Distorsia I

Distorsia bagian pertama.

Surat yang Terlambat Setahun.

 

***

 

Aku menghabiskan empat jam perjalananku dengan melamun. Kusir kereta kuda yang kutumpangi dengan rendah hati mempersilakan tidur, tapi rasanya daerah ini terlalu berbahaya jika dilewati dengan mata terpejam. Mungkin karena biasa tinggal di perkotaan, jalan sepi yang hanya dihuni batu-batu dan rumput liar, serta gunung-gunung runcing yang menjulang di sisi kanan jalan, membuat batinku tidak tenang. Bahkan bayangan hewan tidak terlihat satu pun, sementara semilir angin terus menyuarakan bunyi-bunyian ganjil yang bertautan dengan senandung suram si kusir tua.

Jika bukan karena surat yang menempel di mantelku sejak dua hari lalu, aku tidak akan mengunjungi tempat terkutuk ini.

Dari Sara, adikku yang kupikir tidak akan kulihat lagi. Menurut tanggal yang terpampang, seharusnya surat itu ditulis dan dikirimkan setahun lalu, dan lucunya baru kuterima kemarin lusa. Surat itu terlambat setahun! Isinya tidak banyak, namun dia sangat memintaku untuk datang menemuinya. Tidak dijelaskan kenapa, aku khawatir dia menulis surat itu dalam pengawasan. Atau takut ketahuan.

Tempat yang dibilangnya pun cukup sulit dijamah. Dusun Hazelbone, di daerah terpencil West Erestia—daerah tidak berkode pos yang akan mengerutkan kening siapa saja yang mendengarnya. Berkat bantuan informasi Sara, butuh dua hari untuk ke sana dengan kereta api dari Corte, kemudian berpindah bus malam untuk mencapai daerah pertanian itu. Selama perjalanan, aku telah berada dalam kegelapan Pegunungan Noireterra dan merasa tidak nyaman. Dataran lancip nan dingin itu menyimpan sejarah kelam yang membagi Erskine menjadi dua bagian. Berada dalam jangkauan sisi gelapnya membuat otakku mengeras, seperti digelayuti arwah orang-orang mati.

Arloji sudah menunjuk pukul 14 ketika si kusir tua mendadak berhenti dan menghentikan senandungnya. Di sebelah kiri kami terbentang hamparan luas berbatu-batu yang lumayan besar. Jalanannya tidak rata dan penuh terjal, sementara di sebelah kanan terhampar pepohonan hitam yang sangat rapat dan beratap tinggi. Tidak ada celah yang kulihat selain kegelapan. Aku memperhatikan sang kusir dengan heran.

“Pak?”

Kusir tua itu semula diam, tidak sedikit pun menoleh ke arahku. Kemudian terdengar suara parau dari pria berbaju kelabu tersebut. “Maaf Tuan, Anda sekarang dirampok.”

Aku mengernyit dan menganga. Serius? Lantas kebingunganku bersambut dengan lenguhan kuda hitam besar di depan kereta.

“Huh? Bukankah kita—” Sebelum ucapanku selesai, sebelah tangan penuh keriput—jangan tertipu dengan penampilan—itu mencengkeram kerah kemejaku hingga tertarik keluar dengan kasar. Cengkeramannya mencekik, tubuhku tertarik ke bangku kemudi kereta sehingga wajah si kusir begitu dekat. Kusir tua itu menatapku dengan alis menyatu di atas hidungnya, tangannya yang lain menggenggam pisau kecil dan menorehkannya pada leherku.

“De-dengar, jika Anda meminta bayaran lebih, aku akan memberikan uang dua—ah, tidak tiga kali—”

Bujukan tidak berlaku untuk kusir keparat ini. Dia tidak segan-segan memutus urat syarafku dan sudah dimulainya dengan membuat garis merah yang membuat darahku naik. Walau sebenarnya ingin melawan, aku sedang tidak ingin memperparah masalah. Dengan kaku dan gemetar, tanganku merogoh dompet di balik mantel dan menyerahkannya. Ketika menahan amarah yang amat sangat, tubuhku selalu gemetar.  

Sang kusir menyumpah dalam bahasa Erestia, sedikit-banyak yang kuketahui, namun kurang lebih dia berkata: ‘pergi dan matilah kau di sini, orang asing’. Setelah itu, dia melemparku dengan kasar melalui celah-celah sempit kereta kuda di sisi kanan. Tungkai dan dadaku membentur silinder besi-besi tebal penyangga atap kereta itu, sakitnya tidak seberapa dibanding benturan dengan jalan keras berbatu-batu tajam. Sisi kanan pipiku robek, hidungku berdarah. Ketika aku berdiri untuk mencemaskan tasku, kereta itu sudah berderap cepat.

Sial.

Hanya itu umpatan yang kulontar dalam hati, namun tanganku mengepal erat dan gigiku saling menghantam. Aku memperingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu larut dalam kemarahan. Kemarahan bisa membuat pikiranku tidak fokus, dan sudah berkali-kali aku terjerumus dosa yang meledak-ledak itu.

Maka aku mencoba untuk menenangkan pikiran. Mengabaikan wajah si kusir tua yang tertawa parau sambil bersenandung aneh di dalam otakku.

Dompet itu tidak seberapa, karena biasa menggunakan kendaraan umum dalam kota, aku selalu menyiapkan dompet palsu di saku mantel—walau ada beberapa lembar uang yang terselip di dalamnya. Dompet yang asli sebenarnya ada di tas….  tapi syukurlah aku sempat menyelipkan beberapa lembar lima puluhan kyrt di lipitan kaos kaki dan beberapa uang receh di saku mantel yang lain.

Selain dompet, tasku hanya berisi pakaian dan sebuah buku catatan. Sejauh ini aku tidak apa-apa—mudah-mudahan. Hanya luka-luka kecil yang akan sembuh beberapa hari lagi. Aku segera membersihkan darah dan meludah sembari menyumpah. Menurut surat Sara, setelah melewati padang berbatu yang panjang, aku harus memasuki Hutan Meadkast: hutan yang terlihat sangat hitam ketika matahari menyinari Noireterra. Dan sebenarnya kusir sialan itu tidak salah menurunkan aku di sini.

Aku menghela napas.

Kupikir aku akan sakit kepala, atau muntah dalam beberapa jam. Tapi aku teringat Sara. Ayah dan Ibu pasti bangga pada anak laki-lakinya yang dulu tidak berani melangkah keluar rumah sejengkal pun, kini menerobos hutan antah-berantah demi anak perempuan mereka. Yah, mereka bisa tersenyum di surga.

Jadi, aku memulai berjalan kaki sendirian memasuki hutan liar yang gelap. Pohon-pohon gigantik berlumut hitam berdiri berdempetan, baunya anyir seperti bau darah. Tanahnya dipenuhi dedaunan kering dan berbunyi nyaring ketika diinjak, seolah hutan itu menjerit jika ada yang datang. Udara yang berhembus dingin tapi kering menyesakkan, bunyi kretakan ranting-ranting pohon membuatku berkali-kali menoleh ke belakang atau menatap atap hutan—dan kembali sadar aku telah masuk ke dalam bayangan.

 

Sudah satu jam lebih aku berjalan. Dari tadi tidak ada jalan lebar; jalan ini tidak bisa dilewati kendaraan. Pantas saja orang-orang Erestia tidak tahu keberadaan dusun itu. Sara memberi tahu: semakin besar pepohonan yang tumbuh dan semakin sempit jalan yang dilewati, maka itu adalah arah yang benar. Aku jadi bergidik. Pohon-pohon ini tumbuh ke atas, namun merunduk. Mereka mengengelilingiku. Dusun apa yang bersembunyi di keganjilan hutan seperti ini?

Di tengah kesuraman hutan ini, tiba-tiba aku melihat bayangan manusia berdiri tegap di ujung jalan. Aku menyipitkan mata, memastikan itu bukan hantu. Lalu aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Kuharap dedaunan kering ini diam sejenak di neraka.

Ternyata seorang perempuan. Dia mengenakan topi cloche dengan brim berbayang menutupi mata. Pakaiannya adalah gaun terusan sederhana bermotif bunga dilapisi kardigan biru, rambutnya yang sewarna gandum dikepang, menjuntai sepanjang punggung. Sebuah tongkat aneh dangan ujung melengkung, yang kukira tongkat jalan, tergenggam di tangan kanannya. Gadis itu tersenyum.

“Halo, Tuan,” sapanya, yang membuat alisku mengerut. “Apakah Anda tersesat?”

Aku malah balik tanya, “Apa yang dilakukan gadis muda sepertimu di hutan seperti ini?”

“Saya tinggal di dekat sini,” jawabnya. “Sejak tadi saya memperhatikan Tuan dari belakang, mungkin Anda tidak menyadarinya? Sangat jarang orang lain memasuki hutan ini, saya ingin membantu Anda, terlebih Anda sendirian.”

Kembali aku bergeming. Gadis ini membuat atmosfir yang tidak menyenangkan. Bagaimana caranya dia berjalan di belakangku, tapi aku tidak mendengar bunyi-bunyian lain selain langkahku sendiri? Namun, aku merasakan firasat baik ketika tahu dia tinggal dekat sini.

“Saya sedang mencari seorang gadis, namanya Sara Gifferbott. Anda mengenalnya?” Aku mengeluarkan foto dari amplop dan menyodorkannya. Sengaja kumasukkan bersama suratnya supaya memudahkan, dan si gadis tampak mengamatinya dengan aneh.

“Maaf Nona, foto itu terbalik,” kataku sambil mengernyitkan dahi.

Buru-buru si gadis memutar foto di tangannya, lalu kembali mengamati. Dia meraba-raba foto itu dengan jemarinya yang bersarung tangan hitam. Pikiranku tidak sanggup menerka, sebenarnya apa yang dia lakukan.

“Tidak tahu, tidak pernah lihat, juga tidak pernah dengar,” jawabnya lalu memberikan foto itu kembali. Aku mengambilnya.

“Kau tinggal di dekat sini? Apakah kau tahu dusun bernama Hazelbone?”

Si gadis angkat bahu, “Entahlah. Ini bagian terjauh dari hutan yang pernah saya lewati. Dusun itu ada di balik hutan ini?”

“Tampaknya begitu.”

“Boleh saya ikut menemani?”

Sebenarnya aku sedikit waswas akan tawarannya, namun akhirnya aku mengiyakan. Gadis itu tanpa segan langsung menempel padaku. Dia bercerita omong kosong tentang keluarganya yang kupikir tidak masuk akal; seperti ayahnya yang menanam semua pohon di hutan ini. Berpura-pura mendengar ocehannya, aku memperhatikan sang gadis. Ternyata tongkat itu dipakai untuk menuntunnya berjalan—dia sedikit pincang rupanya. Aku sedikit ngeri dengan sebelah tangannya yang menggaet lenganku seolah tak mau dilepaskan.

“Oh ya, Anda bilang tadi ingin mencari adik?” tanya si gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Ana. Aku mengangguk tak peduli.

“Kenapa Anda tidak meneleponnya saja? Maksud saya, sebelum di hutan ini, karena di sini miskin sinyal. Anda tahu, di Erestia keadaan lebih baik.”

Buru-buru aku menoleh ke arahnya, dan terkejut melihat gadis itu tersenyum memamerkan gigi dengan ponselku di genggamannya. Oh, Tuhan, aku bahkan lupa benda itu masih ada di sakuku!

“Hei, kembalikan!” hardikku kesal.

Dia malah menyimpan ponsel itu di saku, lalu tiba-tiba mengayunkan tongkat jalannya menghantam kepalaku. Aku sempat mundur dan menghindar. Gadis aneh itu melompat dengan kedua tangan terangkat, menggenggam tongkatnya, kemudian sekali lagi menghantamkan tongkatnya sekuat tenaga.

Aku mengangkat tangan, bersiap menahan laju tongkat. Tapi ketika telapak tanganku menyentuh permukaannya, tongkat aneh itu menyetrum! Sontak aku mengaduh sembari menarik tangan kembali, dan gadis ini memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Dihantamkannya batok kepalaku dengan kuat, lalu seakan belum cukup, dada dan perutku juga jadi sasaran. Terakhir, dia memberiku bonus di pipi kanan yang sudah sobek karena si kusir sialan.

Tubuhku jatuh tersungkur. Terbatuk-batuk ketika melihat perempuan itu berlari dalam kegelapan—dia sama sekali tidak pincang!—kemudian lenyap. Kepalaku pusing berputar-putar, dan aku muntah darah. Setelahnya semua kabur—oh, kuharap aku tidak mati! Sara akan…

 

Aku mengerjap sekali. Dua kali. Tiga kali.

Oh, syukurlah aku masih hidup.

Walau seluruh tubuhku sakit dan gatal-gatal karena menempel pada tanah hutan, aku masih bisa bernapas. Lalu melihat semuanya serba merah.

Merah? Tunggu.

Pohon-pohon hitam itu memerah, batangnya yang besar tinggi merunduk itu terbakar! Aku mengernyit ngeri. Tanah dan dedaunan yang kutindih juga merah, seakan tertumpah darahku sendiri. Tapi aku tidak berdarah! Semua di sekitarku bercahaya merah, membakar, dan membara. Peluh menetes dari keningku. Aku berteriak seraya bangkit dalam kengerian.

Oh, kupikir otakku mulai runyam—mungkin akibat dipukuli si Jalang. Ini hanya matahari terbenam! Aku melihat lingkaran bulat bersinar merah hazel yang tersembul di sela-sela daun dan ranting pepohonan tinggi. Matahari itu membuat segala penjuru hutan menjadi merah seperti di neraka, dan aku menertawakan diri sendiri yang sempat ketakutan menyedihkan.

Aku harus menemui Sara sebelum matahari ini hilang. Aku tidak mempunyai pencahayaan apa pun—ponselku dirampas, ingat? Dan ketika kurogoh saku, rupanya uangku dirampas juga. Setidaknya aku masih punya kaki untuk berjalan dan mata untuk melihat. Aku tertawa dengan leluconku sendiri. Dua orang idiot itu tidak cukup pintar untuk membuatku tidak benar-benar merasa kaya. Hehehe he...

Buru-buru aku menutup mulut. Tawaku sangat aneh sampai aku sendiri ngeri. Tanpa berpikir macam-macam lagi, aku mengikuti jalan di mana pohon-pohon merah ini tumbuh semakin besar dan besar.

 

Pepohonan raksasa yang tumbuh di penghujung hutan membuatku merasa lucu. Mendadak aku merasa menjadi manusia kerdil atau sejenis kurcaci yang bisa saja mati diinjak semut. Kurasa pikiranku sudah setengah waras, aku berjalan serampangan sambil melantur. Pakaianku compang-camping karena terbaret ranting-ranting kemerahan, dan jangan bertanya betapa tidak keruannya wajahku. Beberapa detik sebelum matahari benar-benar lenyap, akhirnya aku berhasil keluar dari malapetaka itu.

Di luar hutan, aku merasa udara yang kuhirup sudah berbeda. Tidak ada lagi udara kering yang menyesakkan, dan karenanya aku memenuhi dada dengan udara malam yang segar sebanyak-banyaknya. Senyum lebar mengembang di wajahku. Kemudian tubuhku linglung dan jatuh.

Bruk!

“Apa dia mati?”

Sayup-sayup aku mendengar suara. Tanah yang kutindih begitu halus dan nyaman, untuk sementara pikiranku menolak untuk diganggu. Apa lagi dengan suara-suara hantu.

“Coba tendang saja mukanya,” suara lain berbisik.

—yang membuatku membelalakkan mata. Sebuah tungkai kecil bersepatu bot melayang ke hidungku, dan dengan marah kutangkap kaki itu. Kucengkeram seperti hendak mematahkannya. Si pemilik tungkai menjerit dan menangis.

“Hiiii… Kakak, tolong aku! Tolong aku!” seru suara pertama meronta-ronta.

“Le-lepaskan! Lepaskan!” suara kedua menghardik dengan nada gemetar. Pikiranku melayang-layang.

“Tidak akan kubiarkan kalian mengambil apa pun dariku! Tidak akan! Tidak akan!” bentakku geram, yang membuat suara pertama makin melengkingkan jeritannya.

“Lepaskan adikku, goblok!” Tiba-tiba suara kedua berseru lantang, setelahnya aku menerima tendangan telak yang membuat rahangku membentur tanah. Si pemilik tungkai buru-buru kabur, mataku berkunang-kunang.

Ketika pandanganku sudah kembali normal, aku baru menyadari bahwa dua pemilik suara itu adalah anak-anak yang ketakutan. Aku terkejut menyadari betapa bodohnya tingkahku.

“Siapa kau?” teriak anak yang lebih tinggi dari yang lain. Nampaknya itu si kakak, dan yang menangis di pelukannya adalah sang adik.

Aku mengangkat lutut dan berdiri perlahan, “Maafkan aku anak-anak. Aku baru saja dirampok dan dihajar dua kali. Kalian lihat pipiku? Yah, katanya seseorang belum menjadi laki-laki jika belum pernah dipukul—meskipun yang memukulnya adalah wanita. Nah, sekarang, apa kalian tahu di mana Dusun Hazelbone? Aku sudah muak dengan semua ini, kuharap aku bisa segera menyeret Sara pulang!”

Mereka tampak kebingungan mencerna kalimatku. Si kakak memberanikan diri menjawab, sementara si adik masih terus terisak.

“Se-selamat datang di Hazelbone, Tuan! Maafkan kami tadi berlaku tidak sopan,” ujar si kakak dengan senyum yang dipaksakan. Aku balas tersenyum canggung.

Kedua anak laki-laki itu memakai pakaian yang sedikit ketinggalan jaman. Logatnya mirip orang-orang Erestia, berbeda pada pengucapan intonasi dan penggunaan kata yang sedikit mendesis. Selain mereka, tidak terlihat seorang pun di sini. Aku berdiri di atas jalanan yang terbuat dari batu-batu blok yang disusun berpola tertentu. Lampu-lampu jalanan sudah menyala dan itu sedikit melegakan. Cahaya dari rumah-rumah penduduk terlihat tak jauh di depan, sedikit menerangi kelamnya Noireterra yang tampak begitu dekat dari sini.

Tak jauh dari kami berdiri ada patung kepala jelek setinggi dua meter yang mengganggu otakku. Patung itu menganga lebar dengan lidah menjulur panjang. Giginya runcing-runcing, kulitnya berkerut dan keriput. Kedua matanya terlihat sangat sedih walau terbersit kekejaman yang bersembunyi di dalamnya. Seperti ekspresi pendosa yang menerima hukuman. Dan tampaknya patung batu itu terawat baik karena tidak ada lumut yang menempel. Di atas patung kepala itu, ada dua gargoyle kecil yang memegang plang ‘DUSUN HAZELBONE, TEMPAT BERSANTAI DARI KEJAHATAN’.

Aku mengambil jarak dari patung itu. Lalu bertanya pada dua anak lelaki yang sedari tadi belum pergi.

“Apa maksudnya ‘tempat bersantai dari kejahatan’?” tanyaku dengan nada seramah mungkin.

“Itu…” si kakak mencoba menjawab, namun adiknya memotong.

“Kekuasaan Lord Marr!” katanya dengan ceria. Aku bertanya lagi, “Siapa Lord Marr?”

“Dialah pahlawan kota ini!” Mendadak air mata raib dari wajah sang adik, berganti senyuman lebar dan wajah penuh semangat. “Kata kakek, jika tidak ada dia, mungkin dusun ini sudah hancur sejak Perang Perburuan Penyihir! Lord Marr telah mengalahkan banyak musuh dengan mudah, dan kekuatannya itu—”

Si kakak membungkam mulut adiknya, “Sst Theo! Jangan membuatku malu!” katanya lalu menatapku, “Intinya, Tuan, Lord Marr adalah orang paling berpengaruh dalam membuat kedamaian di sini. Anda lihat rumah di ujung bukit itu? Itu rumahnya.”

Mulanya aku tidak melihat karena tertutup kabut, namun tak lama kabut itu menyibak seperti tirai di panggung pementasan. Diperlihatkannya sebuah rumah besar yang begitu hitam, berdiri angkuh di tanah teratas dusun ini.

“Wow, rumah yang besar,” komentarku sekadarnya.

Anak-anak itu tersenyum, tapi langsung berganti muka ketika ada suara keempat berbicara di belakang kami.

“Hei, apa yang kalian lakukan setelah senja? Kalian tahu ‘kan, tidak ada yang boleh keluar di waktu malam. Khususnya bocah di bawah umur.” Suara parau itu membuatku bergidik. Aku enggan menoleh, namun anak-anak membelalakkan matanya.

“Lord Marr…” Mereka berkata penuh kekaguman, seakan baru saja melihat orang utusan Tuhan. Karena penasaran, aku memberanikan diri memutar tubuh dan menunduk memberi hormat. Orang itu membalas, dan aku tidak mengharapkan keramahan dengan raut wajahnya yang sekaku kawat besi.

Lord Marr. Orangnya tidak seperti yang kukira. Dia telah tua dan sedikit bungkuk. Hidungnya meruncing tajam dan sorot matanya tidak dimiliki manusia biasa. Rambutnya sudah memutih, seraya kerut-kerutan di kulitnya. Usianya mungkin di atas 80, tapi suara dan gerakan fisiknya sangat anomali. Dia mengenakan garmen putih kuno dilapisi rompi dan mantel merah kecokelatan yang sama-sama kunonya. Aku merinding melihat kuku-kuku putih miliknya yang melancip.

“Dan siapa Anda? Saya tidak pernah melihat Anda sebelumnya,” pria tua itu menyipitkan mata melihatku. Aku jadi sedikit gugup.

“Oh, Billy dan Theo! Di sana kalian rupanya! OH, ya Tuhan! Bukankah itu Lord Marr?”

Tiba-tiba seruan seorang pria tua lain—yang lebih serak—menyelamatkanku. Sepertinya itu kakek dua anak—Billy dan Theo—yang diceritakan tadi. Walau tubuhnya tak mumpuni untuk lari-lari, pria tua itu tetap bersemangat menghampiri cucu-cucunya. Senyum juga mengembang di wajah, mungkin karena berhadapan dengan sang Lord yang melegenda.

“Maafkan saya, Lord. Anak-anak nakal ini sudah melewati batas malam. Ayo anak-anak, kita pulang!” seru si kakek dengan nada penyesalan yang ceria.

“Bolehkah aku bersalaman dengan Lord Marr?” si kecil bertanya dengan suara memelas. Si kakek langsung memarahinya.

“Tidak, tidak! Kita sudah merepotkannya dengan tidak berada di rumah! Ayo cepat pulang!”

Kulihat si kakak menoleh sebentar ke arah kami dan tersenyum. Lord Marr membalas dengan menyunggingkan bibirnya barang setengah mili, kemudian raut wajahnya kembali keras dan dingin.

“Anda belum menjawab pertanyaan saya,” ujar pria tua itu.

Aku tersentak, “Ma-maafkan saya, Lord. Saya adalah pendatang dari Corte. Saya ingin mencari adik saya, yang katanya berada di Dusun Hazelbone ini. Nama saya Gale Gifferbott.”

Pria tua itu memperhatikanku sejenak, “Anda tidak membawa apa-apa?”

“Saya dirampok dua kali, Lord.”

“Anda datang sendirian?”

“Begitulah, Lord.”

Sang Lord tampak menimang-nimang sesuatu dalam kepalanya. Pergerakan jarinya patah-patah seperti kaki laba-laba putih yang membuatku ingin menjauh. Kemudian ia berkata kembali dengan suara paraunya, “Di sini pernah ada penginapan, namun sudah tutup berpuluh-puluh tahun lalu. Anda boleh tinggal sementara di rumah saya, Tuan Gifferbott. Saya ingin mengenal orang asing yang bertandang ke kota ini.”

Entahlah, aku harus bersyukur atau tidak. Aku senang dan bangga disambut orang paling berpengaruh di dusun ini, bahkan diperbolehkan ke rumahnya. Namun, setelah dua kali dirampok dengan orang yang bermodus baik—mau mengantarkan dengan kereta kudanya, dan mau menemaniku jalan-jalan di hutan—aku tidak bisa berbohong kalau sedikit waswas. Terlebih orang ini berparas mengerikan. Aku yakin dia mengenyahkan lawan-lawannya dengan cara yang licik, kalau tidak bisa dibilang kejam.

Kami menuju bukit dengan berjalan kaki. Berbasa-basi seperlunya, aku menyodorkan foto Sara dan pria itu tampak lama mengamatinya. Dia meminta izin menyimpan foto itu semalam.

Setiba di rumahnya yang luar biasa besar, aku diberikan kamar di lantai tiga. Kamar yang lumayan luas dengan tempat tidur, meja, lemari, dan kamar mandi dalam. Luka-lukaku diobati, dan ia juga berbaik hati memberikan pakaian ganti. Setelahnya, aku makan malam ditemani Lord Marr—yang menontonku makan, katanya dia sudah makan. Pelayan-pelayan wanita berjajar di pinggiran, menunggu dipanggil.

Tidak hanya di dekat rumah-rumah penduduk, rumah Lord Marr sendiri didiami patung-patung berwajah jelek yang menyeramkan. Aku bertanya, untuk apa patung-patung itu?

“Penangkal kejahatan,” jawab sang Lord.

Aku mengernyitkan kening, rupanya mereka masih mengimani kepercayaan kuno.

“Kulihat kesangsian di matamu,” Dalam atmosfir pembicaraan yang aneh, sang tuan rumah mengangkat pisau makan malam di depannya. “Kau menganggapnya takhayul?”

Aku tercekat ketika sang Lord seolah bisa membaca pikiranku. Wajahku terpantul pada pisau di tangannya. Lidahnya mungkin lebih tajam dibanding pisau itu. Mulutku ingin menyanggah, namun seorang pelayan laki-laki berwajah pucat tiba-tiba menghampiri ruang makan dengan napas terengah-engah.

“Lord! Ada laporan, wilayah selatan sedang terjadi penjarahan besar-besaran! Penduduk yang marah berusaha melawan dengan api dan senjata tajam, namun sebagian besar tidak bisa memberi perlawanan yang berarti!”

Pria tua itu langsung bangkit berdiri dari kursinya, “Siapkan Robergue! Saya akan ke sana sekarang!”

“Baik!”

Tadinya aku ingin berdiri dan menyusul Sang Lord, namun kata ‘penjarahan’ membuatku pusing. Perampok. Sebisa mungkin aku ingin menghindari mereka. Maka setelah mengambil suap terakhir, diam-diam aku mengambil pisau makan malam itu dan meninggalkan ruang makan.

Lorong-lorong rumah tua itu terasa sempit dan sunyi saat aku kembali ke kamar. Ketika itu aku mendengar suara yang tak seharusnya kudengar. Suara tangisan anak-anak di kejauhan. Kuperhatikan patung-patung berwajah jelek yang menghiasi lorong. Tentu bukan mereka yang membuat suara-suara itu.

Tanpa sadar aku mengikuti sumber tangisan yang ternyata terhubung dengan pintu luar. Di pintu itu aku melihat dua anak yang tidak asing. Billy dan Theo!

Theo tampak menangis meraung-raung, sementara Billy menenangkan walau wajahnya juga memerah dan berjejak air mata.

“Ada apa?” Aku bertanya.

“Perampok-perampok itu!” Billy menggeram marah, nada suaranya bergetar. Entah kenapa anak ini mengingatkanku sewaktu kecil. “Perampok itu telah membunuh kakek!”

Raungan Theo semakin menjadi-jadi, suaranya mulai serak dan putus-putus.Walau telingaku sakit mendengarnya, rasa iba dalam hatiku tidak bisa dibantah. Kini ada salah satu dari dua yang harus kulakukan: kembali ke kamarku yang nyaman atau membuka pintu menuju kegilaan.

***

Distorsia, cerita dan gambar oleh Ann

bekerja sama dengan Well+Done Circle

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer FaraniD
FaraniD at Distorsia I (5 years 14 weeks ago)
100

WOW WOW WOW, saya sampai melongo ketika membaca cerita ini.
-
Ceritanya keren, cuman agak bingung sama kereta kuda dan ponsel. Maksud saya, ponsel itu masa sekarang, sementara kereta kuda masa lampau, atau mungkin maksudnya delman?

Writer nyamuk
nyamuk at Distorsia I (5 years 14 weeks ago)
80

Penceritaannya seruuuu!!!!, enggak kerasa tiba-tiba udah selesai aja. Tapi kalau menurut saya bagian dari mulai si Lord-nya itu muncul terasa terburu-terburu. Mungkin bisa diperbaiki.

Writer UlfAzura
UlfAzura at Distorsia I (5 years 14 weeks ago)
80

wow pembukaan ceritanya keren dan ceritanya enak dibaca ;D

Penasaran lanjutannya

Writer Riesling
Riesling at Distorsia I (5 years 16 weeks ago)
80

gara2 ada kereta kuda dan ponsel di era yang sama, setting di bayangan saya jadi ngaco. awalnya kirain masih abad ke 19.
.
lanjutannya ditunggu :3

red_rackham at Distorsia I (5 years 17 weeks ago)
70

Feelnya asik. Saia senang pembukaan cerita yang dimulai dengan MC yang teraniaya :D
.
Sementara ini saia blom bisa banyak komentar soal plot, tapi alurnya enak diikuti dan tidak membingungkan.
.
Keep on writing (^____^)b

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Distorsia I (5 years 17 weeks ago)

makasi suda mampir kak RR! :D
.
dilihat dr komennya kayaknya krg catchy yaa, hehehe makasi masukannya >w<)7

Writer yangnulis
yangnulis at Distorsia I (5 years 17 weeks ago)
70

salam kenal kakak :D
tanya nih, well done circle tuh apaan sih? (kesannya aku terbelakang gitu)
tokoh utamanya kayak aku, suka naruh duit dipisah2 (maklum traveler gitu, tau sendiri di jalan banyak musibah tak terduga)
dan ini masih bagian 1? gile apa aku bisa ngikutin ya cerita fantasy gini, dark lg?! (gak ada yg lebih gelap lagi xaxaxa)

untungnya/ruginya aku sih gak ada masalah sama genre apapun. baca semua, asal sreg aja.

dan aku sreg baca ampe akir cerita ini :D

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Distorsia I (5 years 17 weeks ago)

whoa, makasi kak suda mampir dan baca smp habis! :D
itu komunitas bkinan temenku, aku nimbrung ajah XD
.
hihihi fleksibel yaa :D