Dan Wewe itu Ternyata....

Aku sering mendengar cerita horor, tetapi selalu kuanggap sebagai hiburan semata. Aku sendiri tidak begitu yakin hantu itu benar-benar ada. Aku hanya percaya bahwa dunia yang kita tinggali ini penuh misteri, tapi bukan berarti hantu haruslah nyata. Setidaknya begitulah keyakinanku.

Bicara soal keyakinan, aku tidak bermaksud untuk memperdebatkan antara sains dan agama. Aku adalah seorang religius meski tidak sepenuhnya agamis. Dan aku pun seorang pelajar yang sangat menyukai fenomena-fenomena alam terutama fisika. Aku bangga pada ilmu pengetahuan yang mampu menjelaskan bagaimana aurora terbentuk di suatu sudut cakrawala, sedangkan sebagian peradaban menganggapnya sebagai kemunculan setan. Bagaimana aku tidak jatu cinta pada sains yang telah mengurai sebab musabab terjadinya pelangi, yang bahkan kakek nenekku sendiri masih percaya kalau itu adalah jembatan agar bidadari bisa turun mandi ke sungai?

Sewaktu aku kecil nenek sering bilang, “ojo nangis surup-surup, mengko digondol wewe.” Dulu aku percaya. Dulu, saat masih kecil dan tinggal bersama nenek. Tapi sekarang setelah dewasa, dan telah lama tinggal sendiri indekos, aku menganggapnya sebatas dongeng untuk menakut-nakuti. Soalnya, setelah sekian lama kuperhatikan bayi ibu kos meski menangis sepanjang magrib, ternyata tidak digondol wewe.

Maka ketika aku mudik liburan akhir semester iseng-iseng aku bertanya kepada nenek. “Sebenarnya hantu wewe itu beneran ada gak sih, Nek?” Aku jelaskan kepada orang tua pengganti ibuku itu tentang pengamatanku pada bayi ibu kos dan mengonfrontasi dengan apa yang sering dia bilang padaku sewaktu kecil. Mendengar penjelasanku nenek malah tertawa. Lalu terdengarlah kata-katanya yang gemetar karena tua, namun bagiku sangat merdu. “Oalah cah bagus, kok kue ijek kelingan jare mbahmu iki biyen, to?”

Aku kembali ke kota tempatku belajar dengan pertanyaan yang bahkan belum dijawab, malah ditertawakan sama nenek. Nenekku dan orang-orang di desa menyebut hantu wewe itu dengan nama “Wewe Gombel”. Kata mereka, penampilannya seperti perempuan tua mengerikan memakai baju lusuh laiknya pengemis, tapi kerjanya bukan meminta-minta melainkan mencuri anak-anak nakal yang suka menangis di kala magrib.

Deskripsi semacam itu terlalu absurd bagiku. Makanya aku menulis nama “Wewe Gombel” dengan tanda petik. Dan sebagai yang terlahir di generasi Harry Potter, justru aku membayangkan hantu wewe ini mirip penulis sejarah sihir Bathilda Bagshot yang terkena kutukan expeliarmus.

Tawa nenekku itu mengandung dua arti. Dia menertawaiku karena aku tidak percaya atau bisa jadi karena diriku masih penasaran. Aku memang tidak percaya, seratus persen. Tetapi memang harus kuakui kalau aku penasaran sekali. Siapa pun yang kenal denganku pasti tahu bahwa aku tipe orang yang gampang terkena sakit penasaran. Terutama hal-hal yang belum dijelaskan oleh hukum fisika.

Maka pada suatu kesempatan, ketika bayi ibu kos menangis lagi magrib-magrib, aku memasang mata dan telinga lebar-lebar di sekitar kamar si bayi. Menurut logika, jika Wewe Gombel memang nyata, maka dia akan muncul. Dan berdasar logika pula, yang namanya datang pasti dari luar kamar.

Karena itulah, aku mencari-cari alasan untuk duduk berlama-lama di ruang tengah sekaligus mengawasi koridor dimana kamar bayi berada. Aku melototinya tanpa berkedip. Ibu kos yang tergopoh-gopoh dari dapur karena mendengar tangis anaknya, kebetulan melihatku.

“Wit, kamu ngapain melotot gitu?” Tanya ibu kos.

Dengan agak malu aku menjawab, “Ee anu Bu, lagi marah sama nyamuk. Nakal banget soalnya, gigit mulu.” Lalu aku berpura-pura menepuk nyamuk yang berputar-putar di depan hidung.

Setelah ibu kos masuk kamar untuk menenangkan bayinya, aku melanjutkan pengintaianku. Tidak berapa lama tangis bayi mulai hilang, dan aku bisa membayangkan bagaimana bayi lapar itu rakus menghisap asi. Tetapi aku tidak melihat keanehan apa pun. Tidak ada tanda-tanda kemunculan Wewe Gombel. Kemudian dengan perasaan masgul aku kembali ke kamarku. Tiba-tiba ketika membuka pintu, aku ditegur oleh seseorang.

“Wit, magrib gini kok udah masuk kamar aja, gak ke mushola dulu?”

Aku menoleh dan melihat siapa yang bertanya. “Eh ibu, mau sholat di kosan aja deh,” aku beralasan. Padahal lagi malas berjamaah lantaran dongkol observasiku tadi tidak membuahkan hasil. Kemudian aku balik bertanya, “Ibu sendiri dari mana?”

“Habis nyari bubur buat si bayi.”

Oh, begitu, batinku dalam hati. Lalu aku masuk kamar dan berbaring. Tapi kemudian baru aku merasakan ada sesuatu yang janggal. Bukankah tadi ibu kos sedang menyusui si bayi, tapi kok.... lantas yang menyapa tadi siapa?

Memikirkan itu membuat bulu kudukku meremang. Dengan tergesa-gesa aku mengambil peci dan melesat ke mushola.

Selesai sholat aku menceritakan kejadian tadi kepada temanku. Dia malah menertawaiku. Katanya aku seperti manusia yang hidup di abad “Alif” yang masih percaya tahayul dan menganggap bumi ini datar. Padahal sekarang sudah abad “Lam-alif”, dimana robot bisa bergoyang itik ala Zaskia Gothik cuma dengan program komputer.

Tapi... tadi itu apa?

Malam itu aku tak bisa tidur. Soalnya isi kepalaku tersita sepenuhnya memikirkan peristiwa tadi. Badan kugolekkan kesana kemari pun tak terasa nyaman. Kucoba untuk menenangkan diri sambil merasionalkan masalah. Mungkin tadi itu hanya kesalahan indra penglihatan yang karena terlalu banyak membayangkan sosok Wewe Gombel, sehingga sensor-sensor motorik dalam tubuhku menjadi ‘hang’. Lalu saraf dalam otak bawah sadar meresponnya secara keliru dan terciptalah sosok Wewe Gombel. Yang sebenarnya tidak ada. Tidak menyapaku sehabis belanja bubur, tidak juga menyusui bayi. Dia hanya ada di retina mataku sendiri.

Bisa berpikir ilmiah seperti itu membuatku sedikit tenang. Perasaan tenang yang selalu kudambakan sejak dulu; ketenangan laiknya bayi yang dininabobokan oleh ibunya. Jujur saja, aku telah kehilangan ibuku sejak kecil, sehingga sampai sekarang aku rindu untuk merasakan hangatnya pelukan.

Kecamuk dalam dada yang campur aduk begini selalu berhasil membuatku sedih. Tangisku pecah tak bisa ditahan lagi. Aku merengek tak ubahnya anak kecil yang mengharapkan perhatian. Dan malam ini aku membayangkan sedang dipeluk ibu, ditepuk-tepuk bokongku dengan penuh kasih sayang, ditimang-timang, dinyanyikan lagu pengantar tidur.  

Tetapi tiba-tiba telingaku secara sadar sesadar-sadarnya, diantara sela-sela lagu itu dinyanyikan, mendengar ada cekikik tawa yang aneh dan menakutkan. Perlahan ku membuka mata dan melihat dua tangan keriput berkuku panjang-panjang berbalut kain lusuh nan rombeng sedang memeluk diriku. Hatiku berdesir ngeri. Ini bukan sekadar bayangan. Seketika aku merasa seluruh indraku lumpuh. <>

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer kartika demia
kartika demia at Dan Wewe itu Ternyata.... (6 years 40 weeks ago)

Ini horor komedi? Kok saya gak nyengir sedikitpun? #digampar

Bagian si aku menangis dan membayangkan keberadaan ibunya itu sudah ketebak kalo si Wewe akan muncul. Cobalah bereksplorasi dengan kalimat agar bagian itu tidak ketebak.
Alur ceritanya udah oke tapi masih kurang greget horornya.
Sedikit pembetulan tanda baca dari saya, ya:

“Ee anu Bu, >> "Ee anu, Bu, (sebelum kata sapaan harus dikasih koma)

“Eh ibu, mau sholat di kosan aja deh,” >> "Eh, Ibu. Mau sholat di kosan aja, deh," (akhiran ,deh ,sih, yuk sebelumnya dikasih koma (namanya apa sih ini coba))

Magrib>>Maghrib

Laiknya >> laik? Sepertinya 'layak' lebih baku.

Maaf jika salah. Salam kenal :-)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 5 days ago)
70

halo, yangnulis, yangbaca mana? yangnerjemah ada enggak? saya jadi yangkomentar dulu aja deh :v
pendapat saya tentang cerpen ini banyak yang sama dg yangudahkomentar.
jelasnya:
- soal hukum fisika, ilmiah, rasional, dsm, yang bersangkutan dg cara pikir narator. (ini sekaligus kasih insight buat saya juga sih.) mungkin enggak sih membuat pembaca berpikir bahwa narator itu seorang yang rasional, ilmiah, dan fisikawan, tanpa menyebutkan secara eksplisit bahwa dia itu seperti itu? seperti yang disinggung oleh someonefromthesky dan AV, walaupun narator menyebut diri si tokoh sebagai seorang yang bagaimanalah itu, hasilnya kurang meyakinkan, kurang mendalam, kurang eksplorasi, kurang pembuktian. (saya pernah kena kritik begini juga sih ._.) barangkali ini soal "show, don't tell" itu. jangan katakan si tokoh begini atau begitu, tapi tunjukkan--gimanapun caranya--supaya pembaca sendiri yang menyimpulkan demikian.
- interpretasi saya thd si wewe beda sama 94 (yang menyangka itu neneknya), saya malah cenderung bingung seperti someonefromthesky. wewe katanya menghampiri anak kecil yang nangis magrib2. tapi si aku tentu sudah bukan anak kecil lagi, dan dia menangis malam2--sudah lewat dari magrib. jadi rupanya persangkaan si aku thd metode kerja si wewe itu juga meleset, ya? (maksudnya, dia bukan cuman ngedatengin anak kecil yang nangis magrib2, tapi siapa pun yang nangis2 kapan pun itu ketika sudah gelap, misalkan.)
- soal religus dan agamis itu saya rada puzzled juga bacanya, hehe. sepakat sama AV, coba dicek lagi pengertiannya di kamus. kayaknya di bahasa itu emang kadang ada beberapa kata yang maknanya persis, ya? misalnya saja "wartawan" dan "jurnalis", apa bedanya?
- seperti ichsan, gaya tuturnya si aku ini lebih membikin saya jadi penasaran ketimbang serem. bagus sih. saya enggak gitu suka yang serem2 soalnya :v
- katanya sukanya nulis yang satir gitu, ya? sama dong, eh, maksudnya saya suka sih bacanya, atau kalau film mah, nontonnya. dipajang di sini dong. pajanganmu saya lihat baru yang "Kisah Sarung Karno" itu :( oh, atau jangan2 seperti Karno, cerpen2 satirmu dipajangnya udah di koran, ya? hihihihi. boleh juga tuh link-nya kalau ada yang nglipingin di internet :3

Writer izaddina
izaddina at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 9 weeks ago)
90

Untung aku orang Jawa, jadi ngerti neneknya ngomong apa :v

Plot twist yang mengejutkan! Tetapi, yah, ada kekurangannya sih. Kiranya udah dibahas member lain, ga usah aku tambahin lah ya.

Semangat!

Writer silvercorolla
silvercorolla at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 12 weeks ago)
90

bagiku cerita ini sangat brilian. Di bagian awal kesannya seperti satir yg menyindir cerita horor lokal. Di bagian tengah kesannya adalah plot twist yg mengejutkan. Di bagian akhir aku hanya berkesan mempermainkan pikiran pembaca hehehe, mantap

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 13 weeks ago)
100

Yap! Banyak hal udah dibahas ama member-member di bawah. Paling aku hanya akan mengemukakan pendapat (sotoy)-ku.
.
Pertama. Saya bacanya lempeng aja. Terlalu banyak 'bacot' di sana-sini sehingga cerita terkesan ngelantur dan kurang fokus. Dan... aku beneran kesal ama bahasa jawa yang gak ditranslatekan. Soalnya aku gak ngerti sama sekali itu nenek ngomong apa.
Dan lagi, cerita ini belumlah seram. Endignya terlalu membingungkan (buatku). Jadi, dia teringat masa kecilnya yang ditimang oleh "wewe gombel"? Tapi kok, dia terus menyangkal hal tersebut? Dan di akhir dia malah menerima kenyataan dengan lapang dada. Menurut saya, cerpen ini kurang menyeramkan. Tapi aku suka gaya penceritaannya. Ngalir dan enak dibaca.
Yap, paling masalah di selera aja kali ya. Soalnya saya udah keseringan baca cerpen serem dan gore XD
.
Salam kenal :D
Terus semangat menulis ya :D

Writer niNEFOur
niNEFOur at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 14 weeks ago)
80

poinnya lupa.. hehehe :D

Writer niNEFOur
niNEFOur at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 14 weeks ago)

Dan Wewe itu Ternyata...
jadi si tokoh ini sudah di gondol oleh "wewe gombel" sejak dia kecil dan si "wewe" ini menyamar jadi neneknya yang sering bilang, “ojo nangis surup-surup, mengko digondol wewe.” tapi dia tidak tau karena sedang hidup dalam pengaruh sihir si "wewe gombel"
makanya si nenek ketawa sewaktu ditanya lagi tentang "wewe gombel" dan akhirnya entah bagaimana dia sempat terlepas atau memang dilepaskan meski tidak sepenuhnya dari sihir si "wewe gombel" agar pertanyaannya tentang si "wewe gombel" itu terjawab, benarkah begitu?
soalnya saya mudah sekali terjangkit dengan penyakit penasaran..
heheheheh :D

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 14 weeks ago)
90

Kereen. Ceritanya bagus. Lumayan bikin merinding. Menurut saya, justru karena sosok Wewe Gombel itu awalnya ditampilkan seperti manusia biasa, suspense-nya jadi lebih dapet. Kalau pun ada kekurangan, mungkin hanya dalam hal elaborasi. Pikiran buruk si tokoh utama saat membayangkan "siapa sebenarnya yang tadi membuat bayi itu diam" bisa dibuat lebih detail dan lebih seram. Kemudian pada bagian si tokoh utama meyakinkan dirinya sendiri dengan alasan yang "ilmiah", rasanya kurang meyakinkan. Dia kan katanya penyuka sains, seharusnya dia bisa mencari alasan lain yang lebih meyakinkan, atau setidaknya mengemukakan beberapa alasan. Bagian endingnya agak ambigu (apa Wewe Gombel mendatanginya karena ia menangis seperti bayi?) tapi nggak terlalu masalah. Hanya saja, sepertinya akan lebih baik kalau di ending itu diberi sedikit petunjuk tentang nasib bayinya ibu kos (mungkin bayi itu sedang digendong Wewe Gombel, atau apalah).

Thumbs up karena gaya tulisannya rapi dan nggak pakai jump-scare murahan seperti yang banyak ada di cerita horor lainnya.

Writer citapraaa
citapraaa at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 16 weeks ago)
100

Endingnya bisa ketebak sih hehe. Agak bikin merinding. ga tau komedinya di mana, ga terasa ._.

Writer yangnulis
yangnulis at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 16 weeks ago)

gakpa2 sih bisa ketebak.yang penting kakak udah mau baca xaxaxa

komedinya kurang nendang ya. biasalah.... yang bikin cerpen aja sukanya cemberut.

trima kasih udah ninggalin jejak :D

Writer A.Arifin
A.Arifin at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 16 weeks ago)
70

Hai salam kenal

- menurutku cerita horrornya kurang terlalu serem, mungkin soal selera kali aja yak. namun, sy rasa penulis punya pondasi yang cukup untuk membuat cerita horror yang lebih wah dan mendebarkan haha.. tinggal nyari referensi ajah buat dijadikan bahan riset.nah, sy kasih nih beberapa bahan tapi nyari sendiri yak
1. Another (Anime)
2. Kara no kyoukai 1 sd 7 (Anime)
3. corpse party tortured soul(anime juga)
4. Shiki (anime)
5. Exorcist edisi pertama (movie barat)
6. film-film Susanna
7. Cerpen karya edgar allan poe

- cukup segitu ajah deh, semoga berkenan. piis

Writer yangnulis
yangnulis at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 16 weeks ago)

hi juga kakak
sebenarnya aku gak suka nulis yang terlalu serem. aku lebih suka yang satir, miring dan nyinyir.
oke deh aku coba jelajah referensi itu.
berkenan kok, :D
bagiku, semua kritik membangun kok. kecuali kritik yang gak ada hubungannya ama cerpen ini xaxaxa

Writer Zarra14
Zarra14 at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 16 weeks ago)
90

Salam kenal, yangnulis :D
Yak cerita ini serem buat saya haha, namun analogi dalam sentilan humornya saya suka.
Perubahan suasana hati tokoh Aku, yang mulanya takut dan curiga tentang wewe gombel, lalu dengan cepat berubah sedih dan menangis, itu masih kurang alami menurut saya.
Selebihnya setuju dengan komentar kak AV di bawah.
Semoga berkenan, terus semangat nulis :D

Writer yangnulis
yangnulis at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 16 weeks ago)

trima ksih udah mampir kak zarra :D
sukurlah kalo masih ada yg suka (wahai cerpen nasibmu lebih beruntung ketimbang penulisnya xaxaxa)
mmh, emang kurang alami ya, kesannya terburu2 kurang mateng... mungkin ditambah sedikit sentuhan bagian itu kali ya..
berkenan kok, :D

Writer Ichsan.Leonhart
Ichsan.Leonhart at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 17 weeks ago)
70

Wogh, ini endingnya twist sekali ya..
O.o

Alih-alih creepy, saya baca story ini malah jadi lebih dibuat penasaran. Well done.

Writer yangnulis
yangnulis at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 17 weeks ago)

trimakasih kunjungannya kakak. :D
mampir lagi di cerpen berikutnya ya xaxaxa

Writer AV Hrisikesa
AV Hrisikesa at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 17 weeks ago)
70

Sesuai permintaan kamu, saya akan mengoreksi sebisa saya. Dalam hal ini saya tidak akan mengulas masalah redaksional, terutama mengenai tanda baca dan huruf kapital.

Oke, kita mulai dari ...
"Aku adalah seorang religius meski tidak sepenuhnya agamis." Hindari penggunaan kalimat semacam ini, sebelum menggunakan sebuah kata, kita harus lebih dulu tahu apa maknanya. Dalam hal ini, orang religius ditafsirkan sebagai orang yang agamis, rajin beribadah, dan itu bisa terlihat dari penampilan dan perilakunya. Jadi, dua kata tersebut tidak tepat jika digunakan sebagai kontradiksi.

“ojo nangis surup-surup, mengko digondol wewe.” Lain kali gunakan footnote untuk menjelaskan bahasa daerah itu, karena tidak semua pembaca itu orang Jawa dan mengerti bahasa Jawa. ---> Jangan menangis di waktu petang, nanti diculik Wewe. <---

"Terutama hal-hal yang belum dijelaskan oleh hukum fisika." Pembuktian dari sebuah teori itu tidak melulu menggunakan asas fisika, ada banyak disiplin ilmu lain yang bisa digunakan untuk menjelaskan sebuah cerita menjadi fakta. Dalam hal ini, kita tidak bisa mengaitkan pembuktian ada tidaknya Wewe Gombel dengan ilmu fisika. Meski ada banyak orang menyebut dimensi mereka dengan istilah metafisika, untuk lebih rincinya silakan kamu cari makna hakiki dari keduanya di berbagai sumber.

"Karena itulah, aku mencari-cari alasan untuk duduk berlama-lama di ruang tengah sekaligus mengawasi koridor dimana kamar bayi berada. Aku melototinya tanpa berkedip. Ibu kos yang tergopoh-gopoh dari dapur karena mendengar tangis anaknya, kebetulan melihatku." Apa menurut kamu hantu itu seperti manusia yang melewati koridor dan membuka pintu? Hm?
Ayo gali lagi imajinasi kamu.

Dan yang terakhir, sekedar saran, kalau ingin menulis kisah horor, misteri maupun fantasi, usahakan gunakan kalimat yang pendek dan tidak bertele-tele. Sebab dalam cerita tersebut ada banyak adegan kejutan. Kalimat yang panjang hanya akan mengurangi gregetnya dan membuat pembaca mudah bosan.

Mengenai kelebihan cerita, akan saya berikan dalam bentuk nilai yang saya berikan, saya hanya berusaha objektif. :-)
Salam

AV Hrisikesa

Writer yangnulis
yangnulis at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 17 weeks ago)

ow jadi religius = agamis ya? duh kirain beda, soalnya beda kata sih...
iya emangsih wewe gombel gak bakal bisa dijelasin pake fisika. bisanya pake dukun xaxaxa
eh iya juga ya, logika hantu dan manusia kecampur. siapa tahu nembus tembok. Kak AV jeli banget ya
oke deh kakak. trrrriiiimakasih sarannya.
jngan bosen mampir di mari ya? xaxaxa

Writer autumn205
autumn205 at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 17 weeks ago)
90

Ini keren loh, lebih bagus dari cerita saya dari mana-mana (ceritanya mampir sehabis reply ^^7 ).

Di bagian awalnya memang masih datar ceritanya, tapi kupikir itu perlu buat ngebangun alur kan. Dan yah, penyebutan Bathilda Bagshot, aku nggak inget filmnya, cuma baca bukunya dan saat itupun dia udah mati #malahmlipir

Cerita wewegombel juga ada di tempatku, tapi nggak nggondol pilih-pilih sih. Pernah ada orang tua digondol ke gunung, dia nggak ketemu sama sekali, ketemunya udah jadi rangka ._.
Selamat buat ficnya, kupikir ini fic yang berhasil. Merinding kok aku bacanya, ngebayangin wewe gombel bener-bener muncul :D

Oh ya, salam kenal.

Writer yangnulis
yangnulis at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 17 weeks ago)

ah kakak merendah cieeeehhh
maksih ya udah mereplay aku. jadi tersandung xaxaxa
bagian awal datar ya? okedeh lain kali harus bergelombang khusus buak kakak
hah, jadi beneran di tempat kakak ada wewe gombel? abad berapa tuh?
kakak gak ikut digondol kan? (kuatir xaxaxa)

ntra kunjungan lagi ya kalo ada cerpen baru. kalo ada, soalnya bikinnya susah...

Writer hidden pen
hidden pen at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 17 weeks ago)
70

hay (yang nulis) apa kabar neh. Sehatkah. Ahaha cerpennya bagus dan saya juga suka dengan genre komedy campur horror. Berasa seperti karya apa gitu. Bentar ya aku cari dulu. Ehm terus semangat nulis ya. Salam tersembunyi

Writer yangnulis
yangnulis at Dan Wewe itu Ternyata.... (7 years 17 weeks ago)

kabar baik kakak. trrrriiiima kasih udah baca. dan ninggalin jejak.
oke, salam semnagat balik ya xaxaxa