Kisah Sarung Karmo

Karmo lagi santai di teras rumah. Kursi rotan yang dia duduki berkerenyit karena gesekan pantat dengan sarung yang dikenakan. Sarung itu tampak kumal dan banyak noda-noda coklat yang menempel. Entah noda apa. Tapi dia tak bisa hilang meski dicuci berkali-kali dengan sabun colek.

Karmo sendiri tak ambil pusing. Biar tak bisa hilang, biar selalu kumal, dia akan memakainya setiap hari seumur hidup. Sebab ini adalah sarung kebanggaannya. Sarung yang menjadi ciri khasnya. Sarung yang menandai diri dan keberadaannya di dunia.

Terkadang dia lilitkan melingkar di lehernya. Kadang juga cukup dia selempangkan begitu saja. Namun lebih sering dia pakai sarung itu sebagai pengganti celana. Karena dia jarang memakai celana. Dia cuma punya celana satu. Itu pun celana kolor. Dia tidak suka celana jeans atau celana yang bersleting. Baginya itu merepotkan. Beda dengan kolor  yang kalau kebelet kencing tinggal diplorotkan saja.

Tetapi sebenarnya, Karmo lebih suka tidak memakai celana apa pun. Cukup sarung itu saja. Lebih nyaman. Lebih semriwing.

Kemana-mana sarung itu selalu dipakai. Tidur dipakai. Main gaple dipakai. Kondangan dikenakan. Kumpulan RT pun dikenakan. Cuma mandi saja dia lepas, soalnya nanti basah. Bagaimana bila bekerja? Wah, seumur hidup Karmo tak pernah kelihatan kerja. Dia kan pengangguran.

Meski pengangguran dia selalu pegang uang. Tak tanggung-tanggung, sering dia pamer pada Pak RT.

“Pak RT, yuk ikut saya. Kita mabok bareng.”

“Walah mau nraktir saya, emangnya kamu punya duit?”

“Eit, jangan salah...” Karmo merogoh ke dalam lipatan sarungnya dan keluarlah lembaran uang.

Jangankan Pak RT yang rumahnya berselang jauh, tetangga sebelah rumah Karmo sendiri heran. Bagaimana orang yang tak pernah bekerja bisa pegang uang tiap hari? Tuh, contohnya Pak RT. Padahal dia pejabat desa, juga punya sawah dan kebun sawit, tapi saban pagi istrinya selalu ngutang buat beli sayuran.

“Tapi Karmo... dapat uang darimana dia?” Tetangga sebelah rumah bisik-bisik kepada tetangga sebelahnya.

“Piara tuyul kali, Pakde.”

“Bisa jadi. Atau mungkin sarung itu sumber pesugihan.”

Tapi itu bisik-bisik saja, tanpa ada bukti. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar warga merasa curiga. Mereka bertanya-tanya dan memendam penasaran kalau-kalau, seandainya, jikalau sarung itu benar-benar pesugihan.

Yang membuat warga semakin curiga adalah insiden di kawinan tempo hari. Waktu itu Pak Sumadi sedang menikahkan putrinya, dan menanggap hiburan orgen tunggal. Seperti biasa, biduanita menyanyi dangdut sambil joget aduhai yang membuat mata para lelaki meloncat keluar. Lalu naiklah Karmo dengan sarung khasnya ke atas panggung ikut menari. Karmo memang begitu. Tidak peduli situasi sedang ramai, dia berjoget meski cuma sarungan. Pada mulanya biduanita itu agak risih. Tetapi ketika melihat lembaran uang yang keluar dari lipatan sarung Karmo, dia semakin seronok menggoyang panggung.

Semua orang melotot. Para lelaki iri pada Karmo yang bisa mengeluarkan uang dari lipatan sarung. Sedangkan para watina iri dengan gondal-gandul di balik sarung. Mempelai wanita sampai histeris, “Astaghfirullah! Kangmas Karmo....”

Pak Sumadi sendiri pernah melihat tingkah aneh Karmo. Suatu sore dia sedang berjalan pulang dari sawah, lalu tiba-tiba kebelet buang air. Dia menuju sungai dan berjongkok di sana. Tiba-tiba dia melihat ada seseorang sedang duduk di atas batang kayu. Orang itu pakai sarung.

“Rupanya dia Karmo!” Cerita Pak Sumadi pada suatu sore saat main gaple. “Ngapain coba, dia bersila di pinggir sungai sendirian?”

“Ah, yang benar, Pak Sum?”

“Sumpah deh. Malah aku lihat mulutnya komat-kamit kayak baca mantra.”

“Wah kalau begitu, itu bukti yang kuat. Mau bukti apa lagi?”

Setelah berembug bulat-bulat, Pak RT dan warganya mendatangi rumah Karmo. Saat itu si empunya rumah sedang berleha-leha di teras. Kemulan sarung. Melihat begitu santainya Karmo, Pak RT dan seluruh warga terbakar cemburu.

“Lihat orang itu,” kata Pak RT, “leha-leha kayak hidupnya tanpa masalah saja. Padahal pengikut setan.”

“Betul Pak RT. Kita adili saja dia, sebelum merusak iman desa kita.”

Beramai-ramai mereka memasuki halaman rumah Karmo, tanpa permisi, tanpa basa-basi. Karmo tergagap ketika melihat wajah-wajah mereka penuh amarah. Dia pun bingung apa gerangan yang membuat mereka seperti itu. apa mau mengajak tanding gaple, tidak mungkin kan?

“Eh, Pak RT dan sekalian, ada apa nih, tumben?”

“Begini Karmo....” Pak RT mau mulai pembicaraan, tetapi dipotong langsung oleh warganya.

“Alaah, jangan basa-basi Pak RT. Langsung saja. Bukti sudah ada kalau sarung itu sumber pesugihan, mau apa lagi?”

“Pesugihan? Sarung saya?” Karmo tambah bingung karena tuduhan itu.

 “Tuh kan, dia mengakui sendiri.”

“Lha lha, saya ini tanya.... jangan nuduh gitu dong!”

“Mana ada maling ngaku. Pengikut setan ya pengikut setan.”

“Sudahlah Pak RT, rampas saja sarungnya. Bakar!”

“Rampas. Bakar!”

Tanpa menunggu komando para warga merangsek maju. Menjagal Karmo. Ada yang memegangi tangannya. Ada yang membetot kakinya. Ada yang menindih dadanya. Karmo memberontak sekuat tenaga sambil teriak-teriak minta tolong. Tapi siapa yang akan menolong?

Dia tak sanggup mempertahankan diri ketika Pak RT menggeret sarungnya hingga lepas. Dan Karmo telanjang bulat. Dia memohon-mohon agar sarungnya dikembalikan. Itu adalah sarung tercinta. Sarung yang membuat dirinya merasa ada.

Pak RT memegang sarung itu, mengangkatnya tinggi-tinggi. Ketika itu matahari condong ke barat dan cahayanya berkilau keemasan. Berkas sinar membias di sekeliling sarung sehingga tampak bercahaya. Bahkan sampai bercak-bercak coklat tidak nampak. Tidak lagi terlihat kumal, tapi seperti memancarkan sinar. Pak RT dan warganya sampai terpesona.

Sampai-sampai di dalam hati Pak RT tergoda untuk tidak membakarnya, melainkan menyimpannya. Moga-moga berjodoh dan mendatangkan banyak uang. Tetapi tidak mungkinlah terang-terangan dia mengatakan itu di depan semua orang. Harga dirinya sebagai ketua RT bisa tercoreng.

“Pak RT, kok bengong?” Tegur Pak Sumadi.

“Ee anu...”

“Ayo bakar sarungnya, Pak!”

“Bakar. Bakar!”

Pak RT mengeluarkan korek dari saku. Biasanya dia menggunakan korek hanya untuk menyulut rokok lintingan. Namun kini dia nyalakan untuk menghanguskan sarung Karmo.

Melihat sarungnya meleleh jadi abu dan asap Karmo menangis. Mencoba merangkak untuk memadamkan api. Tetapi  tidak sanggup. Sekujur badannya terasa ngilu. Setelah sarungnya habis terbakar, setelah semua warga bubar, dia masuk rumah dan menangis di depan komputer. Perlahan tangannya mengetik entah hingga kapan.  Mulutnya komat-kamit seperti merapalkan sesuatu yang tertulis di komputer. Dia menulis tentang nasib sarungnya yang malang, yang akan dia kirimkan ke koran, seperti kisah-kisahnya yang lain. <>

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer izaddina
izaddina at Kisah Sarung Karmo (7 years 9 weeks ago)
90

Untung dia cowok. Kalau cewek terus direbut saru--ah, abaikan saja.

Ternyata dia penulis. Hei, kalau sarungnya tiada, dia cuma pake kolor aja dong? /abaikan/

Di sini ada typo ya? Ehe. Udah dibahas member, jadi kurasa aku tak perlu mengulangi.

Terima kasih karena boleh mampir ke lapak, Kakak!

Writer S_Desak
S_Desak at Kisah Sarung Karmo (7 years 12 weeks ago)
90

bagus, tapi saya agak bingung yang bagian akhirnya

Writer niNEFOur
niNEFOur at Kisah Sarung Karmo (7 years 14 weeks ago)
90

saya senyum senyum sendiri jadinya
ahahaha :D

Writer nyamuk
nyamuk at Kisah Sarung Karmo (7 years 14 weeks ago)

Cuma bisa bilang satu kata: lucuuu!!!!

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Kisah Sarung Karmo (7 years 15 weeks ago)
80

waw, cerpennya asyik XD
bukan cuma gaya penceritaannya yang ringan sekaligus jenaka (apaan tuh yang "gondal-gandul"? wakaka....), tapi juga gagasan akan sarung yang secara misterius menjadi penanda eksistensi seorang manusia (jadi inget Kooong-nya Iwan Simatupang, haha), serta--bagian nonjoknya justru di akhir itu--menulis kisah di koran itu ternyata bukan suatu pekerjaan, ya, hahahaha.... yaa mungkin karena ketidaktahuan para tetangganya aja maka mereka menganggapnya begitu dan termakan oleh asumsi mereka sendiri. tabiat umum yang bisa dipahami. kadang tanpa pikir panjang, akibat kadung tersulut oleh gagasan tertentu, orang2 ambil tindakan reaktif.
bikin geli aja sekaligus miris, heuheuheu....
ada beberapa kata yang saya iseng2 cek di kbbi:
- coklat / cokelat
- plorot / pelorot
- orgen / organ
- risih / risi
- rembug / rembuk
selain itu,
- watina / wanita?
- kemana -- menunjukkan tempat -- ke mana?
- banyak noda-noda -- "noda-noda" sudah menunjukkan banyak jadi kemungkinan untuk hematnya: "banyak noda" / "noda-noda" aja

Writer hidden pen
hidden pen at Kisah Sarung Karmo (7 years 16 weeks ago)
80

agak menjerumus sih ceritanya. Mungkin bagi yang merasa dirinya wanita pasti ngiler membayangkannya. Hahaha. Karmo (hampir terbaca karma) benar-benar malang ya hiks sayang dia pria. Eh? Ok bang yang nulis. Aku mau undur diri dulu dan terus semangat nulis ya hehe. Kaabbuurrr

Writer tommy
tommy at Kisah Sarung Karmo (7 years 16 weeks ago)

bagus

Writer yangnulis
yangnulis at Kisah Sarung Karmo (7 years 16 weeks ago)

trimakasih

Writer duvernoy
duvernoy at Kisah Sarung Karmo (7 years 16 weeks ago)
60

Waaww.. Alurnya enak dibaca, nggak ngebosenin sampe akhir. Tapi malah sy bingung sama akhirannya, jadi sarung Karno ini beneran sumber pesugihan? ._.

Writer yangnulis
yangnulis at Kisah Sarung Karmo (7 years 16 weeks ago)

banyak yang ngira gitu sih xaxaxa

Writer naga
naga at Kisah Sarung Karmo (7 years 16 weeks ago)
50

bagus kak, kasihan karmonya...
orang yg langsung menuduh tanpa mau mendengar penjelasan orang yang dituduh itu emang ngeselin bgt

Writer yangnulis
yangnulis at Kisah Sarung Karmo (7 years 16 weeks ago)

iya, banyak kan orang kayak gitu? xaxaxa