2 yg bagus sebelum sy belajar menulis cerpen membuat klise jdi susah dihindari. Masih perlu belajar lagi syaa.
7. Terima kasih :)

Makasih banyak yah putri sudah mampir :)

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at Perjalanan Waktu (5 years 10 weeks ago)

4.Yang masalah percakapan sama temenny itu, saia bisa menerima alasan kamu yang si Tuis ini masih belum yakin kalau dy ada di masa lalu. Tapi kalau begitu seharusny 'kekakuan' itu cuma terjadi sama si Tuis doang, tapi kalau si temenny itu mah biasa aja, tapi kekakuan terjadi sama mereka berdua.

5.Kalau memang cerpenny bagus dan alur ceritany jelas, rasany engga apa-apa deh baca beribu-ribu kata.

6.Like I said, semua cerpen sekarang itu ideny udah klise. Saia sendiri sulit menghindari yang namany klise, tapi sekarang yang jadi pertanyaan adalah bagaimana cara kamu mengemas ke-klise-an *is that even a word?* itu. Dan kenapa saia menunjukkan yang soal klise, karena kamu benar-benar menggunakan the oldest plot from the book. Dimana benda berharga itu jatuh dan dijatuhkan orang lain, kemudian benda itu jadi pusat perhatian dan sebagainy. Saia berharap kamu bisa memasukkan si mesin waktu itu dengan cara yang lebih baru lagi

Tapi ini cuma opini saia, dan sedikit pembelaan soal yang namany klise. Zaman sekarang memang sangat sulit untuk lepas dari yang namany klise

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 10 weeks ago)

Ya benar sekali mba putri. Mudah2an kedepannya saya bisa menyuguhkan cerpen tanpa ke-klise-an yg klasik. :)
Makasih yah mba putri atas masukannya. Hehehe :)

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)
100

Imajinasinya keren, Kak Nine. Yang penjelasan black hole itu saya manggut-manggut doang T_T Cuma tadinya saya pikir, karena itu black hole, jadi benda di sekitar si Tuis (saat mencet tombol itu) ikut kebawa ke dimensi lain, Seperti yang di luar angkasa itu. Maaf Kak Nine, jadi komentar gak penting. Si Tuis berani banget ya, setelah jadi, langsung dipakai tanpa buat percobaan terlebih dahulu. Salut Kak, ceritanya!

Writer Liesl
Liesl at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)
70

Overall ceritanya lumayan sih, biarpun moralnya udah umum. Di awal2 itu pas bagian menceritakan Tuis yang obsesi sama mesin waktunya buat saya kurang greget. Kurang gila Tuisnya ahaha..
Pernah denger tentang teori waktu bahwa kalau kita mundur ke masa lalu, kita menciptakan dimensi baru? Jadi paradoks yang kita ciptakan di dimensi kita sekarang ini ga akan mengganggu kehidupan kita di dimensi lain yang. Tapi itu saya juga cuma baca sekilas sih, ga sampe mendalami teorinya ahaha

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Gitu yah? Tuisnya masih kurang gila? Hahaha :D.
Mohon maap kalo karakter Tuis masih kurang menarik :)
.
Soal teori perjalanan waktu. Saya juga masih bingung lho. Soalnya itu aslinya rumit :) jadi yah, alakadarnya saja :)
.
Makasih banyak Liesl sudah mampir kemari. :)

Writer Ran Ganiya
Ran Ganiya at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)
80

Sayaa menikmati sampai akhir walau ini..4000 kata ya? Hehehe
Cuma mau bertanya nih, kata adik, bapak, ibu, apakah memang harus pakai huruf kapital ya?
sepengetahuan saya, kalau digunakan untuk menyapa langsung, baru pakai huruf kapital. kalau dalam narasi biasa kayaknya juga biasa aja.
:D

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Ho-oh. Saya juga masih ragu di bagian penulisan ayah, ibu dan adik di situ. Karena saya berpatokan kalau penulisan karakter itu harus pake huruf kapital. :)
Masih kurang yakin juga sebenarnya. Makasih buat pendapatnya yah?
Makasih juga sudah mampir kemari Ran, :)
.
Saya tunggu postingan kamu (y)

Writer arsenal mania
arsenal mania at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

enak bacanya. agak susah sih buat nggak kommen ke teori yang dipakai, tapi saia udah berkomitmen untuk membiarkan itu sebagai bagian cerita aja.
eh, dikit deh. efek black hole itu cuma berpengaruh ke pemegang mesin waktunya aja kah?
.....
selebihnya enak. well, bagian per scene itu kaya gw tau siapa yang suka nulis kaya gitu. ahahahahahaha
piss brad.

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Iya bang, sepertinya black hole itu cuma mengisap pemegang mesin waktu. Mau jelasin di cerpen, tapi takutnya jadi tambah panjang dan membosankan.. T.T masih pemula bang, apalagi masalah sci-fi? T.T
.
Hehehe, scene per scene itu bikin saya ketergantungan. :)
Kayak enak aja dipake, jadi seperti Fade out-fade in kalo di video. :)

Writer ilham damanik
ilham damanik at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)
100

Science Fiction
Fiksi + sains = sci-fi wkawkawka :D
Iya, ini sci-fi. Namanya juga fiksi, iya, fiksi itu kan sejenis fantasi jadi gak masalah kalo ceritanya lebih ke arah petualangan atau fantasi namanya juga fiksi. wkwkwk :D
Ceritanya gak bisa di komen lagi, Bro. Udah bagus kok :)
Salut (y)
Maaf bro kalo komentarku singkat. you know lah

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

I-now bro, I-now. Makasih sudah mampir kemari. Hehehe :)

Writer latophia
latophia at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

aaak.. maap, terkirim dobel

Writer latophia
latophia at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)
2550

Ga berasa 4ribu kata, enak aja bacanya, tau-tau udah ending :)
.
Saya kurang paham sih soal mesin waktu, tapi baru kali ini sepertinya nemu mesin waktu berbentuk bola, biasanya kan portal atau laci (di Doraemon).
.
Sebenernya ga ada masalah, karena mesin waktu ini kan masih imajiner ya, jadi suka-suka yang bikin cerita aja, cuma saya masih bingung dengan konsep paradoxnya. Apa maksudnya si Tuis ini bikin cabang universe lain pas dia kembali ke masa lalunya? lalu gimana dengan 'dunia asli'nya? apa hancur tersedot black hole? engga dijawab jg gapapa sih, ya karna mesin waktu sendiri masih konsep jadi ga terlalu butuh penjelas juga sebenarnya, cuma penasaran aja ini mah :)
.
Intinya sih saya suka aja dan menikmati cerpennya :)

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Hehehe, makasih udah mampir latophia :)
Senang kamu tidak bosan baca cerita ini , hehehe
.
Sebenarnya konsep mesin waktu di sini sama si doraemon ngak beda2 amat kok. :) cuman bentuknya aja. Di doraemon sepertinya om itu pake worm hole juga, sama seperti tuis, tuis masuk lewat blackhole (lacinya tuis) nah di dalamnya blackhole itu ada wormhole (lorong2 warna-warni di doraemon). Hehehe
.
Untuk masalah paradoks. Silahkan baca balasan komentarnya benmi. Di situ saya mencoba menjelaskan paradoksnya :)
.
Makasih udah mampir yah latophia :)

Writer hidden pen
hidden pen at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)
60

wuihhh bang Nine membuatnya juga, udah lama kunanti bang ehm ehem mana thiya??

si tuis (hampir saya sebut tulis) membuat mesin waktu ya bang. hmmm agak membingungkan sejak awal pembuatan mesin waktu.
menurut saya yang namanya black hole itu sangat menghancurkan. bahkan bintang yang sebelum masuk black hole dihancurkan berkeping keping dulu baru masuk. hmmm tapi aku tidak bisa komen banyak tentang mesin waktu bang
bikin pusing aja soalnya, ahahah maaf bang aku ngelantur jadinya memberi pendapat ego ku sendiri.
ceritanya mantap bang,ehehe moga bang nine gak tersinggung dengan kedatanganku di sini

salam pramuka

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

hahahaha,
Black hole belum tentu menghancurkan. Dia itu cuma mengisap. Belum ada yg tahu pasti nasib benda yg terhisap ke dalam blackhole.
.
Black hole juga dipakai dalam teori perjalanan waktu. Karena dia memiliki kemampuan untuk mendistorsi waktu.
.
Makasih sudah mampir bung hidden.. hehehe (y)

Writer benmi
benmi at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)
70

Daripada scific... lebi brasa fantasi. Hbsnya walau ada teori2.. ttp aja.. menurutku ya.. subjektif.. agak aneh kl mesin waktu itu lewat black hole. Agak ga nyata aja. Soalnya ampe bisa hitung black holenya segala. N mastiin waktunya dg tepat kyknya teori itu kurang. Jika dikatakan itu menembus ruang (manusia beserta dimensinya) dan waktu (masa lalu)
Jika bendanya rusak. Bukannya ia akan terlempar ke ruang n waktu sebelumnya? Kembali ke debu.. menurutku agak aneh..
Manusia sendiri menjadi debu saat ia dibakar dalam suhu panas. Kalaupun diceritakan dia menjadi debu krn alatnya rusak. Hrsnya ada kaitan tubuh n mesin wktu tsb. N pertanyaannya.. apa yang teori mendasari adanya hubungan tersebut.
Kehidupannya juga menurutku masi kurang greget.. mgkn krn penceritaan orang ketiga. Jdnya ga berasa sedih atau apapun wktu endingnya berakhir naas.
Tapi aku suka ide ceritanya. N pesan yang mengingatkan kecerobohan n keserakahan manusia utk hidup lebih baik.. walau disini caranya salah.
Anw.. maap kl komentarnya ga berkenan..

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Mbak benmi, sebenarny Sci-Fi itu adalah sesuatu yg kemungkinan bisa terjadi secara sains. Bisa dilihat di film star trek. Film yg sebesar itu tetep saja ada kebuntuan sainsnya. Pada teknologi warp drivenya. Star trek membuat pesawat enterprise melesat dengan kecepatan cahaya. Manusia biasa akan mengalami tekanan yg sangat besar bila berada dalam kecepatan ini, sebab analoginya, tekanan yg ada sangat besar hingga manusia yg berada di dalamnya seperti sedang dipalu dengan palu godam raksasa yg kekuatannya sebanding dengan energi tekanan kecepatan cahaya (saya baca ini di buku perpustakaan, kalau tidak salah bukunya terjemahan "the physics of star trek - Lawrence Krauss. Di situ dibahas kebuntuan dan kemungkinan teknologi dalam star trek). Jadi, star trek pun memiliki kebuntuan sains (apalagi cerpen saya mba T.T)
.
Di cerpen ini saya mohon maaf karena pengetahuan saya tentang kemungkinan perjalanan waktu--masih sangat minim. (Saya sampe nonton video2 dokumenter di youtube tentang time travel dari history channel yg durasinya 45 menit dan beberapa video yg lain, tetep saja ngak ngerti)
.
Untuk manusia yg menjadi debu. Di sini tidak ada kaitannya sama sekali dengan suhu panas. Sama sekali tidak ada. Ingat perjalanan waktu itu melibatkan paradoks. (untuk pengertian paradoks time travel sikahkan gugel mba :) ) jadi, paradokslah yg membuat semua menjadi debu. Rentetan kejadiannya begini:
1.Tuis membuat mesin waktu
2. Tuis melakukan perjalanan ke masa lalu (di sini, secara tidak langsung Tuis telah menciptakan sebuah paradoks: rentetan kejadian masa lalu yg sebenarnya diubah oleh Tuis dengan tindakan2 yg ia ambil)
3. Tuis menjadi kaya dan sukses (paradoks semakin bertambah--sejarah yg sebenarnya sudah rusak)
4. mesin waktu hancur (mesin waktu adalah tiang penyangga paradoks pertama, bayangkan efek domino. Apabila satu domino runtuh, maka domino yg lain akan ikut runtuh)
5. Realita berubah karena sebenarnya Tuis tidak pernah ke masa lalu
6. Semua paradoks akan hancur dan melibatkan kehancuran segala jenis materi yg berada di dalamnya (dalam hal ini, tubuh Tuis berubah menjadi debu, dan benda2 yg lain menguap--ini murni imajinasi saya apabila sebuah realita buatan hancur paradoksnya)
7. Tuis akan kembali ke "realita awal" (saat dia akan menekan tombol merah di mesin waktu)
8. Sayangnya waktu berjalan di "realita awal" itu, sudah berjalan lebih dari batas usia Tuis--lama waktu berjalannya sebanding dengan berjalannya waktu di realita yg Tuis buat)
9. Tuis di realita awal sudah mati. Sudah jadi tanah karena sudah lewat batas usianya (makanya pada saat di realita buatan Tuis ikut menjadi debu) seperti di film "tangled" yang animasi itu. Dimana dengan sihir si ibu tiri rapunsel menunda penuaannya--lalu kemudian mati menjadi debu karena rambut rapunsel;sumber kekuatan sihirnya; dipotong sama flyn ryder. Ini salah satu contoh paradoks (sepertinya)
10. Rentetan ini saya kembangkan dari konsep "multiverse"/realita buatan yg terjadi apabila seseorang melakukan perjalanan waktu mundur.
11. Tidak menutup kemungkinan saya salah
12. Mohon maap juga kalau penjelasanny tidak masuk di otak
.
Akhir kata, mohon maap apabila cara penceritaan saya salah dalam menyampaikan pesan kehidupan. Soalnya knowledge saya masih sedikit dan imajinasi saya juga masih sangat terbatas, apalagi sains? Huhuhu, minta ampun saya T.T
.
Saya banyak2 terima kasih mba karena sudah berkenan untuk membaca dan memberi kritik. Makasih :') #sembah2
.
komentar apa pun selalu berkenan kok. Asal jangan promosi jualan :)

Writer Zarra14
Zarra14 at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)
100

Bang Nine, keren ceritanya.
Temanya udah umum sih, senjata makan tuan akibat obsesi berlebih terhadap mesin waktu, mirip-mirip cerita discworld yang saya baca.
Yang bikin menarik adalah penjelasan teorinya itu menurut saya, meski pertama baca kesannya deskripsinya terlalu teoritis dan kaku, tapi setelah baca ulang it all makes sense.
Btw ini terinspirasi film Interstellar-kah bang?
Sci-Fi... belum terlalu kuat menurut saya, tapi sisi kehidupannya dapet: manusia yang tidak pernah puas dengan hidupnya, dan aspek-aspek kehidupan lainnya.
Saya berekspektasi lebih pada ending-nya, karena ending seperti di atas sudah cukup sering terjadi dalam cerita-cerita tentang mesin waktu.
Ada typo bercukur --> berkucur di paragraf pertama.
Over all, narasinya bikin nyaman dibaca dan ceritanya keren bagi saya.
Salam makmur sejahtera \m/

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Senang ada yang suka sama ceritanya (saya kira bakal membosankan T.T)
.
Saya belum pernah nonton film Interstellar. Ini inspirasinya dari film "Frequency": cerita tentang radio yang bisa berkomunikasi di masa lalu (ending dalam film itu happy ending, di sini saya balik, hehehe, mainstream banget kan?)
.
Untuk sci-fi nya saya kasih minim (bayangkan kalau saya kasih menonjol juga, bakal panjang cerpen ini. hehehe saya juga akan kewalahan :) )
.
Mohon maap endingnya kurang memuaskan. Sudah mainstream banget emang. :)
.
Mkasih yah buat koreksinya, kamu jeli juga. hehehe :)
.
Makasih banyak Zarra14 sudah mampir. Dan sudah sudi untuk membaca cerita telat ini, hehehe.
.
Salam olahraga jenk :)

Writer Zarra14
Zarra14 at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Wah saya malah belum nonton tuh "Frequency", boleh pankapan dicicip hahaha.

Kalau saya ngerasa Sci-finya itu kurang di efeknya, misalnya ketika Tuis menggunakan mesin waktu itu, bisa diolah jadi lebih 'wah' <<-- maaf ini geje

Sayang nih telat, makanya jangan sibuk-sibuk bang XD

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Harus lah diicip-icip, genre filmnya Thriller-SciFi
.
Ya emang, di bagian situ, imajinasi dan kosa kata saya masih terbatas. hehehe, makanya ngak "wah" :)
.
saya telat postingnya bukan karena sibuk Zarra, cuman karena faktor "malas" dan "tunda" sja.. hihihi :)

Writer ilham damanik
ilham damanik at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Bang, maaf bukannya batas cerita 3000 words?

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Di word tertulis cuma 2945 Lam. T.T,
.
Saya juga jadi binggungg.

Writer ilham damanik
ilham damanik at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Hahaha yaudalah bang. Lagian yang masuk semifinal udah di umunkan kok :D

Writer Nine
Nine at Perjalanan Waktu (5 years 11 weeks ago)

Word memang tukang tipu.
.
Iya ngak papa, seenggaknya bacalah dan kritik. hehehe